Sabtu, 31 Oktober 2026
Channel Lingkar Filsafat

Jangan Lakukan Ini, Kalau Tidak Hidupmu Akan Sengsara | Ngaji Filsafat

Jangan Lakukan Ini, Kalau Tidak Hidupmu Akan Sengsara | Ngaji Filsafat
Ilustrasi Jangan Lakukan Ini, Kalau Tidak Hidupmu Akan Sengsara | Ngaji Filsafat
Ukuran teks:

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Pertemuan Alexander Agung dan Diogenes

Kisah ini bermula saat Alexander Agung, sebelum melakukan penaklukan ke seluruh dunia, menyempatkan diri untuk menemui Diogenes.
Meskipun Alexander adalah raja besar yang bergelar “The Great”, Diogenes hanya diam dan tidak memberikan penghormatan saat didatangi oleh sang raja dan jenderal-jenderalnya.

Melihat reaksi tersebut, Alexander menegur Diogenes dan bertanya apakah ia tidak sadar siapa yang sedang menemuinya.
Diogenes kemudian menengok ke arah anjingnya dan menyindir bahwa Alexander sebenarnya tidak tahu siapa dirinya sendiri.
Menurut Diogenes, sangat penting bagi seseorang untuk mengenali dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum menuntut orang lain untuk mengenalinya.
Tanpa pemahaman diri, seseorang tidak akan memiliki parameter untuk diukur atau dipahami oleh orang lain.

Kritik terhadap Gelar dan Kebesaran

Saat Alexander memperkenalkan dirinya sebagai “Raja Besar Yunani, Alexander Agung”, Diogenes kembali menyindir melalui anjingnya.
Ia menyebut bahwa hanya orang kerdil dan rendah diri yang suka membesar-besarkan dirinya sendiri dengan gelar.
Seseorang yang benar-benar yakin akan kebesarannya tidak akan membutuhkan pengakuan atau sebutan dari orang lain.

Diogenes kemudian mempertanyakan tujuan Alexander menemuinya, seorang lelaki miskin yang hanya memiliki pelita, seekor anjing, dan hidup tanpa kemewahan.
Ia merasa aneh mengapa sosok “besar” seperti Alexander merasa perlu mendatangi orang yang dianggap “tidak punya apa-apa”.

Ambisi Menaklukkan Dunia vs. Ketenangan Hidup

Alexander mengaku datang karena penasaran dengan sosok Diogenes.
Diogenes pun menyarankan Alexander untuk segera pergi dan tidak membuang waktu karena hidup itu singkat sementara dunia sangat luas.
Ia memperingatkan bahwa Alexander mungkin akan meninggal sebelum sempat menaklukkan dunia.

Diogenes kemudian mengajukan pertanyaan menohok: apa yang akan dilakukan Alexander setelah berhasil menaklukkan dunia?.
Alexander menjawab bahwa ia mungkin akan bersantai dan beristirahat.
Mendengar itu, Diogenes tertawa terbahak-bahak. Ia menyindir Alexander sebagai orang gila karena harus bersusah payah menaklukkan dunia hanya untuk bisa beristirahat, padahal Diogenes sendiri sudah bisa menikmati istirahat dan ketenangan saat ini juga tanpa harus menaklukkan apa pun.

Permintaan Unik Diogenes

Meskipun terus dikritik, Alexander justru semakin kagum dengan keberanian Diogenes.
Ia menawarkan apa saja kepada Diogenes, mulai dari jabatan, kekuasaan, hingga harta. Namun, Diogenes hanya meminta satu hal sederhana: “Berdirilah agak jauh dari saya karena Anda menghalangi matahari”.
Ia merasa heran bagaimana Alexander mengklaim ingin menguasai dunia, padahal hal sederhana seperti fakta bahwa ia menghalangi matahari saja tidak ia pahami.

Dua Pesan Berharga Diogenes

Sebelum Alexander pergi, Diogenes memberikan dua pesan penting:

  1. Dunia tidak mungkin ditaklukkan:
    Dunia terlalu luas dibandingkan manusia yang kecil.
    Ambisi untuk menaklukkan seluruh dunia hanya akan membinasakan diri sendiri, dan banyak orang mati dalam keadaan frustrasi karena mengejar hal tersebut.
  2. Ambisi menjauhkan dari “Rumah”:
    Begitu seseorang berangkat mengejar ambisi, ia tidak akan pernah bisa kembali.
    Ambisi akan selalu membisikkan untuk menambah sedikit lagi, hingga akhirnya manusia hanya mengejar bayangan semu tanpa tahu kapan harus berhenti (seperti konsep Takasur).
    Tanpa kendali diri, hidup hanya akan berisi kelelahan tanpa sempat menikmati kebahagiaan dan rasa syukur.

Kepuasan Diri dan Akhir Hayat

Alexander sempat bertanya, jika Diogenes diberi kesempatan menjadi orang lain, ia ingin menjadi siapa?
Diogenes menjawab bahwa ia tetap ingin menjadi Diogenes. Jawaban ini menunjukkan sikap qanaah atau merasa cukup dan rida terhadap ketetapan hidupnya.
Alexander pun mengakui, jika ia bukan Alexander, ia ingin menjadi Diogenes.

Di akhir hayatnya, Alexander memberikan pesan terakhir yang sangat simbolis.
Ia meminta agar saat dikuburkan, tangannya dibiarkan menjulur keluar dari peti mati.
Ia ingin dunia tahu bahwa Alexander Agung, yang telah menaklukkan sepertiga dunia, tidak membawa apa-apa saat mati dan pergi dengan tangan kosong.

Kesimpulan

Kisah ini memberikan pelajaran tentang keseimbangan antara semangat perjuangan dan keikhlasan menerima hidup.
Dr. Fahrudin Faiz menekankan pentingnya memahami konteks dalam menggunakan setiap kebijaksanaanโ€”ada saatnya kita harus berambisi, namun ada saatnya kita harus tahu kapan harus berhenti dan bersyukur agar hidup tidak berakhir dalam kesengsaraan.

Pelajaran Hidup Alexander dan Diogenes

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz

 

Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us