Kebaikan Yang Berlebih Akan Menjadi Keburukan | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Dinamika Hidup: Kisah Petani Tua dan Kudanya
Hidup ini sebenarnya tidak sesederhana rumusan yang kita buat; sering kali kegembiraan menjadi sumber masalah, sementara kesedihan justru menjadi awal kebahagiaan.
Hal ini digambarkan melalui kisah seorang petani tua yang memiliki seekor kuda berkualitas tinggi. Suatu hari, kudanya kabur.
Para tetangga datang menunjukkan simpati atas nasib buruknya, namun petani itu hanya menjawab dengan tenang, “Kita lihat saja nanti,” tanpa rasa sedih yang berlebihan.
Keesokan harinya, kuda tersebut kembali bersama kawanan kuda liar dari hutan.
Tetangga datang memberi selamat, tetapi petani tetap bersikap biasa saja dan kembali berujar, “Kita lihat saja nanti”.
Tak lama kemudian, anak petani tersebut jatuh dan patah kakinya saat mencoba menjinakkan kuda-kuda baru itu.
Ketika tetangga menyebutnya sebagai musibah, petani tetap tenang. Akhirnya, ketika pasukan kerajaan datang untuk merekrut pemuda desa guna dikirim ke medan perang, anak petani tersebut tidak dibawa karena kakinya yang patah.
Kejadian ini justru menjadi penyelamat bagi anaknya.
Kisah ini menggambarkan bahwa hidup itu dialektis dan dinamis.
Kesenangan dan kesedihan selalu berpasangan dan saling melahirkan satu sama lain.
Kita diajarkan untuk mengikuti ritme alam secara luwes dan tidak menanggapi segala sesuatu secara berlebihan.
Prinsip-Prinsip Kebijaksanaan (Yin dan Yang)
1. Kebenaran dalam Kesalahan dan Sebaliknya
Dalam setiap kebenaran pasti terselip setitik kesalahan, dan dalam setiap kesalahan ada setitik kebenaran.
Sebagai contoh, ada kisah tentang seorang wanita tuna susila yang dijamin masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.
Titik putih (kasih sayang) yang kecil dalam hidupnya yang “hitam” ternyata mengundang rida Allah.
Sebaliknya, ada kisah fiktif seorang kiai yang tidak selamat di akhirat karena titik hitam kecil, yaitu mengambil secuil kayu pagar tetangganya untuk dijadikan tusuk gigi (selilit) tanpa izin.
Hal ini mengajarkan kita untuk tidak putus asa dalam kesalahan dan tetap waspada dalam kebenaran.
2. Kebaikan yang Berlebihan Berbuah Keburukan
Segala sesuatu, termasuk kebaikan, jika dilakukan secara berlebihan akan menjadi buruk.
Makan itu baik, tetapi berlebihan menjadi buruk; sedekah itu baik, tetapi jika mengabaikan kebutuhan sendiri menjadi buruk.
Rasulullah sendiri menegur sahabat yang ingin beribadah terus-menerus tanpa tidur, puasa tanpa berbuka, atau menjauhi pernikahan.
Beliau menegaskan bahwa beliau sendiri berpuasa namun juga berbuka, shalat malam namun juga tidur, serta menikah.
Hidup harus dijalankan secara pas dan seimbang (moderat).
3. Memberi adalah Menerima
Semakin banyak seseorang memberi, sebenarnya dia akan semakin banyak menerima.
Logikanya, saat kita menjadi jalan rezeki bagi orang lain, Tuhan akan semakin memercayakan rezeki-Nya untuk lewat melalui kita.
Ibarat talang air, jika kita terus mengalirkan air (manfaat), maka talang itu sendiri akan selalu basah (mendapat bagian).
Hal ini berlaku tidak hanya pada harta, tetapi juga ilmu dan penghargaan.
4. Karunia di Balik Musibah
Musibah dan karunia hadir beriringan seperti dua sisi mata uang.
Contohnya, pandemi bisa menjadi musibah, namun di baliknya terdapat karunia berupa kedekatan dengan keluarga atau kesempatan untuk introspeksi diri (muhasabah).
Banyak orang besar yang titik balik kesuksesannya dimulai dari kegagalan atau jatuh yang sangat dalam.
5. Pujian yang Melenakan dan Celaan yang Mewaspadakan
Pujian sering kali membuat seseorang terlena dan berhenti berkembang, sementara celaan justru bisa memacu seseorang untuk terus memperbaiki diri.
Kita harus waspada terhadap budaya media sosial saat ini; jangan sampai merasa sudah besar hanya karena pujian, dan jangan sampai patah semangat karena celaan.
Sikap waspada adalah kunci dalam menghadapi dinamika positif dan negatif ini.
6. Cinta dan Rasa Sakit yang Mendalam
Orang yang paling kita cintai adalah orang yang paling berpotensi memberikan rasa sakit terdalam.
Ini adalah hukum alami karena kekecewaan yang diberikan oleh orang yang kita cintai jauh lebih menyakitkan daripada kebohongan orang asing.
Namun, ini bukan berarti kita dilarang mencintai; melainkan kita harus menyadari bahwa cinta dan sakit hati adalah satu paket dalam ritme hidup.
Kedalaman rasa sakit seseorang saat kehilangan sebenarnya menunjukkan sejauh mana kedalaman cintanya.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







