Makna Kematian Dalam Islam

Makna kematian dari sudut pandang Islam bukanlah ketiadaan melainkan bermakna jiwa manusia yang abadi ini, terputus hubungannya dengan badan dan sebagai hasilnya akan keluar dari badan. Dan jiwa tanpa badan ini akan melanjutkan kehidupannya hingga masa tertentu dan akan kembali ke badan.[1]

Allah Swt berfirman, “Dan mereka berkata: ‘Apakah bila kami telah lenyap (hancur) dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?’ Bahkan mereka ingkar akan menemui Tuhannya. Katakanlah: ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan’.” (Qs. Al-Sajdah [32]:10-11)

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Keluarnya orang-orang beriman dari dunia laksana keluarnya bayi dari rahim ibu yaitu dari kegelapan dan kesempitan, tekanan menuju tempat yang benderang dan luas.”[2]

Imam Ali as bersabda, “Wahai manusia! Kami dan kalian diciptakan untuk tinggal bukan untuk tiada. Kalian tidak akan mati dengan meninggal melainkan berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain; karena itu, siapkanlah bekal dan sangu untuk tempat yang abadi yang nantinya akan kalian datangi.”[3]

Imam Husain As ditanya tentang apakah kematian itu? Kematian adalah sebaik-baik kegembiraan yang mendatangi seorang beriman.” Jawab Imam Husain As.[4]

Imam Husain bersabda, “Kematian adalah jembatan yang akan menyampaikan kalian dari kesulitan dunia menuju pada kebahagiaan dan kemurahan Tuhan, sementara bagi musuh-musuh Tuhan perpindahan dari istana ke penjara.”[5]

Karena itu, ayat-ayat dan riwayat-riwayat memberikan kesaksian bahwa dengan kematian atau binasanya jasad tidak akan memberikan pengaruh pada ruh.

Ruh akan lestari dan tetap ada serta ia memiliki kemandirian dan kehakikian. Karena keperibadian kita adalah pada ruh dan jiwa, bukan pada badan dan jasad kita.

Kematian tidak bermakna ketiadaan dan kehancuran, melainkan perpindahan dari satu alam ke alam yang lain dan kehidupan manusia tetap berlanjut.

Membaca al-Quran untuk Orang Mati

Setelah kematian manusia, bagi kerabat dan orang beriman lainnya harus melaksanakan amalan-amalan seperti memandikan, mengkafankan, menyalatkan dan menguburkan serta kewajiban-kewajiban yang telah berlalu dari seorang mukmin harus segera dilaksanakan.

Namun pelaksanaan sebagian amalan bagi orang yang telah meninggal mustahab (sunnah) di antaranya adalah bersedekah, berdoa dan membaca al-Quran.

Dalam kaitannya dengan penetapan terkabulkannya bacaan al-Quran bagi orang-orang yang telah meninggal terdapat dua jenis dalil yang dapat dijelaskan.

Jenis pertama adalah riwayat-riwayat yang menjelaskan secara umum supaya tetap mengingat orang-orang yang telah meninggal. Mereka mendapatkan keberkahan dari kebaikan-kebaikan yang kita lakukan; dan jelas bahwa bacaan al-Quran merupakan salah satu perbuatan baik dan terpuji.

Dalam hal ini, terdapat beberapa riwayat yang disinggung sebagian di antaranya sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, “Jangan lupakan orang-orang yang telah istirahat tenang di alam kubur di antara kalian. Orang-orang yang telah meninggal dari kalian menantikan kebaikan dari kalian. Mereka terpenjara dan berharap pada perbuatan-perbuatan baik kalian. Mereka sendiri tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya sendiri. Hadiahkan mereka dengan sedekah dan doa.”[6]

Imam Shadiq as bersabda, “Orang mati akan merasa gembira karena mengharapkan rahmat dan ampunan yang dilimpahkan kepadanya sebagaimana orang hidup akan bergembira ketika memperoleh hadiah.”[7]

Jenis kedua adalah riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang pengaruh bacaan al-Quran bagi orang yang telah meninggal; seperti riwayat ini dimana Imam Ridha as bersabda, “Barangsiapa yang berziarah ke kuburan seorang beriman dan membacakan tujuh kali surah al-Qadr maka Allah Swt akan mengampuni pemilik kubur itu.”[8]

__________
sumber: [iQuest] http://www.islamquest.net/id/archive/question/fa4017

[1] Thathabai, Sayid Muhammad Husain, Āmuzesy Din, Sayid Mahdi Ayatullah, hlm. 133, Daftar Intisyarat Islami, Jamiah Mudarrisin Hausah Ilmiah Qum, Cetakan Keempat, 1385 S.
[2] Nahj al-Fashāhah, hadis 2645, Sazeman Cap wa Intisyarat Jawidan.
[3] Syaikh Mufid, Irsyād, hlm. 229, Intisyarat Islami.
[4] Faidh Kasyani, Mulla Muhammad Muhsin, Mahajjat al-Baidhā, jld. 8, hlm. 255, Capkhaneh Shaduq, Tehran.
[5] Mahajjat al-Baidhā, jld. 8, hlm. 255.
[6] Yazdi, Syaikh Hasan bin Ali, Anwār al-Hidāyah, hlm. 115, Capkhaneh Nu’man, Najaf.
[7] Mahajjat al-Baidha, jld. 8, hlm. 292.
[8] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihār al-Anwār, jld. 79, hlm. 169, Mansyurat Capkhaneh Islamiyah, Tehran.

Dalam Berdo’a, Mengapa Tidak Meminta Langsung Kepada Allah SWT?

Dalam berdo’a, mengapa kita tidak langsung meminta kepada Allah swt? Mengapa kita memerlukan wasilah (tawassul)? Apakah tawassul boleh?

Jawabannya adalah: tawassul memang adalah merupakan perintah dari Allah SWT, salah satunya termaktub dalam surat al Maidah ayat 35:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya (wasilah) dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kalian mendapat keberuntungan”.

