Tafsir Q.S. An-Najm: 12-23 | Hidup Bersama Al-Quran: Tafsir Al-Mishbah Episode 7
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Aqidah adalah kepercayaan yang pasti dengan pengetahuan dan argumentasi yang jelas. Jadi, aqidah harus disertai keyakinan yang mantap bukan hanya dugaan.
Bagaimana jika saat beriman seseorang mengalami keraguan? Bagaimana dengan orang yang hanya mengandalkan akal?
.
Simak Penjelasan lengkap Tafsir Al-Quran bersama M. Quraish Shihab dan Najelaa Shihab, di Hidup Bersama Al-Quran edisi spesial Tafsir Al-Mishbah.
Program “Hidup Bersama Al-Qur’an” edisi khusus Tafsir Al-Mishbah pada hari ketujuh Ramadhan ini melanjutkan pembahasan Surah An-Najm.
Setelah sebelumnya membahas pertemuan pertama Nabi Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril, pembahasan kali ini masuk pada ayat ke-13 yang menjelaskan pertemuan kedua mereka.
Pertemuan di Sidratul Muntaha (Ayat 13-16)
Al-Qur’an menyatakan, “Walakad ra’ahu nazlatan ukhra” (Dan sungguh, Nabi telah melihatnya pada waktu yang lain).
Kata nazlah berarti “turun sekali lagi”. Pertemuan ini terjadi di alam yang sangat tinggi. Malaikat Jibril berada di alam malakut yang bersifat rohani, sementara Nabi Muhammad berada di tingkat kemanusiaan yang paling tinggi.
Pertemuan ini terjadi saat Jibril “turun” dari ketinggian rohaninya dan Nabi “meningkat” ke tingkat tersebut.
Lokasi pertemuan ini adalah Sidratul Muntaha. Secara bahasa:
- Sidrah:
Pohon yang lebat dan beraroma harum. - Al-Muntaha:
Tempat terakhir atau batas akhir. Tempat ini disebut batas akhir karena merupakan titik tertinggi yang dapat dijangkau oleh makhluk, baik malaikat maupun manusia, namun bukan batas bagi Tuhan.
Di dekatnya terdapat Jannatun Ma’wa (Surga tempat tinggal), yang oleh para ulama diartikan sebagai tempat para malaikat, syuhada, atau orang-orang yang dekat dengan Allah.
Saat itu, Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang sangat indah, yang dalam tafsir digambarkan sebagai cahaya atau kehadiran para malaikat.
Akhlak dan Konsentrasi Nabi (Ayat 17-18)
Dalam penglihatan tersebut, disebutkan bahwa “Ma zaghal basharu wa ma thagha”โpandangan Nabi tidak melenceng dan tidak pula melampaui batas. Hal ini menunjukkan dua hal utama:
- Adab dan Akhlak:
Nabi tidak menoleh ke sana kemari karena rasa ingin tahu yang berlebihan (kepo), melainkan tetap fokus pada apa yang diperintahkan untuk dilihat. - Konsentrasi Penuh:
Pandangan yang tidak melenceng membuktikan bahwa apa yang dilihat Nabi adalah kebenaran yang nyata, bukan ilusi, karena beliau berinteraksi dengan penuh kesadaran.
Nabi Muhammad melihat sebagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan yang terbesar (Laqad ra’a min ayati rabbihil kubra).
Di sana, Nabi melihat hakikat di balik fenomena (nomena). Sebagai contoh, jika di dunia kita hanya mendengar orang membicarakan keburukan orang lain, Nabi diperlihatkan hakikat perbuatan tersebut seperti memakan daging saudara sendiri yang telah wafat.
Sesi Tanya Jawab: Keraguan dalam Beriman
Menjawab pertanyaan mengenai keraguan dalam iman, dijelaskan bahwa iman terdiri dari ucapan lidah (iqrar bil lisan), pembenaran hati (tasdiq bil qalb), dan amal perbuatan (‘amal bil jawareh).
Merasakan keraguan atau munculnya pertanyaan adalah hal yang wajar dan merupakan bagian dari proses mencari kebenaran, sebagaimana Nabi Ibrahim AS pernah bertanya tentang cara Allah menghidupkan orang mati untuk kemantapan hatinya.
Kritik Terhadap Penyembahan Berhala (Ayat 19-23)
Al-Qur’an kemudian membandingkan kehebatan Allah dengan berhala-berhala kaum musyrik: Al-Lata, Al-Uzza, dan Manat.
Kaum musyrik melakukan pembagian yang tidak adil (dhiza): mereka menginginkan anak laki-laki untuk diri sendiri, namun menisbatkan anak perempuan (melalui nama-nama berhala yang bersifat feminin) kepada Allah.
Poin utamanya adalah bahwa berhala-berhala itu hanyalah “nama-nama kosong” yang dibuat oleh mereka dan nenek moyang mereka.
Sebuah kata seharusnya memiliki substansi atau isi. Kata “Tuhan” yang mereka sematkan pada berhala tidak memiliki hakikat (omong kosong).
Berbeda dengan kata “Tuhan” bagi orang beriman yang memiliki kekuatan (sulton) yang menggerakkan seseorang untuk patuh.
Hidayah dan Tingkatannya
Kaum musyrik hanya mengikuti prasangka dan hawa nafsu, padahal petunjuk (huda) telah datang dari Tuhan. Allah memberikan berbagai tingkatan Hidayah kepada manusia:
- Naluri:
Seperti bayi yang menangis saat lapar. - Panca Indera:
Untuk melihat dan merasakan dunia. - Akal:
Berfungsi meluruskan kesalahan panca indera (misalnya, akal tahu kayu yang terlihat bengkok di air sebenarnya lurus). - Agama:
Memberi petunjuk pada hal-hal metafisika yang tidak bisa dijangkau oleh akal.
Penyembahan berhala dianggap sebagai pengabaian terhadap semua tingkatan hidayah ini karena bertentangan dengan akal sehat, naluri, maupun petunjuk agama yang nyata.

Akan tayang setiap hari selama bulan Ramadan hanya di YouTube channel Quraish Shihab
#hidupbersamaalquran #tafsiralmishbah #quraishshihab #ramadan1441
Follow:
https://instagram.com/quraish.shihab
Posts by quraishihab
Dapatkan buku karya M. Quraish Shihab:
https://store.lenterahati.com/id/281-mqs-corner
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







