Mazhab Syiah – Antara Fitnah dan Fakta Yang Sebenarnya

Fitnah terhadap Syiah sudah berlangsung selama berabad-abad sejak wafatnya Rasulullah saww sampai saat ini.

Adalah sebuah fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa pasca wafat Rasulullah saww, umat Islam terpecah dua, yang awalnya bersumber dari perbedaan pendapat terkait siapa sesungguhnya yang lebih layak diikuti sebagai pemimpin umat Islam sepeninggal Rasulullah saww.

Perbedaan pendapat ini kemudian dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk memecah belah umat Rasulullah saww menjadi benar-benar terpecah, minimal dalam 2 golongan yaitu Sunni dan Syiah.

Perpecahan ini kalau dibiarkan berlarut-larut, sebetulnya akan sangat merugikan umat Islam itu sendiri. Padahal seharusnya, umat Islam harus selalu bersatu sebagaimana yang juga sedang diupayakan oleh para ulama-ulama Islam dari berbagai Mazhab.

Salah satu resolusi persatuan yang dihasilkan oleh para ulama seluruh dunia yang sangat terkenal adalah Risalah Amman, yang mana dalam resolusi itu dikatakan bahwa Mazhab Syiah diakui sebagai salah satu dari 8 madzhab dalam Islam, sehingga tidak boleh dikafirkan.

Resolusi ini dikeluarkan di Jordania atas prakarsa Raja Abdullah II, ditandatangani oleh kurang lebih 500 ulama terkemuka dari 50 negara termasuk Indonesia, dan diadopsi oleh 6 dewan ulama islam internasional pada sidang Organisasi Konferensi Islam di Mekah pada bulan Juli 2006.

Adapun ulama Indonesia yang ikut menandatangani risalah amman tsb adalah Maftuh Basyuni (Menag RI pada saat itu), Ketum PB NU Hasyim Muzadi, dan Ketum Muhammadiyyah Din Syamsuddin. Silakan baca tentang risalah amman pada artikel ini.

Tulisan ringkas ini dibuat dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman masyarakat luas tentang Mazhab Syiah yang sering sekali difitnah sebagai agama di luar Islam. Persepsi ini timbul karena ketidaktahuan atas hal-hal yang dianggap kontroversial dan berbeda dengan keyakinan mayoritas umat Islam.

Untuk Syiah sendiri, tudingan apapun yang ditujukan sesungguhnya bukan merupakan masalah, karena apapun yang ditudingkan sesungguhnya berasal dari mereka yang belum memiliki pengetahuan yang sebenarnya tentang Syiah dan atau karena mereka sudah terlanjur meyakini informasi tentang Syiah yang diketahuinya sebagai sebuah kebenaran … sesuai latar belakang dan pengetahuan masing-masing.

Namun demikian, syiah tetap memiliki kewajiban untuk menyampaikan info yang sebenarnya, terlepas dari apakah para pembaca dapat memahami dan atau menerimanya sebagai penjelasan yang sebenarnya mengenai Syiah, sebagaimana Rasulullah saww yang juga melakukan dakwahnya untuk menyampaikan kebenaran.

Tentunya adalah hak setiap orang untuk menerima atau tidak, dengan segala konsekuensinya, yang tentunya akan ia pertanggung jawabkan sendiri dihadapan Allah SWT nantinya.

Tulisan ringkas ini disusun bukan untuk mendakwahkan Syiah, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing, yang secara ontologis akan menentukan bagaimana dirinya  mencapai kesempurnaannya sebagai manusia, dengan menggunakan akal sehatnya, dalam menentukan pilihannya. Sesungguhnya Allah Maha Adil, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ada 14 isu-isu yang sering dipertanyakan tentang Syiah yang akan dijelaskan dalam ringkasan ini, antara lain: tentang Imamah, Ghadir Kum, Abdullah Bin Saba’, Rukun Iman, Rukun Islam, Syahadat, Al Qur’an, Hadits, Sahabat, Taqiyyah, Nikah Mut’ah, Asyura, Melukai diri sendiri dan tentang Syiah dan NKRI.

Ke 14 pertanyaan tersebut akan dijelaskan secara ringkas saja untuk mempermudah pemahaman secara umum. Bagi pembaca yang bermaksud untuk mengetahui lebih detilnya dapat mencari lebih mendalam dari berbagai sumber dalam kitab-kitab Syiah yang sudah banyak beredar, baik dalam bentuk buku maupun video, di toko-toko buku maupun secara on-line.

1. Tentang Syiah Yang Menghina Istri dan Sahabat Nabi

Memang ada segelintir kaum syiah takfiri yang suka menghina sahabat dan istri Nabi. Salah satunya yang sangat terkenal dan tersebar di berbagai video-video adalah dari syiah takfiri london, yang dipimpin oleh Yasir Al Habib, yang memang dipelihara dan dibiayai aktivitasnya oleh musuh-musuh Islam.

Aktivitas syiah takfiri inilah yang suka dimanfaatkan untuk memfitnah syiah, seolah semua kaum syiah seperti itu.

Padahal semua ulama syiah mengharamkan perbuatan menghina seperti itu. Sayyid Ali Khamenei, seorang pemimpin dan marja besar Syiah di Iran dalam fatwa nya menyebutkan, “Diharamkan menghina atau mencerca simbol-simbol (yang diagungkan) saudara-saudara kaum Sunni, termasuk istri Nabi. Pengharaman berlaku untuk seluruh istri para Nabi as, terutama istri Nabi Muhammad saww.”

Lalu juga fatwa dari marja besar Syiah di Irak, Sayyid Ali Sistani: “Perbuatan mencerca sahabat Nabi Muhammad saww bertentangan dengan ajaran ahlul bait”.

Lalu bagaimana sebenarnya pandangan syiah terhadap istri dan sahabat Nabi saww? Memang ada sedikit perbedaan pandangan antara sunni dengan syiah, tentang para sahabat Nabi, yaitu sbb:

Keyakinan sebagian muslim Sunni terkait para sahabat :

  • Seluruh sahabat adalah orang yang baik dan adil. Apapun yang mereka lakukan adalah benar, karena Allah sudah meridhoi mereka atas apa yang telah mereka lakukan untuk menegakkan Islam.
  • Apapun yang pernah terjadi diantara para sahabat (permusuhan, pertengkaran, pembunuhan) mka kita umat generasi setelahnya harus diam, tidak usah mengkritisinya.

Sedangkan Keyakinan Syiah Tentang Sahabat:

  • Menjadi orang baik adalah perjuangan seumur hidup. Bertemu Rasulullah saww, bahkan berjuang bersama beliau bukanlah jaminan bahwa seseorang akan tetap baik hingga akhir hayat.
  • Pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib as, terjadi beberapa peperangan yang mana para sahabat Nabi saling berhadapan. Mereka berperang dan ribuan sahabat Nabi terbunuh dalam peperangan itu.

Lantas berdasarkan fakta itu, apakah bisa dikatakan semua sahabat itu pasti adil dan pasti semua benar? Padahal mereka saling memerangi?

Itulah sebabnya, mengapa muslim syiah bersikap kritis terhadap sahabat. Sebab tidak semua sahabat pasti benar dan pasti adil.

Terkait berbagai pertikaian dan saling bunuh itu, Syiah meyakini bahwa sikap kritis harus dipelihara. Harus ditetapkah dan dijelaskan, siapa yang benar dan siapa yang salah di antara mereka.

lni bukan masalah menyimpan dendam kesumat, melainkan urusan siapa yang boleh dijadikan teladan bagi umat dan verifikasi hadis.

Ketika ada dua hadis saling bertentangan; yang satu diriwayatkan oleh Muawiyah dan yang satunya lagi diriwayatkan oleh Ali, kaum Syiah hanya akan menerima hadis yang diriwayatkan oleh Ali.

Ketika ada dua cara pandang yang kontradiktif terkait satu masalah, yang satu pandangan versi Sahabat X, yang kedua pandangan versi Ali, orang Syiah memilih mengambil pandangan Ali.

Nah, apakah pendirian sikap Syiah yang tetap bersikap kritis atas peristiwa sejarah di masa lalu bisa dijadikan sebagai alasan untuk menyebutnya sebagai kelompok sesat?

Apakah sikap Syiah yang lebih memilih riwayat dari Ali ketimbang Muawiyah disebut sebagai kesesatan? Bukankah dalam doktrin Sunni pun, sikap diam atas apa yang terjadi di antara para sahabat bukan bagian dari akidah?

Jadi inilah yang perlu dipahami oleh masyarakat luas, bahwa bersikap kritis (seperti sikap syiah) berbeda dengan mencerca/menghina.

Kaum muslim syiah bukan mencerca atau menghina sahabat nabi saww. Sebab dalam pandangan syiah juga, menghina manusia biasa saja sudah berdosa, apalagi menghina sahabat-sahabat Rasulullah saww.

2. Tentang Fitnah Bahwa Al-Quran Syiah Berbeda dengan Qur’an Sunni

Syiah juga sering dituding memiliki Al Qur’an yang berbeda. Tuduhan ini sebetulnya berlawanan dengan keyakinan umat Islam bahwa dalam Al Qur’an, Allah swt telah berjanji akan menjaga kemurnian AlQuran.

Dengan demikian, apabila umat lslam memang benar meyakini kebenaran Al Qur’an, maka seharusnya tudingan tersebut tidaklah patut.

Ada beberapa fakta yang perlu dijelaskan terkait tudingan ini sehingga seharusnya menjadi jelas bahwa tudingan tersebut sebenarnya tidak beralasan dan hanya merupakan prasangka buruk saja yang terus dihembus-hembuskan musuh-musuh Islam.

Semua Al Qur’an yang dicetak, beredar dan digunakan di kawasan Syiah manapun, sama persis dengan Al Qur’an yang dicetak dan beredar di Indonesia, Malaysia, Mesir, Arab Saudi dan dimanapun di dunia ini. Tidak ada satupun dan di negara manapun yang dapat menunjukkan dimana ada penerbit dan penjual AlQur’an syiah yang dikatakan berbeda tersebut.

Ada lebih dari 120 ulama Syiah yang menulis tafsir Al-Qur’an. Semua ayat-ayat yang ditafsirkan adalah sama dengan ayat-ayat yang ditafsirkan dalam kitab kitab ulama Sunni.

Juga ada banyak sekali muslim Syiah yang menghapal seluruh 30 Juz dalam Al Qur’an dan ayat-ayat yang dihapal sama persis dengan ayat-ayat Al Qur’an dimanapun.

Para penghapal ini bahkan banyak yang masih berusia sangat muda dan bahkan dinyatakan sebagai pemenang dalam MTQ Internasional. Seperti misalnya Mahmoud Nouruzi dari Iran, adalah juara pertama untuk katagori Hifzhul Quran dalam MTQ Internasional III Indonesia, yang dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus – 3 September 2015.