Juga dalam QS.  An-Nisa ayat 64 diterangkan salah satu contoh tawassul melalui Rasulullah saw.

”Dan Kami tidak mengirim seorang rasul kecuali untuk ditaati dengan ijin Allah. Kalaulah mereka -umat- menzhalimi diri mereka sendiri -dengan dosa- lalu datang kepadamu -Muhammad- dan meminta ampun kepada Allah dan RasulNyapun memintakan ampun untuk mereka, maka sudah pasti mereka akan mendapati Allah itu Maha Penerima Taubat dan Maha Kasih.” 

Dalam video diatas diceritakan suatu contoh tawassul :

Dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khathab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muthalib, lalu Umar berkata: “Ya Allah, kami telah bertawasul dengan Nabi kami Saw. dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawasul dengan Paman Nabi kami Saw., maka turunkanlah hujan.” Maka hujan pun turun.”
(HR. Bukhari dalam Shahih al-Bukhari juz 1 halaman 137).

Istilah tawassul dalam Qur an, dipakai dalam dua versi yang berbeda:

I.  Yang menolak tawassul pada obyek tertentu, yaitu di QS. 17: 56-57:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا (56) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Katakanlah (Muhammad): ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selainNya (Allah), maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari padamu dan tidak pula memindahkannya.’
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari wasilah (tawassulan) kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah untuk dijadikan tawassulan) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzabNya, sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.”

Di ayat ini tawassulnya orang-orang kafir ditolak mentah-mentah oleh Allah.

Sebenarnya, yang ditolak bukan tawassulnya, melainkan obyek tawassulnya, yakni orang-orang yang celaka yang dianggap oleh para penawassul kafirin itu sebagai dewa-dewa atau orang hebat dan tinggi.

Sementara Tuhan yang Maha Tahu mengatakan kepada mereka para kafirin bahwa yang dijadikan tawassulan oleh kafirin itu juga mencari tawassulan agar selamat dari siksa.

Dalam larangan tawassul di ayat ini, yakni pada obyek tertentu ini, terdapat pembolehan tawassul juga. Karena Tuhan mengatakan bahwa yang dijadikan tawassulan oleh kafirin itu, juga mencari tawassulan. Ini jelas bahwa tawassul itu boleh, asal benar adanya. Siapa itu? Yaitu orang-orang yang lebih dekat kepada Allah sebagaimana jelas digambarkan di ayat ini.

II.   Yang memerintahkan tawassul, yaitu di QS. 5:35:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan berpegang teguhlah pada wasilah-wasilah menujuNya dan berjuanglah di jalanNya agar kalian menjadi menang/berjaya.”

Dalam ayat ini jelas dengan muhkam/muhkamat, Tuhan memerintahkan kita untuk bertawassul dengan suatu obyek untuk mendekatiNya.

PEMBAHASAN

Kalau kedua ayat di atas digabung, maka dengan mudah menarik kesimpulan akan maksud Tuhan terhadap tawassul atau berperantara ini, yaitu:

1.  Bahwa yang dilarang Tuhan itu bukan tawassulnya, melainkan obyek tertentu dari tawassulnya. Yaitu orang kafir, pendosa dan siapa saja yang jauh dari Allah dan tergolong orang-orang yang celaka.

2.  Tawassul itu mesti dengan orang yang lebih dekat kepada Allah sebagaimana dijelaskanNya pada ayat pertama di atas.

3.  Tuhan tidak jauh dari siapapun, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita atau lebih dekat dari kehidupan kita sendiri kepada kita. Tapi mengapa ada tawassul? Jawabannya adalah karena Tuhan yang dekat kepada manusia itu bisa juga murkaNya.

Apapun itu, Kuasa Tuhan pasti dekat dengan siapa saja. Nah, yang dimaksud jauh dari Allah adalah yang jauh dari rahmat dan ridhaNya serta ada dalam dekapan murkaNya. Sedang yang dimaksud dekat denganNya adalah yang dekat dengan rahmat dan ridhaNya yang disebabkan oleh ketaqwaannya.

Orang-orang Wahabi tidak dapat memahami hal yang teramat mudah ini. Karena itu mereka mensyirikkan tawassul yang jelas-jelas ada di dalam Quran di atas. Salah satu alasannya karena Tuhan dekat pada manusia dan bahkan lebih dekat dari urat nadinya. Mereka tidak tahu bahwa dekatnya Tuhan pada pemaksiat seperti Fir’aun, adalah murkaNya, bukan ridhaNya.

4.  Ketika Tuhan memerintahkan tawassul dengan manusia yang lebih dekat kepadaNya sebagaimana dijelaskanNya di ayat pertama di atas, maka jelas memiliki hikmah di dalamnya, seperti:

–  Sikap mengakui dan tawadhu’ pada yang lebih mulia di sisiNya.

–  Mengenal siapa yang lebih mulia di sisiNya.

– Merangsang untuk meniru yang lebih mulia itu setelah mereka mengenali mereka, mengimani mereka dan tawadhu’ terhadap mereka (yang lebih mulia di sisi Allah).

–  Merangsang untuk mendatangi dan belajar kepada yang lebih mulia itu.

–  Tidak ada kelebihmuliaan di sisiNya yang pasti selain yang sudah dikatakanNya sendiri dalam Qur an, seperti Nabi saww dan para nabi as, Ahlulbait yang makshum as (QS: 33:33). Sedang selain mereka seperti orang shalih, syuhada’ dan semacamnya, walau bisa dijadikan tawassulan secara lahiriah, akan tetapi tidak menjamin seratus persen kebenarannya secara hakiki. Akan tetapi hal itu sudah dimaafkan olehNya karena kita memang tidak tahu batin dan tidak tahu yang hakiki sebagaimana yang diketahui di Lauhu al-Mahfuuzh.

