Siapa Qassem Soleimani, Jenderal Iran Yang Ditakuti AS & Israel

Sosok pendiam, santun dan pemalu. Dan dia bukan tipe orang yang “sulit ditebak” seperti yang dikatakan oleh jenderal-jenderal di Amerika.

Di dalam negerinya, tidak banyak cerita mengenainya. Namun di luar negaranya, sepak terjangnya diibaratkan oleh militer Amerika sebagai sosok monster yang mengancam seluruh kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Di Kota Teheran tempat tinggalnya, para tetangga dan sanak kerabat mengenal lelaki ini sebagai pribadi yang menarik dan seorang kepala keluarga yang menyayangi istri dan anak-anaknya. Saat di rumah, ia beraktivitas dengan teratur dan tenang.

Dialah Mayor Jenderal Qassem Suleimani, Panglima Brigade Quds Iran, sebuah satuan super elite di Garda Revolusi yang memiliki tugas-tugas khusus, seperti penculikan, spionase, kontra intelijen, hingga operasi sabotase.

Brigade Quds konon lebih misterius dari pasukan Garda Revolusi (Pasdaran), yang dikenal menguasai seluruh aset dan infrastruktur penting militer Iran. Pasukan ini dikenal karena operasi-operasi militer dan doktrin yang sangat rapi dan terorganisir.

Di Timur Tengah, ia dikenal sosok yang sangat berpengaruh. Militer Amerika menyebut Suleimani sebagai orang yang sangat berpengaruh dalam politik luar negeri Republik Islam Iran, karena ia memegang sejumlah operasi-operasi penting, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Begitu penting dan strategisnya sosok Suleimani, sampai-sampai Kongres Amerika Serikat pernah mengusulkan secara terbuka untuk meneror Suleimani, jika mungkin dibunuh. Usulan teror dari lembaga kongres Amerika mengejutkan, sekaligus menunjukkan kapasitas Suleimani dan Pasukan Quds yang dipimpinnya.

The Guardian terbitan Inggris dalam sebuah tulisannya menyebut banyak para pejabat Amerika Serikat menyatakan sangat ingin bertemu dengannya. Sejumlah jenderal di Pentagon dibuat terkesima atas aksi-aksinya di sejumlah operasi rahasia.

Seorang pejabat militer Amerika bahkan berkata, “Jika saya bertemu dengannya, sangat sederhana sekali, saya akan bertanya apa yang diinginkannya dari kami [Amerika].”

Meski Suleimani adalah seorang jenderal dan panglima sebuah pasukan militer, Amerika Serikat lebih suka menudingnya sebagai teroris yang mengutamakan operasi militer dalam mencapai target.

Amerika tidak dapat memungkiri bahwa Suleimani juga menang di medan politik. Koran McClatchy terbitan Amerika Serikat edisi 30 Maret 2008 menyebutkan, “Suleimani menjadi mediator dalam menghentikan bentrokan antara pasukan keamanan Irak yang mayoritas Syiah dan pasukan radikal Moqtada Sadr di kota Basrah.

Langkah ini jelas tamparan bagi militer Amerika. Dan Suleimani menunjukkan kemampuannya untuk unggul di kancah politik, bukan saja di bidang militer. Pada Januari 2005, ketika berkunjung ke Irak untuk pertama kalinya pasca tumbangnya rezim Saddam Hussein, Suleimani dengan santai meninjau lokasi pemungutan suara.

Saat Amerika Serikat mendukung Iyad Alawi sebagai calon perdana menteri, Suleimani memulai aktivitasnya mengumpulkan dukungan terhadap kelompok Syiah pro-Iran. Ia membimbing kelompok Syiah mencapai kemenangan dalam pemilu.

Pasca pemilu, Presiden Amerika Serikat kala itu, George W. Bush, menyebut Irak akan segera memiliki pemimpin yang luar biasa. Nyatanya, hasil pemilu Iyad Alawi kalah.

