KHUTBAH RASULULLAH SAWW DI GHADIR KHUM

Sepuluh tahun setelah hijrah, Rasulullah saww memerintahkan pengikut-pengikut setianya untuk memanggil semua orang dari berbagai penjuru untuk bergabung dengan beliau pada haji terakhir. Itulah kali pertama kaum Muslimin yang berjumlah banyak sekali berkumpul di suatu tempat di hadapan pemimpin mereka, Nabi Muhammad SAWW.

Pada tanggal 18 Dzulhijjah, usai melaksanakan haji terakhirnya (haji wada), Nabi Muhammad SAWW pergi meninggalkan Mekkah menuju Madinah, di mana ia dan kumpulan kaum Muslimin sampai pada satu tempat bemama Ghadir Khum (saat ini dekat dengan Juhfah, sekitar 200 km dari Mekkah). Itulah tempat di mana orang-orang dari berbagai penjuru saling menyampaikan salam perpisahan dan kembali ke rumah dengan mengambil jalan yang berbeda-beda.

Di tempat inilah turun ayat Quran: “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah : 67: 4)

Usai menerima ayat di atas, Nabi Muhammad SAWW berhenti di suatu tempat (telaga Khum) yang sangat panas. Rasulullah saww memerintahkan rombongan untuk berhenti dan mendirikan kemah. Lalu beliau memerintahkan semua orang yang telah telanjur berada jauh di depan untuk kembali, dan menunggu sampai para jemaah haji yang masih tertinggal di belakang tiba dan berkumpul semuanya. Ketika jamaah haji lainnya tiba di Ghadir Khum, saat itu jumlahnya mencapai sekitar 120 ribu orang.

Rasulullah saww menyuruh Salman untuk membuat mimbar tinggi dari batu-batu dan pelana unta agar ia bisa menyampaikan khutbah. Rasulullah saw pun naik ke mimbar dan menyampaikan pidatonya, yang ringkasan isinya adalah sebagai berikut:

“Ketahuilah —wahai manusia— sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan Ali sebagai wali dan imam kamu, dan telah mewajibkan kepada setiap orang darimu untuk mentaatinya. Sah keputusan hukum yang diambilnya, dan berlaku kata-katanya. Terlaknat orang yang menentangnya, dan memperoleh rahmat orang yang mempercayainya.”

“Dengarlah dan patuhilah, sesungguhnya Allah adalah Tuhanmu dan Ali adalah pemimpinmu. Kemudian keimamahan dan kepemimpinan (berikutnya) ada pada keturunan yang berasal dari tulang sulbinya, sehingga tiba hari kiamat.”

“Sesungguhnya tidak ada yang halal kecuali apa yang telah dihalalkan oleh Allah, Rasul-Nya dan mereka, dan tidak ada yang haram kecuali apa yang telah diharamkan oleh Allah, Rasul-Nya dan mereka.”

Setelah menyampaikan pidatonya, Nabi meminta Imam Ali naik ke mimbar dan mengangkat tangan Imam serta mengenalkan kepada umat Islam bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penggantinya. Nabi bersabda bahwa ketaatan kepada Ali bin Abi Thalib sama dengan ketaatan kepada beliau.

Setelah Nabi saww mengangkat/meresmikan keimamahan imam Ali as di hadapan kurang lebih 120.000 shahabat, beliau saw bersabda (sebelum menyuruh setiap orang yang ada waktu itu untuk satu persatu membai’at imam Ali as di hadapan beliau saw).

“Hendaknya yang hadir ini menyampaikan kepada yang tidak hadir, dan hendaknya orang tua menyampaikan kepada anak-anaknya!”

***

Hadis ini dikenal dengan nama Hadis Al-Ghadir. Derajat hadis ini adalah hadis yang paling mutawatir dan tidak ada satupun hadis Nabi saw yang melebihi kemutawatiran hadis ini. Yang menulis hadis Ghadir ini di kitab-kitab hadits ahlussunnah dan tafsir-tafsir ahlussunnah banyak sekali, dan yang mengakui kemutawatirannya juga banyak sekali. Sedang perawi, penukil hadits dan yang mengakui kemutawatirannya pun sangat banyak (sebagian kitab-kitab tsb disebutkan di bagian bawah tulisan ini).

Muhammad ibnu Jariir al-Thabari (wafat th 310 H), menulis kitab bernama al-Wilaayatu yang menulis thuruq atau jalan perawian hadits ini sebanyak 75 jalan/thuruq/shahabat (padahal mutawatir itu cukup 9 thuruq)

Berikut petikan Khutbah Rasulullah di Ghadir Khum:

“…. Hai, kaum Muslimin! ketahuilah bahwa Jibril sering datang padaku membawa perintah dari Allah yang Maha Pemurah, bahwa aku harus berhenti di tempat ini dan memberitahukan kepada kalian suatu hal.

Lihatlah! Seakan-akan waktu semakin dekat saat aku akan dipanggil (oleh Allah) dan aku akan menyambut panggilannya.”

“Hai, Kaum Muslimin! Apakah kalian bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.

Surga adalah benar, neraka adalah benar, kematian adalah benar, kebangkitan pun benar, dan ‘hari itu pasti akan tiba, dan Allah akan membangkitkan manusia dari kuburnya?”

Mereka menjawab: “Ya, kami meyakininya.”

Nabi melanjutkan: “Hai, kaum Muslimin! Apakah kalian mendengar jelas suaraku?” Mereka menjawab: “Ya.”

Rasul berkata: “Dengarlah! Aku tinggalkan bagi kalian 2 hal paling berharga dan simbol penting yang jika kalian setia pada keduanya, kalian tidak akan pernah tersesat sepeninggalku. Salah satunya memiliki nilai yang lebih tinggi dari yang lain.”

Orang-orang bertanya: “Ya, Rasulullah, apakah dua hal. yang amat berharga itu?”

Rasulullah menjawab: “Salah satunya adalah kitab Allah dan lainnya adalah Itrah Ahlulbaitku (keluargaku).

Berhati-hatilah kalian dalam memperlakukan mereka ketika aku sudah tidak berada di antara kalian, karena, Allah, Yang Maha Pengasih, telah memberitahukanku bahwa dua hal ini (Quran dan Ahlulbaitku) tidak akan berpisah satu sama lain hingga mereka bertemu denganku di telaga (al-Kautsar).

Aku peringatkan kalian, atas nama Allah mengenai Ahlulbaitku.

Aku peringatkan kalian atas nama Allah, mengenai Ahlulbaitku.

Sekali lagi! Aku peringatkan kalian, atas nama Allah tentang Ahlulbaitku!”

“Dengarlah! Aku adalah penghulu surga dan aku akan menjadi saksi atas kalian maka barhati-hatilah kalian memperlakukan dua hal yang sangat berharga itu sepeninggalanku.

Janganlah kalian mendahului mereka karena kalian akan binasa, dan jangan pula engkau jauh dari mereka karena kalian akan binasa!”

“Hai, kaum Muslimin! Tahukah kalian bahwa aku memiliki hak atas kalian lebih dari pada diri kalian sendiri?”

Orang-orang berseru: “Ya, Rasulullah.” Lalu Rasul mengulangi: “Hai, kaum Muslimin? Bukankah aku memiliki hak atas kaum beriman lebih dari ada diri mereka sendiri?” Mereka berkata lagi: “Ya, Rasulullah.”

Kemudian Rasul berkata: “hai Kaum Muslim! Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan aku adalah Maula/Pemimpin semua orang-orang beriman,”

Lalu ia merengkuh tangan Ali bin Abi Thalib dan mengangkatnya ke atas.

la berseru: “Barang siapa mengangkatku sebagai Maula, maka Ali adalah Maulanya pula (Nabi mengulang sampai tiga kali)

Ya, Allah! Cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang-orang yang memusuhinya.

Bantulah orang-orang yang membantunya. Selamatkanlah orang-orang yang menyelamatkannya, dan jagalah kebenaran dalam dirinya ke mana pun ia berpaling! (artinya, jadikan ia pusat kebenaran).

Ali adalah putra Abu Thalib, saudaraku, Washi-ku, dan penggantiku (khalifah) dan pemimpin sesudahku.

Kedudukannya bagiku bagaikan kedudukan Harun bagi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku.

la adalah pemimpin kalian setelah Allah dan Rasul-Nya.”

“Hai, kaum Muslimin! Sesungguhnya Allah telah menunjuk dia menjadi pemimpin kalian.

Ketaatan padanya wajib bagi seluruh kaum Muhajirin dan kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan dan penduduk kota dan kaum pengembara, orang-orang Arab dari orang-orang bukan Arab, para majikan dan budak, orang-orang tua dan muda, besar dan kecil, putih dan hitam.”

“Perintahnya harus kalian taati, dan kata-katanya mengikat serta perintahnya menjadi kewajiban bagi setiap orang yang meyakini Tuhan yang satu.

Terkutuklah orang-orang yang tidak mematuhinya, dan terpujilah orang-orang yang mengikutinya, dan orang-orang yang percaya kepadanya adalah sebenar-benarnya orang beriman.

Wilayahnya (keyakinan kepada kepemimpinannya) telah Allah Yang Maha kuasa dan Maha tinggi, wajibkan.”

“Hai kaum Muslimin, pelajarilah Quran! Terapkanlah ayat-ayat yang jelas maknanya bagi kalian dan janganlah kalian mengira-ngira ayat-ayat yang bermakna ganda!

Karena, Demi Allah, tiada seorang pun yang dapat menjelaskan ayat-ayat secara benar akan makna serta peringatannya kecuali aku dan lelaki ini (Ali), yang telah aku angkat tangannya ini di hadapan diriku sendiri.”

“Hai kaum Muslimin, inilah terakhir kalinya aku berdiri di mimbar ini.

Oleh karenanya, dengarkan aku dan taatilah dan serahkan diri kalian kepada kehendak Allah. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan kalian. Setelah Allah, Rasulnya, Muhammad yang sedang berbicara kepada kalian, adalah pemimpin kalian.

Selanjutnya sepeninggalku, Ali adalah pemimpin kalian dan Imam kalian atas perintah Allah.

Kemudian setelahnya kepemimpinan akan dilanjutkan oleh orang-orang yang terpilih dalam keluargaku hingga kalian bertemu Allah dan Rasulnya.”

“Lihatlah, sesungguhnya, kalian akan menemui Tuhanmu dan ia akan bertanya tentang perbuatan kalian.

Hati-hatilah! Janganlah kalian berpaling sepeninggalku, saling menikam dari belakang!

Perhatikanlah! Adalah wajib bagi orang-orang yang hadir saat ini untuk menyampaikan apa yang aku katakan kepada mereka yang tak hadir karena orang-orang yang terpelajar akan lebih memahami hal ini daripada beberapa orang yang hadir dari saat ini.

Dengarlah! Sudahkah aku sampaikan ayat Allah kepada kalian?

Sudahkah aku sampaikan pesan Allah kepada kalian?”

Semua orang menjawab, “Ya.” Kemudian Nabi Muhammad berkata, “Ya, Allah, saksikanlah.”

Belum lagi pertemuan akbar ini bubar, Jibril turun membawa wahyu dari Allah swt kepada Nabi-Nya.

مْﻮَﻴْﻟا َ ﺖْﻠَﻤْﻛَأ ُ ﻢُﻜَﻟ ْ ﻢُﻜَﻨﻳِد ْ ﺖْﻤَﻤْﺗَأَو ُ ﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ْ ﻲِﺘَﻤْﻌِﻧ ﺖﻴِﺿَرَو ُ ﻢُﻜَﻟ ُ مَﻼْﺳِْﻹا َ ﺎًﻨﻳِد ﻦَﻤَﻓۚ ِ ﺮُﻄْﺿا َّ ﻲِﻓ ﺔَﺼَﻤْﺨَﻣ ٍ ﺮْﻴَﻏ َ ﻒِﻧﺎَﺠَﺘُﻣ ٍ ﻢْﺛِِّﻹ ٍ نِﺈَﻓۙ َّ ﻞﻟا ـَّ ﻪَ رﻮُﻔَﻏ ٌ ٌﻢﻴِﺣَّر

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. 3: 3)

Kemudian Rasul bertakbir, Allah Akbar!

Selamat atas disempurnakannya agama dan disempurnakannya nikmat dan keridhaan Allah terhadap risalahku dan kepemimpinan Ali sepeninggalku.

Setelah takbir Nabi tersebut, umat Islam berduyun-duyun memberikan selamat kepada Imam Ali as.

Orang paling pertama yang mengucapkan selamat kepada Imam Ali adalah Abu Bakar dan Umar. Keduanya berkata, selamat kepadamu wahai Abu Turab! Kini Kamu menjadi pemimpin kami dan maula setiap laki-laki serta wanita mukmin.

Ibnu Abbas berkata: “Saya bersumpah bahwa wilayah terhadap Ali diwajibkan bagi seluruh umat.”

Hasan bin Tsabit berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkan Aku mengumandangkan syair tentang Ali.”

Nabi pun kemudian mengijinkan Hasan bin Tsabit membacakan syair tentang peristiwa Ghadir Khum dan pengangkatan Imam Ali as.

HADIS AL-GHADIR INI TERDAPAT DALAM KITAB-KITAB BERIKUT:

1. Shahih Muslim, jilid 4/1873, Dar Fikr, Bairut.
2. Shahih Tirmidzi, jilid 5, halaman 297, hadis ke 3797.
3. Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 45, hadis ke 121.
4. Musnad Ahmad jilid 5, halaman 501, hadis ke18838, halaman 498, no: 18815, cet Bairut.
5. Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368 dan 372.
6. Musnad Ahmad bin Hamnbal, jilid 1, halaman 88, cet.pertama; jilid 2, halaman 672, dengan sanad yang shahih; jilid 4, halaman 372. cet. Pertama.
7. Khashaish Amirul mu’minin (as), halaman 96, cet Kuwait 1406 H.
8. Fadhilah ash-Shahabah, halaman 15, Dar kutub ilmiyah, Bairut.
9. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 533, Dar fikr, Bairut 1398 H.
10. Majma’ az-Zawaid, jilid 9, halaman 104-105, Dar kitab Al-Arabi, Bairut 1402 H.
11. Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 213, hadis ke: 271,277,278,279,281,460,461 dan 465; jilid 2, halaman 14, hadis ke: 509,510,519,520,524,525,529,530,531,533,534,536,537,538,540,541,542,551,554,555,556,557,563,564,574,575,577,578,579 dan 587,cet. Pertama, Bairut.

12. Majma’uz Zawaid, oleh Al-Haitsami Asy-Syafi’I, jilid 9, halaman: 103,105,106,107 dan 108.
13. Kanzul ‘Ummal jilid 15, halaman: 91,92,120,135,143,147 dan 150, cetakan. Kedua.
14. Khashaish Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’I Asy-Syafi’I, halaman 94,95 dan 50, cet. Al-Haidariyah.
15. Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110.
16. Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 5, halaman 26.
17. Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 5, halaman 369; jilid3, halaman 274; jilid 5, halaman 208.
18. Jami’ul Ushul, oleh Ibnu Atsir, jilid 9, halaman 468.
19. Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi Al-Hanafi, halaman 79,94 dan 95.
20. Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 5, halaman 182.
21. Nizham Durar As-Samthin, oleh Az-Zarnadi Al-Hanafi, halaman 112.
22. Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’I, halaman 19, hadis ke: 24,23,30,31,32,34 dan 36.
23. Al-Hawi, oleh As-Suyuthi, jilid 1, halaman 122.
24. Al-jarh wat-Ta’dil, oleh Abi Hatim, jilid 4, halaman 431, cet. Haidar Abad.
25. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman: 31,33,36,37,38,181,187,274.
26. Dzakhairul ‘Uqba, halaman 67.
27. Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305,372 dan 567; jilid 2, halaman 257,382,408 dan 509; jilid 3, halaman 542; jilid 4, halaman 80.

28. Al-Aghani, oleh Abil Farj Al-Isfahan, jilid 8, halaman 307.
29. Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’I, halaman 169, cet. As-Sa’adah, Mesir; halaman 65, cet Al-Maimaniyah, Mesir.
30. Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 275.
31. Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman: 58,60,62 dan 286, cet. Al-Ghira.
32. Al-Imamah was Siyasah, oleh Ibnu Qataibah, jilid 1, halaman 101.
33. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 157, hadis ke: 210,212 dan 213.
34. Sirr Al-‘Alamin, oleh Al-Ghazali, halaman 21.
35. Misykat Al-Mashabih, oleh Al-Umari, jilid 3, halaman 243.
36. Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 222,223 dan 224.
37. At-Tarikh Al-Kabir, oleh Al-Bukhari, jilid 1, halaman 375, cet. Turki.
38. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 63 dan 66.
39. Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 228.
40. Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman: 211,212,213 dan 214; jilid 7, halaman: 338,348,448 dan 334.
41. Al-Manaqib, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.
42. Wafaul Wafa’, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.
43. Miftahun Naja, oleh Al-Badkhasyi, halaman 58.
44. Taysirul Wushul, oleh Ibnu Ar-Rabi,, jilid 2, halaman 147.
45. Tarikh Baghdad, oleh Al-Khatib Al-Baghadi, jilid 8, halaman 290.
46. Al-Kina wal- Asma’, oleh Ad-Dawlabi, jilid 1, halaman 160, cet. Haidar Abad.
47. Nizham An-Nazhirin, halaman 39.
48. Al-Jarh wat-Ta’dil, oleh Ibnu Mundzir, jilid 4, halaman 431.
49. Asy-Syadzarat Adz-dzahabiyah, halaman 54.
50. Akhbar Ad-Duwal, oleh Al-Qurmani, halaman 102.
51. Dzakhair Al-Mawarits, oleh An-Nabilis, jilid 1, halaman 213.
52. Kunuzul Haqaiq, oleh Al-Mannawi, huruf Mim, cet. Bulaq.
53. Arjah Al-Mathalib, oleh Syaikh Abidillah Al-Hanafi, halaman: 564,568,570,471,448,581,36 dan 579.
54. Muntakhab min shahih Bukhari wa Muslim, oleh Muhammad bin Utsman Al-Baghdadi, halaman 217.
55. Fathul Bayan, oleh Haasan Khan Al-Hanafi, jilid 7, halaman 251, cet, Bulaq
56. Al-Arba’in, oleh Ibnu Abil Fawaris, halaman 39.
57. Al-I’tiqad ‘Ala Madzhab As-Salaf, oleh Al-Baihaqi, halaman 182.
58. Al-Mu’tashar minal Mukhtashar, jilid 2, halaman 332, cet. Haidar Abad.
59. MawdhihAwhamil Jam’I Wat-Tafriq, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 1, halaman 91.
60. At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 337.
61. Al-Bayan Wat-Ta’rif, oleh Ibnu Hamzah, jilid 2, halaman 230.
62. Al-Adhdad, halaman 25 dan 180.
63. Al-‘Utsmaniyah, oleh Al-Jahizh, halaman 134 dan 144.
64. Mukhtalib Al-Ahadist, oleh Ibnu Qutaibah, halaman 52.
65. An-Nihayah, oleh Ibnu Atsir Al-Jazari, jilid 4, halaman 346, cet. Al-Muniriyah, Mesir.
66. Ar-Riyadh An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 244, cet. Al-Kaniji, Mesir.
67. Duwal Al-Islam, jilid 1, halaman 20.
68. Tadzkirah Al-Huffazh, oleh Adz-Dzahabi, jilid 1, halaman 10.
69. Al-Mawaqif, oleh Al-Iji, jilid 2, halaman 611.
70. Syarah Al-Maqashid, oleh At-Taftajani, jilid 2, halaman 219.
71. Muntakhab Kanzul ‘Ummal (catatan pinggir) Musnad Ahmad, jilid 5, halaman 30.
72. Faydhul Qadir, oleh Al-Mannawi Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 57.
73. Atsna Al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalif Al-Maratib, halaman 221.
74. Ar-Rawdh Al-Azhar, oleh Al-Qandar Al-Hindi, halaman 94.
75. Al-Jami’ Ash-Shaghir, oleh As-Suyuthi, hadis ke 900.
76. Al-Mu’jam Al-Kabir, oleh Ath-Thabrani, jilid 1, halaman 149 dan 205.
77. Al-Fadhail, oleh Ahmad bin Hambal, hadis ke: 91,822 dan 139.
78. Al-Kamil, oleh Ibnu ‘Adi, jilid 2, halaman 20.
79. Asy-Syaraf Al-Muabbad Li-Ali Muhammad, oleh An-Nabhani Al-Bairuti, halaman 111.
80. Maqashid Ath-Thalib, oleh Al-Barzanji, halaman 11.
81. Al-Fathu Ar-Rabbani, jilid 21, halaman 312.

Perawi hadis Al-Ghadir:
1. Muhammad bin Ishaq, shahibus Sirah.
2. Mu’ammar bin Rasyid
3. Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (Imam Syafi’i).
4. Abdur Razzaq bin Hammam Ash-Shan’ani, guru Bukhari.
5. Said bin Manshur, shahibul Musnad.
6. Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), shahibul Musnad.
7. Ibnu Majah Al-Qazwini.
8. At-Turmidzi, shahibush Shahih.
9. Abu Bakar Al-Bazzar, shahibul Musnad.
10. An-Nasa’i.
11. Abu Ya’la Al-Mawshili, shahibul Musnad.
12. Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, penulis Tafsir dan Tarikh.
13. Abu Hatim Ibnu Hibban, shahibush Shahih.
14. Abul Qasim Ath-Thabrani, penulis Mu’jam.
15. Abul Hasan Ad-Daruqudni.
16. Al-Hakim An-Naisaburi, shahibul Mustadrak.
17. Ibnu Abd Al-Birr, penulis Al-Isti’ab.
18. Khathib Al-Baghdadi, penulis Tarikh Baghdad.
19. Abu Na’im Al-Isfahani, penulis Hilyatul Awliya’ dan Dalailun Nubuwwah.
20. Abu Bakar Al-Baihaqi, penulis Sunan Al-Kubra.
21. Al-Baghawi, penulis Mashabih As-Sunnah.
22. Jarullah Az-Zamakhsyari, penulis tafsir Al-Kasysyaf.
23. Fakhrur Razi, mufassir.
24. Ibnu Asakir Ad-Damsyiqi, penulis tarikh Damsyiq.
25. Adh-Dhiya’ Al-Muqaddasi, shahibul Mukhtarah.
26. Ibnu Atsir, penulis Usdul Ghabah.
27. Abu Bakar Al-Haitsami, hafizh besar, penulis Majmauz zawaid.
28. Al-Hafizh Al-Muzzi, penulis Tahdzibul kamal.
29. Al-Hafizh Adz-Dzahabi, penulis Talkhish al-Mustadrak.
30. Al-Hafizh Al-Khathib At-Tabrizi, penulis Misykatul Mashabih.
31. Nizhamuddin An-Naisaburi, mufassir terkenal.
32. Ibnu Katsir, mufassir. Mengakui kemutawatiran hadis Al-Ghadir (lihat: Al-Bidayah wan-Nihayah 5/213).
33. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, penulis syarah Bukhari (Fathul Bari).
34. Al-Ayni Al-Hanafi, penulis Umdatul Qari fi syarh shahih Bukhari.
35. Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi.
36. Ibnu Hajar Al-Makki, penulis Ash-Shawaiqul Muhriqah.
37. Syeikh Ali Al-Muttaqi Al-Hindi, penulis Kanzul Ummal.
38. Syeikh Nuruddin Al-Halabi, penulis Sirah Al-Halabi.
39. Syah Waliyullah Ad-Dahlawi, penulis banyak kitab, masyhur dengan julukan Allamah Al-Hindi.
40. Syihabuddin Al-Khafaji, pensyarah Asy-Syifa’ dan penta’liq tafsir Al-Baidhawi.
41. Az-Zubaidi, penulis Tajul ‘Arus.
42. Ahmad Zaini Dahlan, penulis Sirah Ad-Dahlaniyah.
43. Syeikh Muhammad Abduh, mufassir dan pensyarah Nahjul Balaghah.

Kemutawatiran Hadis Al-Ghadir:
Hadis Al-Ghadir Kemutawatirannya diakui oleh jalaluddin As-Suyuthi, di dalam:
1. Al-Faraid Al-Mutaksirah fil Akhbar Al-Mutawatirah.
2. Al-Azhar Al-Mutanatsirah fil Akhbar Al-Mutawatirah.

Pernyataan As-Suyuthi tentang kemutawatiran hadis Al-Ghadir ini dikutip oleh:
1. Allamah Al-Mannawi, di dalam At-Taysir fi Syarhi Al-jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 442.
2. Allamah Al-‘Azizi, dalam Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 3, halaman 360.
3. Al-Mala Ali Al-Qari Al-Hanafi, di dalam Al-Mirqat Syarhul Misykat, jilid 5, halaman 568.
4. Jamaluddin ‘Athaullah bin Fathlullah Asy-Syirazi, dalam kitabnya Al-Arba’ina; dan rujuk pula: Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 123.

5. Al-Mannawi Asy-Syafi’I, di dalam kitabnya At-Taysir fi-Syarhi Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 123.
6. Mirza Makhdum bin Mir Abdul Baqi, di dalam An-Nawaqish ‘Ala Ar-Rawafidh; dan rujuk: Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 121.

7. Muhammad bin Ismail Al-Yamani Ash-Shina’ani, di dalam kitab Ar-Rawdhah An-nadiyah. Rujuk: Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 294; dan Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 127.
8. Muhammad Shadr ‘Alim, dalam kitab Ma’arij Al-‘Ali fi Manaqib Al-Murtadha; silahkan rujuk: Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 294; dan Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 127.
9. Syaikh Abdullah Asy-Syafi’I, di dalam kitabnya Al-Ar-Ba’in.
10. Syaikh Dhiyauddin Al-Muqbili, di dalam kitabnya Al-Abhats Al-Musaddadah fil Funun Al-Muta’addidah; dan rujuk: Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 125.
11. Ibnu Katsir Ad-Damsyiqi, di dalam Tarikhnya, dalam Tarjamah Muhammad bin Jarir Ath-thabari.
12. Abu Abdillah Al-Hafizh Adz-Dzahabi. Pernyataannya tentang Kemutawatiran hadis Al-ghadir dikutip oleh Ibnu Katsir, dalam Tarikhnya, jilid 5, halaman 213-214.
13. Al-Hafizh Al-Jazari. Ia menyebutkan kemutawatiran Hadis ini dalam kitabnya Asna Al-Mathalib fi Manaqib Ali bin Abi Thalib, halaman 48.
14. Syaikh Hisamuddin Al-Muttaqi, ia menyebukan kemutawatiran hadis ini dalam kitabnya Mukhtashar Qithful Azhar Al-Mutanatsirah.
15. Muhammad Mubin Al-Kahnawi, di dalam kitab Wasilah An-najah fi Fadhail As-Sadat, halaman 104.

Jumlah Sahabat yang bersama Nabi saw di Ghadir Khum. Ulama berbeda pendapat tentang jumlah sahabat yang menyertai Nabi saw di Ghadir Khum:
Sebagian pendapat mengatakan: 90.000 sahabat.
Sebagian pendapat mengatakan: 114.000 sahabat.
Ada yang mengatakan: 120.000 sahabat.
Dan ada juga yang menyatakan: 124.000 sahabat.

Pernyataan tersebut terdapat dalam:
1. Tadzkirah Al-Khawwash, oleh As-Sabth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, halaman 30.
2. As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 257.
3. As-Sirah An-Nabawiyah oleh Zaini Dahlan (catatan pinggir) As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 3.
4. Al-Ghadir, oleh Al-Amini, jilid 1, halaman 9.

Perawi Hadis Al-Ghadir dari kalangan sahabat nabi saw. Seratus sepuluh (110) sahabat Nabi saw yang meriwayatkan hadis Al-Ghadir, mereka adalah:
1. Abu Hurairah, wafat pada tahun 57/58/59 H.Silahkan rujuk : Tarikh Baghdad, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 8, halaman 290 ; Tahdzibut Tahdzib, jilid 7, halaman 327 ; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 130 ; Asna Al-Mathalib, halaman 3 ; Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 2, halaman 259 ; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114 ; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 153; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir Ad-Damsyiqi, jilid 5, halaman 214.
2. Abu Layli Al-Anshari, ia terbunuh pada perang shiffin tahun 37 H. Silahkan rujuk: Al-Manaqib, oleh Khawarizmi, halaman 35; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114.
3. Abu Zainab bin ‘Auf Al-Anshari. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Al-Ishabah, jilid 3, halaman 408.
4. Abu Fudhalah Al-Anshari, terbunuh pada perang shiffin. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Tarikh Ali Muhammad, oleh Al-Qadhi, halaman 67.
5. Abu Qudamah Al-Anshari. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 276.
6. Abu ‘Amrah bin ‘Amr bin Muhshin Al-Anshari. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307.
7. Abu Al-Haitsami At-Tihan, terbunuh pada perang shiffin; silahkan rujuk: Nakhbul Manaqib, oleh Al-Ju’abi; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
8. Abu Rafi’ Al-Qibthi. Silahkan rujuk : Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
9. Abu Dzuwaib Khawailid bin Khalid bin Mahrats, wafat pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Silahkan rujuk: Maqtal Al-Husain.
10. Abu Bakar bin Quhafah, wafat tahun 13 H. Silahkan rujuk: An-Nakhbul Manaqib, oleh Abu Bakar Al-Ju’abi; hadis Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Asna Al-Mathalib, oleh Syamsuddin Al-Jazari, halaman 3.
11. Usamah bin Zaid bin Haritsah, wafat tahun 54 H. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, tentang Hadis Wilayah, jilid 5, halaman 205; Nakhbul Manaqib.
12. Ubay bin Ka’b Al-khazraji, wafat tahun 30/31 H. Silahkan rujuk: Nakhbul Manaqib.
13. As-ad bin Zurarah Al-Anshari. Silahkan rujuk: An-Nakhbu, oleh Abu Bakar Al-Ju’abi; Al-Wilayah, oleh Abu Said Mas’ud As-Sijistani; Asna Ath-Thalib, oleh Syamsuddin Al-Jazari, oleh Ibnu ‘Uqdah.
14. Asma’ binti ‘Amis Al-Khats’amiyah. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
15. Ummu Salamah istri Nabi saw. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 40. Wasilah Al-Maal, oleh Syaikh Ahmad bin Fadhl bin Muhammad Al-Makki Asy-Syafi’i.
16. Ummu Hani binti Abi Thalib (as). Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 40; Musnad Al-Bazzar; Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
17. Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari Al-Khazraji, Khaddam Nabi saw, wafat tahun 93 H. Rujuk: Tarikh Baghad, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 7, halaman 377; Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154 dan 403; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi; Nuzul Abrar; oleh Al-Badkhasyi, halaman 20; Asna Ath-Thalib, oleh Al-Jazari; halaman 4.
18. Barra’ bin Azib Al-Anshari Al-Ausi, wafat tahun 72 H. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 281; Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 28 dan 29; Khashais Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’I, halaman 16; Tarikh Baghdad; jilid 14, halaman 236; Tafsir Ath-Thabari, jilid 3, halaman 428; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Ar-Riyadh An-Naadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 2, halaman 25; Dzakhairul ‘Uqba, halaman 14; Tafsir Fahrur Razi, jilid 3, halaman 636; Tafsir An-Naisaburi, jilid 6, halaman 194; Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 555; Misykatul Mashabih, halaman 557; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, Halaman 397; Al-Bidayah wan-nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209.
19. Buraidah bin Al-Hashib Abu Sahl Al-Aslami, wafat tahun 63 H. Rujuk: Al-Mustadark Al-Hakim, jilid 3, halaman 110; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Asna Ath-Thalib, oleh Al-Jazari Asy-Syafi’I, halaman 3; Tarikh Al-Hkulafa’, halaman 114; Al-Jami’ Ash-shaghir, jilid 2, halaman 555; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 367; Miftahun Naja, halaman 20; Tafsir Al-Manar, jilid 6, halaman 464.
20. Abu Said Tsabit bin Wadi’ah Al-Anshari Al-Khazraji Al-Madini. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
21. Jabir bin Sammah bin Junadah Abu Sulaiman As-Suwai, wafat setelah tahun 70 H; dalam Al-Ishabah, ia wafat tahun 73 H. Rujuk: Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 398; Al-Isti’ab, jilid 2, halaman 473; Tahdzibut Tahdzib, jilid 7, halaman 337; Kifayah Ath-Thalib, halaman 16; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209;Asna Ath-Thalib, oleh Al-Jazari, halaman 3; Tarikh Ali Muhammad, oleh Al-Qadhi, halaman 67.

22. Jabir bin Abdullah Al-Anshari, wafat di Madinah tahun 73/74/78 H. Rujuk: Al-Isti’ab, jilid 2, halaman 473; Tahdzibut Tahdzib, jilid 7, halaman 337; Kifayah Ath-Thalib, halaman 16; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 398; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 41; Asna Ath-Thalib, halaman 3; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67..

23. Jabalah bin Amr Al-Anshari.
24. Jubair bin Math’am, wafat tahun 57/58/59 H. Rujuk: Tarikh Ali Muhammad, halaman 69; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 31 dan 336.

25. Jarir bin Abdullah bin Jabir, wafat tahun 51/54 H. Rujuk: Majma’uz Zawaid, oleh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 114; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 349; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 399.

26. Abu Dzar Jundab bin Junadah Al-Ghifari, wafat tahun 31, Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; Nakhbul Manaqib. Oleh Al-Ju’abi; Faraid As-Samthin; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi; Asma Ath-Thalib, oleh, oleh Syamsuddin Al-Jazari Asy-Syafi’I, halaman 4.

27. Abu Junaid Junda’ bin Amr Al-Anshari: rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 308; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.

28. Habbah bin JuJuwayn Abu Qudamah Al-‘Urani, wafat tahun 76/79 H. Rujuk: Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 103; Tarikh Baghdad, jilid 8, halaman 276; Al-Kina wal-Asma’, oleh Ad-Dawlabi, jilid 2, halaman 88; Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 367; Al-Ishabah, jilid 1, halaman 372.

29. Hubsyi bin Junadah As-Saluli. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Ar-Riyadh An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 2, halaman 169; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 211; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 106; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20.

30. Habib bin Badil bin Waraqah Al-Khaza’i. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 368.
31. Hudzaifah bin usaid Abu Sarihah Al-Ghifari, wafat tahun 40/42 H. Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 298; Al-fushulul Muhimmah, oleh Ibnu Shabagh, halaman 25; Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman 209/jilid 7, halaman 348; Ash-Shawa’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, halaman 25; As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 301; Majma’uz Zaawaid, jilid 9, halaman 165; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Tarikh Ali Muhammad, halaman 68.

32. Hudzaifah bin Al-Yaman Al-Yamani, wafat tahun 36 H. Rujuk Da’atul Huda Ila Haqqil Muwalat, oleh Al-Hakim Al-Haskani; Asna Al-Muthalib, oleh Al-Jazari, halaman 4.
33. Hassan bin Tsabit, salah seorang penyair Al-Ghadir pada abad pertama, silahkan rujuk syairnya dan biografinya.
34. Al-Imam Al-Mujtaba’ Al-Hasan (as) cucu Rasulullah saw. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; An-Nakhbu, oleh Al-Ju’abi; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
35. Al-Imam As-Syahid Al-Husain (as) cucu Rasulullah saw. Rujuk: hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; An-Nakhbu, oleh Al-Ju’abi; Maqtal Al-Husain, oleh Al-khawarizmi; Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili; Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 9, halaman 64.
36. Abu Ayyub Khalid bin Zaid Al-Anshari, syahid pada perang Rumawi tahun 50/51/52 H. Rujuk: Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 169; Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 6/jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 209; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 2, halaman 154; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, jilid 7, halaman 780/jilid 6, halaman 223/jilid 2, halaman 408, cet. Pertama; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20.
37. Abu Sulaiman Khalid bin Walid bin Al-Mughirah Al-makhzumi, wafat tahun 21/22 H. Rujuk: An-Nakhbu.
38. Khuzaimah bin Tsabit Al-Anshari, terbunuh pada perang Shiffin tahun 37. Rujuk: Usdul ghabah, jilid 3, halaman 307; Asna Al-Mathalib, halaman 4; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
39. Abu Syuraih Khawailid/ Ibnu ‘Amr Al-Khaza’I, wafat tahun 68 H.
40. Rifa’ah bin Abdul Mundzir Al-Anshari. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Nakbul Manaqib; Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi.
41. Zubair bin ‘Awwam, terbunuh tahun 36 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Asna Al-Mathalib, halaman 3.

42. Zaib bin Arqam Al-Anshari Al-Khazraji, wafat tahun 66/68 H. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368; Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 16; Al-Kina Wal-Asma’, jilid 2, halaman 61; Shahih Muslim, jilid 2, halaman 325, cet. Tahun 1327;Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi, jilid 2, halaman 199; Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 298; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 109, 118 dan 533; Ar-Riyad An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 3, halaman 169; At-Talikhish, oleh Adz-Dzahabi, jilid 3, halaman 533; Mizanul I’tidal, oleh Adz-dzahabi jilid 3, halaman 224; Mathalib As-Saul, oleh Ibnu Thalhah, halaman 16; Majma’uz Zawaid, oleh Abu Bakar Al-Haitsami, jilid 9, halaman 104 dan 163; Syarhul Madzahib, oleh Az-Zarqani Al-Maliki, jilid 7, halaman 13; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 93; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman 208; Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 14; Tarikh Al-hkulafa’, oleh As-Suyuthi, halaman 114; Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 555; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 7, halaman 338; Raiyadh Ash-Shalihin, halaman 557; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 19 dan 21; Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 2, halaman 350.

43. Abu Saiz Zaid bin Tsabit, wafat tahun 45/48; Rujuk: Asna Al-Mathalib, halaman 4.
44. Zaid/Yazid bin syarahil Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 2, halaman 233; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 233; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 567; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
45. Zaid bin Abdullah Al-Anshari. Rujuk: hadis Al-wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
46. Abu Ishaq Sa’d bin Abi Waqash, wafat tahun 54/55/56/58 H. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 3,4,18 dan 25; Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 30; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 116;Hilyatul Awliya’, oleh Al-Hafizh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 4, halaman 356; Musykil Al-Atshar, oleh Al-Hafizh Ath-Thahawi Al-Hanafi, jilid 2, halaman 309;Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16 dan 151; Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 107; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir Asy-Syami, jilid 5, halaman 212/jilid 7, halaman 340; Tarikh Al-Khulafa’, oleh Jamaluddin As-Suyuthi, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154 dan 405; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20.
47. Sa’d bin Junadah Al-‘Awfi ayah dari ‘Athiyah Al-‘Awfi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; An-Nakhbu; Maqtal Al-Husain, oleh Al-khawarizmi.
48. Sa’d bin ‘Ubadah Al-Anshari Al-Khazraji, wafat tahun 14/15 H. Rujuk: An-Nakhbu, oleh Qadhi Abu Bakar Al-Ju’abi.
49. Abu Said Sa’d bin Malik Al-Anshari Al-Khudri (Abu Said Al-Khudri), wafat tahun 63/64/65/74 H, di makamkan di Baqi’. Rujuk Tafsir An-Naisaburi, jilid 6, halaman 194; Al-Manaqib, oleh Al-khawarizmi, halaman 80; Al-Fushulul Muhimah, oleh Ibnu Shabagh Al-Maliki, halaman 27; Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsammi, jilid 9, halaman 108; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 14; Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 7, halaman 349 dan 350; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Ad-Durrul Mantsur, jilid 2, halaman 259 dan 298; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 390 dan 403; Tafsir An-Manar, jilid 6, halaman 463; Asna Al-Mathalib, oleh Al-Kazari, halaman 3.
50. Said bin Zaid Al-Quraisyi Al-‘Adawi, wafat tahun 36/37 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili.
51. Said bin Sa’d bin Ubadah Al-Anshari. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
52. Abu Abdillah Salman Al-Farisi, wafat tahun 36/37 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Al-Nakhbu; Faraid As-Samthin; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
53. Abu Muslim Salamah bin ‘Amr bin Aku’ Al-Aslami, wafat tahun 74 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
54. Abu Sulaiman Sammarah bin Jundab Al-Firusi, wafat di Basrah tahun 58/59/60 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Nakhbul Manaqib; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
55. Sahl bin Hunaif Al-Anshari Al-Ausi, wafat tahun 38 H.Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
56. Abdul Abbas Sahl bin Sa’d Al-Anshari Al-Khazraji As-Sa’di, wafat tahun 91 H. Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
57. Abu Imamah Ash-Shudi Ibnu Ajlan Al-Bahili, wafat tahun 86 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
58. Dhamrah Al-Asadi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; dalam Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi, disebut Dhamrah bin Hadid dan ia mengiranya Dhamrih bin Jundab atau Ibnu Habib.
59. Thalhah bin Abidillah At-Tamimi, terbunuh pada perang Jamal tahun 36. Rujuk: Muruj Adz-Dzahab, oleh Al-Ma’udi, jilid 2, halaman 11; Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 171; Al-Manaqib, oleh Al-khawarizmi, halaman 112; Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 107; Jam’ul Jawami’, oleh As-Suyuthi; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 391; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 83 dan 154; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 1, halaman 391; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 83 dan 154; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Al-Jazari Asy-Syafi’I, halaman 3.
60. ‘Amir bin ‘Umair An-Numairi. Rujuk : Hadis Al-Wilayah ; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 255.
61. ‘Amir bin Layli bin Dhamrah. Rujuk : Hadis Al-Wilayah ; Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 92 ; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 257 ; Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 93.
62. ‘Amir bin Layli Al-Ghifari ; Rujuk : Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 257.
63. Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah Al-Laytsi, wafat tahun 100/102/108/110 H. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 30 dan 118/jilid 4, halaman 370; Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 15 dan 17; Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 26,31 dan 298; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109,110 dan 533; Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 92/jilid 5, halaman 376; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 93 dan 217; Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-syafi’I, halaman 15; Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 179; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 211/jilid 7, halaman 246 dan 348; Al-Ishabah, jilid 4, halaman 159/jilid 2, halaman 252; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 390; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 38.
64. ‘Aisyah binti Abi Bakar bin Quhafah, istri Nabi saw. Rujuk : Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
65. ‘Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim, paman nabi saw. Wafat tahun 32 H. Rujuk: Asna Al-Mathalib, oleh Al-Jarazi Asy-Syafi’I, halaman 3.
66. ‘Abdurrahman bin Abdi Rabb Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 408; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
67. Abu Muhammad Abdurrahman bin Auf Al-Qarasyi Az-Zuhri, wafat tahun 31/32 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili; Asna Al-Mathalib, halaman 3.
68. ‘Abdurrahman bin Ya’mar Ad-Dili. Rujuk: Hadis Al-Wilayah;Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
69. Abdullah bin Ubay, Abdul Asad Al-Makhzumi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
70. Abdullah bin Badil bin Waraqah pemimpin suku Khaza’ah, terbunuh pada perang shiffin.
71. Abdullah bin Basyir Al-Mizani. Rujuk Al-Wilayah.
72. Abdullah bin Tsabit Al-Anshari. Rujuk; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
73. Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib Al-Hasyimi, wafat tahun 80 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; dan baca Argumennya terhadap Muawiyah dengan hadis Al-Ghadir.
74. Abdullah bin Hanthab Al-Qarasyi Al-Makhzumi. Rujuk; Ihyaul Mayyit, oleh As-Suyuthi.
75. Abdullah bin Rabi’ah. Rujuk: Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
76. Abdullah bin Abbas, wafat tahun 68 . Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 7; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 331; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 132; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir Asy-Syami, jilid 7, halaman337;Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 108; Al-Kifayah, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 115; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 22, halaman 509; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Mttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 153; Tarikh Al-Khulafa’,oleh Jalauddin Asd-Suyuthi, halaman 114; Syamsul Akhbar, oleh Al-Qarasyi, halaman 38; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20 dan 21; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 348; Tafsir Fakhrur Razi, jilid 3, halaman 636; Tafsir An-Naisaburi, jilid 6, halaman 194; Tafsir Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 2, halaman 348; Dan Rujuk pula Ayat Tabligh dan Ayat Ikmaluddin.
77. Abdullah bin Ubay, wafat tahun 86/87 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
78. Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab Al-‘Adawi, wafat tahun 72/73. Rujuk: Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 106; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
79. Abu Abdurrahman Abdullah bin Ma’ud, wafat tahun 32/33 H. rujuk: Ayat Tabligh dalam Ad-Durrul Mantsur, oleh Jalaluddin As-Suyuthi, jilid 2, halaman 298; Tafsir Asy-Syaukani, jilid 2, halaman 57; Tafsir Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 2, halaman 348; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
80. Abdullah bin Yamin/Yamil. Rujuk : Al-Mufradat, tentang Hadis Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah : Usdul Ghabah , jilid 3, halaman 274 ; Al-Ishabah, jilid 2, halaman 382 ; Yanabi’ul Mawaddah 34.
81. Utsman bin Affan, wafat tahun 35 H. Rujuk: Al-Mufradat tentang hadis wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili.
82. ‘Ubaid bin ‘Azib Al-Anshari, saudara Al-Barra’ bin Azib.
83. Abu Thuraif ‘Adi bin Hatim, wafat tahun 68 H. Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
84. ‘Athiyah bin Bashir Al-Mazini. Rujuk : Hadis Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
85. ‘Uqdah bin ‘Amir Al-Juhhani, seorang Gubernur Mesir pada masa pemerintahan Muawiyah selama 3 tahun, wafat sekitar tahun 60 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
86. Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 152; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 348; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 7, halaman 337; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20; Musykil Al-Atsar, oleh Al-Hafizh Ath-Thahawi, jilid 2, halaman 307; Al-bidayah Wan-Nihayah, jilid 5, halaman 211; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154,397,399 dan 406; Mizanul I’tidal, oleh Adz-dzahabi, jilid 2, halaman 303; Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 9, halaman 64.
87. Abu Yaqzhan Ammar bin Yasir, syahid pada perang Shiffin tahun 37, rujuk: Syarah Nahjul Balaghah, jilid 222, halaman 273; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
88. Ammarah Al-Khazraji Al-Anshari, terbunuh pada perang Yamamah, Rujuk: Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 65.
89. Umar bin Abi Salamah bin Abdi Asad Al-Makhzumi, anak tiri nabi saw, ibunya adalah Ummu Salamah istri Nabi saw, wafat tahun 83. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah.
90. Umar bin Khaththab, terbunuh tahun 23 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’I; Ar-Riyath An-Nadharah, oleh Mihibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’I, jilid 2, halaman 161; Dzakhairul ‘Uqba, halaman 67; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 349; Asna Al-Mathalib,m halaman 3; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 249.
91. Abu Najib Imran bin Hashin Al-Khaza’I, wafat tahun 52 H. di Basrah. Rujuk: Hadis Al-wilayah; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
92. Amer bin Hamq Al-Khaza’I Al-Kufi, wafat tahun 50 H. Rujuk: Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi; Hadis Al-Wilayah.
93. Amer bin Syarahil. Rujuk: Maqatal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
94. Amer bi Ash. Rujuk: Al-Imamah Was-Siyasah, oleh Ibnu Qutaibah, halaman 93; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 126.
95. Amer bin Marrah Al-Juhhani Abu Thalhah atau Abu maryam, Rujuk: Al-Mu’jam Al-Kabir; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154.
96. Ash-Shiddiqah Fatimah Az-Zahra’ binti Nabi saw. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Mawaddah Al-Qurba, oleh Syihabuddin Al-Hamdani.
97. Fatimah binti Hamzah bin Abdul Muthalib, rujuk: Hadis Al-Wilayah; kitab Al-Ghadir, oleh Al-Mantsur Ar-Razi.
98. Qais bin Tsabit bin Syamas Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 368; Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305.
99. Qais bin Sa’d bin Ubadah Al-Anshari Al-Khazraji, salah seorang penyair Al-Ghadir pada abad pertama. Rujuk: Argumennya terhadap Muawiyah bin Abi Sofyan dengan hadis Al-Ghadir.
100. Abu Muhammad Ka’b bin Ajrah Al-Anshari Al-Madani, wafat tahun 51 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
101. Abu Sulaiman Malik bin Huwairats Al-Laytsi, wafat tahun 74 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Imam Al-hanabilah Ahmad bin Hambal; hadis Al-Wilayah; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 108; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhayi, halaman 20.
102. Miqdad bin Amer Al-Kandi Az-Zuhri, wafat tahun 33 H. rujuk: Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
103. Najiyah bin Amer Al-Khaza’i. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 6; Al-Ishabah, jilid 3, halaman 543.
104. Abu Barzah Fadhlah bin Utbah/’Abid/Abdullah Al-Aslami, wafat di Khurasan tahun 65 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
105. Nu’man bi Ajlan Al-Anshari, Rujuk: Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
106. Hasyim Al-Marqal Ibnu Utbah bin Waqash Az-Zuhri Al-Madani, terbunuh pada perang Shiffin tahun 37 H. Rujuk: Udul Ghabah, jilid 1, halaman 368; Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305.
107. Abu Wasamah wahsyi bin Harbi Al-Hamashi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
108. Wahab bin Hamzah. Rujuk: Rujuk: Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
109. Abu Juhaifah Wahab bin Abdullah As-Suwai, wafat tahun 74 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
110. Abu Murazim Ya’la bin Marrah bin Wahab Ath-Tsaqali. Rujuk: Usdul Ghabah, oleh Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 233/jilid 3, halaman 93/jilid 5, halaman 6; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 3, halaman 543.

