Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali muhammad
Konsensus Sejarah Mengenai Kelahiran
Di berbagai kalangan, tidak ada ahli sejarah objektif yang mampu membantah fakta bahwa sosok bernama Muhammad bin Hasan bin Ali telah lahir pada tahun 255 Hijriyah,.
Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai rincian tahun atau bulan persisnya, hal tersebut sama sekali tidak menggugurkan substansi fakta kelahirannya.
Persoalan utama yang muncul di kalangan sejarawan bukanlah tentang ada atau tidaknya kelahiran tersebut, melainkan apakah sosok yang lahir sebagai putra Hasan al-Askari ini masih hidup hingga sekarang—sebagaimana keyakinan kelompok Syiah—ataukah ia telah wafat,.
Para sejarawan yang meragukan keberadaan beliau saat ini umumnya kesulitan menghadapi fakta bahwa jika beliau masih hidup, berarti usianya telah mencapai lebih dari 1.000 tahun.
Namun, tidak ada argumen sejarah yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa sosok ini tidak pernah lahir.
Bahkan, banyak sejarawan dari kalangan Ahlusunnah wal Jama’ah yang mencatat peristiwa kelahiran ini dalam kitab-kitab mereka sebagai sebuah kejadian sejarah yang nyata, meskipun mereka tidak mengakuinya sebagai bagian dari akidah Imamah.
Strategi dan Perencanaan Ilahi
Kelahiran Imam Mahdi bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari rencana besar yang telah disusun sejak masa kakeknya, Imam Ali al-Hadi.
Beliau telah merancang strategi agar kelahiran cucunya berlangsung aman, disaksikan banyak orang, dan terdokumentasi dengan baik sebagai fakta sejarah.
Hal ini dilakukan karena para Imam Ahlulbait saat itu menghadapi kekuasaan (Bani Abbas) yang sangat represif.
Secara lahiriah penguasa mungkin tampak ramah, namun secara politik mereka melakukan persekusi dan penindasan yang sistematis.
Strategi dokumentasi ini penting agar peristiwa penting tersebut tidak dapat diingkari di masa depan, serupa dengan bagaimana peristiwa Ashura terdokumentasi dengan sangat baik sehingga tidak ada alasan bagi umat untuk mendukung rezim yang menindas keluarga Rasulullah SAW.
Saksi-Saksi dan Bukti Kredibel
Pada saat kelahiran Muhammad (Imam Mahdi), Imam Hasan al-Askari memanggil banyak tokoh terkenal dan kredibel di zamannya untuk menyaksikan langsung.
Mereka yang memberikan kesaksian bukan hanya dari kalangan pengikut (Syiah), tetapi juga cendekiawan dan tokoh terpandang lainnya.
Dengan melibatkan saksi-saksi yang memiliki kredibilitas tinggi, kejadian historis ini menjadi mustahil untuk dibantah.
Masa Kegaiban dan Dokumen Hukum (Tawqi’at)
Setelah kelahirannya, Imam Mahdi memasuki masa yang disebut sebagai Kegaiban Kecil (Ghaibah Sughra).
Selama masa ini, beliau tetap berinteraksi dengan tokoh-tokoh dan ulama besar di zamannya, khususnya di pusat-pusat dunia Islam seperti Samarra, Baghdad, Irak, hingga Madinah.
Para ulama yang berinteraksi dengan beliau bukanlah orang sembarangan; mereka adalah tokoh yang memiliki karya ilmiah dan majelis taklim yang besar.
Salah satu bukti kuat kehadiran beliau selama masa kegaiban adalah adanya Tawqi’at, yaitu dokumen-dokumen legal atau pesan tertulis yang dilengkapi dengan segel atau cap cincin beliau.
Dokumen-dokumen ini merupakan inovasi penting untuk mengukuhkan bahwa meskipun beliau menyembunyikan diri dari penguasa, beliau tetap hadir dan berinteraksi secara nyata dengan khalayak.
Koleksi dokumen legal ini tersimpan rapi dalam literatur Islam dan menjadi bukti verifikasi atas keberadaan beliau,.
Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa terdapat dua kesepakatan besar terkait sosok ini:
- Beliau adalah keturunan Nabi Muhammad SAW, yang didukung oleh banyak riwayat sahih bahkan mencapai derajat mutawatir.
- Secara historis, sosok Muhammad bin Hasan al-Mahdi benar-benar lahir pada tahun 255 Hijriyah.
Meskipun ada pihak yang bersikap sinis terhadap konsep umur panjang beliau, mereka tetap tidak dapat membantah fakta-fakta historis dan dokumen-dokumen legal yang menunjukkan keberadaan beliau dalam sejarah Islam,.

Yuk Subscribe Kupas Tuntas Channel:


