Menjawab Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur Itu Dengan Ilmu Hakikat – Apa Maksudnya?

Semua kita sudah tahu, bahwa nanti di alam kubur, Malaikat Munkar dan Nakir akan bertanya kepada kita: Siapa Tuhanmu, Siapa Nabimu, Apa Kitabmu, dst …

Dalam menjawab pertanyaan itu, sebagian besar kita menganggap bahwa “kita sudah aman” karena sudah tahu jawabannya. Apakah benar demikian?

Berikut ini adalah ulasan dan penjelasan Hujjatul Islam wal Muslimin Ustadz Hasan Abu Ammar, seorang pelajar agama yang menempuh study selama lebih dari 35 tahun dalam bidang-bidang Ilmu Logika (Mantik), Filsafat, Fiqih, Ushulfiqih, dan Irfan (Gnosis), dan telah mencapai derajat Mujtahid.

Silakan simak penjelasannya pada video di bawah ini:

PEMBAGIAN ILMU

Ilmu terbagi dua yaitu ilmu hushuli dan ilmu hudhuri.

Ilmu hushuli adalah ilmu yang didapatkan melalui panca indra, definisi, dan argumentasi. Ilmu ini tidak akan dibawa mati. Ketahuilah bahwa ilmu itu akan hangus ketika kita meninggal dunia.

Tetapi kalau semua ilmu hushuli itu di-hudhuri-kan (di amalkan) maka ilmu inilah yang akan dibawa mati … sehingga nanti ilmu inilah yang bisa menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan malaikat.

Di akhirat itu pertanyaan para malaikat tidaklah menggunakan bahasa, karena malaikat tidak perlu kepada bahasa … tetapi pertanyaan itu melalui hakikatnya.

Pertanyaan malaikat “Siapa Nabimu” jika mau dibahasakan (hakikatnya) adalah kurang lebih: “apakah kamu mengikuti Muhammad saw, dan seberapa yang kamu kerjakan yang sampai pada tingkat ikhlas dan istiqomah dan sampai pada tingkat huduri yang ada pada jiwamu, ruh mu sekarang ini?

WUJUD RUH MANUSIA

Hakikatnya, ruh ini beraneka ragam. Ruh manusia akan terbentuk sesuai dengan amalan / perbuatan nya.

Perbuatan apapun, baik perbuatan baik ataupun perbuatan yang tidak baik semua akan menjelma pada ruh manusia. Misalnya kalau seseorang yang berhakikat penipu, maka jiwanya/ruhnya berhakikat ular. Maka ketika di akhirat ia akan berwujud ular. Sehingga ketika ia ditanya siapa Nabimu maka jiwa sebagai ular itu tidak akan dapat menjawab pertanyaan itu.

Di dunia ini semua dapat kita bahas … karena pembahasan semua itu adalah ilmu-ilmu husuli. Tetapi di akhirat nanti, ilmu hudhuri lah yang dilihat atau dibangkitkan. Artinya yang tidak ada pada dirinya (hudhuri) dia tidak akan mengetahuinya.

Maka jika seseorang yang ketika dibangkitkan jati dirinya berhakikat ular maka ia tidak akan mengenal Qur’an, Nabi, Imam … bahkan ia benci/anti pada semua itu. Nauzubillahi min zaalik.

JADI … ilmu yang akan dibangkitkan itu adalah ilmu yang benar, yang dimengerti dan diamalkan, lengkap dengan syarat-syaratnya, lalu benar sampai mati.

Sedangkan ilmu hushuli … ia bahkan bisa hilang ketika sudah pikun, ketika lupa, ketika ia mati, atau kalau ia sudah dibangkitkan di akhirat.

Ilmu yang akan abadi bersama kita (di akhirat) adalah ilmu hudhuri … yang ia sudah MENSUBSTANSI menjadi diri kita (karena istiqomah).

Cara menghudhurikan semua ilmu hushuli adalah ILMU ITU DIAMALKAN, seperti misalnya ilmu fiqih yang diamalkan dengan benar sesuai fiqih sampai ilmu itu menjadi hudhuri (mensubstansi) pada diri kita.

Ilmu hudhuri jika dilakukan terus-menerus ia akan menjadi ZAT DIRI KITA … sehingga kita akan bercahaya sebagaimana cahaya sholat, sehingga jika kita ditanya ‘siapa Tuhanmu’, maka cahaya itu (jiwa yang bercahaya) itulah yang akan menjawabnya dengan sangat mudah.

Wujud Diri Kita Ditentukan Oleh Amal-Amal Kita