Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 54:
“๐๐๐ก๐๐ข ๐จ๐ซ๐๐ง๐ -๐จ๐ซ๐๐ง๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐๐ซ๐ข๐ฆ๐๐ง! ๐๐๐ซ๐๐ง๐ ๐ฌ๐ข๐๐ฉ๐ ๐๐ข ๐๐ง๐ญ๐๐ซ๐ ๐ค๐๐ฆ๐ฎ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ฆ๐ฎ๐ซ๐ญ๐๐ (๐ค๐๐ฅ๐ฎ๐๐ซ) ๐๐๐ซ๐ข ๐๐ ๐๐ฆ๐๐ง๐ฒ๐, ๐ฆ๐๐ค๐ ๐ค๐๐ฅ๐๐ค ๐๐ฅ๐ฅ๐๐ก ๐๐ค๐๐ง ๐ฆ๐๐ง๐๐๐ญ๐๐ง๐ ๐ค๐๐ง ๐ฌ๐ฎ๐๐ญ๐ฎ ๐ค๐๐ฎ๐ฆ; ๐๐ข๐ ๐ฆ๐๐ง๐๐ข๐ง๐ญ๐๐ข ๐ฆ๐๐ซ๐๐ค๐ ๐๐๐ง ๐ฆ๐๐ซ๐๐ค๐ ๐ฉ๐ฎ๐ง ๐ฆ๐๐ง๐๐ข๐ง๐ญ๐๐ข-๐๐ฒ๐, ๐๐๐ง ๐๐๐ซ๐ฌ๐ข๐ค๐๐ฉ ๐ฅ๐๐ฆ๐๐ก ๐ฅ๐๐ฆ๐๐ฎ๐ญ ๐ญ๐๐ซ๐ก๐๐๐๐ฉ ๐จ๐ซ๐๐ง๐ -๐จ๐ซ๐๐ง๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐๐ซ๐ข๐ฆ๐๐ง, ๐ญ๐๐ญ๐๐ฉ๐ข ๐๐๐ซ๐ฌ๐ข๐ค๐๐ฉ ๐ค๐๐ซ๐๐ฌ (๐ญ๐๐ ๐๐ฌ) ๐ญ๐๐ซ๐ก๐๐๐๐ฉ ๐จ๐ซ๐๐ง๐ -๐จ๐ซ๐๐ง๐ ๐ค๐๐๐ข๐ซ, ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐๐ซ๐ฃ๐ข๐ก๐๐ ๐๐ข ๐ฃ๐๐ฅ๐๐ง ๐๐ฅ๐ฅ๐๐ก, ๐๐๐ง ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ญ๐ข๐๐๐ค ๐ญ๐๐ค๐ฎ๐ญ ๐ค๐๐ฉ๐๐๐ ๐๐๐ฅ๐๐๐ง ๐จ๐ซ๐๐ง๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ฌ๐ฎ๐ค๐ ๐ฆ๐๐ง๐๐๐ฅ๐. ๐๐ญ๐ฎ๐ฅ๐๐ก ๐ค๐๐ซ๐ฎ๐ง๐ข๐ ๐๐ฅ๐ฅ๐๐ก, ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐ข๐๐๐ซ๐ข๐ค๐๐ง-๐๐ฒ๐ ๐ค๐๐ฉ๐๐๐ ๐ฌ๐ข๐๐ฉ๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐ข๐ ๐ค๐๐ก๐๐ง๐๐๐ค๐ข. ๐๐๐ง ๐๐ฅ๐ฅ๐๐ก ๐๐๐ก๐๐ฅ๐ฎ๐๐ฌ (๐ฉ๐๐ฆ๐๐๐ซ๐ข๐๐ง-๐๐ฒ๐), ๐ฅ๐๐ ๐ข ๐๐๐ก๐ ๐๐๐ง๐ ๐๐ญ๐๐ก๐ฎ๐ข.”
Juga Allah berfirman dalam QS Ali-Imran ayat 169 – 170:
“๐๐๐ง๐ ๐๐ง ๐ฌ๐๐ค๐๐ฅ๐ข-๐ค๐๐ฅ๐ข ๐ค๐๐ฆ๐ฎ ๐ฆ๐๐ง๐ ๐ข๐ซ๐ ๐๐๐ก๐ฐ๐ ๐จ๐ซ๐๐ง๐ -๐จ๐ซ๐๐ง๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ ๐ฎ๐ ๐ฎ๐ซ ๐๐ข ๐ฃ๐๐ฅ๐๐ง ๐๐ฅ๐ฅ๐๐ก ๐ข๐ญ๐ฎ ๐ฆ๐๐ญ๐ข. ๐๐๐๐๐ง๐๐ซ๐ง๐ฒ๐, ๐ฆ๐๐ซ๐๐ค๐ ๐ข๐ญ๐ฎ ๐ก๐ข๐๐ฎ๐ฉ ๐๐๐ง ๐๐ข๐๐ง๐ฎ๐ ๐๐ซ๐๐ก๐ข ๐ซ๐๐ณ๐๐ค๐ข ๐๐ข ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข ๐๐ฎ๐ก๐๐ง๐ง๐ฒ๐. ๐๐๐ซ๐๐ค๐ ๐๐๐ซ๐ ๐๐ฆ๐๐ข๐ซ๐ ๐๐๐ง๐ ๐๐ง ๐ค๐๐ซ๐ฎ๐ง๐ข๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐ฅ๐ฅ๐๐ก ๐๐ง๐ฎ๐ ๐๐ซ๐๐ก๐ค๐๐ง ๐ค๐๐ฉ๐๐๐๐ง๐ฒ๐ ๐๐๐ง ๐๐๐ซ๐ ๐ข๐ซ๐๐ง๐ ๐ก๐๐ญ๐ข ๐๐ญ๐๐ฌ (๐ค๐๐๐๐๐๐ง) ๐จ๐ซ๐๐ง๐ -๐จ๐ซ๐๐ง๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐๐ซ๐๐๐ ๐๐ข ๐๐๐ฅ๐๐ค๐๐ง๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐๐ฅ๐ฎ๐ฆ ๐ฆ๐๐ง๐ฒ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฅ ๐ฆ๐๐ซ๐๐ค๐, ๐ฒ๐๐ข๐ญ๐ฎ ๐๐๐ก๐ฐ๐ ๐ญ๐ข๐๐๐ค ๐๐๐ ๐ซ๐๐ฌ๐ ๐ญ๐๐ค๐ฎ๐ญ ๐ฉ๐๐๐ ๐ฆ๐๐ซ๐๐ค๐ ๐๐๐ง ๐ฆ๐๐ซ๐๐ค๐ ๐ญ๐ข๐๐๐ค ๐๐๐ซ๐ฌ๐๐๐ข๐ก ๐ก๐๐ญ๐ข.”
