Mazhab Syiah – Antara Fitnah dan Fakta Yang Sebenarnya

Fitnah terhadap Syiah sudah berlangsung selama berabad-abad sejak wafatnya Rasulullah saww sampai saat ini.

Adalah sebuah fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa pasca wafat Rasulullah saww, umat Islam terpecah dua, yang awalnya bersumber dari perbedaan pendapat terkait siapa sesungguhnya yang lebih layak diikuti sebagai pemimpin umat Islam sepeninggal Rasulullah saww.

Perbedaan pendapat ini kemudian dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk memecah belah umat Rasulullah saww menjadi benar-benar terpecah, minimal dalam 2 golongan yaitu Sunni dan Syiah.

Perpecahan ini kalau dibiarkan berlarut-larut, sebetulnya akan sangat merugikan umat Islam itu sendiri. Padahal seharusnya, umat Islam harus selalu bersatu sebagaimana yang juga sedang diupayakan oleh para ulama-ulama Islam dari berbagai Mazhab.

Salah satu resolusi persatuan yang dihasilkan oleh para ulama seluruh dunia yang sangat terkenal adalah Risalah Amman, yang mana dalam resolusi itu dikatakan bahwa Mazhab Syiah diakui sebagai salah satu dari 8 madzhab dalam Islam, sehingga tidak boleh dikafirkan.

Resolusi ini dikeluarkan di Jordania atas prakarsa Raja Abdullah II, ditandatangani oleh kurang lebih 500 ulama terkemuka dari 50 negara termasuk Indonesia, dan diadopsi oleh 6 dewan ulama islam internasional pada sidang Organisasi Konferensi Islam di Mekah pada bulan Juli 2006.

Adapun ulama Indonesia yang ikut menandatangani risalah amman tsb adalah Maftuh Basyuni (Menag RI pada saat itu), Ketum PB NU Hasyim Muzadi, dan Ketum Muhammadiyyah Din Syamsuddin. Silakan baca tentang risalah amman pada artikel ini.

Tulisan ringkas ini dibuat dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman masyarakat luas tentang Mazhab Syiah yang sering sekali difitnah sebagai agama di luar Islam. Persepsi ini timbul karena ketidaktahuan atas hal-hal yang dianggap kontroversial dan berbeda dengan keyakinan mayoritas umat Islam.

Untuk Syiah sendiri, tudingan apapun yang ditujukan sesungguhnya bukan merupakan masalah, karena apapun yang ditudingkan sesungguhnya berasal dari mereka yang belum memiliki pengetahuan yang sebenarnya tentang Syiah dan atau karena mereka sudah terlanjur meyakini informasi tentang Syiah yang diketahuinya sebagai sebuah kebenaran … sesuai latar belakang dan pengetahuan masing-masing.

Namun demikian, syiah tetap memiliki kewajiban untuk menyampaikan info yang sebenarnya, terlepas dari apakah para pembaca dapat memahami dan atau menerimanya sebagai penjelasan yang sebenarnya mengenai Syiah, sebagaimana Rasulullah saww yang juga melakukan dakwahnya untuk menyampaikan kebenaran.

Tentunya adalah hak setiap orang untuk menerima atau tidak, dengan segala konsekuensinya, yang tentunya akan ia pertanggung jawabkan sendiri dihadapan Allah SWT nantinya.

Tulisan ringkas ini disusun bukan untuk mendakwahkan Syiah, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing, yang secara ontologis akan menentukan bagaimana dirinya  mencapai kesempurnaannya sebagai manusia, dengan menggunakan akal sehatnya, dalam menentukan pilihannya. Sesungguhnya Allah Maha Adil, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ada 14 isu-isu yang sering dipertanyakan tentang Syiah yang akan dijelaskan dalam ringkasan ini, antara lain: tentang Imamah, Ghadir Kum, Abdullah Bin Saba’, Rukun Iman, Rukun Islam, Syahadat, Al Qur’an, Hadits, Sahabat, Taqiyyah, Nikah Mut’ah, Asyura, Melukai diri sendiri dan tentang Syiah dan NKRI.

Ke 14 pertanyaan tersebut akan dijelaskan secara ringkas saja untuk mempermudah pemahaman secara umum. Bagi pembaca yang bermaksud untuk mengetahui lebih detilnya dapat mencari lebih mendalam dari berbagai sumber dalam kitab-kitab Syiah yang sudah banyak beredar, baik dalam bentuk buku maupun video, di toko-toko buku maupun secara on-line.

1. Tentang Syiah Yang Menghina Istri dan Sahabat Nabi

Memang ada segelintir kaum syiah takfiri yang suka menghina sahabat dan istri Nabi. Salah satunya yang sangat terkenal dan tersebar di berbagai video-video adalah dari syiah takfiri london, yang dipimpin oleh Yasir Al Habib, yang memang dipelihara dan dibiayai aktivitasnya oleh musuh-musuh Islam.

Aktivitas syiah takfiri inilah yang suka dimanfaatkan untuk memfitnah syiah, seolah semua kaum syiah seperti itu.

Padahal semua ulama syiah mengharamkan perbuatan menghina seperti itu. Sayyid Ali Khamenei, seorang pemimpin dan marja besar Syiah di Iran dalam fatwa nya menyebutkan, “Diharamkan menghina atau mencerca simbol-simbol (yang diagungkan) saudara-saudara kaum Sunni, termasuk istri Nabi. Pengharaman berlaku untuk seluruh istri para Nabi as, terutama istri Nabi Muhammad saww.”

Lalu juga fatwa dari marja besar Syiah di Irak, Sayyid Ali Sistani: “Perbuatan mencerca sahabat Nabi Muhammad saww bertentangan dengan ajaran ahlul bait”.

Lalu bagaimana sebenarnya pandangan syiah terhadap istri dan sahabat Nabi saww? Memang ada sedikit perbedaan pandangan antara sunni dengan syiah, tentang para sahabat Nabi, yaitu sbb:

Keyakinan sebagian muslim Sunni terkait para sahabat :

  • Seluruh sahabat adalah orang yang baik dan adil. Apapun yang mereka lakukan adalah benar, karena Allah sudah meridhoi mereka atas apa yang telah mereka lakukan untuk menegakkan Islam.
  • Apapun yang pernah terjadi diantara para sahabat (permusuhan, pertengkaran, pembunuhan) mka kita umat generasi setelahnya harus diam, tidak usah mengkritisinya.

Sedangkan Keyakinan Syiah Tentang Sahabat:

  • Menjadi orang baik adalah perjuangan seumur hidup. Bertemu Rasulullah saww, bahkan berjuang bersama beliau bukanlah jaminan bahwa seseorang akan tetap baik hingga akhir hayat.
  • Pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib as, terjadi beberapa peperangan yang mana para sahabat Nabi saling berhadapan. Mereka berperang dan ribuan sahabat Nabi terbunuh dalam peperangan itu.

Lantas berdasarkan fakta itu, apakah bisa dikatakan semua sahabat itu pasti adil dan pasti semua benar? Padahal mereka saling memerangi?

Itulah sebabnya, mengapa muslim syiah bersikap kritis terhadap sahabat. Sebab tidak semua sahabat pasti benar dan pasti adil.

Terkait berbagai pertikaian dan saling bunuh itu, Syiah meyakini bahwa sikap kritis harus dipelihara. Harus ditetapkah dan dijelaskan, siapa yang benar dan siapa yang salah di antara mereka.

lni bukan masalah menyimpan dendam kesumat, melainkan urusan siapa yang boleh dijadikan teladan bagi umat dan verifikasi hadis.

Ketika ada dua hadis saling bertentangan; yang satu diriwayatkan oleh Muawiyah dan yang satunya lagi diriwayatkan oleh Ali, kaum Syiah hanya akan menerima hadis yang diriwayatkan oleh Ali.

Ketika ada dua cara pandang yang kontradiktif terkait satu masalah, yang satu pandangan versi Sahabat X, yang kedua pandangan versi Ali, orang Syiah memilih mengambil pandangan Ali.

Nah, apakah pendirian sikap Syiah yang tetap bersikap kritis atas peristiwa sejarah di masa lalu bisa dijadikan sebagai alasan untuk menyebutnya sebagai kelompok sesat?

Apakah sikap Syiah yang lebih memilih riwayat dari Ali ketimbang Muawiyah disebut sebagai kesesatan? Bukankah dalam doktrin Sunni pun, sikap diam atas apa yang terjadi di antara para sahabat bukan bagian dari akidah?

Jadi inilah yang perlu dipahami oleh masyarakat luas, bahwa bersikap kritis (seperti sikap syiah) berbeda dengan mencerca/menghina.

Kaum muslim syiah bukan mencerca atau menghina sahabat nabi saww. Sebab dalam pandangan syiah juga, menghina manusia biasa saja sudah berdosa, apalagi menghina sahabat-sahabat Rasulullah saww.

2. Tentang Fitnah Bahwa Al-Quran Syiah Berbeda dengan Qur’an Sunni

Syiah juga sering dituding memiliki Al Qur’an yang berbeda. Tuduhan ini sebetulnya berlawanan dengan keyakinan umat Islam bahwa dalam Al Qur’an, Allah swt telah berjanji akan menjaga kemurnian AlQuran.

Dengan demikian, apabila umat lslam memang benar meyakini kebenaran Al Qur’an, maka seharusnya tudingan tersebut tidaklah patut.

Ada beberapa fakta yang perlu dijelaskan terkait tudingan ini sehingga seharusnya menjadi jelas bahwa tudingan tersebut sebenarnya tidak beralasan dan hanya merupakan prasangka buruk saja yang terus dihembus-hembuskan musuh-musuh Islam.

Semua Al Qur’an yang dicetak, beredar dan digunakan di kawasan Syiah manapun, sama persis dengan Al Qur’an yang dicetak dan beredar di Indonesia, Malaysia, Mesir, Arab Saudi dan dimanapun di dunia ini. Tidak ada satupun dan di negara manapun yang dapat menunjukkan dimana ada penerbit dan penjual AlQur’an syiah yang dikatakan berbeda tersebut.

Ada lebih dari 120 ulama Syiah yang menulis tafsir Al-Qur’an. Semua ayat-ayat yang ditafsirkan adalah sama dengan ayat-ayat yang ditafsirkan dalam kitab kitab ulama Sunni.

Juga ada banyak sekali muslim Syiah yang menghapal seluruh 30 Juz dalam Al Qur’an dan ayat-ayat yang dihapal sama persis dengan ayat-ayat Al Qur’an dimanapun.

Para penghapal ini bahkan banyak yang masih berusia sangat muda dan bahkan dinyatakan sebagai pemenang dalam MTQ Internasional. Seperti misalnya Mahmoud Nouruzi dari Iran, adalah juara pertama untuk katagori Hifzhul Quran dalam MTQ Internasional III Indonesia, yang dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus – 3 September 2015.

Atau yang lainnya, Muhammad Husein Tabataba’i (lahir di Qom, Iran), yang pada usia 7 tahun telah mendapatkan gelar Doktor (tahun 1998) dari Hijaz Collage Islamic University, Inggris.

Dia tidak hanya mampu menghafal seluruh isi al-Qur’an saja, tetapi juga mampu menerjemahkan arti dari setiap ayat ke dalam bahasa ibunya yaitu Persia, memahami makna ayat-ayat tersebut, dan bisa menggunakan ayat-ayat itu dalam percakapan sehari-hari, sehingga ia terkenal sebagai bocah ajaib, Doktor cilik hafal dan paham al-Qur’an.

Konferensi Persatuan Umat Islam yang dilangsungkan di Teheran pada tahun 1998 juga menghadirkan seorang anak perempuan yang dengan sangat fasih melantunkan ayat-ayat Al Quran yang sama persis dengan ayat-ayat Al Qur’an yang dihapalkan siapapun di seluruh dunia.

3. Tentang Pandangan Syiah Terhadap Kitab-Kitab Hadits

Tidak ada satupun kitab-kitab hadits atau kitab apapun yang diyakini Syiah sebagai kitab yang pasti benar selain AlQur’an.

Sehingga, syiah tidak memiliki kitab hadits dengan status “shahih” seperti halnya Sunni yang meyakini kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim sebagai 100% shahih.

Dalam pandangan syiah, semua kitab-kitab hadits Syiah hanya diyakini sebagai KUMPULAN HADITS yang semua harus ditelaah keshahihannya dan semua layak dikritisi.

Jadi tidak ada istilah kitab hadits shahih dalam syiah. Semua hadits yang ada dalam kitab-kitab hadits harus selalu terlebih dahulu diuji kesahihannya.

Sebagai contoh, hasil penelitian dari Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa lebih dari setengah hadits pada kitab Al Kulaini adalah hadits yang dho’if (lemah).

Dengan demikian, berbagai fitnah-fitnah keji yang sering dilontarkan kaum anti-syiah sebagai ajaran syiah dengan argumen bahwa itu berasal dari hadits-hadits shahih syiah  … sama sekali tidak dapat diterima akal.

4. Tentang Rukun Iman Syiah

Salah satu tuduhan berat yang dialamatkan kepada kaum Syiah adalah kesesatan akidahnya. Dikatakan bahwa Syiah hanya memiliki lima Rukun Iman, yaitu:
1.  Tauhid,
2.  ‘Adalah (keadilan Allah),
3.  Kenabian,
4.  Imamah,
5.  Ma’ad (hari kiamat).

Sebaliknya, kaum Sunni meyakini rukun iman berjumlah enam: iman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-Nya, kepada nabi-Nya, kepada qadha dan qadar, serta iman kepada hari akhir.

Lalu, dari perbedaan itu, dikatakan bahwa orang-orang Syiah dipandang “bukan Islam”.

Perlu diketahui, bahwa Rukun Iman dan Rukun Islam yang dikenal luas oleh masyarakat di Indonesia saat ini adalah sebuah formula/rumusan yang disusun oleh para ulama teologi Asy’ariyah.

Tetapi tak dapat dipungkiri, bahwa teologi Asy’ariyah hanyalah salah satu aliran dari banyak himpunan aliran lain yang ada dalam mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Misalnya, ada aliran teologi Maturidiyah. Juga ada aliran Mu’tazilah. Masing-masing aliran ini juga memiliki rumusan formula tersendiri tentang Rukun Iman dan Rukun Islam nya, yang juga berbeda dengan rumusan teologi Asya’riyah.

Ahlul Hadis dan teologi Salafi yang menganut teologi Ahmad bin Hanbal juga memberikan rumusan rinci tentang akidah yang juga berbeda dengan Asy’ariyah.

Jadi hal paling penting untuk digarisbawahi adalah: jika ada bagian keimanan yang tidak dimasukkan ke dalam formula atau rumusan sebuah rukun iman, bukan berarti bahwa bagian tersebut tidak diimani oleh para pengikut aliran tsb. Hanya saja, rumusan formulanya memang berbeda.
Contohnya …

Dalam rukun iman Sunni tercantum iman kepada kitab-kitab suci, sedangkan di dalam rukun Syiah tidak tercantum. Apakah Syiah tidak mempercayai kitab suci?

Tentu saja tidak demikian. Orang-orang Syiah jelas meyakini keberadaan kitab-kitab suci dan bahwa kltab-kitab suci tersebut diturunkan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasulnya.

Hanya saja Syiah tidak mencantumkannya secara tersendiri, tapi memasukkannya ke dalam sub-bagian dari nubuwwah (kenabian), yaitu nubuwah para Nabi terdahulu, dan Nabi terakhir  Muhammad SAW.

Hal yang sama juga berlaku pada keimanan pada malaikat dan qadha/qadar. Syiah percaya bahwa malaikat ltu memang ada dan mereka masing-masing punya sejumlah tugas.

Syiah juga percaya bahwa Allah punya ketetapan yang tidak mungkin bisa dilawan oleh siapapun. Hanya saja, Syiah memasukkan bahasan tentang hal ini pada sub-bagian bab pembahasan pilar yang lainnya.

Ibaratnya, ada dua penulis yang sama-sama menulis buku tentang ‘sumber daya alam’. Penulis A sangat mungkin membagi pembahasan dalam 15 bab, sementara penulis lain menulis 10 bab. Oleh penulis A, topik tentang ‘minyak bumi’ dijadikan pembahasan tersendiri di bab ke-5, sementara penulis B hanya memasukkan ‘minyak bumi’dalam salah satu sub-bab di bab 4.

Sunni membatasi rukun iman hanya kepada enam perkara. Tentu saja, ini tidak berarti bahwa Sunni tidak percaya kepada hal-hal yang lain.

Ketika Sunni hanya memasukkan adanya ketetapan Allah sebagai rukun iman, bukan berarti mereka menolak sifat-sifat Allah yang lain seperti Mahatahu, Mahahidup. dan Mahaabadi.

Sunni juga tidak memasukkan kepercayaan terhadap alam kubur dan kefanaan dunia dalam rukun iman mereka, meskipun jelas sekali bahwa mereka meyakininya.

Jadi … sekali lagi …  sekadar tidak memasukkan suatu kepercayaan ke dalam rukun iman, bukan berarti tidak mempercayainya. Itu point utama yang perlu kita sadari.

5. Tentang Rukun Islam Syiah

Kasus yang sama juga berlaku pada rukun lslam-nya orang Syiah. Isu yang dihembus-hembuskan adalah, orang Syiah punya rukun Islam yang berbeda, yaitu:
1.  Shalat,
2.  Puasa,
3.  Zakat.
4.  Haji,
5.  Wilayah.

Pertanyaannya, apakah orang Syiah tidak bersyahadat? Tentu saja mereka bersyahadat.

Silakan telaah buku-buku tuntunan cara beribadah orang-orang Syiah. Pasti akan mendapati bahwa pembacaan Syahadatain (dua kalimat syahadat) merupakan salah satu kewajiban di dalam salat. Syahadatain juga wajib dibaca oleh khatib salat Jumat.

Penelaahan yang seksama terbadap bab-bab fikih orang Sy‘iah (bukan hanya bersandarkan kepada ‘katanya’) akan menuntun kita pada pemahaman bahwa apa yang dipercayai oleh orang Sunni sebagai pilar keislaman juga dipercayai oleh orang Syiah.

Orang Syiah juga percaya kepada ajaran amar makruf nahi munkar, munakahat (pernikahan), waqaf, jihad, mu’amalah. hukum warisan, thaharah, mengurus jenazah, dan lain sebagainya. Semuanya sama.

Seandainyapun ada perbedaan dalam tata cara, perbedaan tersebut amat sangat sedikit. Tapi, bukankah di antara mazhab fikih Sunni sendiri (Syafi’i, Maliki, Hanbali, dan Hanafi) sendiri ada banyak perbedaan dalam hal tata cara beribadah?

6. Tentang Nikah Mut’ah

Salah satu fitnah paling besar tentang syiah adalah terkait isu nikah mut’ah. Dalam fitnah yang sering disebarluaskan, dikatakan bahwa syiah telah menghalalkan zina, karena dianggap nikah mut’ah sama dengan zina.

Padahal mereka yang memfitnah itu juga mengetahui bahwa dalam keyakinan semua mazhab, DULU Rasulullah saww pernah menghalalkan nikah mut’ah. Nah, logika sederhananya, jika dulu nikah mut’ah pernah dihalalkan apakah mungkin nikah mut’ah itu sama dengan zina, apalagi bahkan zina dengan istri orang lain?

Tanpa disadari, tudingan itu itu sama saja dengan menuduh Rasulullah saww pernah membolehkan zina. Nauzubillah! Itu benar-benar sama saja melakukan fitnah yang sangat besar pada Rasulullah saww.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Hasan bin Muhammad dari Jabir bin Abdillah dan Salamah bin Al-Akwa’ kedua-nya berkata, “Kami bergabung dalam sebuah pasukan, lalu datanglah (utusan) Rasulullah Saw, ia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah Saw telah mengizinkan kalian untuk menikah mut’ah, maka bermut’ahlah kalian.’  (bisa dibaca dalam Imam Al-Bukhari, hadits 5115-7, kitab Al-Nikah, bab Nahy Rasulillah saw ‘an Nikah Al-Mut’ah Akhiran; dan Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, hadits 3302-5, kitab Al-Nikah, bab Nikah Al-Mut’ah)

Itulah fakta sejarah yang diungkapkan dalam kitab-kitab Sunni, bahwa pada masa Nabi saww (hingga masa kekhalifahan Abu bakar), nikah mut’ah dilakukan oleh para sahabat nabi.

Pernikahan mut’ah ini mulai dilarang pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dimana beliau berpidato di hadapan khalayak:

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Rasulullah Saw adalah utusan Allah, dan Alquran adalah Alquran ini. Dan sesungguhnya ada dua jenis mut’ah yang berlaku di masa Rasulullah Saw, tapi aku melarang keduanya dan memberlakukan sanksi atas keduanya. Salah satunya adalah nikah mut’ah, dan saya tidak menemukan seseorang yang menikahi wanita dengan jangka tertentu kecuali saya lenyapkan dengan bebatuan. Dan kedua adalah haji tamattu’, maka pisahkan pelaksanaan haji dari umrah kamu karena sesungguhnya itu lebih sempurna buat haji dan umrah kamu.” (baca dalam Muhammad Fakhr Al-Din Al-Razi, Tafsir Al-Fakhr Al-Razi, juz 10, h. 51, QS. Al-Nisa’ [4]:24, cet. 1, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 1981 M, 1401 H)

Mengapa syiah menghalalkan nikah mut’ah? Alasannya karena syiah berpandangan bahwa apa yang sudah ditetapkan oleh AlQuran maka hukumnya tidak boleh berubah (diubah) oleh siapapun, sampai hari kiamat.

AlQuran menetapkan dalam surat An-Nisa ayat 24:

Dan orang-orang yang mencari kenikmatan (istamta’tum, dari akar kata yang sama sebagai mut’ah) dengan menikahi mereka (perempuan-perempuan), maka berikanlah mahar mereka sebagai suatu kewajiban …. (QS. Al-Nisâ’ [4]: 24)

AlQuran adalah sumber hukum tertinggi dan karenanya tidak dapat dihapuskan dengan hukum yang lebih rendah (misalnya oleh ijtihad sahabat atau fatwa khalifah).

Itulah sikap syiah terhadap nikah mut’ah. Argumennya adalah hukum yang ditetapkan Allah swt dan Rasulullah saww tidak boleh diubah oleh manusia (sekalipun oleh fatwa khalifah).

Lalu, juga perlu disadari, bahwa hukum nikah mut’ah ini hanya “Boleh”. Bukan “mustahab (sunnah)” apalagi “wajib”, seperti yang sering ditudingkan kepada syiah.

Karenanya sekalipun syiah menghalalkan nikah mut’ah, bukan berarti otomatis semua orang syiah mengamalkannya. Ini lebih ke persoalan menegakkan posisi hukum dalam Islam, karena hukum harus mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi manusia.

Dan lagi pula, nikah mut’ah itu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Ada syarat-syarat dan ketentuannya seperti halnya dalam nikah daim (permanen), seperti harus ada izin dari wali (ayah), harus ada akad dan mahar, ketika terjadi perceraian ataupun batasan waktu pernikahan sudah berakhir, masa iddah nya adalah selama 2 kali siklus haid, dsb.

Lebih lengkap penjelasan tentang nikah mut’ah ini bisa baca pada tulisan berikut ini.

7. Tentang Abdullah bin Saba Yang Disebut-Sebut Sebagai Pendiri Syiah

Sosok ini banyak diyakini sebagian umat Islam awam sebagai pendiri Syiah, yaitu seorang Yahudi yang bertujuan memecah belah umat Islam.

Padahal dalam Syiah sendiri, sosok ini tidak pernah disebut-sebut atau dirujuk atau diingat-ingat, baik dalam semua kitab Syiah maupun dalam pembicaraan para ulama Syiah.

Kalau memang orang ini ada dan merupakan pendiri, tentunya perkataannya akan selalu dirujuk dan dijadikan pedoman oleh Syiah. Namanya pun mestilah akan termaktub dalam berbagai riwayat sebagaimana layaknya seorang pendiri dalam berbagai aliran atau madzhab semisal madzhab Hanafiah, atau Maliki atau Syafi’i ataupun Hambali.

Syiah terkenal sangat menghormati para Wali dan Imam nya; dan mewujudkannya dalam bentuk ziarah-ziarah. Tentunya, apabila memang sosok ini ada apalagi sebagai pendiri, harus lah jelas dimana makamnya dan bagaimana riwayatnya sehingga layak untuk diziarahi dan diingat-ingat, baik ketika lahirnya maupun wafatnya. Pada faktanya, sosok ini sangat tidak jelas.

Terlepas dari fakta yang ada, perlu kiranya disampaikan 3 hal utama terkait Abdullah bin Saba sebagai sosok yang patut diragukan keberadaannya:

  • Kesimpangsiuran informasi, sehingga tidak jelas siapakah sebenarnya sosok ini. Menurut Ibn Hazm dan Syahrastani, sosok ini sebenarnya bernama Ibnu Sauda. Tetapi Ibn Thahir Al Bagdadi dalam kitabnya ‘Al-Farqu Bainal Firaq’, dan Al Asfaraini dalam kitabnya ‘At-Tabsyirah fid-Diin’ menyebutkan bahwa Ibnu Sauda bukanlah Abdullah bin Saba.
  • Demikian pula dengan asal muasalnya. Di kitab lain dikatakan berasal dari San’a Yaman, sedangkan di kitab lain, disebut berasal dari Hira. Kemunculannya di satu kitab dikatakan pada zaman Ustman bin Affan, di kitab lain dikatakan pada zaman pemerintahan Ali.
  • Ajaran-ajarannya yang termaktub dalam berbagai kitab juga berbeda-beda. Di satu kitab dikatakan dia mengajarkan bahwa Muhammad akan hidup kembali. Di kitab lain, Ali lah yang akan hidup kembali. Di kitab lain, dia mengajarkan bahwa Ali adalah tuhan seutuhnya tetapi di kitab lain disebutkan bahwa dia mengatakan adanya sebagian sifat Tuhan pada diri Ali.

Dari ajaran yang serba tidak jelas itu, apalagi menyangkut akidah maka jelas menunjukkan bahwa sosok ini, kalaupun benar ada, bukanlah orang yang layak diikuti oleh syiah.

Lalu, dari mana datangnya cerita Abdullah bin Saba ini? Riwayat tentang sosok ini berasal dari kitab Tarikh Thabari melalui 2 orang sebagai narasumbernya yaitu Saif bin Umar Attamimi dan As-Surri bin Yahya.

Tetapi ternyata dari berbagai kitab tentang biografi para perawi telah disebutkan bahwa Saif bin Umar adalah seorang periwayat palsu, tidak bisa dipercaya, zindiq, munkar dan lemah (Ibnu Hayyan, Al-Hakim An-Naisaburi, Ibnu Addiy, Ibnu Mu’in, Abu Dawud, An-Nasa’I dan As-Suyuthi).

Penilaian tsb juga berlaku untuk As-Surri bin Yahya yang bahkan disebut sebagai Al-Kadzdzab (tukang bohong) oleh para ulama hadits terkenal.

Dari berbagai fakta itu, jelaslah bahwa tuduhan/fitnah syiah didirikan oleh Abdullah bin Saba sama sekali tidak masuk akal dan terbantahkan dengan sangat mudah.

8. Tentang Sikap Taqiyyah Yang Dilakukan Syiah

Taqiyyah adalah menyembunyikan keyakinan yang dianutnya dengan menampakkan sikap lahiriah yang berbeda, disebabkan oleh adanya alasan-alasan yang membahayakan jiwa atau hartanya, baik dirinya ataupun orang lain.

Hal ini umumnya terpaksa dilakukan kaum syiah yang berada di wilayah-wilayah yang “tidak aman” untuk memperlihatkan keyakinan syiahnya (terancam dibunuh, terancam harta dan rezkinya, dlsb).

Beberapa dalil  bolehnya bertaqiyyah, tertulis dalam al-quran, misalnya:

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka….” (Qs Ali Imran [3]: 28)

dan ayat

“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman, (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa). Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (Qs Al-Nahl [16]: 106)

Ada beberapa contoh dalam sejarah yang membuktikan bahwa melakukan taqiyyah merupakan bagian dari ajaran Islam. Diantaranya yang terkenal adalah taqiyyah yang dilakukan oleh Asiyah (istri Fir’aun) yang menyembunyikan keyakinannya di hadapan Fir’aun.

Selain itu juga terkenal sekali kisah bagaimana salah satu sahabat Nabi saww bernama Ammar bin Yasir yang terpaksa taqiyyah karena terancam terbunuh padahal hatinya penuh dengan keimanan.

9. Tentang Syahadat Syiah

Syiah meyakini bahwa syahadat merupakan ikrar yang paling penting dalam Islam. Mengucapkan dua kalimat syahadat adalah bukti seseorang telah mengucapkan ikrar yang agung dan pertanda perubahan keimanannya untuk menjadi seorang muslim.

Syiah tidak mengakui adanya tambahan lain atas teks syahadat sebagaimana ijmak kaum muslimin. Tambahan teks “wa ‘Aliyyan waliyyullâh” sama sekali tidak ditemukan dalam buku-buku rujukan Syiah.

Bahkan, penambahan teks tersebut, sebagaimana yang dituduhkan kepada Syiah dalam azan, adalah bid’ah menurut jumhur ulama Syiah.

Sebagian perilaku awam yang menambahkan kalimat sebagaimana yang dituduhkan sebagai syahadat syiah yang beda dengan syahadat sunni … tidaklah dapat dijadikan sebagai dasar, karena perilaku awam bukanlah sumber hukum atau pun otoritas yang dapat dipegang dalam menilai mazhab mana pun.

Bahkan, di dalam Kitab Wasâil Al-Syi’ah bab 19 tentang azan dan ikamah disebutkan larangan untuk menambah teks “wa ‘Aliyyan waliyullâh” dalam azan.

Bahkan, hal ini dianggap sebagai sesuatu yang dimasukkan dengan tidak sahih dalam kitab-kitab Syiah. Hal yang sama disebutkan dalam semua referensi Syiah lain.

Dalam pandangan syiah juga, siapapun kaum muslimin ahlus sunnah wal jamaah (sunni) yang memilih mazhab syiah, maka ia tidak perlu melakukan syahadat lagi. Sebab dalam syiah, semua muslimin sunni adalah sudah beragama Islam. Karena itulah ia tidak perlu ber syahadat lagi.

 10. Tentang Peringatan Asyura 10 Muharram

Asyura bukanlah hari raya, melainkan hari duka cita.

Asyura adalah peristiwa pembantaian keluarga Nabi saww di suatu tempat bernama Karbala, Irak selatan. Peristiwa ini berlangsung pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah, sekitar 50 tahun setelah wafatnya Nabi.

Peristiwa asyura disebut sangat tragis karena beberapa hal berikut ini :

  • Perang terjadi antara kafilah keluarga Nabi Muhammad SAWW melawan 30.000 pasukan yang semuanya adalah orang Islam. Pasukan itu sendiri dipimpin oleh Umar, putera dari Sa’ad bin Abi Waqqash, salah seorang sahabat besar Nabi. Artinya, saat itu orang-orang Islam melakukan pembantaian terhadap anak-keturunan dari nabi mereka sendiri.
  • Rombongan keluarga Nabi sempat disiksa rasa haus selama tiga hari sebelum akhirnya dibunuh. Pasukan Umar memblokade sungai Eufrat sehingga keluarga Nabi tidak bisa mengambil air minum.
  • Jenazah Al Husayn dan rombongannya dimutilasi. Kepala mereka dipenggal dan ditancapkan diatas tombak. Lalu, kepala-kepala itu diarak ke Kufah dan ke Syam (Suriah) untuk dipersembahkan kepada Yazid bin Muawiyah.
  • Sisa rombongan keluarga Nabi yang masih hidup yaitu para wanita dan 2 pria yang tidak berdaya, digiring dan dirantai. Mereka diharuskan mengikuti arak-arakan kepala yang ditancapkan di atas tombak, untuk dipertontonkan kepada umat Islam di kota-kota yang dilewati.

Hal-hal diatas adalah fakta yang disepakati kebenaran peristiwanya baik oleh sejarawan Sunni maupun Syiah.

Nah, para muslim Syiah memperingati peristiwa Asyuro tsb terutama memperingati syahid nya Imam Husain as, sama seperti sebagian umat Islam menyelenggarakan acara HAUL tokoh-tokoh atau ulama-ulama dalam rangka mengenang keteladan dari tokoh yang ia peringati.

Apabila umat Islam sunni sering mengadakan haul setiap tahun untuk berbagai tokoh ulama-ulama, lalu mengapa kaum syiah tidak boleh mengadakan haul untuk memperingati syahid nya penghulu para syuhada, Imam Husain as? Itulah yang dimaksud dengan peringatan Asyura.

11. Tentang Melukai Diri Sendiri Dalam Acara Duka

Melukai diri sendiri? Apakah benar? Bagaimana yang sebenarnya?

Mayoritas ulama Syiah berfatwa bahwa melukai diri (qameh zani) dalam acara-acara asyuro maupun hari-hari duka cita adalah pebuatan haram dan bertentangan dengan agama.

Tak kurang dari Ayatullah Bagir Shadr, Imam Khomaini, Ayatullah Ali Khamenei, Ayatulah Ali Sistani, Ayatullah Jawadi Amuli, Ayatullah Makarim Syirazi, Ayatullah Mazaheri Isfahani, Ayatullah Kazim Haeri dll … semua berfatwa mengenai keharaman melukai diri sendiri.

Mengapa fatwa seperti itu harus dkeluarkan? Karena faktanya memang pernah ada sekelompok kecil kaum syiah yang ekstrem melakukan qameh zani tsb, misalnya di wilayah Pakistan, yang foto mereka itulah yang terus menerus disebarkan hingga sekarang.

Bagi mereka yang pernah bermukim di Iran, Irak dan Lebanon, dengan gambling akan berkata, bahwa mereka tidak menjumpai tindakan qameh zani tersebut.

Juga di banyak Negara termasuk Indonesia. Dalam acara duka cita asyuro, paling banter hanya menepuk-nepuk dada sebagai symbol duka cita.

12. Tentang Imamah (Kepemimpinan Setelah Nabi saww)

Dalam Keyakinan Sunni:

  • Rasulullah saww tidak dengan jelas menunjuk penggantinya.
  • Namun demikian, beberapa peristiwa dimaknai sebagai petunjuk beliau bahwa penggantinya adalah Abu Bakar, yaitu:

– Mengajak Abu Bakar untuk menemaninya hijrah dari Mekah ke Madinah
– Menikahi anaknya
– Memintanya mengimami shalat disaat beliau sedang sakit parah

Sedangkan dalam Keyakinan Syiah:

  • Rasulullah saww telah dengan jelas dan tegas menunjuk penggantinya.
  • Sebagai pemimpin yang baik, terutama demi pentingnya menjaga kemurnian ajaran Islam, maka tidak mungkin beliau meninggalkan umatnya begitu saja.
  • Berbagai riwayat yang juga ada dalam kitab-kitab Sunni telah menunjukkan hal ini dengan jelas, bahwa beliau telah menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya.

Fakta-fakta seputar kelayakan Ali bin Abi Thalib menjadi pengganti Rasulullah saww:

  • Kerabat terdekat Rasulullah saww, baik sebagai sepupu maupun mantu.
  • Terdahulu masuk Islam (as Saabiquunal Awwalun).
  • Pahlawan perang, sampai ada pepatah Arab “Tidak ada pemuda setangguh Ali, tak ada pedang sesakti Dzulfiqar” (Dzulfiqar adalah pedang Ali dalam setiap peperangan).
  • Paling berilmu, sehingga mendapat julukan Babul ‘ilm atau Pintu Ilmu sesuai hadits beliau SAWW, “Aku adalah Kota Ilmu dan Ali adalah gerbangnya. Siapa yang mau memasuki sebuah kota, hendaknya dia masuk lewat pintunya”.
  • Imam Kaum Sufi, sehingga dikenal sebagai Divine Wisdom (imam dalam Ilmu Hikmah) dan Spiritual Warriorship (Futuwwah). Hampir semua tarekat bermuara kepada ajaran Ali dan para pendirinya adalah keturunannya, antara lain Syekh Abdu Qadir Jaelani, pendiri tarekat Qadiriah. Penghormatan kaum sufi kepada Ali sangat tinggi sehingga beliau mendapat julukan Karamallahu Wajhahu (Semoga Allah memuliakan wajahnya).
  • Orang Arab terfasih setelah Rasulullah SAWW, sehingga Ibn Abil Hadid (ulama dan sastrawan terkenal Mu’tazilah di abad ke-7 menyusun buku berjudul “Syarah Nahjul Balaghah” dengan kata pengantar: ”Demi Yang Maha Benar, perkataan Ali di bawah firman Khaliq dan diatas perkataan makhluk. Masyarakat bisa belajar disiplin ilmu retorika dan penulisan dari Ali.”
  • Keterpesonaan atas kefasihan Ali ini juga diutarakan oleh Syaikh Muhammad Abduh dalam buku Syarahnya atas Nahjul Balaghah: “Tak seorangpun dari suku Arab yang tidak meyakini bahwa setelah Al Qur’an dan sabda Nabi SAW, ucapan Ali adalah yang termulia, terfasih, paling berbobot, dan juga paling komprehensif”.
  • Khalifah ke-4 yang diangkat umat secara ber ramai-ramai menjadi Khalifah setelah Utsman bin Affan. Ketegasan Ali dalam memimpin umat menimbulkan perlawanan yang mendorong terjadinya 3 peperangan, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawan.

Makna kata syiah sebenarnya dalam bahasa Arab berarti ‘pengikut’. Namun dalam perjalanan waktu, kata ini kemudian dijadikan label bagi umat Islam yang meyakini bahwa pengganti Rasulullah SAWW adalah Ali dan memutuskan untuk memilih Ali sebagai pemimpinnya.

Konsekuensi dari pilihan ini adalah lebih mengutamakan pendapat dan ajaran Rasulullah saww yang disampaikan oleh Imam Ali as untuk diikuti dalam menjalankan ajaran Islam.

13. Tentang Peristiwa Ghadir Kum

Peristiwa ini terjadi pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10H yang diriwayatkan juga di berbagai kitab Sunni sebagai peristiwa yang benar terjadi dalam sejarah Islam (Ath Thabari, Al Hamedani dan Al Bahgdadi) dan atas dasar hadits mutawattir (Ahmad bin Hanbal, Ibnu Hajar, Jazari Asy Syafi’i, As Sajestani dan An Nasa’i), dengan perawi dari kalangan para sahabat yang jumlahnya beragam sampai 110 orang (catatan Allamah Amini dari berbagai kitab hadits Sunni).

Perbedaan yang diyakini atas peristiwa itu terletak pada kata “Maula” yang diucapkan Rasulullah SAWW ketika mengangkat tangan Ali dihadapan umatnya di lembah (Ghadir) bernama Rabigh atau Khum, sejauh 3 mil dari Juhfah, setelah terlebih dulu mengumpulkan umatnya sepulang dari berhaji di Mekah menuju Madinah.

Sebelumnya, Allah SWT terlebih dulu menurunkan ayat 67 Surah Al Maidah: “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) engkau tidak menyampaikan Risalah-Nya. Allah memeliharamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.

Maka saat itu di siang hari terik memanggang padang sahara, beliau SAWW memanggil jamaah haji yang sudah terlanjur berada di depan dan yang di belakang ditunggu sampai semua berkumpul.

Kemudian setelah shalat berjama’ah, beliau SAWW berpidato tentang akidah, diatas mimbar yang terdiri dari tumpukan pelana unta. Usai berpidato, beliau SAWW menyampaikan: “Aku tinggalkan dua pusaka yang berharga, yaitu Al Qur’an dan Ahlul Bait”.

Kemudian memanggil Ali dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi hingga terlihat bagian putih dari lengan bawah kedua nya, serta melanjutkan: “Allah adalah Pemimpin (Maula) ku dan aku adalah pemimpin (maula) bagi orang-orang yang beriman. Aku lebih utama bagi kaum mukminin dibandingkan diri mereka sendiri. Maka, siapa saja yang menjadikan aku sebagai pemimpin (maula) nya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya juga”.

Usai beliau membubarkan jemaahnya, turunlah ayat 3 surah Al-Maidah: “Hari ini, Aku sempurnakan agama kalian, Kucukupkan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku rela Islam menjadi agama kalian”.

Hanya sedikit ulama Sunni yang menyangkal terjadinya peristiwa tersebut. Hanya saja, kata Maula yang diucapkan beliau SAWW dimaknai bukan sebagai pemimpin, tetapi hanya sebagai “orang yang dicintai”.

Adapun Syiah meyakini kata Maula tersebut adalah bermakna pemimpin. Karena itu peristiwa Ghadir Kum ini juga dirayakan setiap tahun oleh masyarakat Syiah sebagai salah satu hari raya, selain hari raya Ied Fitri dan Ied Adha.

14. Tentang Syiah dan NKRI

Kaum Muslim Syiah bukanlah orang asing atau “pendatang baru” di bumi Indonesia. Sejak tahun 800an masehi, mazhab Syiah sudah masuk ke Nusantara.

Jejak-jejak peninggalannya sangat banyak dan kuat, antara lain :

  • Tarian Ma’atenu di Maluku tengah yang gerakannya persis sama dengan tarian dalam tradisi Syiah untuk memperingati tragedi Karbala.
  • Upacara Mahoyak Tabuik (mengiringi keranda) yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Bengkulu dan Padang Pariaman. Upacara terebut digelar setiap tgl 10 Muharram untuk memperingati hari duka di Karbala.
  • Upacara tradisional “Satu Suro” di jawa tengah. Suro berasal dari kata Asyuro, artinya 10 Muharram. Adanya semacam larangan tak tertulis dan kebiasaaan masyarakat untuk tidak membuat acara-acara gembira pada bulan suro adalah simbol keikutsertaan masyarakat atas duka cita pembantaian keluarga Nabi di Karbala.

Syiah tidak pernah menjadi musuh NKRI. Alih-alih menjadi musuh, justru jadi pendukung NKRI yang sangat kuat.

Syiah tidak mempunyai ideologi mengganti dasar Negara Pancasila, tidak pernah menjadi teroris ataupun pengebom bunuh diri.
Syiah meyakini bahwa Pancasila adalah akad kebangsaan yang harus ditaati sebagai komitmen berbangsa dan bernegara.

Faktanya, justru kelompok-kelompok yang secara terbuka memperlihatkan kebencian kepada Syiah adalah kelompok yang menginginkan penggantian ideologi Pancasila, melakukan terorisme baik di dalam maupun di luar negeri yang tentunya semua itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam dan komitmen kebangsaan.

PENDAPAT ULAMA AHLUSSUNAH TENTANG SYIAH

_________
(Diringkas dari buku Syiah antara Fitnah dan Fakta, Tim Kajian IKMAL, cetakan I, Nov 2015 dengan beberapa tambahan dari berbagai sumber)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Siapakah Imam Mahdi Menurut AlQuran dan Hadits Nabi SAW?

Menurut Anda, Siapa Imam Mahdi itu sebenarnya? Apakah saat ini sudah ada? Apakah memang kita perlu mengenalnya sejak sekarang?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tsb, ada baiknya kita renungkan beberapa point pendahuluan berikut ini:

1.  Al-Quran telah Mengabarkan, Nanti di Akhirat, Manusia Akan Dipanggil Bersama Imam-nya

Allah Swt berfirman dalam surat Al-Isra ayat 71, “Yauma nad’u kullu unasin bi imâmihim.” yang artinya, “Pada hari tatkala Kami menyeru seluruh manusia dengan para imam mereka,” (Qs. Al-Isra:71)

Yang bisa kita tanyakan pada diri kita masing-masing adalah: Siapa Imam ku saat ini?

2.  Di Alam Kubur, Manusia Akan Ditanya oleh Malaikat, “Siapa Imam mu?”

Setelah mayit dikebumikan, ada dua malaikat yang bernama Mungkar dan Nakir yang ditugaskan menanyakan keyakinan-keyakinan orang yang baru meninggal tsb.

Riwayat-riwayat yang ada  menyebutkan pertanyaan tersebut terkait dengan keimanan kepada Allah Swt dan Rasul-Nya dan siapakah yang menjadi imam atau pemimpinnya. [1]

Yang jadi pertanyaan untuk diri kita saat ini, sudahkah kita memiliki jawaban untuk pertanyaan malaikat tsb: Siapa Imam-mu?

3.  Hadits Nabi saww: “Barangsiapa Mati dan ia Tidak Mengenal Imam Zamannya, Maka Ia Mati Dalam Keadaan Jahiliyah”

Hal ini patut jadi renungan masing-masing, apakah kita sudah mengenal imam zaman yang ada saat ini? Kalau belum, mengapa tidak segera mencari tahu secara lebih serius?

Perlu diketahui, hadits-hadits “man mata” ini terdapat dalam banyak literatur kitab referensi utama ahlussunnah (sunni) dengan berbagai redaksi.

Misalnya Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, 1421 H, jld. 28, hlm. 88; lalu Abu Daud, Musnad, 1415 H, jld.3, hlm. 425; dan Thabrani, Musnad al-Syamiyin, 1405 H, jld.2, hlm. 437, redaksinya:

مَنْ ماتَ وَ لَمْ يَعْرِفْ إمامَ زَمانِهِ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّة

Barangsiapa yang mati dan ia tidak mengenal imam zamannya maka ia mati dalam keadaan jahiliyah“.

Kitab-kitab lainnya dari kitab-kitab Ahlusunnah yang menukil hadis tsb diantaranya Shahih Muslim jilid ke-8, Mu’jam al-Kabir – Hafiz Abu Qasim Thabrani, Sunan Baihaki jilid ke-8, Musnad Daud Sulaiman bin Daud Thayalisi dan Shahih Muhammad bin Hibban Tamimi. [2]

Ulama Ahlusunnah memandang status hadis tersebut di atas Sahih dan Hasan.

Orang-orang Syi’ah ada juga yang menggunakan hadits ini dalam bahasan atas kewajiban ber-imamah dan menjadikan hadis ini sebagai salah satu dalil atas keharusan adanya seorang imam pada semua masa dan wajibnya mengenal imam pada masa ia hidup serta menaatinya.

Dalam akidah Syi’ah, maksud dari imam dalam riwayat di atas adalah AhlulBait as atau imam-imam maksum as yang berjumlah 12 imam.

Sedangkan yang dimaksud “imam zaman” untuk umat manusia sekarang ini adalah imam terakhir (ke-12) yaitu Imam Mahdi afs; yang kini masih berada dalam “kegaiban” dan sedang ditunggu kemunculannya pada waktu yang diizinkan Allah swt.

PEMBAHASAN RINGKAS TENTANG PENTINGNYA KEBERADAAN IMAM

1.  Menurut Al-Qur’an: Dunia Tidak Akan Pernah Kosong Dari Keberadaan Hujjah Allah

Dalam pandangan al-Quran, di sepanjang sejarah kehidupan manusia, bumi tidak akan pernah kosong dari keberadaan Hujjah Ilahi.

Syihabuddin Sahruwardi, filosof mazhab Iluminasi (Syaikh Isyraq), dalam bukunya “Hikmatul Isyrâq” mengutarakan,  “Dunia tidak akan pernah kosong dari hikmah (ilmu yang sempurna) dan dari keberadaan seseorang yang memiliki hikmah, hujjah-hujjah dan penjelasan-penjelasan.

Pada setiap zaman terdapat seseorang yang telah sampai kepada tingkat manusia-sempurna dimana Tuhan menjadikannya sebagai contoh sempurna dalam ilmu dan amal.

Orang semacam ini adalah khalifah Allah di muka bumi. Kepemimpinan manusia berada di tangannya. Dan akan tetap seperti itu selama langit masih tetap kokoh. [3]

Isyarat ini juga telah diberitakan dalam Al-Qur’an, “… bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.”(Qs. Al-Raad: 7)

Maknanya, akan selalu ada dan hadir seorang pemberi peringatan dan pemberi petunjuk (nabi, rasul dan para imam/washi) dalam kehidupan masyarakat manusia, yang mana ia dipilih dan ditentukan oleh Allah swt (agar petunjuk yang diberikan 100% benar).

Setelah Rasulullah saww wafat, maka tugas tersebut diemban oleh para imam maksum ahlulbait nabi as, yang menjadi “pasangan alQuran”, yang bertugas menjelaskan dan menerangkan AlQuran kepada manusia sehingga umat tidak tersesat selama-lamanya.

Ini juga merupakan perintah Rasulullah saww sendiri yang telah berwasiat pada segenap umatnya, untuk selalu berpegang teguh kepada dua pokok: yaitu (1) Alquran dan (2) Imam Ahlul Bait Nabi as.

Rasul saww bersabda, “Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku”.

Selengkapnya hadits ini bisa dilihat pada Kitab Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

Dalam madrasah Ahlulbait, imam yang ma’shum tsb tidak harus memerintah secara lahir, namun kepemimpinan umat secara maknawi tetap berada di tangannya. Karena itu mentaatinya adalah wajib, agar manusia selamat menjalani hidupnya, sebagaimana yang diperintah Rasul saww diatas.

Pada zaman sekarang ini, hujjah Allah atau imam ma’shum tsb adalah imam mahdi afs. Ia hidup secara rahasia dan tidak nampak dalam pandangan manusia (gaib). Masyarakat menyebut imam tersebut dengan panggilan “Qutbu Zamân” (poros zaman) atau “Wali Asr” (pemimpin masa), atau Imam Zaman.

Pada suatu masa yang ditentukan Allah swt nanti, imam yang menyandang sifat-sifat Ilahi itu (yaitu Imam Mahdi afs) akan berhasil membentuk sebuah pemerintahan ilahi. Ketika imam as muncul dan dunia berada pada puncak kepemimpinannya, maka seluruh penjuru dunia akan menjadi terang bercahaya.

2. Apa Sebenarnya Pengertian Imam Yang Dimaksud oleh Islam/AlQuran?

Syari’at Islam yang suci memandang kehidupan manusia dari semua sisi. Syari’at memberikan ajaran-ajarannya secara lengkap untuk membimbing manusia di semua sisi kehidupannya, baik dalam ibadah-ibadah vertikal ataupun dalam kehidupan sosial-budaya setiap individu, serta juga mengatur tata politik-pemerintahannya.

Ini berarti seorang Imam adalah pemimpin umat dalam semua segi, baik secara batin (vertikal) atau secara lahir (horizontal), baik sisi pribadi dan juga sosial, serta dari sisi ibadah dan juga pemerintahan.

Dalam Fii al-Islaam, karya ‘Allaamah Thaba Thabai ra: Imam dikatakan untuk orang yang memimpin umat atau kelompok dan memikul beban tanggung jawab tersebut, baik dalam urusan-urusan sosial dan politik (horisontal) atau keagamaan (vertikal) dan perbuatannya berhubungan erat dengan kehidupan sosialnya dimana ia (imam) hidup, baik dapat leluasa dalam menerapkan keimamahannya atau tidak (karena terhalang atau tidak diterima umat).

Dalam fakta sejarah yang terjadi, memang fungsi imam seperti itu belum dapat sepenuhnya dapat diterapkan, karena terhalangi oleh realitas ummat yang belum menerimanya. Bahkan para imam as itu semua syahid terbunuh, oleh umatnya.

Nah, fungsi imamah inilah nantinya yang akan diemban oleh Imam Mahdi afs, yaitu mencakup setiap aspek kehidupan manusia dan masyarakat, baik dalam aspek ibadah vertikal ataupun aspek horizontal.

Jadi imam mahdi yang ditunggu kehadirannya itu bukan seperti pemimpin yang diperkirakan kebanyakan masyarakat awam, yang tampak seakan pahlawan yang “ujug-ujug” (tiba-tiba) muncul dikirim Tuhan dengan segala kehebatannya lalu berhasil menaklukkan seluruh dunia di bawah pemerintahannya.

Imam mahdi afs tersebut adalah IMAM dalam arti yang sebenarnya: membimbing manusia menuju Allah swt, mengajarkan berbagai ilmu Allah swt, dan mewujudkan pemerintahan ilahiah yang sempurna. Dan tugas seperti ini, mustahil diemban oleh manusia biasa.

3.  Syarat dan Kriteria Seorang Imam, Menurut Al-Quran

Oleh beberapa gerakan Islam radikal, hadits-hadits tentang kewajiban mengenal dan taat pada imam yang disampaikan diatas juga banyak digunakan sebagai dalil ketika mereka merekrut anggota baru.

Mereka mengajak calon anggota baru itu untuk melakukan bai’at (janji setia) kepada “imam” versi mereka. Tak sedikit orang-orang awam terpengaruh oleh dalil tsb, sehingga akhirnya mereka bergabung pada kelompok-kelompok gerakan Islam radikal.

Padahal, ada ayat al-Quran dan hadits nabi saww yang dengan sangat terang benderang sekali menjelaskan syarat-syarat seorang imam, dan juga ada larangan untuk taat pada pemimpin yang zalim.

Salah satunya, Allah swt berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 124:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu ia menunaikannya (dengan baik). Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata, “Dan dari keturunanku (juga)?” Allah berfirman, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah:124)

Melalui ayat ini diberitakan bahwa, Allah swt mengangkat Nabi Ibrahim as dengan kedudukan sebagai imam. Arti konkritnya, kedudukan imamah harus diangkat oleh Allah swt dan imam tsb juga harus memiliki makam maksum (suci dari dosa).

Kalimat dalam ayat “Dan dari keturunanku (juga)? dan ayat “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim” menjelaskan bahwa yang akan menerima jabatan imamah (imam) itu hanyalah:

    • keturunan nabi Ibrahim as (termasuk tentunya disini keturunan Rasulullah saww yang memang juga ada keturunan Ibrahim as).
    • orang-orang yang tidak berbuat dosa sedikitpun (manusia ma’shum) dan bukan merupakan personifikasi dari orang yang berbuat zalim.

4. Mengapa Imam Harus Manusia Yang Mencapai Derajat Makshum?

Secara akal, imam sang pemberi petunjuk itu haruslah manusia suci (makshum). Sebab jika imam itu hanya manusia biasa, orang-orang berakal akan menolak keberadaannya. Sebab bisa saja apa yang diajarkannya itu salah/keliru, ada yang terlupa, atau memiliki motif-motif duniawi.

Agar ajaran agama itu benar 100% (shiraathal mustaqiim) maka harus dijaga oleh manusia ma’shum yang juga benar 100%.

Apakah benar para imam ahlulbait as tersebut makshum? Ya, benar. Yang menyatakannya  adalah Allah swt, dalam Quran Surat Al-Ahzab ayat 33: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33).

Karena mereka (para imam as) terjamin kesucian (kemaksuman)nya, maka lewat merekalah ajaran Islam tetap terjaga kemurniannya, dan dengan begitu umat Islam tidak akan ragu atau bimbang dalam mengambil rujukan yang benar dalam berbagai perkara.

Imam Shadiq dalam tafsir ayat di atas bersabda, “Pada setiap masa terdapat seorang imam dari keluarga kami untuk memberikan petunjuk terhadap apa yang telah dibawa oleh Rasulullah Saw (agama Islam).[4]

Hal ini kemudian diperkuat oleh pernyataan Rasulullah saww sendiri yang hadits nya sangat terkenal dan mutawatir (lihat daftar rujukan hadits pada artikel ini), diantaranya terdapat dalam Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon:

Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku”.

Alasan lain atas urgensitas keberadaan Imam Maksum as dalam masyarakat manusia adalah bahwa Al-Quran itu tetap membutuhkan penjelas dan penafsir yang mengetahui seluruh makna dan karakteristik-karakteristik ayat-ayat al-Quran yang muhkamah dan mutasyabih.

