Minggu, 1 November 2026

Makna Taqwa Menurut Rahbar

Ukuran teks:

Oleh Ustadz Habri Zen

Secara bahasa, takwa berasal dari bahasa arab yang bermakna โ€˜menjaga diri dari segala yang membahayakan atau membawa mudharat (kebinasaan). (Mufradat kata waqa hal.881)

Sejumlah pakar bahasa berpendapat bahwa kata ini lebih tepat diterjemahkan dengan โ€œberjaga-jaga atau melindungi diri dari sesuatu.” (Lisan Arab, juz 15, hal.378)

Kata ini pun memiliki akar kata dari waqaโ€“yaqiโ€“wiqayah yang berarti โ€˜menjaga diriโ€™, โ€˜menghindariโ€™, dan โ€˜menjauhiโ€™, yaitu menjaga sesuatu dari segala yang dapat menyakiti dan mencelakakan. (Raghib Isfahani, Mufradat, kata waqa)

Rahbar berkali-kali dalam ceramahnya menekankan syarat-syarat kemenangan dihadapan musuh. Salah satunya adalah takwa.

Beliau berkata, โ€œKemenangan melawan kebatilan dan arogansi dunia memiliki syarat-sayarat lazim, salah satunya adalah takwa.โ€ (Pertemuan dengan majelis khubrighan, 15/12/1392 syamsi)

Takwa dalam definisi Rahbar bermakna luas. Beliau menjelaskan bahwa takwa tidak memiliki satu dimensi saja.

Beliau berkata, โ€œImam Ali as dalam setiap ceramahnya selalu berpesan, bertakwalah! Ini karena takwa adalah esensi keseluruhan Islam. Ketika takwa hadir dalam satu masyarakat, maka akan menyelesaikan seluruh problematika materi maupun non-materi masyarakat tersebut. Itulah takwa.”

“Takwa dalam arti sebenarnya, bukan hanya menjaga mata dari non muhrim atau menjauhi hal-hal haram, itu semua memang bagian dari takwa. Takwa memiliki cakupan yang lebih luas. Takwa adalah menjaga diri dan gerakan kita serta berusaha tetap berkomitmen di jalan yang lurus. Ini takwa.โ€ (Ceramah Rahbar kala Ghadir Khum.30/06/1395)

Rahbar menjelaskan hakikat takwa dan membaginya dalam beberapa macam. Di antaranya: Takwa personal, takwa ibadah, takwa akhlak dan takwa sosial, yang membawahi di antaranya, takwa politik dan takwa ekonomi.

Beliau berkata, โ€œ Kita memiliki takwa personal (fardi) yang mana saya dan kalian diperintahkan untuk jauh dari segala dosa, kita juga memiliki takwa sosial (ijtima’i) yang mana saya dan kalian diperintahkan agama untuk menegakkan keadilan, menolong orang-orang tertindas, penentangan terhadap kezaliman dan arogansi serta tidak berdamai dengan mereka.

Inilah yang diinginkan Islam dari kita. Barang siapa memisahkan ini dari Islam, maka ia tidak mengenal hakikat Islam.โ€ (Pertemuan Ketika haul Imam Khomeini ke 27, 14/03/1395)

Takwa sosial adalah menjaga diri dan komunitas kita dari bahaya dan ancaman musuh. Menjaga aset-aset kita dari berbagai ancaman eksternal dan internal. Inilah takwa sosial.

Rahbar dalam ceramahnya beberapa kali menegaskan,

โ€œTakwa sosial seperti vaksin yang disuntikkan kedalam tubuh kita untuk menjaga tubuh dari berbagai ancaman dan bahaya (virus). Ketika kita memiliki vaksin, maka virus atau bakteri tidak berpengaruh apapun di dalam tubuh kita.

Takwa pun seperti itu; apapun yang disuntikkan musuh ke dalam diri dan internal kita, tidak akan berpengaruh dan berdampak kepada kita. Ini takwa.” (Penjelasan Rahbar kala pertemuan dengan pejabat negara dan para duta besar negara-negara Islam. 27/04/1394)

Takwa personal sangat penting dan memiliki dampak yang besar, namun takwa sosial jauh lebih penting dan dampaknya kepada komunitas dan sosial kita sangatlah signifikan.

Takwa sosial adalah soal bagaimana kita memiliki kepekaan (bashirah) sehingga cepat mengidentifikasi kerja musuh kala bergerak secara intens menghancurkan komunitas kita; baik eksternal maupun internal.

Bagaimana mereka merusak ideologi mahdawiyah dan wilayah komunitas kita sehingga jauh dari nilai-nilai Ilahi.

Bagaimana mereka merusak komunitas kita, khususnya pemuda-pemudi kita sehingga tanpa sadar tersusupi dan terjangkit ideologi-ideologi Marxisme, Liberalisme, Heigelisme, Nietzsche-isme, Freudisme dll.

Rahbar menegaskan pentingnya takwa sosial dalam ceramah-ceramahnya:

โ€œTakwa dalam persoalan personal satu pembahasan, namun takwa dalam persoalan sosial dan politik jauh lebih sulit (kompleks) dan jauh lebih penting serta berdampak sangat besar.โ€ (Khutbah Jumat haul Imam Khomeini ke 21. 14/03/1389)

Untuk itu kita memiliki taklif dan kewajiban menjaga komunitas dan ideologi kita agar tetap istiqamah berada di jalan wilayah dan selalu mawas diri dari berbagai penyusupan yang merusak wilayah, ketaatan dan hubungan kita dengan wali. Inilah takwa menurut Rahbar.

*Hasan. Z

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us