Atau yang lainnya, Muhammad Husein Tabataba’i (lahir di Qom, Iran), yang pada usia 7 tahun telah mendapatkan gelar Doktor (tahun 1998) dari Hijaz Collage Islamic University, Inggris.

Dia tidak hanya mampu menghafal seluruh isi al-Qur’an saja, tetapi juga mampu menerjemahkan arti dari setiap ayat ke dalam bahasa ibunya yaitu Persia, memahami makna ayat-ayat tersebut, dan bisa menggunakan ayat-ayat itu dalam percakapan sehari-hari, sehingga ia terkenal sebagai bocah ajaib, Doktor cilik hafal dan paham al-Qur’an.

Konferensi Persatuan Umat Islam yang dilangsungkan di Teheran pada tahun 1998 juga menghadirkan seorang anak perempuan yang dengan sangat fasih melantunkan ayat-ayat Al Quran yang sama persis dengan ayat-ayat Al Qur’an yang dihapalkan siapapun di seluruh dunia.

3. Tentang Pandangan Syiah Terhadap Kitab-Kitab Hadits

Tidak ada satupun kitab-kitab hadits atau kitab apapun yang diyakini Syiah sebagai kitab yang pasti benar selain AlQur’an.

Sehingga, syiah tidak memiliki kitab hadits dengan status “shahih” seperti halnya Sunni yang meyakini kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim sebagai 100% shahih.

Dalam pandangan syiah, semua kitab-kitab hadits Syiah hanya diyakini sebagai KUMPULAN HADITS yang semua harus ditelaah keshahihannya dan semua layak dikritisi.

Jadi tidak ada istilah kitab hadits shahih dalam syiah. Semua hadits yang ada dalam kitab-kitab hadits harus selalu terlebih dahulu diuji kesahihannya.

Sebagai contoh, hasil penelitian dari Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa lebih dari setengah hadits pada kitab Al Kulaini adalah hadits yang dho’if (lemah).

Dengan demikian, berbagai fitnah-fitnah keji yang sering dilontarkan kaum anti-syiah sebagai ajaran syiah dengan argumen bahwa itu berasal dari hadits-hadits shahih syiah  … sama sekali tidak dapat diterima akal.

4. Tentang Rukun Iman Syiah

Salah satu tuduhan berat yang dialamatkan kepada kaum Syiah adalah kesesatan akidahnya. Dikatakan bahwa Syiah hanya memiliki lima Rukun Iman, yaitu:
1.  Tauhid,
2.  ‘Adalah (keadilan Allah),
3.  Kenabian,
4.  Imamah,
5.  Ma’ad (hari kiamat).

Sebaliknya, kaum Sunni meyakini rukun iman berjumlah enam: iman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-Nya, kepada nabi-Nya, kepada qadha dan qadar, serta iman kepada hari akhir.

Lalu, dari perbedaan itu, dikatakan bahwa orang-orang Syiah dipandang “bukan Islam”.

Perlu diketahui, bahwa Rukun Iman dan Rukun Islam yang dikenal luas oleh masyarakat di Indonesia saat ini adalah sebuah formula/rumusan yang disusun oleh para ulama teologi Asy’ariyah.

Tetapi tak dapat dipungkiri, bahwa teologi Asy’ariyah hanyalah salah satu aliran dari banyak himpunan aliran lain yang ada dalam mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Misalnya, ada aliran teologi Maturidiyah. Juga ada aliran Mu’tazilah. Masing-masing aliran ini juga memiliki rumusan formula tersendiri tentang Rukun Iman dan Rukun Islam nya, yang juga berbeda dengan rumusan teologi Asya’riyah.

Ahlul Hadis dan teologi Salafi yang menganut teologi Ahmad bin Hanbal juga memberikan rumusan rinci tentang akidah yang juga berbeda dengan Asy’ariyah.

Jadi hal paling penting untuk digarisbawahi adalah: jika ada bagian keimanan yang tidak dimasukkan ke dalam formula atau rumusan sebuah rukun iman, bukan berarti bahwa bagian tersebut tidak diimani oleh para pengikut aliran tsb. Hanya saja, rumusan formulanya memang berbeda.
Contohnya …

Dalam rukun iman Sunni tercantum iman kepada kitab-kitab suci, sedangkan di dalam rukun Syiah tidak tercantum. Apakah Syiah tidak mempercayai kitab suci?

Tentu saja tidak demikian. Orang-orang Syiah jelas meyakini keberadaan kitab-kitab suci dan bahwa kltab-kitab suci tersebut diturunkan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasulnya.

Hanya saja Syiah tidak mencantumkannya secara tersendiri, tapi memasukkannya ke dalam sub-bagian dari nubuwwah (kenabian), yaitu nubuwah para Nabi terdahulu, dan Nabi terakhir  Muhammad SAW.

Hal yang sama juga berlaku pada keimanan pada malaikat dan qadha/qadar. Syiah percaya bahwa malaikat ltu memang ada dan mereka masing-masing punya sejumlah tugas.

Syiah juga percaya bahwa Allah punya ketetapan yang tidak mungkin bisa dilawan oleh siapapun. Hanya saja, Syiah memasukkan bahasan tentang hal ini pada sub-bagian bab pembahasan pilar yang lainnya.

Ibaratnya, ada dua penulis yang sama-sama menulis buku tentang ‘sumber daya alam’. Penulis A sangat mungkin membagi pembahasan dalam 15 bab, sementara penulis lain menulis 10 bab. Oleh penulis A, topik tentang ‘minyak bumi’ dijadikan pembahasan tersendiri di bab ke-5, sementara penulis B hanya memasukkan ‘minyak bumi’dalam salah satu sub-bab di bab 4.

