1. Biografi Imam Ja’far ash-Shadiq dalam Kitab Mu’jam al-Mu’allifin
Penyampaian diawali dengan merujuk pada kitab Mu’jam al-Mu’allifin jilid ketiga dan keempat (halaman 145), karya Umar Ridha Kahhalah—salah seorang ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah—terbitan Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi.
Pengarang menjelaskan biografi Imam Ja’far ash-Shadiq sebagai berikut:
- Silsilah: Ja’far bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin al-Husain as-Sibth al-Hasyimi al-Qurasyi (dari kalangan Bani Hasyim, suku Quraisy).
- Gelar dan Julukan: Bergelar ash-Shadiq dan memiliki kunyah (julukan) Abu Abdillah.
- Kedudukan: Menurut kalangan Imamiyyah, beliau merupakan Imam keenam dari 12 Imam.
- Murid-murid Beliau: Pengarang kitab mencatat pernyataan penting (wa akhadza ‘anhu jama’atun) bahwa sekelompok besar orang menimba ilmu dari Imam Ja’far ash-Shadiq. Di antara ulama yang belajar dari beliau adalah dua imam mazhab besar (al-Imamani), yaitu Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.
2. Pengakuan Keilmuan oleh Imam Abu Hanifah dalam Kitab Siyar A’lam an-Nubala’
Keilmuan dan keutamaan Imam Ja’far ash-Shadiq juga diakui oleh Imam Abu Hanifah sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’ karya Imam az-Zahabi (ulama Ahlus Sunnah), terbitan Darul Hadits Kairo (jilid 6, cetakan tahun 2006 M / 1427 H, halaman 364).
Dalam riwayat tersebut (Haddatsana Ja’far bin Muhammad… sami’tu Aba Hanifah), disebutkan bahwa Imam Abu Hanifah pernah ditanya oleh seseorang:
Pertanyaan: “Man afqahu man ra’aita?” (Siapakah orang yang paling faqih atau paling mendalam ilmunya yang pernah Anda lihat?)
Jawaban Imam Abu Hanifah: “Ma ra’aitu ahadan afqaha min Ja’far bin Muhammad” (Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih faqih atau lebih mendalam ilmunya daripada Ja’far bin Muhammad [Imam ash-Shadiq]).
3. Peristiwa 40 Pertanyaan Sulit dari Khalifah al-Mansur
Imam Abu Hanifah menceritakan latar belakang pengakuannya tersebut:
- Khalifah al-Mansur (salah seorang khalifah Bani Abbasiyah) mendatangkan Imam Ja’far ash-Shadiq secara paksa dari suatu daerah ke al-Hirah.
- Al-Mansur mengutus seseorang untuk menemui Abu Hanifah dan berkata: “Wahai Abu Hanifah, sesungguhnya manusia telah terpikat hatinya kepada Ja’far bin Muhammad. Maka siapkanlah pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk engkau tanyakan kepadanya!”
- Abu Hanifah kemudian menyiapkan 40 pertanyaan sulit untuk diajukan kepada Imam Ja’far ash-Shadiq.
4. Pertemuan dan Ujian Keilmuan
Pada hari yang ditentukan, Abu Hanifah mendatangi Khalifah al-Mansur:
- Abu Hanifah melihat Imam Ja’far ash-Shadiq duduk di sebelah kanan Khalifah al-Mansur.
- Saat melihat keduanya, Abu Hanifah merasakan kewibawaan (haibah) yang luar biasa dari sosok Imam Ja’far ash-Shadiq, suatu kewibawaan yang bahkan tidak beliau lihat pada diri Khalifah al-Mansur sendiri.
- Abu Hanifah mengucapkan salam lalu duduk. Khalifah al-Mansur bertanya kepada Imam Ja’far: “Wahai Abu Abdillah, kenalkah engkau siapakah orang ini?” Imam Ja’far menjawab: “Ya, ini adalah Abu Hanifah.”
- Al-Mansur kemudian meminta Abu Hanifah untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaannya.
- Abu Hanifah mengajukan seluruh 40 pertanyaan sulit yang telah disiapkannya. Imam Ja’far ash-Shadiq mampu memecahkan dan menjawab seluruh pertanyaan tersebut hingga tidak ada satu pun permasalahan yang tidak bisa beliau selesaikan.
5. Kesimpulan Penilaian & Penutup
Peristiwa ini menjadi bukti nyata bagi Abu Hanifah mengenai kedalaman ilmu Imam Ja’far ash-Shadiq. Menerima kenyataan betapa luasnya ilmu beliau, Abu Hanifah—yang saat itu telah menjadi seorang ulama besar—pada akhirnya berguru dan menimba ilmu secara langsung kepada Imam Ja’far ash-Shadiq.
Video ini ditutup dengan kesimpulan biografi Imam Ja’far ash-Shadiq dalam pandangan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana tercantum dalam kitab Mu’jam al-Mu’allifin dan Siyar A’lam an-Nubala’, serta doa shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya yang suci.

Allahumma sholli ‘alaa muhammad wa aali muhammad…
Video sumber: Dalil-dalil Channel