Inilah hari yang bersejarah, hari pemakaman Al-Imam Ali Khamenei.
Setelah empat bulan, prosesi beliau ini dihadiri dan diikuti oleh jutaan manusia dari berbagai tempat di Iran dan di Irak. Bahkan menurut beberapa wartawan, jumlahnya mencapai lebih dari 30 juta orang. Ini merupakan satu peristiwa yang sangat fenomenal yang terjadi pada abad ini.
Tentu, orang yang ingin ikut serta dalam mengantar jenazah beliau sangat banyak. Namun, mungkin karena masalah tempat yang jauh, kita pun di sini tidak semua bisa datang ke sana karena jarak dan keterbatasan waktu atau harta yang kita miliki. Begitu pula di tempat yang lain, banyak yang berhalangan datang mengantarkan jenazah beliau.
Kenyataan ini tentu menjadi sebuah jawaban yang sangat telak atau menohok kepada musuh-musuh Al-Imam Ali Khamenei. Manusia atau orang yang paling terpukul dengan realita ini adalah Presiden Amerika, Donald Trump, lalu Netanyahu, dan rezim-rezim sekutunya.
Bagi mereka, kehadiran jutaan manusia di Iran dan di Irak, atau bahkan puluhan juta di berbagai belahan dunia, adalah bukti nyata bahwa beliau adalah seorang manusia yang dicintai oleh umat manusia.
Allah Ta’ala berfirman bahwa sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka Allah akan menjadikan dan menanamkan rasa cinta di hati manusia terhadap mereka.
Rasa dengki boleh saja ada, tetapi manusia pada umumnya pasti akan mencintai orang-orang baik. Ini adalah janji Allah SWT.
Orang-orang yang beriman dan beramal saleh pasti dicintai oleh manusia, kecuali oleh manusia yang kotor hatinya atau yang kepentingannya terganggu oleh orang-orang beriman dan beramal saleh tersebut.
Sehingga kita melihat manusia dari berbagai bangsa, golongan, bahkan agama, mencintai beliau. Orang-orang yang semula membenci beliau karena menjadi korban informasi yang salah, kini berubah drastis menjadi pencinta Al-Imam Ali Khamenei.
Ada satu tayangan pendek di Iran tentang seorang warga yang tadinya membenci pemerintahan, bahkan dia katakan mengutuk Rahbar (Pemimpin). Dia seorang Syiah di Iran yang anti-pemerintahan Islam dan _anti-wilayatul faqih_.
Dia mengaku, “Saya hampir setiap hari mengutuk rezim di Iran dan mengutuk Rahbar.” Tapi, ketika melihat Rahbar dibunuh dengan bom secara sedemikian tragis, hatinya berubah dan dia sangat menyesal. Bahkan, untuk menebus dosa atau kesalahan masa lalunya itu, dia kini sukarela menyediakan minuman dan melayani setiap orang yang akan menziarahi serta mengantarkan jenazah Al-Imam Ali Khamenei.
Ada perubahan yang luar biasa di dunia, bahkan juga di Indonesia ini. Orang-orang yang tadinya dengan lantang membenci Rahbar, bahkan menyerang mazhab yang diyakini oleh Rahbar, sekarang mengalami perubahan sikap yang luar biasa. Ini artinya adalah dakwah bil hal , yaitu ajakan yang dilakukan melalui keadaan dan sikap nyata, bukan sekadar dengan ucapan.
๐๐ข๐ฆ๐ ๐๐๐ซ๐๐ค๐ญ๐๐ซ ๐๐๐ฎ๐ฆ ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ก๐๐ง ๐๐ฅ๐ฅ๐๐ก
Dalam kesempatan ini, saya akan menyampaikan dua hal. Yang pertama berkaitan dengan ayat pertama, yaitu Surah Al-Ma’idah ayat 54. Saya mencoba ingin menguraikan sedikit saja maknanya.
Allah SWT mewanti-wanti kepada orang-orang yang beriman. Ketika Rasulullah SAW berdakwah, ada orang-orang yang setia membela beliau, beriman kepada Rasulullah, dan berbaiat kepada beliau dengan tulus serta ikhlas. Karena mereka mengikuti Rasulullah dengan ikhlas, Allah Ta’ala memberikan berbagai kemenangan dalam Perang Uhud, Perang Badar, dan Perang Khandaq. Itulah sahabat-sahabat Nabi yang benar-benar berjuang bersama Rasulullah SAW.
Nah, Allah mengingatkan kepada mereka, dan tentu saja kepada kita semua wahai orang-orang yang berimanโsecara khusus orang beriman pada zaman Rasulullah: _”Wahai orang beriman! Barang siapa di antara kalian ada yang yartad ‘an dinihi (berpaling dari agamanya)…”_
Kata yartad di sini tingkat tertingginya memang berarti murtad keluar dari Islam. Namun, arti yartad itu tidak selalu berarti kafir, melainkan bisa merujuk kepada orang-orang yang tidak lagi patuh terhadap ajaran Islam.