Zalmay Khalilzad, Duta Besar Amerika Serikat untuk Afghanistan pernah mengatakan, “Sedemikian luas Amerika Serikat menuding Suleimani sebagai pengobar perang, sebesar itu pula Suleimani aktif dalam mewujudkan perdamaian. Ia berperan besar dalam mengakhiri bentrokan antara pasukan keamanan Irak dan pasukan Muqtada Sadr.”

Seorang anggota parlemen Irak yang juga merupakan asisten PM Irak Nouri al-Maliki, berkomentar tentang sosok Suleimani.

“Hanya sekali dia datang ke Irak dalam delapan tahun terakhir. Ia adalah sosok yang tenang ketika berbicara dan rasional serta sangat sopan. Ketika Anda berbicara dengannya, ia berperilaku sangat sederhana. Selama Anda tak tahu dukungan [pasukan] yang dimilikinya, Anda tak akan pernah tahu berapa besar kekuatannya, tidak ada orang yang mampu berperang melawannya.”

Tidak seperti para jenderal Amerika yang doyan main petak umpet saat berkunjung ke Irak, Suleimani datang tanpa pengawal dan hanya ditemani dua orang.

Dengan santai dan tenang ia masuk ke kawasan zona hijau yang diawasi ketat oleh militer Amerika Serikat di Baghdad. Selama di zona hijau itu, ia melakukan perundingan dan setelah itu kembali ke Iran tanpa ada keributan.

Suleimani, bukan sosok yang susah ditebak. Dia adalah Panglima Brigade Quds, dan statusnya cukup membuat gentar orang-orang Amerika Serikat. Untuk menutupi ketakutan mereka, disebar cerita-cerita fiktif menakutkan tentang Suleimani.

Saat perang Iran-Irak meletus, Suleimani, kelahiran 11 Maret 1958 di Kerman, juga terjun ke medan perang. Tidak lama, Suleimani menjadi panglima pasukan dari wilayahnya dan setelah itu, ia memimpin Lashkar-e41 Sarallah. Usai perang Panglima Besar Angkatan Bersenjata memanggil Suleimani ke Tehran dan melantiknya sebagai Panglima Brigade Quds dan jabatan itu diembannya hingga kini.

Ia adalah momok bagi Amerika Serikat, tapi kebanggaan bagi Republik Islam Iran. Dengan penampilan sedemikian sederhana, tidak akan ada orang yang menyangka Suleimani adalah Panglima Brigade Quds.[jurnal3]

THE SHADOW COMMANDER

Ketika pecah perang ISIS di suriah, tidak mudah bagi Iran untuk terjun langsung ke kancah perang Suriah.

Permasalahan utamanya ada di propaganda pihak lawan yang memiliki jaringan media internasional, yang selalu mengaitkan keterlibatan Iran dalam konteks sektarian, Sunni vs Syiah. Bashar Assad Presiden Suriah sudah di propagandakan sbg syiah.

Meski Iran sudah mengirimkan Hezbollah untuk membantu Suriah, tapi belum cukup karena pihak yg dilawan bukan hanya ISIS dan kelompok militan lainnya, tetapi juga NATO. Karena itulah Iran mencari jalan memutar untuk membantu Suriah. Jalan memutar itu adalah dengan melibatkan Rusia sebagai penyapu jalan.

Menggandeng Rusia dan China bukan hal mudah. Tetapi dengan masuknya Rusia yang notabene non muslim, maka isu sektarian berhasil di-minimalisir, sehingga Iran bebas utk masuk medan. Cerdik, kan ?

Inisiator dari semua ini adalah Jenderal Qasem Sulaeimani. Kalau anda penggemar novel Tom Clancy dan Frederick Forsyth, pasti akan selalu penasaran kisah tokoh2 yang bergerak aktif di belakang layar.

