Tidak Semua Yang Ada Itu Tampak | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
1. Hakikat “Ada” sebagai Pemahaman Dasar
Konsep “Ada” adalah predikat yang bersifat badhihi atau tabadul fahem, artinya ia bisa langsung dipahami secara spontan tanpa perlu berpikir panjang.
Bahkan seorang bayi yang akalnya baru mulai berjalan pun sudah mengerti perbedaan antara “ada” dan “tidak ada”.
Sifat “ada” ini adalah atribut universal yang bersifat apriori; kita tidak perlu menempuh pendidikan tinggi atau membaca buku hanya untuk memahami mana yang ada dan mana yang tidak ada. Dalam filsafat, “ada” mendahului semua atribut lainnya, termasuk realitas dan eksistensi.
Para filosof umumnya membagi “ada” ke dalam tiga kategori utama:
- Tiada:
Sesuatu yang memang tidak ada. - Sungguh Ada:
Sesuatu yang benar-benar nyata. - Mungkin Ada:
Sesuatu yang memiliki kemungkinan untuk ada.
2. Tidak Semua yang Ada Itu Tampak
Satu catatan penting adalah tidak semua yang ada itu harus terlihat oleh mata.
Contohnya, kamar Anda tetap ada meskipun saat ini Anda tidak sedang melihatnya.
Begitu pula dengan mimpi atau perasaan cinta; keduanya nyata adanya, namun tidak nampak secara fisik.
Dalam konteks agama, hal-hal yang tidak tampak ini disebut sebagai alam gaib, yaitu segala sesuatu yang tidak dapat diakses oleh panca indra.
Sebagai ilustrasi, jika ada sebuah kedai sate yang sangat enak di suatu tempat namun Anda belum pernah melihat atau merasakannya sendiri, maka bagi Anda, sate tersebut termasuk kategori “gaib” karena belum nyata dalam persepsi indrawi Anda.
3. Tidak Semua yang Tampak Itu Nyata
Kebalikannya, apa yang tampak di depan mata belum tentu merupakan kenyataan.
Terkadang kita mengalami salah pandang, salah persepsi, atau distorsi. Misalnya, segelas teh mungkin terlihat manis, namun setelah diminum ternyata rasanya hambar.
Seringkali manusia terjebak dalam fanatisme karena mereka bersikeras menganggap apa yang mereka lihat sebagai kenyataan, meskipun sudah terbukti salah.
Orang yang fanatik akan tetap “ngeyel” mempertahankan pandangannya meskipun bukti-bukti menunjukkan bahwa apa yang ia lihat itu tidak nyata.
4. Perbedaan Nyata, Eksistensi, dan Esensi
Sesuatu disebut nyata jika ia bersifat konkret, memiliki ruang dan waktu, serta bersifat publik (bisa dilihat oleh semua orang secara objektif).
Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua yang nyata itu eksis.
Sesuatu mungkin nyata di dalam diri Andaโseperti kemarahanโnamun ia baru dikatakan “eksis” jika sudah diekspresikan keluar sehingga orang lain bisa meresponsnya.
Untuk memahami segala sesuatu secara mendalam, kita harus membedakan beberapa istilah berikut:
- Eksistensi:
Tampilan luar atau perwujudan yang tampak secara publik. - Esensi:
Hakikat terdalam atau makna sebenarnya dari sesuatu. - Substansi:
Bahan dasar pembentuk sesuatu. Misalnya, substansi dari sebuah gelas adalah plastik, atau substansi tembok adalah campuran pasir, semen, dan bata. - Aksiden:
Atribut yang bisa berubah-ubah tanpa menghilangkan substansinya, seperti warna biru pada plastik atau warna cat pada tembok.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