Barang siapa di antara kalian ada yang murtad atau tidak patuh terhadap agama Allah Ta’ala, maka Allah berjanji akan mendatangkan suatu kaum yang lainโbukan kalian, melainkan suatu kaum atau golongan baru yang memiliki sifat yuhibbuhum wa yuhibbunahu , yaitu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah.
Karakteristik atau sifat-sifat kaum pilihan ini ada beberapa poin:
#๐๐๐ซ๐๐ค๐ญ๐๐ซ๐ข๐ฌ๐ญ๐ข๐ค ๐๐๐ซ๐ญ๐๐ฆ๐: ๐๐ข๐๐ข๐ง๐ญ๐๐ข ๐๐ฅ๐ฅ๐๐ก ๐๐๐ง ๐๐๐ง๐๐ข๐ง๐ญ๐๐ข ๐๐ฅ๐ฅ๐๐ก.
Sifat ini tidak mudah dicapai. Apakah kita termasuk ke dalam golongan ini atau tidak? Ciri pertamanya adalah Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah.
#๐๐๐ซ๐๐ค๐ญ๐๐ซ๐ข๐ฌ๐ญ๐ข๐ค ๐๐๐๐ฎ๐: ๐๐๐ง๐๐๐ก ๐๐๐ญ๐ข (๐๐๐ฐ๐๐๐ฎ๐ค) ๐๐ข ๐๐๐๐๐ฉ๐๐ง ๐๐ซ๐๐ง๐ ๐๐๐ซ๐ข๐ฆ๐๐ง.
Mereka bersikap mengalah, bersimpati, dan berempati kepada sesama orang yang beriman. Dalam pergaulan sehari-hari dengan sesama mukmin, mereka tidak menunjukkan kekuatan atau kesombongan, melainkan senantiasa rendah hati.
#๐๐๐ซ๐๐ค๐ญ๐๐ซ๐ข๐ฌ๐ญ๐ข๐ค ๐๐๐ญ๐ข๐ ๐: ๐๐๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ค๐ข ๐๐๐ซ๐ ๐ ๐๐ข๐ซ๐ข ๐๐๐ง ๐๐๐ซ๐ฐ๐๐ก ๐๐ข ๐๐๐๐๐ฉ๐๐ง ๐๐๐ฎ๐ฆ ๐๐๐๐ข๐ซ.
Di hadapan orang mukmin mereka rendah hati dan mengalah, tetapi di hadapan orang kafir mereka memiliki harga diri yang kokoh dan marwah yang kuat. Mereka mulia di hadapan orang kafir, serta tidak mau diatur atau didikte oleh orang-orang kafir.
#๐๐๐ซ๐๐ค๐ญ๐๐ซ๐ข๐ฌ๐ญ๐ข๐ค ๐๐๐๐ฆ๐ฉ๐๐ญ: ๐๐๐ฅ๐๐ฅ๐ฎ ๐๐๐ซ๐ฃ๐ข๐ก๐๐ ๐๐ข ๐๐๐ฅ๐๐ง ๐๐ฅ๐ฅ๐๐ก (๐ ๐ถ๐ซ๐ข๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฏ๐ข ๐ง๐ช ๐๐ข๐ฃ๐ช๐ญ๐ช๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ).
Mereka selalu berjuang dalam membela kebenaran, menyampaikan suara-suara Allah, serta menyuarakan ajaran para nabi dan Ahlul Bait alaihimussalam. Di mana pun dan kapan pun mereka berada, mereka senantiasa yujahidun .
Kata ini menggunakan bentuk fi’il mudhari’ (kata kerja masa kini/kontinu), yang berarti mereka selalu dan terus-menerus berjuang menyuarakan kebenaran serta menegakkan keadilan dalam rangka mengamalkan ajaran Allah SWT.
#๐๐๐ซ๐๐ค๐ญ๐๐ซ๐ข๐ฌ๐ญ๐ข๐ค ๐๐๐ฅ๐ข๐ฆ๐: ๐๐ข๐๐๐ค ๐๐๐ง๐ญ๐๐ซ ๐๐๐ซ๐ก๐๐๐๐ฉ ๐๐๐๐ข๐๐ง (๐๐ข ๐ ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ข๐ง๐ถ๐ฏ๐ข ๐๐ข๐ธ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐๐ข’๐ช๐ฎ).
Dalam memperjuangkan kebenaran, mereka tidak gentar dan tidak takut dengan ocehan atau cacian orang-orang yang suka mencela.
Banyak orang yang ketika dicaci atau direndahkan langsung bermental gentar dan takut. Ketika difitnah, mereka langsung mundur dan tidak siap menghadapi celaan ( ๐ญ๐ข๐ธ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ญ๐ข’๐ช๐ฎ ).
Padahal, orang-orang yang membawa kebenaran pasti akan mendapatkan cacian. Jangankan manusia biasa seperti kita, Nabi Muhammad SAW pun dahulu dicaci maki sebagai seorang penyihir, pendusta, penyair, tukang tipu, orang gila, hingga dianggap kesurupan jin.
Padahal sebelumnya, Nabi Muhammad dikenal oleh kaum Quraisy sebagai orang yang sangat baik ( Al-Amin ). Namun ketika beliau menyampaikan kebenaran, beliau mendapatkan lawmata la’im (cacian), tetapi beliau tidak gentar.
Menghadapi cacian, makian, dan fitnahan itu bukanlah hal yang enteng, tidak semua orang siap menerimanya.
Tetapi, ciri orang yang disiapkan oleh Allah Ta’ala untuk menggantikan orang-orang yang berpaling dari agama-Nya adalah mereka yang yujahiduna fi sabilillah wa la yakhafuna lawmata la’im .