Perawi Hadis Al-Ghadir dari Kalangan Tabi’in, Delapan puluh empat Tabi’in yang meriwayatkan hadis Al-Ghadir, mereka adalah:
1. Abu Rasyid Al-Hubrani Asy-Syami (namanya Khidir/Nu’man). Dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 419, Ibnu Hajar mengatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Mizanul I’tidal, oleh Adz-Dzahabi, jilid 2, halaman 302.
2. Abu Salamah (Namanya Abdullah, sebagian mengatakan: Islami) Ibnu Abdur Rahman bin Auf’ Az-Zuhri Al-Madani. Khulashah Al-Khazraji, halaman 380, mengatakan ia adalah seorang faqih; Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 422, mengatakan: Ia seorang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari
3. Jabir Al-Anshari. Rujuk: Al-‘Umdah, halaman 56.
4. Abu Sulaiman Al-Muadzdzin, dalam At-Taqrib (dikatakan Abu Salman), salah seorang tabi’in terkemuka. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’mininm Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Syarah Nahjul Balaghah, oleh Ibnu Abil Hadid, jilid 2, halaman 362.
5. Abu Shahih As-Samman Dzikwan Al-Madani mawla Juwairiyah Al-Ghithfaniyah. Adz-Dzahabi mengatakan dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 78: ia adalah salah seorang manusia yang agung dan terpercaya, wafat tahun 101 H. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Umar bin Khathhab. Rujuk: Ayat Tabligh; Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 161.
6. Abu ‘Anfuwanah Al-Mazini. Ia meriwayatkan dari Abu Junaidah Junda’ bin ‘Amer bin Mazin Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 308.
7. Abu Abdur Rahim Al-Kindi. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 308.
8. Abul Qasim Ashbagh bin Nubatah At-Tamimi Al-Kufi. Al-‘Ajali dan Ibnu Mu’in mengatakan ia adalah seorang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid Al-Anshari. Rujuk: Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 169; Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 6/jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205.
9. Abu Layly Al-Kindi. Sebagian mengatakan namanya Salamah bin Muawiyah, sebagian mengatakan Said bin Basyar. Dalam At-Taqrib dikatakan ia adalah seorang tabi’in terkemuka dan terpeyaca. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Al-Manaqib, tentang Ali bin Al-Husain, oleh Ahmad bin Hambal: bercerita kepada kami Ibrahim bin Ismail dari ayahnya, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Layli Al-Kindi, ia berkata: Aku mendengar Zaid bin Arqam berkata, ketika kami menunggu jenazah ada seorang bertanya: Wahai Aba ‘Amir, apakah kamu mendengar Rasulullah saw bersabda kepada Ali pada hari Ghadir Khum: “Barang siapa menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya? “Ia menjawab: Ya. Beliau menyabdakan hadis itu sebanyak empat kali.
10. Iyas bin Nudzair. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim jilid 3, halaman 371.
11. Jamil bin ‘Umarah. Ia meriwayatkan dari Salim bin Abdillah bin Umar bin Khaththab, dari Umar bin Khaththab. Rujuk : Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 213.
12. Haritsah bin Nashr. Meriyatakan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abvi Thalib (as). Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I Asy-Syafi’I, halaman 40.
13. Habib bin Abi Tsabit Al-Asadi Al-Kufi. Adz-Dzahabi mengatakan ia seorang faqih dari tabi’in yang terpercaya, ia wafat tahun 117/119 H. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam Al-Anshari. Rujuk : At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 103 ; Tahdzib At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 104 ; Al-khashaish, oleh An-Nasa’i, halaman 15 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109 dan 533 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109 dan 533 ; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 208 ; Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 118.
14. Al-Harits bin Malik. Ia meriwayatkan dari Abu Ishaq Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16.
15. Al-Husain bin Malik bin Al-Huwairats. Ia meriwayatkan dari ayahnya Abu Sulaiman Malik bin Al-huwairats Al-Laytsi. Rujuk Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 108; Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi, halaman 114; Al-Manaqib, oleh Imam Al-Hanabilah Ahmad bin Hambal.
16. Hakam bin ‘Utaibah Al-Kufi Al-Kindi. Adz-dzahabi mengatakan dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 104: Ia seorang faqih dan terpercaya, penulis Sunnah wa Atba’, wafat tahun 114/115 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110; Hilyatul Awliyah’.
17. Hamid bin ‘Umarah Al-Khazraji Al-Anshari. Ia meriwayatkan dari ayahnya ‘Umarah bin Al-Khazraji Al-Anshari. Rujuk: Mama’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107.
18. Hamid Ath-thawil Abu ‘Ubaidah Ibnu Abi Hamid Al-Bishri, wafat tahun 143. Adz-Dzahabi mengatakan dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 136: Hamid adalah seorang Hafizh dan Muhaddist terpercaya dan salah seorang tokoh ahli hadis. Ia meriwayatkan dari Said bin Al-Musayyab, dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah Al-Kufi.
19. Khutsaimah bin Abdur Rahman Al-Ja’fi Al-Kufi. Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Tahdzib, jilid 3, halaman 179 mengatakan: Ia adalah seorang terpecaya dan wafat tahun 80 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 116.
20. Rabi’ah Al-Jurasyi, terbunuh tahun 60/61/74 H. Dalam At-Taqrib, halaman 123 dikatakan: Ia adalah seorang faqih dan dinyatakan terpecaya oleh Ad-Daruquthni dan lainnya. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-‘Umdah, halaman 48.
21. Abul Mutsanna Riyah bin Harits An-Nakhfi Al-Kufi. Dalam kitabnya At-Taqrib Ibnu Hajar mengatakan ia adalah salah seorang tabi’in terkemuka; dan dalam At-Tahdzib dikatakan: Abul Mutsanna adalah tabi’in yang terpercaya. Rujuk Hadis Ar-Rukban.
22. Abu ‘Amer zadzan bin Umar Al-Kindi Al-Bazzar atau “Al-Bazzaz.” Al-Kufi. Dalam Mizanul I’tidal, Adz-Dzahabi mengatakan ia adalah salah seorang tabi’in terkemuka. Dalam At-Tahdzib, jilid 3, halaman 303, Ibnu Hajar mengatakan: ia terpecaya, wafat tahun 82 H. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 84.
23. Abu Maryam Zirr bin Hubaisy Al-Asadi, ia seorang tabi’in terkemuka, wafat tahun 81/82/83 H. Dalam At-Tadzikirah, jilid 1, halaman 40, Adz-Dzahabi mengatakan ia adalah Imam yang layak diteladani; dalam kitab At-Taqrib dikatakan ia adalah terpercaya dan mulia; At-Tahdzib, jilid, halaman 322, dan Hilyatul Awliya’, jilid 4, halaman 181 dan 191 mengatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Syarah Al-Mawahib, oleh Al-Hafizh Abu Abdillah Az-Zarqani, jilid 7, halaman 13.
24. Ziyad bin Abi Ziyad. Al-haitsami dalam kitabnya Majma’uz Zawaid dan Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib mengatakan ia adalah seorang tabi’ain terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 88.
25. Zaid bin Yutsa’I Al-hamdani Al-Kufi. Ibnu hajar dalam At-Taqrib, halaman 136, mengatakan ia adalah tabi’in terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tahlib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 118.
26. Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab Al-Quraysi Al-‘Adi Al-Madani. Adz-Dzahabi mengatakan dalam At-tahdzkirah, jilid 1, halaman 77: Ia adalah seorang faqih, alim beramal, zuhud, dan mulia. Dalam At-Taqrib Ibnu hajar mengatakan: Ia adalah salah seorang faqih yang jujur, hidup sederhana seperti ayahnya, pemberi petunjuk dan pendiam, termasuk tiga tabi’in terkemuka, wafat tahun 106 H. Ia meriwayatkan dari ayahnya Abdullah bin Umar, dari kakeknya Umar bin Khaththab, Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 213, meriwayatkan dari kitab Ghadir Khum bagian pertama, oleh Ibnu Jarir; Tarikh Al-bukhari, jilid 1, halaman 375, bagian pertama; dan hadis Ar-Rukban. Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitabnya Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 5, halaman 213: Berceritera kepada kami Mahmud (Muhammad) bin ‘Auf Ath-tha-I, berceritera kepada kami Abdullah bin Musa, memberikan kepada kami Ismail bin Kasytith (Nasyith), dari Jamil bin ‘Umarah, dari Salim bin Abdullah bin Umar (Ibnu Jarir mengatakan dari Umar bin Khaththab), ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda sambil memegang tangan Ali: “Barang siap menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya, ya Allah, kasihi orang yang menolongnya dan musuhi orang yang memusuhinya.”
27. Said bin Jubair Al-Asadi Al-Kufi. Dalam At-tadzkirah, jilid 1, halaman 65, Adz-Dzahabi menyatakan: Ia adalah salah seorang tabi’in yang terpuji; dalam Khulashah Al-khazraji, halaman 116, dikatakan: ia adalah seorang terpercaya dan imam yang ucapannya dapat dijadikan hujjah; dalam At-Taqrib, halaman 133, dikatakan: ia adalah seorang faqih yang terpercaya, terbunuh di tangan Al-Hajjaj tahun 95 H; Tahdzibut Tahdzib, jilid 4, halaman 13, dari Ath-thabari, mengatakan: ia adalah seorang yang terpercaya dan hujjah bagi kaum muslimin. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110; Tarikh bnu Katsir, jilid 7, halaman 348. Ia meriwayat hadis Al-Ghadir dari Ibnu Abbas, dan Buraidah bin Hashib Abu Sahl Al-Aslami. Rujuk: Tarikh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 347.
28. Said bin Abi Hudd Al-Kufi. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tahlib (as). Rujuk: faraid As-Samthin, bab sepuluh.
29. Said bin Al-Musayyab Al-Qurasyi Al-Makhzumi, menantu Abu Hurairah, wafat tahun 94 H. Dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 47, Adz-Dzahabi mengatakan: Ahmad bin Hambal dan lainnya mengatakan bahwa hadis-hadis Mursal Said adalah Shahih, dan mengatakan juga bahwa Ibnu Al-Madani ilmu Said bin Al-Musayyab, dan bagiku tidak ada tabi’in yang lebih mulia darinya; Abu Nu’aim juga mengatakan dalam kitabnya Hilyatul Awliya’, jilid 2, halaman 161. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Hilyatul Awliya’, jilid 4, halaman 356; Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16.
30. Said bin Wahab Al-Hamdani Al-Kufi. Dalam Khualashah Tahdzibul Kamal, halaman 122, Ibnu Mu’in mengatakan: ia adalah orang yang terpercaya, wafat tahun 76 H. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin AbiThalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 118.
31. Abu Yahya Salamah bin Kuhail Al-Hadhrami Al-Kufi, wafat tahun 121 H. Dalam Khulashah At-Tahdzib, halaman 136, dan At-Taqrib, halaman 154, dikatakan bahwa Ahmad dan Al-‘Ajali menyatakan dia adalah tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Habbah bin Juwain Abu Qudamah Al-‘Urani; Zaid bin Arqam Al-Anshari; Hudzaifah Al-Usaid Abu Sarihah. Rujuk: Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 298.
32. Abu Shadiq Salim bin Qais Al-Hilali, wafat tahun 90 H. Ia banyak berhujjah dengan hadis Al-Ghadir dalam kitab-kitabnya yang ada di kalangan kami. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) dan Abu Said Al-Khudri. Rujuk: Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani, jilid 1, halaman 157; Al-Fahras, oleh Ibnu Nadim, halaman 307; At-Tanbin Wal-Asraf, oleh Al-Mas’udi, halaman 198.
33. Abu Muhammad Sulaiman bin Mahran Al-A’masy. Ad-Dzahabi mengatakan dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 138: Ia wafat 147/148, lahir tahun 61 H. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam, dan Abu thufail Amir bin Watsilah Al-laytsi. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 15; Munasyadah Ar-Rahbah; ayat Tabligh; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 93; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 118.
34. Sahm bin Al-Hashin Al-Asadi. Ia meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah.
35. Syahr bin Husyab. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah. Rujuk : Tarikh Baghdad, jilid 8, halaman 290.
36. Dhahhak bin Muzahim Al-Hilali Abul Qasim, wafat tahun 105 H. Ahmad dan Ibnu Mu’in dan Abu Zar’ah mengatakan bahwa ia adalah seorang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Rujuk : Al- Bidayah Wan-Nihayah, jilid 7, halaman 337 ; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 108, Dalam Faraid As-Samthin, Al-Hafizh Al-Hamwini, meriwayatkan dari Abul Qasim bin Ahmad Ath-Thabrani, dari Al-Husain An-Nairi, dari Yusuf bin Muhammad Ibnu Sabiq, dari Abu Malik Al-Hasan, dari Jawhar, dari Dhahhak, dari Abdullah bin Abbas, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda pada hari Al-Ghadir : « Ya Allah, berilah ia inayah dan turun inayah-Mu sebab dia, rahmati dia turunkan rahmat-Mu sebab dia, tolonglah dia turunkan pertolongan-Mu sebab dia ; ya Allah, sayangi orang yang menyayanginya, dan musuhilah orang yang memusuhinya. »
37. Thawus bin Kisan Al-Yamani Al-Jandi, wafat tahun 106 H. Ia meriwayatakan dari Buraidah. Rujuk : Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’im, jilid 4, halaman 20-23. Pada halaman 23 dikatakan : Berceritera kepada kami Ahmad bin Ja’far bin Salim, berceritera kepada kami Muhammad bin Ali An-Nasa’I, berceritera kepada kami Husain Al-Asyqar, berceritera kepada kami Ibnu ‘Uyaynah, dari ‘Amer bin Dinar, dari Thawus, dari Buraidah, dari Nabi saw, beliau bersabda : « Barang siapa menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya. »
38. Thalhah bin Al-Musharrif Al-Ayyami (Al-Yamami) Al-Kufi. Ibnu Hajar mengatakan: Ia adalah terpercaya dan qari’ yang utama, wafat tahun 112 H. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’mini Ali bin Abi Thalib (as), Anas bin Malik, dan Abu Hurairah. Rujuk: Hilyatul Awliya’, jilid 5, halaman 26.
39. ‘Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash Al-Madani. At-Taqrib, halaman 185 mengatakan: ia adalah tabi’in terpercaya yang ketiga, wafat tahun 104 H. ia meriwayatkan dari ayahnya Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 3,4 dan 18.
40. Aisyah binti Sa’d, wafat tahun 117 H. Dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 473 Ibnu Hajar mengatakan: Ia tabi’in terpercaya. Ia meriwayatkan dari ayahnya Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-khaishaish, oleh An-Nasa’I, halaman 18; faraid As-Samthin; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 212.
41. Abdul Hamid bin Al-Mundzir bin Al-Jarud Al-‘Abdi. An-Nasa’I dan Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 224, mengatakan: Ia tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abu Thufail. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 276.
42. Abu Umarah Abdu Khayr bin Yazid Al-Madani Al-Kufi Al-Mukhadhrami. Ibnu Mu’in dan-‘Ajali mengatakan ia orang yang terpercaya, sebagiaman yang tertera di dalam kitab Al-Khulashah, halaman 269. Ibnu Hajar mengatakan dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 225: Ia orang yang terpercaya dan terpercaya dan termasuk tabi’in terkemuka. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tahlib (as). Rujuk:Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 104; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 94.
43. Abdur Rahman bin Abi Layli, wafat tahun 82/83/86 H. Di dalaman Al-Mizan dikatakan: Ia termasuk para imam tabi’in dan terpercaya. Dalam At-Tadzkiran dikatakan sebagai seorang faqih, dan dalam At-Taqrib Ibnu Hajar mengatakan sebagai orang yang terpercaya. Ia meriwayatakan dari ayahnya Abu Layli Al-Anshari, dan Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Hadis Munasyadah Ar-Rahbah; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Al-manaqib, oleh Al-khawarizmi, halaman 35; Al-Mustadrak Al-hakim, jilid 3, halaman 116; Hilyatul Awliya’, jilid 4, halaman 356.
44. Abdur Rahman bin Sabith, dipanggil Ibnu Abdillah bin Sabith Al-Jamahi, ia terpercaya dan termasuk tabi’in thabaqat menengah, wafat tahun 118 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 340; Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 38.
45. Abdullah bin As’ad bin Zurarah. Ia meriwayatkan dari ayahnya As-Ad bin Zurarah Al-Anshari. Rujuk: Asna Al-Mathalib, halaman 4; Hadis Al-Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah.
46. Abu Maryam Abdullah bin Ziyad Al-Asadi Al-Kufi. Ibnu Hibban menggolongkannya sebagai orang yang terpercaya, Khulashah Al-khazraji, halaman 168; juga Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 130. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 152.
47. Abdullah bin Syarik Al-‘Amiri Al-Kufi. Ahmad dan Ibnu Mu’in mengatakan ia seorang terpercaya, sebagaimana yang tertera di dalam kitab Mizanul I’tidal, oleh Adz-Dzahabi, jilid 2, halaman 46. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Kifayah, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16 dan 151.
48. Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Aqil Al-Hasyimi Al-Madani, wafat setelah tahun 140 H. Ia meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari. Rujuk: Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman 213: Ibnu Jarir berkata bahwa Al-Muthallib bin Ziyad, dari Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, mendengar Jabir bin Abdullah berkata: Kami berada di Ghadir Khum, lalu Rasulullah saw datang kepada kami, lalu bersabda sambil memegang tangan Ali: “Barang siapa menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya.”
49. Abdullah bin Ya’la bin Marrah. Ia meriwayatkan dari ‘Amir bin Layli Al-Ghifari. Rujuk: Al-Ishabah, jilid 2, halaman 257; Hadis Al-Munasyadah; Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 93.
50. ‘Adi bin Sbabit Al-Anshari Al-Kufi Al-khathami, wafat tahun 116. Adz-Dzahabi mengatakan di dalam kitabnya Mizanul I’tidal, jilid 2, halaman 193; Ia adalah seorang tasyayu’ yang alim, jujur, dan imam masjid mereka. Ia meriwayatkan dari Barra’ bin ‘Azib Al-Anshari. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 281. 50. Abul Hasan ‘Athiyah bin Sa’d bin Junadah Al-‘Aufi Al-Kufi, wafat tahun 111 H. Ibnu Al-jauzi dalam kitabnya At-Tadzkirah, halaman 25, mengatakan ia adalah seorang terpercaya; juga Al-Hafizh Al-Haitsami dalam kitabnya Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 109, dan Al-Yafi’I dalam kitabnya Mir’atul Jinan, jilid 1, halaman242, mengatakan: ia dicambuk oleh Al-Hajjaj sebanyak 400 kali karena tidak mau mengecam Ali bin Abi Thalib (as), dan ia pun tetap tidak mau mengecamnya. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Al-bidayah Wan-Nihayah, jilid 5, halaman 209; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 390; Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368.
51. Ali bin Zaid bin Jud’an Al-Bisri, wafat tahun 129/131 H. Ibnu Syaibah mengatakan ia seorang yang terpercaya dan jujur. Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik, dan Barra’ bin ‘Azib Al-Anshari. Rujuk: Tarikh Baghdad, oleh Al-Khathib Al-Baghdadi, jilid 7, halaman 377; Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 281.
52. Abu Harun ‘Umarah bin Juwain Al-‘Abdi, wafat tahun 134 H. Ia meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, dan Barra’ bin ‘Azib Al-Anshari. Rujuk:
53. Umar bin Abdul Aziz, Khalifah Al-Amawi, wafat tahun 101 H. Rujuk: Hilyatul Awliya’, oleh Al-Hafizh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 5, halaman 364; Al-Aghani, oleh Abul Farj, jilid 8, halaman 156; Tarikh Damsyiq, Ibnu Asakir Asy-Syafi’I, jilid 5, halaman 320; Faraid As-Samthin, oleh Al-Hamwini, bab ke 10; Nizham Durar As-Samthim, oleh Al-Hafizh Jamaluddin Az-Zarnadi.
54. Umar bin Abdul Ghaffar. Ia meriwayatkan hadis Munasyadah (sumpah) seorang pemuda terhadap Abu Hurairah di Masjid Kufah. Rujuk: Syarah Nahjul Balaghah, jilid 1, halaman 360.
55. Umar bin Ali Amirul Mu’minin (as). Dalam kitab At-Taqrib dikatakan ia adalah termasuk tiga orang yang terpercaya, wafat pada masa pemerintahan Al-Walid, sebagian mengatakan sebelum masa pemerintahan Al-Walid. Ia meriwayatkan dari ayahnya Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 211.
56. ‘Amer bin Ju’dah bin Hubairah. Ia meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya, dari Ummu Salamah (r.a). Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 40.
57. ‘Amer bin Marrah Abu Abdillah Al-Kufi Al-Hamdani, wafat tahun 116 H. Dalam Tahdzibut, jilid 8, dikatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya; dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 108, Adz-dzahabi mengatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya; dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 108, Adz-Dzahabi mengatakan ia aaadalah seorang tabi’in yang terpercaya dan kuat ingatannya. Ia meriwayatakan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Mizanul I’tidal, oleh Adz-dzahabi, jilid 2, halaman 303.
58. Abu Ishaq ‘Amer bin Abdillah As-Saba’I Al-Hamdani. Dalam kitabnya Mizanul I’tidal, Adz-Dzahabi mengatakan ia salah seorang tabi’in Kufah yang kuat ingatannya; di dalam kitab At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 101, ia dipuji; dalam kitab At-Taqrib disebutkan ia adalah seorang tabi’in terpercaya dan hidup sederhana, wafat tahun 127 H. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 7, halaman 29; Kifayah Ath-Thalib, halaman 14; Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 169.
59. Abu Abdillah ‘Amer (‘Amir) bin Maimun Al-Udi. Adz-Dzahabi menyebutkan di dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 56, Ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya dan memiliki jiwa kepemimpinan; dalam At-Taqrib, halaman 288, disebutkan ia adalah seorang yang terpercaya dan hidup sederhana. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Rujuk : Al-khashaish, oleh An-Nasa’i halaman 7 ; Musnad bin Hanbal, jilid 1, halaman 331 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 132.
60. ‘Umar bin Sa’d Al-Hamdani Al-Kufi. Ibnu Hibban mengatakan ia seorang yang terpercaya, At-Taqrib menerimanya pujian itu. Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik dan Abu Said Al-Khudri. Rujuk: Kanzul “Ummal, jilid 6, halaman 154 dan 403.
61. ‘Umairah binti Sa’d bin Malik Al-Madani, saudara perempuan Sahl, Ummu Rifa’ah Ibnu Mubasysyir. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’mini Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: hilyatul Awliya’, oleh Abu Nu’aim, jilid 5, halaman 26; Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 16; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 5, halmaan 211.
62. Isa bin Thalhah bin Abidillah At-Tamimi Abu Muhammad Al-Madani, salah seorang ulama yang dinyatakan dapat dipercaya oleh Ibnu Mu’in, wafat pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, demikian juga dinyatakan Al-Khazraji dalam Khulashahnya, halaman 257. Ia meriwayatkan dari ayahnya Thalhah bin Abidillah. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 171; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 391; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 403.
63. Abu Bakar Fithr bin Khalifah Al-makhzumi mawlahum Al-Hannath; Ahmad, Ibnu Mu’in. Al-‘Ajali, dan Ibnu Sa’d menyatakan ia sebagai orang yang terpercaya dan jujur; atau lebih dari itu sebagaimana yang diungkapkan oleh Tahdzibut Tahdzib. Ia meriwayatkan dari Abu Thufail ‘Amirah bin Watsilah Al-Laytsi. Rujuk Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109; Udul Ghabah, jilid 3, halaman 92/jilid 5, halaman 376; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
64. Qabishah bin Dzulaib; biogarfinya dipuji oleh Adz-Dzahabi dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 53; Ibnu Hibban menyatakan dalam Khulashahnya, halaman 268, ia adalah seorang yang terpercaya; ia wafat tahun 87 H. Ia meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah. Rujuk: Asna Al-mathalib, oleh Al-Jazari, halaman 3; Tarikh Ali Muhammad, oleh Al-qadhi, halaman 6.
65. Abu Maryam Qais Ats-Tsaqafi; An-Nasa’I menyatakan ia sebagai orang yang terpercaya sebagaimana yang terdapat didalam Khulashah Al-Khazraji, halaman 395. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 152.
66. Muhammad bin Umar bin Abi Thalib, wafat pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, sebagian mengatakan tahun 100 H; Ibnu Hibban mengatakan ia orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 348; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107; Musykilul Atsar, oleh Al-Hafizh Ath-thahawi, jilid 2, halaman 307.
67. Abu Dhuha Muslim bin Shubaih Al-hamdani Al-Kufi Al-‘Aththar; Ibnu Mu’in dan Abu Zar’ah mengatakan ia orang yang teroercaya sebagaimana yang terdapat di dalam At-Tahdzib, halaman 321; Ibnu Hajar mengatakan dalam At-Taqrib ia adalah orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 390.
68. Muslim Al-Mula’i. Ia meriwayatkan dari ayahnya, dari Habban bin Juwain Al-‘Urani. Rujuk: Al-Ishabah, jilid 1, halaman 372; Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 367.
69. Abu Zurarah Mush’ib Sa’d Abi waqqash Az-Zuhri Al-Madani; Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 334, mengatakan ia orang yang terpercaya, wafat tahun 103 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Musykilul Atshar, oleh Al-Hafizh Ath-thahawi, jilid 2, halaman 309.
70. Muthallib bin Abdillah Al-Qurasyi Al-makhzumi Al-Madani; Abu Zur’ah dan daruqutni mengatakan ia adalah orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abdullah bin Hanthab Al-Qurasyi Al-Makhzumi. Rujuk: Ihyaul Mayyit, oleh As-Suyuthi, dari Al-Hafizh Ath-Thabrani.
71. Mathrul Warraq. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah. Rujuk: Tarikh Baghdad, jilid 8, halaman 290.
72. Ma’ruf bin Khurbudz. Ibnu Hibban mengatakan ia terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abu Thufail, dari Hudzaifah bin Usaid. Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 5/209, 7/348.
73. Manshur bin Ruba’i. Ia meriwayatkan dari Hudzaifah Al-Yamani. Rujuk: At-Tadzkirah, oleh Adz-Dzahabi, jilid 1, halaman 127 dan 241; Da’atul Huda Ila Adail Haqqil Muwalat.
74. Muhajir bin Mismar Az-Zuhri Al-Madani; Ibnu Hibban mengatakan ia terpercaya. Ia meriwayatkan dari Sa’d Abi Waqqash. Rujuk: Al-khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 3.
75. Musa bin Aktal bin ‘Umair An-Numairi. Ia meriwayatkan dari pamannya ‘Amir bin ‘Umair An-Numairi. Rujuk : Al-Ishabah, jilid 2, halaman 255.
76. Abu Abdillah Maimun Al-BishriMawla Abdur Rahman bin Sammarah. Ibnu Hibban mengatakan ia orang yang terpercaya sebagaimana yang terdapat di dalam Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 111. Ibnu Hajar mengatakan di dalam Al-Qawlul Musaddad: Maimun dinyatakan terpercaya oleh bukan seorang ahli, dan sebagian dari mereka membicarakan sebagai hafizh, At-Tirmidzi menyatakan hadisnya shahih. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 61; Mizanul I’tidal, oleh Adz-Dzahabi, jilid 3, halaman 224; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Mttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 390.
77. Nadzir Adh-Dhabbi Al-Kufi. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 371.
78. Hani bin Hani Al-Hamdani Al-kufi. An-Naasa’I meniadakan kelemahan darinya sebagaimana yang terdapat di dalam At-Taqrib. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 321.
79. Abu Balaj Yahya bin Salim Al-Fazari Al-Wasithi. Ibnu Mu’in dan An-Nasa’I serta Ad-Daruquthni mengatakan ia terpercaya sebagaimana yang terdapat di dalam Khulashah Al-Khazraji, halaman 383; dalam Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 109, Al-Hafizh Al-Haitsami juga mengatakan ia adalah orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Rujuk : Al-khashaish, oleh An-Nasa’i, halaman 7 ; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 331 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 131.
80. Yahya bin Ju’dah bin Hubairah Al-Makhzumi. Ibnu Hajar mengatakan dalam kitabnya At-Taqrib, ia adalah termasuk tiga orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Ujuk: Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209.
81. Yazid bin Abi Yiyad Al-Kufi, salah seorang imam Kufah, wafat tahun 389, ia hidup selama 90 tahun. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 88.
82. Yazid bin Hayyan At-Tamimi Al-Kufi. Al-‘Ashimi dan An-Nasa’I mengatakan ia orang terpercaya sebagaimana yang terdapat di dalam Khulashah Al-Khazraji, halaman 370; Ibnu Hajar dalam Taqribnya mengatakan ia orang yang terpercaya dan termasuk tabi’in Thabaqat menengah. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Shahih Muslim, jilid 2, halaman 325, cet. Tahun 1327; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 102.
83. Abu Dawud Yazid bin Abdur Rahman bin Udi Al-Kufi; Ibnu Habban mengatakan ia orang yang terpercaya, dalam kitab Khulashah Al-khazraji, halaman 372. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah Ad-dausi. Rujuk: Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 214.
84. Abu Najih Yasar Ats-tsaqafi, wafat tahun 109 H. Ibnu Mu’in mengatakan ia terpercaya, sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Khulashah Al-Khazraji, halaman 384. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 18.

