Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Hakikat Pengabdian dan Tujuan Penciptaan Manusia
Tujuan terbesar diciptakannya jin dan manusia adalah untuk menjadi hamba yang mengabdi kepada Allah.
Pengabdian ini terdiri dari dua tahapan:
- Mengamalkan ubudiyah,
yaitu senantiasa mengamalkan ketaatan. - Membudakkan dan meniadakan diri di hadapan Allah,
yang berarti menghancurkan egoisme pribadi (ananiah) serta segala kepentingan hidup yang hanya didasarkan pada hitungan untung-rugi diri.
Sebagai hamba, tolok ukur kehidupan yang sejati bukanlah ego atau untung-rugi personal, melainkan kebenaran, akal, dan agama.
Dalam bimbingan agama, akal berfungsi sebagai landasan pijakan pertama karena ajaran agama itu sendiri harus ditopang dan dipahami oleh kekuatan akal manusia.
Daya Roh Manusia dan Falsafah Penciptaan Syahwat
Di dalam diri manusia terdapat beberapa daya roh, yaitu daya akal, daya wahmi, daya emosional (ghadhab), dan daya syahwat (daya lezat).
Daya syahwat ini secara garis besar dibagi menjadi dua aspek: urusan perut (makan, minum, pakaian, jabatan) dan urusan birahi (reproduksi/keturunan).
Allah menciptakan daya lezat ini bukan untuk dihamburkan atau sekadar dimanjakan, melainkan karena memiliki falsafah penting bagi kelangsungan hidup manusia:
- Syahwat birahi
diciptakan agar manusia termotivasi untuk berpasangan dan melanjutkan keturunan. Tanpa adanya daya ini, manusia akan malas berpasangan di tengah beratnya problem kehidupan, sehingga keberadaan generasi manusia bisa terputus. - Syahwat perut
diciptakan agar manusia tidak malas makan atau malas mencari nafkah.
Tanpa dorongan kelezatan ini, manusia akan sakit, daya pikirnya terganggu, dan pada akhirnya tidak mampu membangun diri serta mengolah alam sebagai sarana mengabdi kepada Allah.
Tiga Golongan Manusia dalam Menyikapi Syahwat
Karakter manusia dalam menyikapi daya lezat ini terbagi menjadi tiga kategori:
- Golongan Pertama: Menghamburkan Syahwat
Golongan ini mencampuradukkan antara yang halal dan yang haram demi melampiaskan kelezatannya tanpa memedulikan batasan aturan. - Golongan Kedua: Memanjakan Syahwat yang Halal
Golongan ini membatasi diri hanya pada hal-hal yang dihalalkan Allah, namun mereka sangat memanjakan dan menikmati kelezatan duniawi tersebut (seperti sangat pemilih dalam pakaian yang disukai, makanan yang disukai, atau proyek yang diminati).- Bahayanya:
Tolok ukur kebaikan dan kesuksesan bagi mereka menjadi bias karena diukur dari keuntungan duniawi atau kelezatan materi yang didapatkan.
Mereka merasa sukses jika bisnisnya untung melimpah, dakwahnya memiliki banyak murid, atau keluarganya selalu sehat dan kaya. Sebaliknya, jika sakit, miskin, atau ditimpa ujian, mereka dianggap gagal. - Jebakan Halus:
Mereka terjebak menafsirkan kebaikan dunia (Rabbana atina fid-dunya hasanah) hanya sebatas kenyamanan fisik, kecukupan ekonomi, dan popularitas, serta menganggap kesuksesan duniawi tersebut sebagai pembenaran mutlak dari agama.
- Bahayanya:
- Golongan Ketiga: Mengekang/Membatasi Syahwat
Golongan ini membatasi penggunaan hal yang halal hanya pada batas minimal yang dibutuhkan secara niscaya (kebutuhan primer).- Mereka berpakaian sekadar untuk menutup aurat, dan makan sekadar untuk memenuhi kebutuhan energi, gizi, serta kesehatan agar bisa berpikir dan beribadah.
Mereka tidak peduli apakah makanan tersebut lezat atau tidak, karena fokusnya hanyalah mencari keridaan Allah. - Analogi Akal: Golongan ini menggunakan akal seperti orang dewasa yang mau meminum obat pahit demi kesembuhan (mencari kesehatan), sedangkan golongan kedua bertindak seperti anak kecil yang hanya mau minum obat jika rasanya manis (mencari kelezatan).
- Tolok Ukur Kehidupan: Bagi mereka, kebaikan dunia (hasanah) adalah berjalan di jalan yang diridhoi Allah, mencukupkan diri pada yang darurat, serta meraih kelezatan batiniah/ukhrawi (kelezatan bertuhan dan mengabdi).
Keberhasilan dakwah diukur dari keikhlasan dan kesesuaian dengan ajaran Islam, bukan jumlah murid. Keberhasilan membimbing keluarga diukur dari ketekunan mendidik sesuai aturan Islam, meskipun harus menghadapi gelombang ujian atau air mata.
- Mereka berpakaian sekadar untuk menutup aurat, dan makan sekadar untuk memenuhi kebutuhan energi, gizi, serta kesehatan agar bisa berpikir dan beribadah.
Kesimpulan
Manusia dituntut untuk senantiasa menjadikan akal sebagai pengontrol utama atas seluruh daya lainnya, termasuk daya syahwat, agar seluruh aktivitas hidupnya tetap berada dalam koridor yang diridhoi Allah.

Bersama Ustadz Hasan Abu Ammar
Judul video: Seri 13 – Filsafat Islam & Tassawuf | Kebahagiaan Menurut Para Wali Allah – Watch on Youtube
Yuk Subscribe Channel ITRAH Institut Official:


