Siapakah Imam Mahdi Menurut AlQuran dan Hadits Nabi SAW?

Siapa Imam Mahdi

Menurut Anda, Siapa Imam Mahdi itu sebenarnya? Apakah saat ini sudah ada? Apakah memang kita perlu mengenalnya sejak sekarang?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tsb, ada baiknya kita renungkan beberapa point pendahuluan berikut ini:

1.  Al-Quran telah Mengabarkan, Nanti di Akhirat, Manusia Akan Dipanggil Bersama Imam-nya

Allah Swt berfirman dalam surat Al-Isra ayat 71, “Yauma nad’u kullu unasin bi imâmihim.” yang artinya, “Pada hari tatkala Kami menyeru seluruh manusia dengan para imam mereka,” (Qs. Al-Isra:71)

Yang bisa kita tanyakan pada diri kita masing-masing adalah: Siapa Imam ku saat ini?

2.  Di Alam Kubur, Manusia Akan Ditanya oleh Malaikat, “Siapa Imam mu?”

Setelah mayit dikebumikan, ada dua malaikat yang bernama Mungkar dan Nakir yang ditugaskan menanyakan keyakinan-keyakinan orang yang baru meninggal tsb.

Riwayat-riwayat yang ada  menyebutkan pertanyaan tersebut terkait dengan keimanan kepada Allah Swt dan Rasul-Nya dan siapakah yang menjadi imam atau pemimpinnya. [1]

Yang jadi pertanyaan untuk diri kita saat ini, sudahkah kita memiliki jawaban untuk pertanyaan malaikat tsb: Siapa Imam-mu?

3.  Hadits Nabi saww: “Barangsiapa Mati dan ia Tidak Mengenal Imam Zamannya, Maka Ia Mati Dalam Keadaan Jahiliyah”

Hal ini patut jadi renungan masing-masing, apakah kita sudah mengenal imam zaman yang ada saat ini? Kalau belum, mengapa tidak segera mencari tahu secara lebih serius?

Perlu diketahui, hadits-hadits “man mata” ini terdapat dalam banyak literatur kitab referensi utama ahlussunnah (sunni) dengan berbagai redaksi.

Misalnya Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, 1421 H, jld. 28, hlm. 88; lalu Abu Daud, Musnad, 1415 H, jld.3, hlm. 425; dan Thabrani, Musnad al-Syamiyin, 1405 H, jld.2, hlm. 437, redaksinya:

مَنْ ماتَ وَ لَمْ يَعْرِفْ إمامَ زَمانِهِ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّة

Barangsiapa yang mati dan ia tidak mengenal imam zamannya maka ia mati dalam keadaan jahiliyah“.

Kitab-kitab lainnya dari kitab-kitab Ahlusunnah yang menukil hadis tsb diantaranya Shahih Muslim jilid ke-8, Mu’jam al-Kabir – Hafiz Abu Qasim Thabrani, Sunan Baihaki jilid ke-8, Musnad Daud Sulaiman bin Daud Thayalisi dan Shahih Muhammad bin Hibban Tamimi. [2]

Ulama Ahlusunnah memandang status hadis tersebut di atas Sahih dan Hasan.

Orang-orang Syi’ah ada juga yang menggunakan hadits ini dalam bahasan atas kewajiban ber-imamah dan menjadikan hadis ini sebagai salah satu dalil atas keharusan adanya seorang imam pada semua masa dan wajibnya mengenal imam pada masa ia hidup serta menaatinya.

Dalam akidah Syi’ah, maksud dari imam dalam riwayat di atas adalah AhlulBait as atau imam-imam maksum as yang berjumlah 12 imam.

Sedangkan yang dimaksud “imam zaman” untuk umat manusia sekarang ini adalah imam terakhir (ke-12) yaitu Imam Mahdi afs; yang kini masih berada dalam “kegaiban” dan sedang ditunggu kemunculannya pada waktu yang diizinkan Allah swt.

PEMBAHASAN RINGKAS TENTANG PENTINGNYA KEBERADAAN IMAM

1.  Menurut Al-Qur’an: Dunia Tidak Akan Pernah Kosong Dari Keberadaan Hujjah Allah

Dalam pandangan al-Quran, di sepanjang sejarah kehidupan manusia, bumi tidak akan pernah kosong dari keberadaan Hujjah Ilahi.

Syihabuddin Sahruwardi, filosof mazhab Iluminasi (Syaikh Isyraq), dalam bukunya “Hikmatul Isyrâq” mengutarakan,  “Dunia tidak akan pernah kosong dari hikmah (ilmu yang sempurna) dan dari keberadaan seseorang yang memiliki hikmah, hujjah-hujjah dan penjelasan-penjelasan.

Pada setiap zaman terdapat seseorang yang telah sampai kepada tingkat manusia-sempurna dimana Tuhan menjadikannya sebagai contoh sempurna dalam ilmu dan amal.

Orang semacam ini adalah khalifah Allah di muka bumi. Kepemimpinan manusia berada di tangannya. Dan akan tetap seperti itu selama langit masih tetap kokoh. [3]

Isyarat ini juga telah diberitakan dalam Al-Qur’an, “… bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.”(Qs. Al-Raad: 7)

Maknanya, akan selalu ada dan hadir seorang pemberi peringatan dan pemberi petunjuk (nabi, rasul dan para imam/washi) dalam kehidupan masyarakat manusia, yang mana ia dipilih dan ditentukan oleh Allah swt (agar petunjuk yang diberikan 100% benar).

Setelah Rasulullah saww wafat, maka tugas tersebut diemban oleh para imam maksum ahlulbait nabi as, yang menjadi “pasangan alQuran”, yang bertugas menjelaskan dan menerangkan AlQuran kepada manusia sehingga umat tidak tersesat selama-lamanya.

Ini juga merupakan perintah Rasulullah saww sendiri yang telah berwasiat pada segenap umatnya, untuk selalu berpegang teguh kepada dua pokok: yaitu (1) Alquran dan (2) Imam Ahlul Bait Nabi as.

Rasul saww bersabda, “Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku”.

Selengkapnya hadits ini bisa dilihat pada Kitab Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

Dalam madrasah Ahlulbait, imam yang ma’shum tsb tidak harus memerintah secara lahir, namun kepemimpinan umat secara maknawi tetap berada di tangannya. Karena itu mentaatinya adalah wajib, agar manusia selamat menjalani hidupnya, sebagaimana yang diperintah Rasul saww diatas.

Pada zaman sekarang ini, hujjah Allah atau imam ma’shum tsb adalah imam mahdi afs. Ia hidup secara rahasia dan tidak nampak dalam pandangan manusia (gaib). Masyarakat menyebut imam tersebut dengan panggilan “Qutbu Zamân” (poros zaman) atau “Wali Asr” (pemimpin masa), atau Imam Zaman.

Pada suatu masa yang ditentukan Allah swt nanti, imam yang menyandang sifat-sifat Ilahi itu (yaitu Imam Mahdi afs) akan berhasil membentuk sebuah pemerintahan ilahi. Ketika imam as muncul dan dunia berada pada puncak kepemimpinannya, maka seluruh penjuru dunia akan menjadi terang bercahaya.

2. Apa Sebenarnya Pengertian Imam Yang Dimaksud oleh Islam/AlQuran?

Syari’at Islam yang suci memandang kehidupan manusia dari semua sisi. Syari’at memberikan ajaran-ajarannya secara lengkap untuk membimbing manusia di semua sisi kehidupannya, baik dalam ibadah-ibadah vertikal ataupun dalam kehidupan sosial-budaya setiap individu, serta juga mengatur tata politik-pemerintahannya.

Ini berarti seorang Imam adalah pemimpin umat dalam semua segi, baik secara batin (vertikal) atau secara lahir (horizontal), baik sisi pribadi dan juga sosial, serta dari sisi ibadah dan juga pemerintahan.

Dalam Fii al-Islaam, karya ‘Allaamah Thaba Thabai ra: Imam dikatakan untuk orang yang memimpin umat atau kelompok dan memikul beban tanggung jawab tersebut, baik dalam urusan-urusan sosial dan politik (horisontal) atau keagamaan (vertikal) dan perbuatannya berhubungan erat dengan kehidupan sosialnya dimana ia (imam) hidup, baik dapat leluasa dalam menerapkan keimamahannya atau tidak (karena terhalang atau tidak diterima umat).

Dalam fakta sejarah yang terjadi, memang fungsi imam seperti itu belum dapat sepenuhnya dapat diterapkan, karena terhalangi oleh realitas ummat yang belum menerimanya. Bahkan para imam as itu semua syahid terbunuh, oleh umatnya.

Nah, fungsi imamah inilah nantinya yang akan diemban oleh Imam Mahdi afs, yaitu mencakup setiap aspek kehidupan manusia dan masyarakat, baik dalam aspek ibadah vertikal ataupun aspek horizontal.

Jadi imam mahdi yang ditunggu kehadirannya itu bukan seperti pemimpin yang diperkirakan kebanyakan masyarakat awam, yang tampak seakan pahlawan yang “ujug-ujug” (tiba-tiba) muncul dikirim Tuhan dengan segala kehebatannya lalu berhasil menaklukkan seluruh dunia di bawah pemerintahannya.

Imam mahdi afs tersebut adalah IMAM dalam arti yang sebenarnya: membimbing manusia menuju Allah swt, mengajarkan berbagai ilmu Allah swt, dan mewujudkan pemerintahan ilahiah yang sempurna. Dan tugas seperti ini, mustahil diemban oleh manusia biasa.

3.  Syarat dan Kriteria Seorang Imam, Menurut Al-Quran

Oleh beberapa gerakan Islam radikal, hadits-hadits tentang kewajiban mengenal dan taat pada imam yang disampaikan diatas juga banyak digunakan sebagai dalil ketika mereka merekrut anggota baru.

Mereka mengajak calon anggota baru itu untuk melakukan bai’at (janji setia) kepada “imam” versi mereka. Tak sedikit orang-orang awam terpengaruh oleh dalil tsb, sehingga akhirnya mereka bergabung pada kelompok-kelompok gerakan Islam radikal.

Padahal, ada ayat al-Quran dan hadits nabi saww yang dengan sangat terang benderang sekali menjelaskan syarat-syarat seorang imam, dan juga ada larangan untuk taat pada pemimpin yang zalim.

Salah satunya, Allah swt berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 124:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu ia menunaikannya (dengan baik). Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata, “Dan dari keturunanku (juga)?” Allah berfirman, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah:124)

Melalui ayat ini diberitakan bahwa, Allah swt mengangkat Nabi Ibrahim as dengan kedudukan sebagai imam. Arti konkritnya, kedudukan imamah harus diangkat oleh Allah swt dan imam tsb juga harus memiliki makam maksum (suci dari dosa).

Kalimat dalam ayat “Dan dari keturunanku (juga)? dan ayat “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim” menjelaskan bahwa yang akan menerima jabatan imamah (imam) itu hanyalah:

    • keturunan nabi Ibrahim as (termasuk tentunya disini keturunan Rasulullah saww yang memang juga ada keturunan Ibrahim as).
    • orang-orang yang tidak berbuat dosa sedikitpun (manusia ma’shum) dan bukan merupakan personifikasi dari orang yang berbuat zalim.