Kewajiban Setiap Muslim Untuk Mencintai Keluarga Suci Nabi Muhammad SAW

Salah satu kewajiban dalam Islam yang banyak terlalaikan atau terlupakan oleh banyak kaum muslimin adalah tentang kewajiban untuk mencintai ahlul bait nabi atau keluarga Nabi yang suci.

Kecintaan pada para ahlul bait Nabi bukan hanya monopoli kaum syiah. Seluruh kaum muslimin diperintahkan untuk itu – apapun mazhabnya.

Kewajiban ini tercantum dalam AlQur’an lewat lisan Rasulullah SAAW:

“Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun (selamanya) atas seruanku, kecuali (aku harap kalian) kasih sayang terhadap keluarga(ku).” (QS. 42 : 23)

Hal itu jugalah yang telah dicontohkan para imam ahlus sunnah dan juga para pemuka ulama sunni lainnya.

Kendati di zaman dulu melakukan kewajiban ini secara terus terang bisa mengakibatkan hukuman yang berat dari para penguasa khilafah Umayyah dan Abbasiyah, seperti yang dialami Imam Ahmad, Imam Syafi’i dan yang lainnya.

Sejarah, mencatat, Imam Ahmad bin Hambal seorang pemuka mazhab Ahlus Sunnah, pernah dituduh sebagai Syiah, mem-bai’at pengikut Ali dan melindungi seorang ‘Alawi di rumahnya. Pada masa itu, tak ada tuduhan yang lebih berat dari itu. Khalifah Al-Mutawakkil mengirim tentara dan rumah Imam Ahmad pun dikepung. Rumahnya digeladah – kamar anak-anak, kamar wanita, bahkan sumur. Tidak ada bukti apapun tentang ke-syiah-an Imam Ahmad. Lalu apa salah beliau? “Salah”-nya sedikit: dalam Musnad-nya, ia banyak meriwayatkan hadis-hadis tentang Ahlul Bait dan keutamaan Imam Ali kw.

Ibnu Hajar dalam Tahdzib Al-Tahdzib bercerita tentang Nashr bin Ali. Suatu hari ia meriwayatkan hadis dari Rasulullah tentang keutamaan Hasan dan Husein: “Siapakah yang mencintai aku, mencintai keduanya, mencintai kedua orang tua mereka, ia bersamaku dalam derajat yang sama di hari kiamat.” Lalu khalifah Al-Mutawakkil mencambuknya seribu kali. Ja’far bin Abdul Wahid berulang kali mengingatkan khalifah, “Hadza min ahlis-sunnah”! Barulah khalifah menghentikan hukuman cambuknya.

Mengapa kita perlu mencintai ahlul bait Nabi saaw?

Ini bukan persoalan hubungan darah, atau KKN nya Nabi saw, melainkan memang perintah Allah SWT.

Para imam ahlul bait nabi adalah manusia-manusia suci, sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an,

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33).

Dalam Sahih Bukhari, diriwayatkan juga dari Abu Bakar Al-Shiddiq ra bahwa Nabi saw bersabda, “Hai manusia, peliharalah hak Muhammad dalam urusan keluarganya.” (HR Bukhari).

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Cintailah Allah karena nikmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada kalian, dan cintailah aku karena kecintaan kepada Allah itu, serta cintailah ahlul baitku karena kecintaan kepadaku.” Hadis ini diriwayatkan oleh Al Turmudzi dan Al Hakim, dan telah disahihkan sesuaikan syarat Bukhari dan Muslim.

Sehingga Imam Syafi’i pun bermadah:

“Seandainya cinta pada keluarga Muhammad itu rafidhah (sebutan bagi syiah pada masa itu) maka hendaklah Jin dan Manusia saksikan bahwa aku ini adalah Rafidhi.”

Sumber Ajaran Islam Menurut Wasiat Rasulullah SAW

Rasulullah saaw telah berwasiat pada segenap umatnya untuk berpegang kepada dua hal yaitu Alquran dan Keluarga Suci Beliau:

“Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku”.

Selengkapnya hadits ini bisa dilihat pada Kitab Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

Jika ingin langsung buka sekarang, bisa diklik Hadits Online ini, lalu carilah shahih muslim no. 4425

Dalam kitab itu, Muslim meriwayatkan:

“… wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan. Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.’

Siapa Yang Dimaksud Oleh Rasulullah SAAW?

Yang dimaksud dengan “Ahlul Baitku” dalam hadits di atas adalah keluarga Rasulullah saaw yang telah dijamin oleh Allah SWT tentang kesucian (kemaksumannya).

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33).

Siapa saja diantaranya?

Dalam kitab Sahih Muslim, bab Keutamaan-Keutamaan Ahlul Bait, diriwayatkan hadits berasal dari Aisyah yang berkata,

“Rasulullah saw pergi ke luar rumah pagi-pagi sekali dengan mengenakan pakaian (yang tidak dijahit) yang bergambar. Lalu Hasan bin Ali datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu Husein datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu datang Fatimah, dan Rasulullah saw pun memasukkannya dalam pakaiannya; berikutnya Ali juga datang, dan Rasulullah saw pun memasukkannya dalam pakaiannya; kemudian Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33)

APAKAH HADITS INI SHAHIH?

Dalam menelaah satu hadis atau riwayat terlebih dahulu harus kita selidiki apakah hadis ini benar-benar bersumber dari Rasulullah saaw atau tidak? Untuk mengetahui hal ini, kita bisa merujuk kepada pakar-pakar hadis yang mengerti jalan dan sanad hadis.

Sebagaimana diketahui dengan jelas bahwa hadis ini diriwayatkan di dalam Sahih Muslim, dan ini menunjukkan akan kesahihannya, dikarenakan kaum Muslimin sepakat untuk mensahihkan seluruh hadis yang diriwayatkan Shahih Muslim.

Imam Suyuthi menyatakan bahwa hadis ini adalah shahih dan benar sanadnya. Juga Imam at-Thabari menjelaskan bahwa hadis ini adalah hadis shahih. At-Thabari menyatakan bahwa perawi-perawi hadis ini adalah orang-orang yang bisa di percaya. Selain itu, bahwa yang meriwayatkan hadis ini sangatlah banyak, diantaranya Muslim, at-Thurmudzi, Ahmad bin Hambal, dan Hakim Annaisaburi.