–  Tawassulan yang lebih dijamin kemustabahannya atau keterkabulannya adalah tawassul yang memiliki unsur-unsur di atas, yaitu mengenali, mengakui/mengimani, tawadhu’, menyintai, belajar, mencontoh dan menghormati yang dijadikan obyek tawassulannya itu. Karena itulah Tuhan berfirman seperti di:

 1.  QS: 43:86:

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan tidaklah orang-orang yang meminta kepada selainNya itu memiliki syafaa’at kecuali orang yang menyaksikan (berjalan) dengan haq dan mereka mengetahuinya.”

Di ayat ini syarat mendapatkan syafaa’at adalah mengetahui jalan benar dan menjalaninya.

2.  QS: 4:64:

(وَلَو أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاؤُكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّاباً رَحيِماً)

“Dan kalau mereka berbuat zhalim terhadap diri mereka, datang kepadamu (Muhammad) lalu meminta ampun kepada Allah dan Rasulullah juga memintakan ampunan untuk mereka, maka mereka akan mendapatkan Allah itu Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.”

Di sini orang yang mau bertawassul dengan Nabi saww disuruh mendatangi beliau saww. Itu tandanya supaya dapat melihat beliau saww hingga tawadhu’, hormat, belajar dan mencontoh beliau saww.

Di ayat ini juga diterangkan bahwa salah satu dari diterimanya tawassul adalah dengan istighfar, yakni mengakui kesalahan, sedih dan meminta ampunanNya.

3.  QS: 12:97-98:

(قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ، قَالَ: سَوْفَ اسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ)

“Mereka (anak-anak nabi Ya’quub as yang menzhalimi nabi Yusuf as) berkata: ‘Wahai ayah kami, mintakanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami sesungguhnya kami adalah orang-orang yang salah.’ Berkata (Ya’quub as): ‘Aku akan memintakan ampunan untuk kalian dari Tuhanku sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Penyayang.’.”

Mengakui kesalahan dan istighfar di ayat ini jelas sekali dapat dilihat. Yakni sebagai syarat diterimanya tawassul dan syarat kelayakan mendapatkan syafaa’at.

4.  QS: 40:7:

(وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْء رَحْمَةً وَعِلْمَاً فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوُا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ)

“Dan mereka (para malaikat) memintakan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya bermohon): ‘Wahai Tuhan kami, Engkau telah meluaskan atas semuanya sebagai rahmat dan ilmu, maka ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalanMu serta lindungilah mereka dari adzab jahannam.’.”

Di ayat ini dijelaskan bahwa salah satu diterimanya tawassul itu adalah dengan berjalan di jalan Allah. Yakni hidup dengan penuh iman serta mengamalkan fiqihNya dengan baik.

______
sumber: http://catatanustadsinaragama.blogspot.com/2016/10/dalil-dalil-tentang-bolehnya-tawasul.html

Bangsa Yang Dijanjikan Allah Dalam Al Qur’an

Apakah betul Iran adalah bangsa yang dijanjikan Allah dalam al Quran surat Muhammad 38?

Membicarakan Iran memang selalu menarik….

Apakah itu menyangkut perseteruannya dengan Amerika dan Israel (yang oleh sebagian kalangan disebut “omdo”). Atau karena perkembangan IPTEK-nya yang hampir menyamai negara-negara maju seperti Amerika, Jepang dan Eropa. Ataupun menyangkut Syiah-nya yang selalu dituding sebagai agama sesat dan bukan bagian dari Islam.
.
Membicarakan Iran seperti membicarakan wanita seksi di hadapan seorang alim (jaim?), yang pura-pura tidak mendengar padahal sebenarnya menyimak, yang pura-pura benci padahal sebenarnya menikmati. Iran memang menarik dan “seksi”.

Tapi yang menarik perhatian kali ini bukanlah masalah Syiah-nya, atau masalah lain seputar Iran.

Yang menarik perhatian kali ini adalah berkaitan dengan surat Muhammad ayat 38:

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

“Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan(Nya);dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.” (QS, 47:38).

Dalam ayat tersebut Allah mengancam bangsa Arab, jika mereka berpaling dari kebenaran (ajaran Allah) maka Allah akan menghancurkan mereka dan kemudian menggantikannya dengan bangsa lain yang lebih baik, yang tidak memiliki sikap dan perilaku seperti bangsa Arab.

Bangsa apakah mereka?

Dalam sebuah hadits dari Imam Baihaqi, yang dinukil Tafsir Al Maraghi, menyebutkan bahwa bangsa Persia (Iran) lah yang nanti akan menggantikan bangsa Arab:

تلا رسول الله صلى الله عليه وسلم هذه الآية إلى أخرها، فقالوا : يا رسول الله من هؤلاء الذين إن تولينا استبدلوا بنا ثم لا يكونون أمثالنا فضرب رسول الله علة منكب سلمان ثم قال : هذا قومه والذي نفسي بيده لو أن هذا الدين تعلق بالثريا لتناوله رجال من فارس

“Rasulullah (saww) membaca ayat ini sampai akhir, maka para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang itu yang jika kami berpaling, mereka akan menggantikan kami dan mereka tidak seperti kami?”. Maka Rasulullah menepuk bahu Salman, kemudian berkata, “Inilah orangnya berserta kaumnya. Demi Allah, yang diriku berada dalam kekuasan-Nya, seandainya agama itu tergantung di bintang Surayya, dia akan dicapai oleh arang-orang dari Persia.” (lihat Tafsir Al Maragi hal. 79 juz 26, jilid IX).

Percayakah dengan hadits tersebut karena sumbernya berasal dari Abu Huraerah?
Dan kenapa bangsa Persia, bangsanya Salman Al-Farisi, yang dipilih bukannya bangsa Yahudi atau bangsa Armenia, misalnya?

