19 October 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Bertawassul kepada Rasulullah SAW berdasarkan Kitab Daf’u Syubah

Penjelasan ini diambil dari sebuah kitab berjudul “Daf’u Syubah Man Syabbaha wa Tamarrada” yang ditulis oleh Al-Hishni Ash-Syafi’i, salah seorang ulama Ahlussunnah dari mazhab Syafi’i.
Kitab ini diterbitkan oleh penerbit Darur Razi pada cetakan pertama tahun 2003 Masehi.

Pada halaman 473, Al-Hishni meriwayatkan sebuah dialog yang terjadi di Masjid Nabawi antara Khalifah Abu Jafar (Amirul Mukminin) dan Imam Malik.
Saat itu, Abu Jafar meninggikan suaranya di dalam masjid, lalu Imam Malik menegurnya dengan mengingatkan firman Allah dalam Surah Al-Hujurat agar tidak meninggikan suara di hadapan Rasulullah SAW.

Mendengar teguran tersebut, Abu Jafar kemudian bertanya kepada Imam Malik, “Wahai Abu Abdillah (gelaran Imam Malik), ketika saya berdoa, apakah saya harus menghadap ke arah kiblat atau menghadap ke arah Rasulullah?”.

Imam Malik menjawab: “Mengapa engkau memalingkan wajahmu dari beliau? Padahal beliau adalah wasilah (perantara) bagimu dan juga bagi bapakmu, Nabi Adam, kelak di hari kiamat. Menghadaplah kepada beliau dan mintalah syafaat melalui beliau, niscaya Allah akan memberikan syafaat-Nya kepadamu.”. Imam Malik kemudian memperkuat penjelasannya dengan merujuk pada Surat An-Nisa ayat 64 tentang anjuran mendatangi Rasulullah untuk memohon ampunan.

Kedudukan Kisah Ini di Kalangan Ulama

Al-Hishni menjelaskan bahwa kisah dialog antara Imam Malik dan Abu Jafar ini sangat masyhur serta dikenal luas.
Kisah ini dikutip oleh para ulama terdahulu (mutaqaddimin) maupun ulama belakangan (muta’akhirin) dengan sanad yang baik. Di antara ulama besar yang meriwayatkannya adalah:

  1. Al-Qadi ‘Iyad dalam kitabnya yang sangat terkenal, “As-Syifa”.
  2. Al-Imam Al-Allamah Hibatullah dalam kitabnya, “Tauthiq Nur al-Iman”.

Para ulama menegaskan bahwa kewajiban menghormati dan mengagungkan Rasulullah SAW setelah beliau wafat adalah sama persis seperti saat beliau masih hidup.
Oleh karena itu, para ulama dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan mazhab lainnya senantiasa mengamalkan hal ini.
Ketika menziarahi makam Rasulullah yang mulia, mereka membaca Surat An-Nisa ayat 64, memohon ampunan kepada Allah, bertawassul melalui beliau, dan memohon syafaat dari beliau.

Dalam kitab tersebut ditegaskan pula bahwa tidak ada seorang pun yang menolak atau mencela kisah Imam Malik ini, kecuali seorang fajir (orang yang menyimpang dari kebenaran).
Berdasarkan catatan kaki nomor satu di dalam kitab tersebut, sosok yang dimaksud sebagai penolak kisah ini adalah Ibnu Taimiyah.

Kesimpulan Penting dari Video

Dari pemaparan di atas, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan penting:

  • Menziarahi makam Rasulullah SAW adalah amalan yang sangat dianjurkan.
  • Memohon ampunan kepada Allah melalui perantara (tawassul) Rasulullah SAW juga sangat dianjurkan, bahkan setelah beliau wafat.
  • Nabi Adam AS sendiri, yang merupakan bapak dari seluruh umat manusia, telah mencontohkan amalan bertawassul dengan menjadikan Rasulullah SAW sebagai perantaranya menuju Allah.

Logikanya, jika seorang nabi mulia seperti Nabi Adam AS saja masih memerlukan wasilah (perantara) untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka kita sebagai manusia biasa yang penuh dengan lumuran dosa tentu jauh lebih membutuhkan wasilah tersebut dalam memohon ampunan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

.Bapak Tawassul Tradisi dan Dalil Autentik

 

Judul video: Bapak Seluruh Manusia Bertawassul Kepada Rasulullah saw – Watch on Youtube

Yuk Subscribe Dalil-dalil Channel:
Subscribe Channel Dalil-dalil Channel

 

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us