Jadilah Manusia Yang Selesai Dengan Dirinya Sendiri | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Joko Lodang: Manusia yang Selesai dengan Dirinya
Ronggowarsito menggunakan istilah Joko Lodang untuk menggambarkan manusia yang telah tercerahkan atau mencapai puncak pengalaman mistik.
Sosok ini memiliki ciri utama berupa kejernihan (Joko) dan sikap santai yang longgar (Lodang).
Mereka tidak lagi “dikototi” atau diburu-buru oleh ambisi duniawi. Sebaliknya, orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri cenderung mudah marah, selalu merasa terburu-buru, dan hidup dalam kebingungan.
Joko Lodang digambarkan sebagai pribadi yang sudah melampaui sekat-sekat formalitas tradisi atau adat yang tidak hakiki.
Ia berani bersuara keras untuk mengingatkan orang lain karena ia sendiri sudah tenang dan “selesai” dengan segala urusan pribadinya.
Peringatan tentang Zaman Kebolak-Balik
Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah peringatan mengenai datangnya era “Zaman Kebolak-balik”.
Dalam kondisi ini, tatanan nilai menjadi kacau: gunung yang tinggi merendah, sementara jurang yang curam justru muncul ke permukaan.
Hal ini melambangkan situasi di mana kebenaran dianggap salah dan kesalahan justru tampak sebagai kebenaran.
Di masa tersebut, yang akan terusir bukan hanya mereka yang keliru, melainkan mereka yang kalah dalam peperangan atau konflik kepentingan.
Mbok Perawan: Simbol Kepedulian dan Kemurnian
Di tengah kekacauan zaman tersebut, muncul sosok Mbok Perawan yang merasa gelisah.
Istilah “Mbok” melambangkan jiwa keibuan yang mengayomi dan mengasuh, sementara “Perawan” melambangkan kemurnian serta kejernihan pikiran yang tidak ditunggangi oleh kepentingan mazhab atau aliran tertentu.
Mbok Perawan adalah representasi dari mereka yang memiliki kepedulian mendalam terhadap kerusakan lingkungan dan sosial di sekitarnya.
Hukum Sebab-Musabab dan Solusi Tirakat
Menanggapi kegelisahan tersebut, Joko Lodang mengingatkan adanya hukum sebab-musabab atau sunnatullah yang pasti.
Hidup memiliki logika sebab-akibat: jika kita ingin memanen kebaikan di masa depan, maka kita harus menanam kebaikan itu sekarang juga.
Solusi untuk mengakhiri kekacauan zaman bukanlah melalui diskusi atau perdebatan yang berkepanjangan, melainkan dengan tindakan nyata. Beberapa poin utama untuk menghadapi masa ini antara lain:
- Menanam Kebaikan Sekarang:
Tidak perlu menunggu besok untuk berbuat baik agar kita bisa memanen hasilnya di masa depan. - Berhenti Bertikai:
Berhenti saling mencaci atau “gegeran” di antara sesama yang hanya akan menghambat kemajuan. - Melakukan Tirakat:
Zaman yang rusak tidak akan membaik jika semua orang hanya mencari kesenangan sendiri-sendiri.
Diperlukan tirakat atau perjuangan spiritual dan kedisiplinan diri agar sosok pemimpin yang bijaksana (wiku) dapat muncul.
Relevansi Sejarah dan Keadilan
Pemikiran Ronggowarsito ini juga mengandung Condro Sengkolo yang sering ditafsirkan sebagai ramalan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 (tahun Jawa 1877).
Pada masa tersebut, keadilan di antara sesama manusia mulai muncul sesuai dengan kehendak Tuhan.
Hal ini menunjukkan dahsyatnya nasihat Ronggowarsito yang tetap relevan di segala zaman karena mampu menggabungkan kearifan spiritual dengan realitas sejarah.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