Baiklah, anggap saja hadits itu tidak ada dan kita lebih melihatnya pada isi surat Muhammad ayat 38 di atas, dimana dinyatakan bahwa jika bangsa Arab berpaling niscaya Allah akan menggantikannya dengan bangsa lain yang tidak seperti bangsa Arab.

Pertanyaannya, bangsa apakah yang akan menggantikan bangsa Arab itu?

Di kawasan Timur Tengah, yang memungkinkan bisa menggatikan bangsa Arab hanya dua, yaitu: bangsa Kurdi dan bangsa Persia, karena tidak mungkin digantikan oleh bangsa Yahudi atau oleh bangsa Armenia yang Kristen. Tapi mengenai bangsa Kurdi, rasanya sulit untuk bisa menggantikan bangsa Arab, karena sifat masyarakatnya yang cenderung tradisional dan nomaden. Satu-satunya yang paling mungkin adalah bangsa Persia.

Pertanyaannya sekarang adalah bangsa Persia yang mana karena bangsa Persia tersebar di antara negara Iran, Irak, Suriah, Afganistan, dan Pakistan?

Untuk menjawabnya, perhatikan kriteria bangsa yang dijanjikan Allah dalam surat Al-Mâ´idah ayat 54 berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas, lagi Maha Mengetahui.” (QS, 5:54).

Dari ayat tersebut, ada lima kriteria bangsa yang dijanjikan Allah, yang akan menggantikan bangsa Arab:

1. Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya,
2. Bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin,
3. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir,
4. Berjihad di jalan Allah,
5. Tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

Dari lima kriteria di atas, mungkin terasa berlebihan jika menyebutkan bahwa bangsa (negara) Iran merupakan bangsa (negara muslim) terbaik yang ada saat ini dan sangat layak dipilih Allah untuk menggantikan bangsa Arab.
Terlepas dari setuju atau tidak dengan keyakinan mayoritas bangsa Iran sebagai penganut Syiah, namun harus diakui bahwa bangsa/negara Iran memiliki (memenuhi) kriteria-kriteria yang disebutkan dalam surat Al-Mâ´idah ayat 54 di atas, jika dibandingkan dengan bangsa/negara Irak, Suriah, Afganistan, dan Pakistan.

[1] ALLOH MENCINTAI MEREKA DAN MEREKA MENCINTAI-NYA

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

Agak susah untuk mengukur apakah Allah mencintai bangsa Iran atau tidak karena hal ini merupakan masalah ghaib. Tapi indikasinya bisa dilihat dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di Iran.

Misalnya:

  1. Ketika terjadi Perang Iran-Irak (1980-1988), Iran mampu meraih kemenangan dari serangan Irak yang didukung penuh oleh Amerika, Eropa, Arab, dan Rusia.
  2. Ketika Amerika mengirimkan enam pesawat Hercules C130 dalam Operasi Eagle Claw, operasi itu gagal hanya karena badai pasir yang melanda kawasan gurun Tabas.
  3. Ketika Iran di embargo, Iran mampu bertahan selama lebih dari 30 tahun, dan malah bisa bangkit dari keterpurukan. Ketiga peristiwa tersebut menunjukkan seolah-olah adanya “pertolongan Allah” kepada bangsa Iran.

Sementara menyangkut kecintaan bangsa Iran kepada Allah bisa dilihat dari beberapa contoh berikut:
– Sistem Pemerintahan-nya yang berdasarkan pada kaidah Al-Qur’an dan keadilan Allah.
– Hak-hak perempuan dalam konstitusi disesuaikan dengan kaidah Al-Qur’an dan keadilan Allah.
– Tradisi keagamaan dan keilmuan berkembang pesat di masyarakat, dimulai dari anak-anak hingga orangtua.
– Selalu membela Islam ketika kesucian Islam dilecehkan. Salah satu contoh yang paling nyata adalah pembelaan mereka terhadap bangsa Palestina dan Fatwa Mati Salman Rushdie yang dikeluarkan Ayatollah Khomeini.

Untuk memperoleh gambaran mengenai bangsa Iran berkaitan dengan kriteria pertama ini, mungkin sabda Nabi (saww) kepada Ali (kw) berikut bisa lebih mewakili:

مَنْ أحَبَّكَ فقَدْأحَبَّنِي وحبِيْبُك حبِيْبُ اللهِ وعدوُّك عَدُوِّيّْ وعَدُوِّيْ عدوُّ اللهِ. الويلُ لِمَنْ أبغضَكَ مِن بعدي

“Barangsiapa mencintaimu berarti ia mencintaiku dan barangsiapa membencimu berarti ia membenciku. Kekasihmu adalah kekasih Allah, musuhmu adalah musuhku dan musuhku adalah musuh Allah. Celakalah orang-orang yang memusuhimu sepeninggalku”. (HR. Ahmad bin Hanbal dari Ibnu Abbas ra).

Atau hadits berikut:

حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا حُسَيْنٌ سِبْطٌ مِنْ الْأَسْبَاطِ

“Husain bagian dariku, dan aku bagian dari Husain, Allah akan mencintai orang yang mencintai Husain, Husain termasuk dari sibt(keturunan yang akan menurunkan banyak ummat) dari beberapa ummat.”
(HR. Tirmidzi No. 3708).

Dan kita tahu bahwa mayoritas penduduk Iran penganut mazhab Ja’fari (Syiah Itsna Asyariyyah) yang notabene merupakan pecinta Ahlul Bait.

[2]. BERSIKAP LEMAH LEMBUT TERHADAP ORANG-ORANG MUKMIN.

أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Tidak aneh, jika muslim Sunni membantu muslim Sunni yang lain. Tapi, jika Iran yang melakukannya jadi lebih memiliki nilai tersendiri karena mayoritas penduduk Iran penganut Syiah.

Contohnya seperti ketika Iran menjadi negara yang paling getol membela dan memberikan dukungan moril maupun materil kepada penduduk Palestina, padahal mayoritas penduduk Palestina penganut Sunni.

