Minggu, 1 November 2026
Channel Lingkar Filsafat

Hiduplah Yang Tidak Mudah Untuk Ditebak | Ngaji Filsafat

Ukuran teks:

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Proses Memahami Realitas: Persepsi, Memori, dan Intuisi

Hidup manusia pada dasarnya adalah dialog antara persepsi dan memori.
Saat kita melihat sesuatu, misalnya segelas teh, memori dalam diri kita bekerja untuk mengenali objek tersebut berdasarkan informasi masa lalu bahwa benda semacam itu adalah teh yang rasanya manis.
Namun, pemahaman ini tidak akan bermakna jika tidak disertai dengan penghayatan personal.

Proses memahami segala sesuatu diawali dari persepsi, dipahami melalui memori, lalu dihayati secara individual melalui jalan intuisi dengan dukungan kesadaran akan durasi (waktu subjektif).
Berbeda dengan empirisme yang hanya mengandalkan persepsi atau rasionalisme yang hanya mengandalkan akal, pendekatan ini menekankan pada penghayatan untuk menemukan hakikat dari sesuatu.
Sebagai contoh, hakikat teh baru akan ditemukan ketika seseorang meminumnya secara sadar dan merasakan kesegarannya, bukan sekadar menjelaskan definisinya.

Dua Jenis Ingatan: Mekanis dan Murni

Dalam menjalankan hidup, terdapat dua jenis ingatan yang bekerja dalam diri manusia:

  1. Ingatan Mekanis (Hafalan):
    Jenis ingatan ini bekerja secara otomatis tanpa kesadaran, seperti burung beo yang mengulang kata atau hewan sirkus yang dilatih.
    Jika hidup hanya didasarkan pada ingatan mekanis, manusia akan hidup seperti mesin yang mudah ditebak; melakukan segala sesuatu (seperti bangun tidur, sikat gigi, hingga salat) hanya sebagai rutinitas otomatis tanpa makna.
    Semakin sering seseorang menjawab “biasanya memang begitu” saat ditanya alasan tindakannya, semakin ia menunjukkan bahwa hidupnya bersifat mekanis.
  2. Ingatan Murni (Kesadaran):
    Ingatan ini melibatkan akal yang secara sadar memilih informasi penting untuk disimpan dalam bawah sadar.
    Ingatan murni menjaga agar kepala tidak “banjir” informasi dengan cara menyeleksi hal-hal yang dianggap berharga oleh individu.
    Inilah yang menyebabkan respon setiap orang berbeda terhadap peristiwa yang sama, karena setiap individu memiliki koleksi memori yang berbeda di bawah sadarnya.

Intuisi sebagai Jalan Menuju Hakikat

Intuisi sangat bergantung pada memori dan dipicu oleh persepsi. Ketika kita mengalami sesuatu yang mirip dengan memori di bawah sadar, data tersebut akan naik ke permukaan secara intuitif, yang sering kali kita kenal dengan fenomena deja vu.

Menurut Henry Bergson, intuisi adalah alat untuk menjangkau yang hakiki (absolut).
Jika akal hanya bisa melakukan analisis, maka intuisi bekerja melalui “simpati” di mana seseorang memindahkan objek yang dipelajari ke dalam dirinya sendiri atau mengalaminya secara langsung.
Tidak ada kesadaran tanpa memori, dan tidak ada masa kini tanpa bekal masa lalu; semuanya berkumpul menjadi satu dalam diri yang disebut sebagai durasi. Melalui jalan intuisi inilah, pengetahuan yang langsung dan mendalam tentang kehidupan dapat lahir.

Hakikat Hidup Memori dan Intuisi

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz

 

Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".

Rekomendasi
Makna Taqwa Menurut Rahbar Makna Taqwa Menurut Rahbar Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us