Untuk Hidup Dengan Baik, Hiduplah Tidak Dikenal Siapapun | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Filosofi Hidup Tidak Dikenal dan Pentingnya Berfilsafat
Dalam menjalani hidup, terdapat sebuah motto yang dipegang oleh Renรฉ Descartes: “Untuk hidup dengan baik, hiduplah dengan tidak dikenal siapa pun” (Bene vixit, qui bene latuit).
Meskipun Descartes adalah sosok yang masyhur, ia merasa bahwa ketenaran justru bisa membuat hidup terasa sesak.
Ketika kita dikenal banyak orang, kita sering kali merasa terbebani untuk selalu menyesuaikan diri, mengatur penampilan, dan menjaga sikap demi memenuhi ekspektasi orang lain.
Sebaliknya, dengan tidak dikenal, seseorang memiliki kebebasan dan ketenangan untuk menjadi diri sendiri tanpa perlu berpura-pura.
Descartes sendiri pernah menjalani fase uzlah atau menjauh dari keramaian agar tidak dikenal, yang ia gunakan sebagai ruang untuk refleksi, meditasi, dan kontemplasi.
Baginya, hidup dengan berfilsafat adalah kebutuhan mendasar.
Hidup tanpa berfilsafat sebenarnya sama saja dengan terus-menerus menutup mata tanpa pernah berusaha membukanya.
Banyak orang memilih untuk tidak berpikir atau bernalar secara mendalam karena mereka merasa nyaman dengan status quo dan takut jika pemikiran baru akan mengancam kenyamanan tersebut.
Mereka ibarat burung unta yang menyembunyikan kepala di dalam pasir agar merasa aman dari bahaya, padahal bahaya tersebut tetap mengancam di luar sana.
Etika Refleksi dalam Kehidupan Sehari-hari
Pentingnya refleksi juga berlaku dalam interaksi sosial, misalnya dalam hal memberi nasihat. Sering kali, sesuatu yang kita anggap baik bisa menghasilkan efek yang buruk jika disampaikan tanpa pertimbangan.
Oleh karena itu, disarankan untuk meminta izin sebelum memberi nasihat agar tidak menimbulkan kesan sombong atau memicu perdebatan yang sia-sia.
Kita harus berhati-hati dengan apa yang kita biasakan, karena kebiasaan tersebut akan membentuk karakter.
Jika seseorang terbiasa berdebat dan mencari keributan (gegeran) di media sosial, hal itu lama-kelamaan akan terinternalisasi menjadi watak atau bahkan mempengaruhi struktur jati dirinya.
Berfilsafat berarti berefleksi bahwa tidak semua hal yang terlihat baik di permukaan akan memberikan pengaruh yang baik pula.
Metode Meragukan (Method of Doubt)
Rumus dasar dalam berfilsafat menurut Descartes adalah: Dubium sapientiae initium, yang berarti keraguan atau mempertanyakan segala sesuatu adalah sumber dari kebijaksanaan.
Di tengah gempuran informasi dan berita yang sering kali tidak jelas kebenarannya seperti saat ini, meragukan segala sesuatu adalah langkah yang paling jitu.
Kita perlu menguji semua informasi yang masuk ke pikiran kita sebelum menerimanya sebagai kebenaran.
Descartes mengilustrasikan metode ini dengan analogi sekeranjang apel.
Bayangkan Anda memiliki sekeranjang penuh apel dan khawatir ada beberapa apel yang busuk di dalamnya.
Agar pembusukan tidak menyebar, cara terbaik yang dapat dilakukan adalah mengeluarkan seluruh isi keranjang tersebut.
Setelah keranjang kosong, Anda memeriksa apel tersebut satu per satu, lalu hanya memasukkan kembali apel-apel yang benar-benar bagus dan meninggalkan yang busuk.
Pikiran manusia pun demikian. Sejak kecil, kita dijejali dengan jutaan informasi dan pandangan yang belum tentu semuanya benar.
Untuk memisahkan pandangan yang keliru, kita harus berani “menumpahkan” atau meragukan semua keyakinan lama kita terlebih dahulu, kemudian mengujinya satu per satu secara kritis.
Hanya hal-hal yang terbukti benar dan tidak dapat diragukan lagilah yang boleh kita simpan kembali dalam pikiran.
Keberanian untuk Menguji Hidup
Metode meragukan ini memang tidak mudah dan membutuhkan keberanian, karena banyak orang sudah terlanjur terikat pada kebenaran yang mereka anggap pasti.
Namun, seperti prinsip socrates, hidup yang tidak diuji adalah hidup yang tidak memiliki arti.
Dengan menguji kebenaran hidup, kita tidak lagi sekadar menjadi pengikut yang ikut-ikutan, melainkan benar-benar memahami dan memiliki keyakinan yang kokoh atas apa yang kita anggap benar.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Makna Taqwa Menurut Rahbar
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA







