“Mengapa Rasulullah ﷺ begitu sering menunjuk Ali bin Abi Thalib ketika umat memerlukan kepastian?”

Perang Khaibar adalah salah satu ujian terbesar yang dihadapi kaum Muslimin.
Benteng-benteng Yahudi berdiri kokoh. Berhari-hari pasukan Islam berusaha menembus pertahanan mereka, tetapi belum memperoleh kemenangan yang menentukan.

Pada suatu hari, panji perang diserahkan kepada Abu Bakar. Ia berangkat bersama pasukan, tetapi kembali tanpa membawa kemenangan.
Keesokan harinya panji diberikan kepada Umar. Ia pun maju bersama pasukan, namun hasilnya sama.
Benteng Khaibar tetap berdiri, sementara kaum Muslimin kembali ke perkemahan.

Malam itu suasana penuh harap. Rasulullah ﷺ kemudian mengucapkan kalimat yang akan dikenang sepanjang sejarah Islam:

«لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ، يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَى يَدَيْهِ»

“Sungguh besok akan aku berikan panji ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya mencintainya. Allah akan memberikan kemenangan melalui kedua tangannya.”

(Shahih al-Bukhari no. 3701; Shahih Muslim no. 2406)

Ali

Keesokan paginya semua sahabat berharap nama merekalah yang akan dipanggil. Namun Rasulullah ﷺ justru bertanya,

“Di mana Ali?”

Ali sedang sakit mata. Beliau dipanggil Rasulullah ﷺ meludahi kedua matanya dan mendoakannya.
Seketika matanya sembuh. Panji itu diserahkan kepadanya. Ali maju memimpin pasukan, dan Allah memberikan kemenangan melalui tangannya.

Peristiwa ini bukan sekadar kisah kemenangan militer. Rasulullah ﷺ sedang memperkenalkan kepada umatnya siapa pribadi yang memperoleh kesaksian langsung dari langit: seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, sekaligus dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Pertanyaannya sederhana: jika Rasulullah ﷺ sendiri telah memberikan kesaksian seperti ini, bagaimana mungkin seorang mukmin tidak memberikan perhatian khusus kepada sosok Ali bin Abi Thalib?

Kesaksian Rasulullah ﷺ terhadap Ali ternyata tidak berhenti di Khaibar.

Beliau bersabda:

«يَا عَلِيُّ، لَا يُحِبُّكَ إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَلَا يُبْغِضُكَ إِلَّا مُنَافِقٌ»

“Wahai Ali, tidak mencintaimu kecuali seorang mukmin, dan tidak membencimu kecuali seorang munafik.”

(Shahih Muslim no. 78)

Hadis ini tidak menjadikan Ali sekadar tokoh sejarah. Rasulullah ﷺ menjadikan sikap hati terhadap Ali sebagai cermin keimanan.
Cinta kepada Ali bukan sekadar emosi, melainkan bagian dari orientasi iman.

Dalam kesempatan lain Rasulullah ﷺ berkata kepada Ali:

«أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى، إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي»

“Kedudukanmu dariku seperti kedudukan Harun terhadap Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku.”

(Shahih al-Bukhari no. 4416; Shahih Muslim no. 2404)

Mengapa Rasulullah ﷺ hanya mengecualikan kenabian?

Karena seluruh kedudukan Harun terhadap Musa selain kenabian dibiarkan tetap menjadi bahan renungan umat: sebagai saudara, pembantu, pendamping, dan pengganti ketika Musa meninggalkan kaumnya.

Kemudian, di Ghadir Khum, di hadapan ribuan sahabat yang baru selesai menunaikan Haji Wada’, Rasulullah ﷺ lebih dahulu bertanya,

«أَلَسْتُ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ؟»

“Bukankah aku lebih berhak atas kaum mukmin daripada diri mereka sendiri?”

Mereka menjawab,

“Benar, wahai Rasulullah.”

Lalu beliau bersabda:

«مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ، اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالَاهُ، وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ»

“Barang siapa menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawlanya.
Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

(Musnad Ahmad no. 950; Jami’ at-Tirmidzi no. 3713.
Hadis ini juga diriwayatkan melalui banyak jalur hingga dinilai mutawatir oleh sejumlah ulama hadis.)

Mengapa Rasulullah ﷺ menghentikan puluhan ribu jamaah di padang yang terik hanya untuk menyampaikan kalimat ini? Pertanyaan itu layak dijawab dengan kejujuran ilmiah.

Tidak lama kemudian Rasulullah ﷺ meninggalkan wasiat terakhirnya kepada umat:

«إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ: كِتَابَ اللَّهِ وَأَهْلَ بَيْتِي»

“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka: Kitab Allah dan Ahlul Baitku.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

«مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي»

“Selama kalian berpegang kepada keduanya, kalian tidak akan sesat sepeninggalku.”

(Shahih Muslim no. 2408; juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 3788 dengan lafaz yang lebih lengkap.)

Al-Qur’an adalah petunjuk yang tidak pernah salah. Ahlul Bait adalah teladan yang tidak dipisahkan darinya. Rasulullah ﷺ tidak mengatakan salah satunya saja, tetapi memerintahkan umat berpegang kepada keduanya.

Maka mengikuti Ali bukanlah mengurangi kecintaan kepada sahabat yang lain.
Mengikuti Ali justru berarti mengikuti arah yang berkali-kali ditunjukkan sendiri oleh Rasulullah ﷺ melalui hadis-hadis yang paling sahih.

Ali tidak meminta kedudukan itu.

Umatlah yang diperintahkan Rasulullah ﷺ untuk mengenali kedudukannya.

Karena itu, pertanyaan yang patut direnungkan bukanlah, “Mengapa Ali dimuliakan?”

Tetapi,

Jika Rasulullah ﷺ telah berkali-kali memperkenalkan Ali kepada umat dengan ungkapan yang tidak beliau ucapkan kepada siapa pun selain dirinya, mengapa masih ada yang menganggap mengikuti Ali hanyalah pilihan mazhab, bukan bagian dari mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ sendiri?

Catatan:

Harun dan Ali: Dua Wasi yang Menahan Diri

Ketika Nabi Musa a.s. naik ke Bukit Thur untuk bermunajat kepada Allah, beliau meninggalkan kaumnya di bawah kepemimpinan Nabi Harun a.s.
Namun, kaum itu justru memberontak. Mereka mengikuti Samiri dan menyembah anak sapi.

Harun a.s. tidak memiliki keberanian yang kurang. Beliau memiliki wahyu, ilmu, dan kedudukan sebagai nabi.
Namun beliau memilih menahan diri dari perang saudara demi menjaga sisa-sisa persatuan Bani Israil.
Ketika Musa kembali dan bertanya mengapa ia tidak bertindak tegas, Harun menjawab:

> إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي

“Sesungguhnya aku khawatir engkau akan berkata: ‘Engkau telah memecah belah Bani Israil dan tidak menjaga pesanku.'”

(QS. Thaha [20]: 94)

Bukankah ini sangat mengingatkan kita kepada Imam Ali a.s.?

Rasulullah ﷺ sendiri bersabda:

> أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى، إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Kedudukanmu dariku seperti kedudukan Harun terhadap Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku.”

(Shahih al-Bukhari no. 4416; Shahih Muslim no. 2404)

Sebagaimana Harun tidak menghunus pedang terhadap kaumnya demi menghindari perpecahan yang lebih besar, demikian pula Ali a.s. memilih bersabar setelah wafat Rasulullah ﷺ.
Bukan karena lemah, bukan karena takut, tetapi karena beliau melihat bahwa perang di jantung umat Islam yang baru lahir dapat menghancurkan risalah yang baru saja ditegakkan.

Kekuatan sejati bukan selalu tampak pada saat mengangkat pedang.
Terkadang, kekuatan yang lebih agung adalah kemampuan menahan pedang ketika nafsu menginginkannya, demi menjaga agama yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri.

Harun a.s. dan Ali a.s. sama-sama diuji bukan ketika menghadapi musuh di luar, melainkan ketika menghadapi fitnah dari dalam umat.
Dan keduanya memilih menjaga risalah, meski harus memikul beban kesabaran yang sangat berat.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

https://www.facebook.com/share/1GQfxtR3kJ/ 

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us