Semakin Berilmu Dirimu, Semakin Dirimu Tidak Tahu Apa-apa | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Semakin Berilmu, Semakin Merasa Tidak Tahu
Ada sebuah teori, salah satunya dari Socrates, yang menyatakan bahwa semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, maka ia akan semakin merasa tidak tahu apa-apa.
Kita sering menganalogikannya dengan prinsip padi: semakin tua dan berisi, ia akan semakin menunduk.
Ini adalah prinsip Yin dan Yang. Seseorang yang benar-benar pintar dan sadar akan ilmunya secara otomatis akan menjadi rendah hati (tawadhu).
Ia tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat menunduk, tetapi kesadaran itu muncul karena ia menyadari bahwa sangat banyak hal yang tidak ia ketahui dibandingkan dengan sedikit hal yang sudah ia ketahui,.
Semakin kita rajin membaca, mengikuti kajian, atau berdiskusi, kita akan semakin sadar bahwa masih banyak materi yang harus dipelajari dan dipahami.
Kebenaran dan Tragedi Kemanusiaan
Prinsip Yin dan Yang juga berlaku dalam penemuan kebenaran. Terkadang, penemuan kebenaran justru menjadi awal dari tragedi kemanusiaan.
Seharusnya kebenaran menjadi modal untuk meningkatkan kualitas hidup, namun sering kali cara kita mengelola kebenaran tersebut tidak tepat.
Sebagai contoh, penemuan teknologi untuk menciptakan senjata pemusnah massal adalah sebuah pencapaian kebenaran ilmiah, namun di baliknya tersimpan sumber tragedi.
Begitu pula dalam beragama; ketika seseorang menemukan pemahaman baru dan merasa paling benar sendiri, lalu membenturkannya secara kaku dengan pandangan umum (mainstream), hal itu sering kali memicu konflik, saling merusak, hingga saling bunuh.
Kebenaran seharusnya menjadi berkah, namun jika tidak dikelola dengan bijak, ia justru melahirkan tragedi.
Kesempurnaan dalam Ketidaksempurnaan
Kesempurnaan manusia sebenarnya terletak pada kerelaannya untuk menerima ketidaksempurnaan,.
Ini adalah prinsip kontradiksi atau polaritas. Karena manusia adalah makhluk yang terbatas, maka mustahil bagi kita untuk mencapai kesempurnaan yang mutlak.
Jika seseorang bersikeras mengejar kesempurnaan tanpa batas, ia justru tidak akan pernah menemukannya.
Ambisi yang tidak mengenal batas hanya akan membuat hidup terasa menderita.
Oleh karena itu, titik kesempurnaan hidup manusia justru ditemukan saat ia sadar dan rela bahwa dirinya memang tidak sempurna.
Beban Kemenangan dan Kebebasan dalam Kekalahan
Dalam hidup, kita sering mengukur segalanya dengan menang atau kalah.
Padahal, kemenangan dan kekalahan adalah satu paket Yin dan Yang.
- Di balik kemenangan ada beban:
Seseorang yang menang dalam Pilkada, misalnya, mungkin merasa senang, namun ia kini memikul beban berat untuk mengurusi rakyatnya.
Demikian pula siswa yang memenangkan lomba cerdas cermat; ia harus belajar lebih keras lagi untuk level selanjutnya. - Di balik kekalahan ada kebebasan:
Seseorang yang kalah tidak memiliki beban tanggung jawab tersebut. Ia bebas dan tidak dimintai pertanggungjawaban atas tugas-tugas besar,.
Hal yang sama berlaku dalam dunia perkuliahan. Lulusan terbaik (wisudawan dengan IPK tertinggi) memang menang, tetapi mereka memikul beban ekspektasi masyarakat,.
Sebaliknya, mereka yang mungkin mengalami kegagalan akademis justru terbebas dari tuntutan dosen dan tugas-tugas kampus,.
Oleh karena itu, kita tidak perlu terlalu bereaksi berlebihan terhadap dinamika hidup.
Jangan terlalu sombong saat menang karena ada tanggung jawab yang menanti, dan jangan terlalu sedih saat kalah karena ada kebebasan yang didapatkan,.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







