2 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Banyak yang salah kaprah dalam memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan akhlak. Apa pengertian akhlak yang sesungguhnya dalam Islam. Apa bedanya pengertian akhlak secara ilmiah dengan pengertian akhlaq menurut pandangan umum.

Untuk memahami apa pengertian akhlak dan urgensinya dalam mengubah kehidupan kita, marilah simak video ceramah berikut ini, yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Ustadz Hasan Abu Ammar.

 

Pentingnya Akal dan Nikmat Tuhan

Pada kesempatan ini, saya akan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan topik yang telah diusulkan, yaitu Akhlak dan Sufisme/Gnosis (Tasawuf/Irfan).

Pertama-tama, marilah kita senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, baik berupa kehidupan, kesehatan, maupun nikmat terbesar berupa akal.
Dengan akal inilah manusia dibedakan dan dipisahkan dari kelompok makhluk lain di bumi.
Melalui akal pula, manusia dapat menjadi makhluk yang paling mulia, bahkan jika dibandingkan dengan para malaikat.

Definisi Khuluq (Karakter) dan Akhlak

Sebelum memasuki pembahasan rinci mengenai Akhlak dan Sufisme, pertama-tama saya akan menjelaskan tentang moralitas dan akhlak secara global agar kita dapat memahami dengan lebih baik perbedaan antara ilmu akhlak dengan ilmu-ilmu lainnya.

Secara global, karakter di sini dapat diartikan sebagai khuluk. Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari khuluq.
Berdasarkan penjelasan dalam kitab Kasyaf al-Funum wal Ulum Jilid 1, Halaman 762, khuluq didefinisikan sebagai:

Malakatun tashduru ‘anun-nafs al-af’al bi suhulatin min ghairi taqaddumi fikrin wa rawiyyatin wa takalluf.

Artinya, khuluq (karakter) adalah kepemilikan sifat-sifat tertentu di dalam jiwa yang telah menyatu dan menetap, sehingga tindakan-tindakan lahiriah dapat memanifestasikan diri dari jiwa tersebut secara mudah.

Kriteria utama dari khuluq adalah lahirnya suatu tindakan secara mudah tanpa perlu berpikir panjang terlebih dahulu dan tanpa merasa terbebani.
Jadi, khuluq adalah sifat dasar batiniah yang melahirkan tindakan spontan tanpa paksaan atau beban pikiran.

 

Contoh Manifestasi Khuluq

Untuk mempermudah pemahaman, berikut adalah beberapa contoh dari manifestasi khuluq dalam kehidupan sehari-hari:

  • Karakter Rajin:
    Seseorang yang memiliki karakter rajin tidak akan merasa terbebani sama sekali ketika ingin belajar.
  • Gemar Membaca:
    Seseorang yang jiwanya sudah mencintai buku akan langsung membaca tanpa perlu berpikir atau memaksa dirinya lagi.
  • Kedermawanan:
    Seseorang yang dermawan, ketika melihat orang miskin, akan langsung mendonasikan hartanya dengan mudah tanpa ragu-ragu ataupun merasa berat.
  • Karakter Berzikir:
    Seseorang yang lidah dan hatinya sudah terbiasa berzikir akan melakukannya secara otomatis tanpa merasa terbebani karena zikir telah menjadi khuluq-nya.

 

Akhlak Baik dan Akhlak Buruk

Dalam istilah filsafat, khuluq adalah suatu substansi yang telah menyatu dan tidak terpisahkan dari diri manusia.
Karakter atau sifat tertentu ini dapat dicapai dan dibentuk oleh manusia melalui latihan diri (riyadhah).

Perlu diingat bahwa kepemilikan sifat dalam pembahasan akhlak ini tidak selalu berupa hal yang baik, melainkan bisa juga berupa keburukan.