Mereka memiliki jiwa yang berani, tidak takut, dan konsisten.
Ada satu hadis yang maknanya kira-kira begini: “Orang yang berada pada kebenaran dengan istiqamah tidak akan gentar meskipun dia sendirian.”
Seorang mukmin yang hakiki tidak pernah merasa sepi karena dia selalu merasa hadir bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tangguh, berani, dan tidak takut dengan ocehan. Memiliki jiwa yang tangguh seperti itu tidaklah mudah.
Itulah karunia Allah Ta’ala yang Allah berikan kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Jadi, orang yang memiliki lima karakter ini adalah manusia-manusia pilihan.
Tidak semua orang bisa memiliki lima sifat ini secara sekaligus: Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah, rendah hati di hadapan kaum mukminin tetapi gagah berani di hadapan kaum kafir, serta aktif berjuang fisabilillah dan tidak gentar dengan makian atau cacian.
๐๐ป๐ข๐ญ๐ช๐ฌ๐ข ๐ง๐ข๐ฅ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ, ini adalah karunia dan kenikmatan dari Allah yang Dia berikan kepada yang Dia kehendaki.
Artinya, tidak semua orang bisa mendapatkan karunia ini. Ada orang yang tidak siap, ada yang tidak mencintai Allah, ada pula yang justru sombong di hadapan kaum mukminin tetapi sebaliknya malah rendah hati dan tunduk di hadapan kaum kafir.
Jika kita berbicara tentang contoh di dunia internasional, hal ini terlihat sangat jelas sekali. Siapa para penguasa yang ketakutan di hadapan Donald Trump?
Sudah jelas bahwa Donald Trump adalah seorang penjahat perang. Dia bertanggung jawab atas terbunuhnya anak-anak perempuan yang tidak berdosa di sebuah sekolah di Iran, dan dia juga membiarkan Israel membantai rakyat Gaza. Dia adalah penjahat perang yang kafir. Definisi kafir di sini bukan sekadar soal status agama, melainkan merujuk pada orang yang melawan kebenaran dan berbuat jahat.
Namun kita lihat, banyak dari pemimpin dunia kaum muslimin yang justru merasa hina dan ketakutan di hadapan Donald Trump. Mestinya, seorang pemimpin harus gagah berani di hadapan orang semacam Donald Trump, tetapi kenyataannya banyak pemimpin dunia Islam yang takut dan tunduk di hadapannya.
Hampir semua pemimpin muslim di dunia, baik di Timur Tengah maupun di tempat lain, itu takut di hadapan Donald Trump. Padahal di mata mereka sendiri, mereka tahu betul bahwa Donald Trump adalah seorang penjahat.
Tetapi di sisi lain, mereka justru sombong dan angkuh di hadapan kaum mukminin. Sesama kaum muslimin mereka saling bermusuhan, merasa lebih kuat, dan tidak mau rendah hati. Namun di hadapan orang kafir yang penjahat, mereka malah menjadi penakut.
๐๐๐ง๐๐ซ๐๐ฉ๐๐ง ๐๐๐ซ๐๐ค๐ญ๐๐ซ ๐๐๐ซ๐ฌ๐๐๐ฎ๐ญ ๐ฉ๐๐๐ ๐๐๐ฌ๐ฒ๐๐ซ๐๐ค๐๐ญ ๐๐ซ๐๐ง
Jika kita melihat dari lima karakter yang dijelaskan tadi, kita dapat melihat bahwa kelima sifat ini ada pada masyarakat Iran. Meskipun tidak semuanya, tetapi karakter inilah yang mewarnai masyarakat di sana.
Kriteria orang-orang yang disiapkan oleh Allah Ta’ala untuk menggantikan orang-orang yang keluar atau tidak patuh terhadap agama Allah, terpenuhi di sana.
Misalnya untuk contoh yang pertama, yaitu yuhibbuhum wa yuhibbunahu (Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah).
Masyarakat Iranโmeskipun saya tidak bisa merasakan hati semuanya, tetapi yang tampak di hadapan kita atau minimal yang saya pribadi saksikan selama beberapa tahun tinggal di Iranโmereka memiliki ikatan yang luar biasa dengan para Imam Ahlul Bait.
Mereka sangat rajin memenuhi haram-haram (makam suci). Ketika membaca Doa Kumail misalnya, mereka membacanya dengan menangis. Mereka memenuhi masjid-masjid di malam-malam Al-Qadr; baik pemuda, pemudi, orang tua, hingga mereka yang membawa anak kecil. Ini menjadi bukti bahwa mereka mencintai Allah SWT, dan Allah pun mencintai mereka dengan memberikan negeri yang berkah, kekayaan yang berlimpah, serta kemajuan teknologi yang luar biasa.
Fakta bahwa mereka bisa tetap maju di tengah boikot yang begitu keras selama 47 tahunโatau bahkan sejak tahun 1979-1980โmenunjukkan bahwa Allah mencintai mereka.
Tidak mudah menghadapi boikot yang menyasar lebih dari seribu sektor pemerintahan atau tokoh-tokoh Iran. Mereka mengalami blokade total dari Amerika dan negara-negara Barat, tetapi mereka mampu bertahan bahkan malah semakin maju dalam banyak hal.
Ada seorang pengamat bernama Salim Kulib dari Lebanon. Beliau bukan dari kalangan Syiah. Dia menulis sebuah makalah yang sempat saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Dalam tulisannya, dia mengaku bahwa awalnya dia mengira Iran itu negara yang terbelakang, kumuh, dan kotor karena sifatnya yang eksklusif dan tertekan oleh sanksi. Namun ketika dia pergi langsung ke Iran untuk melihat Teheran, dia terkejut melihat sebuah kota yang sangat bersih, modern, dan maju. Saluran-saluran airnya jernih, dan bangunannya ada di mana-mana seperti di Eropa.
