16 October 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim

1. Penjelasan dalam Kitab Ruhul Ma’ani (Karya Al-Alusi)

Di dalam kitab Ruhul Ma’ani karya Al-Alusi—salah satu ulama Ahlussunnah—pada jilid ke-12 terbitan Darul Fikr, halaman 24, Al-Alusi menjelaskan riwayat yang telah dinyatakan sahih dari sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sesungguhnya telah kutinggalkan untuk kalian dua khalifah (pengganti/pemimpin)”—dan dalam riwayat lain disebut tsaqalain (dua perkara berharga)—yaitu:

  1. Kitabullah (Al-Qur’an), laksana tali yang terbentang antara langit dan bumi.
  2. ‘Itrah-ku, yaitu Ahlulbait-ku.

Dan sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah hingga keduanya mendatangi serta menjumpai aku di telaga.

Dari sabda tersebut, Al-Alusi menegaskan bahwa istri-istri Nabi yang disucikan tidak termasuk ke dalam golongan Ahlulbait yang dimaksud sebagai salah satu dari dua perkara berharga (tsaqalain) tersebut.
Sebagaimana dijelaskan pula di dalam kitab sahih, ‘itrah seseorang adalah keturunan dan kerabat nasab yang terdekat.

2. Penjelasan dalam Kitab Lisanul ‘Arab (Karya Ibnu Manzhur)

Selanjutnya, di dalam kitab Lisanul ‘Arab karya Ibnu Manzhur—yang juga merupakan salah satu ulama Ahlussunnah—pada jilid ke-6 terbitan Darul Hadits Kairo (cetakan tahun 2003), halaman 72, dijelaskan makna istilah ‘itrah:

  • Ibnu Manzhur
    menyatakan bahwa ‘itrah seseorang adalah keluarga serta sanak kerabat dekatnya.
  • Ibnu al-Atsir
    menjelaskan bahwa ‘itrah seseorang adalah kerabat yang paling khusus dan paling dekat hubungan kekerabatannya.
  • Ditegaskan pula bahwa ‘itrah adalah anak seseorang beserta keturunannya dari garis sulbinya; maka dari itu, yang dimaksud dengan ‘itrah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah anak-anak (keturunan) dari Fatimah al-Batul.

3. Kesimpulan Pembahasan

Pernyataan dari Al-Alusi dan Ibnu Manzhur tersebut menunjukkan bahwa:

  1. Makna ‘itrah adalah pihak-pihak yang paling dekat hubungan nasab dan kekerabatannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
  2. Hal yang paling mendasar adalah mereka dijadikan sebagai padanan/tandingan bagi Al-Qur’an.
  3. Karena berstatus sebagai padanan Al-Qur’an, maka siapa pun yang menyatakan atau mengklaim dirinya sebagai ‘itrah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wajib menguasai Al-Qur’an.

Demikianlah penjelasan dan riwayat yang tercantum di dalam kitab Ruhul Ma’ani serta Lisanul ‘Arab.

Dalil2 Memahami Itrah Nabi SAW

Allahumma sholli ‘alaa muhammad wa aali muhammad

—

Video sumber: Dalil-dalil Channel

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us