Dengan demikian sanad hadis ini menurut kesaksian para ahli hadis adalah shahih dan benar. Sehingga, sedemikian banyaknya yang meriwayatkan hadis ini tidak diragukan lagi bahwa hadis ini benar-benar bersumber dari Rasulullah saaw yang disaksikan oleh Allah bahwa beliau tidak pernah menyatakan sesuatu kecuali berdasarkan wahyu dari pada Allah.

Kemudian setelah mengetahui bahwa hadis ini sanadnya shahih maka kita harus menelaah isi dan kandungan hadis ini dan pesan apakah yang di sampaikan oleh Rasulullah dalam sabdanya ini?

Dalam hadis ini Rasulullah mengisyaratkan bahwa Nabi akan segera memenuhi panggilan Allah swt dan akan segera meninggalkan umat. Oleh karena itu Rasulullah menyampaikan wasiatnya agar umat sepeninggal beliau tidak tersesat dan jauh dari ajaran yang dibawa oleh Rasul.

al quranRasul dengan pasti mengetahui bahwa umat sepeninggal beliau akan kebingungan berkenaan dengan siapa yang bisa dijadikan rujukan setelah Rasul saaw? Siapakah yang akan menggantikan posisi Rasul setelah beliau, dimana semua urusan yang berhubungan dengan ajaran ilahi harus merujuk kepadanya. Baik yang berhubungan dengan aqidah, hukum, akhlaq, problem social dan lainnya. Agar tidak kebingungan, Rasulullah saaw menjelaskan rujukan yang harus di pegang oleh umat sepeniggal beliau saaw yaitu kitab Allah dan keluarga suci Rasul.

Setelah meriwayatkan hadis tsaqalain ini Ibnu Hajar sendiri pernah berkata, “Ketahuilah bahwa hadis tentang kewajiban berpegang teguh pada keduanya (Kitab Allah dan Ahlul Bait) diriwayatkan melalui berbagai jalan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat”

Di antaranya disebutkan bahwa hadis itu diucapkan Rasulullah saaw di Arafah pada waktu haji wada. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau mengucapkannya ketika sakit menjelang wafat, di hadapan para sahabat yang memenuhi kamar beliau. Riwayat lain lagi menyebutkan bahwa beliau mengucapkannya di Ghadir Khum. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengucapkan ucapannya itu pada saat beliau pulang dari Thaif, ketika beliau berpidato di hadapan para sahabat.

Rasulullah saaw sengaja mengulang-ulang pesannya itu di berbagai tempat dan situasi untuk menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap Al-Qur’an dan Ahlul Bait yang suci.

BAGI YANG INGIN LEBIH MENGKAJI

Hadis perintah untuk berpegang teguh pada Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Bait Nabi saaw ini atau yang senada dengan ini jumlahnya sangat-sangat banyak tercantum dalam kitab-kitab rujukan ahlussunnah/sunni. Bagi yang ingin mendalami lebih lanjut, silakan dibuka kitab-kitab berikut ini:

1. Riwayat hadis pada Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, jilid 3, halaman 14, 17, 26 dan 59, terbitan Dar Shadir Beirut – Lebanon.

2. Riwayat hadis dari Turmudzi, jilid 5, halaman 662 – 663, terbitan Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi.

3. Riwayat hadis pada al-Imam al-Hafidz Abi ‘Abdillah al-Hakim an-Naisaburi, di dalam kitab mustadraknya atas Bukhari dan Muslim, jilid 3, halaman 22, kitab Ma’rifah as-Shahabah, terbitan Dar al-Ma’rifah Beirut – Lebanon.

4. Kitab Kanz al-‘Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al- Af’al, juz pertama, bab kedua (bab berpegang teguh kepada Al- Qur’an dan sunah), halaman 172, terbitan Muassasah ar-Risalah Beirut, cetakan kelima, tahun 1985, yaitu hadis nomer 810, 871, 872 dan 873.

Di sini akan disebutkan sekumpulan para hafidz dan ulama yang meriwayatkan hadis ini. Adapun untuk lebih rincinya lagi silahkan Anda merujuk ke dalam kitab Ihqaq al-Haq, karya Asadullah al-Tusturi, jilid 9, halaman 311.

Sebagian dari mereka itu ialah:
1. Al-Hafidz ath-Thabrani, yang wafat tahun 340 H, di dalam kitabnya al-Mu ‘jam ash-Shaghir.
2. Allamah Muhibbuddin ath-Thabari, di dalam kitabnya Dzakha’ir al-‘Uqba.
3. Allamah asy-Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakar al-Himwani, di dalam kitabnya Fara’id as-Sirnthain.
4. Ibnu Sa’ad, di dalam kitabnya ath-Thabaqat al-Kubra.
5. Al-Hafidz as-Suyuthi, di dalam kitabnya Ihya al-Mayyit.
6. Al-Hafidz al-‘Asqalani, di dalam kitabnya al-Mawahib al- Ladunniyyah.
7. Al-Hafidz Nuruddin al-Haitsami, di dalam kitabnya Majma’ az-zawa’id.
8. Allamah an-Nabhani, di dalam kitabnya al-Anwar al- Muhammadiyyah.
9. Allamah ad-Darimi, di dalam sunannya.
10. Al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Husain bin Ali al-Baihaqi, di dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra.
11. Allamah al-Baghawi, di dalam kitabnya Mashabih as-Sunnah.
12. Al-Hafidz Abu al-Fida bin Katsir ad-Dimasyqi, di dalam kitabnya Tafsir al-Qur’an.
13. Kitab Jami’ al-Atsir, karya Ibnu Atsir.
14. Muhaddis terkenal, Ahmad bin Hajar al-Haitsami al-Maliki, yang wafat pada tahun 914 Hijrah, di dalam
kitabnya ash- Shawa’ig al-Muhriqah fi ar-Radd ‘ala Ahlil Bida’ wa az- Zanadiqah, cetakan kedua, tahun 1965, Perpustakaan Kairo.

Jumlah Perawi Dari Kalangan Sahabat
Hadis ini telah mencapai derajat mutawatir dari sekumpulan sahabat, dan inilah sebagian nama-nama mereka:
1. Zaid bin Arqam.
2. Abu sa’id al-Khudri.
3. Jabir bin Abdullah.
4. Hudzaifah bin Usaid.
5. Khuzaimah bin Tsabit.
6. Zaid bin Tsabit.
7. Suhail bin Sa’ad.
8. Dhumair bin al-Asadi,
9. ‘Amir bin Abi Laila (al-Ghifari).
10. Abdurrahman bin ‘Auf.
11. Abdullah bin Abbas.
12. Abdullah bin Umar.
13. ‘Uday bin Hatim.
14. ‘Uqbah bin ‘Amir.
15. Ali bin Abi Thalib.
16. Abu Dzar al-Ghifari.
17. Abu Rafi’.
18. Abu Syarih al-Khaza’i.
19. Abu Qamah al-Anshari.
20. Abu Hurairah.
21. Abu Hatsim bin Taihan.
22. Ummu Salamah.
23. Ummu Hani binti Abi Thalib.
24. Dan banyak lagi laki-laki dari kalangan Quraisy.

Jumlah Perawi Dari Kalangan Thabi’in
Penukilan hadis ini juga telah mencapai tingkatan mutawatir pada jaman tabi’in, dan inilah sebagian dari para tabi’in
yang menukil hadis “Kitab Allah dan ‘itrahku”:
1. Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah.
2. ‘Athiyyah bin Sa’id al-‘Ufi.
3. Huns bin Mu’tamar.
4. Harits al-Hamadani
5. Hubaib bin Abi Tsabit.
6. Ali bin Rabi’ah.
7. Qashim bin Hisan.
8. Hushain bin Sabrah.
9. ‘Amr bin Muslim.
10. Abu Dhuha Muslim bin Shubaih.
11. YahyabinJu’dah.
12. Ashbagh bin Nabatah.
13. Abdullahbin Abirafi’.
14. Muthalib bin Abdullah bin Hanthab.
15. Abdurrahman bin Abi sa’id.
16. Umar bin Ali bin Abi Thalib.
17. Fathimah binti Ali bin Abi Thalib.
18. Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
19. Ali Zainal Abidin bin Husain, dan yang lainnya.

Jumlah Para Perawi Hadis Ini Pada Tiap-Tiap Abad
Adapun orang yang meriwayatkan hadis ini sesudah jaman sahabat dan tabi’in, dari kalangan ulama umat, para penghafal hadis dan para imam terkenal selama berabad-abad, bukanlah suatu jumlah yang dapat kami sebutkan nama dan riwayat mereka satu persatu.

Sekelompok para ulama dan peneliti telah menghitung jumlah mereka, dan untuk lebih rincinya silahkan Anda merujuk kepada kitab ‘Abagat al-Anwar, juz pertama dan kedua, antara lain:

• Abad kedua: Jumlah perawi sebanyak 36 orang.
• Abad ketiga: Jumlah perawi sebanyak 69 orang.
• Abad keempat: Jumlah perawi sebanyak 38 orang.
• Abad kelima: Jumlah perawi sebanyak 21 orang.
• Abad keenam: Jumlah perawi sebanyak 27 orang.
• Abad ketujuh: Jumlah perawi sebanyak 21 orang.
• Abad kedelapan: Jumlah perawi sebanyak 24 orang.
• Abad kesembilan: Jumlah perawi seabanyak 13 orang.
• Abad kesepuluh: Jumlah perawi sebanyak 20 orang.
• Abad kesebelas: Jumlah perawi sebanyak 11 orang.
• Abad kedua belas: Jumlah perawi sebanyak 18 orang.
• Abad ketiga belas: Jumlah perawi sebanyak 12 orang.
• Abad keempat belas: Jumlah perawi sebanyak 13 orang.

Referensi:
– http://www.al-shia.org/html/id/books/Kebenaran-Hilang/index.htm
– http://www.al-shia.org/html/id/page.php?id=1033

Apakah Hadits Berpegang Teguh Pada Kitabullah & Sunnah Rasul itu Tergolong Hadits Dhaif?

Hadits ini populer sekali. Isinya, “Aku tinggalkan dua perkara padamu yang jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.”

Kita tentu sudah sering membaca hadits ini dari berbagai buku Islam dan juga khutbah-khutbah di mesjid-mesjid. Sudah begitu lama hadits ini kita dengar, sehingga memang akhirnya berlaku hukum-repetisi (biasanya dipakai dalam dunia periklanan), bahwa sesuatu yang sering sekali diulang-ulang, akan jadi sebuah kebenaran yang melekat kuat dalam pikiran kita.

Kalau kita perhatikan secara seksama buku bacaan yang mengutip hadits ini, umumnya ternyata dikutip bukan dari sumber pertama munculnya hadits (kitab hadits), melainkan biasanya dikutip dari buku lain, yang ditulis oleh penulis-penulis lain.

Misalnya saat kita membaca buku Ilmu Politik Islam, karangan Abdul Rashid Moten, di hal. 90, ada tertulis kutipan hadits ini dalam khutbah Rasulullah saat Haji Wada’. Buku ini ternyata mengutipnya dari buku The Life of Muhammad, karya Muhammad Husein Haykal, terjemahan Isma’il Raji al-Faruqi (Kuala lumpur, Islamic Book Trust, 1993, hal. 486-7). Begitulah umumnya, jadi bukan langsung dari kitab hadits.

Dari hasil pencarian dan penelitian yang sangat melelahkan dengan memakan waktu yang sangat lama, akhirnya Syeikh Mu’tashim Sayyid Ahmad, dalam bukunya “Kebenaran Yang Hilang”, menemukan bahwa ternyata hadits ini sama sekali tidak diriwayatkan bahkan oleh para penulis kitab hadits shahih yang enam di kalangan ahlus Sunnah (Bukhari, Muslim, dll).

Kenyataan ini saja sebenarnya sudah cukup untuk menyatakan betapa hadits ini dhaif.

Umumnya kita memang tidak ahli dengan ilmu Hadits atau mengkaji kitab-kitab Hadits, sehingga hanya karena saking populernya hadits dhaif ini, lalu kita pun betul-betul telah begitu yakin seolah-olah hadits dhaif ini memang diriwayatkan oleh kitab-kitab shahih, terutama sahih Bukhari dan sahih Muslim, padahal kenyataannya tidak.

Bahkan beberapa penulis dan khatib banyak yang lalu secara latah menyebutkan hadits dhaif ini sebagai riwayat dari Bukhari-Muslim (tanpa pernah mengeceknya sama sekali).

Lalu dimana sebenarnya hadits ini muncul pertama sekali?

hadits dhoifDari hasil penelusurannya secara lebih mendalam, maka ditemukanlah ternyata sumber hadits dhaif ini ada di dalam kitab al-Muwaththa Imam Malik, Sirah Ibnu Hisyam dan kitab ash-Shawa’iq Ibnu Hajar.

Namun riwayat hadits ini ternyata mursal di dalam kitab ash-Shawa’iq, dan terpotong sanadnya di dalam Sirah Ibu Hisyam. (lihat Sirah Ibnu Hisyam, cetakan lama jilid 2, hal 603; cetakan ketiga, jilid 4, hal 185; cetakan terakhir, jilid 2, hal 221)

Adapun dalam riwayat Imam Malik, terhadap hadits ini adalah khabar marfu’ saja, yang tidak ada sanadnya sama sekali (silakan lihat kitab Al-Muwaththa, Imam Malik, jilid 2 hal 46).

Pertanyaannya juga adalah, mengapa hanya Imam Malik yang meriwayatkan hadits ini sementara gurunya Abu Hanifah atau muridnya Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal tidak meriwayatkannya. Jika hadits ini shahih maka kenapa para Imam mazhab lain dan para Imam hadits berpaling darinya?

Lalu hadits yang sebenarnya seperti apa?

Hadits yang sebenarnya termaktub dalam banyak kitab hadits shahih lainnya adalah:

“Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku“.

Hadits tersebut bisa dilihat pada Kitab Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

Jika ingin langsung buka sekarang, bisa diklik Hadits Online ini, lalu carilah shahih muslim no. 4425

Dalam kitab itu, Muslim meriwayatkan:

“… wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.

Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.’

Jadi Apakah Berpegangteguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasul Itu Tidak Benar?

Justru pada dasarnya perintah Rasulullah saaw untuk berpegangteguh pada Kitabullah (Al-Qur’an) dan Ahlul Bait atau Keluarga-Nabi inilah yang akan menyelamatkan umat Islam dari berbagai penyimpangan, dan yang akan membuat kita berada pada Sunnah Rasul.

Sebab Keluarga Nabi saaw inilah yang akan MENJAGA keaslian dan kemurnian ajaran Islam, memelihara Sunnah Rasulullah saaw.

Ustadz Abdul Somad juga menceritakan keberadaan hadits ini:

 

Pada hakikatnya, jika kita berpegangteguh pada Ahlul Bait atau keluarga Rasulullah saaw, maka sesungguhnya kita telah berpegangteguh pada Sunnah Rasul. Sebab Allah swt sendiri telah menjamin bahwa para Imam as dari keluarga nabi saaw ini adalah manusia SUCI, sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33).

Benarkah Syiah Itu Sesat? Benarkah Syiah Bukan Islam?

oleh : Azis Anwar Fachrudin

Salah satu propaganda sektarian yang rentan mempertajam friksi di tubuh umat Islam ialah bahwa “Syiah bukan Islam”. Akhir-akhir ini, kampanye hitam itu cukup lantang disuarakan. Oleh sebagian kelompok dari kalangan Ahlus Sunnah, Syiah dianggap telah kafir; alias sudah berada di luar koridor agama Islam. Yang lebih memprihatinkan, vonis kafir itu dilancarkan dengan pukul rata tanpa merinci dulu keragaman di dalam Syiah.

Propaganda “Syiah bukan Islam” bukan semata klaim biasa. Ia berbahaya, sebab rawan membangkitkan misi “jihad” dan pencabutan nyawa. Sudah berabad-abad lamanya, kita tahu, pertengkaran Sunni-Syiah tak kunjung redam. Umat Islam tampaknya lebih mudah bertoleransi dengan agama lain ketimbang pada mazhab yang lahir dari pergolakan di tubuh umat Islam sendiri.

Banyak statemen dilancarkan untuk memojokkan Syiah, antara lain, dengan berbagai tuduhan yang, sedikit atau banyak, adalah klaim sepihak—klaim yang belum tentu dikonfirmasi oleh pendapat yang dinyatakan oleh ulama yang terakui (mu’tabar) dari kedua belah pihak.

Tulisan ini akan menjawab propaganda itu: Benarkah Syiah bukan Islam?

[ 1 ]

Pernah ada, dan sampai kini masih berlangsung, upaya pendekatan antar mazhab (at-taqrîb bain al-madzâhib). Upaya ini sudah bermula sejak tahun 1950-an. Penggagasnya ialah para ulama Al-Azhar waktu itu, dipimpin oleh Syaikh Mahmud Syaltut.