Dia mengatakan, “Kota seindah Teheran bahkan tidak kami dapatkan di negara-negara Teluk seperti Mesir atau Aljazair yang tidak pernah diboikot oleh Amerika.”
Dia sangat kagum. Dia juga mengagumi para pemudanya yang pintar-pintar serta menjadi ahli di bidang sains dan informatika. Saya pun menyaksikan sendiri kenyataan demikian.
Mohon maaf, jika teman-teman yang pernah ke Teheran membandingkannya dengan Jakarta, bedanya jauh sekali. Jakarta mungkin indah dan mewah di sekitar jalan Sudirman, tetapi di luar Sudirman daerah kumuhnya tidak merata.
Sedangkan di Teheran, kemajuannya merata; jalannya lebar-lebar dan bersih. Memang ada sebagian sudut yang biasa, tetapi secara umum jauh lebih maju. Masyarakatnya pun tertib.
Di kota Qom yang merupakan kota kecil saja suasananya teratur dan rapi. Jika dibandingkan dengan kota Bandungโibu kota Jawa Barat yang sekarang baru mulai berbenahโTeheran dan Qom jauh lebih bersih.
Air di selokannya jernih dan tidak ada sampah-sampah. Kondisinya seperti di negara-negara maju padahal mereka diboikot selama 47 tahun. Itu adalah salah satu hal yang menunjukkan karunia Allah bagi mereka yang berjuang fi sabilillah .
Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa salah satu bukti dari perwujudan ayat ini adalah masyarakat Iran di era ini.
Terkait hal ini, Al-Imam Khomeini pernah berkomentar bahwa umat ini adalah umat yang gemar berjuang. Para pemudanya dengan suka rela, penuh kerinduan, dan semangat yang tinggi, maju ke medan perang.
Pernyataan ini beliau sampaikan karena beliau hidup pada masa perang 8 tahun melawan Irak. Para pemudanya dengan rindu dan semangat pergi ke front medan peperangan.
Dan betul, saya sendiri mengalami langsung di Iran pada masa perang Irak-Iran tersebut. Para pemudanya yang baru berumur 16 atau 18 tahun sudah berangkat ke front. Banyak di antara mereka yang syahid dan kepergiannya disambut oleh pihak keluarga dengan rasa bangga dan senang hati.
Bahkan ada seorang ibu yang keempat anaknya telah gugur syahid, menyatakan dirinya masih siap untuk menyerahkan anak berikutnya demi berjuang membela agama.
Ini adalah hal yang menarik; mereka bukanlah tentara bayaran, melainkan para sukarelawan dari kalangan pemuda, santri, hingga mahasiswa. Mereka berlomba-lomba mendaftarkan diri untuk maju perang melawan musuh.
Perang 8 tahun itu tidak hanya perang melawan Irak sendirian, tetapi Iran dikeroyok oleh hampir semua negara Arabโkecuali Suriahโdan di belakang mereka didukung penuh oleh Amerika serta Inggris.
Jadi, perang Iran pada masa itu dikeroyok oleh dunia, bahkan situasinya lebih dahsyat daripada sekarang. Perangnya pun masih bersifat konvensional yang berhadapan langsung, bukan sekadar menggunakan tombak, melainkan sudah menggunakan rudal.
Kata Imam Khomeini, para pemudanya dengan kerinduan dan semangat pergi ke medan laga untuk mencari jalan jihad dan mati syahid.
Waktu saya berada di sana, hampir setiap minggu saya ikut menyaksikan upacara pemakaman para syuhada di kota Qom, belum lagi di kota-kota yang lainnya.
Bahkan kata Imam Khomeini, sebagian dari para pemuda ini datang menemui beliau sambil menangis agar diberikan izin untuk pergi berperang.
Jadi, karena adanya satu dan lain hal yang membuat pemerintah belum mengizinkan mereka, mereka memaksa datang kepada Imam Khomeini, menangis dan bersikeras agar diizinkan ikut berperang, meskipun mereka tahu risikonya adalah kematian.
Keadaan waktu itu menunjukkan bahwa mereka adalah kaum yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena berani dan siap berkorban fi sabilillah , tentu berkat bimbingan dari Al-Imam Khomeini _qaddasallahu sirrahul ‘aziz_.
Imam Khomeini sendiri, ketika mengomentari para pemuda yang syahid dalam perang yang dipaksakan selama 8 tahun (dari tahun 1980 sampai 1988) tersebut, menyatakan: “Orang semacam saya ini memiliki keterbatasan, sehingga tidak akan mampu untuk menyifati kemuliaan para syuhada serta kedudukan tinggi mereka di sisi Allah Ta’ala.”
Seorang yang mati syahid memiliki kedudukan yang sangat tinggi setelah para Nabi dan Shiddiqin. Allah berfirman tentang orang-orang yang mendapatkan karunia-Nya: “Mina-nabiyyna, wash-shiddiqiina, wash-syuhada’i, wash-shalihin.”
Yaitu para Nabi, para Shiddiqin, para Imam, para Syuhada, serta orang-orang saleh. Kata Imam Khomeini, bagaimana mungkin orang seperti beliau bisa mengomentari para syuhada yang memiliki kedudukan begitu tinggi di surga Allah SWT? Rasanya pena ini tidak akan mampu menjelaskan tentang kedudukan mereka.
Lalu beliau juga berdoa kepada Allah Ta’ala. Beliau mengaku iri hati dan ingin menjadi pemuda kembali agar bisa ikut berperang dan mati syahid.
Sosok sekaliber Imam Khomeini, seorang yang Arif Billah , merasa iri hati dan ingin mati syahid. Beliau berkata, “Kalau saya masih muda, saya akan perang membela Islam. Tetapi sekarang saya sudah tua dan uzur, sehingga tidak mungkin lagi mengangkat senjata.”
