Banyak orang heran dan bertanya-tanya, mengapa syiah terus-menerus mengenang pembantaian Imam Husain dan keluarga Nabi tgl 10 Muharram di padang tandus Karbala, yang terjadi sudah lama, 1380-an tahun yang lalu?
Untuk apa? Kenapa harus menangis, berkabung, bahkan merasa seolah tragedi itu baru kemarin terjadi?
Sebelum menjawab itu semua, mari kita pikirkan sejenak dengan jernih fakta ini: kok bisa ya, cucu Nabi, Imam Husein bin Ali, yang dikenal dengan kebaikan, keberanian, dan keadilannya, justru dibantai oleh orang-orang yang mengaku umat Islam sendiri?
Lebih dari itu: kenapa tragedi tsb masih bergema hingga hari ini, menjadi luka yang tak pernah kering bagi hati nurani umat manusia?
Bukan Sekadar Duka Sejarah
Peristiwa Karbala pada tahun 680 M bukan cuma catatan masa lalu.
Ia bukan semata tragedi personal atas seorang pemimpin yang dikhianati.
Justru Karbala telah menjadi simbol abadi: tentang perlawanan terhadap tirani, tentang keberanian berkata “tidak” pada kekuasaan yang menyimpang, dan tentang harga yang harus dibayar demi menegakkan keadilan.
Imam Husein tak hanya sekadar syahid. Beliau disembelih karena ia memilih untuk tidak diam.
Itulah alasan pertama mengapa kita harus menangis: karena dunia ini masih sering berpihak pada Yazid.
Ketika penguasa bisa menyulap kebohongan jadi kebenaran. Ketika hukum jadi alat kekuasaan, bukan penjaga keadilan. Ketika suara nurani dibungkam demi “stabilitas semu”. Di situlah Karbala kembali terulang.
Tangisan atas Husein bukan sekadar ratapan duka. Ia adalah bentuk penolakan paling dalam terhadap sistem yang korup. Ia adalah air mata yang menolak tunduk.
Tangisan yang Membebaskan
Mungkin terdengar paradoks: apa gunanya menangis? Bukankah lebih baik kita bertindak?
Mari kita jujur: kita tak akan bisa bertindak benar jika kita tak benar-benar merasa. Dan tangisan yang lahir dari hati yang sadar adalah awal dari kesadaran kolektif.
Frantz Fanon, dalam karyanya The Wretched of the Earth, menyebut bahwa kekejaman kolonial dan penindasan tak akan berubah hanya dengan logika.
Ia harus diguncang oleh kesadaran emosional yang menggelegak, oleh penderitaan yang tak ditampik.
Menangisi Husein adalah mengakui luka umat ini.
Luka yang kita warisi. Luka yang kita lihat di Gaza, di Yaman, di Myanmar. Luka yang menetes dari tubuh anak-anak yang tak pernah tahu kenapa bom bisa jatuh di rumah mereka.
Dan yang lebih menyakitkan: luka itu tak selalu datang dari luar. Kadang justru dari saudara sendiri. Dari mereka yang memakai simbol agama, tapi menjadikan agama alat untuk kekuasaan.
Karbala dalam Dunia Modern
Lalu, di mana letak Karbala hari ini?
Karbala ada ketika jurnalis dibungkam karena memberitakan kebenaran. Karbala hadir saat rakyat kecil digusur demi proyek raksasa yang hanya menguntungkan segelintir orang. Karbala ada di ruang kelas yang mengabaikan anak miskin. Di layar TV yang hanya menampilkan opini elite. Di pabrik-pabrik yang mengeksploitasi tubuh perempuan atas nama efisiensi.
Karbala bukan hanya padang pasir. Ia adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan sistemik.
Dan karena itu, air mata kita untuk Husein adalah pernyataan: kami tak akan diam.
Air Mata yang Menyatukan
Tentu saja, ada orang yang merasa risih. Kenapa harus menangisi masa lalu? Bukankah Islam mengajarkan kesabaran, bukan ratapan?
Pertanyaan ini wajar. Tapi mari kita lihat fakta sejarah: Rasulullah saw sendiri menangis saat tahu apa yang akan menimpa cucunya.
Ia bahkan, dalam banyak riwayat, menyebut Karbala sebelum peristiwanya terjadi.
Salah satunya diriwayatkan dalam Musnad Ahmad dan Sunan Tirmidzi—bahwa tanah Karbala sudah ditunjukkan oleh Jibril kepada Nabi.
Bukan cuma itu. Dalam budaya banyak bangsa, tangisan bukan tanda kelemahan. Ia tanda bahwa kita masih hidup, bahwa kita masih peduli.
Di Iran, Irak, India, Pakistan, hingga Indonesia—ritual mengenang Karbala bukan hanya ritual agama. Ia jadi ruang kolektif untuk merefleksi keadaan umat. Tempat orang-orang dari berbagai latar bisa merasa: kami bersama dalam luka ini.
Menggugat Budaya Diam
Kenapa Husein bangkit? Karena ia tak mau membiarkan Islam dikendalikan oleh rezim yang memutarbalikkan ajaran.
Bayangkan: saat itu, Yazid bin Muawiyah mewarisi kekuasaan secara turun-temurun, seperti kerajaan. Padahal Islam mengajarkan prinsip keadilan dan musyawarah.
Imam Husein bisa saja diam. Ia bisa memilih hidup nyaman. Tapi ia tahu: diam adalah pengkhianatan.
Maka ketika ia berkata:
“Aku tidak keluar untuk membuat kerusakan atau menebar kezaliman. Aku keluar untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan, serta mengikuti jalan kakekku dan ayahku.”
Itu bukan slogan. Itu komitmen hidup.
Dan ironisnya, kita hidup di zaman ketika banyak tokoh—baik agama maupun politik—lebih memilih diam. Mereka lebih takut kehilangan jabatan ketimbang kehilangan nurani.
Di tengah dunia seperti ini, Husein adalah pengingat: kadang kebenaran harus dibayar dengan darah.
Apa Jadinya Jika Tak Ada Air Mata Itu?
Bayangkan dunia tanpa peringatan Karbala. Dunia tanpa tangisan atas Husein.
Mungkin, banyak orang akan mengira bahwa sejarah adalah milik pemenang. Bahwa yang kuat selalu benar. Bahwa kebenaran bisa dikompromikan demi “perdamaian.”
Tapi peringatan Karbala menolak itu semua.
Ia berkata: ada kebenaran yang tak bisa dikompromikan. Ada keberanian yang tak bisa dibeli. Ada martabat yang tak bisa digadaikan.
Itulah sebabnya air mata kita penting. Karena tanpa mereka, kita bisa jadi mati rasa. Kita bisa lupa bahwa kita pernah punya panutan yang rela kehilangan segalanya, asal nilai yang ia bawa tetap hidup.
Karbala, Palestina, dan Dunia yang Luka
Hari ini, nama-nama seperti Husein terasa hidup di wajah anak-anak Palestina yang melempar batu ke tank-tank baja. Di tubuh wartawan yang dibunuh karena memberitakan kebenaran. Di suara-suara yang tak pernah kita dengar, tapi mereka tetap menulis, tetap berjuang, tetap menyala.
Mereka adalah penerus semangat Karbala.
Dan justru karena itulah, Karbala bukan hanya sejarah orang Syiah. Ia adalah warisan bersama semua yang peduli pada kebenaran.
Ketika Imam Khomeini berkata, “Setiap hari adalah Asyura, dan setiap tempat adalah Karbala,” itu bukan retorika.
Itu ajakan untuk melihat: bahwa tugas membela kebenaran itu tak pernah selesai.
Menangisi Husein, Membangun Kesadaran
Tangisan atas Husein adalah bentuk terapi kolektif umat.
Di tengah dunia yang makin tidak adil, kita butuh ruang untuk merasa. Untuk merenung. Untuk menyadari bahwa perubahan butuh pengorbanan.
Dan dalam setiap majelis, dalam setiap lantunan elegi …. ada semacam kontrak spiritual: bahwa kita tak akan membiarkan dunia kembali dikendalikan oleh Yazid zaman ini.
Kesyahidan Husein dan Jalan yang Kita Pilih
Pada akhirnya, Karbala memaksa kita untuk memilih. Mau jadi bagian dari barisan Husein, atau menjadi pengekor Yazid.
Mau jadi mereka yang diam demi selamat, atau jadi mereka yang bersuara walau terancam.
Mau memeluk luka umat ini, atau berpaling dan hidup nyaman dalam kubah ego kita sendiri.
Imam Husein memilih untuk bangkit meski tahu bahwa ia akan dibunuh. Tapi ia juga tahu: jika ia tak bangkit, dunia ini akan makin gelap.
Dan lewat kesyahidannya, ia menyalakan cahaya yang terus menyala hingga hari ini.
Saat Tangisan Menjadi Janji
Jadi, kenapa kita harus menangisi Husein?
Karena dunia masih perlu orang-orang yang menangis demi kebenaran.
Karena selama masih ada ketidakadilan, kita perlu tempat untuk mengingat bahwa keberanian itu mungkin.
Bahwa kesetiaan pada nilai lebih penting dari nyawa.
Bahwa cinta sejati tak butuh balasan duniawi.
Tangisan kita adalah janji. Bahwa kita tak akan diam. Bahwa kita tak akan membiarkan darah Husein mengering sia-sia.
Dan mungkin, hanya lewat tangisan-tangisan semacam ini, dunia bisa tetap punya harapan.
Referensi:
1. Lesley Hazleton, After the Prophet: The Epic Story of the Shia-Sunni Split in Islam, Anchor Books, 2010.
2. Hamid Dabashi, Shi’ism: A Religion of Protest, Harvard University Press, 2011.
3. Frantz Fanon, The Wretched of the Earth, Grove Press, 1961.
4. Riwayat hadis dari Musnad Ahmad dan Sunan Tirmidzi tentang kesedihan Nabi atas cucunya.
5. Laporan Human Rights Watch dan Al-Jazeera soal pelanggaran HAM di kawasan konflik Muslim.