Upaya ini bertujuan untuk meminimalisasi ketegangan antar mazhab, rekonsiliasi Ahlus Sunnah-Syiah, sekaligus mengakui delapan mazhab yang sah sebagai bagian dari Islam. Delapan mazhab itu ialah: 4 mazhab Ahlus Sunnah (Hanafi, Maliki, Syafi’i, & Hanbali), 2 mazhab Syiah (Zaidiyah & Ja’fariyah-Imamiyah), mazhab Zhahiriyah, dan mazhab Ibadhiyyah (Khawarij). [Mengenai proyek taqrib ini, anda dapat dengan mudah mencari informasinya di google. Websitenya, antara lain, taghrib.org, atau search dengan kata kunci Arab: at-taqrib baina as-sunnah wa asy-syi’ah]

Kedelapan mazhab itu diakui pula oleh Syaikh Wahbah az-Zuhaily dalam karya ensiklopedisnya tentang fikih: Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu. Dikatakan oleh Syaikh Wahbah dalam penjelasannya di bagian-bagian awal, pada bab tentang fikih Imamiyyah:

“Fiqh Imamiyah, meski lebih dekat ke mazhab Syafi’i, ia tak berbeda dengan fiqh Ahlus-Sunnah dalam persoalan yang masyhur kecuali kira-kira terkait 17 masalah. Yang paling penting (dari perbedaan itu) adalah pembolehan nikah mut’ah. Perbedaan Syiah Imamiyah dengan Ahlus Sunnah tak lebih sebagaimana perbedaan mazhab-mazhab fiqh lainnya, seperti Hanafi dengan Syafi’i. Mazhab Imamiyah ini sampai sekarang menyebar di Iran dan Irak. Secara substantif, perbedaan Syiah-Imamiyah dengan Ahlus Sunnah tidak merujuk ke soal akidah atau fiqh, melainkan hanya pada aspek pemerintahan dan imamah.”

Sejak tahun 50-an, Syaikh Mahmud Syaltut sudah memfatwakan kebolehan beribadah dengan menggunakan mazhab Ja’fari (Syiah-Imamiyah). Diberitakan pula, bahwa Syaikhul Azhar Ahmad Thayyib saat ke Iran bermakmum salat kepada ulama Syiah (lihat di sini). Syaikul Azhar Ahmad Thayyib pun menyatakan bahwa Syiah tidak kafir; Syiah adalah bagian dari Islam (lihat di sini). Kalau Khawarij yang lebih potensial menimbulkan friksi di tubuh umat Islam saja masih dihukumi Islam, apalagi Syiah.

Banyak ulama Al-Azhar yang berbeda dengan sikap—maaf untuk tegas menyebut—Salafi-Wahabi dalam menghadapi Syiah (lihat di sini). Banyak ulama Salafi-Wahabi yang menganggap Syiah sudah kafir, bukan lagi bagian dari Islam. Tapi ulama-ulama Al-Azhar tidak mengkafirkan Syiah; paling maksimal mereka menyatakan Syiah telah berbuat bid’ah dalam akidah, tentu saja dengan perspektif kredo Sunni (a.l. karena akidah kemaksuman Imam, raj’ah, ghaibah, bada’, dll.), tapi Syiah tetaplah masih berada dalam koridor Islam.

Proyek “taqrib” itu pernah pula dikukuhkan dalam Deklarasi Amman pada 2005. Deklarasi itu menghimpun wakil-wakil tiap negara dari seluruh dunia Islam, tak terkecuali dari Irak dan Iran. Wakil dari Indonesia saat itu, antara lain, ialah KH Hasyim Muzadi (Ketua PBNU saat itu). Dan jelas ternyatakan dalam deklarasi itu bahwa mazhab Syiah diakui sah sebagai bagian dari Islam. [Sila search di google tentang Deklarasi Amman, atau kunjungi websitenya di ammanmessage.com] Deklarasi itu ditindaklanjuti lagi, untuk menyikapi konflik sektarian di Irak, dengan Dekrasi Mekkah pada 2006, dan Deklarasi Bogor, Indonesia, pada 2007.

[ 2 ]

Sebenarnya dalam batasan yang bagaimana seseorang bisa divonis kafir?

Saya akan mengambil pandangan ulama ortodoks: Imam Abu Hamid al-Ghazali dengan karyanya Fayshal at-Tafriqah. Tiada yang meragukan otoritas Al-Ghazali, kecuali segelintir saja dari kalangan Salafi. Al-Ghazali adalah ulama ortodoks Sunni-Asy’ari-Syafi’i; menjadi rujukan ajaran tasawuf Nahdlatul Ulama (NU), di samping Junaid al-Baghdadi.

Saya pernah mengulas tentang Fayshal at-Tafriqah itu di bagian lain di blog ini (rujuk ke tulisan ini: Mengkafirkan itu Tidak Mudah). Saya ulas sedikit di sini beberapa poin penting darinya.

Sudah menjadi kesepakatan ulama Asy’ariyah (mazhab akidah yang diikuti mayoritas umat Islam): tidak boleh mengkafirkan ahlul-qiblah. Tidak boleh mengkafirkan orang yang memegangi kalimat syahadat (tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya). Diterangkan pula oleh Al-Ghazali, tidak boleh mengkafirkan mazhab yang tidak melanggar hal pokok (ushul) dalam agama yang mutawatir (teriwayat oleh banyak orang dan mustahil ada persekongkolan untuk berdusta).

Terhadap hal yang mutawatir inipun Al-Ghazali masih merinci, sebab bisa jadi  yang mutawatir bagi Ahlus Sunnah, belum tentu mutawatir bagi Syiah. Karena itu, kata Al-Ghazali, perbedaan dalam kemutawatiran suatu statemen akidah, tak bisa dijadikan dasar untuk mengkafirkan.

Contoh dari hal yang layak untuk dikafirkan, menurut Al-Ghazali, misalnya kalau ada orang menyatakan bahwa kiblat yang menjadi arah salat bukanlah di Mekkah, sebab hal ini disepakati mutawatir lintas sekte. Misal lainnya, bila seseorang menyatakan bahwa Sayyidah ‘Aisyah telah berzina, padahal mutawatir dan termaktub di Al-Quran, belasan ayat yang membebaskan ‘Aisyah dari tuduhan zina.

Al-Ghazali pernah menulis satu kitab yang membantah akidah salah satu sekte Syiah. Judulnya: “Fadha’ih al-Bathiniyyah”. Buku ini ditulisnya untuk membantah klaim-klaim akidah Syiah-Ismailiyah (bukan Syiah-Imamiyah; yang mayoritas dalam Syiah sekarang). “Bathiniyah” waktu itu menjadi nama yang lazim tersemat ke Syiah-Ismailiyah (7 Imam), dan masuk kategori Syiah-ekstrem. Bahkan dalam menanggapi Bathiniyah pun Al-Ghazali masih memilah-milah, dan tampak sangat berhati-hati.

Al-Ghazali menerangkan bahwa meski Syiah mencaci Sahabat, dan itu dosa, ia tak menyatakan si pencaci itu kafir. Kata Al-Ghazali, “Kalau keliru dalam menisbatkan sifat pada Allah, sebagaimana terjadi dalam perdebatan antara Shifatiyyah dan Mu’atthilah, tidak dihukumi kafir, maka keliru dalam menisbatkan sifat kepada manusia lebih ringan hukumnya.”

Al-Ghazali amat mewanti-wanti agar umat Islam tidak tergesa-gesa menjatuhkan vonis kafir. Sebab vonis kafir itu berbahaya. Menurut fikih konservatif, vonis kafir bisa berujung pada status halal darahnya (ibâhah ad-dam). Konsekuensi takfir ialah pencabutan nyawa. Maka terang Al-Ghazali berkata: Kesalahan dalam membiarkan seratus kafir hidup, masih lebih ringan daripada kesahalan dalam menumpahkan darah seorang muslim. Kata al-Ghazali pula, kesalahan memasukkan orang ke dalam Islam, lebih ringan daripada kesalahan mengeluarkannya dari Islam.

syiah-bagian-dari-islamKarena itu, sudah menjadi ajaran Ahlus Sunnah, untuk tak boleh tergesa-gesa mengkafirkan Syiah. Pengkafiran yang tergesa-gesa, apalagi menggeneralisasi semua Syiah apapun cabangnya adalah kafir, adalah bentuk kezaliman terhadap ajaran Ahlus Sunnah sendiri.

[ 3 ]

Tak sedikit perawi-perawi Syiah yang diambil hadisnya oleh Shahih Bukhari dan Muslim. Ini jelas menjadi fakta yang sulit dibantah: Kalau mereka bukan muslim, tentunya Al-Bukhari dan Muslim tak akan mengambil hadisnya.

Namun, ada sebagian pandangan menyatakan keberatan. Katanya, perawi-perawi di dua kitab hadis tersahih Ahlus Sunnah itu memang Syiah, namun Syiah dulu dengan sekarang berbeda. Syiah yang diambil hadisnya oleh Bukhari-Muslim hanya yang berpandangan bahwa Ali lebih unggul (afdhal) di atas Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Namun klaim ini tidak sepenuhnya tepat. Sebab jika ada kelompok Islam yang mengunggulkan Ali di atas ketiga khalifah sebelumnya, tidak lantas menjadikannya Syiah. Sejarah Islam mencatat, dulu ada Mu’tazilah-Bashrah yang mengunggulkan Ali, tapi mereka memusuhi Syiah. Mu’tazilah-Bashrah ini berbeda pandangan dengan Mu’tazilah Baghdad.

Lepas dari hal itu, para perawi Syiah yang diambil hadisnya oleh al-Bukhari dan Muslim bukan sekedar Syiah saja. Ambil contoh sebagian dari perawi yang Syiah itu. Misalnya, Ubaydullah ibn Musa al-‘Absi. Kata Ibn Mandah, Ubaydullah ini seorang Syiah-Rafidhah, dan ia tidak mengizinkan orang bernama Mu’awiyah masuk ke rumahnya. Yang lain, misalnya Abbad ibn Ya’qub ar-Rawajini. Ia dinyatakan oleh Ibn Hajar sebagai Rafidhah juga.

Itu sekedar contoh, dan masih banyak yang lainnya. Misalnya, Abdul Malik ibn Ayan al-Kufi, Awf ibn Abi Jamilah al-A’rabi, Abdur Razaq as-Shan’ani, dll. Sebagian menyatakan, jumlah perawi Syiah yang terambil riwayat hadisnya di kitab hadis yang enam (al-kutub as-sittah) ada puluhan orang. Mereka bukan sekedar Syiah belaka, tapi juga Rafidhah (menolak kepemimpinan ketiga khalifah sebelum ‘Ali ibn Abi Thalib).

Data ini tegas menunjukkan, meski ke-Rafidhah-an dinyatakan oleh Ahlus Sunnah sebagai bid’ah, tapi mereka tetaplah bagian dari Islam. Jika mereka dikeluarkan dari Islam, entah ada berapa hadis Sunni yang akan hilang. Artinya, pengkafiran Syiah meniscayakan kerugian besar bagi rujukan hadis milik Ahlus Sunnah.

[ 4 ]

Tidak semua sekte Syiah itu sesat; sebagaimana tidak semua sekte di Ahlus Sunnah itu lurus seratus persen. Karena itu, kita mesti menghindari generalisasi. Sebab, penisbatan pandangan pada bukan orang yang menyatakannya adalah kezaliman.

Maka dari itu, tidak boleh menisbatkan pandangan sekte Syiah A, ke sekte Syiah B; tidak boleh menisbatkan pandangan Syiah-minoritas sebagai tolok ukur yang mewakili Syiah keseluruhan; tidak boleh menjadikan pandangan orang biasa, yang bukan ulamanya, sebagai representasi pandangan sekte itu.

Ini pun berlaku sama saat Syiah, misalnya, hendak menilai Ahlus Sunnah. Tidak bisa menjadikan pandangan Salafi-Wahabi misalnya, sebagai representasi Ahlus Sunnah. Di Indonesia, kita tak bisa menjadikan pandangan salah satu partai Islam, misalnya, sebagai representasi satu-satunya Ahlus Sunnah di Indonesia. Sekali lagi, generalisasi dalam menisbatkan pandangan adalah kezaliman.

Syiah itu sekte tertua yang lahir dari friksi umat Islam. Karena itu, perkembangan di dalamnya pasti terjadi. Kita tak bisa serta merta menyamakan bahwa Syiah saat ini adalah sama persis dengan Syiah masa lampau. Perubahan pandangan itu hal biasa. Bukan hanya di Syiah, di sisi Ahlus Sunnah pun begitu.

Pandangan Abu Hanifah dengan Hanafiyah bisa beda. Pandangan Al-Asy’ari dengan Asya’irah (pengikut Al-Asy’ari bisa beda). Bahkan pandangan As-Syafi’i di dalam dirinya sendiri antara saat beliau di Irak dengan di Mesir, bisa berbeda. Syiah pun demikian. Mainstream Syiah-Imamiyah terbagi jadi dua: Akhbari dan Ushuli (mirip Ahlul Hadits dan Ahlur Ra’yi dalam Ahlus Sunnah). Yang mayoritas di Syiah-Imamiyah adalah yang Ushuli.

Dalam hal menilai Syiah, saya memegangi statemen Syiah masa kini sesuai pernyataan buku “Buku Putih Mazhab Syiah: Menurut Para Ulamanya yang Muktabar” yang ditulis oleh tim Ahlul Bait Indonesia (ABI), terbitan 2012. Ini karena, penilaian yang adil adalah dengan mendasarkan pada klaim si “terdakwa”, bukan tuduhan musuhnya.

Ambil contoh tentang tuduhan bahwa menurut Syiah, Al-Quran yang ada sekarang ini telah mengalami distorsi (tahrif). Menurut pengakuan buku putih itu (halaman 34): “Jumhur ulama Syiah meyakini bahwa Al-Quran yang ada di tangan Muslim saat ini adalah satu-satunya Al-Quran.” Dikatakannya pula (masih di halaman 34): “Asal-muasal tuduhan tahrif terhadap Syiah diambil dari pandangan segelintir ulama Syiah dari kelompok Akhbari. Munculnya klaim tahrif itu diprakarsai kelompok Syiah-Akhbari, antara lain oleh Ni’matullah al-Jazairi dan Syaikh Nuri dengan kitabnya ‘Fashlul Khitab’.”

Di situ cukup terang, tuduhan dari sebagian kalangan Sunni tidak terkonfirmasi oleh pihak Syiah yang muktabar. Oleh karena itu, mari kita adil menilai. Dari dari bentuk keadilan menilai ialah kita tidak bisa serta merta menilai pandangan Syiah masa kini dengan hanya berdasar pada kitab induk hadis Syiah, seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini—yang biasanya disetarakan dengan Shahih Bukhari bagi Ahlus Sunnah. Sebab, tidak semua di Al-Kafi adalah sahih (al-Kulaini sendiri tak menisbati kitabnya dengan, misalnya, Shahih al-Kafi), sebagaimana tidak semua yang di Shahih Bukhari adalah sahih (padahal judul kitab itu ternisbati kata “Shahih”). Yang studi hadis tentu tahu hal ini.

Intinya, silakan baca buku itu, dan anda akan mendapati hal yang berbeda dari propaganda negatif yang selama ini menyebar tentang Syiah, padahal itu klaim dari segolongan saja. Poin saya dalam argumentasi ini ialah: hindarilah generalisasi; sebab generalisasi adalah bentuk kezaliman.

 [ 5 ]

Ada setidaknya tiga poin yang selama ini disepakati dalam berbagai muktamar taqrib Sunnah-Syiah. Yakni: (1) Al-Quran harus sama—ini sudah dijelaskan di atas; (2) Tidak boleh mencela figur-figur yang dihormati oleh kedua belah pihak; (3) tidak boleh ada Syiahisasi di negeri-negeri Sunni; begitu pula sebaliknya.

Mencela figur-figur terhormat, baik dari Syiah yang mencela Sahabat, atau Sunni yang mencela para ulama Syiah masa kini, itu tentu haram. Jangankan mencela manusia, mencela sesembahan orang musyrik pun dilarang (lihat QS 6:108). Karena itu jelas, dan ini berlaku lintas sekte, bahwa mencela mazhab atau agama lain itu merusak ukhuwah. Rekonsiliasi Sunni-Syiah tiada akan terwujud jika Syiah, misalnya, masih mencaci Sahabat yang dihormati Sunni; atau orang Sunni misalnya, mencaci Ayatullah Khomeini.

Itulah asas taqrib. Dan, syukurlah, sebagian ulama Syiah kini sudah memfatwakan keharaman bagi orang Syiah untuk mencaci Sahabat yang dihormati Ahlus Sunnah. Di sini, kita tahu, perkembangan pendapat itu ada.

Tentang poin ketiga itu, yakni tiada bolehnya Syiahisasi atau Sunnahisasi di negeri yang berbeda mazhab, perkenankan saya untuk mengajukan kritik berikut.

Selama ini, argumen pelarangan penyebaran mazhab lain di negeri lain adalah karena penyebaran sekte itu, baik Sunnah ke negeri Syiah, atau Syiah ke negeri Sunni, akan menimbulkan friksi akut di masyarakat. Menurut saya, perpecahan, friksi, fragmentasi, dan sebagainya terjadi bukanlah karena keberadaan mazhab itu, tapi karena pengikut mazhabnya yang eksklusif dan tidak terbiasa dengan kritik dari kalangan yang beda aliran.