Iran sebagai negara yang mempunyai musuh yang kuat, mempunyai satu pasukan khusus. Pasukan khusus ini dibentuk untuk menjaga Iran dari serangan langsung. Dibawah pimpinan langsung Pemimpin Besar Iran atau Rahbar, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, dibentuklah Divisi Al Quds, di pimpin Jenderal Qasem Sulaemani.

Tugas divisi ini sangat unik. Ia adalah “tangan rahasia” Iran untuk mengembangkan kekuatan mereka di luar negeri. Menurut sumber, divisi ini mendapat dana sekitar 20 triliun rupiah setiap tahun.

Salah satu jaringan luar negeri yang istimewa bagi divisi Al Quds adalah Hezbollah Lebanon. Hezbollah adalah gerakan perlawanan terhadap Israel dibawah pimpinan Sayyid Hassan Nasrallah.

Dengan Hezbollah, Qasem Sulaemani mematahkan serangan langsung Israel maupun melalui ISIS di Lebanon. Jenderal Qasem memasok persenjataan mutakhir buatan Iran dan Rusia kepada Hezbollah sehingga mereka menjadi organisasi kuat yang ditakuti oleh negara musuhnya. Qasem juga melatih langsung tentara Suriah dalam rangka membela negaranya dari gempuran pemberontak yg dipasok barat.

Bukan itu yang ditakuti oleh AS, tetapi kemampuan pasukan Qasem untuk menyamar dan memecah belah musuh dari dalam-lah yang ditakutkan AS. Kekalahan ISIS di Mossul diakui Al Baghdadi Komandan ISIS adalah berkat kemampuan memecah belah pasukannya dari dalam. Mereka saling memenggal anggota pasukannya sendiri karena menjadi saling curiga satu sama lainnya.

Julukannya banyak. Rahbar sendiri menjulukinya sebagai the living martyr atau syahid yang hidup. Para Jenderal AS memberi julukan The Shadow Commander. Media AS seperti Newsweek memberinya gelar The Nemesis. Bahkan, seperti di kutip dari koran terbitan Inggris The Guardian, seorang pejabat militer AS berkata, “Jika saya bertemu dengannya, ingin saya menjabat tangannya dan bertanya apa yg diinginkannya dari kami ?”

Inilah bentuk penghargaan dari musuh2nya yang terkesima dengan hasil kerjanya, meskipun di depan publik mereka menyebutnya teroris.

Jenderal Qasem Sulaemani bukan saja ahli strategi perang. Ia juga ahli politik. Saat tahun 2005 di Irak, pasca tumbangnya Saddam Hussain oleh AS, sang Jenderal datang ke Irak. AS yang senang dengan kemenangannya berharap untuk menjadikan Irak sebagai The New Saudi Arabia. Tetapi strategi Qasem Sulaemani menghancurkan mimpi mereka. Dia mengalahkan calon kuat AS sebagai Perdana Menteri Irak. Bukan itu saja, AS ternganga ketika melihat Jenderal Qassem dengan santainya tanpa pengawalan ketat mengunjungi TPS-TPS. Beda dengan Jenderal AS yang selalu berjalan di Irak dengan banyak pengawal.

Seorang anggota parlemen Irak yang juga merupakan asisten PM Irak Nouri al-Maliki, berkomentar tentang sosok Suleimani. “Hanya sekali dia datang ke Irak dalam delapan tahun terakhir. Ia adalah sosok yang tenang ketika berbicara dan rasional serta sangat sopan. Ketika Anda berbicara dengannya, ia berperilaku sangat sederhana. Selama Anda tak tahu dukungan [pasukan] yang dimilikinya, Anda tak akan pernah tahu berapa besar kekuatannya, tidak ada orang yang mampu berperang melawannya.”

Dibalik namanya yang menjadi momok bagi AS, sang Jenderal adalah sosok yang sederhana. Baju perangnya adalah bergabung dengan rakyat. Ia mampu berada dalam waktu singkat di sebuah negara dan tiba2 ada di negara lain.

