Kajian ini merupakan pembahasan hari kesepuluh dari kitab Misbah Syariah wa Miftahul Haqiqah (Pelita Syariat dan Gerbang Hakikat) yang berisi riwayat-riwayat dari Imam Ja’far ash-Sadiq.
Pada kesempatan ini, kita membahas mengenai adab dalam membaca Al-Qur’an.
Esensi Membaca Al-Qur’an
Imam Ja’far ash-Sadiq menyatakan bahwa barangsiapa membaca Al-Qur’an namun tidak memunculkan ketundukan kepada Allah, rasa agung di hati, kesedihan, serta kekhusyukan batin, maka ia sebenarnya telah meremehkan keagungan Allah. Membaca Al-Qur’an yang hanya sebatas lisan tanpa menyentuh hati adalah sebuah kerugian yang nyata.
Tiga Syarat Utama Pembaca Al-Qur’an
Untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai kehendak Allah, diperlukan tiga hal utama:
- Hati yang Khusyuk (Qalbun Khasyi’):
Hati yang tunduk dan menjaga keterhubungan dengan Allah. - Raga yang Terbebas (Badanun Farigh):
Keadaan fisik dan pikiran yang terlepas dari gangguan atau hal-hal yang mengikat pikiran. - Tempat yang Sunyi (Maudhi’un Khali):
Berada dalam kesendirian agar konsentrasi (tawajjuh) tidak terganggu oleh hal lain.
Isti’adzah: Perlindungan yang Hakiki
Ketika hati sudah khusyuk, setan akan menjauh. Allah memerintahkan kita untuk memohon perlindungan (isti’adzah) saat membaca Al-Qur’an (QS. An-Nahl: 98).
Isti’adzah terbagi dua:
- Isti’adzah Lisani:
Mengucapkan “A’udzubillahi minasy syaithanir rajim”. - Isti’adzah Hakiki:
Menutup pintu-pintu setan di dalam batin dengan membuang sifat buruk seperti mengejar kesenangan duniawi yang melalaikan, ujub (bangga diri), hasad, riya, bakhil (pelit), dan sombong.
Tanpa membersihkan sifat ini, setan akan terus mendekat karena “makanannya” masih ada di dalam diri kita.
Merasakan Kelezatan Dialog dengan Tuhan
Jika batin telah bersih, seseorang akan merasakan kelezatan dan kemanisan dalam berkomunikasi dengan Allah (halawatal mukhotobat).
Al-Qur’an tidak lagi hanya menjadi teks, melainkan sarana dialog langsung.
Sir Muhammad Iqbal pernah berkata bahwa ia membaca Al-Qur’an seakan-akan kitab itu sedang berbicara kepadanya.
Secara rohani, saat Al-Qur’an “turun” (nazala), pembacanya justru “naik” menuju Allah.
Pada derajat ini, seseorang melakukan munajat tanpa perantara dan tanpa hijab.
Petunjuk Praktis dalam Membaca
- Perhatikan Makna:
Lihatlah bagaimana perintah dan larangan Allah dalam ayat tersebut dan bagaimana kita meresponsnya. - Tartil:
Bacalah dengan perlahan, resapi setiap makna, dan ambil pelajarannya. - Merenung:
Berhentilah sejenak pada ayat-ayat tentang janji dan ancaman Allah, serta pikirkan perumpamaan dan nasihat yang diberikan. - Menjaga Batasan:
Jagalah ketepatan huruf dan batasan hukum yang telah ditetapkan Allah.
Cahaya Al-Qur’an
Membaca dengan adab yang benar akan memancarkan cahaya rohani dalam batin.
Sebagaimana kisah Ibnu Mas’ud yang melihat cahaya malaikat saat membaca Al-Qur’an, adab yang benar akan membawa pembacanya ke hadirat Ilahi dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pelindung di dunia, kubur, hingga akhirat.

Kajian Hadis (Eps 10) Adab Membaca Al-Qur’an (Kajian Misbah Syariah)
bersama Dr. Kholid Al Walid
YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : Misykat.net
Donasi Dakwah Digital:
Bank BRI 1141 01 000 401 56 2 an Yayasan Bahtera Cinta Almustofa
Cp WA 0812 239 14000

