Tafsir Q.S. Ath-Thur: 11-17 | Hidup Bersama Al-Quran: Tafsir Al-Mishbah Episode 2
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Tidak harus butuh pengetahuan untuk percaya terhadap sesuatu, karena iman tidak mutlak lahir dari pengetahuan. Pengetahuan hanya mengukuhkan rasa percaya di hati. Itu sebabnya definisi iman adalah pembenaran hati bukan pembenaran akal.
Lantas bagaimana dengan orang-orang yang mengingkari Al-Quran sebagai wahyu dari Allah?
Simak Penjelasan lengkap Tafsir Al-Quran bersama M. Quraish Shihab dan Najelaa Shihab, di Hidup Bersama Al-Quran edisi spesial Tafsir Al-Mishbah.
Salah satu hal tersulit dalam hidup, termasuk di bulan Ramadan, adalah menentukan kegiatan mana yang seharusnya diprioritaskan atau diutamakan. Uraian dalam Surah At-Thur yang dimulai dari ayat ke-11 insyaallah akan menjawab hal ini.
Tafsir Surah At-Thur Ayat 11-12: Celakanya Para Pendusta
Abi Quraish Shihab:
Bismillahirrahmanirrahim. Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah bersumpah tentang kepastian datangnya siksa-Nya di hari kemudian.
Lalu pada ayat ke-11 dinyatakan: “Maka celakalah pada hari itu orang-orang yang mendustakan.” Mereka adalah para pengingkar ajaran agama, norma kebaikan, dan hari pembalasan.
Bagaimana keadaan mereka? Ayat ke-12 menjelaskan: “Yaitu orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan.”
Dalam bahasa Al-Quran, mereka digambarkan sedang berada dalam kondisi khawdh. Khawdh adalah suatu tempat di mana seseorang berjalan, tetapi kakinya tidak menginjak dasarโseperti di kolam yang dalam.
Kondisi ini membuat seseorang tidak bisa bertahan lama, merasa lelah, goyah, dan tidak stabil.
Makna Bermain-main (Al-La’ib dan Al-Lahu)
Abi Quraish Shihab:
Orang-orang yang tidak mempunyai tujuan hidup diibaratkan seperti orang yang berjalan tanpa pijakan yang kuat.
Mereka melakukan al-la’ib (permainan). Makna dasar laโib adalah melakukan kegiatan tanpa menyadari manfaatnya atau melakukan sesuatu bukan pada tempatnya.
Ini bukan bermain dalam makna positif (seperti bermain sambil belajar), melainkan tenggelam dalam kegiatan yang mengandung kebatilan tanpa tujuan yang jelas.
Dalam perkembangan psikologis manusia, Al-Quran melukiskan kehidupan orang yang tidak memiliki nilai hidup seperti perkembangan anak kecil:
- Laโib:
Bermain-main tanpa tujuan. - Lahu:
Melakukan sesuatu yang tidak penting dan meninggalkan hal yang lebih penting. - Zinah:
Ketika beranjak dewasa, mulai sibuk dengan perhiasan atau hal-hal untuk berbangga-bangga.
Orang-orang yang mendustakan ini sibuk dengan segala hal yang sesungguhnya tidak penting dan tidak memiliki nilai yang diperjuangkan dalam hidupnya.
Siksaan bagi Pendusta (Ayat 13-16)
Abi Quraish Shihab:
Ayat selanjutnya (ayat 13) menjelaskan bahwa pada hari kemudian, mereka akan didorong dengan keras ke dalam api neraka.
Dikatakan kepada mereka: “Inilah neraka yang dahulu kamu dustakan.” Penggunaan kata “hadihi” (ini) menunjukkan bahwa neraka itu sudah sangat dekat di depan mata mereka.
Terdapat perbedaan antara orang berdosa dan orang bertakwa saat menuju tempat pembalasan:
- Orang berdosa:
Diantar ke pintu neraka yang masih tertutup, lalu pintu itu dibuka dengan paksa. - Orang bertakwa:
Diantar ke surga yang pintu-pintunya memang sudah terbuka menyambut mereka.
Lalu Allah berfirman: “Apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah ke dalamnya! Maka sabar atau tidak sabarnya kamu, sama saja.”
Di akhirat, sabar tidak lagi berguna karena apa yang diterima adalah balasan murni dari perbuatan sendiri di dunia.
Tanya Jawab: Apakah Siksaan Harus Menunggu Akhirat?
Host: Apakah siksaan itu harus menunggu dibalaskan di akhirat nanti?
Ustadz Mukhlis:
Siksaan yang hakiki memang terjadi di akhirat karena di sanalah segala kejahatan yang belum terbayar di dunia akan dibalas secara rincil dan adil. Azab akhirat jauh lebih besar daripada di dunia.
Namun, apakah orang durhaka pasti masuk neraka? Belum tentu. Rahmat Allah sangat luas, dan Allah memiliki hak prerogatif untuk mengampuni dosa hamba-Nya.
Hakikat Sabar di Dunia vs Akhirat
Abi Quraish Shihab:
Dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat menuai. Di akhirat, sabar tidak lagi berpengaruh.
Namun di dunia, sabar sangat dibutuhkan karena sabar di dunia disertai dengan harapan akan sesuatu yang lebih baik.
Sabar adalah menahan gejolak nafsu untuk mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik.
Nafsu sering kali mengajak kepada hal-hal yang menyenangkan namun tidak penting (seperti kegiatan tanpa tujuan yang kita bahas tadi). Oleh karena itu, sabar adalah setengah dari iman dan setengah lainnya adalah syukur.
Tafsir Surah At-Thur Ayat 17: Kenikmatan bagi yang Bertakwa
Abi Quraish Shihab:
Al-Quran selalu memberikan pilihan dengan cara membandingkan. Setelah berbicara tentang penyiksaaan, ayat ke-17 berbicara tentang orang bertakwa: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman (surga) dan kenikmatan.”
Taqwa memiliki dua sisi: menghindari keburukan duniawi (seperti menjaga kesehatan agar tidak sakit) dan menghindari keburukan ukhrawi (akibat melanggar tuntunan agama).
Mereka berada “fii jannatin” (di dalam taman-taman surga).
Secara bahasa, Jannah berarti sesuatu yang tertutup. Disebut demikian karena:
- Sama seperti kata janin (dalam kandungan) atau majnun (tertutup akalnya).
- Hakikat kenikmatan surga masih tertutup atau tidak terjangkau oleh imajinasi manusia saat ini.
Pembahasan mengenai ganjaran bagi orang bertakwa ini sangat menarik, namun kita akan melanjutkannya di episode mendatang untuk melihat seberapa nikmat surga yang dijanjikan Allah. Terima kasih Abi. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Akan tayang setiap hari selama bulan Ramadan hanya di YouTube channel Quraish Shihab
#hidupbersamaalquran #tafsiralmishbah #quraishshihab #ramadan1441
Follow:
https://instagram.com/quraish.shihab
Posts by quraishihab
Dapatkan buku karya M. Quraish Shihab:
https://store.lenterahati.com/id/281-mqs-corner
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







