Sabtu, 31 Oktober 2026
Channel Lingkar Filsafat

Ukurlah Kekuatanmu Sendiri, Jangan Konyol | Ngaji Filsafat

Ukurlah Kekuatanmu Sendiri, Jangan Konyol | Ngaji Filsafat
Ilustrasi Ukurlah Kekuatanmu Sendiri, Jangan Konyol | Ngaji Filsafat
Ukuran teks:

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Mengelola Hasrat dan Mengukur Kapasitas Diri

1. Memahami Epithumia (Hasrat Pinggiran)

Istilah epithumia sebenarnya memiliki akar kata yang sama dengan epidemia.
Epi berarti pinggiran, sehingga epithumia dapat dimaknai sebagai hasrat-hasrat pinggiran yang tidak terlalu penting untuk dipenuhi.
Hasrat ini sebaiknya tidak difokuskan secara berlebihan, melainkan cukup dilewati saja secara natural.
Jangan mencoba menyingkirkan hasrat ini secara ekstrem, karena hal itu justru tidak alami dan memboroskan energi.

Sebagai contoh, jika seseorang mati-matian menahan diri untuk tidak makan, seluruh fokus hidupnya justru akan terkonsentrasi hanya pada upaya bertahan untuk tidak makan tersebut.
Akan jauh lebih hemat energi jika kita makan secukupnya saja sesuai kebutuhan daripada menghabiskan kekuatan hanya untuk melawan keinginan makan.

2. Efisiensi Energi dalam Hidup

Prinsip efisiensi energi ini juga berlaku dalam aspek lain, seperti hubungan asmara.
Seseorang yang mati-matian menghindari pacaran atau sebaliknya, mati-matian mencari pacar, keduanya sama-sama menguras energi yang besar.
Lebih baik bersikap kondusif: jika ada kesempatan ya dijalani, jika tidak ada pun tidak masalah.
Bagi mahasiswa, prinsip “tidak dapat pun tidak apa-apa” ini jauh lebih baik agar waktu tidak habis hanya untuk mengejar status hubungan secara berlebihan.

3. Thumos: Api dan Gairah Hidup

Di atas level perut, terdapat thumos (terletak antara perut hingga leher) yang berkaitan dengan semangat, agresivitas, dan gairah.
Dalam filosofi Plato, jika epithumia digambarkan seperti petani yang konsumtif, maka thumos adalah karakter para prajurit.
Bagi mereka, harta atau makanan bukanlah prioritas utama; yang terpenting adalah kemenangan, kesuksesan, nama baik, kejayaan, dan status.

Setiap orang perlu memiliki thumos atau passion agar hidupnya memiliki “api” dan tidak terasa dingin.
Namun, gairah ini harus tetap dikendalikan oleh rasio (akal) agar tidak salah kaprah.
Misalnya, keinginan untuk lulus cum laude atau menjadi pahlawan adalah hal baik, asalkan tetap dalam kendali akal sehat.

4. Pentingnya Kontrol Rasio (Akal)

Orang yang berada di level thumos sering kali sangat menjaga harga diri atau citra dirinya (jaim).
Mereka rela kehilangan harta demi dianggap baik oleh orang lain.
Meskipun ini berada di peringkat yang lebih tinggi daripada sekadar mengikuti hasrat konsumtif, thumos tetap harus dihitung secara matang oleh rasio.

Jika seseorang ingin menjadi dermawan namun menyedekahkan seluruh uangnya tanpa perhitungan hingga tidak bisa pulang atau tidak bisa makan esok harinya, tindakan tersebut disebut konyol.
Rasio harus berperan agar kita tidak melakukan “bunuh diri” secara sosial atau ekonomi demi sebuah status.

5. Ukurlah Kekuatanmu Sendiri, Jangan Konyol

Segala bentuk ambisi harus disesuaikan dengan kapasitas diri. Misalnya, keinginan besar untuk terjun ke medan perang di Palestina atau Iran harus dibarengi dengan kesiapan fisik yang nyata.
Di medan perang yang sesungguhnya, para pejuang mungkin harus tiarap selama tiga hari tiga malam di padang pasir hingga terpaksa makan pasir untuk bertahan hidup.
Jika seseorang baru duduk di depan masjid saja sudah masuk angin atau sering mengeluh ingin dipijat, maka keinginan untuk berperang tersebut menjadi tidak relevan dengan kapasitasnya.

Kesimpulan

Thumos atau hasrat untuk mendapatkan nama baik dan kehormatan memang penting, tetapi jika tidak terkontrol oleh akal, ia akan menjadi masalah. Mengabdi pada keluarga, bangsa, atau negara adalah hal mulia, namun tetap harus mengukur kapasitas diri. Jangan melakukan tindakan yang tidak realistis dan tanpa perhitungan, karena hal itu hanya akan berujung pada kekonyolan. Intinya, gunakan akalmu untuk mengontrol gairahmu; ukurlah kekuatanmu sendiri dan jangan konyol.

Seni Mengelola Kapasitas Diri

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz

Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us