2 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Tinjauan Filosofis dan Akhlak tentang Ruh Manusia

Kajian ini membahas hakikat ruh manusia dengan membandingkan sudut pandang filsafat dan ilmu akhlak.

1. Perbedaan Tinjauan Filosofis dan Akhlak tentang Ruh

Secara filosofis, ruh manusia memiliki empat daya utama yang mengatur seluruh aktivitas fisik dan mental kita:

  • Daya tambang:
    Mengatur putaran atom dalam tubuh kita.
  • Daya tumbuhan:
    Mengatur pertumbuhan tubuh dari kecil hingga besar serta mengatur pengembangbiakan untuk menjaga kelangsungan spesies.
  • Daya hayawaniah (kebinatangan):
    Bukan berarti perilaku kasar, melainkan daya yang secara filosofis mengatur gerakan ikhtiar (sukarela) dan berbagai perasaan seperti lapar, dahaga, cinta, benci, serta emosi.
  • Daya akliah:
    Daya berpikir yang hanya dimiliki oleh manusia.

Ruh sendiri pada hakikatnya adalah entitas nonmateri yang sederhana (tidak terbagi-bagi), namun dalam aksinya ia memerlukan alat-alat material.
Sebagai contoh, ruh membutuhkan otak untuk berpikir, mata untuk melihat, dan jantung untuk mengatur detak kehidupan.

Sebaliknya, ilmu akhlak memiliki fokus yang lebih praktis untuk mencapai sasaran moral. Ilmu akhlak tidak menyoroti daya tambang dan daya tumbuhan, melainkan hanya berfokus pada dua daya saja, yaitu daya akal dan daya hayawaniah.
Daya hayawaniah mendapatkan sorotan paling tajam dalam ilmu akhlak karena dimensi materialnya sangat berpotensi menjatuhkan derajat manusia (yang membedakannya dari malaikat).

 

2. Empat Daya Ruh dalam Tinjauan Akhlak

Untuk memudahkan bimbingan praktis, ilmu akhlak memetakan ruh manusia ke dalam empat daya utama:

  • Daya Akal:
    Daya murni nonmateri yang membimbing manusia kepada kebenaran dan ilmu pengetahuan. Karena sifatnya yang suci dari materi, daya ini mendekatkan manusia kepada alam gaib (malakut).
  • Daya Emosi (Ghadhab):
    Daya yang biasanya cenderung melakukan penyerangan atau penganiayaan, namun di sisi lain memiliki manfaat defensif untuk mempertahankan diri dan hak-hak manusia jika diarahkan dengan benar.
  • Daya Syahwat:
    Kecenderungan untuk mencari kelezatan materi dan duniawi. Syahwat dalam tinjauan ini tidak hanya merujuk pada birahi, tetapi juga mencakup keinginan terhadap makanan, uang, dan pangkat.
  • Daya Wahmi:
    Daya yang mengatur khayalan, bayangan, dan tipuan, yang juga bisa diarahkan kepada hal-hal yang baik.

Tugas utama ilmu akhlak adalah membimbing manusia agar mampu mengarahkan dan memfungsikan semua daya ini ke tempat yang semestinya sesuai dengan tujuan penciptaan oleh Allah.

 

3. Empat Istilah Nama Ruh Manusia

Ruh manusia yang nonmateri ini memiliki empat nama/istilah yang sering digunakan bergantian dalam filsafat dan akhlak, tergantung dimensi mana yang sedang disorot:

  1. Ruh:
    Disebut ruh karena tubuh fisik membutuhkan kehadirannya untuk hidup.
    Selain itu, nama ini merujuk pada kesuciannya dan kedekatannya dengan alam malakut karena memiliki dimensi akal yang bersih dari beban materi.
  2. Nafs (Jiwa):
    Disebut nafs ketika dilihat dari fungsinya yang mengatur dan mengendalikan badan material (seperti detak jantung, pernapasan, emosi, nafsu, dan gerakan fisik).
  3. Akal:
    Disebut akal ketika dilihat dari kemampuannya untuk menangkap ilmu pengetahuan dan menjangkau hakikat-hakikat kebenaran yang nonmateri.
  4. Qalbun (Hati):
    Disebut qalbun (yang artinya berbolak-balik) karena ruh senantiasa mengalami perubahan keadaan emosi setiap harinya, mulai dari marah ke memaafkan, benci ke cinta, hingga sedih ke bahagia.

Mengkaji ilmu akhlak membantu mengurangi beban dimensi material ini agar manusia lebih mudah “terbang” dan bersentuhan dengan dimensi spiritual yang suci (malakut atau jabarut).

 

4. Urgensi Daya Syahwat bagi Kelangsungan Hidup

Meskipun daya syahwat sering kali membawa bahaya kejatuhan moral, Allah menciptakannya dalam diri manusia sebagai kebutuhan yang sangat mendesak (emergency).

  • Syahwat terhadap makanan:
    Tanpa daya ini, manusia tidak akan merasakan kelezatan dan rasa lapar.
    Akibatnya, manusia bisa mati dalam sehari atau memakan zat-zat pahit berbahaya tanpa sadar.
  • Syahwat birahi:
    Tanpa adanya dorongan birahi yang kuat, manusia tidak akan tertarik untuk mencari pasangan hidup.
    Akibatnya, kelestarian spesies manusia di bumi akan terhenti.

Kajian ini diakhiri dengan harapan agar manusia dapat berhati-hati dalam mencari kebahagiaan selain dalam ketaatan kepada Allah.

Seri 11 Filsafat Islam dan Tassawuf Struktur Moral dan Ruh Manusia (1)

Bersama Ustadz Hasan Abu Ammar

Judul video: Seri 11 – Filsafat Islam & Tassawuf | Cara Agar Bisa Mi’raj Kepada Allah – Watch on Youtube

Yuk Subscribe Channel ITRAH Institut Official:
Subscribe Channel ITRAH Institut Official

 

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us