Dan tak ada yang mengetahui ilmu-ilmu tsb kecuali para Imam Maksum as, sebagaimana diisyaratkan dalam salah satu hadits Rasulullah saww yang juga sangat terkenal di kalangan ulama ahlussunah (sunni), bernama hadits madinatul ilmi, yaitu:

Rasulullah SAW bersabda “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya dan siapa yang hendak memasuki kota itu hendaklah melalui pintunya” [Mustadrak As Shahihain Al Hakim no 4638 dishahihkan oleh Al Hakim dan Ibnu Ma’in]

Hadis ini juga sekaligus menunjukkan posisi Imam Ali as sebagai sumber rujukan dalam agama setelah Nabi Muhammad saww.

Para imam maksum as itulah tali penghubung yang tidak pernah terputus antara makhluk dan Khalik. Mereka laksana paku-paku bumi dan para khalifatullah yang sejati baik pada masa kasyf  maupun pada masa satr, baik mereka hadir di hadapan ummat ataupun dalam masa tidak hadir (ghaib).

Dengan demikian, berdasarkan hukum aksiomatis akal, setelah Rasulullah harus ada Imam Maksum As. [5]

Ya .. Allah Swt tidak akan pernah membiarkan umat manusia hidup tanpa seorang hujjah (khalifah Allah) dan imam pilihan-Nya.

5.  Siapa Nama Imam-Imam Yang Ditetapkan Allah SWT? Apakah Ada Rasulullah saww Menyampaikannya?

Ada satu hadits yang sangat terkenal sekali di kalangan masyarakat, yaitu hadits 12 khalifah. Salah satu haditsnya sbb: [6]

“Agama ini akan selalu tegak sampai ada bagi kalian 12 khalifah. Mereka semua disepakati oleh umat” (HR. Abu Dawud: 4279).

Dalam Shahih Muslim, hadits nomor 3393, dan Sunan Abi Daud, hadits nomor 4279, dan 4280, digunakan istilah khalifah untuk dua belas pemimpin ini. Sementara dalam Shahih al-Bukhari, nomor hadits 7222 memakai istilah Amir.

Di dalam Sahih Bukhari, hadits berasal dari Jabir: “Rasulullah saw bersabda, ‘Akan muncul sepeninggalku 12 orang amir/imam‘, kemudian Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang aku tidak mendengarnya. Lalu saya menanyakan kepada ayah saya, ‘Apa yang dikatakannya?’ Ayah saya menjawab, ‘Semuanya dari bangsa Qureisy.’” (Sahih Bukhari, jilid 9, bab Istikhlaf, halaman 81)

Juga dalam Sahih Muslim berasal dari ‘Amir bin Sa’ad yang berkata, “Saya menulis surat kepada Ibnu Samurah, ‘Beritahukan kepada saya sesuatu yang Anda dengar dari Rasulullah saw’. Lalu Ibnu Samurah menulis kepada saya, ‘Saya mendengar Rasulullah saw bersabda pada hari Jum’at sore pada saat dirajamnya al-Aslami, ‘Agama ini akan tetap tegak berdiri hingga datangnya hari kiamat dan munculnya 12 orang khalifah yang kesemuanya berasal dari bangsa Qureisy.”

Berita bahwa ada 12 khalifah/imam/amir sepeninggal nabi ini sangat banyak tertera dalam kitab-kitab hadits ahlussunah wal jamaah (sunni). Hanya saja para ulama berbeda pendapat tentang rincian siapa-siapa saja nama-nama khalifah yang tergolong ke dalam 12 khalifah tsb.

Misalnya, ada hadits dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Sesungguhnya Nabi bersabda: ‘Kenabian akan menyertai kalian selama Allah menghendakinya, kemudian Allah mengangkat kenabian itu bila menghendakinya.

Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian (khilafah ‘ala minhajin nubuwwah) pada waktu Allah menghendakinya. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya.

Kemudian akan datang kerajaan yang menggigit dalam waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya dan diganti dengan kerajaan yang memaksakan kehendak.

Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian.’ Lalu Nabi diam.”

Habib bin Salim berkata: ‘Setelah Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, sedangkan Yazid bin al-Nu’man bin Basyir menjadi sahabatnya, maka aku menulis hadits ini kepada Yazid. Aku ingin mengingatkannya tentang hadits ini [yang aku riwayatkan dari ayahnya].

Lalu aku berkata kepada Yazid dalam surat itu: ‘Sesungguhnya aku berharap bahwa Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah yang mengikuti minhaj al-nubuwwah sesudah kerajaan yang menggigit dan memaksakan kehendak. Kemudian suratku mengenai hadits ini disampaikan kepada Umar bin Abdul Aziz, dan ternyata beliau merasa senang dan kagum dengan hadits ini’.” (HR. Ahmad, al-Bazzar, Abu Dawud, al-Baihaqi, dan lain-lain).

Pendapat Ulama AhlusSunnah lainnya, misal Al-Hafidz Jalaluddin as Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa’ menyatakan:

“Dengan demikian, berarti dua belas khalifah telah ada delapan orang, yaitu Khulafaur Rasyidin yang empat (Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali), Hasan, Muawiyah, Abdullah bin Zubair, dan Umar bin Abdul Aziz. Jumlah ini mungkin dapat ditambah dengan al-Muhtadi dari Bani Abbasiyah yang kedudukannya seperti Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah, dan dengan az-Zahir karena dengan keadilannya. Tinggal dua khalifah lagi yang kita tunggu, yang salah satunya adalah al-Mahdi dari ahli bait Rasulullah.”

Makanya tetap muncul pertanyaan di kalangan masyarakat, sebetulnya ada nggak sih hadits-hadits dari Rasulullah saww yang memberitakan siapa-siapa saja nama-nama 12 imam/amir/khalifah tsb?

Ya, ternyata ada banyak sekali riwayat yang menjelaskan nama-nama para Imam/Khalifah yang akan menjadi pemimpin umat Islam yang wajib ditaati oleh seluruh kaum muslimin itu. Jadi siapa-siapa saja nama-nama 12 imam/khalifah nabi tsb memang sudah disebutkan secara jelas oleh Rasulullah saw.

Salah satunya, hadits dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: ”ketika ayat 59 dari surat Nisa turun yang menegaskan ”taatilah Allah, dan taatilah rasul, dan para pemimpin dari kalian” aku bertanya pada rasul saww:

‘kami telah mengetahui Tuhan dan RasulNya, namun Ulil Amr yang wajib kita taati tersebut belum kami ketahui, siapakah gerangan mereka itu?

Beliau (rasulullah saww) bersabda: ”merekalah penggantiku, para Imam dan pemimpin sepeninggalku. Yang pertama Ali, kemudian secara berurutan Hasan putra Ali, Husain putra Ali, Ali putra Al Husain, Muhammad putra Ali yang dalam Taurat dikenal dengan Baqirul Ulum, dan kamu pada suatu saat akan berjumpa dengannya. Dan kapanpun kau menjumpainya sampaikanlah salamku padanya.

Kemudian setelahnya, secara urut Ja’far putra Muhammad, Musa putra Ja’far, Ali putra Musa, Muhammad putra Ali, Ali putra Muhammad, Hasan putra Ali, dan kemudian putranya yang nama dan kunyahnya (panggilan) sama dengan ku. Tuhan akan menjadikannya pemimpin bagi dunia, dan ia akan tersembunyi dari pandangan dan penglihatan, dan ia akan gaib lama sekali. Sampai suatu saat di mana hanya orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh, yang teruji dan mendalam akan keyakinan terhadap kepemimpinannya. (Muntakhabul Atsar, halaman 101)

Dari hadits di atas tahulah kita bahwa nama-nama dari 12 imam yang dimaksud oleh Rasulullah saw tsb adalah:

1. Imam Ali bin Abi Thalib as (Amirul Mukminin)
2. Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib as (cucu Rasulullah saw)
3. Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib as (cucu Rasulullah saw)
4. Imam Ali Zainal Abidin as (putra Imam Hussein)
5. Imam Muhammad Al Baqir as (putra Imam Ali Zainal Abidin)
6. Imam Ja’far Ash Shadiq as (putra Imam Muhammad Al Baqir)
7. Imam Musa Al Kazim as (putra Imam Ja’far)
8. Imam Ali Ar Ridha as (putra Imam Musa)
9. Imam Muhammad Al Jawad as (putra Imam Ar Ridha)
10. Imam Ali Al Hadi as (putra Imam Al Jawad)
11. Imam Hasan Al Askari as (putra Imam Al Hadi)
12. Imam Muhammad Al-Mahdi as (putra Imam Hasan Al-Askari)

Imam yang terakhir inilah yang dikenal sebagai Imam Mahdi afs. Namanya Muhammad bin Hasan Al Askari.

SIAPAKAH SOSOK IMAM MAHDI ITU?

1.  Ayat-Ayat Yang Memberitakan Adanya Pemerintahan Imam Mahdi afs

Masalah kemunculan pemerintahan Imam Mahdi afs bisa dibuktikan berdasarkan puluhan ayat al-Quran. Fokus umum dari ayat-ayat ini berupa berita kepada orang-orang saleh dan mustadh’afin bahwa mereka akan mendapatkan kembali haknya dan sampai pada puncak kekuasaan, menciptakan sebuah pemerintahan dunia yang tunggal bersandar pada kebenaran, hak & keadilan, dan kemenangan Islam atas seluruh maktab dan agama.

Berita dari Al-Quran tsb, pada satu sisi menjelaskan berita ini sebagai bagian dari yang disampaikan kitab-kitab langit yang lain:

Dan sungguh Kami telah tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) azd-Dzikr (Taurat) bahwasanya hamba-hamba-Ku yang saleh mewarisi bumi ini.”[Qs. Al-Anbiya: 105.]

Dari sisi lainnya lagi, berita ini bersandarkan pada kehendak Allah swt sendiri:

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi itu, hendak menjadikan mereka pemimpin, dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”. [Qs. Al-Qashash: 5.]

Pada ayat lainnya lagi, Allah Swt menyatakan bahwa pemerintahan ini sebagai janji Ilahi kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, dan menghadiahkan keamanan dan ketenangan:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”[Qs. An-Nur: 55.]

Inilah corak pemerintahan ilahi yang akan diwujudkan oleh Imam Mahdi afs dengan ijin Allah yang akan merealisasikan pemerintahan dan dunia penuh keadilan yang merupakan cita-cita terbesar kemanusiaan.

Kemunculan Imam Mahdi afs ini akan diperkenalkan kepada seluruh masyarakat dunia melalui pertolongan suara dari langit, dimana para pecinta keadilan dan kebenaran akan mengikutinya di bawah keindahan panji pemerintahan Imam Mahdi afs. (Kitab al Ghaibah, an Nu`mani, halaman 329-331.)

2.  Ilmu Imam Mahdi afs

Penguasaan Imam Mahdi afs terhadap ilmu yang ada dalam Alquran itu totalitas. Semua rahasia yang tersimpan dalam Quran dan belum pernah dibuka sebelumnya, padahal manusia secara umum sudah diberi kesempatan untuk mempelajarinya tapi tetap tidak mampu menemukan semua ilmu itu secara detail kelak akan dijelaskan oleh Imam Mahdi afs jika diperlukan.

Adanya mukhatab yang beragam dan memiliki latar keilmuan yang tinggi menuntut secara logis bahwa Imam Mahdi afs harus memiliki ilmu yang sangat mumpuni, bisa menyaingi semua ilmu manusia, menjadi mukjizat dihadapan orang-orang yang ahli ilmu dijamannya.

Terkait ilmu Imam Mahdi afs, Rasulullah Saww sendiri pernah menyifati beliau afs dengan:

…ألا إنّه الغرّاف فی بحر عمیق

“Dia adalah orang yang berenang di laut ilmu yang dalam…”

Dalam aqidah ahlul bait, ilmu merupakan syarat paling penting dalam imamah. Seorang imam ma’shum memiliki objek seluruh manusia, dengan beragam bahasa yang mereka miliki. Karenanya, seorang imam maksum juga menguasai seluruh bahasa yang dikuasai manusia.

3.  Imam Mahdi afs Telah Lahir Sejak Tahun 255 H dan Pengakuan Ulama Ahlusunnah ihwal Kelahiran Imam Mahdi afs

Para sejarawan dan ahli hadis meyakini bahwa kelahiran Imam Mahdi as terjadi pada tahun 255 H (pendapat masyhur) atau 256 H. Ahli sejarah menulis bahwa beliau lahir pada malam Jum’at pertengahan bulan Sya’ban.

Siapa Imam MahdiSayyid Tsamir ‘Amidi berkata, ”Para tokoh fikih, tafsir, hadis, sejarah, sastra, dan bahasa dari ulama Ahlussunnah telah menyatakan seratus lebih pengakuan yang begitu tegas mengenai lahirnya Imam Mahdi as.

Sebagian mereka menandaskan bahwa Muhammad ibn Hasan Al-Mahdi adalah imam yang dijanjikan kemunculannya di akhir zaman … [7]

Pembahasan paling luas dalam topik ini adalah kitab Al-Mahdi al-Muntazhar fi Nahjil Balaghah karya Syeikh Mahdi Faqih Imani. Ia menyebutkan sekitar 102 orang dari perawi Ahlussunnah yang menyatakan pengakuan dan kesaksian mereka. [8]

Masih dari Syeikh Mahdi, bahwa terdapat 128 penulis dari kalangan ulama Ahlussunnah yang mengulas Imam Mahdi as dalam salah satu kitabnya; al-Imam ats-Tsani ‘Asyar min Aimmati Ahlil Bait. Jelas, kesaksian mereka memiliki nilai sejarah yang khas dan termasyhur. Di antara nama-nama itu, ada yang hidup semasa dengan masa kelahiran Imam Mahdi as dan kegaiban singkat beliau as (Mafatihul Ulum, hal. 32-33, cet. Leiden, 1895).

Mengapa Dinasti Abbasiyah Berusaha Membunuh Imam Mahdi as?

Penguasa dinasti Abbasiyah juga sangat mengetahui dan meyakini hadits-hadits nabi tentang akan munculnya imam mahdi yang akan menumbangkan pemerintahan zalim. Oleh karena itu, tidak heran penguasa saat itu memperlakukan keluarga Imam Hasan Askari as (ayah imam mahdi) dengan penuh kewaspadaan.

Dalam upaya itu, Khalifah Mu’tamid (meninggal dunia 279 H) memerintahkan pasukannya untuk menginterogasi Imam Askari as dan menggeledah secara teliti untuk melacak ihwal Imam Mahdi as. Ia juga memerintahkan untuk menangkap orang-orang yang diberi wasiat oleh Imam Askari as. Dalam misi ini, Mu’tamid dibantu Ja’far Kadzab (pendusta) melakukan penangkapan, intimidasi, diskriminasi, penghinaan, dan pelecehan. [Syeikh Mufid, al-Irsyad, 2/336]

Semua itu terjadi tatkala Imam Mahdi as masih berusia lima tahun. Mu’tamid tak pandang umur dan tak perduli usia beliau karena ia percaya bahwa anak kecil itu akan menghancurkan kekuasaan dinastinya.

Sebagaimana telah tersebar dalam hadis nabi saww secara mutawatir, imam kedua belas dari Ahlul Bait as itu akan memenuhi dunia dengan keadilan setelah dipenuhi kezaliman. Ihwal Mu’tamid ini bagi Imam Mahdi as adalah laksana Fir’aun bagi Musa, yang dilepaskan ibunya di laut (sungai Nil) saat masih bayi lantaran kuatir kepadanya.

Tidak hanya Mu’tamid, kabar ini juga diketahui oleh penguasa sebelumnya, seperti Mu’taz dan Muhtadi. Karena itu, Imam Hasan Askari as bersikeras dan berusaha agar kabar kelahiran putranya (Imam Mahdi as) tidak tersebar kecuali hanya di antara para sahabat pilihan dan pembantu beliau.

Sikap dan perlakuan penguasa seperti itu menyingkapkan fakta bahwa mereka memahami secara benar, bahwa anak itu adalah Al Mahdi as yang dinantikan, yang telah disinggung hadis-hadis mutawatir. Kalau bukan dikarenakan keyakinan ini, lantas bahaya apa yang dapat mengancam eksistensi mereka dari wujud seorang anak kecil yang umurnya tak lebih dari lima tahun.

Seorang ulama mengatakan, jika kelahiran itu memang betul tidak terjadi, lantas, apa arti dari penangkapan para pembantu dan pengerahan para serdadu untuk mengawasi mereka dan menggeledah wanitanya yang mengandung dalam tempo yang tidak dapat dibenarkan, di mana salah satu pembantu wanita Imam Askari as diawasi selama hampir dua tahun. Belum lagi pengusiran dan teror terhadap para sahabat Imam as, lalu penyebaran mata-mata untuk mencari kabar tentang Imam Mahdi as serta pengawasan rumah beliau yang sedemikian ketat dan keras. [9]

4. Dalil Umur Panjang Imam Mahdi afs

Salah satu persoalan penting yang berkaitan dengan Imam Mahdi adalah masalah usianya yang begitu panjang.

Usia Imam dimulai dari tahun kelahirannya (255 H) dan berlanjut hingga masa sekarang ini dan akan terus hidup hingga muncul pada waktu yang Allah swt tentukan. Hasilnya, usia Imam amatlah panjang dan tidak biasa. Hal ini tiada bandingannya di zaman sekarang.

Mungkin meyakini adanya usia sepanjang ini bukanlah suatu perkara yang mudah bagi sejumlah orang. Namun, dalam fakta sejarah manusia, ada beberapa manusia yang tercatat dan dikenal memiliki usia ratusan tahun dan bahkan seribu tahun atau lebih. Salah satu yang usianya panjang dalam sejarah adalah Nabi Nuh as, Nabi Isa as dan Nabi Khaidir as.

Di dalam al-Quran, disebutkan bahwa Nabi Nuh as berdakwah kepada umatnya untuk bertauhid dan menyembah Tuhan yang Esa selama 950 tahun. Sekalipun tidak diberitakan pada usia berapa Nabi Nuh ditunjuk sebaga rasul dan pada usia berapa beliau as wafat, namun secara ringkas, dapat simpulkan bahwa usia Nuh as melebihi seribu tahun.

– QS: 29: 14: “Kami telah mengutus Nuh pada umatnya, kemudian ia bersama mereka seribu tahun kecuali lima puluh tahun…”

Karena itu tidak ada hal yang luar biasa bagi Allah swt untuk memanjangkan umur seseorang, seperti juga dalam banyak fakta sejarah lainnya, misal tidur panjangnya ashabul kahfi yang mereka adalah manusia biasa :

– QS: 18: 25: “Dan mereka berada di gua mereka itu selama tiga ratus tahun dan diperbanyak sembilan tahun.”

Ada lagi statement Al-Quran tentang Nabi Yunus as dalam QS: As-Saffat ayat 143-144:

Kalau sekiranya dia (Yunus as) bukan dari golongan orang-orang yang suka bertasbih, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari kiamat.”

Bayangkan saja, kalau Tuhan mau, bisa saja meletakkan seseorang dalam perut ikan dari sejak ratusan tahun sebelum Nabi Muhammad saww sampai hari kiamat yang entah kapan datangnya, dan dalam keadaan hidup.

Kalau ayat-ayat itu ditambah dengan hadits-hadits yang banyak dari Nabi saww tentang akan ghaibnya imam Mahdi as ini, maka sudah tidak akan ada lagi masalah bagi seorang mukmin sejati yang hatinya telah teruji dengan dalil, dan tidak mengikuti khayalan (yang tidak ada hadits hujjahnya sama sekali).

5.   Nabi Isa as pun Shalat di belakang Imam Mahdi afs: Bukti Lain Tentang Kemakshuman Imam Mahdi afs

Nabi saww bersabda:

“Dajjal keluar dalam situasi dimana agama jadi tertekan dan ilmu dijauhi … lalu datanglah Isa bin Maryam as, lalu shalat telah diiqomati dan dikatakan kepadanya: ‘Majulah (menjadi imam shalat) wahai Ruhullah!’ Isa as menjawab: ‘Sudah semestinya imam kalian yang mengimami shalat.’ ” (Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 3, hal. 367; dll.)

‎Nabi saww juga bersabda tentang Imam Mahdi afs sebagai imam yang dibanggakan karena walaupun nabi Isa as turun, akan tetapi ia as berimamah kepada Imam Mahdi afs.

“Bagaimana kalian -tidak bangga- ketika turun nabi Isa bin Maryam as diantara kalian, akan tetapi imam -yang wajib ditaati- adalah dari kalian.”

Periwayatan seperti ini dapat dilihat juga di Shahih Bukhari, bab Kitaab Bid-i al-Khalq; Shahih Muslim, bab Kitaab al-Iimaan, bab Bayaan Nuzuuli ‘Iisaa as; Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 2, hal. 336.

Apa artinya? Jika imam mahdi itu hanya manusia biasa, tidaklah mungkin seorang Nabi as bermakmum kepadanya.

Hadits ini juga makin menjelaskan kepada kita, sebuah isyarat bahwa Imam Mahdi afs tsb adalah seorang manusia Ma’shum (suci dari dosa).

Jika beliau (imam mahdi afs) seorang yang ma’shum, maka tentulah tidak mungkin beliau lahir dan diajar oleh ayah yang manusia biasa. Pastilah ayah dan kakeknya juga seorang imam ma’shum, sehingga mampu mengajarkan ilmu-ilmu Allah swt secara lengkap dan sempurna.

6.  Filsafat Kegaiban Imam Mahdi as

Mungkin diantara kita ada yang berpendapat, “Mengapa Imam Mahdi tidak tampak oleh pandangan manusia?  Mengapa Imam tidak dapat hidup di salah satu bagian dunia ini, sebagaimana manusia pada umumnya dan berupaya untuk menyebarluaskan hukum dan ketetapan agama serta memimpin umat?

Apakah tidak memungkinkan bila Imam hidup seperti itu hingga kondisi bagi kebangkitan dunia telah tersedia dan mengijinkannya untuk bangkit dan menggulingkan pemerintahan-pemerintahan yang zalim serta mendirikan pemerintahan Islam yang adil dan sejahtera.

Sebetulnya anggapan atau asumsi itu memang bagus, namun sayangnya hal demikian itu tidak dapat dilaksanakan.

Untuk lebih jelasnya mengenai persoalan ini dan mengapa tidak memungkinkan untuk dijalankan, mari kita perhatikan beberapa point penting di bawah ini:

1.  Program Imam Mahdi as tidak sama dengan program para imam lainnya. Para imam lainnya tidak memiliki kewajiban untuk melakukan perang bersenjata  untuk mendirikan pemerintahan Islam, melaksanakan hukum serta undang-undang agama, memerangi  kezaliman, dan membela orang-orang tertindas serta kaum lemah. Akan tetapi, Imam Mahdi as akan mengemban tugas yang berat ini dan hal ini terhitung sebagai kekhususannya. Rasulullah saw dan para imam suci as mengenalkan Imam Mahdi afs seperti tersebut.

2.   Pemerintahan Imam Mahdi as bersifat internasional, maktabi, serta Islami. Pemerintahan itu tidak terbatas pada sebuah negara atau teritorial tertentu, kaum atau bahasa tertentu. Sudah barang tentu untuk mendirikan pemerintahan global seperti itu bukanlah perkara yang mudah sehingga memerlukan kesiapan internasional dari dua sisi.

    • Pertama, kesiapan militer, yakni pasukan Imam Mahdi harus lebih unggul daripada pasukan militer lainnya.
    • Kedua, kesiapan opini umum sehingga sebagian besar masyarakat dunia akan menerima pemerintahan seperti itu dan berjihad serta berkorban di jalan kebenaran.

3.  Dari segi akal dan naqli (al-Quran dan hadis) telah terbuktikan bahwa wujud imam dan hujjah adalah suatu keharusan bagi kelanjutan generasi manusia dan bumi tidak akan pernah kosong dari  wujud seorang hujjah.

4.  Menurut hadis-hadis yang banyak jumlahnya dan bersifat mutawatir, jumlah para imam setelah Rasulullah saw adalah dua belas. Sebelas dari mereka telah datang dan telah meninggal dunia. Imam yang kedua belas, yakni al-Mahdi yang dijanjikan, harus hidup dan bertahan hingga hari kiamat.

5.  Rasulullah saw dan para imam suci di masa kehidupannya berkali kali telah memberitahu persoalan Mahdi as dan kebangkitannya. Mereka, antara lain, berkata, “Saat kezaliman sudah merajalela dan menguasai dunia, Mahdi akan bangkit dan melalui jihad serta pengorbanan para sahabat dan mereka yang sepemikiran dengannya, Imam Mahdi as akan memerangi kezaliman dan mencabutnya hingga ke akar-akarnya lalu mendirikan sebuah pemerintahan yang adil dan Islami.

Nah … dengan mempertimbangkan hal-hal yang disebutkan tadi, mari kita lihat apakah Imam Mahdi dapat hidup sebagaimana manusia pada umumnya di salah satu sudut dunia ini seraya menunaikan kewajiban dan tugas pada batasan yang memungkinkan untuknya?

Anggaplah kita terima premis atau anggapan ini, lalu apa yang akan terjadi? Padahal Imam Mahdi pasti akan senantiasa berhadapan dengan dua kelompok ini:

    • Golongan yang pertama adalah orang-orang yang tertindas dan yang terzalimi. Golongan ini senantiasa ada di sepanjang sejarah. Kelompok ini merupakan kelompok yang paling banyak di tengah masyarakat dan menantikan pertolongan.Ketika kelompok ini mengetahui bahwa Imam Mahdi berada di tengah-tengah mereka (yang mana mereka memang telah menunggu sang juru penyelamat yang akan memperbaiki keadaan dunia yang gelap oleh kezaliman) pastilah akan menghendaki kebangkitan internasional.

      Dengan asumsi seperti ini, apabila imam memberikan jawaban positif terhadap keinginan mereka lalu memasuki kancah perang, kebangkitan Imam Mahdi as tidak akan mendatangkan kesuksesan; sebab belum tercipta landasan bagi kebangkitan internasional. Mau tidak mau, Imam akan terbunuh dan akhirnya bumi kosong dari hujjah dan imam.

      Sebaliknya, jika imam tidak mengabulkan keinginan orang-orang yang tertindas ini dan tidak bangkit, orang-orang tertindas akan berputus asa dan bercerai berai.

      Oleh karenanya, tidak ada jalan lain, kecuali imam harus gaib dulu sekian lama sampai keadaan untuk kebangkitan dan perjuangan internasional memungkinkan.

    • Golongan kedua adalah pemerintahan-pemerintahan tiran dan arogan di dunia yang sepanjang sejarah dan di berbagai belahan dunia tidak segan melakukan berbagai macam kejahatan untuk melanggengkan dominasi dan kekuasaan mereka. Mereka pasti akan menghilangkan setiap potensi sekecil apapun yang dapat mengancam kekuasaan mereka.Kelompok ini, jika mengetahui bahwa Al Mahdi yang dijanjikan tsb telah muncul, maka mereka akan  merasakan bahaya yang sangat besar dan pasti berupaya untuk meneror dan membunuh Imam Mahdi as. Akhirnya, dunia pun akan kosong dari hujjah.

      Karena itulah, kegaiban Imam Mahdi as merupakan suatu keharusan untuk mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang semacam itu. Itulah filosofi mengapa imam mahdi masih berada dalam keghaiban dalam masa yang sangat panjang.

