Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Sahabat Cahaya pernah punya rasa cemburu? Kali ini Ustadzah Oki Setiana Dewi akan mengajak kita merenung, memahami bagaimana sebaiknya kita menyikapi perasaan cemburu yang muncul.
Bolehkah Punya Rasa Cemburu?
Siapa di antara kita yang tidak pernah merasa cemburu? Sejatinya, hampir semua orang pernah merasakannya.
Cemburu biasanya muncul dari rasa takut dalam diri kita terhadap orang lain yang sekiranya akan menempati kedudukan kita.
Sering kali, orang yang cemburu merasa seakan-akan ada kekurangan pada dirinya.
Namun, dalam kondisi yang wajar, rasa cemburu itu diperbolehkan. Cemburu sebenarnya merupakan bentuk pembelaan diri dan pendorong alami untuk bersaing dalam perkara-perkara yang mulia.
Sebagai contoh, seorang suami harus memiliki rasa cemburu kepada istrinya, begitu pula sebaliknya.
Hal ini merupakan tanda cinta sekaligus cara untuk menjaga kehormatan diri serta pasangan.
Tentu saja, cemburu yang dimaksud adalah yang sesuai dengan syariat; tidak berlebih-lebihan, tidak membawa pada rasa curiga yang melampaui batas, dan tidak menyebabkan suuzon (prasangka buruk) yang berlebihan kepada pasangan.
Kisah Cemburu di Zaman Rasulullah
Mari kita melihat bagaimana para sahabat Nabi menghadapi rasa cemburu. Dalam hadis riwayat Bukhari, seorang sahabat bernama Sa’ad bin Ubadah r.a. pernah berkata bahwa jika ia melihat laki-laki lain bersama istrinya (berzina), niscaya ia akan menebasnya dengan pedang.
Ketika ucapan ini sampai kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda:
“Apakah kalian merasa heran terhadap kecemburuan Sa’ad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya, dan Allah lebih cemburu daripada aku.”
Hal ini menunjukkan bahwa cemburu pada perkara yang sudah jelas buktinya sangat dibolehkan.
Istri Nabi, Siti Aisyah r.a., pun pernah merasa cemburu. Suatu ketika, saat Rasulullah sedang bersama Aisyah, salah seorang istri Nabi lainnya mengirimkan mangkuk berisi makanan.
Karena rasa cemburu, Aisyah mendorong piring tersebut hingga jatuh dan pecah. Rasulullah SAW kemudian mengumpulkan kepingan pecahannya sambil berkata dengan lembut, “Ibu kalian ini sedang cemburu.” Aisyah juga pernah mengaku bahwa ia paling cemburu kepada Siti Khadijah r.a., karena Rasulullah selalu menyebut nama dan memuji beliau.
Cemburu yang Dicintai dan Dibenci Allah
Ada jenis cemburu yang boleh (beralasan dan diungkapkan secara wajar), namun ada pula yang membahayakan. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa:
- Cemburu yang dicintai Allah:
Cemburu yang didasari oleh bukti yang jelas. - Cemburu yang dibenci Allah:
Cemburu yang tidak dilandasi sangkaan kuat atau bukti yang nyata.
Kita harus menghindari cemburu yang tercela, yaitu yang berlebihan dan selalu menimbulkan prasangka buruk.
Cemburu seperti ini bisa membuat kita menuduh pasangan tanpa bukti hingga menghilangkan kasih sayang di antara suami istri.
Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 untuk menjauhi kebanyakan prasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa.
Membangun Hubungan yang Lebih Erat
Ada perbedaan besar antara cemburu untuk membela kehormatan dan didasari cinta, dengan cemburu yang merusak dan membinasakan.
Untuk menjaga keharmonisan keluarga, hindarilah cemburu yang berawal dari suuzon tanpa bukti.
Milikilah sikap wajar dan pertengahan dalam cemburu:
- Menjauh dari prasangka buruk.
- Tidak mencari-cari perkara secara mendetail jika tidak perlu.
- Tidak tergesa-gesa menerima berita yang mungkin sengaja dihembuskan orang berniat buruk tanpa menyaringnya lebih dulu.
Insya Allah, rasa cemburu yang sewajarnya justru dapat menumbuhkan cinta yang lebih dalam dan membuat hubungan suami-istri menjadi lebih erat. Mari kita berlindung kepada Allah dari sifat cemburu yang dapat merusak diri dan keluarga kita.

Bersama Ustadzah Oki Setiana Dewi
Sambil diresapi resapi ilmunya, boleh dong di-subscribe, like, dan share ke orang-orang terdekat kamu. Insya Allah video ini akan memberikan manfaat bagi yang menontonnya.
#CahayauntukIndonesia
————————————————————————————————————————————————————————
Follow media sosial Cahaya untuk Indonesia di:
Twitter: https://twitter.com/cahayauntukindo
Instagram: https://www.instagram.com/cahayauntukindonesia
Facebook: https://www.facebook.com/cahayauntukindo