Kelemah-lembutan bangsa Iran terhadap orang-orang mukmin ini pun mereka tunjukkan ketika membantu penduduk Irak yang diinvasi Amerika, padahal bangsa Irak pernah menyerang mereka selama 8 tahun (1980-1988) dengan dukungan Amerika, Eropa, Arab, dan Rusia.

Atau ketika Iran, dengan Syiah-nya, tidak berusaha membalas perlakuan sekelompok muslim Sunni yang sering menghujat, memfitnah, mengkafirkan, bahkan berusaha untuk menghancurkan Iran.

Begitupun ketika menjamurnya situs-situs celaan dan fitnahan terhadap Iran (Syiah), mereka tidak berusaha membalasnya dengan membuat situs-situs serupa.

Berbanding terbalik dengan negara-negara Arab, yang malah menjadi pendukung aksi-aksi kekerasan yang dilakukan terhadap sesama muslim sendiri, seperti: memberi dukungan terhadap aksi militer Mesir, dukungan terhadap kelompok oposisi (para pemberontak) Syuriah, dan dukungan terhadap teroris di berbagai belahan dunia.

[3]. BERSIKAP KERAS TERHADAP ORANG-ORANG KAFIR.

أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

Sudah menjadi rahasia umum jika Iran merupakan musuh utama dari musuh-musuh Islam, seperti Amerika dan Zionis Israel, sejak revolusinya pada pertengahan tahun 1977. Karena permusuhannya itulah, kemudian Iran harus rela diembargo selama puluhan tahun, mendapat tekanan dari dunia internasional (khususnya Barat, Amerika, dan Israel), dan bahkan mendapat serangan dunia maya maupun serangan dunia nyata.

Sementara negara-negara Arab malah menjalin hubungan mesra dengan Amerika dan Zionis Israel.

Benar, bahwa Iran menjalin hubungan dengan Rusia dan China. Tapi kedua negara tersebut bukan musuh Islam, karena tidak pernah menyerang negara-negara Islam, baik secara fisik (invasi militer) maupun secara mental (propaganda negatif).

[4]. BERJIHAD DI JALAN ALLOH.

يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Dalam masalah jihad, bangsa Iran bisa dikatakan paling depan. Jihad disini dalam pengertian bersungguh-sungguh didalam memperjuangkan nilai-nilai Islam agar memiliki manfaat bagi kemanusiaan.

Berikut adalah beberapa contoh jihad yang dilakukan bangsa Iran:
– Memasukkan kaidah Al-Qur’an kedalam Konstitusi Iran.
– Melakukan kajian-kajian ilmiah demi kemajuan Ilmu Pengetahuan.
– Menguasai teknologi pembangkit listrik canggih.
– Membuat alat transportasi darat (mobil) dan udara (pesawat terbang).
– Membuat robot modern dan pesawat luar angkasa.
– Memproduksi sendiri alutsista (Alat Utama Sistem Senjata).

Berbeda dengan negara-negara Arab yang selalu mengandalkan pasokan dari Amerika, Eropa, dan Israel, baik dalam persenjataan militer maupun produk-produk teknologi lainnya.

[5]. TIDAK TAKUT KEPADA CELAAN ORANG YANG SUKA MENCELA.

وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

Siapa takut? Barangkali kalimat itulah yang dilontarkan bangsa Iran ketika menghadapi serangan mental maupun fisik yang dilancarkan Amerika dan Zionis Israel.

Mungkin kalimat itu pula yang dilontarkan bangsa Iran ketika menghadapi berbagai hinaan dan fitnah yang terus disebarkan oleh kelompok takfiri.

Siapa takut? Karena bangsa Iran sudah membuktikan diri selama puluhan tahun, pasca revolusinya tahun 1979, sebagai bangsa yang tidak pernah takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela, memfitnah, bahkan merongrong kedaulatannya sebagai sebuah bangsa yang merdeka.

Barangkali karena alasan inilah (adanya hadits-hadits yang mengatakan bahwa Bangsa Persia akan menggantikan Bangsa Arab) kenapa Arab Saudi rela bersekutu dengan musuh-musuh Islam untuk menyerang Iran.
Selain itu, ternyata Arab Saudi dan Israel Memang Saudara Kandung dari Orang Tua Yang Sama, maka sudah sepantasnya Bangsa Arab ini digantikan oleh bangsa yang lebih baik.

PERCAYAKAH ANDA?

Memang sulit untuk mempercayainya, terlebih jika kita masih memandang Iran sebagai bangsa yang “sesat” karena Syiah-nya.

Tapi adakah negara dengan mayoritas penduduk muslim yang lebih baik dari Iran?

Semoga saja Indonesia bisa menjadi kandidat kuat untuk menggantikan bangsa Arab, sesuai surat Muhammad ayat 38 di atas, dan mampu memenuhi kriteria yang disebutkan dalam surat Al-Mâ´idah ayat 54 tadi.
Mungkinkah?

Hanya bangsa ini yang dapat menjawabnya. Semoga saja.

Dalam Kondisi Bagaimana Doa Kita Pasti Dikabulkan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kami akan jelaskan secara sederhana tentang makna dan pentingnya doa menurut Al-Qur’an.

Masalah perlunya doa tidak hanya agama Islam yang menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat serius. Tetapi juga pada agama nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumnya.

Berdoa merupakan sebuah perkara yang pasti dan para pemimpin Ilahi telah menyampaikan dan mengajarkan hal ini kepada umatnya. Selain itu mereka sendiri telah berdoa dalam banyak hal, di antaranya adalah doa Nabi Ibrahim As serta proses terijabahnya. Hal ini disebutkan dalam surat Ibrahim ayat 37,[1] dan juga doa Nabi Musa As[2] dan nabi-nabi lainnya.