Sunni membatasi rukun iman hanya kepada enam perkara. Tentu saja, ini tidak berarti bahwa Sunni tidak percaya kepada hal-hal yang lain.

Ketika Sunni hanya memasukkan adanya ketetapan Allah sebagai rukun iman, bukan berarti mereka menolak sifat-sifat Allah yang lain seperti Mahatahu, Mahahidup. dan Mahaabadi.

Sunni juga tidak memasukkan kepercayaan terhadap alam kubur dan kefanaan dunia dalam rukun iman mereka, meskipun jelas sekali bahwa mereka meyakininya.

Jadi … sekali lagi …  sekadar tidak memasukkan suatu kepercayaan ke dalam rukun iman, bukan berarti tidak mempercayainya. Itu point utama yang perlu kita sadari.

5. Tentang Rukun Islam Syiah

Kasus yang sama juga berlaku pada rukun lslam-nya orang Syiah. Isu yang dihembus-hembuskan adalah, orang Syiah punya rukun Islam yang berbeda, yaitu:
1.  Shalat,
2.  Puasa,
3.  Zakat.
4.  Haji,
5.  Wilayah.

Pertanyaannya, apakah orang Syiah tidak bersyahadat? Tentu saja mereka bersyahadat.

Silakan telaah buku-buku tuntunan cara beribadah orang-orang Syiah. Pasti akan mendapati bahwa pembacaan Syahadatain (dua kalimat syahadat) merupakan salah satu kewajiban di dalam salat. Syahadatain juga wajib dibaca oleh khatib salat Jumat.

Penelaahan yang seksama terbadap bab-bab fikih orang Sy‘iah (bukan hanya bersandarkan kepada ‘katanya’) akan menuntun kita pada pemahaman bahwa apa yang dipercayai oleh orang Sunni sebagai pilar keislaman juga dipercayai oleh orang Syiah.

Orang Syiah juga percaya kepada ajaran amar makruf nahi munkar, munakahat (pernikahan), waqaf, jihad, mu’amalah. hukum warisan, thaharah, mengurus jenazah, dan lain sebagainya. Semuanya sama.

Seandainyapun ada perbedaan dalam tata cara, perbedaan tersebut amat sangat sedikit. Tapi, bukankah di antara mazhab fikih Sunni sendiri (Syafi’i, Maliki, Hanbali, dan Hanafi) sendiri ada banyak perbedaan dalam hal tata cara beribadah?

6. Tentang Nikah Mut’ah

Salah satu fitnah paling besar tentang syiah adalah terkait isu nikah mut’ah. Dalam fitnah yang sering disebarluaskan, dikatakan bahwa syiah telah menghalalkan zina, karena dianggap nikah mut’ah sama dengan zina.

Padahal mereka yang memfitnah itu juga mengetahui bahwa dalam keyakinan semua mazhab, DULU Rasulullah saww pernah menghalalkan nikah mut’ah. Nah, logika sederhananya, jika dulu nikah mut’ah pernah dihalalkan apakah mungkin nikah mut’ah itu sama dengan zina, apalagi bahkan zina dengan istri orang lain?

Tanpa disadari, tudingan itu itu sama saja dengan menuduh Rasulullah saww pernah membolehkan zina. Nauzubillah! Itu benar-benar sama saja melakukan fitnah yang sangat besar pada Rasulullah saww.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Hasan bin Muhammad dari Jabir bin Abdillah dan Salamah bin Al-Akwa’ kedua-nya berkata, “Kami bergabung dalam sebuah pasukan, lalu datanglah (utusan) Rasulullah Saw, ia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah Saw telah mengizinkan kalian untuk menikah mut’ah, maka bermut’ahlah kalian.’  (bisa dibaca dalam Imam Al-Bukhari, hadits 5115-7, kitab Al-Nikah, bab Nahy Rasulillah saw ‘an Nikah Al-Mut’ah Akhiran; dan Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, hadits 3302-5, kitab Al-Nikah, bab Nikah Al-Mut’ah)

Itulah fakta sejarah yang diungkapkan dalam kitab-kitab Sunni, bahwa pada masa Nabi saww (hingga masa kekhalifahan Abu bakar), nikah mut’ah dilakukan oleh para sahabat nabi.

Pernikahan mut’ah ini mulai dilarang pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dimana beliau berpidato di hadapan khalayak:

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Rasulullah Saw adalah utusan Allah, dan Alquran adalah Alquran ini. Dan sesungguhnya ada dua jenis mut’ah yang berlaku di masa Rasulullah Saw, tapi aku melarang keduanya dan memberlakukan sanksi atas keduanya. Salah satunya adalah nikah mut’ah, dan saya tidak menemukan seseorang yang menikahi wanita dengan jangka tertentu kecuali saya lenyapkan dengan bebatuan. Dan kedua adalah haji tamattu’, maka pisahkan pelaksanaan haji dari umrah kamu karena sesungguhnya itu lebih sempurna buat haji dan umrah kamu.” (baca dalam Muhammad Fakhr Al-Din Al-Razi, Tafsir Al-Fakhr Al-Razi, juz 10, h. 51, QS. Al-Nisa’ [4]:24, cet. 1, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 1981 M, 1401 H)

Mengapa syiah menghalalkan nikah mut’ah? Alasannya karena syiah berpandangan bahwa apa yang sudah ditetapkan oleh AlQuran maka hukumnya tidak boleh berubah (diubah) oleh siapapun, sampai hari kiamat.