Jangankan antara Sunni dengan Syiah, di dalam Sunni sendiri pun tak jarang terjadi friksi antara mazhab-mazhabnya. Sampai kini, tidak bisa dimungkiri, terjadi pertengkaran hebat antara Sunni-Asy’ari-Maturidi dengan Sunni-Salafi-Wahabi. Pertengkaran bukan hanya di level ulamanya, tapi juga di akar rumput. Di Indonesia, Nahdhiyin menentang keras keberadaan Wahabi.

Perlu pula dicatat, saat Wahabi mensyirikkan amaliyah NU (tawassul, tabarruk, ziarah kubur, maulid Nabi, dll.), maka itu bukan lagi persoalan furu’ (cabangan), itu sudah ushul (pokok). Apalagi, kita tahu, syirik adalah dosa terbesar. Tentu naif kalau dinyatakan bahwa Wahabi mestinya dilarang beredar di Indonesia hanya dengan alasan keberadaan Wahabi menimbulkan friksi di masyarakat dan merusak ukhuwah Islam, bukan?

Lagipula, dalam catatan sejarah, pertengkaran sektarian bukan saja terjadi karena perbedaan soal ushul, melainkan juga furu’. Yaqut al-Hamawi dalam Mu’jam al-Buldan, bab entri huruf hamzah dan shad, tentang kejadian pada abad ke-5 H, menyatakan bahwa pada masa itu di Isfahan pernah terjadi fanatisme akut antara Hanafiyah dan Syafi’iyyah. Antara kedua mazhab itu terjadi peperangan cukup lama. (Waqad fasyâ al-kharâb fi hadza al-waqt wa qablahu fi nawâhîhâ li katsrah al-fitan wa at-ta’asshub baina asy-syafi’iyyah wa al-hanafiyyah wa al-hurûb al-muttashilah bain al-hizbain).

Masih di Mu’jam al-Buldan, bab entri huruf ra’ dan ya’, terjadi di Ray (Iran), pernah ada peperangan antara Hanafiyah dengan Syafi’iyah yang, karena kemenangan berada di tangan Syafi’iyah, kemudian penduduk Rustaq yang bermazhab Hanafi mendatangi Ray dengan membawa senjata dan bunuh-bunuhan pun terjadi.

Muhammad ibn Ismail as-Shan’ani di kitabnya, Irsyâd an-Nuqqâd fi Taysîr al-Ijtihad, pada bab Tawaqquf fi tashdîq al-mukhbir hattâ taqûm al-bayyinah, menuliskan bahwa Mula ‘Ali al-Qari berkata bahwa dulu pernah masyhur terjadi, bila ada Hanafi pindah ke mazhab Syafi’i maka akan dihukum; dan jika sebaliknya, maka tidak dipersoalkan (isytahara baina al-hanafiyyah anna al-hanafiy idza intaqala ilâ madzhab asy-syâfi’i yu’azzaru waidza kâna bi al-‘aksi fainnahu yukhla’u ‘alayh).

Sekali lagi, persoalan perpecahan di tubuh umat Islam bukanlah karena beda sekte semata. Lebih dari itu, friksi terjadi karena masing-masing pengikut mazhab tidak terbiasa dengan kritik dan mudah tegang hanya karena dipicu sentimen yang dibumbui panasnya tensi politik. Ini bukan berarti saya hendak membuka lebar ajaran Syiah disebar di negeri Sunni. Tentu saja, ajaran Syiah yang berisi cacian kepada Sahabat tidak bisa ditolerir. Caci-maki terhadap figur terhormat, dari agama manapun, adalah tindakan yang merusak persaudaraan.

[ 6 ]

Dulu di masa-masa ketika kredo Sunni dan Syiah belum “dibekukan” dalam kitab-kitab induk, hubungan Sunni-Syiah cukup damai. Keduanya terintegrasi dalam masyarakat.

Dalam hal ini saya merujuk ke ulasan yang pernah disampaikan Mukhtar as-Syinqiti, doktor bidang sejarah agama yang menulis disertasi tentang pengaruh Perang Salib terhadap friksi Sunni-Syiah. Anda bisa mencari makalahnya di websitenya (berbahasa Arab: shinqiti.net) dan kuliah-kuliahnya di Youtube (Misalnya, search dengan kata kunci Arab: as-sunnah wa asy-syî’ah; baina at-tawâshul wa al-qathî’ah).

Dikatakannya, dulu di masa Abbasiyah, hubungan Sunni dan Syiah itu komunikatif (tawâshul), saling terbuka dan saling belajar. Tidak ada friksi sektarian dalam skala yang massif antara Sunni & Syiah. Di masa itu, Sunni & Syiah berintegrasi dalam masyarakat. Tak jarang, orang Sunni belajar di masjid Syiah, demikian pula sebaliknya. Muhaddits Ahlus Sunnah, Al-Hakim an-Naisaburi, misalnya, yang menulis Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, didaku sebagai ulama Syiah, sebab al-Hakim lah yang menulis kitab musthalah hadits yang diberikannya kepada murid-muridnya yang Syiah.

Di sisi lain, Sunni pun menyerap budaya Syiah. Muhammad Zaki Ibrahim dalam Fiqh as-Shalawat wa al-Mada’ih an-Nabawiyyah (2011: 103-105) menceritakan bahwa tradisi perayaan maulid Nabi dimulai oleh kalangan Syiah dari Dinasti Fathimiyah di Mesir. Tradisi maulid waktu itu digalakkan untuk membangkitkan semangat cinta Nabi dan Ahlul Bait, serta memperkokoh persatuan dan konsolidasi negara sebagai rival pemerintahan Sunni di Baghdad.

Melihat efek dari tradisi maulid itu, Sultan Muzhaffar ad-Din di Irbil (masih bawahan Abbasiyah Baghdad yang Sunni) ikut membudayakannya. Ia bahkan menggelontorkan lebih dari 1000 dinar sebagai hadiah bagi siapa saja yang mampu menyusun syair-syair pujian kepada Nabi (madah nabawiy). Sejak saat itu, tradisi maulid menjadi budaya populer dan semarak dilakukan di negara-negara kekhilafahan lainnya.

Tradisi maulid semakin berkembang ketika Shalahuddin al-Ayyubi memanfaatkan efek tradisi maulid itu. Shalahuddin berpandangan bahwa maulid bisa menjadi manifesto persatuan dan persaudaraaan (ukhuwwah) umat Islam. Untuk membangkitkan semangat juang prajuritnya, Shalahuddin mengadakan sayembara menggubah syair-syair madah. Salah satu karya besar yang lahir setelah itu adalah kitab Maulid al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far al-Barzanji, yang masih banyak dibaca hingga kini dan cukup sering didendangkan rutin mingguan oleh orang-orang NU.

Lebih dari itu, dulu tak sedikit di antara para khalif Abbasiyah yang mengambil menteri dari orang Syiah. Dinasti Fathimiyah, yang bermazhab Syiah-Ismailiyah, pun tak sedikit mengambil menteri dari orang Sunni. Para ilmuwan dan saintis yang mengabdi pada negara juga banyak yang lahir dari kelompok Syiah: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Miskawayh, Jabir ibn Hayyan, Ibn Sina, dll—karena itu, bila sekolompok umat Islam tak mengakui Syiah sebagai bagian dari Islam, maka mereka tak bisa mendaku penemuan para saintis itu sebagai sumbangsih Muslim kepada dunia.

Dalam hal ini berlaku hukum sejarah: Peradaban yang berkembang (izdihâr) ialah peradaban yang terbuka (infitâh), menyerap berbagai budaya, dan toleran pada perbedaan pandangan. Semakin peradaban tertutup, maka ia makin menuju fase kemunduran (inhithâth). Tiada peradaban yang berkembang hanya berdasar murni dari dirinya sendiri, tanpa ada kontak dengan peradaban, kebudayaan, dan pemikiran yang berbeda.

Di masa inklusivisme—Dr Mukhtar menyebutnya ‘ashr at-tawâshul wa al-infitâh—pernah terjadi integrasi Sunni-Syiah dalam masyarakat, dan hampir tiada friksi. Lalu, eksklusivisme—Dr Mukhtar menyebutnya dengan istilah ‘ashr at-ta’asshub wa al-qathî’ah—menghinggapi hubungan Sunni-Syiah dengan ditandai oleh dua perkembangan sejarah. Pertama, saat pandangan Hanabilah mendominasi dunia Sunni dan, kedua, saat Mu’tazilah merasuk ke dunia Syiah.

Akar sengketa bermula pada awal-awal abad ke-5 H, sebagai imbas dari tragedi “mihnah”—yang menyeret Imam Ahmad ibn Hanbal ke dalam siksaan penjara. Tragedi itu menyisakan permusuhan akut antara Ahlul Hadits versus Mu’tazilah. Seiring dengan hegemoni Ahlul Hadits yang mengalahkan dominasi Ahlur Ra’yi di dunia Sunni, permusuhan pada Mu’tazilah menguat. Di sisi lain, Mu’tazilah terserap ke dalam Syiah. Jadilah Syiah bukan sekedar gerakan politik, melainkan menjadi mazhab akidah. Sejak itulah, Syiah sebagai ideologi menemukan bentuk yang sempurna. Di masa itu pula kemudian 4 kitab hadis induk Syiah mulai ditulis. (Empat kitab hadis induk Syiah itu muncul setelah Sunni-Syiah sudah mengalami fase separasi dan benih-benih permusuhan mulai tumbuh, sehingga tidak kecil kemungkinannya sentimen sektarian ikut merembes ke dalam kitab hadis Syiah itu)

Pada mulanya, sengketa terjadi hanya antara Hanabilah versus Syiah. Kitab-kitab tarikh yang menerangkan kejadian pada abad 5 H, kata Dr Mukhtar asy-Syinqithi, banyak menuliskan terjadinya fitnah antara Hanabilah versus Syiah.

Pada perjalanan selanjutnya, ringkas cerita, pandangan Hanabilah ini mendominasi dunia Sunni [Apalagi, saat permusuhan itu semakin diruncingkan oleh Ibn Taimiyyah, yang mengkritik keras Syiah melalui kitabnya “Minhaj as-Sunnah”, kemudian ajaran Ibn Taimiyah itu dihidupkan oleh Muhammad ibn Abdil Wahhab dan menjadi paham Salafi kini]. Di sisi Syiah-Imamiyah, gerakan politiknya semakin radikal seiring ideologi politik harakiy ala Syiah-Ismailiyah menjadi ideologi arus utama: oposisi setia terhadap Sunni. Sejak itu, Sunni dan Syiah terlibat sengketa tiada henti sampai sekarang.

Poin saya di sini adalah: sengketa akut Sunni-Syiah sangat tidak terlepas dari faktor sejarah politik. Tensi politik dalam sejarah masa lampau itu, sedikit maupun banyak, ikut mempengaruhi ajaran dan kredo yang kemudian merembes ke dalam kitab-kitab rujukan kedua mazhab tersebut.

Butuh usaha besar untuk menggali kembali sisi sejarah yang hilang; sejarah saat Sunni dan Syiah bisa berdampingan, berintegrasi; dan perbedaan pandangan tidak menjadi alasan untuk bermusuhan, justru jadi peluang untuk saling belajar; menerima dan memberi.

[ 7 ]

Data sejarah Nusantara menunjukkan bahwa Syiah sudah lama berada di bumi Indonesia. Salah satu tesis terkuat tentang muasal Islam di Nusantara ialah dari Gujarat & Persia yang, sedikit atau banyak, diwarnai oleh ajaran dan amaliyah Syiah.

Menurut Agus Sunyoto di buku Wali Songo, Islam mulai berkembang di India, salah satunya, dimotori oleh kalangan Alawiyyin yang lari dari kejaran penguasa Umayyah dan Abbasiyah. Pengaruh tradisi dan pemikiran Alawiyyin yang dianut orang-orang Persia terbawa ke India. Dari India, kemudian terbawa ke Nusantara.

Pengaruh Persia itu antara lain ada dalam sistem pengajaran al-Qur’an yang menggunakan istilah-istilah berbahasa Persia untuk menyebut harakat (vokal) dalam bahasa Arab, seperti jabar untuk fathah, jer untuk kasrah, dan pes (fesy) untuk dhammah. Generasi simbah saya masih ada yang mengeja al-Quran dengan jabar, jer, dan pes itu.

Pengaruh dalam bidang kesusastraan juga cukup besar. Ini muncul dalam karya terjemahan dari sastra Persia: Qissa-i-Emir Hamza (Hikayat Amir Hamzah, mengisahkan kepahlawanan Hamzah ibn Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad Saw), Qissah Insyiqaq al-Qamar (Hikayat Terbelahnya Bulan, salah satu mukjizat Nabi Muhammad Saw), Rawdhat al-Ahbab (Hikayat Nur Muhammad), Wafat Nameh (Hikayat Nabi Wafat), Qissah Wasiyyah al-Mustafa li Imam ‘Ali (Kisah Wasiat Nabi kepada Ali), Qissah Amir al-Mu`minin Hasan wa Husain (Kisah Amirul Mukminin Hasan dan Husain), Qissah i Ali Hanafiyah (Kisah Ali al-Hanafiyah [putra Ali ibn Abi Thalib dari istrinya, Khaulah, dari Bani Hanifah]), dan lain-lain. [Simaklah judul-judul karya itu; yang indikatif pada ajaran Syiah]

Konon, dulu juga pernah ada Kesultanan Perlak di Aceh—yang sezaman dengan masa Daulah Abbasiyah—yang bermazhab Syiah. Ada pula beberapa tradisi Syiah yang bertahan lama, mungkin sampai kini masih ada, yakni perayaan Asyuro dengan Tabot & bubur Asyuro—dan bulan Muharram pun lazim disebut orang Jawa dengan nama “Sasi Suro”. Adapula beberapa ajaran yang mirip—untuk tak dikatakan sama persis—antara Syiah dengan Ahlus Sunnah. Misalnya, tawassul, tabarruk, peringatan hari kematian, ziarah kubur, maulid Nabi, dan lain-lain.

Data sejarah ini menunjukkan bahwa sudah sejak lama Syiah menjadi bagian integral dalam Islam di Nusantara. Santri-santri Nahdliyin yang gemar shalawat pasti tahu bahwa syair “Ya Rasulallah Salamun ‘Alayk” yang biasa dibaca dalam Barzanji atau Diba’i menyebut imam-imam Syiah: dari ‘Ali ibn Abi Thalib sampai ‘Ali ar-Ridha. (Lihat mulai bagian syair: kam imâmin ba’dahu khalafû). Orang-orang NU yang gemar bershalawat tentu tahu kasidah-kasidah macam “Ya Zahra”, “Ya Ala Baitin Nabi”, “Birasulillah wal-Badawi”, “Li Khamsatun”, dll. [Sebagai misal, “Li Khamsatun” oleh anak-anak Syiah di sini; “Li Khamsatun” oleh anak-anak NU di sini]

Kasidah-kasidah pujian kepada Ahlul Bait itu tak hanya didendangkan oleh Sunni, melainkan juga oleh Syiah. Kenyataan ini menunjukkan kebenaran ungkapan masyhur dari Gus Dur itu: NU adalah Syiah-kultural.

[ 8 ]

Makna “Syiah” dalam konsep Al-Quran (6:159 & 30:32) sebenarnya identik dengan golongan yang suka mencerai-beraikan agama (alladzina farraqû dînahum wakânû syiya’an)–perlu dimengerti, istilah “Syiah” itu sendiri sebenarnya peyoratif; orang-orang Syi’i lebih suka menisbati diri mereka sendiri dengan nama Mazhab Ahlil-Bayt atau sekurang-kurangnya dengan Syi’atu ‘Ali. Hari ini ada sebagian umat Islam yang berusaha menghentikan upaya persatuan & rekonsiliasi Sunni-Syiah, atas dasar anggapan bahwa Syiah bukan Islam. Bisa jadi, justru para pemecah belah itulah yang lebih cocok dengan konsep “Syiah” dalam deskripsi Al-Quran. Artinya, mereka menjadi “Syiah” tanpa sadar.

Betapapun, persatuan itu lebih baik daripada perpecahan. Al-Quran menyatakan banyak ayat tentang perdamaian dan rekonsiliasi (ash-shulh): Wash-shulhu khair; Wa ashlihû dzâta baynikum, dll. Al-Quran melarang umat Islam berpecah belah: la tafarraqû.

Kita mesti mengakhiri sengketa panjang lebih dari satu milenium ini. Sungguh menarik ayat yang dikutip Syaikh Wahbah dalam salah satu Muktamar Taqrib: Tilka ummatun qad khalat, lahâ ma kasabat wa ‘alayha ma iktasabat. Mereka kaum yang telah lalu; bagi mereka apa yang mereka lakukan. Sejarah kelam mestinya kita tinggalkan, demi menatap masa depan yang lebih toleran terhadap perbedaan, bukan?

In urîdu illa al-ishlâh ma istatha’tu. Wamâ tawfîqî illâ billâh.