VIDEO – VIDEO TENTANG IMAM MAHDI

1.   Karunia Besar Penantian Kepemimpinan Sempurna Imam Mahdi afs

 

 

2.   Dari Sulbi Siapakah Imam Mahdi afs

3.  Keberadaan Imam Mahdi bin Hasan Askari as Tersebar Luas Sebagai Fakta Sejarah

4.  Bukti – Bukti Keberadaan Imam Mahdi afs

 

SUMBER REFERENSI & DAFTAR BACAAN

  • https://icc-jakarta.com/2020/03/17/wujud-imam-mahdi/
  • https://www.islamquest.net/id/archive/fa1353
  • https://www.islamquest.net/id/archive/fa1362
  • https://www.islamquest.net/id/archive/question/fa2668
  • https://id.wikishia.net/view/Hadis_Man_Mata
  • http://www.ibrahimamini.com/id/node/2072
  • http://www.dalil-dalil.com/index.php/category/imam-mahdi/
  • https://icc-jakarta.com/2018/01/19/pembuktian-kemunculan-imam-mahdi-afs-melalui-ayat-ayat-al-quran/
  • http://catatanustadsinaragama.blogspot.com/2018/02/catatan-kecil-tentang-imam-mahdi-as.html
  • https://islam.nu.or.id/post/read/119209/imam-mahdi-sang-khalifah-akhir-zaman–siapakah-ia-
  • http://sadra.ac.id/diskusi-forum-antar-pakar-al-mahdi-dan-kegaiban-di-stfi-sadra.html/
  • http://ikmalonline.com/menakar-ilmu-imam-mahdi-afs-1/
  • http://alhassanain.org/indonesian/?com=content&id=2137
  • https://secondprince.wordpress.com/2010/02/15/shahih-hadis-imam-ali-pintu-kota-ilmu/
  • https://id.wikishia.net/view/Hadis_Tsaqalain
  • https://id.wikishia.net/view/Hadis_Madinatul_%27Ilmi
  • https://sinaragama12.blogspot.com/2019/11/imamah-dan-khilafah.html
  • https://id.wikishia.net/view/Mungkar_dan_Nakir
  • https://id.wikishia.net/view/Ayat_Ujian_Nabi_Ibrahim_as

 

Catatan Kaki:

[1].  Kasyf al-Mahjah li Tsumarah al-Mahjah, hlm. 273

[2].  Mahdi Faqih Imani, Ishalate Mahdawiyat dar Islam az Didgahe Ahlu Tasannun, Qom 1376 S

[3].  Hikmah Isyrâq, dari tulisan dan karangan Syeikh Isyraq, jil. 2, hal. 11-12; Syarah Hikmah Isyraq, hal. 23-24

[4].  Bihâr al-Anwâr, jil. 23, hal. 5.

[5].  Banu Isfahani, Sayyidah Nushrat Amin, Makhzan al-Irfân dar Tafsîre Qurân, jil. 3, hal. 39, penjelasan ayat 44 surah An-Nahl

[6].  Situs https://islam.nu.or.id/post/read/119209/imam-mahdi-sang-khalifah-akhir-zaman–siapakah-ia- (diakses tgl 12 Maret 2021)

[7].  Ilzamun Nashib fi Itsbatil Hujjah al-Gaib, Syeikh Ali Yazdi Hairi, 1/321-440

[8].  Syeikh Mahdi Faqih Imani, Mahdi al-Muntazhar fi Nahjil Balaghah, 16-30

[9].  Difa’ ‘anil Kulaini, Hasan Hasyim Tsamir ‘Amidi, 1/567-568

Hadits – Hadits Tentang Ahlul Bait Nabi SAW

Mengapa Al-Quran hanya bisa dipahami dan ditafsirkan oleh Rasulullah saww dan Ahlulbait as saja?

Karena hanya manusia-manusia suci dan disucikan oleh Allah yg mampu memahami dan menafsirkan Al-Quran. Hal ini sesuai dengan nash al-Quran, yaitu dalam surat Al-Waqi’ah ayat 79:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya (al-Quran) kecuali orang-orang yang disucikan.”

Menyentuhnya disini bukan dimaknai secara tekstual sebagai menyentuh/memegang kitab suci Al-Quran, namun harus dimaknai secara kontekstual yaitu yg mampu memahami dan menafsirkan Al-Quran.

Lalu siapa yg dimaksudkan oleh Allah orang-orang yang disucikan tersebut?

Orang-orang yang disucikan itu terdapat dalam Surat Al-Ahzab 33:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“…Sesungguhnya Allah hanya ingin menghilangkan noda dari kamu, wahai Ahlulbait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.”

Ayat Thathir (Penyucian) diatas adalah diwahyukan ketika Nabi saww berada di rumah Ummu Salamah, salah satu istri Nabi.

Asbabun Nuzul ayat ini dijelaskan dalam hadis yg sangat masyhur, shahih dan mutawatir yaitu Hadis Al-Kisa’.

Tidak main-main, hadis Al-Kisa’ ini diriwayatkan oleh 2 istri Nabi saww dan sedikitnya 17 sahabat Nabi saww dalam kitab-kitab Shahih Sunni maupun Syiah, dan hanya yg bersikap jahil dan keras kepala saja yang meragukan atau menolak hadis ini.

Hadis Al-Kisa’ yg diriwayatkan oleh Ummu Salamah:

شهر بن حوشب، عن أم سلمة : إن النبي صلى الله عليه و آله جلل على علي و حسن و حسين و فاطمة كساء، ثم قال : اللهم هؤلاء أهل بيتي و خاصتي، اللهم أذهب عنهم الرجس و طهرهم تطهيرا. فقالت أم سلمة : و أنا منهم؟ قال : انك الى خير

Syahr bin Hausyab mengutip dari Ummu Salamah yang berkata, “Sesungguhnya Nabi saww meletakkan kain Kisa’ di atas kepala Ali, Hasan, Husain dan Fathimah sambil berkata, ‘Ya Allah! Mereka inilah Ahlulbaitku. Ya Allah! Hilangkanlah dari mereka segala kenajisan dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya’. Maka Ummu Salamah bertanya, ‘Bukankah aku termasuk diantara mereka juga?’ Nabi saww menjawab, ‘Engkau berada di atas jalan kebenaran.”‘

Sumber : Musnad Ahmad bin Hambal jilid 10 halaman 197 hadis ke 26659, Sunan Tirmidzi jilid 5 halaman 699 hadis ke 3871)

Sedangkan berikut ini, Hadis Al-Kisa’ yg diriwayatkan oleh Aisyah:

صفية بنت شيبة : قالت عائشة : خرج النبي صلى الله عليه و آله غداة و عليه مرط مرحل من شعر أسود، فجاء الحسن بن علي فأدخله، ثم جاء الحسين فدخل معه، ثم جاءت فاطمة فأدخلها، ثم جاء علي فأدخله، ثم قال : إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت و يطهركم تطهيرا.

Shafiyah binti Syaibah mengutip Aisyah yg berkata, “Nabi saww keluar rumah di suatu pagi dengan mengenakan pakaian wol hitam. Kemudian Hasan bin Ali masuk dan Nabi saww menempatkannya di bawah selendang (Kisa’). Setelah itu, Husain bin Ali pun datang dan Nabi saww menyelimutinya dengan selendang beliau itu juga. Kemudian Fathimah datang dan Nabi saww menempatkannya juga di bawah selendang itu, dan akhirnya Ali tiba dan bergabung dengan keluarganya di bawah kain Kisa’ itu. Lalu Nabi saww membacakan ayat, ‘Sesungguhnya Allah hanya berkehendak untuk menghilangkan kenajisan dr kalian, wahai Ahlulbait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.”‘

Sumber : Shahih Muslim jilid 4 halaman 1883 hadis ke 2424, al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain jilid 3 halaman 159 hadis ke 4707

Riwayat ini juga terdapat dalam kitab :

1. Kitab Shahîh Sunan At-Tirmizi, karya Tirmidzi, {lahir tahun 824-892 M} halaman 870, hadis nomer 3871, terbitan Maktabah Ma’arif, Riyadh cetakan ke-dua tahun 2007 M, yang disahihkan oleh Al- Albâni:
“… dari Syahr bin Hausyab dariUmmu Salamah: …….”

2. Kitab Sunan Tirmizi, {lahir tahun 824-892 M} jilid 6, hal 387-388, hadis nomer 4121, Terbitan Risalah A’lâmiyah, Cetakan pertama tahun 2009 M* yang di tahqiq oleh Syuaib Arnaut.
“… dari Syahr bin Hausyab dariUmmu Salamah: …….”

3.  Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal {lahir tahun 780-855 M} jilid 28, halaman 195-196, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakanaan ke-dua tahun 2008 M* yang disahihkan oleh Syuaib Arnaut, hadis riwayat Watsilah bin Al-Asqâ’.

4.  Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, {lahir tahun 780-855 M} Jilid 44, halaman 118-119, terbitan Muassasah Ar-Risalah, cetakan ke-dua tahun 2008 M, yang disahihkan oleh Syuaib Arnaut: diriwayatkan oleh Ummu Salamah.

5.  Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, Jilid 11, Halaman 258, hadis nomer 13663, terbitan Dâr Al  Hadis Al-Qahirah, cetakan pertama tahun 1995 M, yang dihasankan oleh Hamzah Ahmad Zain [DL)* diriwayatkan dari anas bin malik

6.  Kitab Syarah Musykil Al Atsar, karya Abu Ja’far Ath Thahhâwi {lahir tahun 852-933 M} Jilid 8, halaman 479, terbitan Dâr Al Balansiyah cetakan pertama tahun 1999 M*
Ath Thahhâwi berkata: “Dari Anas, “Sesungguhnya Rasulullah saw  “

7.   Kitab Asy-Syari’ah, karya Âjuri  {wafat tahun 970 M} , jilid 5, hal 2208, hadis nomer 1696, terbitan Dâr Al  Al Wathan, Riyadh, cetakan. pertama tahun 1997 M, yang dihasankan oleh Muhaqiq  kitab; Abdullah bin Umar bin Sulaiman Ad-Dumaiji [DL], dari riwayat Ummu Salamah.

Siapa Itu Ahlu Dzikr Yang Dimaksud Al-Qur’an?

Hal ini diperjelas lagi dengan ayat Al-Quran yang lain tentang siapa yang dapat memahami dan menafsirkan Al-Quran dengan benar.

Terdapat dalam surat An-Nahl ayat 43…

…فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“…Bertanyalah kepada orang-orang yang memiliki risalah (Ahlu Dzikr) jika kalian tidak mengetahui.”

Risalah/al-Dzikr (Pemberi Peringatan) yang dimaksud dalam ayat diatas adalah Rasulullah saww, dan orang2 yg memiliki (Ahlu Dzikr) itu adalah keluarga/Ahlulbait Rasulullah as.

Rasulullah saww ketika ditanya tentang ayat ini siapa yg dimaksud dengan Ahlu Dzikr? Beliau saww menjelaskan…

قال رسول الله صلى الله عليه و آله : الذكر أنا و الأئمة أهل الذكر

Rasulullah saww bersabda, “Yg dimaksud dengan al-Dzikr (pemberi peringatan) itu adalah aku, sedangkan para Imam adalah Ahlu Dzikr.”

Sumber : Al-Kafi jilid 1 halaman 210 hadis ke 1

Begitu juga ketika Imam Muhammad Al-Baqir as ditanya mengenai ayat tersebut, beliau as menjelaskan…

قال امام الباقر عليه السلام : نحن أهل الذكر

Imam Muhammad Al-Baqir as berkata, “Kami adalah Ahli Dzikr yg dimaksud”.

Sumber : Tafsir Thabari jilid 10 halaman 17 hadis ke 5 dan Ibnu Syahr Asyub dalam Manaqibnya jilid 4 halaman 178

Dan masalah ini dipertegas lagi dalam surat At-Thalaq ayat 10-11…

فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ آمَنُوا قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا
رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ…

“Maka takutlah kalian kepada Allah wahai orang-orang yang memiliki pemahaman, yang telah beriman, karena Allah sesungguhnya telah menurunkan kepada kalian Dzikr (pemberi peringatan) seorang Rasul yang membacakan atas kalian ayat-ayat Allah yg mengandung keterangan-keterangan yang jelas…”

Jadi jelas dalam firman Allah diatas bahwa Dzikr (pemberi peringatan) adalah Rasulullah saww, sedangkan Ahlu Dzikr adalah ‘Itrah Ahlulbait (para Imam Ahlulbait as) dimana Allah perintahkan bagi umat manusia untuk tempat bertanya.

Disamping penjelasan ayat-ayat dan hadis-hadis diatas, maka penjelasan hadis Shahih Ats-Tsaqolain dibawah ini semakin menegaskan bahwa Ahlulbait as itu adalah padanan Al-Qur’an, dimana keduanya adalah Tali Allah yg membentang dari langit ke bumi, dan berpegang teguh kepada Tali Allah tersebut adalah suatu kewajiban agar manusia tidak tersesat setelah wafatnya Rasulullah saww.

قال رسول الله صلى الله عليه و آله و سلم : إني تارك فيكم ما أن تمسكتم به لن تضلوا بعدي، أحدهما أعظم من آخر كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض و عترتي أهل بيتي و لن يتفرقوا حتى يردا علي الوضع فانظروا كيف تخلفوني فيهما

Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya aku tinggalkan bagi kalian yg jika berpegang teguh padanya niscaya kalian tidak akan tersesat setelah aku tiada. Yang satunya lebih besar dari yang satunya lagi, yaitu Kitabullah yang merupakan Tali yang membentang dari langit ke bumi, dan ‘Itrahku, Ahlulbaitku. Keduanya tidak akan berpisah hingga bergabung denganku di Telaga Haudh. Maka perhatikanlah bagaimana kalian bersikap terhadap keduanya sepeninggalku.”

Sumber : Sunan Turmudzi jilid 5 halaman 663 hadis ke 3788 dan Al-Kafi jilid 1 halaman 294 hadis ke 3.


 

KHUTBAH RASULULLAH SAWW DI GHADIR KHUM

Sepuluh tahun setelah hijrah, Rasulullah saww memerintahkan pengikut-pengikut setianya untuk memanggil semua orang dari berbagai penjuru untuk bergabung dengan beliau pada haji terakhir.

Itulah kali pertama kaum Muslimin yang berjumlah banyak sekali berkumpul di suatu tempat di hadapan pemimpin mereka, Nabi Muhammad SAWW.

Pada tanggal 18 Dzulhijjah, usai melaksanakan haji terakhirnya (haji wada), Nabi Muhammad SAWW pergi meninggalkan Mekkah menuju Madinah, di mana ia dan kumpulan kaum Muslimin sampai pada satu tempat bemama Ghadir Khum (saat ini dekat dengan Juhfah, sekitar 200 km dari Mekkah).

Itulah tempat di mana orang-orang dari berbagai penjuru saling menyampaikan salam perpisahan dan kembali ke rumah dengan mengambil jalan yang berbeda-beda.

Di tempat inilah turun ayat Quran: “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah : 67: 4)

Usai menerima ayat di atas, Nabi Muhammad SAWW berhenti di suatu tempat (telaga Khum) yang sangat panas. Rasulullah saww memerintahkan rombongan untuk berhenti dan mendirikan kemah.

Lalu beliau memerintahkan semua orang yang telah telanjur berada jauh di depan untuk kembali, dan menunggu sampai para jemaah haji yang masih tertinggal di belakang tiba dan berkumpul semuanya. Ketika jamaah haji lainnya tiba di Ghadir Khum, saat itu jumlahnya mencapai sekitar 120 ribu orang.

Rasulullah saww menyuruh Salman untuk membuat mimbar tinggi dari batu-batu dan pelana unta agar ia bisa menyampaikan khutbah. Rasulullah saw pun naik ke mimbar dan menyampaikan pidatonya, yang ringkasan isinya adalah sebagai berikut:

“Ketahuilah —wahai manusia— sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan Ali sebagai wali dan imam kamu, dan telah mewajibkan kepada setiap orang darimu untuk mentaatinya. Sah keputusan hukum yang diambilnya, dan berlaku kata-katanya. Terlaknat orang yang menentangnya, dan memperoleh rahmat orang yang mempercayainya.”

“Dengarlah dan patuhilah, sesungguhnya Allah adalah Tuhanmu dan Ali adalah pemimpinmu. Kemudian keimamahan dan kepemimpinan (berikutnya) ada pada keturunan yang berasal dari tulang sulbinya, sehingga tiba hari kiamat.”

“Sesungguhnya tidak ada yang halal kecuali apa yang telah dihalalkan oleh Allah, Rasul-Nya dan mereka, dan tidak ada yang haram kecuali apa yang telah diharamkan oleh Allah, Rasul-Nya dan mereka.”

Setelah menyampaikan pidatonya, Nabi meminta Imam Ali naik ke mimbar dan mengangkat tangan Imam serta mengenalkan kepada umat Islam bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penggantinya. Nabi bersabda bahwa ketaatan kepada Ali bin Abi Thalib sama dengan ketaatan kepada beliau.

Setelah Nabi saww mengangkat/meresmikan keimamahan imam Ali as di hadapan kurang lebih 120.000 shahabat, beliau saw bersabda (sebelum menyuruh setiap orang yang ada waktu itu untuk satu persatu membai’at imam Ali as di hadapan beliau saw).

“Hendaknya yang hadir ini menyampaikan kepada yang tidak hadir, dan hendaknya orang tua menyampaikan kepada anak-anaknya!”

***

Hadis ini dikenal dengan nama Hadis Al-Ghadir. Derajat hadis ini adalah hadis yang paling mutawatir dan tidak ada satupun hadis Nabi saw yang melebihi kemutawatiran hadis ini.

Yang menulis hadis Ghadir ini di kitab-kitab hadits ahlussunnah dan tafsir-tafsir ahlussunnah banyak sekali, dan yang mengakui kemutawatirannya juga banyak sekali. Sedang perawi, penukil hadits dan yang mengakui kemutawatirannya pun sangat banyak (sebagian kitab-kitab tsb disebutkan di bagian bawah tulisan ini).

Muhammad ibnu Jariir al-Thabari (wafat th 310 H), menulis kitab bernama al-Wilaayatu yang menulis thuruq atau jalan perawian hadits ini sebanyak 75 jalan/thuruq/shahabat (padahal mutawatir itu cukup 9 thuruq)


Berikut petikan Khutbah Rasulullah di Ghadir Khum:

“…. Hai, kaum Muslimin! ketahuilah bahwa Jibril sering datang padaku membawa perintah dari Allah yang Maha Pemurah, bahwa aku harus berhenti di tempat ini dan memberitahukan kepada kalian suatu hal.

Lihatlah! Seakan-akan waktu semakin dekat saat aku akan dipanggil (oleh Allah) dan aku akan menyambut panggilannya.”

“Hai, Kaum Muslimin! Apakah kalian bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.

Surga adalah benar, neraka adalah benar, kematian adalah benar, kebangkitan pun benar, dan ‘hari itu pasti akan tiba, dan Allah akan membangkitkan manusia dari kuburnya?”

Mereka menjawab: “Ya, kami meyakininya.”

Nabi melanjutkan: “Hai, kaum Muslimin! Apakah kalian mendengar jelas suaraku?” Mereka menjawab: “Ya.”

Rasul berkata: “Dengarlah! Aku tinggalkan bagi kalian 2 hal paling berharga dan simbol penting yang jika kalian setia pada keduanya, kalian tidak akan pernah tersesat sepeninggalku. Salah satunya memiliki nilai yang lebih tinggi dari yang lain.”

Orang-orang bertanya: “Ya, Rasulullah, apakah dua hal. yang amat berharga itu?”

Rasulullah menjawab: “Salah satunya adalah kitab Allah dan lainnya adalah Itrah Ahlulbaitku (keluargaku).

Berhati-hatilah kalian dalam memperlakukan mereka ketika aku sudah tidak berada di antara kalian, karena, Allah, Yang Maha Pengasih, telah memberitahukanku bahwa dua hal ini (Quran dan Ahlulbaitku) tidak akan berpisah satu sama lain hingga mereka bertemu denganku di telaga (al-Kautsar).

Aku peringatkan kalian, atas nama Allah mengenai Ahlulbaitku.

Aku peringatkan kalian atas nama Allah, mengenai Ahlulbaitku.

Sekali lagi! Aku peringatkan kalian, atas nama Allah tentang Ahlulbaitku!”

“Dengarlah! Aku adalah penghulu surga dan aku akan menjadi saksi atas kalian maka barhati-hatilah kalian memperlakukan dua hal yang sangat berharga itu sepeninggalanku.

Janganlah kalian mendahului mereka karena kalian akan binasa, dan jangan pula engkau jauh dari mereka karena kalian akan binasa!”

“Hai, kaum Muslimin! Tahukah kalian bahwa aku memiliki hak atas kalian lebih dari pada diri kalian sendiri?”

Orang-orang berseru: “Ya, Rasulullah.” Lalu Rasul mengulangi: “Hai, kaum Muslimin? Bukankah aku memiliki hak atas kaum beriman lebih dari ada diri mereka sendiri?” Mereka berkata lagi: “Ya, Rasulullah.”

Kemudian Rasul berkata: “hai Kaum Muslim! Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan aku adalah Maula/Pemimpin semua orang-orang beriman,”

Lalu ia merengkuh tangan Ali bin Abi Thalib dan mengangkatnya ke atas.

la berseru: “Barang siapa mengangkatku sebagai Maula, maka Ali adalah Maulanya pula (Nabi mengulang sampai tiga kali)

Ya, Allah! Cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang-orang yang memusuhinya.

Bantulah orang-orang yang membantunya. Selamatkanlah orang-orang yang menyelamatkannya, dan jagalah kebenaran dalam dirinya ke mana pun ia berpaling! (artinya, jadikan ia pusat kebenaran).

Ali adalah putra Abu Thalib, saudaraku, Washi-ku, dan penggantiku (khalifah) dan pemimpin sesudahku.

Kedudukannya bagiku bagaikan kedudukan Harun bagi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku.

la adalah pemimpin kalian setelah Allah dan Rasul-Nya.”

“Hai, kaum Muslimin! Sesungguhnya Allah telah menunjuk dia menjadi pemimpin kalian.

Ketaatan padanya wajib bagi seluruh kaum Muhajirin dan kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan dan penduduk kota dan kaum pengembara, orang-orang Arab dari orang-orang bukan Arab, para majikan dan budak, orang-orang tua dan muda, besar dan kecil, putih dan hitam.”

“Perintahnya harus kalian taati, dan kata-katanya mengikat serta perintahnya menjadi kewajiban bagi setiap orang yang meyakini Tuhan yang satu.

Terkutuklah orang-orang yang tidak mematuhinya, dan terpujilah orang-orang yang mengikutinya, dan orang-orang yang percaya kepadanya adalah sebenar-benarnya orang beriman.

Wilayahnya (keyakinan kepada kepemimpinannya) telah Allah Yang Maha kuasa dan Maha tinggi, wajibkan.”

“Hai kaum Muslimin, pelajarilah Quran! Terapkanlah ayat-ayat yang jelas maknanya bagi kalian dan janganlah kalian mengira-ngira ayat-ayat yang bermakna ganda!

Karena, Demi Allah, tiada seorang pun yang dapat menjelaskan ayat-ayat secara benar akan makna serta peringatannya kecuali aku dan lelaki ini (Ali), yang telah aku angkat tangannya ini di hadapan diriku sendiri.”

“Hai kaum Muslimin, inilah terakhir kalinya aku berdiri di mimbar ini.

Oleh karenanya, dengarkan aku dan taatilah dan serahkan diri kalian kepada kehendak Allah. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan kalian. Setelah Allah, Rasulnya, Muhammad yang sedang berbicara kepada kalian, adalah pemimpin kalian.

Selanjutnya sepeninggalku, Ali adalah pemimpin kalian dan Imam kalian atas perintah Allah.

Kemudian setelahnya kepemimpinan akan dilanjutkan oleh orang-orang yang terpilih dalam keluargaku hingga kalian bertemu Allah dan Rasulnya.”

“Lihatlah, sesungguhnya, kalian akan menemui Tuhanmu dan ia akan bertanya tentang perbuatan kalian.

Hati-hatilah! Janganlah kalian berpaling sepeninggalku, saling menikam dari belakang!

Perhatikanlah! Adalah wajib bagi orang-orang yang hadir saat ini untuk menyampaikan apa yang aku katakan kepada mereka yang tak hadir karena orang-orang yang terpelajar akan lebih memahami hal ini daripada beberapa orang yang hadir dari saat ini.

Dengarlah! Sudahkah aku sampaikan ayat Allah kepada kalian?

Sudahkah aku sampaikan pesan Allah kepada kalian?”

Semua orang menjawab, “Ya.” Kemudian Nabi Muhammad berkata, “Ya, Allah, saksikanlah.”

Belum lagi pertemuan akbar ini bubar, Jibril turun membawa wahyu dari Allah swt kepada Nabi-Nya.

مْﻮَﻴْﻟا َ ﺖْﻠَﻤْﻛَأ ُ ﻢُﻜَﻟ ْ ﻢُﻜَﻨﻳِد ْ ﺖْﻤَﻤْﺗَأَو ُ ﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ْ ﻲِﺘَﻤْﻌِﻧ ﺖﻴِﺿَرَو ُ ﻢُﻜَﻟ ُ مَﻼْﺳِْﻹا َ ﺎًﻨﻳِد ﻦَﻤَﻓۚ ِ ﺮُﻄْﺿا َّ ﻲِﻓ ﺔَﺼَﻤْﺨَﻣ ٍ ﺮْﻴَﻏ َ ﻒِﻧﺎَﺠَﺘُﻣ ٍ ﻢْﺛِِّﻹ ٍ نِﺈَﻓۙ َّ ﻞﻟا ـَّ ﻪَ رﻮُﻔَﻏ ٌ ٌﻢﻴِﺣَّر

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. 3: 3)

Kemudian Rasul bertakbir, Allah Akbar!

Selamat atas disempurnakannya agama dan disempurnakannya nikmat dan keridhaan Allah terhadap risalahku dan kepemimpinan Ali sepeninggalku.

Setelah takbir Nabi tersebut, umat Islam berduyun-duyun memberikan selamat kepada Imam Ali as.

Orang paling pertama yang mengucapkan selamat kepada Imam Ali adalah Abu Bakar dan Umar. Keduanya berkata, selamat kepadamu wahai Abu Turab! Kini Kamu menjadi pemimpin kami dan maula setiap laki-laki serta wanita mukmin.

Ibnu Abbas berkata: “Saya bersumpah bahwa wilayah terhadap Ali diwajibkan bagi seluruh umat.”

Hasan bin Tsabit berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkan Aku mengumandangkan syair tentang Ali.”

Nabi pun kemudian mengijinkan Hasan bin Tsabit membacakan syair tentang peristiwa Ghadir Khum dan pengangkatan Imam Ali as.

HADIS AL-GHADIR INI TERDAPAT DALAM KITAB-KITAB BERIKUT:

1. Shahih Muslim, jilid 4/1873, Dar Fikr, Bairut.
2. Shahih Tirmidzi, jilid 5, halaman 297, hadis ke 3797.
3. Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 45, hadis ke 121.
4. Musnad Ahmad jilid 5, halaman 501, hadis ke18838, halaman 498, no: 18815, cet Bairut.
5. Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368 dan 372.
6. Musnad Ahmad bin Hamnbal, jilid 1, halaman 88, cet.pertama; jilid 2, halaman 672, dengan sanad yang shahih; jilid 4, halaman 372. cet. Pertama.
7. Khashaish Amirul mu’minin (as), halaman 96, cet Kuwait 1406 H.
8. Fadhilah ash-Shahabah, halaman 15, Dar kutub ilmiyah, Bairut.
9. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 533, Dar fikr, Bairut 1398 H.
10. Majma’ az-Zawaid, jilid 9, halaman 104-105, Dar kitab Al-Arabi, Bairut 1402 H.
11. Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 213, hadis ke: 271,277,278,279,281,460,461 dan 465; jilid 2, halaman 14, hadis ke: 509,510,519,520,524,525,529,530,531,533,534,536,537,538,540,541,542,551,554,555,556,557,563,564,574,575,577,578,579 dan 587,cet. Pertama, Bairut.

12. Majma’uz Zawaid, oleh Al-Haitsami Asy-Syafi’I, jilid 9, halaman: 103,105,106,107 dan 108.
13. Kanzul ‘Ummal jilid 15, halaman: 91,92,120,135,143,147 dan 150, cetakan. Kedua.
14. Khashaish Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’I Asy-Syafi’I, halaman 94,95 dan 50, cet. Al-Haidariyah.
15. Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110.
16. Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 5, halaman 26.
17. Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 5, halaman 369; jilid3, halaman 274; jilid 5, halaman 208.
18. Jami’ul Ushul, oleh Ibnu Atsir, jilid 9, halaman 468.
19. Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi Al-Hanafi, halaman 79,94 dan 95.
20. Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 5, halaman 182.
21. Nizham Durar As-Samthin, oleh Az-Zarnadi Al-Hanafi, halaman 112.
22. Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’I, halaman 19, hadis ke: 24,23,30,31,32,34 dan 36.
23. Al-Hawi, oleh As-Suyuthi, jilid 1, halaman 122.
24. Al-jarh wat-Ta’dil, oleh Abi Hatim, jilid 4, halaman 431, cet. Haidar Abad.
25. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman: 31,33,36,37,38,181,187,274.
26. Dzakhairul ‘Uqba, halaman 67.
27. Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305,372 dan 567; jilid 2, halaman 257,382,408 dan 509; jilid 3, halaman 542; jilid 4, halaman 80.