Di dalam beberapa ayat, Allah Swt menyeru hamba-hamba-Nya untuk berdoa, di antaranya adalah surat al- Baqarah ayat 186 dan surat al Ghafir ayat 60.

Makna leksikal dan teknikal doa

Doa (dalam bahasa Arab) berarti membaca, meminta hajat dan memohon pertolongan. Terkadang juga diartikan secara mutlak; yakni membaca.[3]

Doa menurut istilah adalah memohon hajat kepada Allah Swt. Dalam Al-Qur’an, kata doa dan kata-kata jadiannya (musytaq) itu digunakan sebanyak 13 makna yang berbeda-beda, di antaranya adalah membaca, berdoa, meminta kepada Allah Swt, menyeru, memanggil, mengajak kepada sesuatu atau kepada seseorang, memohon pertolongan dan bantuan; beribadah dan lain sebagainya.[4]

Dari sebagian ayat dan riwayat Islam dapat disinyalir bahwa doa merupakan ibadah dan penyembahan atas Allah Swt.

Selain itu, pada sebagian redaksi riwayat dikatakan bahwa “ad du’aa mukhkhul ‘ibadah” (doa itu adalah otaknya ibadah), Dari sini doa juga sama seperti ibadah-ibadah lain yang memiliki syarat-syarat positif dan negatif.

Dengan kata lain, supaya doa dapat dilakukan dengan benar dan sempurna serta bisa dikabulkan dan bisa mendekatkan diri (kepada Allah Swt), maka orang yang berdoa harus memenuhi beberapa syarat dan adab. Dan juga harus meninggalkan hal-hal yang dapat menghalangi terijabahnya doa.

Dengan ini jelas bahwa sebab tidak diijabahnya sebagian doa karena Allah Swt adalah Maha Bijak lagi Maha Tahu dan seluruh perbuatan-perbuatan-Nya itu berdasar pada hikmah dan maslahat, dan terkabulnya doa itu tergantung pada kemaslahatan.

Demikian pula janji dikabulkannya doa itu bergantung kepada maslahat. Apabila ada seseorang yang terhormat lagi mulia mengumumkan; barangsiapa yang menginginkan sesuatu dariku maka aku akan memenuhi permintaannya. Lalu seseorang datang dan meminta sesuatu –dengan berkhayal bisa bermanfaat untuknya– yang pada hakikatnya berbahaya dan bahkan bisa merusak dirinya. Pada kondisi seperti ini, hal yang patut dilakukan oleh orang terpandang lagi mulia tersebut adalah ‘tidak memberi’ dan ‘tidak memenuhi’ permintaan orang tersebut. Jika ia tetap memberi dan memenuhi permintaannya, maka sikap ini bisa digolongkan sebagai perbuatan aniaya dan zalim. Mayoritas permintaan serta permohonan hamba-hamba-Nya itu mengandung hal-hal yang membahayakan diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadari hal ini.[5]

Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan: Sebagian hamba-hamba-Ku tidak bisa berubah menjadi baik dan tidak bisa menjaga imannya kecuali jika mereka itu kaya dan memiliki harta benda. Dan jika terjadi sebaliknya maka (iman) mereka akan hancur lebur; dan sebagian hamba lainnya, kefakiran dan kemiskinan itu lebih baik bagi mereka. Jika ditakdirkan kondisi lain kepada mereka, maka mereka akan menjadi binasa dan hancur.[6]

Mungkin saja terlintas sebuah syubhat dalam benak kita bahwa: Allah Swt lebih tahu hal yang maslahat bagi diri kita dan apa yang Ia kehendaki, itulah yang ditakdirkan untuk kita dan pasti akan terjadi dan tidak perlu lagi kita berdoa dan memohon kepada Allah Swt?

Untuk menjawab pertanyaan ini cukup dikatakan bahwa: Terealisasinya sebagian takdir Ilahi itu dengan doa hamba bergantung pada doanya; artinya bahwa apabila seorang hamba berdoa dan meminta, maslahat Ilahi itu punya hubungan erat dengan pemberian atau pemenuhan tersebut dan kalau ia tidak berdoa maka tak akan ditemukan satu pun maslahat dan tidak akan ditakdirkan baginya.[7]

Berasaskan hal ini, Allah Swt akan menolak doa-doanya yang bertentangan serta bertolak belakang dengan sistem terbaik alam semesta dan qadha (ketentuan) pasti Ilahi.

Misalnya seseorang memohon kepada Allah Swt supaya ia bisa hidup selamanya dan tidak pernah mati, karena doa seperti ini bertentangan dengan ketetapan Ilahi yang telah dijelaskan dalam surat Ali ‘Imran ayat 185 (kullu nafsin dzaiqatul maut; setiap yang hidup pasti akan merasakan kematian) atau ia meminta kepada Allah Swt supaya ia tidak lagi membutuhkan orang lain, maka doa seperti ini tidak akan pernah diijabah.

Dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa Imam Ali As mendengar seseorang mendoakan temannya dengan mengatakan: “Semoga Allah Swt tidak menimpakan kepadamu hal-hal yang tidak disukai dan tidak disenangi”, Imam Ali As bersabda: Anda ini telah memohon kepada Allah Swt akan kematian dan kebinasaan sahabat sendiri.[8] Yakni pada hakikatnya selama manusia itu hidup maka ia, sesuai dengan sistem tabiat dan alam cipta, akan selalu berhadapan dengan hal-hal yang tidak disukai dan bala serta malapetaka, kecuali ia tidak berada di dunia ini.

Terkait dengan masalah “tidak diijabahnya doa” , Allamah Majlisi –dalam menafsirkan sebuah riwayat– menyebutkan beberapa poin sebagai sebuah jawaban, yaitu:

Pertama: Janji Ilahi untuk mengabulkan doa itu tergantung pada kehendak Allah Swt, apabila Dia menghendaki, maka pasti akan diijabah sebagaimana firman-Nya dalam surat al An’am ayat 41 yang artinya adalah: ”maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya jika Dia menghendaki…”

Kedua: Maksud “ijabah” dalam riwayat itu adalah didengarkan dan diperhatikannya doa tersebut, karena Allah Swt mengabulkan doa orang mukmin itu sekarang juga. Akan tetapi Dia menunda untuk memberikan apa yang diinginkannya itu sehingga ia terus menerus melantunkan doa dan Allah Swt senantiasa mendengarkan bisikan suara kekasih-Nya tersebut.