Beliau menyampaikannya sambil menangis karena ingin seperti para syuhada. Yang berbicara ini bukan sembarang orang, melainkan Imam Khomeini yang sangat memahami kedudukan seorang syahid di mata Allah SWT.
Padahal, beliaulah sosok yang melahirkan dan mendidik para pemuda yang siap berjuang tersebut, namun beliau tetap merasakan bahwa orang yang mati syahid adalah orang yang paling beruntung.
๐๐๐ฎ๐ญ๐๐ฆ๐๐๐ง ๐๐๐ญ๐ข ๐๐ฒ๐๐ก๐ข๐ ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐๐ข๐ฐ๐๐ฒ๐๐ญ ๐๐ฆ๐๐ฆ ๐๐ฅ๐ข
Banyak sekali riwayat hadis tentang keutamaan mati syahid. Tentu saya tidak akan membacanya semua, melainkan sebagian saja.
Salah satunya berasal dari Imam Ali bin Abi Thalib alaihis-salam. Suatu waktu setelah Perang Uhud selesai, beliau datang menemui Rasulullah SAW. Dalam Perang Uhud, Imam Ali bertindak sebagai pahlawan, tetapi beliau datang kepada Rasulullah dengan perasaan sedih dan menangis karena beliau belum dikaruniai mati syahid.
Beliau as berkata kepada Rasulullah, “๐ ๐ข ๐๐ข๐ด๐ถ๐ญ๐ถ๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ-๐ต๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐จ๐ถ๐จ๐ถ๐ณ ๐ด๐บ๐ข๐ฉ๐ช๐ฅ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐บ๐ข๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ: ‘๐๐ข๐ฉ๐ข๐ช ๐๐ญ๐ช, ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ด๐บ๐ข๐ฉ๐ช๐ฅ.’ ๐๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข ๐๐ข๐ด๐ถ๐ญ๐ถ๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ด๐บ๐ข๐ฉ๐ช๐ฅ?”
Rasulullah menjawab, “๐๐ข๐ฃ๐ข๐ณ, ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ด๐บ๐ข๐ฉ๐ช๐ฅ.” Setelah mendapat kepastian dari Rasulullah bahwa beliau akan syahid, Imam Ali berkata, “๐๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ, ๐ด๐ข๐บ๐ข ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐บ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ณ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ด๐บ๐ข๐ฉ๐ช๐ฅ.”
Jadi, Imam Ali alaihis-salam sejak usia muda sudah sangat mengidam-idamkan mati syahid. Beliau belum syahid sampai Nabi meninggal dunia. Kemudian pada masa kekhalifahan pertama, kedua, dan ketiga, Imam Ali tidak berperang sehingga belum syahid.
Namun akhirnya setelah sekian puluh tahun berlalu, beliau baru mereguk cawan kesyahidan dengan cara yang sangat fenomenal: di bulan puasa (Ramadan), di malam Al-Qadr, di dalam masjid, dan di saat sedang melaksanakan perbuatan yang paling mulia (salat sujud).
Ini adalah fadhl (karunia) yang bertumpuk-tumpuk yang Allah berikan kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Beliau merindukannya dalam waktu yang sangat lama.
Jadi, orang yang merindukan syahadah hanyalah orang-orang yang beriman dan orang-orang yang baik. Nabi SAW bersabda bahwa setiap kebaikan itu di atasnya masih ada kebaikan yang lain, sampai seorang hamba terbunuh di jalan Allah ( fi sabilillah ).
Jika seseorang telah terbunuh fi sabilillah , maka tidak ada lagi kebaikan yang berada di atas derajat mati syahid tersebut. Makam atau derajat syahadah ini berada sangat tinggi sekali di bawah para Nabi dan Shiddiqin.
Ada riwayat yang disepakati baik oleh jalur Sunni maupun Syiah bahwa para syuhada tidak akan dihisab di hari mahsyar, melainkan langsung masuk ke dalam surga karena semua dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dari Imam Ja’far as-Sadiq alaihis-salam, beliau berkata bahwa tidak ada dua tetesan yang lebih Allah cintai daripada dua tetes ini: yang pertama adalah tetesan darah yang tumpah di jalan Allah ( fi sabilillah ), dan yang kedua adalah tetesan air mata yang tumpah di tengah malam ketika seseorang berdoa dan takut kepada Allah Ta’ala .
Dua jenis tetesan air ini sangat dicintai oleh Allah SWT, dan tidak ada yang lebih dicintai melebihi keduanya. Luar biasanya, kedua tetesan ini ada pada pribadi Imam Ali bin Abi Thalib alaihis-salatu was-shalam.
๐๐ข๐ฌ๐๐ก ๐๐ข๐ฆ๐ฉ๐ข ๐๐ฌ๐ญ๐ข๐ฆ๐๐ฐ๐ ๐๐๐ง ๐๐๐ฌ๐ฒ๐๐ก๐ข๐๐๐ง ๐๐๐ฒ๐ฒ๐ข๐ ๐๐ฅ๐ข ๐๐ก๐๐ฆ๐๐ง๐๐ข
Sekarang kita berbicara tentang Al-Imam Ali Khamenei. Semua hadis-hadis tentang keutamaan syahadah, tentang orang yang merindukan syahadah seperti Imam Ali AS, serta tentang bagaimana kematian mulia yang dihadapi oleh manusia terbaik, itu ada pada diri beliau.
Beliau dahulu digelari oleh Imam Khomeini dengan sebutan Syahid Zendeh (Syahid yang Berjalan/Hidup). Yaitu ketika beliau sedang berceramah, lalu ada bom di dalam alat perekam ( tape recorder ) yang meledak tepat di depan mata beliau.
Beliau selamat dan tidak sampai gugur, tetapi tangan kanannya menjadi cacat akibat peristiwa itu. Tentu saat itu beliau merasa menyesal mengapa tidak langsung mati syahid, karena orang-orang seperti beliau memang sangat merindukan syahadah. Beliau bukan hanya seorang ulama, melainkan seorang pejuang sejak usia muda yang mendambakan mati syahid.