Sebagai contoh, seseorang yang meminum bir awalnya mungkin menganggap hal itu sebagai kebaikan karena tertipu oleh bisikan setan.
Namun, setelah ia meminumnya sekali, dua kali, tiga kali, tindakan tersebut lama-kelamaan bertransformasi menjadi kebiasaan atau kecanduan yang akhirnya menetap sebagai akhlaknya.
Oleh karena itu, dalam diskusi ilmiah, istilah akhlak tidak melulu merujuk pada hal-hal yang baik.

 

Dimensi Lahir dan Batin dalam Akhlak

Karena karakter adalah kepemilikan jiwa atas sifat-sifatnya—dan kepemilikan ini mencakup segala sesuatu yang ada di dalamnya serta memiliki dimensi lahir (eksternal) dan batin (internal)—maka cakupan pembahasan ilmu akhlak sangatlah luas dan menyeluruh.

  • Sifat buruk seperti pamer (ria) atau berprasangka buruk (su’udzon) mungkin memiliki dampak lahiriah yang minim di masyarakat, namun sangat merusak jiwa.
    Sebaliknya, sifat mulia seperti kedermawanan memiliki dampak sosial yang sangat nyata dan jelas bagi kehidupan lahiriah kita.
  • Sifat-sifat seperti keikhlasan, keimanan, husnudzon (berprasangka baik), maupun su’udzon, semuanya lebih condong pada dimensi spiritual atau batiniah.

Karena mencakup kepemilikan jiwa baik secara lahir (yang memiliki manifestasi eksternal) maupun batin (yang murni di dalam jiwa), serta mencakup sifat baik dan buruk, maka jangkauan akhlak meliputi seluruh aspek kehidupan, nilai-nilai, akal, hingga amal perbuatan kita.

 

Ruang Lingkup dan Tujuan Ilmu Akhlak

Ilmu akhlak tidak hanya bertugas menjabarkan seluk-beluk kepemilikan sifat-sifat tersebut, melainkan juga mengajarkan kita cara-cara untuk meraih sifat yang baik serta mengobati sifat-sifat yang buruk.
Dengan demikian, tujuan utama mempelajari ilmu akhlak adalah memberikan penjelasan mengenai keutamaan jiwa manusia dan menunjukkan jalan keselamatan agar manusia terhindar dari keburukan dan dapat menjadi makhluk yang sempurna (insan kamil).

Kesejahteraan jiwa dan kesehatan mental tidak selalu bergantung pada ketenangan fisik atau kesejahteraan jasmani.
Ilmu akhlak bertujuan membuat manusia tetap bahagia, sehat, dan damai secara spiritual, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam keadaan sehat maupun sakit.

Hal ini juga berlaku baik saat manusia berada di tengah keramaian maupun dalam kesendirian.
Ada kalanya seseorang yang mempertahankan akhlak mulia justru tidak memiliki teman karena ia memegang teguh kebenaran di lingkungan yang rusak.
Ketika mayoritas orang kecanduan berbuat buruk dan muncul satu orang yang tetap mempertahankan kebaikan, umumnya ia akan dijauhi dan hidup sendiri.

Oleh karena itu, tidak heran jika Rasulullah SAW bersabda bahwa kelak orang yang mempertahankan agamanya (Islam) bagaikan memegang bara api di tangannya—terasa sangat panas dan menyiksa fisik, namun seorang muslim yang sejati harus tetap kukuh mempertahankan karakternya.

 

Ketenangan Jiwa di Tengah Penderitaan Fisik (Belajar dari Karbala)

Kesehatan mental dan kedamaian jiwa dalam Islam dapat tetap tegak berdiri baik dalam keadaan damai, perang, maupun saat terluka secara fisik.
Seseorang yang terluka dalam perjuangan membela Islam mungkin saja menangis secara alamiah (fitrawi) karena rasa sakit fisiknya, namun jiwanya tetap merasakan kebahagiaan yang mendalam.

