Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali muhammad
1. Kehadiran Para Duta (Sufara) dan Dokumen Resmi
Salah satu bukti tak terbantahkan mengenai kelahiran dan kehadiran Al-Mahdi al-Muntazhar, yakni Muhammad Ibnul Hasan al-Askari, adalah adanya para Sufara atau duta yang beliau tunjuk sebagai perwakilan khusus.
Pada masa Ghaybah al-Sughra (Gaib Kecil), beliau memang bersembunyi namun tetap berinteraksi dengan orang-orang tertentu yang kemudian menghubungkan beliau dengan masyarakat luas.
Penunjukan perwakilan ini diakui memiliki hubungan khusus yang terbukti secara nyata.
Selain itu, bukti lainnya berupa dokumen-dokumen bersegel atau bermaterai yang berasal langsung dari Imam Mahdi.
Melalui dokumen legal tersebut, masyarakat pada zaman itu dapat memverifikasi bahwa perwakilan tersebut memang benar-benar ditunjuk oleh Al-Imam Shahibuz Zaman.
2. Upaya Sistematis Dinasti Bani Abbas
Bukti kuat lainnya adalah upaya serius dan sistematis dari Dinasti Bani Abbas untuk melacak sosok Al-Mahdi. Meskipun dinasti ini tidak mengakui konsep imamah dari 12 Imam, mereka mempercayai hadis-hadis yang menyatakan bahwa Al-Mahdi akan lahir dari keturunan Hasan al-Askari.
Ketakutan ini membuat mereka melakukan langkah politik yang ekstrem, mulai dari mengurung dan memenjarakan kakek beliau, Imam Ali al-Hadi, hingga ayah beliau, Imam Hasan al-Askari,.
3. Penjara Militer di Samarra
Imam Ali al-Hadi dan Imam Hasan al-Askari tidak dipenjara di penjara sipil biasa, melainkan di penjara militer di daerah Samarra,.
Samarra merupakan pusat militer Bani Abbas yang berjarak sekitar 100 kilometer dari ibukota Baghdad.
Penempatan mereka di pusat militer menunjukkan bahwa kedua sosok ini dianggap sangat penting dan berbahaya bagi stabilitas kekuasaan dinasti tersebut.
Pengawasan militer yang sangat ketat dan disiplin militeristik diterapkan untuk memastikan tidak ada informasi atau sosok juru selamat (Al-Mahdi) yang lolos dari pantauan mereka,.
4. Perencanaan Ilahi di Tengah Intaian Intelijen
Dinasti Bani Abbas bahkan memantau secara khusus apakah istri dari Imam Hasan al-Askari sedang hamil atau tidak melalui jaringan intelijen dan aparat keamanan mereka,.
Namun, berkat perencanaan matang dari Imam Ali al-Hadi dan Imam Hasan al-Askari, peristiwa kelahiran Imam Mahdi tetap terjadi dengan selamat di luar pantauan dinasti tersebut.
Imam Ali al-Hadi sendiri telah menyebarkan para pengikutnya dan mencarikan jodoh bagi putranya yang berasal dari Romawi sebagai bagian dari rencana Ilahi agar cucunya lahir sesuai dengan syarat-syarat dalam riwayat yang mereka yakini.
5. Mukjizat di Birkatus Siba’ (Kandang Binatang Buas)
Di Samarra, terdapat sebuah tempat bernama Birkatus Siba’, sebuah area luas seperti aula yang dikelilingi oleh binatang buas untuk menjaga para tawanan selama 24 jam,.
Terdapat sebuah kisah menarik saat seseorang mengklaim dirinya sebagai Zainab al-Kubra (putri Imam Ali bin Abi Thalib).
Imam Ali al-Hadi membantah klaim tersebut dan memberikan tantangan: jika dia benar keturunan Nabi, maka binatang buas tidak akan memangsanya.
Ketika wanita tersebut dipaksa masuk, ia tewas diterkam, namun saat Imam Ali al-Hadi sendiri turun ke tempat yang sama, binatang-binatang buas tersebut justru menjadi jinak di hadapan beliau,.
6. Kesimpulan Historis
Berdasarkan konteks sejarah, sosok Imam Muhammad bin Hasan al-Askari benar-benar telah lahir pada tahun 255 Hijriyah.
Secara historis, hampir tidak ada yang membantah fakta kelahiran beliau; perdebatan yang muncul di sebagian kalangan hanyalah mengenai apakah beliau masih hidup atau sudah wafat, namun fakta bahwa beliau pernah lahir adalah sesuatu yang diakui secara luas.

FOLLOW US:
FB : @KomunitasPembelajarIslam
IG : @kupas.channel