Beliau membuktikannya dengan senantiasa mendatangi dan menjenguk keluarga para syuhada secara rutin dan berkala. Keluarga yang suaminya syahid atau anaknya syahid, secara rutin beliau datangi.
Bahkan beliau juga mendatangi keluarga dari kalangan orang Kristen yang anaknya gugur sebagai syahid dalam membela negara. Beliau menyebut pemuda non-muslim tersebut sebagai syahid.
Ini adalah hal yang menarik sekali; cara pandang beliau begitu luas. Beliau datang ke rumah ibu dari anak syuhada tersebut sebagai bukti nyata bahwa beliau sangat menyayangi, rindu, dan berempati kepada keluarga syahid.
Terkait hal ini, ada sebuah kisah. Ada seorang ibu syuhada yang anaknya gugur syahid. Perempuan ini bermimpi bertemu dengan Sayyidah Fatimah Zahra alaihas-salam.
Dalam mimpi tersebut, Sayyidah Fatimah berpesan kepada ibu ini, “Wahai perempuan, sampaikan kepada cucuku agar dia jangan berdoa meminta syahid. Jangan berdoa meminta mati segera, jangan meminta cepat mati.”
Ibu ini terbangun dari tidurnya dan merasa bingung mengenai siapa yang dimaksud dengan “cucu Sayyidah Fatimah” di dalam mimpinya itu.
Selang beberapa waktu kemudian, Rahbar (Pemimpin) datang berkunjung ke rumahnya dalam rangka agenda rutin menziarahi keluarga syuhada.
Saat melihat kedatangan Rahbar, ibu tersebut langsung teringat akan mimpinya. Dia berpikir bahwa Rahbar adalah seorang Sayyid (keturunan Nabi melalui Sayyidah Fatimah Zahra).
Maka ibu itu menyampaikan, “Wahai Rahbar, saya pernah bermimpi bertemu Bunda Zahra, dan beliau menyampaikan pesan ini untuk cucunya: jangan berdoa meminta mati syahid segera.”
Mendengar hal itu, Rahbar langsung menangis. Beliau mengakui bahwa beliau memang selalu berdoa agar bisa segera mati syahid.
Ini menunjukkan adanya hubungan batin yang luar biasa. Doa pribadi yang dipanjatkan oleh seseorang secara rahasia dan tidak pernah diketahui oleh orang lain, ternyata sampai dan diketahui oleh Sayyidah Fatimah Zahra.
Ini menjadi bukti bahwasanya para Imam itu hidup, menyaksikan kita, dan mengetahui apa yang kita inginkan. Jika para syuhada saja hidup di alam barzah, apalagi para Ma’shumin .
Jangankan apa yang kita lakukan, apa yang kita inginkan dan dambakan di dalam hati pun sampai kepada para Ma’shumin .
Tentu cerita mimpi ini bisa saja ditolak karena ini bukan argumen rasional atau dalil syariat, melainkan berfungsi sebagai penguat ( penambah ).
Namun jika kita berbicara tentang alam barzah dan masalah jiwa, hal seperti ini bisa dibuktikan kebenarannya. Mimpi Nabi Yusuf AS di dalam Al-Quran juga merupakan sebuah kebenaran. Tidak semua mimpi itu salah atau sekadar bunga tidur, melainkan ada mimpi yang benar ( ru’ya shadiqah ).
Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa mimpi seorang mukmin yang saleh adalah satu bagian dari percikan kenabian. Mimpi orang saleh itu bukanlah sembarang mimpi.
Melihat rekam jejak perjuangannya, maka Rahbar sangat pantas mendapatkan cawan kesyahidan ini. Inilah balasan dan kenikmatan besar yang beliau terima dari Allah SWT.
Beliau sangat beruntung karena meninggal di bulan Ramadan, tepatnya pada tanggal 10 Ramadan. Ini adalah sebuah kemuliaan. Selain itu, beliau dibunuh oleh manusia yang paling jahat pada abad ini, yaitu Trump dan Netanyahu.
Trump dengan bangga mengakui bahwa dialah yang membunuh pemimpin Iran, padahal mahkamah internasional seharusnya menuntutnya atas pengakuan tersebut, tetapi dunia memilih diam.
Sebagai penguasa dunia yang paling ditakuti, dia melakukan apa saja tanpa mengindahkan undang-undang internasional. Beliau dibunuh oleh Firaun abad ini, dan itu merupakan sebuah kemuliaan bagi Rahbar. Begitu pula dengan Netanyahu yang sama jahatnya, yang telah membantai puluhan ribu rakyat Palestina.
Rahbar dibunuh oleh dua penjahat dunia, dan ini adalah sebuah kemuliaan serta kebanggaan. Beliau meninggal tidak sendirian, melainkan bersama cucunya yang paling kecil, bersama menantunya, dan yang lain-lainnya. Ini adalah sebuah peristiwa pembantaian yang sangat jahat, di mana beliau menjadi korban bersama beberapa orang terdekatnya.
Bagi beliau pribadi, ini adalah satu kehormatan sebagai seorang mujahid dan syahid di jalan Allah SWT. Beliau wafat dengan cara yang mulia karena Allah telah mengabulkan doanya untuk mati syahid.
Tentu kita yang ditinggalkan merasa sangat bersedih, tetapi bagi beliau ini adalah sebuah keberuntungan yang luar biasa. “Demi Tuhan Pemilik Ka’bah, aku telah beruntung,” sebagaimana ucapan kakeknya, Al-Imam Ali bin Abi Thalib.
Di sisi lain, putra beliau yaitu Sayyid Mojtaba Khamenei, tentu merasakan kesedihan yang tidak kalah mendalam. Dalam waktu yang bersamaan, ayahnya meninggal, istrinya meninggal, dan anaknya juga meninggal. Dia sendiri pun mengalami luka-luka.