Jenderal Qaseem Sulaemani adalah sosok yang dihormati oleh pihak lawan. Seandainya mereka tidak berseteru, tentu Jenderal2 AS akan sangat senang sekedar minum kopi bersamanya.

Qasem Sulaemani adalah pahlawan bagi rakyat Iran. Ketika anak2 di seluruh dunia ingin menjadi sosok pahlawan di komik Marvel dengan jubah dan celana dalam di luar, anak2 Iran bercita2 ingin menjadi seperti Qasem Sulaeimani, pahlawan mereka.

Surat Syahid Qasim Sulaimani kepada anaknya

بسم الله الرحمن الرحيم

Apakah ini perjalanan terakhirku atau hal lain ialah takdirku, apapun itu aku ridha atas ridha Nya.

Kutulis di perjalanan ini untukmu, agar saat kerinduan tanpa hadirku, ada kenangan yg tersisa. Barangkali kautemukan sepatah kata bermanfaat dalamnya.

Di awal setiap perjalanan saya merasa tak akan melihat kalian lagi; berkali kali kubayangkan wajah wajah penuh kasih dihadapanku, berkali kali pula kuteteskan airmata mengenang semua itu.
rindu padamu, kutitipkan kalian pada tuhan.

Walaupun jarang kesempatan untuk menujukkan kasih, tak mampu menyampaikan cinta yang dalam pada kalian.

Tetapi wahai sayang sayangku, pernahkah terlihat orang yang bercermin lalu berkata pada matanya bahwa ia mencintainya,
Jarang terjadi memang, tapi matanya sudah pasti sangat berharga baginya.
Kalianlah mataku.
Mau kusebutkan atau tidak, tetap sangat berarti bagiku.

Sudah 20 tahun lebih cemas khawatir kalian, dan tuhan menakdirkan hal itu tak selesai disini, dan mimpi ketakutan ini berlanjut bagi kalian.

Putriku, sekuat apapun kuberpikir dan lakukan agar menginginkan pekerjaan lain yang tak membuat sekhawatir ini, sungguh tak kutemukan;
semua ini bukan karena ketertarikanku pada sistem atau kekuatan yang ada, bukan pula karena pekerjaanku, juga bukan dan tidak pernah karena paksaan atau tuntutan siapapun.

Tidak putriku, saya tidak akan sedetik pun membuatmu khawatir karena pekerjaan, tuntutan atau paksaan, apalagi sampai membuatmu menangis.

Saya melihat bahwa tiap orang memilih jalannya dalam semesta ini, yang satu mempelajari dan lainnya mengajar. Yang satu berdagang, ada yang bertani, dan berjuta jalan lainnua, atau lebih tepatnya, pekerjaan dan jalan itu ada sebanyak jumlah manusia , lalu setiap dari mereka memilih jalan miliknya.

Kurenungkan jalan mana yang akan kupilih, lalu kutimbang beberapa hal.
Pertama, sepanjang apakah jalan ini?
Dimana ia berujung?
Berapa lama kesempatanku?
Dan yang utama, apa tujuanku?

Kudapatkan bahwa waktuku terbatas, waktu semua orang terbatas. Singgah beberapa hari lalu pergi lagi.
Sebagian bertahun tahun, ada yang puluhan tahun, jarangpula yang sampai seratus tahun. Namun semua mereka akan pergi. Waktu semua orang terbatas.

Kulihat jika berdagang, ujungnya akan terkumpul setumpuk uang berkilau, beberapa rumah dan mobil. Namun semua itu takkan berdampak pada nasibku di perjalanan ini.
Lalu kupikir untuk hidup demi kalian, tapi kusadari begitu berharga nya kalian bagiku, sampai sampai jika kalian tersakiti seluruh jiwaku ikut merasakannya. Jika permasalahan menimpa kalian, aku merasa diriku di tengah api menyala, jikalau suatu hari kalian meninggalkanku, runtuh lah bagian2 jiwaku.
Lalu kucari cara menangani kekhawatiranku ini, kautemukan bahwa diriku harus tersambung pada yang dapat mengobati semua itu, dan ia tak lain adalah tuhan.

