Pembukaan dan Rujukan Kitab Pertama: Asy-Syajarah az-Zakiyyah
Merujuk pada Kitab Asy-Syajarah az-Zakiyyah fil Ansab wa Siyar Ali Baitin-Nubuwwah. Kitab ini disusun oleh Aliwa ar-Rukun as-Sayyid Yusuf bin Abdillah Jamalullail, salah seorang ulama Ahlusunnah. Karya tersebut diterbitkan bersama oleh Maktabah Jil al-Ma’rifah dan Maktabah at-Taubah pada cetakan kedua tahun 2002 Masehi (1423 Hijriah) di Riyadh, Kerajaan Arab Saudi.
Pada lembaran bagan silsilah nomor 24 (lauhah raqm 24), dimuat bagan nasab keturunan Imam Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir ‘alaihissalam. Dalam bagan tersebut dijelaskan urutan silsilah sebagai berikut:
- Imam Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir memiliki beberapa orang putra, salah satunya bernama Musa al-Kazhim.
- Musa al-Kazhim memiliki putra bernama Ali ar-Ridha.
- Ali ar-Ridha memiliki putra bernama Muhammad al-Jawad.
- Muhammad al-Jawad memiliki putra bernama Ali al-Hadi.
- Ali al-Hadi memiliki putra bernama al-Hasan al-Askari.
- Al-Hasan al-Askari memiliki putra bernama Muhammad al-Mahdi.
Berdasarkan bagan silsilah tersebut, dipaparkan secara jelas bahwa sosok Muhammad al-Mahdi itu nyata ada dan sudah dilahirkan, dengan ayah bernama al-Hasan al-Askari.
Rujukan Kitab Kedua: Samt an-Nujum al-‘Awali
Keterangan mengenai nasab tersebut ditegaskan pula di dalam Kitab Samt an-Nujum al-‘Awali.
Kitab ini disusun oleh Abdul Malik bin Husain bin Abdul Malik asy-Syafi’i al-‘Ishami al-Makki yang bermazhab Syafi’i. Rujukan diambil dari jilid keempat yang diterbitkan oleh Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cetakan pertama tahun 1998 Masehi (1419 Hijriah), halaman 150.
Pada halaman tersebut diuraikan mengenai Imam Hasan al-Askari yang memiliki kunyah Abu Muhammad, dengan beberapa julukan seperti al-Khalis, as-Siraj, dan sebutan yang paling masyhur adalah al-Askari.
Pengarang kitab menyebutkan bahwa beliau wafat pada awal masa kekhalifahan al-Mu’tamid dari Dinasti Bani Abbasiyah dalam keadaan diracun (masmuman) pada hari Jumat.
Selanjutnya, pengarang kitab menyatakan dengan redaksi:
“Khalafa waladahu” (beliau meninggalkan seorang putra) yang bernama Muhammad.
Kalimat tersebut dilanjutkan dengan silsilah lengkap:
“Wa huwa al-Imam Muhammad al-Mahdi bin al-Hasan al-Askari bin Ali at-Taqi (atau Ali al-Hadi) bin Muhammad al-Jawad bin Ali ar-Ridha bin Musa bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ta’ala ‘anhum ajma’in.”
Kesimpulan Tiga Poin Utama Dari dua nash kitab rujukan tersebut, terdapat tiga kesimpulan utama yang ditarik:
- Imam Hasan al-Askari memiliki seorang putra bernama Muhammad al-Mahdi.
- Muhammad al-Mahdi (Imam Mahdi) dinyatakan telah dilahirkan sebagaimana ditegaskan dalam pernyataan kedua kitab tersebut.
- Nasab Imam Muhammad al-Mahdi bersambung langsung kepada al-Husain bin Ali bin Abi Thalib ‘alaihissalam.
Bahwa keterangan tersebut merupakan bukti tertulis dari Aliwa Yusuf Jamalullail dalam Asy-Syajarah az-Zakiyyah serta Abdul Malik bin Husain asy-Syafi’i dalam Samt an-Nujum, diakhiri dengan shalawat kepada Nabi Muhammad beserta keluarga beliau yang suci dan kalimat tahmid.

Allahumma sholli ‘alaa muhammad wa aali muhammad.
—
Video sumber: Dalil-dalil Channel