28. Al-Aghani, oleh Abil Farj Al-Isfahan, jilid 8, halaman 307.
29. Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’I, halaman 169, cet. As-Sa’adah, Mesir; halaman 65, cet Al-Maimaniyah, Mesir.
30. Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 275.
31. Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman: 58,60,62 dan 286, cet. Al-Ghira.
32. Al-Imamah was Siyasah, oleh Ibnu Qataibah, jilid 1, halaman 101.
33. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 157, hadis ke: 210,212 dan 213.
34. Sirr Al-‘Alamin, oleh Al-Ghazali, halaman 21.
35. Misykat Al-Mashabih, oleh Al-Umari, jilid 3, halaman 243.
36. Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 222,223 dan 224.
37. At-Tarikh Al-Kabir, oleh Al-Bukhari, jilid 1, halaman 375, cet. Turki.
38. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 63 dan 66.
39. Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 228.
40. Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman: 211,212,213 dan 214; jilid 7, halaman: 338,348,448 dan 334.
41. Al-Manaqib, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.
42. Wafaul Wafa’, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.
43. Miftahun Naja, oleh Al-Badkhasyi, halaman 58.
44. Taysirul Wushul, oleh Ibnu Ar-Rabi,, jilid 2, halaman 147.
45. Tarikh Baghdad, oleh Al-Khatib Al-Baghadi, jilid 8, halaman 290.
46. Al-Kina wal- Asma’, oleh Ad-Dawlabi, jilid 1, halaman 160, cet. Haidar Abad.
47. Nizham An-Nazhirin, halaman 39.
48. Al-Jarh wat-Ta’dil, oleh Ibnu Mundzir, jilid 4, halaman 431.
49. Asy-Syadzarat Adz-dzahabiyah, halaman 54.
50. Akhbar Ad-Duwal, oleh Al-Qurmani, halaman 102.
51. Dzakhair Al-Mawarits, oleh An-Nabilis, jilid 1, halaman 213.
52. Kunuzul Haqaiq, oleh Al-Mannawi, huruf Mim, cet. Bulaq.
53. Arjah Al-Mathalib, oleh Syaikh Abidillah Al-Hanafi, halaman: 564,568,570,471,448,581,36 dan 579.
54. Muntakhab min shahih Bukhari wa Muslim, oleh Muhammad bin Utsman Al-Baghdadi, halaman 217.
55. Fathul Bayan, oleh Haasan Khan Al-Hanafi, jilid 7, halaman 251, cet, Bulaq
56. Al-Arba’in, oleh Ibnu Abil Fawaris, halaman 39.
57. Al-I’tiqad ‘Ala Madzhab As-Salaf, oleh Al-Baihaqi, halaman 182.
58. Al-Mu’tashar minal Mukhtashar, jilid 2, halaman 332, cet. Haidar Abad.
59. MawdhihAwhamil Jam’I Wat-Tafriq, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 1, halaman 91.
60. At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 337.
61. Al-Bayan Wat-Ta’rif, oleh Ibnu Hamzah, jilid 2, halaman 230.
62. Al-Adhdad, halaman 25 dan 180.
63. Al-‘Utsmaniyah, oleh Al-Jahizh, halaman 134 dan 144.
64. Mukhtalib Al-Ahadist, oleh Ibnu Qutaibah, halaman 52.
65. An-Nihayah, oleh Ibnu Atsir Al-Jazari, jilid 4, halaman 346, cet. Al-Muniriyah, Mesir.
66. Ar-Riyadh An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 244, cet. Al-Kaniji, Mesir.
67. Duwal Al-Islam, jilid 1, halaman 20.
68. Tadzkirah Al-Huffazh, oleh Adz-Dzahabi, jilid 1, halaman 10.
69. Al-Mawaqif, oleh Al-Iji, jilid 2, halaman 611.
70. Syarah Al-Maqashid, oleh At-Taftajani, jilid 2, halaman 219.
71. Muntakhab Kanzul ‘Ummal (catatan pinggir) Musnad Ahmad, jilid 5, halaman 30.
72. Faydhul Qadir, oleh Al-Mannawi Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 57.
73. Atsna Al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalif Al-Maratib, halaman 221.
74. Ar-Rawdh Al-Azhar, oleh Al-Qandar Al-Hindi, halaman 94.
75. Al-Jami’ Ash-Shaghir, oleh As-Suyuthi, hadis ke 900.
76. Al-Mu’jam Al-Kabir, oleh Ath-Thabrani, jilid 1, halaman 149 dan 205.
77. Al-Fadhail, oleh Ahmad bin Hambal, hadis ke: 91,822 dan 139.
78. Al-Kamil, oleh Ibnu ‘Adi, jilid 2, halaman 20.
79. Asy-Syaraf Al-Muabbad Li-Ali Muhammad, oleh An-Nabhani Al-Bairuti, halaman 111.
80. Maqashid Ath-Thalib, oleh Al-Barzanji, halaman 11.
81. Al-Fathu Ar-Rabbani, jilid 21, halaman 312.

Perawi hadis Al-Ghadir:

1. Muhammad bin Ishaq, shahibus Sirah.
2. Mu’ammar bin Rasyid
3. Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (Imam Syafi’i).
4. Abdur Razzaq bin Hammam Ash-Shan’ani, guru Bukhari.
5. Said bin Manshur, shahibul Musnad.
6. Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), shahibul Musnad.
7. Ibnu Majah Al-Qazwini.
8. At-Turmidzi, shahibush Shahih.
9. Abu Bakar Al-Bazzar, shahibul Musnad.
10. An-Nasa’i.
11. Abu Ya’la Al-Mawshili, shahibul Musnad.
12. Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, penulis Tafsir dan Tarikh.
13. Abu Hatim Ibnu Hibban, shahibush Shahih.
14. Abul Qasim Ath-Thabrani, penulis Mu’jam.
15. Abul Hasan Ad-Daruqudni.
16. Al-Hakim An-Naisaburi, shahibul Mustadrak.
17. Ibnu Abd Al-Birr, penulis Al-Isti’ab.
18. Khathib Al-Baghdadi, penulis Tarikh Baghdad.
19. Abu Na’im Al-Isfahani, penulis Hilyatul Awliya’ dan Dalailun Nubuwwah.
20. Abu Bakar Al-Baihaqi, penulis Sunan Al-Kubra.

21. Al-Baghawi, penulis Mashabih As-Sunnah.
22. Jarullah Az-Zamakhsyari, penulis tafsir Al-Kasysyaf.
23. Fakhrur Razi, mufassir.
24. Ibnu Asakir Ad-Damsyiqi, penulis tarikh Damsyiq.
25. Adh-Dhiya’ Al-Muqaddasi, shahibul Mukhtarah.
26. Ibnu Atsir, penulis Usdul Ghabah.
27. Abu Bakar Al-Haitsami, hafizh besar, penulis Majmauz zawaid.
28. Al-Hafizh Al-Muzzi, penulis Tahdzibul kamal.
29. Al-Hafizh Adz-Dzahabi, penulis Talkhish al-Mustadrak.
30. Al-Hafizh Al-Khathib At-Tabrizi, penulis Misykatul Mashabih.
31. Nizhamuddin An-Naisaburi, mufassir terkenal.
32. Ibnu Katsir, mufassir. Mengakui kemutawatiran hadis Al-Ghadir (lihat: Al-Bidayah wan-Nihayah 5/213).

33. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, penulis syarah Bukhari (Fathul Bari).
34. Al-Ayni Al-Hanafi, penulis Umdatul Qari fi syarh shahih Bukhari.
35. Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi.
36. Ibnu Hajar Al-Makki, penulis Ash-Shawaiqul Muhriqah.
37. Syeikh Ali Al-Muttaqi Al-Hindi, penulis Kanzul Ummal.
38. Syeikh Nuruddin Al-Halabi, penulis Sirah Al-Halabi.
39. Syah Waliyullah Ad-Dahlawi, penulis banyak kitab, masyhur dengan julukan Allamah Al-Hindi.
40. Syihabuddin Al-Khafaji, pensyarah Asy-Syifa’ dan penta’liq tafsir Al-Baidhawi.
41. Az-Zubaidi, penulis Tajul ‘Arus.
42. Ahmad Zaini Dahlan, penulis Sirah Ad-Dahlaniyah.
43. Syeikh Muhammad Abduh, mufassir dan pensyarah Nahjul Balaghah.

Kemutawatiran Hadis Al-Ghadir:

Hadis Al-Ghadir Kemutawatirannya diakui oleh jalaluddin As-Suyuthi, di dalam:
1. Al-Faraid Al-Mutaksirah fil Akhbar Al-Mutawatirah.
2. Al-Azhar Al-Mutanatsirah fil Akhbar Al-Mutawatirah.

Pernyataan As-Suyuthi tentang kemutawatiran hadis Al-Ghadir ini dikutip oleh:
1. Allamah Al-Mannawi, di dalam At-Taysir fi Syarhi Al-jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 442.
2. Allamah Al-‘Azizi, dalam Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 3, halaman 360.
3. Al-Mala Ali Al-Qari Al-Hanafi, di dalam Al-Mirqat Syarhul Misykat, jilid 5, halaman 568.
4. Jamaluddin ‘Athaullah bin Fathlullah Asy-Syirazi, dalam kitabnya Al-Arba’ina; dan rujuk pula: Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 123.

5. Al-Mannawi Asy-Syafi’I, di dalam kitabnya At-Taysir fi-Syarhi Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 123.
6. Mirza Makhdum bin Mir Abdul Baqi, di dalam An-Nawaqish ‘Ala Ar-Rawafidh; dan rujuk: Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 121.

7. Muhammad bin Ismail Al-Yamani Ash-Shina’ani, di dalam kitab Ar-Rawdhah An-nadiyah. Rujuk: Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 294; dan Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 127.
8. Muhammad Shadr ‘Alim, dalam kitab Ma’arij Al-‘Ali fi Manaqib Al-Murtadha; silahkan rujuk: Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 294; dan Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 127.
9. Syaikh Abdullah Asy-Syafi’I, di dalam kitabnya Al-Ar-Ba’in.
10. Syaikh Dhiyauddin Al-Muqbili, di dalam kitabnya Al-Abhats Al-Musaddadah fil Funun Al-Muta’addidah; dan rujuk: Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 125.
11. Ibnu Katsir Ad-Damsyiqi, di dalam Tarikhnya, dalam Tarjamah Muhammad bin Jarir Ath-thabari.
12. Abu Abdillah Al-Hafizh Adz-Dzahabi. Pernyataannya tentang Kemutawatiran hadis Al-ghadir dikutip oleh Ibnu Katsir, dalam Tarikhnya, jilid 5, halaman 213-214.
13. Al-Hafizh Al-Jazari. Ia menyebutkan kemutawatiran Hadis ini dalam kitabnya Asna Al-Mathalib fi Manaqib Ali bin Abi Thalib, halaman 48.
14. Syaikh Hisamuddin Al-Muttaqi, ia menyebukan kemutawatiran hadis ini dalam kitabnya Mukhtashar Qithful Azhar Al-Mutanatsirah.
15. Muhammad Mubin Al-Kahnawi, di dalam kitab Wasilah An-najah fi Fadhail As-Sadat, halaman 104.

Jumlah Sahabat yang bersama Nabi saw di Ghadir Khum. Ulama berbeda pendapat tentang jumlah sahabat yang menyertai Nabi saw di Ghadir Khum:

Sebagian pendapat mengatakan: 90.000 sahabat.
Sebagian pendapat mengatakan: 114.000 sahabat.
Ada yang mengatakan: 120.000 sahabat.
Dan ada juga yang menyatakan: 124.000 sahabat.

Pernyataan tersebut terdapat dalam:
1. Tadzkirah Al-Khawwash, oleh As-Sabth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, halaman 30.
2. As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 257.
3. As-Sirah An-Nabawiyah oleh Zaini Dahlan (catatan pinggir) As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 3.
4. Al-Ghadir, oleh Al-Amini, jilid 1, halaman 9.

Perawi Hadis Al-Ghadir dari kalangan sahabat nabi saw. Seratus sepuluh (110) sahabat Nabi saw yang meriwayatkan hadis Al-Ghadir, mereka adalah:

  1. Abu Hurairah, wafat pada tahun 57/58/59 H.Silahkan rujuk : Tarikh Baghdad, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 8, halaman 290 ; Tahdzibut Tahdzib, jilid 7, halaman 327 ; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 130 ; Asna Al-Mathalib, halaman 3 ; Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 2, halaman 259 ; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114 ; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 153; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir Ad-Damsyiqi, jilid 5, halaman 214.
  2. Abu Layli Al-Anshari, ia terbunuh pada perang shiffin tahun 37 H. Silahkan rujuk: Al-Manaqib, oleh Khawarizmi, halaman 35; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114.
  3. Abu Zainab bin ‘Auf Al-Anshari. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Al-Ishabah, jilid 3, halaman 408.
  4. Abu Fudhalah Al-Anshari, terbunuh pada perang shiffin. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Tarikh Ali Muhammad, oleh Al-Qadhi, halaman 67.
  5. Abu Qudamah Al-Anshari. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 276.
  6. Abu ‘Amrah bin ‘Amr bin Muhshin Al-Anshari. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307.
  7. Abu Al-Haitsami At-Tihan, terbunuh pada perang shiffin; silahkan rujuk: Nakhbul Manaqib, oleh Al-Ju’abi; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
  8. Abu Rafi’ Al-Qibthi. Silahkan rujuk : Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
  9. Abu Dzuwaib Khawailid bin Khalid bin Mahrats, wafat pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Silahkan rujuk: Maqtal Al-Husain.
  10. Abu Bakar bin Quhafah, wafat tahun 13 H. Silahkan rujuk: An-Nakhbul Manaqib, oleh Abu Bakar Al-Ju’abi; hadis Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Asna Al-Mathalib, oleh Syamsuddin Al-Jazari, halaman 3.
  11. Usamah bin Zaid bin Haritsah, wafat tahun 54 H. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, tentang Hadis Wilayah, jilid 5, halaman 205; Nakhbul Manaqib.
  12. Ubay bin Ka’b Al-khazraji, wafat tahun 30/31 H. Silahkan rujuk: Nakhbul Manaqib.
  13. As-ad bin Zurarah Al-Anshari. Silahkan rujuk: An-Nakhbu, oleh Abu Bakar Al-Ju’abi; Al-Wilayah, oleh Abu Said Mas’ud As-Sijistani; Asna Ath-Thalib, oleh Syamsuddin Al-Jazari, oleh Ibnu ‘Uqdah.
  14. Asma’ binti ‘Amis Al-Khats’amiyah. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
  15. Ummu Salamah istri Nabi saw. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 40. Wasilah Al-Maal, oleh Syaikh Ahmad bin Fadhl bin Muhammad Al-Makki Asy-Syafi’i.
  16. Ummu Hani binti Abi Thalib (as). Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 40; Musnad Al-Bazzar; Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
  17. Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari Al-Khazraji, Khaddam Nabi saw, wafat tahun 93 H. Rujuk: Tarikh Baghad, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 7, halaman 377; Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154 dan 403; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi; Nuzul Abrar; oleh Al-Badkhasyi, halaman 20; Asna Ath-Thalib, oleh Al-Jazari; halaman 4.
  18. Barra’ bin Azib Al-Anshari Al-Ausi, wafat tahun 72 H. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 281; Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 28 dan 29; Khashais Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’I, halaman 16; Tarikh Baghdad; jilid 14, halaman 236; Tafsir Ath-Thabari, jilid 3, halaman 428; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Ar-Riyadh An-Naadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 2, halaman 25; Dzakhairul ‘Uqba, halaman 14; Tafsir Fahrur Razi, jilid 3, halaman 636; Tafsir An-Naisaburi, jilid 6, halaman 194; Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 555; Misykatul Mashabih, halaman 557; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, Halaman 397; Al-Bidayah wan-nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209.
  19. Buraidah bin Al-Hashib Abu Sahl Al-Aslami, wafat tahun 63 H. Rujuk: Al-Mustadark Al-Hakim, jilid 3, halaman 110; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Asna Ath-Thalib, oleh Al-Jazari Asy-Syafi’I, halaman 3; Tarikh Al-Hkulafa’, halaman 114; Al-Jami’ Ash-shaghir, jilid 2, halaman 555; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 367; Miftahun Naja, halaman 20; Tafsir Al-Manar, jilid 6, halaman 464.
  20. Abu Said Tsabit bin Wadi’ah Al-Anshari Al-Khazraji Al-Madini. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
  21. Jabir bin Sammah bin Junadah Abu Sulaiman As-Suwai, wafat setelah tahun 70 H; dalam Al-Ishabah, ia wafat tahun 73 H. Rujuk: Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 398; Al-Isti’ab, jilid 2, halaman 473; Tahdzibut Tahdzib, jilid 7, halaman 337; Kifayah Ath-Thalib, halaman 16; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209;Asna Ath-Thalib, oleh Al-Jazari, halaman 3; Tarikh Ali Muhammad, oleh Al-Qadhi, halaman 67.
  22. Jabir bin Abdullah Al-Anshari, wafat di Madinah tahun 73/74/78 H. Rujuk: Al-Isti’ab, jilid 2, halaman 473; Tahdzibut Tahdzib, jilid 7, halaman 337; Kifayah Ath-Thalib, halaman 16; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 398; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 41; Asna Ath-Thalib, halaman 3; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67..
  23. Jabalah bin Amr Al-Anshari.
  24. Jubair bin Math’am, wafat tahun 57/58/59 H. Rujuk: Tarikh Ali Muhammad, halaman 69; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 31 dan 336.
  25. Jarir bin Abdullah bin Jabir, wafat tahun 51/54 H. Rujuk: Majma’uz Zawaid, oleh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 114; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 349; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 399.
  26. Abu Dzar Jundab bin Junadah Al-Ghifari, wafat tahun 31, Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; Nakhbul Manaqib. Oleh Al-Ju’abi; Faraid As-Samthin; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi; Asma Ath-Thalib, oleh, oleh Syamsuddin Al-Jazari Asy-Syafi’I, halaman 4.
  27. Abu Junaid Junda’ bin Amr Al-Anshari: rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 308; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
  28. Habbah bin JuJuwayn Abu Qudamah Al-‘Urani, wafat tahun 76/79 H. Rujuk: Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 103; Tarikh Baghdad, jilid 8, halaman 276; Al-Kina wal-Asma’, oleh Ad-Dawlabi, jilid 2, halaman 88; Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 367; Al-Ishabah, jilid 1, halaman 372.
  29. Hubsyi bin Junadah As-Saluli. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Ar-Riyadh An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 2, halaman 169; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 211; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 106; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20.
  30. Habib bin Badil bin Waraqah Al-Khaza’i. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 368.
  31. Hudzaifah bin usaid Abu Sarihah Al-Ghifari, wafat tahun 40/42 H. Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 298; Al-fushulul Muhimmah, oleh Ibnu Shabagh, halaman 25; Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman 209/jilid 7, halaman 348; Ash-Shawa’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, halaman 25; As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 301; Majma’uz Zaawaid, jilid 9, halaman 165; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Tarikh Ali Muhammad, halaman 68.
  32. Hudzaifah bin Al-Yaman Al-Yamani, wafat tahun 36 H. Rujuk Da’atul Huda Ila Haqqil Muwalat, oleh Al-Hakim Al-Haskani; Asna Al-Muthalib, oleh Al-Jazari, halaman 4.
  33. Hassan bin Tsabit, salah seorang penyair Al-Ghadir pada abad pertama, silahkan rujuk syairnya dan biografinya.
  34. Al-Imam Al-Mujtaba’ Al-Hasan (as) cucu Rasulullah saw. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; An-Nakhbu, oleh Al-Ju’abi; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
  35. Al-Imam As-Syahid Al-Husain (as) cucu Rasulullah saw. Rujuk: hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; An-Nakhbu, oleh Al-Ju’abi; Maqtal Al-Husain, oleh Al-khawarizmi; Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili; Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 9, halaman 64.
  36. Abu Ayyub Khalid bin Zaid Al-Anshari, syahid pada perang Rumawi tahun 50/51/52 H. Rujuk: Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 169; Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 6/jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 209; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 2, halaman 154; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, jilid 7, halaman 780/jilid 6, halaman 223/jilid 2, halaman 408, cet. Pertama; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20.
  37. Abu Sulaiman Khalid bin Walid bin Al-Mughirah Al-makhzumi, wafat tahun 21/22 H. Rujuk: An-Nakhbu.
  38. Khuzaimah bin Tsabit Al-Anshari, terbunuh pada perang Shiffin tahun 37. Rujuk: Usdul ghabah, jilid 3, halaman 307; Asna Al-Mathalib, halaman 4; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
  39. Abu Syuraih Khawailid/ Ibnu ‘Amr Al-Khaza’I, wafat tahun 68 H.
  40. Rifa’ah bin Abdul Mundzir Al-Anshari. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Nakbul Manaqib; Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi.
  41. Zubair bin ‘Awwam, terbunuh tahun 36 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Asna Al-Mathalib, halaman 3.
  42. Zaib bin Arqam Al-Anshari Al-Khazraji, wafat tahun 66/68 H. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368; Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 16; Al-Kina Wal-Asma’, jilid 2, halaman 61; Shahih Muslim, jilid 2, halaman 325, cet. Tahun 1327;Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi, jilid 2, halaman 199; Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 298; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 109, 118 dan 533; Ar-Riyad An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 3, halaman 169; At-Talikhish, oleh Adz-Dzahabi, jilid 3, halaman 533; Mizanul I’tidal, oleh Adz-dzahabi jilid 3, halaman 224; Mathalib As-Saul, oleh Ibnu Thalhah, halaman 16; Majma’uz Zawaid, oleh Abu Bakar Al-Haitsami, jilid 9, halaman 104 dan 163; Syarhul Madzahib, oleh Az-Zarqani Al-Maliki, jilid 7, halaman 13; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 93; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman 208; Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 14; Tarikh Al-hkulafa’, oleh As-Suyuthi, halaman 114; Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 555; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 7, halaman 338; Raiyadh Ash-Shalihin, halaman 557; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 19 dan 21; Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 2, halaman 350.
  43. Abu Saiz Zaid bin Tsabit, wafat tahun 45/48; Rujuk: Asna Al-Mathalib, halaman 4.
  44. Zaid/Yazid bin syarahil Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 2, halaman 233; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 233; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 567; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
  45. Zaid bin Abdullah Al-Anshari. Rujuk: hadis Al-wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
  46. Abu Ishaq Sa’d bin Abi Waqash, wafat tahun 54/55/56/58 H. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 3,4,18 dan 25; Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 30; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 116;Hilyatul Awliya’, oleh Al-Hafizh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 4, halaman 356; Musykil Al-Atshar, oleh Al-Hafizh Ath-Thahawi Al-Hanafi, jilid 2, halaman 309;Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16 dan 151; Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 107; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir Asy-Syami, jilid 5, halaman 212/jilid 7, halaman 340; Tarikh Al-Khulafa’, oleh Jamaluddin As-Suyuthi, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154 dan 405; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20.
  47. Sa’d bin Junadah Al-‘Awfi ayah dari ‘Athiyah Al-‘Awfi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; An-Nakhbu; Maqtal Al-Husain, oleh Al-khawarizmi.
  48. Sa’d bin ‘Ubadah Al-Anshari Al-Khazraji, wafat tahun 14/15 H. Rujuk: An-Nakhbu, oleh Qadhi Abu Bakar Al-Ju’abi.
  49. Abu Said Sa’d bin Malik Al-Anshari Al-Khudri (Abu Said Al-Khudri), wafat tahun 63/64/65/74 H, di makamkan di Baqi’. Rujuk Tafsir An-Naisaburi, jilid 6, halaman 194; Al-Manaqib, oleh Al-khawarizmi, halaman 80; Al-Fushulul Muhimah, oleh Ibnu Shabagh Al-Maliki, halaman 27; Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsammi, jilid 9, halaman 108; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 14; Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 7, halaman 349 dan 350; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Ad-Durrul Mantsur, jilid 2, halaman 259 dan 298; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 390 dan 403; Tafsir An-Manar, jilid 6, halaman 463; Asna Al-Mathalib, oleh Al-Kazari, halaman 3.
  50. Said bin Zaid Al-Quraisyi Al-‘Adawi, wafat tahun 36/37 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili.
  51. Said bin Sa’d bin Ubadah Al-Anshari. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
  52. Abu Abdillah Salman Al-Farisi, wafat tahun 36/37 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Al-Nakhbu; Faraid As-Samthin; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
  53. Abu Muslim Salamah bin ‘Amr bin Aku’ Al-Aslami, wafat tahun 74 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
  54. Abu Sulaiman Sammarah bin Jundab Al-Firusi, wafat di Basrah tahun 58/59/60 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Nakhbul Manaqib; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
  55. Sahl bin Hunaif Al-Anshari Al-Ausi, wafat tahun 38 H.Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
  56. Abdul Abbas Sahl bin Sa’d Al-Anshari Al-Khazraji As-Sa’di, wafat tahun 91 H. Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
  57. Abu Imamah Ash-Shudi Ibnu Ajlan Al-Bahili, wafat tahun 86 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
  58. Dhamrah Al-Asadi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; dalam Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi, disebut Dhamrah bin Hadid dan ia mengiranya Dhamrih bin Jundab atau Ibnu Habib.
  59. Thalhah bin Abidillah At-Tamimi, terbunuh pada perang Jamal tahun 36. Rujuk: Muruj Adz-Dzahab, oleh Al-Ma’udi, jilid 2, halaman 11; Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 171; Al-Manaqib, oleh Al-khawarizmi, halaman 112; Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 107; Jam’ul Jawami’, oleh As-Suyuthi; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 391; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 83 dan 154; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 1, halaman 391; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 83 dan 154; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Al-Jazari Asy-Syafi’I, halaman 3.
  60. ‘Amir bin ‘Umair An-Numairi. Rujuk : Hadis Al-Wilayah ; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 255.
  61. ‘Amir bin Layli bin Dhamrah. Rujuk : Hadis Al-Wilayah ; Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 92 ; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 257 ; Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 93.
  62. ‘Amir bin Layli Al-Ghifari ; Rujuk : Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 257.
  63. Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah Al-Laytsi, wafat tahun 100/102/108/110 H. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 30 dan 118/jilid 4, halaman 370; Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 15 dan 17; Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 26,31 dan 298; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109,110 dan 533; Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 92/jilid 5, halaman 376; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 93 dan 217; Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-syafi’I, halaman 15; Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 179; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 211/jilid 7, halaman 246 dan 348; Al-Ishabah, jilid 4, halaman 159/jilid 2, halaman 252; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 390; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 38.
  64. ‘Aisyah binti Abi Bakar bin Quhafah, istri Nabi saw. Rujuk : Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
  65. ‘Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim, paman nabi saw. Wafat tahun 32 H. Rujuk: Asna Al-Mathalib, oleh Al-Jarazi Asy-Syafi’I, halaman 3.
  66. ‘Abdurrahman bin Abdi Rabb Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 408; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
  67. Abu Muhammad Abdurrahman bin Auf Al-Qarasyi Az-Zuhri, wafat tahun 31/32 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili; Asna Al-Mathalib, halaman 3.
  68. ‘Abdurrahman bin Ya’mar Ad-Dili. Rujuk: Hadis Al-Wilayah;Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
  69. Abdullah bin Ubay, Abdul Asad Al-Makhzumi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
  70. Abdullah bin Badil bin Waraqah pemimpin suku Khaza’ah, terbunuh pada perang shiffin.
  71. Abdullah bin Basyir Al-Mizani. Rujuk Al-Wilayah.
  72. Abdullah bin Tsabit Al-Anshari. Rujuk; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
  73. Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib Al-Hasyimi, wafat tahun 80 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; dan baca Argumennya terhadap Muawiyah dengan hadis Al-Ghadir.
  74. Abdullah bin Hanthab Al-Qarasyi Al-Makhzumi. Rujuk; Ihyaul Mayyit, oleh As-Suyuthi.
  75. Abdullah bin Rabi’ah. Rujuk: Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
  76. Abdullah bin Abbas, wafat tahun 68 . Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 7; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 331; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 132; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir Asy-Syami, jilid 7, halaman337;Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 108; Al-Kifayah, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 115; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 22, halaman 509; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Mttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 153; Tarikh Al-Khulafa’,oleh Jalauddin Asd-Suyuthi, halaman 114; Syamsul Akhbar, oleh Al-Qarasyi, halaman 38; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20 dan 21; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 348; Tafsir Fakhrur Razi, jilid 3, halaman 636; Tafsir An-Naisaburi, jilid 6, halaman 194; Tafsir Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 2, halaman 348; Dan Rujuk pula Ayat Tabligh dan Ayat Ikmaluddin.
  77. Abdullah bin Ubay, wafat tahun 86/87 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
  78. Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab Al-‘Adawi, wafat tahun 72/73. Rujuk: Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 106; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
  79. Abu Abdurrahman Abdullah bin Ma’ud, wafat tahun 32/33 H. rujuk: Ayat Tabligh dalam Ad-Durrul Mantsur, oleh Jalaluddin As-Suyuthi, jilid 2, halaman 298; Tafsir Asy-Syaukani, jilid 2, halaman 57; Tafsir Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 2, halaman 348; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
  80. Abdullah bin Yamin/Yamil. Rujuk : Al-Mufradat, tentang Hadis Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah : Usdul Ghabah , jilid 3, halaman 274 ; Al-Ishabah, jilid 2, halaman 382 ; Yanabi’ul Mawaddah 34.
  81. Utsman bin Affan, wafat tahun 35 H. Rujuk: Al-Mufradat tentang hadis wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili.
  82. ‘Ubaid bin ‘Azib Al-Anshari, saudara Al-Barra’ bin Azib.
  83. Abu Thuraif ‘Adi bin Hatim, wafat tahun 68 H. Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
  84. ‘Athiyah bin Bashir Al-Mazini. Rujuk : Hadis Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
  85. ‘Uqdah bin ‘Amir Al-Juhhani, seorang Gubernur Mesir pada masa pemerintahan Muawiyah selama 3 tahun, wafat sekitar tahun 60 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
  86. Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 152; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 348; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 7, halaman 337; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20; Musykil Al-Atsar, oleh Al-Hafizh Ath-Thahawi, jilid 2, halaman 307; Al-bidayah Wan-Nihayah, jilid 5, halaman 211; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154,397,399 dan 406; Mizanul I’tidal, oleh Adz-dzahabi, jilid 2, halaman 303; Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 9, halaman 64.
  87. Abu Yaqzhan Ammar bin Yasir, syahid pada perang Shiffin tahun 37, rujuk: Syarah Nahjul Balaghah, jilid 222, halaman 273; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
  88. Ammarah Al-Khazraji Al-Anshari, terbunuh pada perang Yamamah, Rujuk: Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 65.
  89. Umar bin Abi Salamah bin Abdi Asad Al-Makhzumi, anak tiri nabi saw, ibunya adalah Ummu Salamah istri Nabi saw, wafat tahun 83. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah.
  90. Umar bin Khaththab, terbunuh tahun 23 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’I; Ar-Riyath An-Nadharah, oleh Mihibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’I, jilid 2, halaman 161; Dzakhairul ‘Uqba, halaman 67; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 349; Asna Al-Mathalib,m halaman 3; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 249.
  91. Abu Najib Imran bin Hashin Al-Khaza’I, wafat tahun 52 H. di Basrah. Rujuk: Hadis Al-wilayah; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
  92. Amer bin Hamq Al-Khaza’I Al-Kufi, wafat tahun 50 H. Rujuk: Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi; Hadis Al-Wilayah.
  93. Amer bin Syarahil. Rujuk: Maqatal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
  94. Amer bi Ash. Rujuk: Al-Imamah Was-Siyasah, oleh Ibnu Qutaibah, halaman 93; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 126.
  95. Amer bin Marrah Al-Juhhani Abu Thalhah atau Abu maryam, Rujuk: Al-Mu’jam Al-Kabir; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154.
  96. Ash-Shiddiqah Fatimah Az-Zahra’ binti Nabi saw. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Mawaddah Al-Qurba, oleh Syihabuddin Al-Hamdani.
  97. Fatimah binti Hamzah bin Abdul Muthalib, rujuk: Hadis Al-Wilayah; kitab Al-Ghadir, oleh Al-Mantsur Ar-Razi.
  98. Qais bin Tsabit bin Syamas Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 368; Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305.
  99. Qais bin Sa’d bin Ubadah Al-Anshari Al-Khazraji, salah seorang penyair Al-Ghadir pada abad pertama. Rujuk: Argumennya terhadap Muawiyah bin Abi Sofyan dengan hadis Al-Ghadir.
  100. Abu Muhammad Ka’b bin Ajrah Al-Anshari Al-Madani, wafat tahun 51 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
  101. Abu Sulaiman Malik bin Huwairats Al-Laytsi, wafat tahun 74 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Imam Al-hanabilah Ahmad bin Hambal; hadis Al-Wilayah; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 108; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhayi, halaman 20.
  102. Miqdad bin Amer Al-Kandi Az-Zuhri, wafat tahun 33 H. rujuk: Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
  103. Najiyah bin Amer Al-Khaza’i. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 6; Al-Ishabah, jilid 3, halaman 543.
  104. Abu Barzah Fadhlah bin Utbah/’Abid/Abdullah Al-Aslami, wafat di Khurasan tahun 65 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
  105. Nu’man bi Ajlan Al-Anshari, Rujuk: Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
  106. Hasyim Al-Marqal Ibnu Utbah bin Waqash Az-Zuhri Al-Madani, terbunuh pada perang Shiffin tahun 37 H. Rujuk: Udul Ghabah, jilid 1, halaman 368; Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305.
  107. Abu Wasamah wahsyi bin Harbi Al-Hamashi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
  108. Wahab bin Hamzah. Rujuk: Rujuk: Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
  109. Abu Juhaifah Wahab bin Abdullah As-Suwai, wafat tahun 74 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
  110. Abu Murazim Ya’la bin Marrah bin Wahab Ath-Tsaqali. Rujuk: Usdul Ghabah, oleh Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 233/jilid 3, halaman 93/jilid 5, halaman 6; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 3, halaman 543.