Ketiga: Dalam mengabulkan doa, Allah Swt telah menyaratkan adanya maslahat dan kebaikan untuk hamba yang berdoa tersebut, karena Allah Swt adalah Maha Bijak dan Ia tidak akan pernah meninggalkan sesuatu hal yang maslahat dan membahagiakan hamba-hamba-Nya hanya karena sesuatu yang tidak bermanfaat. Jadi jelas bahwa seyogyanyalah kita mengakui bahwa janji-janji seperti ini yang datang dari Yang Maha Bijak memiliki persyaratan berupa unsur “maslahat”.[9]

Dalam kitab Ushul al-Kâfi disebutkan empat makna “ijâbah”, yaitu:

  1. Allah Swt segera memberikan apa yang diinginkan orang yang berdoa.
  2. Allah Swt mengijabah dan mengabulkan keinginannya, namun karena Allah Swt suka mendengar suara orang yang berdoa itu maka Dia menundanya dulu.
  3. Allah Swt mengabulkan dan mengijabah doanya, namun hasilnya itu berupa pembersihan dan penebusan atas dosa-dosa yang dilakukannya.
  4. Allah Swt mengabulkan doanya dan menyimpannya untuk di akhirat kelak.[10]          

Dari objek kajian diatas dapat dipahami bahwa makna “diijabahnya doa” itu bukan berarti bahwa ia dikabulkan secepat mungkin dan hasilnya nampak secara spontanitas dan yang berdoa pun mendapatkan apa yang dikehendakinya. karena sebagaimana diisyarahkan dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 89 Allah Swt mengijabah doa Nabi Musa As, dan karena demi beberapa kemaslahatan maka hasilnya itu berupa kehancuran dan kebinasaan Fir’aun, baru nampak 40 tahun kemudian.

Dan terkadang bukti diijabahnya doa itu berbentuk seperti ini dimana Allah Swt melipat-gandakan imbalan apa yang diinginkan orang yang berdoa itu pada hari kiamat –kepada orang yang ia sendiri tidak tahu bagaimana baik dan maslahatnya– sebegitu rupa dimana ketika ia menyaksikan imbalan dari keinginannya itu (yang demikian banyak) hingga berbisik sambil berharap bahwa seandainya tak ada satu pun hajat saya yang diijabah di dunia. (ia membenarkan bahwa doanya terkabul dengan sempurna).[11]

Sampai saat ini kita telah menjelaskan tentang makna doa, pentingnya doa dan syarat-syaratnya. Juga kita telah menjelaskan kenapa sebagian doa itu tidak dikabulkan serta apa maksud dari “diijabahnya doa”.

Nah, sekarang gilirannya kita menjawab pertanyaan tentang kondisi yang bagaimana doa itu diijabah dan dikabulkan? Para ulama dan mufassir Islam –berdasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat para Imam Ma’shum As– telah menyusun dan menyebutkan syarat-syarat dan adab-adab doa dan orang yang berdoa dimana dengan memenuhinya maka doa tersebut pasti akan dikabulkan.

Dalam buku “Du’ahâ wa Tahlilât Qur’ân” disebutkan sebanyak 17 syarat dan adab doa, seperti:

  • Makrifatullah,
  • kesesuaian antara lisan dan hati orang yang berdoa,
  • melaksanakan hal yang diwajibkan dan meninggalkan hal yang diharamkan,
  • beristigfar dan membaca shalawat atas Nabi Saw dan Ahlulbait As, dan lain-lain.[12]

Dan juga almarhum Faidh Kasyani dalam kitab “Mahajjatul Baidhâ”menyebutkan 10 syarat dan ia juga menyebutkan 10 syarat lain yang dinukil dari kitab “Iddatuddaa’ii”(Allamah Hillii Ra), dimana sebagian di antara syarat-syarat tersebut adalah: niat dalam berdoa, berkumpul dalam berdoa, menghadap dengan hati kepada Allah Swt, tidak menyandarkan segala hajat dan keinginan kepada selain Allah Swt, dan lain sebagainya.[13]

Terkait dengan riwayat-riwayat tentang masalah terkabulnya doa secara pasti terdapat ungkapan yang tidak ada salahnya kita sebutkan di sini.

Imam Shadiq As bersabda:”Doa-doa tersebut selalu berada di balik tirai; yakni ia tidak akan bisa bebas menembus jalan menuju keharibaan Ilahi selama doa tersebut tidak diiringi dengan bacaan shalawat atas Nabi Saw”.[14]

Ada riwayat lain yang dinukil dari Imam Shadiq As yang artinya adalah: “Ketika seseorang meminta Anda untuk berdoa, maka pertama anda membaca shalawat untuk Nabi Saw karena shalawat atas Nabi Saw itu pasti dikabulkan Allah Swt dan Allah Swt tidak akan melakukan hal dimana sebagian doa itu diijabah dan sebagiannya lagi tidak diijabah.[15]

Dan dalam riwayat lain, beliau bersabda:”Selain membaca shalawat pada permulaan doa, maka hendaknya pula membaca shalawat ketika selesai berdoa”.[16]

Imam Hasan As bersabda:”Jika ada seseorang yang senantiasa menjaga hatinya sehingga tak ada satupun bisikan berupa hal-hal yang tidak diridhai Allah Swt terlintas di dalamnya, maka saya menjadi jaminan bahwa doanya pasti diijabah”.[17]

Imam Shadiq As bersabda:”Janganlah tumpukan harapan kalian kepada selain Allah Swt sehingga hati kalian pun tidak bersandar kepada suatu kekuatan selain kepada kekuatan Allah Swt, dan pada saat itu kalian berdoa, maka pasti doanya dikabulkan”.[18]

Juga diriwayatkan bahwa: “Seorang yang teraniaya yang tidak punya tempat berlindung selain Allah Swt, doanya pasti diijabah dan dikabulkan”.[19]

Oleh karena itu, apabila doa telah dilantunkan maka tidak ada lagi kata ditolak dan doanya akan dikabulkan. Karena sang pelaku dan orang yang memenuhi keinginan tersebut, Sempurna dan Maha Sempurna dan rahmat-Nya sempurna lagi Maha sempurna dan jika limpahan rahmat itu tidak punya penampakan dan tidak dilimpahkan, maka dianggap sebagai sebuah kecacadan potensi.