Kondisi Sayyid Mojtaba ini seperti keadaan Imam Ali bin Husain As-Sajjad alaihis-salam, sementara posisi Rahbar yang gugur dibantai bersamanya adalah seperti kakeknya, Imam Ali dan Imam Husain alaihis-salatu was-shalam.
๐๐๐ง๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฉ ๐๐๐ง ๐๐ฃ๐๐ค๐๐ง ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐๐๐ฆ๐ฎ๐ฅ๐๐ข ๐๐ข๐ก๐๐ ๐๐ข๐ ๐ข๐ญ๐๐ฅ
Peristiwa besar ini terjadi pada zaman kita sekarang. Ini bukan cerita fiksi di dalam buku sejarah, dan bukan dongeng orang-orang dahulu kala.
Ini terjadi di zaman kita, di mana kita bisa mengikuti seluruh perkembangannya melalui layar televisi maupun lewat HP kita. Ini bukan dongeng, melainkan sebuah peristiwa riata yang kita ikut menyaksikannya.
Bagi kita yang berada jauh dari sana, tugas kita adalah belajar dan mengambil hikmah. Siapakah diri kita ini?
Apakah kita mau ikut bersama beliau untuk mengutamakan perjuangan dan membela kebenaran, ataukah kita hanya sekadar bergelut dalam urusan duniawi saja?
Jangan sampai kita meninggalkan majelis-majelis yang mengantarkan diri kita kepada Allah hanya demi hal-hal yang sifatnya duniawi.
Ini adalah sebuah pelajaran penting bahwa bagaimanapun juga, manusia pasti akan mati. Tetapi, mati yang terbaik adalah mati fi sabilillah .
Ini adalah kesempatan untuk kita semua. Jika kita sekarang tidak sedang berada dalam keadaan perangโdan perang memang bukanlah suatu hal yang kita harapkan, kita justru ingin dijauhkan dari perangโtetapi perlu diingat bahwa jihad fi sabilillah itu tidak mesti diwujudkan dengan perang fisik.
Berdakwah, mengajar, berbakti kepada orang tua, membantu fakir miskin, dan menyuarakan kebenaran, itu semua adalah contoh-contoh nyata dari jihad fi sabilillah .
Kita semua bisa melakukan jihad dengan menggunakan HP yang kita miliki ini. Manfaatkan HP ini untuk jihad fi sabilillah dengan cara menyebarkan kebenaran.
Menyebarkan kebenaran adalah bentuk jihad yang tidak memerlukan biaya yang berat. Jangan pernah gentar menyampaikan kebenaran kepada teman maupun kepada keluarga. Jangan takut terhadap lawmata la’im (cacian orang yang mencaci).
Ketika menyampaikan kebenaran, kita tidak usah takut dicaci, dikucilkan, atau dianggap Syiah dan sebagainya.
๐๐๐ง๐ ๐๐ฉ๐ ๐ก๐๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐ญ๐๐ค๐ฎ๐ญ? Paling-paling kita hanya dinyinyiri atau dikucilkan di media sosial, sementara para syuhada di sana harus menghadapi bom dan dibunuh demi kebenaran.
Jadi, sama sekali tidak ada alasan bagi kita untuk merasa takut. Jika kita mau berjuang di jalan Allah dengan perangkat HP yang tidak memerlukan biaya besar ini, maka sampaikanlah kebenaran itu dengan cara yang benar, bukan dengan cara mencaci maki balik.
Jika ada orang-orang tertentu di Jakarta yang berani menyinggung dan mencaci maki tokoh besar dari kaum muslimin secara salah dan vulgar di Facebook atau Instagram, mengapa kita justru tidak berani menyampaikan kebenaran dengan cara yang benar?
Mereka yang tidak berakhlak saja begitu berani mencaci maki dengan cara yang salahโyang mana perbuatan mereka itu tentu kita kutukโlalu mengapa kita yang ingin menyampaikan kebenaran dengan cara yang benar justru merasa takut?
๐๐ ๐ฒ๐๐ค๐ก๐๐๐ฎ๐ง๐ ๐ฅ๐๐ฐ๐ฆ๐๐ญ๐ ๐ฅ๐’๐ข๐ฆ. Ini adalah ciri dari manusia-manusia pilihan; mereka tidak pernah takut terhadap cacian orang dalam menyampaikan kebenaran.
Inilah hal yang harus kita pelajari dari sosok Sayyid Ali Khamenei ๐ฒ๐ข๐ฅ๐ฅ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ๐ถ ๐ด๐ช๐ณ๐ณ๐ข๐ฉ. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai bagian dari orang-orang yang dijanjikan oleh Allah untuk menggantikan orang-orang yang tidak patuh terhadap agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
๐๐ข๐ฃ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ข ๐ข๐ต๐ช๐ฏ๐ข ๐ง๐ช๐ฅ-๐ฅ๐ถ๐ฏ๐ช๐ข ๐ฉ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ข๐ฉ, ๐ธ๐ข ๐ง๐ช๐ญ-๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ๐ข๐ต๐ช ๐ฉ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ข๐ฉ, ๐ธ๐ข ๐ฒ๐ช๐ฏ๐ข ‘๐ข๐ฅ๐ป๐ข๐ฃ๐ข๐ฏ-๐ฏ๐ข๐ณ.
______
dari ๐ค๐ฆ๐ณ๐ข๐ฎ๐ข๐ฉ ๐๐ด๐ต๐ข๐ฅ๐ป ๐๐ถ๐ด๐ฆ๐ช๐ฏ ๐๐ญ๐ฌ๐ข๐ง๐ง
Husainiyah Az-Zahra Bandung
Kamis, 9 Juli 2026 / 23 Muharam 1448 H