Perawi Hadis Al-Ghadir dari Kalangan Tabi’in, Delapan puluh empat Tabi’in yang meriwayatkan hadis Al-Ghadir, mereka adalah:

1. Abu Rasyid Al-Hubrani Asy-Syami (namanya Khidir/Nu’man). Dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 419, Ibnu Hajar mengatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Mizanul I’tidal, oleh Adz-Dzahabi, jilid 2, halaman 302.
2. Abu Salamah (Namanya Abdullah, sebagian mengatakan: Islami) Ibnu Abdur Rahman bin Auf’ Az-Zuhri Al-Madani. Khulashah Al-Khazraji, halaman 380, mengatakan ia adalah seorang faqih; Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 422, mengatakan: Ia seorang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari
3. Jabir Al-Anshari. Rujuk: Al-‘Umdah, halaman 56.
4. Abu Sulaiman Al-Muadzdzin, dalam At-Taqrib (dikatakan Abu Salman), salah seorang tabi’in terkemuka. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’mininm Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Syarah Nahjul Balaghah, oleh Ibnu Abil Hadid, jilid 2, halaman 362.
5. Abu Shahih As-Samman Dzikwan Al-Madani mawla Juwairiyah Al-Ghithfaniyah. Adz-Dzahabi mengatakan dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 78: ia adalah salah seorang manusia yang agung dan terpercaya, wafat tahun 101 H. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Umar bin Khathhab. Rujuk: Ayat Tabligh; Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 161.
6. Abu ‘Anfuwanah Al-Mazini. Ia meriwayatkan dari Abu Junaidah Junda’ bin ‘Amer bin Mazin Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 308.
7. Abu Abdur Rahim Al-Kindi. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 308.
8. Abul Qasim Ashbagh bin Nubatah At-Tamimi Al-Kufi. Al-‘Ajali dan Ibnu Mu’in mengatakan ia adalah seorang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid Al-Anshari. Rujuk: Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 169; Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 6/jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205.
9. Abu Layly Al-Kindi. Sebagian mengatakan namanya Salamah bin Muawiyah, sebagian mengatakan Said bin Basyar. Dalam At-Taqrib dikatakan ia adalah seorang tabi’in terkemuka dan terpeyaca. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Al-Manaqib, tentang Ali bin Al-Husain, oleh Ahmad bin Hambal: bercerita kepada kami Ibrahim bin Ismail dari ayahnya, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Layli Al-Kindi, ia berkata: Aku mendengar Zaid bin Arqam berkata, ketika kami menunggu jenazah ada seorang bertanya: Wahai Aba ‘Amir, apakah kamu mendengar Rasulullah saw bersabda kepada Ali pada hari Ghadir Khum: “Barang siapa menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya? “Ia menjawab: Ya. Beliau menyabdakan hadis itu sebanyak empat kali.
10. Iyas bin Nudzair. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim jilid 3, halaman 371.
11. Jamil bin ‘Umarah. Ia meriwayatkan dari Salim bin Abdillah bin Umar bin Khaththab, dari Umar bin Khaththab. Rujuk : Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 213.
12. Haritsah bin Nashr. Meriyatakan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abvi Thalib (as). Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I Asy-Syafi’I, halaman 40.
13. Habib bin Abi Tsabit Al-Asadi Al-Kufi. Adz-Dzahabi mengatakan ia seorang faqih dari tabi’in yang terpercaya, ia wafat tahun 117/119 H. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam Al-Anshari. Rujuk : At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 103 ; Tahdzib At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 104 ; Al-khashaish, oleh An-Nasa’i, halaman 15 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109 dan 533 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109 dan 533 ; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 208 ; Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 118.
14. Al-Harits bin Malik. Ia meriwayatkan dari Abu Ishaq Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16.
15. Al-Husain bin Malik bin Al-Huwairats. Ia meriwayatkan dari ayahnya Abu Sulaiman Malik bin Al-huwairats Al-Laytsi. Rujuk Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 108; Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi, halaman 114; Al-Manaqib, oleh Imam Al-Hanabilah Ahmad bin Hambal.
16. Hakam bin ‘Utaibah Al-Kufi Al-Kindi. Adz-dzahabi mengatakan dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 104: Ia seorang faqih dan terpercaya, penulis Sunnah wa Atba’, wafat tahun 114/115 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110; Hilyatul Awliyah’.
17. Hamid bin ‘Umarah Al-Khazraji Al-Anshari. Ia meriwayatkan dari ayahnya ‘Umarah bin Al-Khazraji Al-Anshari. Rujuk: Mama’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107.
18. Hamid Ath-thawil Abu ‘Ubaidah Ibnu Abi Hamid Al-Bishri, wafat tahun 143. Adz-Dzahabi mengatakan dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 136: Hamid adalah seorang Hafizh dan Muhaddist terpercaya dan salah seorang tokoh ahli hadis. Ia meriwayatkan dari Said bin Al-Musayyab, dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah Al-Kufi.
19. Khutsaimah bin Abdur Rahman Al-Ja’fi Al-Kufi. Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Tahdzib, jilid 3, halaman 179 mengatakan: Ia adalah seorang terpecaya dan wafat tahun 80 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 116.
20. Rabi’ah Al-Jurasyi, terbunuh tahun 60/61/74 H. Dalam At-Taqrib, halaman 123 dikatakan: Ia adalah seorang faqih dan dinyatakan terpecaya oleh Ad-Daruquthni dan lainnya. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-‘Umdah, halaman 48.
21. Abul Mutsanna Riyah bin Harits An-Nakhfi Al-Kufi. Dalam kitabnya At-Taqrib Ibnu Hajar mengatakan ia adalah salah seorang tabi’in terkemuka; dan dalam At-Tahdzib dikatakan: Abul Mutsanna adalah tabi’in yang terpercaya. Rujuk Hadis Ar-Rukban.
22. Abu ‘Amer zadzan bin Umar Al-Kindi Al-Bazzar atau “Al-Bazzaz.” Al-Kufi. Dalam Mizanul I’tidal, Adz-Dzahabi mengatakan ia adalah salah seorang tabi’in terkemuka. Dalam At-Tahdzib, jilid 3, halaman 303, Ibnu Hajar mengatakan: ia terpecaya, wafat tahun 82 H. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 84.
23. Abu Maryam Zirr bin Hubaisy Al-Asadi, ia seorang tabi’in terkemuka, wafat tahun 81/82/83 H. Dalam At-Tadzikirah, jilid 1, halaman 40, Adz-Dzahabi mengatakan ia adalah Imam yang layak diteladani; dalam kitab At-Taqrib dikatakan ia adalah terpercaya dan mulia; At-Tahdzib, jilid, halaman 322, dan Hilyatul Awliya’, jilid 4, halaman 181 dan 191 mengatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Syarah Al-Mawahib, oleh Al-Hafizh Abu Abdillah Az-Zarqani, jilid 7, halaman 13.
24. Ziyad bin Abi Ziyad. Al-haitsami dalam kitabnya Majma’uz Zawaid dan Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib mengatakan ia adalah seorang tabi’ain terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 88.
25. Zaid bin Yutsa’I Al-hamdani Al-Kufi. Ibnu hajar dalam At-Taqrib, halaman 136, mengatakan ia adalah tabi’in terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tahlib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 118.
26. Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab Al-Quraysi Al-‘Adi Al-Madani. Adz-Dzahabi mengatakan dalam At-tahdzkirah, jilid 1, halaman 77: Ia adalah seorang faqih, alim beramal, zuhud, dan mulia. Dalam At-Taqrib Ibnu hajar mengatakan: Ia adalah salah seorang faqih yang jujur, hidup sederhana seperti ayahnya, pemberi petunjuk dan pendiam, termasuk tiga tabi’in terkemuka, wafat tahun 106 H. Ia meriwayatkan dari ayahnya Abdullah bin Umar, dari kakeknya Umar bin Khaththab, Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 213, meriwayatkan dari kitab Ghadir Khum bagian pertama, oleh Ibnu Jarir; Tarikh Al-bukhari, jilid 1, halaman 375, bagian pertama; dan hadis Ar-Rukban. Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitabnya Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 5, halaman 213: Berceritera kepada kami Mahmud (Muhammad) bin ‘Auf Ath-tha-I, berceritera kepada kami Abdullah bin Musa, memberikan kepada kami Ismail bin Kasytith (Nasyith), dari Jamil bin ‘Umarah, dari Salim bin Abdullah bin Umar (Ibnu Jarir mengatakan dari Umar bin Khaththab), ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda sambil memegang tangan Ali: “Barang siap menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya, ya Allah, kasihi orang yang menolongnya dan musuhi orang yang memusuhinya.”
27. Said bin Jubair Al-Asadi Al-Kufi. Dalam At-tadzkirah, jilid 1, halaman 65, Adz-Dzahabi menyatakan: Ia adalah salah seorang tabi’in yang terpuji; dalam Khulashah Al-khazraji, halaman 116, dikatakan: ia adalah seorang terpercaya dan imam yang ucapannya dapat dijadikan hujjah; dalam At-Taqrib, halaman 133, dikatakan: ia adalah seorang faqih yang terpercaya, terbunuh di tangan Al-Hajjaj tahun 95 H; Tahdzibut Tahdzib, jilid 4, halaman 13, dari Ath-thabari, mengatakan: ia adalah seorang yang terpercaya dan hujjah bagi kaum muslimin. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110; Tarikh bnu Katsir, jilid 7, halaman 348. Ia meriwayat hadis Al-Ghadir dari Ibnu Abbas, dan Buraidah bin Hashib Abu Sahl Al-Aslami. Rujuk: Tarikh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 347.
28. Said bin Abi Hudd Al-Kufi. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tahlib (as). Rujuk: faraid As-Samthin, bab sepuluh.
29. Said bin Al-Musayyab Al-Qurasyi Al-Makhzumi, menantu Abu Hurairah, wafat tahun 94 H. Dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 47, Adz-Dzahabi mengatakan: Ahmad bin Hambal dan lainnya mengatakan bahwa hadis-hadis Mursal Said adalah Shahih, dan mengatakan juga bahwa Ibnu Al-Madani ilmu Said bin Al-Musayyab, dan bagiku tidak ada tabi’in yang lebih mulia darinya; Abu Nu’aim juga mengatakan dalam kitabnya Hilyatul Awliya’, jilid 2, halaman 161. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Hilyatul Awliya’, jilid 4, halaman 356; Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16.
30. Said bin Wahab Al-Hamdani Al-Kufi. Dalam Khualashah Tahdzibul Kamal, halaman 122, Ibnu Mu’in mengatakan: ia adalah orang yang terpercaya, wafat tahun 76 H. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin AbiThalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 118.
31. Abu Yahya Salamah bin Kuhail Al-Hadhrami Al-Kufi, wafat tahun 121 H. Dalam Khulashah At-Tahdzib, halaman 136, dan At-Taqrib, halaman 154, dikatakan bahwa Ahmad dan Al-‘Ajali menyatakan dia adalah tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Habbah bin Juwain Abu Qudamah Al-‘Urani; Zaid bin Arqam Al-Anshari; Hudzaifah Al-Usaid Abu Sarihah. Rujuk: Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 298.
32. Abu Shadiq Salim bin Qais Al-Hilali, wafat tahun 90 H. Ia banyak berhujjah dengan hadis Al-Ghadir dalam kitab-kitabnya yang ada di kalangan kami. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) dan Abu Said Al-Khudri. Rujuk: Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani, jilid 1, halaman 157; Al-Fahras, oleh Ibnu Nadim, halaman 307; At-Tanbin Wal-Asraf, oleh Al-Mas’udi, halaman 198.
33. Abu Muhammad Sulaiman bin Mahran Al-A’masy. Ad-Dzahabi mengatakan dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 138: Ia wafat 147/148, lahir tahun 61 H. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam, dan Abu thufail Amir bin Watsilah Al-laytsi. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 15; Munasyadah Ar-Rahbah; ayat Tabligh; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 93; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 118.
34. Sahm bin Al-Hashin Al-Asadi. Ia meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah.
35. Syahr bin Husyab. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah. Rujuk : Tarikh Baghdad, jilid 8, halaman 290.
36. Dhahhak bin Muzahim Al-Hilali Abul Qasim, wafat tahun 105 H. Ahmad dan Ibnu Mu’in dan Abu Zar’ah mengatakan bahwa ia adalah seorang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Rujuk : Al- Bidayah Wan-Nihayah, jilid 7, halaman 337 ; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 108, Dalam Faraid As-Samthin, Al-Hafizh Al-Hamwini, meriwayatkan dari Abul Qasim bin Ahmad Ath-Thabrani, dari Al-Husain An-Nairi, dari Yusuf bin Muhammad Ibnu Sabiq, dari Abu Malik Al-Hasan, dari Jawhar, dari Dhahhak, dari Abdullah bin Abbas, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda pada hari Al-Ghadir : « Ya Allah, berilah ia inayah dan turun inayah-Mu sebab dia, rahmati dia turunkan rahmat-Mu sebab dia, tolonglah dia turunkan pertolongan-Mu sebab dia ; ya Allah, sayangi orang yang menyayanginya, dan musuhilah orang yang memusuhinya. »
37. Thawus bin Kisan Al-Yamani Al-Jandi, wafat tahun 106 H. Ia meriwayatakan dari Buraidah. Rujuk : Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’im, jilid 4, halaman 20-23. Pada halaman 23 dikatakan : Berceritera kepada kami Ahmad bin Ja’far bin Salim, berceritera kepada kami Muhammad bin Ali An-Nasa’I, berceritera kepada kami Husain Al-Asyqar, berceritera kepada kami Ibnu ‘Uyaynah, dari ‘Amer bin Dinar, dari Thawus, dari Buraidah, dari Nabi saw, beliau bersabda : « Barang siapa menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya. »
38. Thalhah bin Al-Musharrif Al-Ayyami (Al-Yamami) Al-Kufi. Ibnu Hajar mengatakan: Ia adalah terpercaya dan qari’ yang utama, wafat tahun 112 H. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’mini Ali bin Abi Thalib (as), Anas bin Malik, dan Abu Hurairah. Rujuk: Hilyatul Awliya’, jilid 5, halaman 26.
39. ‘Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash Al-Madani. At-Taqrib, halaman 185 mengatakan: ia adalah tabi’in terpercaya yang ketiga, wafat tahun 104 H. ia meriwayatkan dari ayahnya Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 3,4 dan 18.
40. Aisyah binti Sa’d, wafat tahun 117 H. Dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 473 Ibnu Hajar mengatakan: Ia tabi’in terpercaya. Ia meriwayatkan dari ayahnya Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-khaishaish, oleh An-Nasa’I, halaman 18; faraid As-Samthin; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 212.
41. Abdul Hamid bin Al-Mundzir bin Al-Jarud Al-‘Abdi. An-Nasa’I dan Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 224, mengatakan: Ia tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abu Thufail. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 276.
42. Abu Umarah Abdu Khayr bin Yazid Al-Madani Al-Kufi Al-Mukhadhrami. Ibnu Mu’in dan-‘Ajali mengatakan ia orang yang terpercaya, sebagiaman yang tertera di dalam kitab Al-Khulashah, halaman 269. Ibnu Hajar mengatakan dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 225: Ia orang yang terpercaya dan terpercaya dan termasuk tabi’in terkemuka. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tahlib (as). Rujuk:Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 104; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 94.
43. Abdur Rahman bin Abi Layli, wafat tahun 82/83/86 H. Di dalaman Al-Mizan dikatakan: Ia termasuk para imam tabi’in dan terpercaya. Dalam At-Tadzkiran dikatakan sebagai seorang faqih, dan dalam At-Taqrib Ibnu Hajar mengatakan sebagai orang yang terpercaya. Ia meriwayatakan dari ayahnya Abu Layli Al-Anshari, dan Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Hadis Munasyadah Ar-Rahbah; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Al-manaqib, oleh Al-khawarizmi, halaman 35; Al-Mustadrak Al-hakim, jilid 3, halaman 116; Hilyatul Awliya’, jilid 4, halaman 356.
44. Abdur Rahman bin Sabith, dipanggil Ibnu Abdillah bin Sabith Al-Jamahi, ia terpercaya dan termasuk tabi’in thabaqat menengah, wafat tahun 118 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 340; Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 38.
45. Abdullah bin As’ad bin Zurarah. Ia meriwayatkan dari ayahnya As-Ad bin Zurarah Al-Anshari. Rujuk: Asna Al-Mathalib, halaman 4; Hadis Al-Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah.
46. Abu Maryam Abdullah bin Ziyad Al-Asadi Al-Kufi. Ibnu Hibban menggolongkannya sebagai orang yang terpercaya, Khulashah Al-khazraji, halaman 168; juga Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 130. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 152.
47. Abdullah bin Syarik Al-‘Amiri Al-Kufi. Ahmad dan Ibnu Mu’in mengatakan ia seorang terpercaya, sebagaimana yang tertera di dalam kitab Mizanul I’tidal, oleh Adz-Dzahabi, jilid 2, halaman 46. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Kifayah, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16 dan 151.
48. Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Aqil Al-Hasyimi Al-Madani, wafat setelah tahun 140 H. Ia meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari. Rujuk: Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman 213: Ibnu Jarir berkata bahwa Al-Muthallib bin Ziyad, dari Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, mendengar Jabir bin Abdullah berkata: Kami berada di Ghadir Khum, lalu Rasulullah saw datang kepada kami, lalu bersabda sambil memegang tangan Ali: “Barang siapa menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya.”
49. Abdullah bin Ya’la bin Marrah. Ia meriwayatkan dari ‘Amir bin Layli Al-Ghifari. Rujuk: Al-Ishabah, jilid 2, halaman 257; Hadis Al-Munasyadah; Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 93.
50. ‘Adi bin Sbabit Al-Anshari Al-Kufi Al-khathami, wafat tahun 116. Adz-Dzahabi mengatakan di dalam kitabnya Mizanul I’tidal, jilid 2, halaman 193; Ia adalah seorang tasyayu’ yang alim, jujur, dan imam masjid mereka. Ia meriwayatkan dari Barra’ bin ‘Azib Al-Anshari. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 281. 50. Abul Hasan ‘Athiyah bin Sa’d bin Junadah Al-‘Aufi Al-Kufi, wafat tahun 111 H. Ibnu Al-jauzi dalam kitabnya At-Tadzkirah, halaman 25, mengatakan ia adalah seorang terpercaya; juga Al-Hafizh Al-Haitsami dalam kitabnya Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 109, dan Al-Yafi’I dalam kitabnya Mir’atul Jinan, jilid 1, halaman242, mengatakan: ia dicambuk oleh Al-Hajjaj sebanyak 400 kali karena tidak mau mengecam Ali bin Abi Thalib (as), dan ia pun tetap tidak mau mengecamnya. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Al-bidayah Wan-Nihayah, jilid 5, halaman 209; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 390; Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368.
51. Ali bin Zaid bin Jud’an Al-Bisri, wafat tahun 129/131 H. Ibnu Syaibah mengatakan ia seorang yang terpercaya dan jujur. Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik, dan Barra’ bin ‘Azib Al-Anshari. Rujuk: Tarikh Baghdad, oleh Al-Khathib Al-Baghdadi, jilid 7, halaman 377; Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 281.
52. Abu Harun ‘Umarah bin Juwain Al-‘Abdi, wafat tahun 134 H. Ia meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, dan Barra’ bin ‘Azib Al-Anshari. Rujuk:
53. Umar bin Abdul Aziz, Khalifah Al-Amawi, wafat tahun 101 H. Rujuk: Hilyatul Awliya’, oleh Al-Hafizh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 5, halaman 364; Al-Aghani, oleh Abul Farj, jilid 8, halaman 156; Tarikh Damsyiq, Ibnu Asakir Asy-Syafi’I, jilid 5, halaman 320; Faraid As-Samthin, oleh Al-Hamwini, bab ke 10; Nizham Durar As-Samthim, oleh Al-Hafizh Jamaluddin Az-Zarnadi.
54. Umar bin Abdul Ghaffar. Ia meriwayatkan hadis Munasyadah (sumpah) seorang pemuda terhadap Abu Hurairah di Masjid Kufah. Rujuk: Syarah Nahjul Balaghah, jilid 1, halaman 360.
55. Umar bin Ali Amirul Mu’minin (as). Dalam kitab At-Taqrib dikatakan ia adalah termasuk tiga orang yang terpercaya, wafat pada masa pemerintahan Al-Walid, sebagian mengatakan sebelum masa pemerintahan Al-Walid. Ia meriwayatkan dari ayahnya Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 211.
56. ‘Amer bin Ju’dah bin Hubairah. Ia meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya, dari Ummu Salamah (r.a). Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 40.
57. ‘Amer bin Marrah Abu Abdillah Al-Kufi Al-Hamdani, wafat tahun 116 H. Dalam Tahdzibut, jilid 8, dikatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya; dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 108, Adz-dzahabi mengatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya; dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 108, Adz-Dzahabi mengatakan ia aaadalah seorang tabi’in yang terpercaya dan kuat ingatannya. Ia meriwayatakan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Mizanul I’tidal, oleh Adz-dzahabi, jilid 2, halaman 303.
58. Abu Ishaq ‘Amer bin Abdillah As-Saba’I Al-Hamdani. Dalam kitabnya Mizanul I’tidal, Adz-Dzahabi mengatakan ia salah seorang tabi’in Kufah yang kuat ingatannya; di dalam kitab At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 101, ia dipuji; dalam kitab At-Taqrib disebutkan ia adalah seorang tabi’in terpercaya dan hidup sederhana, wafat tahun 127 H. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 7, halaman 29; Kifayah Ath-Thalib, halaman 14; Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 169.
59. Abu Abdillah ‘Amer (‘Amir) bin Maimun Al-Udi. Adz-Dzahabi menyebutkan di dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 56, Ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya dan memiliki jiwa kepemimpinan; dalam At-Taqrib, halaman 288, disebutkan ia adalah seorang yang terpercaya dan hidup sederhana. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Rujuk : Al-khashaish, oleh An-Nasa’i halaman 7 ; Musnad bin Hanbal, jilid 1, halaman 331 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 132.
60. ‘Umar bin Sa’d Al-Hamdani Al-Kufi. Ibnu Hibban mengatakan ia seorang yang terpercaya, At-Taqrib menerimanya pujian itu. Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik dan Abu Said Al-Khudri. Rujuk: Kanzul “Ummal, jilid 6, halaman 154 dan 403.
61. ‘Umairah binti Sa’d bin Malik Al-Madani, saudara perempuan Sahl, Ummu Rifa’ah Ibnu Mubasysyir. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’mini Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: hilyatul Awliya’, oleh Abu Nu’aim, jilid 5, halaman 26; Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 16; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 5, halmaan 211.
62. Isa bin Thalhah bin Abidillah At-Tamimi Abu Muhammad Al-Madani, salah seorang ulama yang dinyatakan dapat dipercaya oleh Ibnu Mu’in, wafat pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, demikian juga dinyatakan Al-Khazraji dalam Khulashahnya, halaman 257. Ia meriwayatkan dari ayahnya Thalhah bin Abidillah. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 171; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 391; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 403.
63. Abu Bakar Fithr bin Khalifah Al-makhzumi mawlahum Al-Hannath; Ahmad, Ibnu Mu’in. Al-‘Ajali, dan Ibnu Sa’d menyatakan ia sebagai orang yang terpercaya dan jujur; atau lebih dari itu sebagaimana yang diungkapkan oleh Tahdzibut Tahdzib. Ia meriwayatkan dari Abu Thufail ‘Amirah bin Watsilah Al-Laytsi. Rujuk Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109; Udul Ghabah, jilid 3, halaman 92/jilid 5, halaman 376; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
64. Qabishah bin Dzulaib; biogarfinya dipuji oleh Adz-Dzahabi dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 53; Ibnu Hibban menyatakan dalam Khulashahnya, halaman 268, ia adalah seorang yang terpercaya; ia wafat tahun 87 H. Ia meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah. Rujuk: Asna Al-mathalib, oleh Al-Jazari, halaman 3; Tarikh Ali Muhammad, oleh Al-qadhi, halaman 6.
65. Abu Maryam Qais Ats-Tsaqafi; An-Nasa’I menyatakan ia sebagai orang yang terpercaya sebagaimana yang terdapat didalam Khulashah Al-Khazraji, halaman 395. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 152.
66. Muhammad bin Umar bin Abi Thalib, wafat pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, sebagian mengatakan tahun 100 H; Ibnu Hibban mengatakan ia orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 348; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107; Musykilul Atsar, oleh Al-Hafizh Ath-thahawi, jilid 2, halaman 307.
67. Abu Dhuha Muslim bin Shubaih Al-hamdani Al-Kufi Al-‘Aththar; Ibnu Mu’in dan Abu Zar’ah mengatakan ia orang yang teroercaya sebagaimana yang terdapat di dalam At-Tahdzib, halaman 321; Ibnu Hajar mengatakan dalam At-Taqrib ia adalah orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 390.
68. Muslim Al-Mula’i. Ia meriwayatkan dari ayahnya, dari Habban bin Juwain Al-‘Urani. Rujuk: Al-Ishabah, jilid 1, halaman 372; Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 367.
69. Abu Zurarah Mush’ib Sa’d Abi waqqash Az-Zuhri Al-Madani; Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 334, mengatakan ia orang yang terpercaya, wafat tahun 103 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Musykilul Atshar, oleh Al-Hafizh Ath-thahawi, jilid 2, halaman 309.
70. Muthallib bin Abdillah Al-Qurasyi Al-makhzumi Al-Madani; Abu Zur’ah dan daruqutni mengatakan ia adalah orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abdullah bin Hanthab Al-Qurasyi Al-Makhzumi. Rujuk: Ihyaul Mayyit, oleh As-Suyuthi, dari Al-Hafizh Ath-Thabrani.
71. Mathrul Warraq. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah. Rujuk: Tarikh Baghdad, jilid 8, halaman 290.
72. Ma’ruf bin Khurbudz. Ibnu Hibban mengatakan ia terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abu Thufail, dari Hudzaifah bin Usaid. Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 5/209, 7/348.
73. Manshur bin Ruba’i. Ia meriwayatkan dari Hudzaifah Al-Yamani. Rujuk: At-Tadzkirah, oleh Adz-Dzahabi, jilid 1, halaman 127 dan 241; Da’atul Huda Ila Adail Haqqil Muwalat.
74. Muhajir bin Mismar Az-Zuhri Al-Madani; Ibnu Hibban mengatakan ia terpercaya. Ia meriwayatkan dari Sa’d Abi Waqqash. Rujuk: Al-khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 3.
75. Musa bin Aktal bin ‘Umair An-Numairi. Ia meriwayatkan dari pamannya ‘Amir bin ‘Umair An-Numairi. Rujuk : Al-Ishabah, jilid 2, halaman 255.
76. Abu Abdillah Maimun Al-BishriMawla Abdur Rahman bin Sammarah. Ibnu Hibban mengatakan ia orang yang terpercaya sebagaimana yang terdapat di dalam Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 111. Ibnu Hajar mengatakan di dalam Al-Qawlul Musaddad: Maimun dinyatakan terpercaya oleh bukan seorang ahli, dan sebagian dari mereka membicarakan sebagai hafizh, At-Tirmidzi menyatakan hadisnya shahih. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 61; Mizanul I’tidal, oleh Adz-Dzahabi, jilid 3, halaman 224; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Mttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 390.
77. Nadzir Adh-Dhabbi Al-Kufi. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 371.
78. Hani bin Hani Al-Hamdani Al-kufi. An-Naasa’I meniadakan kelemahan darinya sebagaimana yang terdapat di dalam At-Taqrib. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 321.
79. Abu Balaj Yahya bin Salim Al-Fazari Al-Wasithi. Ibnu Mu’in dan An-Nasa’I serta Ad-Daruquthni mengatakan ia terpercaya sebagaimana yang terdapat di dalam Khulashah Al-Khazraji, halaman 383; dalam Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 109, Al-Hafizh Al-Haitsami juga mengatakan ia adalah orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Rujuk : Al-khashaish, oleh An-Nasa’i, halaman 7 ; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 331 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 131.
80. Yahya bin Ju’dah bin Hubairah Al-Makhzumi. Ibnu Hajar mengatakan dalam kitabnya At-Taqrib, ia adalah termasuk tiga orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Ujuk: Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209.
81. Yazid bin Abi Yiyad Al-Kufi, salah seorang imam Kufah, wafat tahun 389, ia hidup selama 90 tahun. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 88.
82. Yazid bin Hayyan At-Tamimi Al-Kufi. Al-‘Ashimi dan An-Nasa’I mengatakan ia orang terpercaya sebagaimana yang terdapat di dalam Khulashah Al-Khazraji, halaman 370; Ibnu Hajar dalam Taqribnya mengatakan ia orang yang terpercaya dan termasuk tabi’in Thabaqat menengah. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Shahih Muslim, jilid 2, halaman 325, cet. Tahun 1327; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 102.
83. Abu Dawud Yazid bin Abdur Rahman bin Udi Al-Kufi; Ibnu Habban mengatakan ia orang yang terpercaya, dalam kitab Khulashah Al-khazraji, halaman 372. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah Ad-dausi. Rujuk: Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 214.
84. Abu Najih Yasar Ats-tsaqafi, wafat tahun 109 H. Ibnu Mu’in mengatakan ia terpercaya, sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Khulashah Al-Khazraji, halaman 384. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 18.

Kewajiban Setiap Muslim Untuk Mencintai Keluarga Suci Nabi Muhammad SAW

Salah satu kewajiban dalam Islam yang banyak terlalaikan atau terlupakan oleh banyak kaum muslimin adalah tentang kewajiban untuk mencintai ahlul bait nabi atau keluarga Nabi yang suci.

Seluruh kaum muslimin diperintahkan untuk itu – apapun mazhabnya.

Kewajiban ini tercantum dalam AlQur’an lewat lisan Rasulullah SAWW:

“Aku tidak meminta kepadamu suatu UPAH apapun (selamanya) atas seruanku, kecuali (aku harap kalian) kasih sayang terhadap keluarga(ku).” (QS. 42 : 23)

Hal itu jugalah yang telah dicontohkan para imam ahlus sunnah dan juga para pemuka ulama sunni lainnya.

Kendati di zaman dulu melakukan kewajiban ini secara terus terang bisa mengakibatkan hukuman yang berat dari para penguasa khilafah Umayyah dan Abbasiyah, seperti yang dialami Imam Ahmad, Imam Syafi’i dan yang lainnya.

Sejarah, mencatat, Imam Ahmad bin Hambal seorang pemuka mazhab Ahlus Sunnah, pernah dituduh sebagai Syiah, mem-bai’at pengikut Ali dan melindungi seorang ‘Alawi di rumahnya.

Pada masa itu, tak ada tuduhan yang lebih berat dari itu. Khalifah Al-Mutawakkil mengirim tentara dan rumah Imam Ahmad pun dikepung. Rumahnya digeladah – kamar anak-anak, kamar wanita, bahkan sumur. Tidak ada bukti apapun tentang ke-syiah-an Imam Ahmad.

Lalu apa salah beliau? “Salah”-nya sedikit: dalam Musnad-nya, ia banyak meriwayatkan hadis-hadis tentang Ahlul Bait dan keutamaan Imam Ali kw.

Ibnu Hajar dalam Tahdzib Al-Tahdzib bercerita tentang Nashr bin Ali. Suatu hari ia meriwayatkan hadis dari Rasulullah tentang keutamaan Hasan dan Husein:

“Siapakah yang mencintai aku, mencintai keduanya, mencintai kedua orang tua mereka, ia bersamaku dalam derajat yang sama di hari kiamat.”

Lalu khalifah Al-Mutawakkil mencambuknya seribu kali. Ja’far bin Abdul Wahid berulang kali mengingatkan khalifah, “Hadza min ahlis-sunnah”! Barulah khalifah menghentikan hukuman cambuknya.

Mengapa kita perlu mencintai ahlul bait Nabi saaw?

Ini bukan persoalan hubungan darah, atau KKN nya Nabi saw (sebagaimana sering dijadikan alasan oleh beberapa orang), melainkan karena memang hal ini merupakan Perintah Allah SWT.

Para imam ahlul bait nabi adalah manusia-manusia suci, sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an,

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33).

Dalam Sahih Bukhari, diriwayatkan juga dari Abu Bakar Al-Shiddiq ra bahwa Nabi saw bersabda, “Hai manusia, peliharalah hak Muhammad dalam urusan keluarganya.” (HR Bukhari).

Tentang UPAH ini, mari kita telaah sedikit apa upah untuk nabi-nabi yang lain:

Misalnya, Nabi Nuh as berkata: “Dan aku sekali-kali tidak minta upah atas seruan-seruanku itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan Semesta Alam!” (QS 26 : 109)

Juga Nabi Hud as berkata : “Dan aku sekali-kali tidak minta upah atas seruan-seruanku itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan Semesta Alam!” (QS 26 : 127)

Juga Nabi Saleh as berkata : “Dan aku sekali-kali tidak minta upah atas seruan-seruanku itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan Semesta Alam!” (QS 26 : 145)

Juga Nabi Luth as berkata : “Dan aku sekali-kali tidak minta upah atas seruan-seruanku itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan Semesta Alam!” (QS 26 : 164)

Juga Nabi Syu’aib as berkata : “Dan aku sekali-kali tidak minta upah atas seruan-seruanku itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan Semesta Alam!” (QS 26 : 180)

Lalu mengapa Nabi Muhammad Saw diperintahkan Allah SWT untuk meminta upah atas seruannya? Sementara Nabi-nabi lainnya tidak !? Mengapa?

“Aku tidak meminta kepadamu suatu UPAH apapun (selamanya) atas seruanku, kecuali (aku harap kalian) kasih sayang terhadap keluarga(ku).” (QS. 42 : 23)

Siapakah keluarga Nabi saww yang diperintahkan Allah untuk dicintai oleh seluruh manusia! Apakah semua keturunan nabi?

Yang dimaksud dengan “Ahlul Baitku” dalam hadits di atas bukanlah semua keturunan beliau. Sebab sebagai pelanjut risalah, tentu haruslah manusia-manusia yang super istimewa, bukan sembarang orang, bukan pula semua yang bergelar habib, sayyid, dlsb …

melainkan yang dimaksud sebagai Ahlul Bait Nabi tsb HANYALAH Keluarga Rasulullah saww yang telah DIJAMIN oleh Allah SWT tentang kesucian (kemaksumannya) bahkan telah ditunjuk langsung oleh Allah SWT siapa-siapa mereka itu.

Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT, kriteria Ahlul Bait Nabi saww tersebut adalah SUCI atau MAKSHUM, terhindari dari berbagai dosa. Sebab mereka akan menjadi petunjuk kebenaran, yang akan menjelaskan berbagai hal kepada umat. Itulah kriteria seorang IMAM.

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33).

Secara akal saja, tentulah yang bisa diterima sebagai IMAM pemberi petunjuk tersebut mestilah terjamin dulu kesuciannya, terjamin dulu bahwa ia tidak berdosa, terjamin dulu bahwa mereka tidak berbohong, dlsb. Dan keterjaminan kesucian tsb mestilah bukan klaim sepihak dari yang bersangkutan, tapi haruslah berdasarkan dalil dari yang Maha Tahu, yaitu Allah SWT melalui Rasulullah saww.

Itulah dia Keluarga Suci Rasulullah saw. Mereka disebut SUCI karena memang Allah SWT telah menjamin kesuciannya, sebagaimana dinyatakan dalam Quran Surat Al-Ahzab ayat 33 diatas.

Rasulullah saw pun pernah bersabda, “Didiklah anak-anak kalian akan tiga hal :
1. Mencintai Nabi kalian,
2. Mencintai Ahlul Baitnya dan
3. Membaca Al-Qur’an!”
(Hadits Riwayat ad-Dailamy)

Rasulullah saw juga bersabda, “Seorang hamba Allah tidaklah beriman sebelum ia mencintai diriku lebih daripada dirinya sendiri dan lebih mencintai keturunanku daripada keturunannya, dan lebih mencintai keluargaku daripada keluarganya dan lebih mencintai zatku daripada zatnya sendiri!” (H.R. Baihaqi & Dailamy)

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Cintailah Allah karena nikmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada kalian, dan cintailah aku karena kecintaan kepada Allah itu, serta cintailah ahlul baitku karena kecintaan kepadaku.” Hadis ini diriwayatkan oleh Al Turmudzi dan Al Hakim, dan telah disahihkan sesuaikan syarat Bukhari dan Muslim.

Sehingga Imam Syafi’i pun bermadah:

“Seandainya cinta pada keluarga Muhammad itu rafidhah (sebutan bagi syiah pada masa itu) maka hendaklah Jin dan Manusia saksikan bahwa aku ini adalah Rafidhi.”

Semoga kita mampu menjalankan kewajiban ini.
Mari kita belajar dan teladani akhlaq mereka.

Sumber Ajaran Islam Menurut Wasiat Rasulullah SAW

Rasulullah saaw telah berwasiat pada segenap umatnya untuk berpegang kepada dua hal yaitu Alquran dan Keluarga Suci Beliau:

“Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku”.

Selengkapnya hadits ini bisa dilihat pada Kitab Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

Jika ingin langsung buka sekarang, bisa diklik Hadits Online ini, lalu carilah shahih muslim no. 4425

Dalam kitab itu, Muslim meriwayatkan:

“… wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan. Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.’

Siapa Yang Dimaksud Oleh Rasulullah SAAW?

Yang dimaksud dengan “Ahlul Baitku” dalam hadits di atas adalah keluarga Rasulullah saaw yang telah dijamin oleh Allah SWT tentang kesucian (kemaksumannya).

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33).

Siapa saja diantaranya?

Dalam kitab Sahih Muslim, bab Keutamaan-Keutamaan Ahlul Bait, diriwayatkan hadits berasal dari Aisyah yang berkata,

“Rasulullah saw pergi ke luar rumah pagi-pagi sekali dengan mengenakan pakaian (yang tidak dijahit) yang bergambar. Lalu Hasan bin Ali datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu Husein datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu datang Fatimah, dan Rasulullah saw pun memasukkannya dalam pakaiannya; berikutnya Ali juga datang, dan Rasulullah saw pun memasukkannya dalam pakaiannya; kemudian Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33)

APAKAH HADITS INI SHAHIH?

Dalam menelaah satu hadis atau riwayat terlebih dahulu harus kita selidiki apakah hadis ini benar-benar bersumber dari Rasulullah saaw atau tidak? Untuk mengetahui hal ini, kita bisa merujuk kepada pakar-pakar hadis yang mengerti jalan dan sanad hadis.

Sebagaimana diketahui dengan jelas bahwa hadis ini diriwayatkan di dalam Sahih Muslim, dan ini menunjukkan akan kesahihannya, dikarenakan kaum Muslimin sepakat untuk mensahihkan seluruh hadis yang diriwayatkan Shahih Muslim.

Imam Suyuthi menyatakan bahwa hadis ini adalah shahih dan benar sanadnya. Juga Imam at-Thabari menjelaskan bahwa hadis ini adalah hadis shahih. At-Thabari menyatakan bahwa perawi-perawi hadis ini adalah orang-orang yang bisa di percaya. Selain itu, bahwa yang meriwayatkan hadis ini sangatlah banyak, diantaranya Muslim, at-Thurmudzi, Ahmad bin Hambal, dan Hakim Annaisaburi.

Dengan demikian sanad hadis ini menurut kesaksian para ahli hadis adalah shahih dan benar. Sehingga, sedemikian banyaknya yang meriwayatkan hadis ini tidak diragukan lagi bahwa hadis ini benar-benar bersumber dari Rasulullah saaw yang disaksikan oleh Allah bahwa beliau tidak pernah menyatakan sesuatu kecuali berdasarkan wahyu dari pada Allah.

Kemudian setelah mengetahui bahwa hadis ini sanadnya shahih maka kita harus menelaah isi dan kandungan hadis ini dan pesan apakah yang di sampaikan oleh Rasulullah dalam sabdanya ini?

Dalam hadis ini Rasulullah mengisyaratkan bahwa Nabi akan segera memenuhi panggilan Allah swt dan akan segera meninggalkan umat. Oleh karena itu Rasulullah menyampaikan wasiatnya agar umat sepeninggal beliau tidak tersesat dan jauh dari ajaran yang dibawa oleh Rasul.

Rasul dengan pasti mengetahui bahwa umat sepeninggal beliau akan kebingungan berkenaan dengan siapa yang bisa dijadikan rujukan setelah Rasul saaw? Siapakah yang akan menggantikan posisi Rasul setelah beliau, dimana semua urusan yang berhubungan dengan ajaran ilahi harus merujuk kepadanya. Baik yang berhubungan dengan aqidah, hukum, akhlaq, problem social dan lainnya. Agar tidak kebingungan, Rasulullah saaw menjelaskan rujukan yang harus di pegang oleh umat sepeniggal beliau saaw yaitu kitab Allah dan keluarga suci Rasul.

Setelah meriwayatkan hadis tsaqalain ini Ibnu Hajar sendiri pernah berkata, “Ketahuilah bahwa hadis tentang kewajiban berpegang teguh pada keduanya (Kitab Allah dan Ahlul Bait) diriwayatkan melalui berbagai jalan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat”

Di antaranya disebutkan bahwa hadis itu diucapkan Rasulullah saaw di Arafah pada waktu haji wada. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau mengucapkannya ketika sakit menjelang wafat, di hadapan para sahabat yang memenuhi kamar beliau. Riwayat lain lagi menyebutkan bahwa beliau mengucapkannya di Ghadir Khum. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengucapkan ucapannya itu pada saat beliau pulang dari Thaif, ketika beliau berpidato di hadapan para sahabat.

Rasulullah saaw sengaja mengulang-ulang pesannya itu di berbagai tempat dan situasi untuk menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap Al-Qur’an dan Ahlul Bait yang suci.

BAGI YANG INGIN LEBIH MENGKAJI

Hadis perintah untuk berpegang teguh pada Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Bait Nabi saaw ini atau yang senada dengan ini jumlahnya sangat-sangat banyak tercantum dalam kitab-kitab rujukan ahlussunnah/sunni. Bagi yang ingin mendalami lebih lanjut, silakan dibuka kitab-kitab berikut ini:

1. Riwayat hadis pada Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, jilid 3, halaman 14, 17, 26 dan 59, terbitan Dar Shadir Beirut – Lebanon.

2. Riwayat hadis dari Turmudzi, jilid 5, halaman 662 – 663, terbitan Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi.

3. Riwayat hadis pada al-Imam al-Hafidz Abi ‘Abdillah al-Hakim an-Naisaburi, di dalam kitab mustadraknya atas Bukhari dan Muslim, jilid 3, halaman 22, kitab Ma’rifah as-Shahabah, terbitan Dar al-Ma’rifah Beirut – Lebanon.

4. Kitab Kanz al-‘Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al- Af’al, juz pertama, bab kedua (bab berpegang teguh kepada Al- Qur’an dan sunah), halaman 172, terbitan Muassasah ar-Risalah Beirut, cetakan kelima, tahun 1985, yaitu hadis nomer 810, 871, 872 dan 873.

Di sini akan disebutkan sekumpulan para hafidz dan ulama yang meriwayatkan hadis ini. Adapun untuk lebih rincinya lagi silahkan Anda merujuk ke dalam kitab Ihqaq al-Haq, karya Asadullah al-Tusturi, jilid 9, halaman 311.

Sebagian dari mereka itu ialah:
1. Al-Hafidz ath-Thabrani, yang wafat tahun 340 H, di dalam kitabnya al-Mu ‘jam ash-Shaghir.
2. Allamah Muhibbuddin ath-Thabari, di dalam kitabnya Dzakha’ir al-‘Uqba.
3. Allamah asy-Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakar al-Himwani, di dalam kitabnya Fara’id as-Sirnthain.
4. Ibnu Sa’ad, di dalam kitabnya ath-Thabaqat al-Kubra.
5. Al-Hafidz as-Suyuthi, di dalam kitabnya Ihya al-Mayyit.
6. Al-Hafidz al-‘Asqalani, di dalam kitabnya al-Mawahib al- Ladunniyyah.
7. Al-Hafidz Nuruddin al-Haitsami, di dalam kitabnya Majma’ az-zawa’id.
8. Allamah an-Nabhani, di dalam kitabnya al-Anwar al- Muhammadiyyah.
9. Allamah ad-Darimi, di dalam sunannya.
10. Al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Husain bin Ali al-Baihaqi, di dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra.
11. Allamah al-Baghawi, di dalam kitabnya Mashabih as-Sunnah.
12. Al-Hafidz Abu al-Fida bin Katsir ad-Dimasyqi, di dalam kitabnya Tafsir al-Qur’an.
13. Kitab Jami’ al-Atsir, karya Ibnu Atsir.
14. Muhaddis terkenal, Ahmad bin Hajar al-Haitsami al-Maliki, yang wafat pada tahun 914 Hijrah, di dalam
kitabnya ash- Shawa’ig al-Muhriqah fi ar-Radd ‘ala Ahlil Bida’ wa az- Zanadiqah, cetakan kedua, tahun 1965, Perpustakaan Kairo.

Jumlah Perawi Dari Kalangan Sahabat
Hadis ini telah mencapai derajat mutawatir dari sekumpulan sahabat, dan inilah sebagian nama-nama mereka:
1. Zaid bin Arqam.
2. Abu sa’id al-Khudri.
3. Jabir bin Abdullah.
4. Hudzaifah bin Usaid.
5. Khuzaimah bin Tsabit.
6. Zaid bin Tsabit.
7. Suhail bin Sa’ad.
8. Dhumair bin al-Asadi,
9. ‘Amir bin Abi Laila (al-Ghifari).
10. Abdurrahman bin ‘Auf.
11. Abdullah bin Abbas.
12. Abdullah bin Umar.
13. ‘Uday bin Hatim.
14. ‘Uqbah bin ‘Amir.
15. Ali bin Abi Thalib.
16. Abu Dzar al-Ghifari.
17. Abu Rafi’.
18. Abu Syarih al-Khaza’i.
19. Abu Qamah al-Anshari.
20. Abu Hurairah.
21. Abu Hatsim bin Taihan.
22. Ummu Salamah.
23. Ummu Hani binti Abi Thalib.
24. Dan banyak lagi laki-laki dari kalangan Quraisy.

Jumlah Perawi Dari Kalangan Thabi’in
Penukilan hadis ini juga telah mencapai tingkatan mutawatir pada jaman tabi’in, dan inilah sebagian dari para tabi’in
yang menukil hadis “Kitab Allah dan ‘itrahku”:
1. Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah.
2. ‘Athiyyah bin Sa’id al-‘Ufi.
3. Huns bin Mu’tamar.
4. Harits al-Hamadani
5. Hubaib bin Abi Tsabit.
6. Ali bin Rabi’ah.
7. Qashim bin Hisan.
8. Hushain bin Sabrah.
9. ‘Amr bin Muslim.
10. Abu Dhuha Muslim bin Shubaih.
11. YahyabinJu’dah.
12. Ashbagh bin Nabatah.
13. Abdullahbin Abirafi’.
14. Muthalib bin Abdullah bin Hanthab.
15. Abdurrahman bin Abi sa’id.
16. Umar bin Ali bin Abi Thalib.
17. Fathimah binti Ali bin Abi Thalib.
18. Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
19. Ali Zainal Abidin bin Husain, dan yang lainnya.

Jumlah Para Perawi Hadis Ini Pada Tiap-Tiap Abad
Adapun orang yang meriwayatkan hadis ini sesudah jaman sahabat dan tabi’in, dari kalangan ulama umat, para penghafal hadis dan para imam terkenal selama berabad-abad, bukanlah suatu jumlah yang dapat kami sebutkan nama dan riwayat mereka satu persatu.

Sekelompok para ulama dan peneliti telah menghitung jumlah mereka, dan untuk lebih rincinya silahkan Anda merujuk kepada kitab ‘Abagat al-Anwar, juz pertama dan kedua, antara lain:

• Abad kedua: Jumlah perawi sebanyak 36 orang.
• Abad ketiga: Jumlah perawi sebanyak 69 orang.
• Abad keempat: Jumlah perawi sebanyak 38 orang.
• Abad kelima: Jumlah perawi sebanyak 21 orang.
• Abad keenam: Jumlah perawi sebanyak 27 orang.
• Abad ketujuh: Jumlah perawi sebanyak 21 orang.
• Abad kedelapan: Jumlah perawi sebanyak 24 orang.
• Abad kesembilan: Jumlah perawi seabanyak 13 orang.
• Abad kesepuluh: Jumlah perawi sebanyak 20 orang.
• Abad kesebelas: Jumlah perawi sebanyak 11 orang.
• Abad kedua belas: Jumlah perawi sebanyak 18 orang.
• Abad ketiga belas: Jumlah perawi sebanyak 12 orang.
• Abad keempat belas: Jumlah perawi sebanyak 13 orang.

Referensi:
– http://www.al-shia.org/html/id/books/Kebenaran-Hilang/index.htm
– http://www.al-shia.org/html/id/page.php?id=1033

Apakah Hadits Berpegang Teguh Pada Kitabullah & Sunnah Rasul itu Tergolong Hadits Dhaif?

Hadits ini populer sekali. Isinya, “Aku tinggalkan dua perkara padamu yang jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.”

Kita tentu sudah sering membaca hadits ini dari berbagai buku Islam dan juga khutbah-khutbah di mesjid-mesjid. Sudah begitu lama hadits ini kita dengar, sehingga memang akhirnya berlaku hukum-repetisi (biasanya dipakai dalam dunia periklanan), bahwa sesuatu yang sering sekali diulang-ulang, akan jadi sebuah kebenaran yang melekat kuat dalam pikiran kita.