AlQuran menetapkan dalam surat An-Nisa ayat 24:

Dan orang-orang yang mencari kenikmatan (istamta’tum, dari akar kata yang sama sebagai mut’ah) dengan menikahi mereka (perempuan-perempuan), maka berikanlah mahar mereka sebagai suatu kewajiban …. (QS. Al-Nisâ’ [4]: 24)

AlQuran adalah sumber hukum tertinggi dan karenanya tidak dapat dihapuskan dengan hukum yang lebih rendah (misalnya oleh ijtihad sahabat atau fatwa khalifah).

Itulah sikap syiah terhadap nikah mut’ah. Argumennya adalah hukum yang ditetapkan Allah swt dan Rasulullah saww tidak boleh diubah oleh manusia (sekalipun oleh fatwa khalifah).

Lalu, juga perlu disadari, bahwa hukum nikah mut’ah ini hanya “Boleh”. Bukan “mustahab (sunnah)” apalagi “wajib”, seperti yang sering ditudingkan kepada syiah.

Karenanya sekalipun syiah menghalalkan nikah mut’ah, bukan berarti otomatis semua orang syiah mengamalkannya. Ini lebih ke persoalan menegakkan posisi hukum dalam Islam, karena hukum harus mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi manusia.

Dan lagi pula, nikah mut’ah itu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Ada syarat-syarat dan ketentuannya seperti halnya dalam nikah daim (permanen), seperti harus ada izin dari wali (ayah), harus ada akad dan mahar, ketika terjadi perceraian ataupun batasan waktu pernikahan sudah berakhir, masa iddah nya adalah selama 2 kali siklus haid, dsb.

Lebih lengkap penjelasan tentang nikah mut’ah ini bisa baca pada tulisan berikut ini.

7. Tentang Abdullah bin Saba Yang Disebut-Sebut Sebagai Pendiri Syiah

Sosok ini banyak diyakini sebagian umat Islam awam sebagai pendiri Syiah, yaitu seorang Yahudi yang bertujuan memecah belah umat Islam.

Padahal dalam Syiah sendiri, sosok ini tidak pernah disebut-sebut atau dirujuk atau diingat-ingat, baik dalam semua kitab Syiah maupun dalam pembicaraan para ulama Syiah.

Kalau memang orang ini ada dan merupakan pendiri, tentunya perkataannya akan selalu dirujuk dan dijadikan pedoman oleh Syiah. Namanya pun mestilah akan termaktub dalam berbagai riwayat sebagaimana layaknya seorang pendiri dalam berbagai aliran atau madzhab semisal madzhab Hanafiah, atau Maliki atau Syafi’i ataupun Hambali.

Syiah terkenal sangat menghormati para Wali dan Imam nya; dan mewujudkannya dalam bentuk ziarah-ziarah. Tentunya, apabila memang sosok ini ada apalagi sebagai pendiri, harus lah jelas dimana makamnya dan bagaimana riwayatnya sehingga layak untuk diziarahi dan diingat-ingat, baik ketika lahirnya maupun wafatnya. Pada faktanya, sosok ini sangat tidak jelas.

Terlepas dari fakta yang ada, perlu kiranya disampaikan 3 hal utama terkait Abdullah bin Saba sebagai sosok yang patut diragukan keberadaannya:

  • Kesimpangsiuran informasi, sehingga tidak jelas siapakah sebenarnya sosok ini. Menurut Ibn Hazm dan Syahrastani, sosok ini sebenarnya bernama Ibnu Sauda. Tetapi Ibn Thahir Al Bagdadi dalam kitabnya ‘Al-Farqu Bainal Firaq’, dan Al Asfaraini dalam kitabnya ‘At-Tabsyirah fid-Diin’ menyebutkan bahwa Ibnu Sauda bukanlah Abdullah bin Saba.
  • Demikian pula dengan asal muasalnya. Di kitab lain dikatakan berasal dari San’a Yaman, sedangkan di kitab lain, disebut berasal dari Hira. Kemunculannya di satu kitab dikatakan pada zaman Ustman bin Affan, di kitab lain dikatakan pada zaman pemerintahan Ali.
  • Ajaran-ajarannya yang termaktub dalam berbagai kitab juga berbeda-beda. Di satu kitab dikatakan dia mengajarkan bahwa Muhammad akan hidup kembali. Di kitab lain, Ali lah yang akan hidup kembali. Di kitab lain, dia mengajarkan bahwa Ali adalah tuhan seutuhnya tetapi di kitab lain disebutkan bahwa dia mengatakan adanya sebagian sifat Tuhan pada diri Ali.

Dari ajaran yang serba tidak jelas itu, apalagi menyangkut akidah maka jelas menunjukkan bahwa sosok ini, kalaupun benar ada, bukanlah orang yang layak diikuti oleh syiah.

Lalu, dari mana datangnya cerita Abdullah bin Saba ini? Riwayat tentang sosok ini berasal dari kitab Tarikh Thabari melalui 2 orang sebagai narasumbernya yaitu Saif bin Umar Attamimi dan As-Surri bin Yahya.

Tetapi ternyata dari berbagai kitab tentang biografi para perawi telah disebutkan bahwa Saif bin Umar adalah seorang periwayat palsu, tidak bisa dipercaya, zindiq, munkar dan lemah (Ibnu Hayyan, Al-Hakim An-Naisaburi, Ibnu Addiy, Ibnu Mu’in, Abu Dawud, An-Nasa’I dan As-Suyuthi).

