Tafsir Q.S. Ath-Thur: 39-49 | Hidup Bersama Al-Quran: Tafsir Al-Mishbah Episode 5
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Allah Mahasuci tidak layak pada-Nya keburukan sedikit pun, bahkan ketidaksempurnaan juga harus dijauhkan dari Allah.
Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika mendengar keburukan dinisbahkan kepada Allah? Apakah Allah juga membantah tuduhan buruk tersebut?
Simak Penjelasan lengkap Tafsir Al-Quran bersama M. Quraish Shihab dan Najelaa Shihab, di Hidup Bersama Al-Quran edisi spesial Tafsir Al-Mishbah.
Pembahasan ini merupakan kelanjutan dari episode sebelumnya mengenai Surah Ath-Thur, yang menyoroti bagaimana kaum musyrikin menunjukkan ketidakpercayaan mereka terhadap ajaran Nabi Muhammad SAW dan mukjizat Al-Quran.
Ayat-ayat yang dibahas kali ini masih mengandung kecaman terhadap sikap dan kepercayaan keliru kaum musyrik.
Kritik terhadap Diskriminasi Gender (Ayat 39)
Allah berfirman dalam ayat 39: “Apakah untuk-Nya anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki?”.
Ayat ini mengecam logika masyarakat jahiliyah yang melecehkan perempuan.
Mereka menganggap anak perempuan tidak berguna dan hanya bisa menangis saat membela diri, sehingga mereka lebih menginginkan anak laki-laki.
Namun, perlu diluruskan bahwa tidak semua masyarakat jahiliyah menanam hidup-hidup anak perempuannya; jika semua melakukannya, tentu tidak akan ada keturunan.
Al-Quran mengecam pembedaan derajat kemanusiaan ini dan menekankan pesan tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Sebagai contoh, saat Maryam lahir, ibunya sempat kecewa karena menginginkan anak laki-laki untuk berkhidmat di Baitul Maqdis, namun Allah menegaskan bahwa perempuan yang diberikan itu (Maryam) bisa jadi jauh lebih hebat dari laki-laki yang diharapkan.
Upah Dakwah dan Konsep Ghaib (Ayat 40-42)
Nabi Muhammad SAW tidak pernah meminta upah berupa materi atas dakwahnya. Beliau menegaskan bahwa upahnya datang dari Allah.
Jika ada “upah” yang diminta, hal itu adalah kecintaan dan penghormatan kepada keluarga Nabi (Al-Mawaddah fil Qurba), yang tujuannya bukan untuk kepentingan pribadi Nabi, melainkan untuk kemaslahatan umat itu sendiri.
Selanjutnya, Allah menyindir kaum musyrik apakah mereka memiliki pengetahuan tentang hal ghaib sehingga bisa menetapkan kebenaran versi mereka sendiri. Ghaib terbagi dua:
- Ghaib Nisbi:
Sesuatu yang tersembunyi bagi sebagian orang namun diketahui orang lain (seperti isi saku seseorang). - Ghaib Mutlak:
Hanya diketahui oleh Allah, seperti wujud Allah, malaikat, dan datangnya hari kiamat.
Segala tipu daya yang direncanakan kaum kafir untuk menghentikan dakwah tidak akan berhasil dan justru akan berbalik kepada mereka sendiri.
Keesaan Allah dan Makna Subhanallah (Ayat 43)
Ketika ditanya siapa pencipta langit dan bumi, kaum musyrik mengakui Allah, namun mereka tetap mempersekutukan-Nya dengan berhala.
Ayat 43 mempertanyakan apakah mereka memiliki tuhan selain Allah.
Istilah “Subhanallah” dalam Al-Quran digunakan dalam dua konteks:
- Keheranan:
Digunakan untuk mengingkari sesuatu yang buruk atau aneh, seperti sikap mempersekutukan Allah. - Kekaguman:
Digunakan saat melihat keindahan ciptaan Allah atau peristiwa besar seperti Isra Miโraj.
Makna utamanya adalah menjauhkan Allah dari segala kesan buruk, persepsi negatif, atau pujian manusia yang tidak sempurna.
Ketegaran Hati dan Perintah Bersabar (Ayat 44-48)
Kaum musyrik digambarkan sangat keras kepala. Bahkan jika mereka melihat azab berupa gumpalan langit yang jatuh, mereka akan berkilah bahwa itu hanyalah awan yang bertumpuk.
Karena itu, Nabi diperintahkan untuk membiarkan mereka sampai datangnya hari pembalasan.
“Membiarkan” di sini bukan berarti berhenti berdakwah, melainkan tetap bersabar melanjutkan perjuangan dan menyerahkan kesudahan mereka kepada Allah.
Allah memerintahkan Nabi untuk bersabar terhadap ketetapan-Nya (ayat 48). Berbeda dengan Nabi Nuh yang pernah mendoakan kehancuran kaumnya atau Nabi Yunus yang merasa jengkel, Nabi Muhammad SAW diminta untuk terus bertahan dan tidak mendoakan keburukan.
Hal ini terlihat saat peristiwa di Ta’if; meski dilempari batu hingga berdarah, Nabi menolak tawaran malaikat untuk menghancurkan penduduknya dan justru mendoakan agar anak cucu mereka menjadi orang-orang baik.
Zikir dan Tasbih (Ayat 48-49)
Sebagai penguat hati, Allah berfirman bahwa Nabi berada dalam pengawasan dan perhatian penuh Allah (“di mata Kami”). Nabi diperintahkan untuk bertasbih (memuji Allah):
- Saat bangun atau bangkit dari suatu majelis.
- Saat melakukan berbagai aktivitas di siang hari.
- Pada waktu malam hari dan saat bintang-bintang akan terbenam (subuh).
Redaksi tasbih yang sering diajarkan Nabi saat menutup majelis adalah: โSubhanakallahumma wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaihโ.
Mengucapkan Subhanallah adalah bentuk zikir untuk mengingat Allah dalam berbagai kondisi, baik saat takjub atas peristiwa besar maupun saat menampik hal-hal yang tidak layak bagi kesucian Allah.

Akan tayang setiap hari selama bulan Ramadan hanya di YouTube channel Quraish Shihab
#hidupbersamaalquran #tafsiralmishbah #quraishshihab #ramadan1441
Follow:
https://instagram.com/quraish.shihab
Posts by quraishihab
Dapatkan buku karya M. Quraish Shihab:
https://store.lenterahati.com/id/281-mqs-corner
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