Kalau kita perhatikan secara seksama buku bacaan yang mengutip hadits ini, umumnya ternyata dikutip bukan dari sumber pertama munculnya hadits (kitab hadits), melainkan biasanya dikutip dari buku lain, yang ditulis oleh penulis-penulis lain.

Misalnya saat kita membaca buku Ilmu Politik Islam, karangan Abdul Rashid Moten, di hal. 90, ada tertulis kutipan hadits ini dalam khutbah Rasulullah saat Haji Wada’. Buku ini ternyata mengutipnya dari buku The Life of Muhammad, karya Muhammad Husein Haykal, terjemahan Isma’il Raji al-Faruqi (Kuala lumpur, Islamic Book Trust, 1993, hal. 486-7). Begitulah umumnya, jadi bukan langsung dari kitab hadits.

Dari hasil pencarian dan penelitian yang sangat melelahkan dengan memakan waktu yang sangat lama, akhirnya Syeikh Mu’tashim Sayyid Ahmad, dalam bukunya “Kebenaran Yang Hilang”, menemukan bahwa ternyata hadits ini sama sekali tidak diriwayatkan bahkan oleh para penulis kitab hadits shahih yang enam di kalangan ahlus Sunnah (Bukhari, Muslim, dll).

Kenyataan ini saja sebenarnya sudah cukup untuk menyatakan betapa hadits ini dhaif.

Umumnya kita memang tidak ahli dengan ilmu Hadits atau mengkaji kitab-kitab Hadits, sehingga hanya karena saking populernya hadits dhaif ini, lalu kita pun betul-betul telah begitu yakin seolah-olah hadits dhaif ini memang diriwayatkan oleh kitab-kitab shahih, terutama sahih Bukhari dan sahih Muslim, padahal kenyataannya tidak.

Bahkan beberapa penulis dan khatib banyak yang lalu secara latah menyebutkan hadits dhaif ini sebagai riwayat dari Bukhari-Muslim (tanpa pernah mengeceknya sama sekali).

Lalu dimana sebenarnya hadits ini muncul pertama sekali?

Dari hasil penelusurannya secara lebih mendalam, maka ditemukanlah ternyata sumber hadits dhaif ini ada di dalam kitab al-Muwaththa Imam Malik, Sirah Ibnu Hisyam dan kitab ash-Shawa’iq Ibnu Hajar.

Namun riwayat hadits ini ternyata mursal di dalam kitab ash-Shawa’iq, dan terpotong sanadnya di dalam Sirah Ibu Hisyam. (lihat Sirah Ibnu Hisyam, cetakan lama jilid 2, hal 603; cetakan ketiga, jilid 4, hal 185; cetakan terakhir, jilid 2, hal 221)

Adapun dalam riwayat Imam Malik, terhadap hadits ini adalah khabar marfu’ saja, yang tidak ada sanadnya sama sekali (silakan lihat kitab Al-Muwaththa, Imam Malik, jilid 2 hal 46).

Pertanyaannya juga adalah, mengapa hanya Imam Malik yang meriwayatkan hadits ini sementara gurunya Abu Hanifah atau muridnya Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal tidak meriwayatkannya. Jika hadits ini shahih maka kenapa para Imam mazhab lain dan para Imam hadits berpaling darinya?

Lalu hadits yang sebenarnya seperti apa?

Hadits yang sebenarnya termaktub dalam banyak kitab hadits shahih lainnya adalah:

“Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku“.

Hadits tersebut bisa dilihat pada Kitab Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

Jika ingin langsung buka sekarang, bisa diklik Hadits Online ini, lalu carilah shahih muslim no. 4425

Dalam kitab itu, Muslim meriwayatkan:

“… wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.

Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.’

Jadi Apakah Berpegangteguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasul Itu Tidak Benar?

Justru pada dasarnya perintah Rasulullah saaw untuk berpegangteguh pada Kitabullah (Al-Qur’an) dan Ahlul Bait atau Keluarga-Nabi inilah yang akan menyelamatkan umat Islam dari berbagai penyimpangan, dan yang akan membuat kita berada pada Sunnah Rasul.

Sebab Keluarga Nabi saaw inilah yang akan MENJAGA keaslian dan kemurnian ajaran Islam, memelihara Sunnah Rasulullah saaw.

Ustadz Abdul Somad juga menceritakan keberadaan hadits ini:

 

Pada hakikatnya, jika kita berpegangteguh pada Ahlul Bait atau keluarga Rasulullah saaw, maka sesungguhnya kita telah berpegangteguh pada Sunnah Rasul. Sebab Allah swt sendiri telah menjamin bahwa para Imam as dari keluarga nabi saaw ini adalah manusia SUCI, sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33).

Fatwa Ayatollah Seyyed Ali Khamenei: Haram Melakukan Penistaan Terhadap Simbol-Simbol yang Diagungkan Ahlus Sunnah (Sunni)

Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Spiritual dari Iran, menerbitkan sebuah fatwa yang mengharamkan perlakuan buruk terhadap istri Nabi, Ummul mukminin Aisyah dan melecehkan simbol-simbol (tokoh-tokoh yang diagungkan) ahlusunah waljamaah.

Teks Permintaan Fatwa

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualakim wa rahmatullahi wabarakatuhu

Umat Islam mengalami krisis metode yang mengakibatkan penyebaran fitnah (cekcok) antar para penganut mazhab-mazhab Islam dan mengakibatkan diabaikannya prioritas-prioritas bagi persatuan barisan Muslimin. Hal ini menjadi sumber bagi kekacauan internal dan terhamburkannya kontribusi Islam dalam penyelesaian isu-isu penting dan menentukan. Salah satu akibatnya adalah teralihkannya perhatian terhadap capaian-capaian putra-putra umat Islam di Palestina, Lebanon, Irak, Turki, Iran dan negara-negara Islam lainnya.

Salah satu hasil dari metode ekstrim ini adalah tindakan-tindakan yang menjurus kepada pelecehan secara sengaja dan konstan terhadap ikon-ikon dan keyakinan-keyakinan yang diagungkan oleh para penganut mazhab Sunni yang kami muliakan.

Maka, bagaimanakah pendapat Yang Mulia tentang hal-hal yang dilontarkan dalam berbagai media televisi satelit dan internet oleh sebagian orang yang menyandang predikat ilmu berupa penghinaan terang-terangan dan pelecehan berupa kalimat-kalimat tak senonoh dan melecehkan istri Rasul Saw, Ummul Mu’minin Aisyah serta menuduhkan dengan hal-hal yang menodai kehormatan dan harkat istri-istri Nabi, semoga Allah ta’ala meridhai mereka?

Karenanya, kami memohon Yang Mulia berkenan memberikan pernyataan tentang sikap syar’i secara jelas terhadap akibat-akibat yang timbul dari sensasi negatif berupa ketegangan di tengah masyarakat Islam dan menciptakan suasana yang diliputi ketegangan psikologis antarsesama Muslim baik di kalangan para penganut mazhab Ahlulbait maupun kaum Muslimin dari mazhab-mazhab Islam lainnya, mengingat penghujatan-penghujatan demikian telah dieksploitasi secara sistematis oleh para provokator dan penebar fitnah dalam sejumlah televisi satelit dan internet demi mengacaukan dan mengotori dunia Islam dan menyebarkan perpecahan antar muslimin.

Sebagai penutup, kami berdoa semoga YM senantiasa menjadi pusaka bagi Islam dan Muslimin.

Tertanda

Sejumlah ulama dan cendekiawan Ahsa, Arab Saudi

4/ Syawal 1431 H

Fatwa Imam Khamenei:

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum warahmatullah wa barakatuh

Diharamkan menghina simbol-simbol (yang diagungkan) saudara-saudara seagama kita, Ahlussunnah, berupa tuduhan terhadap istri Nabi Saw dengan hal-hal yang mencederai kehormatannya, bahkan tindakan ini diharamkan terhadap istri- istri para Nabi terutama penghulunya, yaitu Rasul termulia Saw.

Semoga Anda semua mendapatkan taufik untuk setiap kebaikan


Sambutan Dunia Islam

1. Sambutan Ahmad Thayib Syaikh Al-Azhar Mesir

Rektor Universitas Al-Azhar Mesir menyambut hangat fatwa Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i tentang pengharaman pelecehan terhadap sahabat dan istri Nabi Muhammad Saw ini. Di dalam surat pernyataannya dia menyebutkan bahwa fatwa ini dikeluarkan pada waktu yang tepat sekali demi mencegah keretakan dalam barisan Muslimin dan menutup pintu-pintu fitnah.

Dia menambahkan, ‘Saya menerima dengan hormat dan kerelaan hati fatwa penuh berkah yang terhormat Imam Ali Khameneh’i tentang pengharaman pelecehan terhadap sahabat dan istri Rasulullah Saw. Fatwa ini muncul dari latar belakang keilmuan yang dalam dan kesadaran yang tinggi akan bahaya fitnah yang sedang digulirkan oleh musuh, dan fatwa ini menunjukkan kerinduan yang sangat dalam pada persatuan umat Islam. Satu hal lagi yang membuat fatwa ini jadi bertambah penting adalah dikeluarkannya fatwa itu oleh salah seorang ulama terkemuka Islam dan salah satu marjak terbesar Syi’ah, itu pun dalam posisinya sebagai pimpinan tertinggi Republik Islam Iran.’

Di dalam surat pernyataan itu dia juga mengatakan, ‘Dalam posisi keilmuan dan juga mengingat tanggungjawab syariat saya, perlu saya katakan bahwa wajib hukumnya upaya persatuan umat Islam, sedangkan perbedaan di antara pengikut mazhab-mazhab Islam harus berhenti sampai batas perbedaan pendapat di kalangan ulama dan para ahli, maka jangan sampai hal itu melukai persatuan umat Islam, karena Allah Swt telah berfirman, ‘Jangan kalian bertikai sehingga kalian gagal dan kehilangan kekuatan, dan bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang pesabar.’ (QS. Al-Anfal: 46).’

Dia melanjutkan, ‘Dengan ini saya juga mengumumkan bahwa siapa pun yang menebar fitnah di tengah umat Islam maka dia telah berbuat dosa dan berhak mendapat siksa Ilahi serta terusir dari tengah masyarakat.’

Setelah menyampaikan penghargaan atas fatwa penuh berkah yang dikeluarkan tepat waktu itu, Syaikh Al-Azhar memanjatkan rasa syukur kepada Allah Swt seraya berdoa semoga fatwa ini menjadi pemula kebaikan dan awal usaha yang serius dalam mempersatukan umat Islam serta dalam mengalihkan perhatian mereka dari seruan pihak-pihak yang berlebihan atau pihak-pihak yang sengaja ingin menebarkan fitnah perpecahan. Dia juga menghimbau kepada seluruh Muslimin untuk berpegang teguh kepada Tali Allah Swt dan jangan bercerai berai. [Wizheh Nomeh Tadbir, Markaze Mudiriyate Hauzeh Ilmiyeh Khurasan, Bulan Aban 1389 Hs.; Surat kabar Kaihan, 13-7-1389 Hs.]

2. Sambutan Hammam Sa’id pimpinan Ikhwanul Muslimin di Jordania

Menyikapi fatwa Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i ini, Ikhwanul Muslimin Jordania menghargai sekali fatwa itu dan menyebutnya sebagai langkah yang sangat penting dan berharga untuk memelihara persatuan umat Islam dan mencegah timbulnya fitnah kemazhaban. Sebagaimana telah dilaporkan oleh kantor berita Mehr yang menukil dari TV Aljazira, jamaah Ikhwanul Muslimin Jordania sangat menghargai fatwa yang mengharamkan pelecehan terhadap sahabat dan istri Nabi Muhammad Saw serta simbol-simbol keagamaan Ahli Sunnah ini.

Menurut mereka, penting sekali bagi setiap orang muslim untuk memperhatikan fatwa Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i ini demi mencapai persatuan. Hammam Sa’id, pimpinan Ikhwanul Muslimin Jordania, di dalam pernyataannya yang dimuat di situs resmi mereka mengatakan, ‘Saya sampaikan penghargaan kepada Ayatullah Ali Khameneh’i, marjak taklid tertinggi kaum Syi’ah, atas fatwa yang beliau keluarkan mengenai pengharaman pelecehan terhadap istri Nabi Muhammad Saw dan simbol-simbol keagamaan Ahli Sunnah.’ Dia menyebut fatwa ini sebagai langkah strategis demi mempersatukan umat Islam dan mencegah timbulnya fitnah kemzhaban di antara mereka. Dia juga menghimbau umat Islam untuk bangkit melawan musuh pertama dunia Islam, yaitu rezim Zionis, dan pelindung mereka, yaitu Amerika.’

Dalam pernyataannya, Hammam Sa’id juga mengingatkan bahwa musuh siap siaga menerkam Muslimin, mereka melakukan apa saja untuk mengobarkan fitnah agar orang-orang muslim terus bertikai satu sama yang lain. Dia juga menggarisbawahi kesamaan waktu terjadinya perseteruan antar mazhab Islam ini dengan bertambahnya serangan pada umat Islam di Palestina, Irak, Afganistan dan belahan dunia Islam yang lainnya. [Surat kabar Jumhuri-e Eslomi, 14-7-1389 Hs.]

3. Sambutan Syaikh Malikus Syi’ar mufti Tripoli

Menurut laporan Intiqad.net, Malikus Syi’ar mufti Tripoli dan utara Libanon menghimbau persaudaraan yang lebih erat di antara kaum Syi’ah dan Ahli Sunnah serta pendekatan mereka di semua bidang, khususnya mengenai prinsip-prinsip keagamaan. Seraya menyampaikan penghargaan atas fatwa yang dikeluarkan oleh Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i yang mengharamkan pelecehan terhadap sahabat dan istri Nabi Muhammad Saw, dia menyebutnya sebagai langkah yang terpuji dan menegaskan bahwa kita semua harus melangkah di jalan ini serta memberangus akar-akar perselisihan. Menurutnya, sangat memuaskan bahwa fatwa ini dikeluarkan oleh marjak taklid tertinggi Syi’ah di Iran sekaligus pimpinan Revolusi Islam di sana.

Dia juga mengingatkan bahwa ada pihak-pihak yang ingin sekali menggunakan kesempatan untuk menebar fitnah di antara pengikut Syi’ah dan Ahli Sunnah, maka itu dia menghimbau kepada masing-masing dari pengikut Syi’ah dan Ahli Sunnah untuk waspada terhadap fitnah jangan sampai menjadi kenyataan. [ibid.]

4. Sambutan Syaikh Mahir Hamud imam shalat jamaah di Masjid Quds

Syaikh Mahir Hamud, imam shalat jamaah di Masjid Quds di Sidon, menyambut hangat fatwa Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i dan menyebutnya sebagai langkah yang tepat untuk menjinakkan fitnah besar yang nyaris saja meledak di tengah negara-negara Islam. Menurutnya, fatwa ini dikeluarkan pada waktu yang tepat sekali, itulah sebabnya bom fitnah gagal meledak, dan kejadian-kejadian terakhir menunjukkan bahwa seandainya fatwa tersebut tidak segera dikeluarkan niscaya kaum Ahli Sunnah dan kaum Syi’ah betul-betul akan mengalami fitnah sektarian yang sangat besar.

Kata dia, senjata Barat dan Amerika sekarang adalah penebaran fitnah di tengah umat Islam, dengan cara ini mereka hendak memutus dukungan dari kekuatan-kekuatan prefentif dan independen di kawasan terhadap Iran. Ruhaniawan Libanon ini menegaskan bahwa ini satu-satunya senjata yang bisa mereka gunakan untuk melemahkan posisi istimewa Iran di samping Suriyah dan Muqawama Libanon. Lebih lagi bahwa kejadian-kejadian terakhir menandakan Israil sedang menuju kebinasaan. [Surat kabar Kaihan, 13-7-1389]

5. Sambutan ulama Ahli Sunnah Libanon

Di sebuah acara TV Al-Manar yang bernama ‘Maʻal Hadats’, Syaikh Abdunnasir Aljabri sekjen Kebangkitan Umat Libanon memuji fatwa Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i yang mengharamkan pelecehan terhadap shabat dan istri Nabi Muhammad Saw ini.

Kewaspadaan tokoh-tokoh umat Islam mampu menggagalkan berbagai rencana Amerika dan rezim Zionis untuk memecah belah Muslimin.

Selain itu, Partai Kerja Bertahan yang dipimpin oleh Syaikh Zuhair Alja’id juga menyebut fatwa pengharaman itu sebagai pertanda dalamnya hubungan akidah dan persaudaran antara aliran-aliran Islam, lalu dia menegaskan pentingnya penyebaran budaya persaudaraan ini di tengah umat Islam seluruhnya.

Syaikh Mahir Mazhar, ketua Badan Sunni Pendukung Muqawama di Libanon juga menyambut hangat fatwa Ayatullah Ali Khameneh’i ini seraya menegaskan, ‘Imam Khameneh’i mempunyai semua karakteristik sebagai pemimpin umat Islam.’

Syaikh Muhammad Abu Qath’, mursyid Himpunan Mubalig Islam, juga mengatakan, ‘Sudah sepatutnya fatwa Imam Khameneh’i untuk diterapkan sehingga musuh-musuh umat Islam tidak menemukan celah untuk menyerang. Organisasi Ulama Muslim di kawasan Akkar dan utara Libanon juga menyebut fatwa itu sebagai sesuatu yang menjembatani persatuan Muslimin, dan menurutnya Ayatullah Ali Khameneh’i adalah imam yang adil, bertakwa dan beriman.

Wajih Ba’rani, ketua Himpunan Al-Akkari dan mantan anggota parlemen Libanon, mengatakan, ‘Sikap bertanggungjawab yang mengubur fitnah dan mendukung persatuan umat Islam haruslah dihargai.’ [ibid.]

6. Sambutan Maulawi Abdulhamid

Imam shalat jum’at Ahli Sunnah di Masjid Makki kota Zahidan menyambut hangat fatwa Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i dan dia mengatakan, ‘Fatwa terakhir Rahbar (pimpinan tertinggi Revolusi Islam Iran) telah mengguyur air ke api perpecahan yang dikobarkan oleh musuh dan memadamkannya.’ Dia menambahkan, ‘Musuh-musuh bebuyutan Islam dan Muslimin ingin mengobarkan api perpecahan antara Syi’ah dan Ahli Sunnah dengan cara memancing perasaan mazhab mereka, tapi fatwa pintar yang dikeluarkan tepat waktu oleh Rahbar dan surat pernyataan Jami’ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom berhasil menggagalkan rencana busuk ini.’

‘Masalah kehormatan istri-istri Nabi Muhammad Saw dan keharusan untuk menjaganya adalah kesepakatan Syi’ah dan Ahli Sunnah, bukan hal yang diperselisihkan oleh mereka.’ Terang mereka.

Mereka menambahkan, ‘Berdasarkan nas Al-Qur’an yang jelas, istri-istri Nabi Muhammad Saw didudukkan sebagai ibu orang-orang yang beriman, dan tidak ada seorang berakal pun yang sudi menghinakan ibunya.’ Menurut mereka, ‘Berkat kearifan Rahbar dan fatwa historis yang beliau keluarkan, penghinaan orang bodoh itu (Yasir Alhabib) terhadap istri Nabi Muhammad Saw tidak sampai berdampak pada perpecahan sebagaimana yang dikehendaki oleh musuh-musuh Islam, melainkan –secara tidak disengaja oleh pelakunya, penhinaan itu- jadi faktor pengukuh persaudaraan agama di antara kaum Syi’ah dan Ahli Sunnah.’

Imam sunni shalat jum’at di kota Zahidan itu melanjutkan, ‘Dalam fatwa historisnya, Rahbar telah mengharamkan penghinaan terhadap istri-istri Nabi Muhammad Saw dan simbol-simbol sakral Ahli Sunnah, dan semua orang harusl mengikuti fatwa yang penting ini.’

Direktur sunni Darul Ulum Makki di Zahidan mengatakan, ‘Sebagaimana telah dinyatakan oleh fatwa Rahbar bahwa pelecehan terhadap kesucian-kesucian Ahli Sunnah hukumnya haram, maka kita selaku ulama Ahli Sunnah juga menyatakan bahwa pelecehan terhadap imam-imam Syi’ah dan kesucian-kesucian mazhab ini hukumnya haram. Hal itu karena kita memandang orang-orang syi’ah sebagai muslim dan bagian dari kelompok-kelompok Islam, bahkan kita mempunyai hubungan dekat dan persaudaraan historis dengan saudara-saudara syi’ah.’

Sambil menunjukkan kecintaan Ahli Sunnah terhadap Ahli Bait Nabi Muhammad Saw dia juga mengatakan, ‘Kecintaah pada Ahli Bait mengalir di hati setiap orang sunni, hal itu terlihat jelas dari nama anak-anak sunni.’

Dia melanjutkan, ‘Di dalam fatwa Rahbar itu juga terkandung keharusan untuk menjaga kehormatan shabat mulia Rasulullah Saw, dan kita tekankan keharusan itu.’ [ibid.]

Konferensi Internasional Pendekatan Antar Mazhab Islam di London juga menyambut hangat fatwa Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i ini, dan selain ulama Ahli Sunnah marjak-marjak taklid Syi’ah seperti Ayatullah Uzma Makarim Syirazi juga telah menyatakan dukungan mereka terhadap fatwa ini.’ [Surat kabar Jumhuri-e Eslomi, 14-7-1389 Hs]

12 Imam Syiah yang termuat dalam kitab-kitab standar Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Rasulullah Muhammad saw sangat perhatian dan sayang pada umatnya serta sangat mengharap umatnya selalu berada dalam kebenaran.

Karena itu tidaklah mungkin Rasulullah meninggalkan umat tanpa menjelaskan kepada mereka apa dan siapa yang harus dijadikan rujukan oleh umat berkenaan dengan ajaran yang dibawa oleh beliau.

Jika kita merujuk kepada kitab-kitab hadis, maka kita akan menemukan bahwa Rasulullah saaw telah berwasiat pada segenap umatnya agar kita semua berpegang teguh kepada dua hal: yaitu Alquran dan Ahlul Bait Nabi, yaitu para Imam dari Keluarga Nabi. (Kitab Sahih Muslim, juz 4, halaman 123)

Mengapa?

Karena tentu saja tidak mungkin kita merujuk pada imam yang salah, yang tidak memahami Islam secara sempurna.

Kita juga tentu tak mungkin merujuk pada imam yang kesuciannya diragukan, yang bisa saja berbuat salah.

Itulah sebabnya kita perlu merujuk berbagai persoalan kepada imam yang haq, yang benar, yang terjaga dari perbuatan salah dan dosa. Dan Rasulullah saw telah menyebutkannya bahwa imam yang wajib kita patuhi adalah 12 imam yang telah Beliau saw sebutkan.

Allah SWT sendiri telah menjamin kesucian (kemaksuman) para imam dari keluarga Rasulullah saw tersebut. Ini termaktub dalam Al Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 33: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33).

Karena mereka terjamin kesucian (kemaksuman)nya, maka lewat merekalah ajaran Islam tetap terjaga kemurniannya, dan dengan begitu umat Islam tak ragu dan bimbang lagi dalam mengambil rujukan yang benar dalam berbagai perkara.

Siapa Saja Nama-Nama 12 Imam Tersebut?

Ada banyak sekali hadits Rasulullah saw yang menyatakan keberadaan 12 imam yang wajib ditaati kaum muslimin. Beberapa diantaranya termaktub dalam kitab-kitab hadits sahih rujukan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Riwayat ini bisa ditemukan misalnya dalam Sahih Bukhari melalui 3 jalan. Lalu di dalam Sahih Muslim melalui 9 jalan, di dalam Sunan Abu Dawud melalui 3 jalan. Begitu juga di dalam Sunan Turmudzi melalui satu jalan, dan di dalam al-Hamidi melalui 3 jalan.

Di dalam Sahih Bukhari misalnya, termuat hadits yang berasal dari Jabir yang mengatakan, “Rasulullah saw bersabda, ‘Akan muncul sepeninggalku 12 orang amir/imam‘, kemudian Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang aku tidak mendengarnya. Lalu saya menanyakan kepada ayah saya, ‘Apa yang dikatakannya?’ Ayah saya menjawab, ‘Semuanya dari bangsa Qureisy.'” (Sahih Bukhari, jild 9, bab Istikhlaf, halaman 81)

Adapun dalam Sahih Muslim yang berasal dari ‘Amir bin Sa’ad yang berkata, “Saya menulis surat kepada Ibnu Samurah, ‘Beritahukan kepada saya sesuatu yang Anda dengar dari Rasulullah saw’. Lalu Ibnu Samurah menulis kepada saya, ‘Saya mendengar Rasulullah saw bersabda pada hari Jum’at sore pada saat dirajamnya al-Aslami, ‘Agama ini akan tetap tegak berdiri hingga datangnya hari kiamat dan munculnya 12 orang khalifah yang kesemuanya berasal dari bangsa Qureisy.”

Dalam hadits lain, nama-nama para Imam yang akan menjadi pemimpin umat Islam yang wajib ditaati oleh seluruh kaum muslimin tersebut sudah disebutkan secara jelas oleh Rasulullah saw. Salah satunya:

Jabir bin Abdillah berkata: ”ketika ayat 59 dari surat Nisa turun yang menegaskan ”taatilah Allah, dan taatilah rasul, dan para pemimin dari kalian” aku bertanya pada rasul SAWW:

“kami telah mengetahui Tuhan dan RasulNya, namun Ulil Amr yang wajib kita taati tersebut belum kami ketahui, siapakah gerangan mereka itu?

Beliau bersabda: ”merekalah penggantiku, para Imam dan pemimpin sepeninggalku. Yang pertama Ali, kemudian secara berurutan Hasan putra Ali, Husain putra Ali, Ali putra Al Husain, Muhammad putra Ali yang dalam Taurat dikenal dengan Baqirul Ulum, dan kamu pada suatu saat akan berjumpa dengannya, dan kapanpun kau menjumpainya sampaikanlah salamku padanya.

Kemudian setelahnya secara urut Ja’far putra Muhammad, Musa putra Ja’far, Ali putra Musa, Muhammad putra Ali, Ali putra Muhammad, Hasan putra Ali, dan kemudian putranya yang nama dan kunyahnya (panggilan) sama dengan ku. Tuhan akan menjadikannya pemimin bagi dunia, dan ia akan tersembunyi dari pandangan dan penglihatan, dan ia akan gaib lama sekali. Sampai suatu saat di mana hanya ada orang-orang yang memiliki keiman yang kokoh, yang teruji dan mendalam akan keyakinan terhadap kepemimpinannya.
(Muntakhabul Atsar, halaman 101)

Dari hadits di atas jelaslah bahwa 12 imam yang dimaksud oleh Rasulullah saw tsb adalah:
1. Imam Ali bin Abi Thalib (Amirul Mukminin)
2. Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib (cucu Rasulullah saw)
3. Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib (cucu Rasulullah saw)
4. Imam Ali Zainal Abidin (putra Imam Hussein)
5. Imam Muhammad Al Baqir (putra Imam Ali Zainal Abidin)
6. Imam Ja’far Ash Shadiq (putra Imam Muhammad Al Baqir)
7. Imam Musa Al Kazim (putra Imam Ja’far)
8. Imam Ali Ar Ridha (putra Imam Musa)
9. Imam Muhammad Al Jawad (putra Imam Ar Ridha)
10. Imam Ali Al Hadi (putra Imam Al Jawad)
11. Imam Hasan Al Askari (putra Imam Al Hadi)
12. Imam Muhammad Al-Mahdi (putra Imam Hasan Al-Askari)

Nah, merekalah, para imam yang 12 orang tersebut yang sesungguhnya telah menjadi pemelihara murni dari risalah Islam, ajaran kitab Allah dan sunnah Rasulullah, sebagaimana banyak dituliskan dalam berbagai riwayat dan juga disaksikan oleh sejarah. Oleh sebab itulah kita wajib mencintai 12 imam tersebut dan mengikuti mereka.