Sabtu, 31 Oktober 2026
Channel Lingkar Filsafat

Waktu Yang Melahirkanmu, Tapi Waktu Juga Yang Akan Menelanmu | Ngaji Filsafat

Waktu Yang Melahirkanmu, Tapi Waktu Juga Yang Akan Menelanmu | Ngaji Filsafat
Ilustrasi Waktu Yang Melahirkanmu, Tapi Waktu Juga Yang Akan Menelanmu | Ngaji Filsafat
Ukuran teks:

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Mitologi Yunani: Cronos dan Sang Waktu

Dalam mitologi Yunani, waktu diasosiasikan dengan sosok Cronos, seorang dari golongan Titan yang merupakan generasi dewa sebelum era dewa-dewa Olympus.
Cronos adalah putra dari Gaia (Dewa Bumi) dan Uranus (Dewa Langit), serta merupakan ayah dari Zeus.

Terdapat sebuah ramalan yang menyatakan bahwa kekuasaan Cronos akan diruntuhkan oleh anaknya sendiri.
Karena ketakutan akan ramalan tersebut, Cronos memakan semua anak yang dilahirkannya, mulai dari Poseidon, Hades, Hera, Demeter, hingga Hestia.
Namun, ketika Zeus lahir, ibunya menyembunyikannya sehingga Zeus menjadi satu-satunya anak yang selamat dan kelak berhasil menaklukkan Cronos.

Makna di balik mitologi ini adalah bahwa waktulah yang melahirkan manusia, namun jika manusia kalah oleh waktu, maka waktu pulalah yang akan menelan dan mematikan manusia tersebut.
Kisah ini juga memiliki kemiripan dengan tokoh Resi Bisma dalam Mahabharata, di mana saudara-saudaranya dibuang ke laut oleh ibunya, Dewi Gangga, untuk menyelesaikan karma.

Perspektif Filsafat Klasik: Plato dan Aristoteles

Gagasan dasar mengenai waktu banyak dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan Aristoteles, yang nantinya juga memengaruhi tradisi filsafat serta teologi Islam.

  • Pandangan Plato:
    Menurut Plato, waktu diciptakan secara abadi bersamaan dengan dunia.
    Keberadaan waktu lahir dari perputaran alam semesta dan matahari, yang kemudian melahirkan konsep durasi seperti “dulu”, “kemarin”, dan “besok”.
    Jadi, waktu dianggap sebagai bagian dari generasi makhluk pertama yang ada saat dunia diciptakan.
  • Pandangan Aristoteles:
    Aristoteles membantah gurunya dengan argumen bahwa waktu mendahului alam semesta.
    Logikanya, sebelum alam semesta diciptakan, sudah ada fase “tidak ada” sebelum menjadi “ada”, dan transisi ini sudah menunjukkan adanya dimensi waktu.

Perdebatan ini menjadi pembahasan klasik dalam metafisika spekulatif, termasuk dalam diskusi antara Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusydi mengenai kebaruan alam (konsep Tahafut dan Tahafut al-Tahafut).
Pertanyaan utamanya tetap sama: mana yang lebih dulu, alam atau waktu?.

Perspektif Modern: Isaac Newton

Memasuki era modern, tokoh seperti Isaac Newton membawa pandangan bahwa waktu bersifat mutlak (absolut), eksak, dan independen.
Dalam pemikiran modern ini, waktu dipahami dengan dua ciri utama:

  1. Linier:
    Waktu terus berjalan maju ke depan dan tidak mungkin untuk kembali ke masa lalu.
    Meskipun isu perjalanan waktu (time travel) populer dalam film, banyak argumen ilmiah yang mematahkan kemungkinan tersebut.
  2. Terbatas:
    Karena sifatnya yang linier, waktu dipandang sebagai sesuatu yang terbatas.
    Begitu waktu terlewatkan, ia akan hilang selamanya, ibarat seseorang yang tertinggal kereta api.

Cara berpikir modern ini melahirkan istilah-istilah seperti “kehabisan waktu” atau “Time is money” (Waktu adalah uang).
Hal ini membuat manusia modern cenderung merasa terburu-buru dan ingin segera menyelesaikan urusannya karena merasa waktu tidak bisa kembali lagi.
Oleh karena itu, penting bagi manusia untuk memanfaatkan waktu dengan kegiatan bermanfaat agar tidak merasa rugi.

Evolusi Makna Konsep Waktu

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz

Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us