Kita dapat mengambil pelajaran agung dari Siti Zainab pasca-peristiwa tragis di Karbala.
Ketika beliau ditanya mengenai apa yang ia lihat dari tragedi pembantaian tersebut, dengan berlinang air mata beliau menjawab:

“Aku tidak melihat semua ini kecuali keindahan.” (Maa ra’aitu illa jamila).

Secara manusiawi (fitrawi), Siti Zainab menangis dan menderita luar biasa karena kehilangan saudara-saudaranya, termasuk Imam maksum yang membawa ilmu Al-Qur’an.
Ilmu Al-Qur’an yang dimaksud di sini bukanlah sekadar tafsir lahiriah, melainkan makna hakiki yang mendalam.
Meskipun mengalami penderitaan batin, menyaksikan pembantaian, dan melihat kepala para syuhada dipenggal di Karbala, jiwa Siti Zainab tetap sehat dan bahagia.
Kebahagiaan spiritual sejati ini sama sekali tidak bertentangan dengan penderitaan fisik, penyakit, kemiskinan, ataupun luka-luka syahid.

 

Menggapai Kebahagiaan Sejati (Intrinsic Happiness)

Tujuan utama ilmu akhlak adalah mengangkat manusia dari penderitaan yang sebenarnya tidak perlu ia derita.

Ketika seseorang jatuh miskin lalu hatinya didera kesedihan dan jiwanya menderita, ilmu akhlak datang untuk meluruskan cara pandangnya dengan berkata: “Janganlah bersedih, melainkan berusahalah agar kamu tetap dapat menjalankan perintah-perintah Allah”.

Jika Allah menganjurkanmu untuk menghindari hal-hal yang haram, dan akibat dari kepatuhanmu itu membuatmu menjadi miskin, maka sadarilah bahwa kamu sedang menaati Allah.
Di kala kamu sedang menaati Sang Pencipta, apa lagi yang sebenarnya membuatmu bersedih?
Ketika Allah memerintahkanmu untuk berpegang teguh pada agama-Nya seperti memegang bara api di tangan, lalu bisnismu menjadi tidak lancar atau teman-teman menjauhimu, janganlah bersedih, karena sesungguhnya kamu sedang berada dalam ketaatan kepada Allah.

Kesedihan yang dialami oleh para pencinta dunia timbul karena hilangnya harta benda atau teman.
Namun, jika kamu ditinggalkan banyak orang karena teguh membela Islam, kamu harusnya bahagia karena itu menandakan bahwa jiwamu adalah jiwa yang sehat.

Kesedihan fisik itu bersifat lahiriah. Ilmu akhlak mengundang kita untuk berpikir mengenai sesuatu yang lebih intrinsik dan hakiki, melepaskan belenggu fisik, sehingga kita tetap dapat merasakan kebahagiaan sejati di tengah kesedihan lahiriah.

Ilmu akhlak memang tidak menghilangkan rasa sakit yang bersifat manusiawi (fitrawi), tetapi ia menegaskan bahwa kesedihan fisik tersebut tidak boleh dijadikan kesedihan yang hakiki.
Kesedihan yang hakiki adalah ketika jiwa kita menjauh dari fitrah, kebenaran, dan Islam.

Sebaliknya, kebahagiaan sejati (ultimate happiness) tercapai saat kita tunduk dan patuh kepada Allah, Rasulullah, dan Al-Qur’an. Oleh karena itu, di dalam kesedihan fisikmu, berbahagialah atas ketaatanmu kepada Allah.

Sebagai kesimpulan, ilmu akhlak mengajarkan kita tentang apa yang baik dan buruk, bahaya dari keburukan, melatih diri agar sifat baik menyatu menjadi bagian dari substansi diri kita, serta menjaga agar jiwa kita senantiasa sehat dan bahagia secara intrinsik.

Hakikat Akhlak dan Kesehatan Jiwa

Bersama Ustadz Hasan Abu Ammar

Sumber video: ITRAH INSTITUTE Official

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us