Penilaian tsb juga berlaku untuk As-Surri bin Yahya yang bahkan disebut sebagai Al-Kadzdzab (tukang bohong) oleh para ulama hadits terkenal.

Dari berbagai fakta itu, jelaslah bahwa tuduhan/fitnah syiah didirikan oleh Abdullah bin Saba sama sekali tidak masuk akal dan terbantahkan dengan sangat mudah.

8. Tentang Sikap Taqiyyah Yang Dilakukan Syiah

Taqiyyah adalah menyembunyikan keyakinan yang dianutnya dengan menampakkan sikap lahiriah yang berbeda, disebabkan oleh adanya alasan-alasan yang membahayakan jiwa atau hartanya, baik dirinya ataupun orang lain.

Hal ini umumnya terpaksa dilakukan kaum syiah yang berada di wilayah-wilayah yang “tidak aman” untuk memperlihatkan keyakinan syiahnya (terancam dibunuh, terancam harta dan rezkinya, dlsb).

Beberapa dalil  bolehnya bertaqiyyah, tertulis dalam al-quran, misalnya:

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka….” (Qs Ali Imran [3]: 28)

dan ayat

“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman, (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa). Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (Qs Al-Nahl [16]: 106)

Ada beberapa contoh dalam sejarah yang membuktikan bahwa melakukan taqiyyah merupakan bagian dari ajaran Islam. Diantaranya yang terkenal adalah taqiyyah yang dilakukan oleh Asiyah (istri Fir’aun) yang menyembunyikan keyakinannya di hadapan Fir’aun.

Selain itu juga terkenal sekali kisah bagaimana salah satu sahabat Nabi saww bernama Ammar bin Yasir yang terpaksa taqiyyah karena terancam terbunuh padahal hatinya penuh dengan keimanan.

9. Tentang Syahadat Syiah

Syiah meyakini bahwa syahadat merupakan ikrar yang paling penting dalam Islam. Mengucapkan dua kalimat syahadat adalah bukti seseorang telah mengucapkan ikrar yang agung dan pertanda perubahan keimanannya untuk menjadi seorang muslim.

Syiah tidak mengakui adanya tambahan lain atas teks syahadat sebagaimana ijmak kaum muslimin. Tambahan teks “wa ‘Aliyyan waliyyullâh” sama sekali tidak ditemukan dalam buku-buku rujukan Syiah.

Bahkan, penambahan teks tersebut, sebagaimana yang dituduhkan kepada Syiah dalam azan, adalah bid’ah menurut jumhur ulama Syiah.

Sebagian perilaku awam yang menambahkan kalimat sebagaimana yang dituduhkan sebagai syahadat syiah yang beda dengan syahadat sunni … tidaklah dapat dijadikan sebagai dasar, karena perilaku awam bukanlah sumber hukum atau pun otoritas yang dapat dipegang dalam menilai mazhab mana pun.

Bahkan, di dalam Kitab Wasâil Al-Syi’ah bab 19 tentang azan dan ikamah disebutkan larangan untuk menambah teks “wa ‘Aliyyan waliyullâh” dalam azan.

Bahkan, hal ini dianggap sebagai sesuatu yang dimasukkan dengan tidak sahih dalam kitab-kitab Syiah. Hal yang sama disebutkan dalam semua referensi Syiah lain.

Dalam pandangan syiah juga, siapapun kaum muslimin ahlus sunnah wal jamaah (sunni) yang memilih mazhab syiah, maka ia tidak perlu melakukan syahadat lagi. Sebab dalam syiah, semua muslimin sunni adalah sudah beragama Islam. Karena itulah ia tidak perlu ber syahadat lagi.

 10. Tentang Peringatan Asyura 10 Muharram

Asyura bukanlah hari raya, melainkan hari duka cita.

Asyura adalah peristiwa pembantaian keluarga Nabi saww di suatu tempat bernama Karbala, Irak selatan. Peristiwa ini berlangsung pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah, sekitar 50 tahun setelah wafatnya Nabi.

Peristiwa asyura disebut sangat tragis karena beberapa hal berikut ini :

  • Perang terjadi antara kafilah keluarga Nabi Muhammad SAWW melawan 30.000 pasukan yang semuanya adalah orang Islam. Pasukan itu sendiri dipimpin oleh Umar, putera dari Sa’ad bin Abi Waqqash, salah seorang sahabat besar Nabi. Artinya, saat itu orang-orang Islam melakukan pembantaian terhadap anak-keturunan dari nabi mereka sendiri.
  • Rombongan keluarga Nabi sempat disiksa rasa haus selama tiga hari sebelum akhirnya dibunuh. Pasukan Umar memblokade sungai Eufrat sehingga keluarga Nabi tidak bisa mengambil air minum.
  • Jenazah Al Husayn dan rombongannya dimutilasi. Kepala mereka dipenggal dan ditancapkan diatas tombak. Lalu, kepala-kepala itu diarak ke Kufah dan ke Syam (Suriah) untuk dipersembahkan kepada Yazid bin Muawiyah.
  • Sisa rombongan keluarga Nabi yang masih hidup yaitu para wanita dan 2 pria yang tidak berdaya, digiring dan dirantai. Mereka diharuskan mengikuti arak-arakan kepala yang ditancapkan di atas tombak, untuk dipertontonkan kepada umat Islam di kota-kota yang dilewati.

Hal-hal diatas adalah fakta yang disepakati kebenaran peristiwanya baik oleh sejarawan Sunni maupun Syiah.

Nah, para muslim Syiah memperingati peristiwa Asyuro tsb terutama memperingati syahid nya Imam Husain as, sama seperti sebagian umat Islam menyelenggarakan acara HAUL tokoh-tokoh atau ulama-ulama dalam rangka mengenang keteladan dari tokoh yang ia peringati.

Apabila umat Islam sunni sering mengadakan haul setiap tahun untuk berbagai tokoh ulama-ulama, lalu mengapa kaum syiah tidak boleh mengadakan haul untuk memperingati syahid nya penghulu para syuhada, Imam Husain as? Itulah yang dimaksud dengan peringatan Asyura.

11. Tentang Melukai Diri Sendiri Dalam Acara Duka

Melukai diri sendiri? Apakah benar? Bagaimana yang sebenarnya?

Mayoritas ulama Syiah berfatwa bahwa melukai diri (qameh zani) dalam acara-acara asyuro maupun hari-hari duka cita adalah pebuatan haram dan bertentangan dengan agama.

Tak kurang dari Ayatullah Bagir Shadr, Imam Khomaini, Ayatullah Ali Khamenei, Ayatulah Ali Sistani, Ayatullah Jawadi Amuli, Ayatullah Makarim Syirazi, Ayatullah Mazaheri Isfahani, Ayatullah Kazim Haeri dll … semua berfatwa mengenai keharaman melukai diri sendiri.

Mengapa fatwa seperti itu harus dkeluarkan? Karena faktanya memang pernah ada sekelompok kecil kaum syiah yang ekstrem melakukan qameh zani tsb, misalnya di wilayah Pakistan, yang foto mereka itulah yang terus menerus disebarkan hingga sekarang.

Bagi mereka yang pernah bermukim di Iran, Irak dan Lebanon, dengan gambling akan berkata, bahwa mereka tidak menjumpai tindakan qameh zani tersebut.

Juga di banyak Negara termasuk Indonesia. Dalam acara duka cita asyuro, paling banter hanya menepuk-nepuk dada sebagai symbol duka cita.

12. Tentang Imamah (Kepemimpinan Setelah Nabi saww)

Dalam Keyakinan Sunni:

  • Rasulullah saww tidak dengan jelas menunjuk penggantinya.
  • Namun demikian, beberapa peristiwa dimaknai sebagai petunjuk beliau bahwa penggantinya adalah Abu Bakar, yaitu:

– Mengajak Abu Bakar untuk menemaninya hijrah dari Mekah ke Madinah
– Menikahi anaknya
– Memintanya mengimami shalat disaat beliau sedang sakit parah

Sedangkan dalam Keyakinan Syiah:

  • Rasulullah saww telah dengan jelas dan tegas menunjuk penggantinya.
  • Sebagai pemimpin yang baik, terutama demi pentingnya menjaga kemurnian ajaran Islam, maka tidak mungkin beliau meninggalkan umatnya begitu saja.
  • Berbagai riwayat yang juga ada dalam kitab-kitab Sunni telah menunjukkan hal ini dengan jelas, bahwa beliau telah menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya.

Fakta-fakta seputar kelayakan Ali bin Abi Thalib menjadi pengganti Rasulullah saww:

  • Kerabat terdekat Rasulullah saww, baik sebagai sepupu maupun mantu.
  • Terdahulu masuk Islam (as Saabiquunal Awwalun).
  • Pahlawan perang, sampai ada pepatah Arab “Tidak ada pemuda setangguh Ali, tak ada pedang sesakti Dzulfiqar” (Dzulfiqar adalah pedang Ali dalam setiap peperangan).
  • Paling berilmu, sehingga mendapat julukan Babul ‘ilm atau Pintu Ilmu sesuai hadits beliau SAWW, “Aku adalah Kota Ilmu dan Ali adalah gerbangnya. Siapa yang mau memasuki sebuah kota, hendaknya dia masuk lewat pintunya”.
  • Imam Kaum Sufi, sehingga dikenal sebagai Divine Wisdom (imam dalam Ilmu Hikmah) dan Spiritual Warriorship (Futuwwah). Hampir semua tarekat bermuara kepada ajaran Ali dan para pendirinya adalah keturunannya, antara lain Syekh Abdu Qadir Jaelani, pendiri tarekat Qadiriah. Penghormatan kaum sufi kepada Ali sangat tinggi sehingga beliau mendapat julukan Karamallahu Wajhahu (Semoga Allah memuliakan wajahnya).
  • Orang Arab terfasih setelah Rasulullah SAWW, sehingga Ibn Abil Hadid (ulama dan sastrawan terkenal Mu’tazilah di abad ke-7 menyusun buku berjudul “Syarah Nahjul Balaghah” dengan kata pengantar: ”Demi Yang Maha Benar, perkataan Ali di bawah firman Khaliq dan diatas perkataan makhluk. Masyarakat bisa belajar disiplin ilmu retorika dan penulisan dari Ali.”
  • Keterpesonaan atas kefasihan Ali ini juga diutarakan oleh Syaikh Muhammad Abduh dalam buku Syarahnya atas Nahjul Balaghah: “Tak seorangpun dari suku Arab yang tidak meyakini bahwa setelah Al Qur’an dan sabda Nabi SAW, ucapan Ali adalah yang termulia, terfasih, paling berbobot, dan juga paling komprehensif”.
  • Khalifah ke-4 yang diangkat umat secara ber ramai-ramai menjadi Khalifah setelah Utsman bin Affan. Ketegasan Ali dalam memimpin umat menimbulkan perlawanan yang mendorong terjadinya 3 peperangan, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawan.

Makna kata syiah sebenarnya dalam bahasa Arab berarti ‘pengikut’. Namun dalam perjalanan waktu, kata ini kemudian dijadikan label bagi umat Islam yang meyakini bahwa pengganti Rasulullah SAWW adalah Ali dan memutuskan untuk memilih Ali sebagai pemimpinnya.

Konsekuensi dari pilihan ini adalah lebih mengutamakan pendapat dan ajaran Rasulullah saww yang disampaikan oleh Imam Ali as untuk diikuti dalam menjalankan ajaran Islam.

13. Tentang Peristiwa Ghadir Kum

Peristiwa ini terjadi pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10H yang diriwayatkan juga di berbagai kitab Sunni sebagai peristiwa yang benar terjadi dalam sejarah Islam (Ath Thabari, Al Hamedani dan Al Bahgdadi) dan atas dasar hadits mutawattir (Ahmad bin Hanbal, Ibnu Hajar, Jazari Asy Syafi’i, As Sajestani dan An Nasa’i), dengan perawi dari kalangan para sahabat yang jumlahnya beragam sampai 110 orang (catatan Allamah Amini dari berbagai kitab hadits Sunni).

Perbedaan yang diyakini atas peristiwa itu terletak pada kata “Maula” yang diucapkan Rasulullah SAWW ketika mengangkat tangan Ali dihadapan umatnya di lembah (Ghadir) bernama Rabigh atau Khum, sejauh 3 mil dari Juhfah, setelah terlebih dulu mengumpulkan umatnya sepulang dari berhaji di Mekah menuju Madinah.

Sebelumnya, Allah SWT terlebih dulu menurunkan ayat 67 Surah Al Maidah: “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) engkau tidak menyampaikan Risalah-Nya. Allah memeliharamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.

Maka saat itu di siang hari terik memanggang padang sahara, beliau SAWW memanggil jamaah haji yang sudah terlanjur berada di depan dan yang di belakang ditunggu sampai semua berkumpul.

Kemudian setelah shalat berjama’ah, beliau SAWW berpidato tentang akidah, diatas mimbar yang terdiri dari tumpukan pelana unta. Usai berpidato, beliau SAWW menyampaikan: “Aku tinggalkan dua pusaka yang berharga, yaitu Al Qur’an dan Ahlul Bait”.

Kemudian memanggil Ali dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi hingga terlihat bagian putih dari lengan bawah kedua nya, serta melanjutkan: “Allah adalah Pemimpin (Maula) ku dan aku adalah pemimpin (maula) bagi orang-orang yang beriman. Aku lebih utama bagi kaum mukminin dibandingkan diri mereka sendiri. Maka, siapa saja yang menjadikan aku sebagai pemimpin (maula) nya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya juga”.

Usai beliau membubarkan jemaahnya, turunlah ayat 3 surah Al-Maidah: “Hari ini, Aku sempurnakan agama kalian, Kucukupkan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku rela Islam menjadi agama kalian”.

Hanya sedikit ulama Sunni yang menyangkal terjadinya peristiwa tersebut. Hanya saja, kata Maula yang diucapkan beliau SAWW dimaknai bukan sebagai pemimpin, tetapi hanya sebagai “orang yang dicintai”.

Adapun Syiah meyakini kata Maula tersebut adalah bermakna pemimpin. Karena itu peristiwa Ghadir Kum ini juga dirayakan setiap tahun oleh masyarakat Syiah sebagai salah satu hari raya, selain hari raya Ied Fitri dan Ied Adha.

14. Tentang Syiah dan NKRI

Kaum Muslim Syiah bukanlah orang asing atau “pendatang baru” di bumi Indonesia. Sejak tahun 800an masehi, mazhab Syiah sudah masuk ke Nusantara.

Jejak-jejak peninggalannya sangat banyak dan kuat, antara lain :

  • Tarian Ma’atenu di Maluku tengah yang gerakannya persis sama dengan tarian dalam tradisi Syiah untuk memperingati tragedi Karbala.
  • Upacara Mahoyak Tabuik (mengiringi keranda) yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Bengkulu dan Padang Pariaman. Upacara terebut digelar setiap tgl 10 Muharram untuk memperingati hari duka di Karbala.
  • Upacara tradisional “Satu Suro” di jawa tengah. Suro berasal dari kata Asyuro, artinya 10 Muharram. Adanya semacam larangan tak tertulis dan kebiasaaan masyarakat untuk tidak membuat acara-acara gembira pada bulan suro adalah simbol keikutsertaan masyarakat atas duka cita pembantaian keluarga Nabi di Karbala.

Syiah tidak pernah menjadi musuh NKRI. Alih-alih menjadi musuh, justru jadi pendukung NKRI yang sangat kuat.

Syiah tidak mempunyai ideologi mengganti dasar Negara Pancasila, tidak pernah menjadi teroris ataupun pengebom bunuh diri.
Syiah meyakini bahwa Pancasila adalah akad kebangsaan yang harus ditaati sebagai komitmen berbangsa dan bernegara.

Faktanya, justru kelompok-kelompok yang secara terbuka memperlihatkan kebencian kepada Syiah adalah kelompok yang menginginkan penggantian ideologi Pancasila, melakukan terorisme baik di dalam maupun di luar negeri yang tentunya semua itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam dan komitmen kebangsaan.

PENDAPAT ULAMA AHLUSSUNAH TENTANG SYIAH

_________
(Diringkas dari buku Syiah antara Fitnah dan Fakta, Tim Kajian IKMAL, cetakan I, Nov 2015 dengan beberapa tambahan dari berbagai sumber)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