Sunni dan Syiah: Dua Sayap Persaudaraan dalam Kesatuan Umat Islam
Hubungan antara kaum Sunni dan Syiah pada hakikatnya adalah hubungan antara sesama pemeluk agama yang satu.
Grand Syeikh Al-Azhar secara konsisten menekankan sebuah prinsip fundamental bahwa kaum Sunni dan Syiah merupakan dua sayap utama bagi umat Islam.
Berdasarkan pandangan ini, kaum Sunni tidak memiliki otoritas untuk mengeluarkan kaum Syiah dari Islam, begitu pula sebaliknya.
Secara historis, kedua kelompok ini telah hidup berdampingan selama empat belas abad.
Dalam rentang waktu yang sangat panjang tersebut, sejarah tidak mencatat adanya perang besar yang menghancurkan antara Sunni dan Syiah di wilayah Timur.
Namun, situasi saat ini menunjukkan bahwa isu sektarian atau perbedaan mazhab sedang dieksploitasi untuk menyulut peperangan demi melayani agenda ekspansi regional serta kepentingan-kepentingan tertentu lainnya.
Fenomena upaya adu domba ini tidak hanya terbatas pada hubungan Sunni dan Syiah.
Di Mesir, terdapat upaya serupa untuk menciptakan konflik antara umat Muslim dan umat Kristen Koptik.
Bahkan, sempat muncul upaya aneh untuk memecah internal umat Kristen Koptik dengan mencoba membentuk otoritas kepemimpinan tandingan di luar Katedral yang telah berdiri selama dua ribu tahun, meski akhirnya berhasil digagalkan oleh negara.
Hal ini menunjukkan bahwa fitnah sengaja ditanam dan disulut dengan menggunakan perbedaan agama, mazhab, atau sektarianisme sebagai bahan bakarnya.
Meskipun menghadapi tantangan tersebut, terdapat optimisme besar yang terletak pada sikap mayoritas masyarakat luas yang menolak segala bentuk perpecahan.
Grand Syeikh meyakini bahwa ketegangan yang terjadi antara Sunni dan Syiah saat ini hanyalah fenomena sementara yang akan segera berakhir. Begitu badai politik dan militer ini mereda, seluruh pihak akan kembali sebagai saudara dalam naungan agama yang satu.