Kalian, bunga bunga hatiku, sebagai harta yang begitu berharga, bukan untuk dilindungi dengan uang dan tahta. Seandainya begitu, harusnya orang orang kaya dan para petinggi jabatan bisa menggunakan kekuatan itu untuk mengindari mati, atau melindungi diri dari penyakit2 mereka. nyatanya tidak.
maka aku memilih tuhan, ia dan jalannya.

Untuk pertama kali aku akan mengakui ini, sebenarnya aku tak pernah ingin menjadi seorang militer, tak pernah menyukai gelar gelar. bagiku kata kata indah “qasim” yang dilontarkan mulut pahlawan itu, tak tergantikan dengan jabatan apapun.
aku menyukai menjadi qasim tanpa awalan dan akhiran, tanpa julukan. maka dari itu aku wasiatkan agar tertulis di atas kuburanku, Tentara Qasim, dan bukan qasim sulaimani, karna sesungguhnya akan menambah atas beban tanggunganku.

Putri terkasihku, kupinta pada tuhan agar semua bagian diriku, setiap nadiku, dipenuhi cinta Nya. aku tak memilih jalan ini untuk membunuh orang, kau tau betul aku bahkan tak kuasa melihat ayam yang dipotong kepalanya.

Jika aku membawa senjata, itu niscaya untuk menghadap orang2 pembunuh, bukan membunuh orang. ku melihat diriku sebagai penjaga untuk setiap rumah muslim yang ada dalam bahaya, dan betapa inginnya diriku agar tuhan memberikan kekuatan untuk bisa membela semua orang terzolimi di dunia ini.

Semua ini bukan demi memberikan jiwa untuk agamaku tercinta, karna sesungguhnya tak berharga nyawaku untuk kebesarannya,
bukan, bukan itu, tetapi untuk anak anak ketakutan tanpa pelindung yang tak tau harus lari kemana, untuk wanita2 yang memeluk balitanya erat penuh kecemasan, untuk ia yang terlantar, terpaksa kabur dan dikejar karena sebercak darah yang ia tumpahkan untuk melindungi sekitarnya. untuk mereka aku berperang.

Sayangku, akulah bagian dari para tentara yang tidak tidur dan tidak boleh tertidur, agar oranglain tidur dalam ketenangan. biarlah ketenanganku kukorbankan demi tenangnya mereka agar pulas tertidur.

Putriku tersayang, dirimu hidup di rumah yang aman dan tentram dengan harga diri dan martabat. tapi bagaimana untuk perempuan kecil tak berdaya yang tak ada pelindung, dan balita yang kejar menangis usai kehilangan segala.. semuaa yang dia miliki. Maka nazarkanlah diriku untuk mereka. Maka biarlah ayah pergi, bagaimana tetap disini padahal kafilah ku berangkat dan aku tertinggal

Putriku, ayah begitu lelah, 30 tahun belum terlelap, namun kini tak lagi ingin tertidur. kutaburkan garam di kelopak mataku agar jangan sampai dalam kelalaianku, mereka potong kepala balita tak berdaya itu..

Jika kupikir kembali, mungkin dirimu si perempuan penuh cemas, sperti narjis, dan zainab, dan mereka yang terjagal di medan perang ialah husainku rezaku, maka apa yang kau harapkan dariku? menjadi penonton? bersikap tak acuh? berdagang?? tidak. aku tak bisa hidup seperti itu putriku.

والسلام عليكم و رحمت الله

Tag: #Jendral Qasim Sulaimani, #Brigade Quds, #Jendral Iran

sumber:
– http://pkspuyenganonline.blogspot.com/2016/02/inilah-qassem-suleimani-jenderal-iran.html
– https://www.facebook.com/dennyzsiregar/posts/the-shadow-commandertidak-mudah-bagi-iran-untuk-terjun-langsung-ke-kancah-perang/975329175863284/