Jangan Biarkan Dirimu Tenggelam Dalam Waktu | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Hakikat Waktu: Antara Definisi dan Kesadaran
Santo Agustinus pernah melontarkan sebuah kalimat yang sangat jujur mengenai waktu: “Apakah waktu itu? Jika tidak ada yang bertanya, aku tahu. Namun, jika seseorang bertanya dan aku ingin memberikan penjelasan, aku tidak tahu lagi.”.
Fenomena ini sering kita alami dalam banyak hal. Kita sering merasa sudah memahami sesuatu, namun ketika diminta untuk memberikan definisi yang jelasโseperti saat ditanya apa itu demokrasi atau Khilafahโkita sering kali bingung untuk menjelaskannya.
Inilah pentingnya mempelajari ilmu mantek (logika), khususnya mengenai ta’rif atau definisi, yang melatih kemampuan kita untuk menjelaskan sesuatu secara tepat.
Dalam pikiran banyak orang, waktu sering kali hanya diasosiasikan dengan benda atau pembagian administratif seperti jam, kalender, WIB, atau WIT.
Waktu juga sering kali hanya dibayangkan sebagai durasi aktivitas harian seperti waktu makan, tidur, atau berkencan.
Di sinilah filsafat menjalankan tugas dasarnya, yaitu clarifying concept (memperjelas konsep).
Tanpa kejelasan konsep, diskusi atau debat antarmanusia sering kali tidak akan bertemu karena masing-masing pihak memiliki definisi yang berbeda dalam pikirannya.
Kahlil Gibran, dalam karyanya The Prophet, juga menggambarkan kerumitan dalam mendefinisikan waktu.
Ketika seorang ahli astronomi bertanya tentang waktu, tokoh Sang Nabi menjawab bahwa waktu itu tiada ukur dan tanpa ukuran.
Gibran menyamakan waktu dengan hakikat cinta; ia tidak mengenal batas ukuran dan tidak dapat dibagi-bagi.
Meskipun dalam pikiran manusia ada keharusan untuk membagi waktu ke dalam musim-musim, Gibran berpesan agar setiap masa tetap saling merangkum, di mana masa kini seharusnya selalu memeluk masa lampau dengan kenangan.
Selain Gibran, pemikir Islam Malik Bennabi memberikan analogi yang indah tentang waktu.
Ia menyebut waktu sebagai sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi berbagai tempat dan peradaban.
Waktu memiliki sifat yang diam seribu bahasa sehingga manusia sering tidak menyadari kehadirannya dan melupakan nilainya.
Padahal, segala sesuatu selain Tuhan tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari jeratan waktu.
Waktu memiliki dua kekuatan yang saling melengkapi namun kontradiktif: ia bisa menjadi sumber semangat, atau justru meninabobokkan manusia.
Sering kali kita terlena dalam kenyamanan waktu hingga tiba-tiba tersadar bahwa ujian sudah dekat, usia sudah tua, atau masa studi sudah di pengujung akhir.
Namun, kesadaran akan waktu yang terbatas itu juga bisa menjadi pemacu semangat bagi seseorang untuk segera menyelesaikan tanggung jawabnya.
Pada akhirnya, bagaimana dampak waktu terhadap diri kita sangat bergantung pada bagaimana kita memandang dan menggunakannya.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Makna Taqwa Menurut Rahbar
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA







