Sabtu, 31 Oktober 2026
Channel Quraish Shihab

Tafsir Q.S. An-Najm: 24-32 | Hidup Bersama Al-Quran: Tafsir Al-Mishbah Episode 8

Tafsir Q.S. An-Najm: 24-32 | Hidup Bersama Al-Quran: Tafsir Al-Mishbah Episode 8
Ilustrasi Tafsir Q.S. An-Najm: 24-32 | Hidup Bersama Al-Quran: Tafsir Al-Mishbah Episode 8
Ukuran teks:

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Setiap manusia mempunyai harapan, namun sering kali hal yang tidak diinginkan dapat terjadi kepada dirinya dan berlaku terbalik dari harapannya.

Lalu apa yang harus dilakukan? apakah cukup pasrah dengan takdir yang sudah terjadi?

Simak Penjelasan lengkap Tafsir Al-Quran bersama M. Quraish Shihab dan Najelaa Shihab, di Hidup Bersama Al-Quran edisi spesial Tafsir Al-Mishbah.

Harapan Manusia vs Kehendak Allah (Ayat 24-25)

Pembahasan diawali dengan pertanyaan retoris dari ayat ke-24: “Apakah manusia mampu memperoleh semua apa yang diharapkannya?”.
Abi menjelaskan bahwa jawabannya adalah tidak. Banyak manusia wafat dengan membawa harapan yang belum terpenuhi di dunia.
Terdapat pepatah yang mengatakan bahwa sering kali “perahu diarahkan oleh angin yang tidak dikehendaki penumpangnya”.

Kaum musyrik dahulu memiliki banyak harapan yang tidak sesuai kenyataan, seperti menginginkan orang lain selain Nabi Muhammad yang menjadi utusan Allah, atau berharap agama Islam tidak berhasil.
Pesan utamanya adalah manusia boleh berusaha, namun harus ingat bahwa di atas segalanya ada kuasa Allah. Segala sesuatu, baik di dunia maupun di akhirat, berada dalam kendali-Nya (Fali-llahil akhiratu wal ula).

Abi juga meluruskan pemahaman yang keliru tentang pasrah. Kita tidak boleh mengabaikan ikhtiar (seperti menghadapi wabah) dengan alasan takdir.
Tawakal dan pengembalian urusan kepada Allah dilakukan setelah usaha maksimal dilakukan. Penekanan pada “akhirat” didahulukan dalam ayat ini karena di sana kehendak Allah berlaku secara mutlak tanpa ada yang bisa menyangkal-Nya lagi.

 

Hakikat Syafaat (Ayat 26)

Ayat selanjutnya menjelaskan tentang malaikat. Meskipun jumlahnya banyak dan mereka adalah utusan Allah yang mengelola hukum alam, syafaat (pertolongan) para malaikat tidak akan berguna sedikit pun tanpa izin Allah.

Syafaat digambarkan sebagai kondisi di mana seseorang yang kedudukannya rendah meminta bantuan kepada pihak ketiga untuk menyampaikan permohonan kepada pihak tujuan.
Di hari kemudian, syafaat hanya bisa terjadi jika:

  1. Allah memberikan izin kepada pemberi syafaat untuk meminta.
  2. Allah memberikan izin bagi siapa yang dimintakan syafaat tersebut.
  3. Orang tersebut termasuk yang diridhai oleh Allah.

Kritik terhadap Persangkaan Tanpa Ilmu (Ayat 27-30)

Ayat 27 menyindir orang-orang yang tidak percaya hari kiamat dan menamai malaikat dengan nama-nama perempuan.
Mereka tidak memiliki pengetahuan dan hanya mengikuti persangkaan (dzann).
Padahal, kebenaran tidak bisa dicapai melalui perkiraan, melainkan harus berdasarkan ilmu pengetahuan.

Nabi Muhammad diingatkan untuk berpaling dari mereka yang hanya menginginkan kehidupan dunia.
Orang-orang seperti ini tidak memiliki orientasi akhirat; doa mereka hanya untuk kepentingan duniawi tanpa meminta kebaikan (hasanah) di akhirat.
Itulah batas pengetahuan mereka: hanya mengetahui hal-hal lahiriah dan fana, tanpa memahami hal yang batin dan kekal.

Keadilan dan Balasan Allah (Ayat 31-32)

Allah Maha Mengetahui siapa yang tersesat dan siapa yang mendapat petunjuk.
Abi menekankan bahwa manusia tidak berhak menuduh orang lain sesat atau merasa dirinya paling suci. Segala sesuatu di langit dan bumi adalah milik Allah, dan Dia akan memberikan balasan yang adil.

Ada perbedaan menarik dalam redaksi ayat mengenai balasan:

  • Perbuatan buruk dibalas sesuai dengan apa yang mereka kerjakan (Bima ‘amilu).
  • Perbuatan baik dibalas dengan kebaikan yang lebih besar (Al-Husna), yang merupakan anugerah dan rahmat Allah.

Abi menyebutkan bahwa surga diperoleh bukan semata-mata karena amal, melainkan karena ridha dan anugerah Allah.
Hal ini juga menjadi penghibur bahwa ketidakadilan yang terjadi di dunia (seperti orang baik yang terzalimi) akan ditegakkan seadil-adilnya di akhirat.

Dosa Kecil dan Larangan Merasa Suci (Ayat 32)

Siapakah orang yang berbuat baik itu? Mereka adalah orang yang menjauhi dosa-dosa besar (kaba’ir) dan perbuatan keji (fawahish), kecuali “lamam” atau dosa-dosa kecil.
Tidak ada manusia yang benar-benar suci dari kesalahan. Allah Maha Luas ampunannya terhadap dosa-dosa kecil ini, terutama jika dibarengi dengan amal baik seperti shalat.

Allah sangat mengenal manusia, bahkan sejak dari tanah hingga menjadi janin di rahim ibu.
Oleh karena itu, Allah berfirman: “Falla tuzakku anfusakum”โ€”janganlah kamu menganggap dirimu suci. Kita tidak boleh sombong dengan amal perbuatan kita atau merasa lebih baik dari orang lain.


Tanya Jawab: Menceritakan Pengalaman Spiritual

Dalam sesi tambahan, Dr. Ina Salma Febriani menjelaskan bahwa menceritakan pengalaman spiritual pribadi kepada orang lain hukumnya boleh, asalkan tujuannya untuk motivasi dan dalam batas wajar, bukan untuk berbangga diri atau pamer kesucian.

Penutup

Abi merangkum bahwa kunci utamanya adalah jangan mengandalkan amal semata, tetapi andalkanlah pengampunan dan ridha Allah.
Kita harus selalu merasa butuh akan ampunan-Nya karena Dialah yang paling tahu siapa yang benar-benar bertakwa.

Hikmah Surah An Najm 24

Akan tayang setiap hari selama bulan Ramadan hanya di YouTube channel Quraish Shihab

#hidupbersamaalquran #tafsiralmishbah #quraishshihab #ramadan1441

Follow:
https://instagram.com/quraish.shihab

Dapatkan buku karya M. Quraish Shihab:
https://store.lenterahati.com/id/281-mqs-corner

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Hak Asasi Setiap Orang

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us