Jadi apabila orang yang menerima itu punya potensi untuk menerima limpahan rahmat tersebut, maka akan dilimpahkan kepadanya rahmat Ilahi yang merupakan khazanah yang tidak akan habis, tidak punya kekurangan dan tidak terbatas serta tidak akan pernah berkurang.[20]

Dari sini dapat dikatakan bahwa perkara itu dibagi tiga:

  1. pertama: adalah tanpa doa, maslahat dalam pemberian atau pengabulan itu tetap akan ada. Dalam kondisi seperti ini, baik mereka berdoa atau pun tidak berdoa, Allah Swt tetap akan bersikap dermawan.
  2. kedua: adalah bahwa doa juga tidak maslahat. Dalam kondisi ini, mereka berdoa pun tetap tidak dikabulkan.
  3. ketiga: dengan berdoa ada maslahat dalam mengabulkannya dan tidak berdoa, tidaklah maslahat.

Dalam kondisi ini, pengabulan itu bergantung pada berdoa. Mengingat bahwa manusia tidak punya kemampuan untuk memilih dan memilah mana yang baik dan yang tidak baik dalam seluruh perkara, maka ia jangan sampai menyepelekan doa dan kalaupun tidak diijabah janganlah merasa putus asa dan anggaplah bahwa hal itu tidak ada maslahatnya.

Terlepas dari hal ini, seperti yang telah diisyarahkan sebelumnya, doa itu merupakan sebuah ibadah dan bahkan dianggap sebagai ibadah terbaik dimana ia dapat “mendekatkan diri” kepada Yang Maha Hak (Allah Swt) dan “mendekatkan diri” (taqarrub) itu sendiri merupakan manfaat terbaik untuk setiap ibadah.[21]

Ketika seseorang selesai berdoa maka –sesuai riwayat-riwayat serta sunnah para maksum As–dianjurkan mengusapkan kedua tangannya itu ke kepala dan wajah; karena taufik Allah Swt telah memberikan jawaban kepada tangan ini, sebuah tangan yang dijulurkan keharibaan Allah Swt pasti tidak akan kembali dengan tangan kosong dan tangan yang menerima pemberian Allah Swt itu dianggap mulia. Oleh itu alangkah baiknya jika diusapkan ke wajah atau ke kepala.[22] []

[1] . Muhammad Taqi Falsafi, Syarh-e Du’â-e Makarim Akhlâq, jilid 1, halaman 2.

[2] . Qs. Thaaha ayat 25 – 28.

[3] . Sayid Ali Akbar Qursyi, Qâmuus Qur’ân, kata do’a.

[4] . Bahauddini Khurramshahi, Dânesh Nâme-e Qur’ân wa Qur’an Pazhuhi, jilid 1, halaman 1054.

[5] . Sayid Muhammad Baqir Syahidi dan Rahbatuddin Syahrastani, Du’âhâ wa Tahlilât Qur’ân, halaman 43.

[6] . Mulla Hadi Sabzawari, Syarh Asmâ al-Husnâ (cetakan Maktabah Bashiirati – Qom), halaman 32.

[7] . dinukil dari Muhammad Baqir Syahidi, Du’âhâ wa Tahlilât qur’an, halaman 43.

[8] . Muhammad Taqi Falsafi, Syarh-e Du’â-e Makârim Akhlâq, jilid 1, halaman 7.

[9] . Muhammad Baqir Majlisi, Mir’âtul ‘Uqûl, jilid 12, halaman 19 – 20.

[10] . Kulaini, al-Kâfi, dan al-Raudhâh, halaman 330.

[11] . Muhammad Baqir Majlisi, Mir’âtul ‘Uqûl, jilid 12, halaman 1 – 5.

[12] . Sayid Muhammad Baqir Syahidi dan Rahbatuddin Syahrastani, Du’ahâa wa Tahlilât Qur’ân, halaman 15.

[13]. Faidh Kasyani, Mahajjatul Baidhâ, jilid 1, halaman 301 – 380.

[14] . Kulaini, al-Kâfi, jilid 2, halaman 491.

[15] . Syaikh Thusii, Âmâli, jilid 1, halaman 157.

[16] . Muhammad Taqi Falsafi, Syarh-e Du’â-e Makârim Akhlâq, jilid 1, halaman 9.

[17] . Kulaini, al-Kâfi, jilid 2, halaman 67, hadits 11.

[18] . Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jilid 72, halaman 107, hadits 7.

[19] . Abdullah Jawadi Amuli, Hikmat-e Ibâdat, halaman 220 – 234.

[20] . Imam Khomeini Ra, Syarh-e Du’â-e Sahar, terjemahan Sayid Ahmad Fahri, halaman 38.

[21] . Sayid Muhammad Baqir Syahidi dan Rahbatuddin Syahrastani, Du’ahâ wa Tahliilâat Qur’ân, halaman 45.

[22] . Abdullah Jawadi Amuli, Hikmat-e Ibâdat, halaman 215.

_________________
sumber: http://www.islamquest.net/id/archive/question/fa983