4. Mengapa Imam Harus Manusia Yang Mencapai Derajat Makshum?

Secara akal, imam sang pemberi petunjuk itu haruslah manusia suci (makshum). Sebab jika imam itu hanya manusia biasa, orang-orang berakal akan menolak keberadaannya. Sebab bisa saja apa yang diajarkannya itu salah/keliru, ada yang terlupa, atau memiliki motif-motif duniawi.

Agar ajaran agama itu benar 100% (shiraathal mustaqiim) maka harus dijaga oleh manusia ma’shum yang juga benar 100%.

Apakah benar para imam ahlulbait as tersebut makshum? Ya, benar. Yang menyatakannya  adalah Allah swt, dalam Quran Surat Al-Ahzab ayat 33: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33).

Karena mereka (para imam as) terjamin kesucian (kemaksuman)nya, maka lewat merekalah ajaran Islam tetap terjaga kemurniannya, dan dengan begitu umat Islam tidak akan ragu atau bimbang dalam mengambil rujukan yang benar dalam berbagai perkara.

Imam Shadiq dalam tafsir ayat di atas bersabda, “Pada setiap masa terdapat seorang imam dari keluarga kami untuk memberikan petunjuk terhadap apa yang telah dibawa oleh Rasulullah Saw (agama Islam).[4]

Hal ini kemudian diperkuat oleh pernyataan Rasulullah saww sendiri yang hadits nya sangat terkenal dan mutawatir (lihat daftar rujukan hadits pada artikel ini), diantaranya terdapat dalam Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon:

Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku”.

Alasan lain atas urgensitas keberadaan Imam Maksum as dalam masyarakat manusia adalah bahwa Al-Quran itu tetap membutuhkan penjelas dan penafsir yang mengetahui seluruh makna dan karakteristik-karakteristik ayat-ayat al-Quran yang muhkamah dan mutasyabih.

Dan tak ada yang mengetahui ilmu-ilmu tsb kecuali para Imam Maksum as, sebagaimana diisyaratkan dalam salah satu hadits Rasulullah saww yang juga sangat terkenal di kalangan ulama ahlussunah (sunni), bernama hadits madinatul ilmi, yaitu:

Rasulullah SAW bersabda “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya dan siapa yang hendak memasuki kota itu hendaklah melalui pintunya” [Mustadrak As Shahihain Al Hakim no 4638 dishahihkan oleh Al Hakim dan Ibnu Ma’in]

Hadis ini juga sekaligus menunjukkan posisi Imam Ali as sebagai sumber rujukan dalam agama setelah Nabi Muhammad saww.

Para imam maksum as itulah tali penghubung yang tidak pernah terputus antara makhluk dan Khalik. Mereka laksana paku-paku bumi dan para khalifatullah yang sejati baik pada masa kasyf  maupun pada masa satr, baik mereka hadir di hadapan ummat ataupun dalam masa tidak hadir (ghaib).

Dengan demikian, berdasarkan hukum aksiomatis akal, setelah Rasulullah harus ada Imam Maksum As. [5]

Ya .. Allah Swt tidak akan pernah membiarkan umat manusia hidup tanpa seorang hujjah (khalifah Allah) dan imam pilihan-Nya.

5.  Siapa Nama Imam-Imam Yang Ditetapkan Allah SWT? Apakah Ada Rasulullah saww Menyampaikannya?

Ada satu hadits yang sangat terkenal sekali di kalangan masyarakat, yaitu hadits 12 khalifah. Salah satu haditsnya sbb: [6]

“Agama ini akan selalu tegak sampai ada bagi kalian 12 khalifah. Mereka semua disepakati oleh umat” (HR. Abu Dawud: 4279).

Dalam Shahih Muslim, hadits nomor 3393, dan Sunan Abi Daud, hadits nomor 4279, dan 4280, digunakan istilah khalifah untuk dua belas pemimpin ini. Sementara dalam Shahih al-Bukhari, nomor hadits 7222 memakai istilah Amir.

Di dalam Sahih Bukhari, hadits berasal dari Jabir: “Rasulullah saw bersabda, ‘Akan muncul sepeninggalku 12 orang amir/imam‘, kemudian Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang aku tidak mendengarnya. Lalu saya menanyakan kepada ayah saya, ‘Apa yang dikatakannya?’ Ayah saya menjawab, ‘Semuanya dari bangsa Qureisy.’” (Sahih Bukhari, jilid 9, bab Istikhlaf, halaman 81)

Juga dalam Sahih Muslim berasal dari ‘Amir bin Sa’ad yang berkata, “Saya menulis surat kepada Ibnu Samurah, ‘Beritahukan kepada saya sesuatu yang Anda dengar dari Rasulullah saw’. Lalu Ibnu Samurah menulis kepada saya, ‘Saya mendengar Rasulullah saw bersabda pada hari Jum’at sore pada saat dirajamnya al-Aslami, ‘Agama ini akan tetap tegak berdiri hingga datangnya hari kiamat dan munculnya 12 orang khalifah yang kesemuanya berasal dari bangsa Qureisy.”

Berita bahwa ada 12 khalifah/imam/amir sepeninggal nabi ini sangat banyak tertera dalam kitab-kitab hadits ahlussunah wal jamaah (sunni). Hanya saja para ulama berbeda pendapat tentang rincian siapa-siapa saja nama-nama khalifah yang tergolong ke dalam 12 khalifah tsb.

Misalnya, ada hadits dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Sesungguhnya Nabi bersabda: ‘Kenabian akan menyertai kalian selama Allah menghendakinya, kemudian Allah mengangkat kenabian itu bila menghendakinya.

Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian (khilafah ‘ala minhajin nubuwwah) pada waktu Allah menghendakinya. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya.

Kemudian akan datang kerajaan yang menggigit dalam waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya dan diganti dengan kerajaan yang memaksakan kehendak.

Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian.’ Lalu Nabi diam.”

Habib bin Salim berkata: ‘Setelah Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, sedangkan Yazid bin al-Nu’man bin Basyir menjadi sahabatnya, maka aku menulis hadits ini kepada Yazid. Aku ingin mengingatkannya tentang hadits ini [yang aku riwayatkan dari ayahnya].

Lalu aku berkata kepada Yazid dalam surat itu: ‘Sesungguhnya aku berharap bahwa Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah yang mengikuti minhaj al-nubuwwah sesudah kerajaan yang menggigit dan memaksakan kehendak. Kemudian suratku mengenai hadits ini disampaikan kepada Umar bin Abdul Aziz, dan ternyata beliau merasa senang dan kagum dengan hadits ini’.” (HR. Ahmad, al-Bazzar, Abu Dawud, al-Baihaqi, dan lain-lain).

Pendapat Ulama AhlusSunnah lainnya, misal Al-Hafidz Jalaluddin as Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa’ menyatakan:

“Dengan demikian, berarti dua belas khalifah telah ada delapan orang, yaitu Khulafaur Rasyidin yang empat (Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali), Hasan, Muawiyah, Abdullah bin Zubair, dan Umar bin Abdul Aziz. Jumlah ini mungkin dapat ditambah dengan al-Muhtadi dari Bani Abbasiyah yang kedudukannya seperti Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah, dan dengan az-Zahir karena dengan keadilannya. Tinggal dua khalifah lagi yang kita tunggu, yang salah satunya adalah al-Mahdi dari ahli bait Rasulullah.”

Makanya tetap muncul pertanyaan di kalangan masyarakat, sebetulnya ada nggak sih hadits-hadits dari Rasulullah saww yang memberitakan siapa-siapa saja nama-nama 12 imam/amir/khalifah tsb?

Ya, ternyata ada banyak sekali riwayat yang menjelaskan nama-nama para Imam/Khalifah yang akan menjadi pemimpin umat Islam yang wajib ditaati oleh seluruh kaum muslimin itu. Jadi siapa-siapa saja nama-nama 12 imam/khalifah nabi tsb memang sudah disebutkan secara jelas oleh Rasulullah saw.

Salah satunya, hadits dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: ”ketika ayat 59 dari surat Nisa turun yang menegaskan ”taatilah Allah, dan taatilah rasul, dan para pemimpin dari kalian” aku bertanya pada rasul saww:

‘kami telah mengetahui Tuhan dan RasulNya, namun Ulil Amr yang wajib kita taati tersebut belum kami ketahui, siapakah gerangan mereka itu?

Beliau (rasulullah saww) bersabda: ”merekalah penggantiku, para Imam dan pemimpin sepeninggalku. Yang pertama Ali, kemudian secara berurutan Hasan putra Ali, Husain putra Ali, Ali putra Al Husain, Muhammad putra Ali yang dalam Taurat dikenal dengan Baqirul Ulum, dan kamu pada suatu saat akan berjumpa dengannya. Dan kapanpun kau menjumpainya sampaikanlah salamku padanya.

Kemudian setelahnya, secara urut Ja’far putra Muhammad, Musa putra Ja’far, Ali putra Musa, Muhammad putra Ali, Ali putra Muhammad, Hasan putra Ali, dan kemudian putranya yang nama dan kunyahnya (panggilan) sama dengan ku. Tuhan akan menjadikannya pemimpin bagi dunia, dan ia akan tersembunyi dari pandangan dan penglihatan, dan ia akan gaib lama sekali. Sampai suatu saat di mana hanya orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh, yang teruji dan mendalam akan keyakinan terhadap kepemimpinannya. (Muntakhabul Atsar, halaman 101)

Dari hadits di atas tahulah kita bahwa nama-nama dari 12 imam yang dimaksud oleh Rasulullah saw tsb adalah:

1. Imam Ali bin Abi Thalib as (Amirul Mukminin)
2. Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib as (cucu Rasulullah saw)
3. Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib as (cucu Rasulullah saw)
4. Imam Ali Zainal Abidin as (putra Imam Hussein)
5. Imam Muhammad Al Baqir as (putra Imam Ali Zainal Abidin)
6. Imam Ja’far Ash Shadiq as (putra Imam Muhammad Al Baqir)
7. Imam Musa Al Kazim as (putra Imam Ja’far)
8. Imam Ali Ar Ridha as (putra Imam Musa)
9. Imam Muhammad Al Jawad as (putra Imam Ar Ridha)
10. Imam Ali Al Hadi as (putra Imam Al Jawad)
11. Imam Hasan Al Askari as (putra Imam Al Hadi)
12. Imam Muhammad Al-Mahdi as (putra Imam Hasan Al-Askari)

Imam yang terakhir inilah yang dikenal sebagai Imam Mahdi afs. Namanya Muhammad bin Hasan Al Askari.

SIAPAKAH SOSOK IMAM MAHDI ITU?

1.  Ayat-Ayat Yang Memberitakan Adanya Pemerintahan Imam Mahdi afs

Masalah kemunculan pemerintahan Imam Mahdi afs bisa dibuktikan berdasarkan puluhan ayat al-Quran. Fokus umum dari ayat-ayat ini berupa berita kepada orang-orang saleh dan mustadh’afin bahwa mereka akan mendapatkan kembali haknya dan sampai pada puncak kekuasaan, menciptakan sebuah pemerintahan dunia yang tunggal bersandar pada kebenaran, hak & keadilan, dan kemenangan Islam atas seluruh maktab dan agama.

Berita dari Al-Quran tsb, pada satu sisi menjelaskan berita ini sebagai bagian dari yang disampaikan kitab-kitab langit yang lain:

Dan sungguh Kami telah tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) azd-Dzikr (Taurat) bahwasanya hamba-hamba-Ku yang saleh mewarisi bumi ini.”[Qs. Al-Anbiya: 105.]

Dari sisi lainnya lagi, berita ini bersandarkan pada kehendak Allah swt sendiri:

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi itu, hendak menjadikan mereka pemimpin, dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”. [Qs. Al-Qashash: 5.]

Pada ayat lainnya lagi, Allah Swt menyatakan bahwa pemerintahan ini sebagai janji Ilahi kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, dan menghadiahkan keamanan dan ketenangan:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”[Qs. An-Nur: 55.]

Inilah corak pemerintahan ilahi yang akan diwujudkan oleh Imam Mahdi afs dengan ijin Allah yang akan merealisasikan pemerintahan dan dunia penuh keadilan yang merupakan cita-cita terbesar kemanusiaan.

Kemunculan Imam Mahdi afs ini akan diperkenalkan kepada seluruh masyarakat dunia melalui pertolongan suara dari langit, dimana para pecinta keadilan dan kebenaran akan mengikutinya di bawah keindahan panji pemerintahan Imam Mahdi afs. (Kitab al Ghaibah, an Nu`mani, halaman 329-331.)

2.  Ilmu Imam Mahdi afs

Penguasaan Imam Mahdi afs terhadap ilmu yang ada dalam Alquran itu totalitas. Semua rahasia yang tersimpan dalam Quran dan belum pernah dibuka sebelumnya, padahal manusia secara umum sudah diberi kesempatan untuk mempelajarinya tapi tetap tidak mampu menemukan semua ilmu itu secara detail kelak akan dijelaskan oleh Imam Mahdi afs jika diperlukan.

Adanya mukhatab yang beragam dan memiliki latar keilmuan yang tinggi menuntut secara logis bahwa Imam Mahdi afs harus memiliki ilmu yang sangat mumpuni, bisa menyaingi semua ilmu manusia, menjadi mukjizat dihadapan orang-orang yang ahli ilmu dijamannya.

Terkait ilmu Imam Mahdi afs, Rasulullah Saww sendiri pernah menyifati beliau afs dengan:

…ألا إنّه الغرّاف فی بحر عمیق

“Dia adalah orang yang berenang di laut ilmu yang dalam…”

Dalam aqidah ahlul bait, ilmu merupakan syarat paling penting dalam imamah. Seorang imam ma’shum memiliki objek seluruh manusia, dengan beragam bahasa yang mereka miliki. Karenanya, seorang imam maksum juga menguasai seluruh bahasa yang dikuasai manusia.

3.  Imam Mahdi afs Telah Lahir Sejak Tahun 255 H dan Pengakuan Ulama Ahlusunnah ihwal Kelahiran Imam Mahdi afs

Para sejarawan dan ahli hadis meyakini bahwa kelahiran Imam Mahdi as terjadi pada tahun 255 H (pendapat masyhur) atau 256 H. Ahli sejarah menulis bahwa beliau lahir pada malam Jum’at pertengahan bulan Sya’ban.

Siapa Imam MahdiSayyid Tsamir ‘Amidi berkata, ”Para tokoh fikih, tafsir, hadis, sejarah, sastra, dan bahasa dari ulama Ahlussunnah telah menyatakan seratus lebih pengakuan yang begitu tegas mengenai lahirnya Imam Mahdi as.

Sebagian mereka menandaskan bahwa Muhammad ibn Hasan Al-Mahdi adalah imam yang dijanjikan kemunculannya di akhir zaman … [7]

Pembahasan paling luas dalam topik ini adalah kitab Al-Mahdi al-Muntazhar fi Nahjil Balaghah karya Syeikh Mahdi Faqih Imani. Ia menyebutkan sekitar 102 orang dari perawi Ahlussunnah yang menyatakan pengakuan dan kesaksian mereka. [8]

Masih dari Syeikh Mahdi, bahwa terdapat 128 penulis dari kalangan ulama Ahlussunnah yang mengulas Imam Mahdi as dalam salah satu kitabnya; al-Imam ats-Tsani ‘Asyar min Aimmati Ahlil Bait. Jelas, kesaksian mereka memiliki nilai sejarah yang khas dan termasyhur. Di antara nama-nama itu, ada yang hidup semasa dengan masa kelahiran Imam Mahdi as dan kegaiban singkat beliau as (Mafatihul Ulum, hal. 32-33, cet. Leiden, 1895).

Mengapa Dinasti Abbasiyah Berusaha Membunuh Imam Mahdi as?

Penguasa dinasti Abbasiyah juga sangat mengetahui dan meyakini hadits-hadits nabi tentang akan munculnya imam mahdi yang akan menumbangkan pemerintahan zalim. Oleh karena itu, tidak heran penguasa saat itu memperlakukan keluarga Imam Hasan Askari as (ayah imam mahdi) dengan penuh kewaspadaan.

Dalam upaya itu, Khalifah Mu’tamid (meninggal dunia 279 H) memerintahkan pasukannya untuk menginterogasi Imam Askari as dan menggeledah secara teliti untuk melacak ihwal Imam Mahdi as. Ia juga memerintahkan untuk menangkap orang-orang yang diberi wasiat oleh Imam Askari as. Dalam misi ini, Mu’tamid dibantu Ja’far Kadzab (pendusta) melakukan penangkapan, intimidasi, diskriminasi, penghinaan, dan pelecehan. [Syeikh Mufid, al-Irsyad, 2/336]

Semua itu terjadi tatkala Imam Mahdi as masih berusia lima tahun. Mu’tamid tak pandang umur dan tak perduli usia beliau karena ia percaya bahwa anak kecil itu akan menghancurkan kekuasaan dinastinya.

Sebagaimana telah tersebar dalam hadis nabi saww secara mutawatir, imam kedua belas dari Ahlul Bait as itu akan memenuhi dunia dengan keadilan setelah dipenuhi kezaliman. Ihwal Mu’tamid ini bagi Imam Mahdi as adalah laksana Fir’aun bagi Musa, yang dilepaskan ibunya di laut (sungai Nil) saat masih bayi lantaran kuatir kepadanya.

Tidak hanya Mu’tamid, kabar ini juga diketahui oleh penguasa sebelumnya, seperti Mu’taz dan Muhtadi. Karena itu, Imam Hasan Askari as bersikeras dan berusaha agar kabar kelahiran putranya (Imam Mahdi as) tidak tersebar kecuali hanya di antara para sahabat pilihan dan pembantu beliau.

Sikap dan perlakuan penguasa seperti itu menyingkapkan fakta bahwa mereka memahami secara benar, bahwa anak itu adalah Al Mahdi as yang dinantikan, yang telah disinggung hadis-hadis mutawatir. Kalau bukan dikarenakan keyakinan ini, lantas bahaya apa yang dapat mengancam eksistensi mereka dari wujud seorang anak kecil yang umurnya tak lebih dari lima tahun.

Seorang ulama mengatakan, jika kelahiran itu memang betul tidak terjadi, lantas, apa arti dari penangkapan para pembantu dan pengerahan para serdadu untuk mengawasi mereka dan menggeledah wanitanya yang mengandung dalam tempo yang tidak dapat dibenarkan, di mana salah satu pembantu wanita Imam Askari as diawasi selama hampir dua tahun. Belum lagi pengusiran dan teror terhadap para sahabat Imam as, lalu penyebaran mata-mata untuk mencari kabar tentang Imam Mahdi as serta pengawasan rumah beliau yang sedemikian ketat dan keras. [9]

4. Dalil Umur Panjang Imam Mahdi afs

Salah satu persoalan penting yang berkaitan dengan Imam Mahdi adalah masalah usianya yang begitu panjang.

Usia Imam dimulai dari tahun kelahirannya (255 H) dan berlanjut hingga masa sekarang ini dan akan terus hidup hingga muncul pada waktu yang Allah swt tentukan. Hasilnya, usia Imam amatlah panjang dan tidak biasa. Hal ini tiada bandingannya di zaman sekarang.

Mungkin meyakini adanya usia sepanjang ini bukanlah suatu perkara yang mudah bagi sejumlah orang. Namun, dalam fakta sejarah manusia, ada beberapa manusia yang tercatat dan dikenal memiliki usia ratusan tahun dan bahkan seribu tahun atau lebih. Salah satu yang usianya panjang dalam sejarah adalah Nabi Nuh as, Nabi Isa as dan Nabi Khaidir as.

Di dalam al-Quran, disebutkan bahwa Nabi Nuh as berdakwah kepada umatnya untuk bertauhid dan menyembah Tuhan yang Esa selama 950 tahun. Sekalipun tidak diberitakan pada usia berapa Nabi Nuh ditunjuk sebaga rasul dan pada usia berapa beliau as wafat, namun secara ringkas, dapat simpulkan bahwa usia Nuh as melebihi seribu tahun.

– QS: 29: 14: “Kami telah mengutus Nuh pada umatnya, kemudian ia bersama mereka seribu tahun kecuali lima puluh tahun…”

Karena itu tidak ada hal yang luar biasa bagi Allah swt untuk memanjangkan umur seseorang, seperti juga dalam banyak fakta sejarah lainnya, misal tidur panjangnya ashabul kahfi yang mereka adalah manusia biasa :

– QS: 18: 25: “Dan mereka berada di gua mereka itu selama tiga ratus tahun dan diperbanyak sembilan tahun.”

Ada lagi statement Al-Quran tentang Nabi Yunus as dalam QS: As-Saffat ayat 143-144:

Kalau sekiranya dia (Yunus as) bukan dari golongan orang-orang yang suka bertasbih, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari kiamat.”

Bayangkan saja, kalau Tuhan mau, bisa saja meletakkan seseorang dalam perut ikan dari sejak ratusan tahun sebelum Nabi Muhammad saww sampai hari kiamat yang entah kapan datangnya, dan dalam keadaan hidup.

Kalau ayat-ayat itu ditambah dengan hadits-hadits yang banyak dari Nabi saww tentang akan ghaibnya imam Mahdi as ini, maka sudah tidak akan ada lagi masalah bagi seorang mukmin sejati yang hatinya telah teruji dengan dalil, dan tidak mengikuti khayalan (yang tidak ada hadits hujjahnya sama sekali).

5.   Nabi Isa as pun Shalat di belakang Imam Mahdi afs: Bukti Lain Tentang Kemakshuman Imam Mahdi afs

Nabi saww bersabda:

“Dajjal keluar dalam situasi dimana agama jadi tertekan dan ilmu dijauhi … lalu datanglah Isa bin Maryam as, lalu shalat telah diiqomati dan dikatakan kepadanya: ‘Majulah (menjadi imam shalat) wahai Ruhullah!’ Isa as menjawab: ‘Sudah semestinya imam kalian yang mengimami shalat.’ ” (Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 3, hal. 367; dll.)

‎Nabi saww juga bersabda tentang Imam Mahdi afs sebagai imam yang dibanggakan karena walaupun nabi Isa as turun, akan tetapi ia as berimamah kepada Imam Mahdi afs.

“Bagaimana kalian -tidak bangga- ketika turun nabi Isa bin Maryam as diantara kalian, akan tetapi imam -yang wajib ditaati- adalah dari kalian.”

Periwayatan seperti ini dapat dilihat juga di Shahih Bukhari, bab Kitaab Bid-i al-Khalq; Shahih Muslim, bab Kitaab al-Iimaan, bab Bayaan Nuzuuli ‘Iisaa as; Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 2, hal. 336.

Apa artinya? Jika imam mahdi itu hanya manusia biasa, tidaklah mungkin seorang Nabi as bermakmum kepadanya.

Hadits ini juga makin menjelaskan kepada kita, sebuah isyarat bahwa Imam Mahdi afs tsb adalah seorang manusia Ma’shum (suci dari dosa).

Jika beliau (imam mahdi afs) seorang yang ma’shum, maka tentulah tidak mungkin beliau lahir dan diajar oleh ayah yang manusia biasa. Pastilah ayah dan kakeknya juga seorang imam ma’shum, sehingga mampu mengajarkan ilmu-ilmu Allah swt secara lengkap dan sempurna.

6.  Filsafat Kegaiban Imam Mahdi as

Mungkin diantara kita ada yang berpendapat, “Mengapa Imam Mahdi tidak tampak oleh pandangan manusia?  Mengapa Imam tidak dapat hidup di salah satu bagian dunia ini, sebagaimana manusia pada umumnya dan berupaya untuk menyebarluaskan hukum dan ketetapan agama serta memimpin umat?

Apakah tidak memungkinkan bila Imam hidup seperti itu hingga kondisi bagi kebangkitan dunia telah tersedia dan mengijinkannya untuk bangkit dan menggulingkan pemerintahan-pemerintahan yang zalim serta mendirikan pemerintahan Islam yang adil dan sejahtera.

Sebetulnya anggapan atau asumsi itu memang bagus, namun sayangnya hal demikian itu tidak dapat dilaksanakan.

Untuk lebih jelasnya mengenai persoalan ini dan mengapa tidak memungkinkan untuk dijalankan, mari kita perhatikan beberapa point penting di bawah ini:

1.  Program Imam Mahdi as tidak sama dengan program para imam lainnya. Para imam lainnya tidak memiliki kewajiban untuk melakukan perang bersenjata  untuk mendirikan pemerintahan Islam, melaksanakan hukum serta undang-undang agama, memerangi  kezaliman, dan membela orang-orang tertindas serta kaum lemah. Akan tetapi, Imam Mahdi as akan mengemban tugas yang berat ini dan hal ini terhitung sebagai kekhususannya. Rasulullah saw dan para imam suci as mengenalkan Imam Mahdi afs seperti tersebut.

2.   Pemerintahan Imam Mahdi as bersifat internasional, maktabi, serta Islami. Pemerintahan itu tidak terbatas pada sebuah negara atau teritorial tertentu, kaum atau bahasa tertentu. Sudah barang tentu untuk mendirikan pemerintahan global seperti itu bukanlah perkara yang mudah sehingga memerlukan kesiapan internasional dari dua sisi.

    • Pertama, kesiapan militer, yakni pasukan Imam Mahdi harus lebih unggul daripada pasukan militer lainnya.
    • Kedua, kesiapan opini umum sehingga sebagian besar masyarakat dunia akan menerima pemerintahan seperti itu dan berjihad serta berkorban di jalan kebenaran.

3.  Dari segi akal dan naqli (al-Quran dan hadis) telah terbuktikan bahwa wujud imam dan hujjah adalah suatu keharusan bagi kelanjutan generasi manusia dan bumi tidak akan pernah kosong dari  wujud seorang hujjah.

4.  Menurut hadis-hadis yang banyak jumlahnya dan bersifat mutawatir, jumlah para imam setelah Rasulullah saw adalah dua belas. Sebelas dari mereka telah datang dan telah meninggal dunia. Imam yang kedua belas, yakni al-Mahdi yang dijanjikan, harus hidup dan bertahan hingga hari kiamat.

5.  Rasulullah saw dan para imam suci di masa kehidupannya berkali kali telah memberitahu persoalan Mahdi as dan kebangkitannya. Mereka, antara lain, berkata, “Saat kezaliman sudah merajalela dan menguasai dunia, Mahdi akan bangkit dan melalui jihad serta pengorbanan para sahabat dan mereka yang sepemikiran dengannya, Imam Mahdi as akan memerangi kezaliman dan mencabutnya hingga ke akar-akarnya lalu mendirikan sebuah pemerintahan yang adil dan Islami.

Nah … dengan mempertimbangkan hal-hal yang disebutkan tadi, mari kita lihat apakah Imam Mahdi dapat hidup sebagaimana manusia pada umumnya di salah satu sudut dunia ini seraya menunaikan kewajiban dan tugas pada batasan yang memungkinkan untuknya?

Anggaplah kita terima premis atau anggapan ini, lalu apa yang akan terjadi? Padahal Imam Mahdi pasti akan senantiasa berhadapan dengan dua kelompok ini:

    • Golongan yang pertama adalah orang-orang yang tertindas dan yang terzalimi. Golongan ini senantiasa ada di sepanjang sejarah. Kelompok ini merupakan kelompok yang paling banyak di tengah masyarakat dan menantikan pertolongan.Ketika kelompok ini mengetahui bahwa Imam Mahdi berada di tengah-tengah mereka (yang mana mereka memang telah menunggu sang juru penyelamat yang akan memperbaiki keadaan dunia yang gelap oleh kezaliman) pastilah akan menghendaki kebangkitan internasional.

      Dengan asumsi seperti ini, apabila imam memberikan jawaban positif terhadap keinginan mereka lalu memasuki kancah perang, kebangkitan Imam Mahdi as tidak akan mendatangkan kesuksesan; sebab belum tercipta landasan bagi kebangkitan internasional. Mau tidak mau, Imam akan terbunuh dan akhirnya bumi kosong dari hujjah dan imam.

      Sebaliknya, jika imam tidak mengabulkan keinginan orang-orang yang tertindas ini dan tidak bangkit, orang-orang tertindas akan berputus asa dan bercerai berai.

      Oleh karenanya, tidak ada jalan lain, kecuali imam harus gaib dulu sekian lama sampai keadaan untuk kebangkitan dan perjuangan internasional memungkinkan.

    • Golongan kedua adalah pemerintahan-pemerintahan tiran dan arogan di dunia yang sepanjang sejarah dan di berbagai belahan dunia tidak segan melakukan berbagai macam kejahatan untuk melanggengkan dominasi dan kekuasaan mereka. Mereka pasti akan menghilangkan setiap potensi sekecil apapun yang dapat mengancam kekuasaan mereka.Kelompok ini, jika mengetahui bahwa Al Mahdi yang dijanjikan tsb telah muncul, maka mereka akan  merasakan bahaya yang sangat besar dan pasti berupaya untuk meneror dan membunuh Imam Mahdi as. Akhirnya, dunia pun akan kosong dari hujjah.

      Karena itulah, kegaiban Imam Mahdi as merupakan suatu keharusan untuk mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang semacam itu. Itulah filosofi mengapa imam mahdi masih berada dalam keghaiban dalam masa yang sangat panjang.

VIDEO – VIDEO TENTANG IMAM MAHDI

1.   Karunia Besar Penantian Kepemimpinan Sempurna Imam Mahdi afs

 

 

2.   Dari Sulbi Siapakah Imam Mahdi afs

3.  Keberadaan Imam Mahdi bin Hasan Askari as Tersebar Luas Sebagai Fakta Sejarah

4.  Bukti – Bukti Keberadaan Imam Mahdi afs

 

SUMBER REFERENSI & DAFTAR BACAAN

  • https://icc-jakarta.com/2020/03/17/wujud-imam-mahdi/
  • https://www.islamquest.net/id/archive/fa1353
  • https://www.islamquest.net/id/archive/fa1362
  • https://www.islamquest.net/id/archive/question/fa2668
  • https://id.wikishia.net/view/Hadis_Man_Mata
  • http://www.ibrahimamini.com/id/node/2072
  • http://www.dalil-dalil.com/index.php/category/imam-mahdi/
  • https://icc-jakarta.com/2018/01/19/pembuktian-kemunculan-imam-mahdi-afs-melalui-ayat-ayat-al-quran/
  • http://catatanustadsinaragama.blogspot.com/2018/02/catatan-kecil-tentang-imam-mahdi-as.html
  • https://islam.nu.or.id/post/read/119209/imam-mahdi-sang-khalifah-akhir-zaman–siapakah-ia-
  • http://sadra.ac.id/diskusi-forum-antar-pakar-al-mahdi-dan-kegaiban-di-stfi-sadra.html/
  • http://ikmalonline.com/menakar-ilmu-imam-mahdi-afs-1/
  • http://alhassanain.org/indonesian/?com=content&id=2137
  • https://secondprince.wordpress.com/2010/02/15/shahih-hadis-imam-ali-pintu-kota-ilmu/
  • https://id.wikishia.net/view/Hadis_Tsaqalain
  • https://id.wikishia.net/view/Hadis_Madinatul_%27Ilmi
  • https://sinaragama12.blogspot.com/2019/11/imamah-dan-khilafah.html
  • https://id.wikishia.net/view/Mungkar_dan_Nakir
  • https://id.wikishia.net/view/Ayat_Ujian_Nabi_Ibrahim_as

 

Catatan Kaki:

[1].  Kasyf al-Mahjah li Tsumarah al-Mahjah, hlm. 273

[2].  Mahdi Faqih Imani, Ishalate Mahdawiyat dar Islam az Didgahe Ahlu Tasannun, Qom 1376 S

[3].  Hikmah Isyrâq, dari tulisan dan karangan Syeikh Isyraq, jil. 2, hal. 11-12; Syarah Hikmah Isyraq, hal. 23-24

[4].  Bihâr al-Anwâr, jil. 23, hal. 5.

[5].  Banu Isfahani, Sayyidah Nushrat Amin, Makhzan al-Irfân dar Tafsîre Qurân, jil. 3, hal. 39, penjelasan ayat 44 surah An-Nahl

[6].  Situs https://islam.nu.or.id/post/read/119209/imam-mahdi-sang-khalifah-akhir-zaman–siapakah-ia- (diakses tgl 12 Maret 2021)

[7].  Ilzamun Nashib fi Itsbatil Hujjah al-Gaib, Syeikh Ali Yazdi Hairi, 1/321-440

[8].  Syeikh Mahdi Faqih Imani, Mahdi al-Muntazhar fi Nahjil Balaghah, 16-30

[9].  Difa’ ‘anil Kulaini, Hasan Hasyim Tsamir ‘Amidi, 1/567-568

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *