Hiduplah Yang Tidak Mudah Untuk Ditebak | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Proses Memahami Realitas: Persepsi, Memori, dan Intuisi
Hidup manusia pada dasarnya adalah dialog antara persepsi dan memori.
Saat kita melihat sesuatu, misalnya segelas teh, memori dalam diri kita bekerja untuk mengenali objek tersebut berdasarkan informasi masa lalu bahwa benda semacam itu adalah teh yang rasanya manis.
Namun, pemahaman ini tidak akan bermakna jika tidak disertai dengan penghayatan personal.
Proses memahami segala sesuatu diawali dari persepsi, dipahami melalui memori, lalu dihayati secara individual melalui jalan intuisi dengan dukungan kesadaran akan durasi (waktu subjektif).
Berbeda dengan empirisme yang hanya mengandalkan persepsi atau rasionalisme yang hanya mengandalkan akal, pendekatan ini menekankan pada penghayatan untuk menemukan hakikat dari sesuatu.
Sebagai contoh, hakikat teh baru akan ditemukan ketika seseorang meminumnya secara sadar dan merasakan kesegarannya, bukan sekadar menjelaskan definisinya.
Dua Jenis Ingatan: Mekanis dan Murni
Dalam menjalankan hidup, terdapat dua jenis ingatan yang bekerja dalam diri manusia:
- Ingatan Mekanis (Hafalan):
Jenis ingatan ini bekerja secara otomatis tanpa kesadaran, seperti burung beo yang mengulang kata atau hewan sirkus yang dilatih.
Jika hidup hanya didasarkan pada ingatan mekanis, manusia akan hidup seperti mesin yang mudah ditebak; melakukan segala sesuatu (seperti bangun tidur, sikat gigi, hingga salat) hanya sebagai rutinitas otomatis tanpa makna.
Semakin sering seseorang menjawab “biasanya memang begitu” saat ditanya alasan tindakannya, semakin ia menunjukkan bahwa hidupnya bersifat mekanis. - Ingatan Murni (Kesadaran):
Ingatan ini melibatkan akal yang secara sadar memilih informasi penting untuk disimpan dalam bawah sadar.
Ingatan murni menjaga agar kepala tidak “banjir” informasi dengan cara menyeleksi hal-hal yang dianggap berharga oleh individu.
Inilah yang menyebabkan respon setiap orang berbeda terhadap peristiwa yang sama, karena setiap individu memiliki koleksi memori yang berbeda di bawah sadarnya.
Intuisi sebagai Jalan Menuju Hakikat
Intuisi sangat bergantung pada memori dan dipicu oleh persepsi. Ketika kita mengalami sesuatu yang mirip dengan memori di bawah sadar, data tersebut akan naik ke permukaan secara intuitif, yang sering kali kita kenal dengan fenomena deja vu.
Menurut Henry Bergson, intuisi adalah alat untuk menjangkau yang hakiki (absolut).
Jika akal hanya bisa melakukan analisis, maka intuisi bekerja melalui “simpati” di mana seseorang memindahkan objek yang dipelajari ke dalam dirinya sendiri atau mengalaminya secara langsung.
Tidak ada kesadaran tanpa memori, dan tidak ada masa kini tanpa bekal masa lalu; semuanya berkumpul menjadi satu dalam diri yang disebut sebagai durasi. Melalui jalan intuisi inilah, pengetahuan yang langsung dan mendalam tentang kehidupan dapat lahir.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Makna Taqwa Menurut Rahbar
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA







