Pengertian Akhlak Dalam Ajaran Islam – Strukturalisasi Akhlak 01

Banyak yang salah kaprah dalam memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan akhlak. Apa pengertian akhlak yang sesungguhnya dalam Islam. Apa bedanya pengertian akhlak secara ilmiah dengan pengertian akhlaq menurut pandangan umum.

Untuk memahami apa pengertian akhlak dan urgensinya dalam mengubah kehidupan kita, marilah simak video ceramah berikut ini, yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Ustadz Hasan Abu Ammar.

Dalam Kondisi Bagaimana Doa Kita Pasti Dikabulkan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kami akan jelaskan secara sederhana tentang makna dan pentingnya doa menurut Al-Qur’an.

Masalah perlunya doa tidak hanya agama Islam yang menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat serius. Tetapi juga pada agama nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumnya.

Berdoa merupakan sebuah perkara yang pasti dan para pemimpin Ilahi telah menyampaikan dan mengajarkan hal ini kepada umatnya. Selain itu mereka sendiri telah berdoa dalam banyak hal, di antaranya adalah doa Nabi Ibrahim As serta proses terijabahnya. Hal ini disebutkan dalam surat Ibrahim ayat 37,[1] dan juga doa Nabi Musa As[2] dan nabi-nabi lainnya.

Di dalam beberapa ayat, Allah Swt menyeru hamba-hamba-Nya untuk berdoa, di antaranya adalah surat al- Baqarah ayat 186 dan surat al Ghafir ayat 60.

Makna leksikal dan teknikal doa

Doa (dalam bahasa Arab) berarti membaca, meminta hajat dan memohon pertolongan. Terkadang juga diartikan secara mutlak; yakni membaca.[3]

Doa menurut istilah adalah memohon hajat kepada Allah Swt. Dalam Al-Qur’an, kata doa dan kata-kata jadiannya (musytaq) itu digunakan sebanyak 13 makna yang berbeda-beda, di antaranya adalah membaca, berdoa, meminta kepada Allah Swt, menyeru, memanggil, mengajak kepada sesuatu atau kepada seseorang, memohon pertolongan dan bantuan; beribadah dan lain sebagainya.[4]

Dari sebagian ayat dan riwayat Islam dapat disinyalir bahwa doa merupakan ibadah dan penyembahan atas Allah Swt.

Selain itu, pada sebagian redaksi riwayat dikatakan bahwa “ad du’aa mukhkhul ‘ibadah” (doa itu adalah otaknya ibadah), Dari sini doa juga sama seperti ibadah-ibadah lain yang memiliki syarat-syarat positif dan negatif.

Dengan kata lain, supaya doa dapat dilakukan dengan benar dan sempurna serta bisa dikabulkan dan bisa mendekatkan diri (kepada Allah Swt), maka orang yang berdoa harus memenuhi beberapa syarat dan adab. Dan juga harus meninggalkan hal-hal yang dapat menghalangi terijabahnya doa.

Dengan ini jelas bahwa sebab tidak diijabahnya sebagian doa karena Allah Swt adalah Maha Bijak lagi Maha Tahu dan seluruh perbuatan-perbuatan-Nya itu berdasar pada hikmah dan maslahat, dan terkabulnya doa itu tergantung pada kemaslahatan.

Demikian pula janji dikabulkannya doa itu bergantung kepada maslahat. Apabila ada seseorang yang terhormat lagi mulia mengumumkan; barangsiapa yang menginginkan sesuatu dariku maka aku akan memenuhi permintaannya. Lalu seseorang datang dan meminta sesuatu –dengan berkhayal bisa bermanfaat untuknya– yang pada hakikatnya berbahaya dan bahkan bisa merusak dirinya. Pada kondisi seperti ini, hal yang patut dilakukan oleh orang terpandang lagi mulia tersebut adalah ‘tidak memberi’ dan ‘tidak memenuhi’ permintaan orang tersebut. Jika ia tetap memberi dan memenuhi permintaannya, maka sikap ini bisa digolongkan sebagai perbuatan aniaya dan zalim. Mayoritas permintaan serta permohonan hamba-hamba-Nya itu mengandung hal-hal yang membahayakan diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadari hal ini.[5]

Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan: Sebagian hamba-hamba-Ku tidak bisa berubah menjadi baik dan tidak bisa menjaga imannya kecuali jika mereka itu kaya dan memiliki harta benda. Dan jika terjadi sebaliknya maka (iman) mereka akan hancur lebur; dan sebagian hamba lainnya, kefakiran dan kemiskinan itu lebih baik bagi mereka. Jika ditakdirkan kondisi lain kepada mereka, maka mereka akan menjadi binasa dan hancur.[6]

Mungkin saja terlintas sebuah syubhat dalam benak kita bahwa: Allah Swt lebih tahu hal yang maslahat bagi diri kita dan apa yang Ia kehendaki, itulah yang ditakdirkan untuk kita dan pasti akan terjadi dan tidak perlu lagi kita berdoa dan memohon kepada Allah Swt?

Untuk menjawab pertanyaan ini cukup dikatakan bahwa: Terealisasinya sebagian takdir Ilahi itu dengan doa hamba bergantung pada doanya; artinya bahwa apabila seorang hamba berdoa dan meminta, maslahat Ilahi itu punya hubungan erat dengan pemberian atau pemenuhan tersebut dan kalau ia tidak berdoa maka tak akan ditemukan satu pun maslahat dan tidak akan ditakdirkan baginya.[7]

Berasaskan hal ini, Allah Swt akan menolak doa-doanya yang bertentangan serta bertolak belakang dengan sistem terbaik alam semesta dan qadha (ketentuan) pasti Ilahi.

Misalnya seseorang memohon kepada Allah Swt supaya ia bisa hidup selamanya dan tidak pernah mati, karena doa seperti ini bertentangan dengan ketetapan Ilahi yang telah dijelaskan dalam surat Ali ‘Imran ayat 185 (kullu nafsin dzaiqatul maut; setiap yang hidup pasti akan merasakan kematian) atau ia meminta kepada Allah Swt supaya ia tidak lagi membutuhkan orang lain, maka doa seperti ini tidak akan pernah diijabah.

Dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa Imam Ali As mendengar seseorang mendoakan temannya dengan mengatakan: “Semoga Allah Swt tidak menimpakan kepadamu hal-hal yang tidak disukai dan tidak disenangi”, Imam Ali As bersabda: Anda ini telah memohon kepada Allah Swt akan kematian dan kebinasaan sahabat sendiri.[8] Yakni pada hakikatnya selama manusia itu hidup maka ia, sesuai dengan sistem tabiat dan alam cipta, akan selalu berhadapan dengan hal-hal yang tidak disukai dan bala serta malapetaka, kecuali ia tidak berada di dunia ini.

Terkait dengan masalah “tidak diijabahnya doa” , Allamah Majlisi –dalam menafsirkan sebuah riwayat– menyebutkan beberapa poin sebagai sebuah jawaban, yaitu:

Pertama: Janji Ilahi untuk mengabulkan doa itu tergantung pada kehendak Allah Swt, apabila Dia menghendaki, maka pasti akan diijabah sebagaimana firman-Nya dalam surat al An’am ayat 41 yang artinya adalah: ”maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya jika Dia menghendaki…”

Kedua: Maksud “ijabah” dalam riwayat itu adalah didengarkan dan diperhatikannya doa tersebut, karena Allah Swt mengabulkan doa orang mukmin itu sekarang juga. Akan tetapi Dia menunda untuk memberikan apa yang diinginkannya itu sehingga ia terus menerus melantunkan doa dan Allah Swt senantiasa mendengarkan bisikan suara kekasih-Nya tersebut.

Ketiga: Dalam mengabulkan doa, Allah Swt telah menyaratkan adanya maslahat dan kebaikan untuk hamba yang berdoa tersebut, karena Allah Swt adalah Maha Bijak dan Ia tidak akan pernah meninggalkan sesuatu hal yang maslahat dan membahagiakan hamba-hamba-Nya hanya karena sesuatu yang tidak bermanfaat. Jadi jelas bahwa seyogyanyalah kita mengakui bahwa janji-janji seperti ini yang datang dari Yang Maha Bijak memiliki persyaratan berupa unsur “maslahat”.[9]

Dalam kitab Ushul al-Kâfi disebutkan empat makna “ijâbah”, yaitu:

  1. Allah Swt segera memberikan apa yang diinginkan orang yang berdoa.
  2. Allah Swt mengijabah dan mengabulkan keinginannya, namun karena Allah Swt suka mendengar suara orang yang berdoa itu maka Dia menundanya dulu.
  3. Allah Swt mengabulkan dan mengijabah doanya, namun hasilnya itu berupa pembersihan dan penebusan atas dosa-dosa yang dilakukannya.
  4. Allah Swt mengabulkan doanya dan menyimpannya untuk di akhirat kelak.[10]          

Dari objek kajian diatas dapat dipahami bahwa makna “diijabahnya doa” itu bukan berarti bahwa ia dikabulkan secepat mungkin dan hasilnya nampak secara spontanitas dan yang berdoa pun mendapatkan apa yang dikehendakinya. karena sebagaimana diisyarahkan dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 89 Allah Swt mengijabah doa Nabi Musa As, dan karena demi beberapa kemaslahatan maka hasilnya itu berupa kehancuran dan kebinasaan Fir’aun, baru nampak 40 tahun kemudian.

Dan terkadang bukti diijabahnya doa itu berbentuk seperti ini dimana Allah Swt melipat-gandakan imbalan apa yang diinginkan orang yang berdoa itu pada hari kiamat –kepada orang yang ia sendiri tidak tahu bagaimana baik dan maslahatnya– sebegitu rupa dimana ketika ia menyaksikan imbalan dari keinginannya itu (yang demikian banyak) hingga berbisik sambil berharap bahwa seandainya tak ada satu pun hajat saya yang diijabah di dunia. (ia membenarkan bahwa doanya terkabul dengan sempurna).[11]

Sampai saat ini kita telah menjelaskan tentang makna doa, pentingnya doa dan syarat-syaratnya. Juga kita telah menjelaskan kenapa sebagian doa itu tidak dikabulkan serta apa maksud dari “diijabahnya doa”.

Nah, sekarang gilirannya kita menjawab pertanyaan tentang kondisi yang bagaimana doa itu diijabah dan dikabulkan? Para ulama dan mufassir Islam –berdasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat para Imam Ma’shum As– telah menyusun dan menyebutkan syarat-syarat dan adab-adab doa dan orang yang berdoa dimana dengan memenuhinya maka doa tersebut pasti akan dikabulkan.

Dalam buku “Du’ahâ wa Tahlilât Qur’ân” disebutkan sebanyak 17 syarat dan adab doa, seperti:

  • Makrifatullah,
  • kesesuaian antara lisan dan hati orang yang berdoa,
  • melaksanakan hal yang diwajibkan dan meninggalkan hal yang diharamkan,
  • beristigfar dan membaca shalawat atas Nabi Saw dan Ahlulbait As, dan lain-lain.[12]

Dan juga almarhum Faidh Kasyani dalam kitab “Mahajjatul Baidhâ”menyebutkan 10 syarat dan ia juga menyebutkan 10 syarat lain yang dinukil dari kitab “Iddatuddaa’ii”(Allamah Hillii Ra), dimana sebagian di antara syarat-syarat tersebut adalah: niat dalam berdoa, berkumpul dalam berdoa, menghadap dengan hati kepada Allah Swt, tidak menyandarkan segala hajat dan keinginan kepada selain Allah Swt, dan lain sebagainya.[13]

Terkait dengan riwayat-riwayat tentang masalah terkabulnya doa secara pasti terdapat ungkapan yang tidak ada salahnya kita sebutkan di sini.

Imam Shadiq As bersabda:”Doa-doa tersebut selalu berada di balik tirai; yakni ia tidak akan bisa bebas menembus jalan menuju keharibaan Ilahi selama doa tersebut tidak diiringi dengan bacaan shalawat atas Nabi Saw”.[14]

Ada riwayat lain yang dinukil dari Imam Shadiq As yang artinya adalah: “Ketika seseorang meminta Anda untuk berdoa, maka pertama anda membaca shalawat untuk Nabi Saw karena shalawat atas Nabi Saw itu pasti dikabulkan Allah Swt dan Allah Swt tidak akan melakukan hal dimana sebagian doa itu diijabah dan sebagiannya lagi tidak diijabah.[15]

Dan dalam riwayat lain, beliau bersabda:”Selain membaca shalawat pada permulaan doa, maka hendaknya pula membaca shalawat ketika selesai berdoa”.[16]

Imam Hasan As bersabda:”Jika ada seseorang yang senantiasa menjaga hatinya sehingga tak ada satupun bisikan berupa hal-hal yang tidak diridhai Allah Swt terlintas di dalamnya, maka saya menjadi jaminan bahwa doanya pasti diijabah”.[17]

Imam Shadiq As bersabda:”Janganlah tumpukan harapan kalian kepada selain Allah Swt sehingga hati kalian pun tidak bersandar kepada suatu kekuatan selain kepada kekuatan Allah Swt, dan pada saat itu kalian berdoa, maka pasti doanya dikabulkan”.[18]

Juga diriwayatkan bahwa: “Seorang yang teraniaya yang tidak punya tempat berlindung selain Allah Swt, doanya pasti diijabah dan dikabulkan”.[19]

Oleh karena itu, apabila doa telah dilantunkan maka tidak ada lagi kata ditolak dan doanya akan dikabulkan. Karena sang pelaku dan orang yang memenuhi keinginan tersebut, Sempurna dan Maha Sempurna dan rahmat-Nya sempurna lagi Maha sempurna dan jika limpahan rahmat itu tidak punya penampakan dan tidak dilimpahkan, maka dianggap sebagai sebuah kecacadan potensi.

Jadi apabila orang yang menerima itu punya potensi untuk menerima limpahan rahmat tersebut, maka akan dilimpahkan kepadanya rahmat Ilahi yang merupakan khazanah yang tidak akan habis, tidak punya kekurangan dan tidak terbatas serta tidak akan pernah berkurang.[20]

Dari sini dapat dikatakan bahwa perkara itu dibagi tiga:

  1. pertama: adalah tanpa doa, maslahat dalam pemberian atau pengabulan itu tetap akan ada. Dalam kondisi seperti ini, baik mereka berdoa atau pun tidak berdoa, Allah Swt tetap akan bersikap dermawan.
  2. kedua: adalah bahwa doa juga tidak maslahat. Dalam kondisi ini, mereka berdoa pun tetap tidak dikabulkan.
  3. ketiga: dengan berdoa ada maslahat dalam mengabulkannya dan tidak berdoa, tidaklah maslahat.

Dalam kondisi ini, pengabulan itu bergantung pada berdoa. Mengingat bahwa manusia tidak punya kemampuan untuk memilih dan memilah mana yang baik dan yang tidak baik dalam seluruh perkara, maka ia jangan sampai menyepelekan doa dan kalaupun tidak diijabah janganlah merasa putus asa dan anggaplah bahwa hal itu tidak ada maslahatnya.

Terlepas dari hal ini, seperti yang telah diisyarahkan sebelumnya, doa itu merupakan sebuah ibadah dan bahkan dianggap sebagai ibadah terbaik dimana ia dapat “mendekatkan diri” kepada Yang Maha Hak (Allah Swt) dan “mendekatkan diri” (taqarrub) itu sendiri merupakan manfaat terbaik untuk setiap ibadah.[21]

Ketika seseorang selesai berdoa maka –sesuai riwayat-riwayat serta sunnah para maksum As–dianjurkan mengusapkan kedua tangannya itu ke kepala dan wajah; karena taufik Allah Swt telah memberikan jawaban kepada tangan ini, sebuah tangan yang dijulurkan keharibaan Allah Swt pasti tidak akan kembali dengan tangan kosong dan tangan yang menerima pemberian Allah Swt itu dianggap mulia. Oleh itu alangkah baiknya jika diusapkan ke wajah atau ke kepala.[22] []

[1] . Muhammad Taqi Falsafi, Syarh-e Du’â-e Makarim Akhlâq, jilid 1, halaman 2.

[2] . Qs. Thaaha ayat 25 – 28.

[3] . Sayid Ali Akbar Qursyi, Qâmuus Qur’ân, kata do’a.

[4] . Bahauddini Khurramshahi, Dânesh Nâme-e Qur’ân wa Qur’an Pazhuhi, jilid 1, halaman 1054.

[5] . Sayid Muhammad Baqir Syahidi dan Rahbatuddin Syahrastani, Du’âhâ wa Tahlilât Qur’ân, halaman 43.

[6] . Mulla Hadi Sabzawari, Syarh Asmâ al-Husnâ (cetakan Maktabah Bashiirati – Qom), halaman 32.

[7] . dinukil dari Muhammad Baqir Syahidi, Du’âhâ wa Tahlilât qur’an, halaman 43.

[8] . Muhammad Taqi Falsafi, Syarh-e Du’â-e Makârim Akhlâq, jilid 1, halaman 7.

[9] . Muhammad Baqir Majlisi, Mir’âtul ‘Uqûl, jilid 12, halaman 19 – 20.

[10] . Kulaini, al-Kâfi, dan al-Raudhâh, halaman 330.

[11] . Muhammad Baqir Majlisi, Mir’âtul ‘Uqûl, jilid 12, halaman 1 – 5.

[12] . Sayid Muhammad Baqir Syahidi dan Rahbatuddin Syahrastani, Du’ahâa wa Tahlilât Qur’ân, halaman 15.

[13]. Faidh Kasyani, Mahajjatul Baidhâ, jilid 1, halaman 301 – 380.

[14] . Kulaini, al-Kâfi, jilid 2, halaman 491.

[15] . Syaikh Thusii, Âmâli, jilid 1, halaman 157.

[16] . Muhammad Taqi Falsafi, Syarh-e Du’â-e Makârim Akhlâq, jilid 1, halaman 9.

[17] . Kulaini, al-Kâfi, jilid 2, halaman 67, hadits 11.

[18] . Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jilid 72, halaman 107, hadits 7.

[19] . Abdullah Jawadi Amuli, Hikmat-e Ibâdat, halaman 220 – 234.

[20] . Imam Khomeini Ra, Syarh-e Du’â-e Sahar, terjemahan Sayid Ahmad Fahri, halaman 38.

[21] . Sayid Muhammad Baqir Syahidi dan Rahbatuddin Syahrastani, Du’ahâ wa Tahliilâat Qur’ân, halaman 45.

[22] . Abdullah Jawadi Amuli, Hikmat-e Ibâdat, halaman 215.

_________________
sumber: http://www.islamquest.net/id/archive/question/fa983

 

Banyak Jalan Menuju Neraka

oleh: KH Jalaluddin Rakhmat

Dalam Surat Al-Mudatsir ayat 42-45, Al-Qur’an bercerita tentang perbincangan di antara para penghuni surga dan neraka pada Hari Kiamat.

Sebelumnya, pada ayat 38-41 disebutkan: “Setiap diri akan tergadai oleh hasil usahanya, kecuali kelompok-kelompok kanan. Mereka saling berbicara di surga, berkenaan dengan orang-orang yang berdosa.”

Para ahli surga bertanya kepada para pendosa, “Mâ salakakum fî saqar? Apa yang membawamu ke Neraka Saqar?” Kata salaka sebenarnya berarti menempuh perjalanan. Orang yang menempuhnya disebut sâlik, sedangkan perjalannya disebut suluk.

Dalam Tasawuf, istilah suluk khusus diperuntukkan untuk orang yang menempuh perjalanan mendekati Allah swt. Namun dalam ayat ini, Tuhan bercerita tentang suluk sebagai perjalanan yang membawa manusia kepada neraka.

Jadi, terdapat dua macam suluk. Yang pertama, yang membawa kita ke surga. Contohnya terdapat dalam suatu hadits “Man salaka thâriqan yaltamisu fîhi ‘ilman, sahhalallâhu lahu thâriqan ilal jannah. Barang siapa yang meniti jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan masuk ke surga.”

Adapun suluk yang kedua, ialah jalan yang menyebabkan kita masuk neraka.

“Suluk apa yang kamu jalankan sehingga kamu masuk neraka?” Demikian ditanyakan para ahli surga.

Penghuni neraka menjawab,

  • Qâlû lam naku minal mushallîn. Dulu kami tidak termasuk pada golongan orang-orang yang shalat.
  • Wa lam naku nuth’imul miskîn. Dan kami tidak memberi makan orang miskin.
  • Wa kunnâ nakhûdhu ma’al khâidhîn. Dan kami menggunjing bersama para penggunjing” (QS. Al-Mudatsir 42-45)

Dari ayat-ayat itu kita ketahui bahwa jalan-jalan yang membawa kita ke neraka di antaranya adalah sebagai berikut;

I. Meninggalkan Shalat

Menjama’ shalat bukan termasuk kepada melalaikan shalat. Yang dimaksud dengan meninggalkan shalat adalah orang-orang yang tidak mau melakukan jama’ sehingga ia kehilangan shalatnya. Yang dimaksud dengan melalaikan shalat pun bukan orang yang mengqadha shalat, melainkan orang yang tidak mau mengqadha shalat sehingga ia tidak melaksanakan shalat sama sekali.

Saya akan kemukakan satu hadits yang berkenaan dengan orang-orang yang meninggalkan shalat.

Suatu hari, Sayyidah Fathimah as bertanya kepada Rasulullah saw, “Yâ Abâtah, apa yang akan didapatkan oleh orang yang melecehkan shalatnya, menganggap enteng kepada shalatnya, baik laki-laki maupun perempuan?”

Rasul bersabda, “Hai Fathimah, barang siapa yang melecehkan shalatnya menganggap enteng kepada shalatnya, baik laki-laki maupun perempuan, Tuhan akan menyiksanya dengan lima belas perkara. Enam perkara di dunia, tiga pada saat ia mati, tiga lagi pada waktu ia berada di kuburnya, dan tiga perkara pada Hari Kiamat, ketika ia keluar dari kuburnya.”

Enam siksaan yang diberikan di dunia adalah;

1. Allah akan menghilangkan berkah dari usianya

2. Allah akan menghapuskan berkah dari rezekinya

3. Wibawa orang shaleh pun akan dihilangkan dari wajahnya

4. Amal yang dikerjakannya tidak akan memperoleh pahala

5. Doanya tidak akan naik sampai ke langit

6. Ia tidak akan memperoleh bagian dalam doa orang-orang shaleh.

Para shâlihin selalu mendoakan Kaum Muslimin dan Muslimat. Semua orang kebagian doa mereka kecuali orang-orang yang tidak shalat. Jadi, shalat itu seperti halnya kupon dalam pembagian Sembako. Walaupun setiap orang berhak atas Sembako itu, orang yang tidak punya kupon tidak akan mendapatkannya.

Adapun tiga perkara yang akan menimpa orang yang meninggalkan shalat pada waktu ia mati adalah:

1. Dia akan mati dalam keadaan sangat terhina

Kita baca dalam beberapa hadits bahwa bila kita mati, Tuhan akan menyelenggarakan semacam Upacara Penerimaan di Alam Malakut. Ribuan malaikat dikirim untuk acara itu. Untuk orang-orang yang tidak shalat, Tuhan akan mengirim malaikat-malaikat yang berwajah sangat menakutkan.

Selain itu, Allah akan mencabut nyawanya seperti orang yang menyisir bulu domba yang basah. Beda halnya dengan orang mukmin yang shalat, ruhnya akan diambil begitu mudahnya seperti keluarnya air dari dalam cerek.

Dalam Upacara Penyambutan kematian orang fasik, ruhnya akan disimpan dalam kain yang amat buruk. Ruh itu menyebarkan bau yang sangat tidak sedap sehingga seluruh arwah dan malaikat bertanya-tanya, “Ruh siapakah itu?” Malaikat yang membawanya akan menjawab, “Inilah ruh Fulan Ibnu Fulan.” Dan disebutkanlah gelaran-gelaran buruk yang diperoleh orang fasik itu di dunia. Misalnya, “Oh, inilah Fulan si Tukang Mengadu Domba.”

Tapi apabila dia adalah seorang mukmin yang shaleh, ruhnya akan diletakkan dalam sebuah kain yang diambil dari surga. Ruh itu akan menyebarkan harum yang semerbak. Para arwah dan malaikat pun bertanya, “Ruh siapakah ini?”. Dijawab, “Inilah ruh Fulan Ibnu Fulan.” Dan disebutkanlah semua gelaran-gelaran baik yang pernah ia dapatkan di dunia. “Oh, inilah Fulan. Orang yang baik, dermawan, dan sabar.”

2. Dia akan mati dalam keadaan lapar

Pada saat ia menghadapi ajal, dia akan merasakan kelaparan yang sangat luar biasa.

3. Dia akan mati dalam keadaan dahaga

Orang yang meninggalkan shalat, sekalipun ia diberi minum dari seluruh sungai yang mengalir di dunia ini, rasa hausnya tidak akan hilang pada saat ia meninggal.

Sedangkan tiga siksaan yang akan menimpa dia di alam kuburnya ialah:

  1. Tuhan akan menempatkan malaikat yang kerjanya hanya akan mengganggu dia. Membuat dia takut dan mengguncangkan badannya di alam kubur.
  2. Kuburannya akan Tuhan sempitkan
  3. Tuhan pun akan menjadikan kuburannya gelap

Adapun tiga perkara yang akan menyiksanya pada Hari Kiamat adalah:

  1. Orang yang melalaikan shalat akan diseret wajahnya oleh para malaikat. Pada Hari Kiamat nanti, semua makhluk akan melihatnya.
  2. Dia akan dihisab dengan hisaban yang berat
  3. Allah tidak akan memperhatikan dia pada Hari Kiamat. Tidak akan diampuni dosa-dosanya dan baginya azab yang pedih.

Nabi saw bersabda, “Tidak ada yang membedakan muslim dengan kafir itu kecuali orang yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja atau merendahkan dan melecehkan shalatnya.”

II. Tidak Memberikan Makanan kepada Orang-Orang Miskin

Jalan kedua untuk masuk neraka ialah dengan tidak membagikan makanan kepada fakir miskin. Bila ada orang Islam rajin memberi makan orang miskin tapi ia tidak shalat, maka ia akan masuk Neraka Saqar. Tapi bila ada orang Islam yang suka shalat tapi tidak pernah memberi makan orang miskin, dia pun akan masuk Neraka Saqar.

Lalu apa buktinya kalau orang yang suka shalat itu masuk Neraka justru karena shalatnya? Al-Qur’an menjawabnya dalam surat Al-Ma’un 4-6. “Celakalah orang-orang yang shalat. Yang lalai dalam shalatnya. Yaitu orang yang menjadikan shalat sebagai alat untuk memamerkan kesalehannya.” Shalat adalah alat paling efektif untuk memamerkan kesalehan dan menyembunyikan kesalahan.

Orang-orang yang bakhil mesti rajin shalatnya karena dia ingin menyembunyikan kebakhilannya itu. Menampakkan kesalehan dengan shalat ialah cara yang paling gampang, tidak perlu mengeluarkan uang.

Orang yang celaka shalatnya ialah orang yang riya shalatnya dan tidak mau memberikan pertolongan kepada orang miskin. Orang miskin adalah orang yang dizhalimi. Dalam Al-Qur’an amal yang paling sering disebut adalah memberi makan orang miskin. Amalan membangun mesjid malah tidak ada dalam AL-Qur’an. Bahkan ada pembangunan mesjid yang dikecam dalam Al-Qur’an, yaitu pembangunan Mesjid Dhirar.

III. Menggunjing Bersama Para Penggunjing

Wa kunna nakhûdhu ma’al khâidhîn.” Itulah jawaban ahli neraka selanjutnya ketika ditanya jalan apa yang telah mereka tempuh sampai ke Neraka Saqar.

Kata nakhûdhu artinya berbicara atau mengobrol sedangkan kata ma’al khâidzîn artinya bersama orang-orang yang mengobrol. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa mengobrol dalam hal ini berarti mempergunjingkan orang lain, mengadu domba, mencemoohkan ayat-ayat Al-Qur’an -yang biasanya dilakukan oleh orang-orang munafik, menggunting dalam lipatan, menyakiti hati orang lain, atau menyebarkan desas-sesus. Dosa yang meluruskan jalan kita ke Neraka Saqar ialah dengan melakukan obrolan-obrolan semacam ini.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa kalau kita mendengar obrolan semacam itu. “Janganlah kamu duduk bersama mereka sampai obrolannya pindah kepada topik yang lain.” (QS. An-Nisâ 140)

Jika Anda melakukan itu, walaupun Anda shalat dan memberi makan orang miskin, Anda tetap akan masuk Neraka Saqar.

Dari uraian di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa terdapat tiga tarekat atau suluk yang membawa kita ke neraka:

1. Meninggalkan shalat.

2. Tidak memberi makan kepada orang miskin.

3. Rajin menyebarkan desas desus, isu, dan mempergunjingkan orang lain.[]

 

____________
sumber: www.misykat.net/article/167935/banyak-jalan-menuju-neraka-by-kh-jalaluddin-rakhmat.html

2 Jurus Ampuh Melawan Setan

Setiap saat mengandung seratus pesan dari Allah. Pada setiap sekali seruan Ya Allah, Dia menjawab seratus kali : “Aku di sini”

Setan sebagai kosekwensi dari asal usul penciptaanya maka ia mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat serta berubah-ubah wujud sebagaimana yang dikehendakinya. Menyadari betapa beratnya musuh kita. Mungkinkah manusia dapat mengalahkan segala bentuk makar mereka?

Menurut para sufi, ada beberapa jalan untuk mengalahkan setan, diantara jalan yang paling penting adalah menyadari betapa sangat menentukan sekali bantuan Allah di dalam menghadapi rencana jahat setan. Kata mereka, Setan haruslah kita anggap sebagai seekor anjing yang dimiliki atau dikuasai Tuhan.

Jika Anda ingin menemui Tuhan maka ketika Anda digonggong setan, Anda haruslah meminta pertolongan pada yang memiliki atau yang menguasai setan tersebut. Anda tidak perlu meladeni gonggongan setan, karena itu akan percuma. Anda cukup hanya dengan mengontak yang menguasai setan agar ia tidak menggaggu atau menyerang Anda, pasti Anda akan selamat.

Melawan setan dengan hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri adalah kemustahilan.

Cobalah Anda bayangkan, jika Anda diserang oleh banyak orang sementara yang menyerang Anda tidak sendirian dan Anda tidak dapat melihat mereka, tentu saja Anda pasti akan menerima kehancuran. Demikian pula Anda sekarang ini, di dalam keadaan yang seperti itu.

Jadi, hadapilah setan yang menyerang kita secara licik dan curang dengan mengandalkan bantuan Allah yang menguasai setan. Memohonlah akan bantuan Allah untuk menghadapi segala bentuk rencana jahat setan, karena permohonan kita akan dijawabnya dengan baik, bahkan kata Rumi, ketika anda memohon sekali, maka seratus jawaban dari Tuhan akan Anda terima.

Renungilah apa yang dinyatakan Rumi dalam Matsnawinya:
“Setiap saat mengandung seratus pesan dari Tuhan : Pada setiap sekali seruan Ya Tuhan, Dia menjawab seratus kali : “Aku di sini”

Lagi pula, siapakah yang tidak akan selamat dari segala bahaya serta terangkat dari segala bentuk kesulitan dan penderitaan apabila Allah telah bersama-Nya. Walaupun ribuan perangkap setan telah disebarkan untuk menghancurkan kita, selama Allah bersama kita maka semua usaha itu akan menjadi sia-sia.

Sangat tepat apa yang dikatakan Rumi di dalam Mastnawinya:
“Ada seribu perangkap di kaki kita sekalipun, selama engkau bersama Kami, kesulitan tidak ada”

Jalan yang kedua untuk menghindari serangan setan yang berefek buruk atas perjalanan manusia menuju Tuhan adalah tidak membiarkan di dalam hati kita berbagai santapan atau makanan dan keadaan yang sangat disukai setan.

Kata Sufi, setan memerlukan makan dan tempat tinggal. Jika di dalam hati kita terdapat banyak santapan yang disukai setan dan hati kita dipenuhi keadaan yang disukainya, maka jangan salahkan jika kita selalu menjadi sasaran empuk setan.

Ibarat seekor anjing kelaparan, itulah setan. Ketika anjing melihat makanan yang disukainya ada disuatu tempat maka anjing itu akan menyerbunya. Segala teriakan kita untuk mengusirnya tidak akan digubrisnya. Bahkan, terkadang teriakan pemilik anjing tersebutpun tidak digubrisnya sama sekali karena saking laparnya.

Artinya, ketika Anda diserang setan, boleh jadi karena banyak santapan yang disukai setan di dalam hati Anda, atau keadaan di dalam hati Anda sangat nyaman untuk hidup mereka. Jika demikian keadaannya, maka tidaklah aneh jika Anda kewalahan untuk melawan atau mengusir setan.

Ribuan kali Anda berteriak atau memanggil-manggil Tuhan jika makanan itu tidak Anda singkiran maka semua harapan Anda kepada Tuhan akan menjadi sia-sia.

Semua itu karena kesalahan Anda telah membiarkan hati Anda dipenuhi makanan yang disukai setan. Jika sekali Anda mengusirnya -maka, karena makanan yang disukainya masih ada di dalam hati Anda, ia akan datang kedua kalinya untuk menyantap santapan itu. Begitu pula seterusnya.

Dengan demikian, berlindung kepada Allah sekalipun untuk mengusir setan akan menjadi tidak efektif selama santapannya masih memenuhi hati Anda. Untuk itu, kata para Sufi, mulailah Anda menyingkirkan segala makanan yang disukai setan itu di dalam hati Anda, niscaya Anda akan selamat.

Selain itu, janganlah Anda membiarkan hati Anda nyaman untuk setan. Buatlah agar kondisi hati Anda menjadikan setan tidak betah untuk tinggal di dalam hati Anda.

Membiarkan kondisi hati Anda nyaman dan cocok untuk setan tentu saja akan membuat setan sekuat tenaga untuk tinggal di dalam hati Anda. Setan itu laksana kumbang untuk ruhani kita, jika ruhani kita dipenuhi kotoran maka yang akan selalu hadir di dalam hati adalah kumbang.

Benar apa yang dikatakan Rumi: “Taman adalah tempat tinggal burung bulbul : Kotoran bertimbun hanya cocok untuk kumbang”.

 

SANTAPAN-SANTAPAN SETAN

Setan “betah” tinggal di hati manusia karena ulah manusia itu sendiri yang menyebabkan pada hati mereka ada makanan yang disukai setan.

Makanan setan disini maknanya adalah segala hal yang membuat setan betah di hati manusia. Jadi disini bukan makna makanan dalam arti yang sebenarnya.

Lalu apa yang bisa menjadi makanan setan? Karena setan seperti lalat yang “suka kotoran”, maka jika hati kita banyak kotoran dosa berarti pada diri kita ada makanan kesukaan setan.

Ada banyak dosa dalam Islam, namun dosa yang sangat kotor yang tentu saja sangat disukai setan adalah dosa “syirik”. Pernah Rasulullah mengatakan bahwa malaikat rahmat tidak akan masuk rumah dimana ada anjing didalamnya. Bisa dimaknai hadits tsb lebih dalam bahwa hati yang ada padanya “sifat najis” layaknya sebagaimana ada pada anjing, maka Allah tidak akan hadir memenuhi rahmat Nya pada hati seseorang.

Najis yang terberat disisi Allah adalah kemusyrikan, sebagaimana dinyatakan pada Quran, “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis (At-Taubah : 28). Lalu siapakah orang musyrik itu? Berikut beberapa pernyataan Allah tentang siapa orang musyrik itu, yaitu diantaranya :

SANTAPAN SETAN 1: PEMECAH BELAH KAUM MUSLIMIN

… dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Ar-Ruum : 31-32)

Setiap orang yang telah bersyahadat maka ia adalah muslim. Tak boleh seseorang memandangnya sebagai non muslim. Sebesar apapun dosa seorang muslim, maka selama “lahirnya” masih menyatakan sebagai muslim tidak boleh kita mengeluarkannya dari barisan kaum muslimin. Penyesatan dan pengkafiran tidak boleh diucapkan seseorang kepada muslim yang lain selama syahadat masih diakuinya.

Miqdad bin Aswad ra berkata: “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku bertemu dengan seorang kafir, lalu ia menyerangku. Dia penggal salah satu tanganku dengan pedang, hingga terputus. Kemudian ia berlindung dariku pada sebuah pohon, seraya berkata: Aku menyerahkan diri kepada Allah (masuk Islam). Bolehkah aku membunuhnya setelah ia mengucapkan itu? Rasulullah saw. menjawab: Jangan engkau bunuh ia. Aku memprotes: Wahai Rasulullah, tapi ia telah memotong tanganku. Dia mengucapkan itu sesudah memotong tanganku. Bolehkah aku membunuhnya? Rasulullah saw. tetap menjawab: Tidak, engkau tidak boleh membunuhnya. Jika engkau membunuhnya, maka engkau seperti ia sebelum engkau membunuhnya, dan engkau seperti ia sebelum ia mengucapkan kalimat yang ia katakan. (Muslim)

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid r.a.: Rasulullah SAW pernah mengirimkan kami dalam suatu pasukan (sariyyah); lalu pada pagi hari kami sampai ke Huruqat di suku Juhainah, di sana saya menjumpai seorang laki-laki, dia berkata, “La ilaha illallah – tiada tuhan selain Allah,” tetapi saya tetap menikamnya (dengan tombak), lalu saya merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hati saya. Setelah sampai di Madinah, saya memberitahukan hal tersebut kepada Nabi SAW., lalu beliau bersabda, “Dia mengatakan, ‘La ilaha illallah’, kemudian kamu membunuhnya?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh dia mengatakannya hanya kerana takut pada senjata.” Beliau bersabda, “Tidakkah kamu belah dadanya, lalu kamu keluarkan hatinya supaya kamu mengetahui, apakah hatinya itu mengucapkan kalimat itu atau tidak?” Demikianlah, beliau berulang-ulang mengucapkan hal itu kepada saya sehingga saya menginginkan seandainya saya masuk Islam pada hari itu saja. (Muslim)

Ada yang berseru : “Ayo kita murnikan Islam. Kita hidupkan Sunnah. Kita tegakkan Tauhid”. Seruan ini, bagi yang awam seperti seruan yang mulia, padahal acapkali seruan mereka menyebabkan pengikutnya mudah menghina ummat Islam lain yang mereka anggap tidak lurus dan sesuai “Sunnah” sebagai Ahlul Bid’ah, Sesat, Musyrik, Kafir, dsb. Bahkan ekstrimnya mereka bunuh Muslim lainnya dengan alasan yang dibunuh adalah “Musuh Allah”. “Musuh Tauhid”.

Parahnya para penyeru dakwah ‘ala manhaj ini umumnya awam dan direkrut di kampus-kampus, merasa mereka sudah mengikuti Al Qur’an dan Sunnah meski baru belajar 1-2 tahun (dikarbit jadi da’i atau ustad). Karena gaya dakwah mereka, umat Islam menjadi PECAH-BELAH. Benturan dan konflik sesama mereka terjadi. Islam yang memaklumi adanya perbedaan pendapat dan memberi solusi agar umat tetap lapang dada dan dalam bingkai Fastabiqul Khoirat menjadi jauh dari solusi tsb. Justru yang terjadi, saling mengkafirkan atau menyesatkan dan masing masing bangga dengan kelompoknya masing-masing.

Sungguh pengkafiran dan penyesatan sering kali timbul dari sikap “sombong” dan “merasa suci”. Padahal merasa suci adalah sifat yang sangat dikecam Allah dan dapat menyebabkan kejatuhan spiritual disisiNya. Sikap sombong sungguh telah merampas otoritas Allah sebagai Hakim yang sebenarnya. Karenanya mereka yang memecah kaum muslimin dipandangnya sebagai orang musyrik. Memecah belah disini adalah sikap mudah menyesatkan, mengkafirkan dan menganggap orang lain bukan orang Islam. Ini adalah bentuk kesombongan dan perampasan atas otoritas Allah. Bagi Allah sikap tsb adalah najis yang pastinya Allah tidak akan hadir dihati orang tsb untuk mengirim kasih sayang Nya pada dirinya.

Khawarij adalah kelompok kaum muslimin yang sangat taat secara ritual, sangat sering berpuasa sunnah dan membaca Quran, namun sikap dan perbuatan mereka sangat memecah ukhuwah Islam. Niat baik mereka untuk menegakkan Quran dan Sunnah sangat besar. Akan tetapi, niat baik saja itu tidak dapat merubah perbuatan buruk menjadi baik. Betapa banyak orang berniat baik tapi tidak mendapatkan kebaikan. Orang-orang Khawarij sendiri justru sangat dikecam dalam agama dan diperangi oleh Sahabat Nabi, dan dinyatakan Nabi :“Mereka keluar dari agama bagaikan anak panah yang menembus targetnya.” (Bukhari dan Muslim)

Dari sini, jika kita merasa lebih baik dan mudah menyesatkan berarti hati kita telah dipenuhi najis dosa syirik. Orang orang yang seperti itu termasuk kelompok Khawarij yang disebut Nabi telah keluar dari Islam. Sikap Khawarij bisa dikatakan sebagai santapan lezat para setan, karena rusaknya Islam buah dari sikap dan perbuatan mereka.

Setan sangat senang berada pada hati para Khawarijiyin karena tujuan dan misi setan begitu mudahnya tercapai jika cara pandang berislam ‘ala Khawarij berkembang dimuka bumi ini. Lihatlah dimana paham Khawarij berkembang (ISIS dan sejenis) maka kebiadaban, kebengisan, pelecehan atas sesama manusia dan pengrusakan terjadi dimana mana. Bisa dikatakan, bersama Khawarij, setan semakin sehat dan gemuk .

SANTAPAN SETAN 2: MENYALAHKAN ALLAH

“Dan berkata orang-orang musyrik: ‘Jika Allah menghendaki niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak bapak kami…. “. (An-Nahl : 35)

Dari yang kita diskusikan sebelum ini, maka disimpulkan bahwa santapan lezat untuk setan yang pertama adalah segala sikap dan tindakan yang memecah Islam dan kaum muslimin. Merasa paling benar dan memandang kaum muslimin lainnya sebagai orang sesat dan diluar Islam, adalah sebagai sumber penggerak dari sikap dan tindakannya tsb.

Lalu santapan lezat setan yang kedua yang juga bagian dari perbuatan syirik yang najis yaitu : “Memandang perbuatan buruk atau dosa-dosanya sebagai takdir yang telah ditentukan Allah”.

Quran menjelaskan siapa itu orang musyrik, diantaranya mereka yang memandang keburukkan dan ketidaktaatannya sebagai takdir yang ditentukan Allah sebagaimana informasi dari ayat diatas.

Orang musyrik yaitu mereka yang suka menyalahkan Tuhan. Jika ia gagal, kena bencana atau terjatuh dalam perbuatan maksiat maka Allah yang disalahkan. Mereka merasa apa yang telah terjadi adalah episode kehidupan yang sudah ditentukan dan tidak mungkin bisa dihindari. Allah yang Maha Kuasa dengan takdirnya atas diri mereka pasti akan terjadi dan tak mungkin bisa mereka hindari.

Saat seorang artis diwawancari kenapa pernikahannya gagal, ia menjawab bahwa ia pasrah dengan apa yang terjadi. Ini memang sudah digariskan Allah atas dirinya. Perceraian yang terjadi menurutnya adalah ketentuan Allah yang pasti akan terjadi dan tidak mungkin ia bisa meghindarinya.

Selintas orang awam akan tertipu dengan perkataannya. Tampaknya ia sangat islami dan ekspresinya seperti ungkapan kesolehan. Padahal dalam perkataannya ada sikap yang sangat membuat Allah marah dan memandang Allah sebagai penyebab kegagalan hidup atau rumah tangganya.

Sikap tsb sangat menyerang dan menyalahkan Allah, karenanya Allah menyebut tindakan menyalahkan Tuhan sebagai tindakan syirik. Muungkin Anda pernah saksikan di media sosial ada suami istri yang berdialog tentang anaknya yang masuk penjara karena urusan Narkoba. Saat ibu dari anak tsb menangis histeris, sang suami menenangkan istrinya sambil berkata padanya :”Sudahlah mama, sabar….mama harus ikhlas dengan taqdir Allah. Semua yang telah terjadi sudah Allah tentukan. Sebagai orang beriman harus percaya bahwa taqdir Allah pasti tidak bisa kita hindari”.

Perhatikan apakah ada yang salah dari pernyataan tsb? Pastinya orang awam memandang perkataan tsb sebagai ekspresi kesolehan, akan tetapi sadarilah bahwa pernyataan tsb sudah melecehkan Allah. Karena tidaklah mungkin Allah melakukan hal seperti itu.

Sungguh pernyataan sang artis atau ayah dari anak bermasalah tsb adalah hanya untuk menutupi kesalahan dalam menjaga dirinya atau menjaga keluarganya. Mereka merasa tak bersalah atas kejadian buruk yang menimpa mereka. Tampaknya yang paling mudah untuk menunjukkan kesolehan dihadapan orang lain dan menutupi aibnya adalah bahwa semua yang terjadi adalah sudah ditentukan Allah. Perceraiannya atau kenakalan anaknya memang sudah ditentukan Tuhan. Itulah pandangan orang yang sangat keliru dan merusak prinsip Tauhid.

Buat apa Allah ciptakan surga dan neraka yang untuk memasukinya amal soleh sebagai jalannya, namun manusia sudah ditentukan siapa yang akan menjadi orang soleh dan orang jahat? Mungkinkah, sebagaimana dalam Quran dan Hadits dinyatakan bahwa Allah akan menghukum siapa pelaku kedzaliman, jika siapa yang berbuat zalim itu sudah ditentukan nasibnya oleh Allah sebelumnya?

Masuk akalkah jika Allah akan memberi surga untuk mereka yg beriman dan beramal saleh jika sebelumnya siapa yang akan beriman dan beramal soleh sudah ditentukan taqdirnya? Buat apa agama diturunkan jika semua orang soleh dan orang jahat sudah digariskan oleh Tuhan? Buat apa para Nabi diangkat untuk menyelamat manusia namun sebenarnya nasib umat manusia sudah ditentukan apakah akan menjadi orang beriman atau orang kafir? Buat apa Quran turun sebagai petunjuk namun mereka yang sesat dan yang mendapat petunjuk sudah ditentukan sebelumnya?

Jelas pandangan tsb sangat keliru dan keluar dari konsep tauhid yang sebenarnya. Konsep tauhid yang seperti itu akan menyebabkan Allah selalu menjadi penyebab kegagalan, kerusakan, keburukkan dan keingkaran manusia. Seperti seorang ayah yang telah saya sebutkan diatas saat menenangkan istrinya. Ia tenangkan istrinya dengan pernyataan yang sangat merusak tauhid. Ia katakan bahwa anaknya terkena narkoba karena itu memang garis atau ketentuan yang sudah ditentukan atasnya oleh Allah.

Tentu saja pernyataannya akan berbeda dalam menyikapi sukses dan keberhasilannya dalam bisnisnya. Biasanya mereka yang logika tauhidnya seperti ini akan berkata bahwa suksesnya karena ia sangat sabar, ulet dan profesional dalam usahanya. Disini peranan Allah dicampakkan. Keberhasilannya diakui buah profesionalismenya dalam bekerja.

Menyalahkan Allah hakekatnya adalah tindakan perbuatan dosa yang sangat najis disisi Allah, karenanya pelakunya dalam Quran dimasukkan sebagai musyrik. Sikap inilah yang akan menyebabkan setan hidup sehat dan bahagia, karena sikap tsb hakekatnya adalah santapan yang sangat menyehatkan buat para setan.

SANTAPAN SETAN 3: MAKANAN HARAM

Rasulullah bersabda : “Sungguh aku tahu berkaum-kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan terang yang banyaknya sebanyak pegunungan “Tihamah”, kemudian Allah jadikan semua amalnya itu debu-debu yang beterbangan.”

Tsauban bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا ، جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ
“Ya Rasul Allah jelaskan kepada kami mereka itu siapa? Terangkan kepada kami supaya kami tidak masuk golongan mereka tanpa kami sadari?“

أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا
“Mereka adalah saudara-saudara kamu juga, dari golongan kamu. Mereka juga mengambil waktu malam untuk beribadat seperti kamu juga. Cuma mereka itu ketika dihadapkan pada apa yang diharamkan Allah, mereka segera melakukannya.” (HR Ibn Majah)

Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw bersabda:

“Baguskan makananmu, doa-doamu akan diijabah, karena demi yang jiwaku ada di tangannya, jika seorang hamba memasukkan satu suap yang haram ke dalam perutnya, Allah tidak menerima seluruh amal salehnya selama 40 hari. Daging yang tumbuh dari makanan yang haram maka neraka yang paling dahulu memakannya”.

Jika sesuap makanan yang haram membakar amal kita selama 40 hari. Lalu bagaimana jika selama puluhan tahun kita menikmati makanan haram. Berapa suap makanan haram yang telah kita telan? Apakah daging kita saat ini tumbuh dari barang yang haram? Apakah yang membuat kita bisa melakukan berbagai aktifitas sumber energinya dari barang yang haram?

Sungguh api neraka adalah yang akan kita nikmati jika seluruh tubuh kita pernah menikmati makanan yang haram. Selama kita belum bertaubat secara benar terkait barang yang haram maka kita tidak akan pernah lepas dari panasnya api neraka.

Makan haram disisi Allah adalah najis berat yang sangat dibenci Allah. Sesuap saja makanan haram yang kita nikmati akan membakar amal soleh kita selama 40 hari, lalu bagaimanakah nasib kita jika jutaan suap makanan haram yg telah kita nikmati, bahkan telah menjadi daging pada diri kita?

Bisa saja badan phisik Anda tumbuh sehat afiat karena pola makan dan gaya hidup Anda dijaga dengan baik, namun jika itu tumbuh dari makanan yang haram maka Anda akan semakin jauh dari Allah dan segala kebaikan yang kita lakukan akan terbakar habis sebelum diri Anda sendiri yang dibakar api neraka.

Jika saat ini Anda masih menikmati lezatnya santapan haram dan tidak segera bertaubat, maka saat ini sebenarnya yang sehat dan gemuk adalah setan, karena makanan haram adalah santapan bergizi disisi setan. Akhirnya, kehidupan Anda akan menderita baik di dunia dan akhirat karena pada hati Anda sudah dipenuhi para setan yang menjadi parasit atas kehidupan Anda

SANTAPAN SETAN 4: “MENJADI ‘SOMEBODY'”

“Contrary to popular thinking and what modern man aspire and strive for, the goal of human life is actually not to be somebody, but to be NOBODY!” (Prof. Hossein Nashr)

Menurut para Sufi, jika engkau ingin menemui Allah, lalu kau mengetuk pintu rumah-Nya agar diizinkan masuk. Pasti Allah akan bertanya “Apa hak mu untuk masuk rumah-Ku?”

Jika kau menjawab “aku telah mematuhi semua perintah-Mu, ijinkan aku masuk ke rumah-Mu”. Kau akan saksikan Pintu Rumah-Nya “tetap tertutup”.

Jika kau kembali mengetuk pintu rumah Allah berharap kau diizinkan masuk kerumah-Nya. Allah akan bertanya dengan pertanyaan yang sama, “Apa hak mu untuk masuk rumah-Ku?”

Jika kau menjawab “aku telah menjauhi semua larangan-Mu, ijinkan aku masuk ke rumah-Mu”. Pintu tetap tertutup, itulah yang kau kan saksikan.

Jika kau mengetuk kembali pintu rumah-Nya. Allah akan bertanya dengan pertanyaan yang sama, “Apa hak mu untuk masuk rumah-Ku?” Jika kau menjawab “aku bukan siapa-siapa tanpa rahmat-Mu”. Akan kau saksikan “Pintu Rumah-Nya terbuka lebar untukmu.

Dihadapan Allah, hambaNya yang mulia yaitu mereka yang merasa sangat berharap (Roja) kepada Allah, berharap ampunan dan kasih sayangNya. Saat kehadiran seorang hamba sementara kesombongan masih bercokol pada hatinya maka semua pengabdian dan ibadahnya menjadi sia-sia.

Merasa solat, puasa, zakat, haji atau ibadah-ibadah sunnahnya – pasti akan menyelamatkan dirinya selamat dari neraka pun justru akan menyebabkannya masuk neraka. Itulah buah ketergantungan pada amal solehnya sebagai indikator kesombongannya yang masih bercokol pada hatinya.

Disisi Allah menjadi “nobody” – bukan siapa-siapa – adalah bentuk kesadaran tertinggi seorang manusia. Kita terlalu sering membanggakan diri kita dan merasa menjadi somebody, sementara apa yang dilakukan tsb adalah hijab untuk meraih kemuliaan disisi Allah. Karena apa yang dilakukan tsb adalah percikan dari sifat sombong yang dimilikinya. Padahal kesombongan disisi Allah sebagai najis yang sangat dibenci Allah.

Kita pasti ingat kisah Nabi Musa yang diminta Allah untuk mencari orang yang lebih hina dari dirinya. Singkatnya setelah mencari kemana-mana ia merasa tidak menemukannya. Lalu ia sampaikan kepada Allah. Mendengar laporan Nabi Musa, Allah berkata : “Wahai Musa, seandainya kau merasa ada orang yang lebih rendah dan hina darimu maka Aku akan hapus namamu dari daftar kenabian”.

Demikian kemarahan Allah pada mereka yang merasa menjadi “somebody” dan memandang sesama sebagai “nobody”.

Untungnya Nabi Musa tidak merasa ada yg lebih hina darinya, karena jika tidak pastinya pelajaran Agama di sekolah atau di Pesantren tidak akan ada nama Nabi Musa sebagai seorang Nabi.

Menjadi somebody adalah kotoran najis yang sangat disenangi setan. Ibarat lalat saat melihat kotoran binatang atau manusia – pastinya lalat lalat tsb berdendang bahagia. Karenanya, jika Anda mau setan jauh dari hati Anda, maka jadilah “nobody bukan somebody”.

____________________________
oleh Ustadz Aguz Suriyaman
sumber penulisan:
1. https://www.facebook.com/quranicsmart/posts/1532845693439188
2. https://www.facebook.com/quranicsmart/posts/1534349283288829
3. https://www.facebook.com/quranicsmart/posts/1535768143146943
4. https://www.facebook.com/quranicsmart/posts/1536964956360595
5. https://www.facebook.com/quranicsmart/posts/1542211019169322

Islam Adalah Zona Lahir, Sedangkan Iman adalah Zona Bathin

Beriman adalah urusan hati dan hanya sebagai otoritas Allah untuk menilai. Manusia dilarang keras mengambil otoritas tsb. Manusia tidak mampu menembus area hati seseorang, apakah ia seorang mukmin yang sebenarnya atau tidak.

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman’. Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah berislam’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu ….. (Al-Hujurat : 14)

Pengakuan sebagai seorang mukmin sebagaimana ayat yang telah dikutip telah dibantah Allah – menunjukkan Iman yang sebenarnya pada area hati.

Pengakuan lisan atau prilaku lahir bukan ukuran Iman namun baru ukuran keislaman. Secara tegas ayat yang dikutip tsb menyatakan bahwa Islam dan Iman itu berbeda.

Islam adalah zona lahir sedangkan Iman adalah zona bathin.

Penampilan dan pengakuan lahir adalah barometer untuk menilai keislaman orang sedangkan menilai keimanan orang lain bukan wewenang manusia karena ini terkait hati manusia.

Jika Anda melihat orang yang menjalankan ibadah ritual atau secara lahiriyah menyatakan sebagai muslim maka Anda harus menilainya sebagai seorang Muslim.

Apapun kekurangannya tetap tidak boleh dipandang sebagai bukan muslim. Perbedaan madzhab atau pandangan sekalipun jika ada selama ia bersyahadat bahwa Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad sebagai Rasulullah maka ia tetap dalam bagian dari kaum muslimin.

Disini sesama Muslim harus selalu lapang dada atas realitas perbedaan yang ada, tetap menjaga ukhuwah dan bersama-sama untuk fastabiqul khoirot.

Jadi, sesama mereka tidak perlu sibuk menilai keislaman yang lain. Cukup lapang dada atas realitas perbedaan yang ada dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Adapun terkait keimanan orang lain tidak perlu kita sibuk untuk menilainya karena memang bukan wewenang manusia.

Cukuplah Syahadat sebagai barometer menilai keislaman orang lain dan menghindari untuk menilai keimanan mereka.

Cahaya ayat yang telah dikutip tsb sebenarnya mendorong umat yang tidak mudah menyesatkan sesama muslim. Kita ditekankan untuk sibuk menilai orang lain pada lahirnya semata. Terkait iman yang sebenarnya kita serahkan pada Allah.

Perbedaan dalam memahami Islam adalah ujian. Sejak dini, banyak yang gagal untuk terus tetap bersatu membangun ukhuwah. Peperangan yang telah terjadi antara sesama muslim yang telah memakan ratusan ribu jiwa menunjukkan tidaklah mudah untuk selalu lapang dada dan tetap dalam ukhuwah.

Perang shiffin, perang jamal, perang nahrawan dll., yang terjadi pasca Rasulullah wafat yaitu peperangan antara sesama kaum muslimin, adalah bukti bahwa perbedaan pendapat adalah ujian yang maha berat.

Menjaga persaudaraan dan persatuan adalah amal sholeh yang sangat sulit untuk dilakukan.

Bukalah lembaran lembaran sejarah kaum muslimin pasti akan kita dapati potret buram atau episode yang sangat memilukan. Bayangkan ratusan ribu kaum muslimin tewas terjadi karena perbedaan yang ada.

Ujian tsb akan selalu hadir selama matahari bersinar dari Timur. Walaupun Allah akan memberikan ganjaran pahala yang sangat besar atas mereka yang ikut terlibat aktif menjaga ukhuwah dan persatuan sesama muslim, namun sepanjang sejarah kaum muslimin masih banyak yang belum sanggup menghadapi ujian menjaga ukhuwah.

Tampaknya, tidak sedikit umat Islam gagal untuk menjadi umat yang berpihak pada komitmen menjaga persatuan dan persaudaraan. Jelas bersatu disini bukan harus dalam satu organisasi atau lainnya, namun terletak pada sikap selalu lapang dada dengan perbedaan yang ada dan terus bekerja sama dalam Fastabiqul Khoirot.

Sulitnya untuk menghadapi ujian tsb, tidak boleh membuat kita pesimis dan pasrah dengan realitas benturan konflik antara sesama muslim yang tak pernah reda.

Percayalah, kedewasaan dalam berislam adalah solusinya. Pendidikan dan dakwah Islam Rahmatan Lil Alamin pasti akan mengingatkan kepada fithrah manusia kepada jalan kesucian.

Karena itu, mulailah dari kita masing masing untuk berislam dengan toleransi yang tinggi dan berlomba lomba berkarya untuk kebahagiaan dan kemanfaatan bersama.

Itu saja tugas kita. Jika semua kaum muslim menjaga komitmen ini pasti Islam akan memimpin perabadaban dunia.

(Ustadz Aguz Suriyaman)

Nazar, Salah Satu Cara / Amalan Agar Doa Dikabulkan

Mungkin kita semua pernah menginginkan sesuatu terjadi segera atau mengharapkan hal yg baik berlangsung selama hajat tertentu sdg kita laksanakan.
 
Orang tua mengharapkan anaknya dapat diterima di sekolah yg baik. Seorang suami mengharapkan keselamatan istri dan anaknya ketika melahirkan. Seorang gadis berharap mendapatkan pasangan yg shaleh, dan lainnya.
 
Sekiranya kita menginginkan harapan kita segera terwujud … disamping berdo’a, Allah SWT juga mengajarkan kita utk mengikat janji dgn-Nya melalui apa yg disebut al-Qur’an dg kata “Nazar”.
 
Al-Qur’an mencontohkan sosok-sosok mulia yg mengikat nazarnya dihadapan Allah SWT ;
 
“Ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS 3:35)
 
“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.(QS 19:26)
 
Allah SWT juga menggambarkan upaya hamba-hamba-Nya yg shaleh agar terhindar dari keburukan melalui Nazar;
 
“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.”(QS 76:7)
 
“Hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka”(QS 22:29)
 
Suatu saat Rasulullah Saw melihat kedua cucunya al-Hasan dan al-Husein yg dlm keadaan demam. Kemudian Rasul berkata kepada Ali. “Wahai Abal Hasan bernazarlah agar Allah menyembuhkan kedua putramu”,
 
Ali berkata “Aku bernazar utk berpuasa tiga hari sebagai syukurku kpd Allah”, Nazar Ali diikuti istrinya Fathimah dan pembantunya Fiddhah. Dan Allah menyembuhkan kedua cucu Rasulullah Saw tersebut.
 
Jika Allah dan Rasul-Nya saja mengajarkan Nazar, tidak salahnya kita melakukannya dgn mengikat janji antara diri kita dg Allah SWT jika ada hal-hal yg baik yg kita inginkan terjadi dlm kehidupan kita.
 
Melalui Nazar Allah ingin melihat kesungguhan kita.
___________________
source: kuliah ramadhan Ustadz Kholid al Walid

6 Cara Allah Mengabulkan Do’a Doa Hamba-Nya? Doa kita pasti terkabul

Allah SWT pasti menjawab Do’a hamba-hamba-Nya. “Maka Allah-lah yg menjawab doa ketika hamba berdoa” (QS 2:186.)

Allah SWT berjanji, “Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku jawab” (QS 40:60)

Dan pada ayat lainnya, “Sesungguhnya Allah tdk akan mengingkari janji-Nya“(QS3:9.)

Maka yakinlah bahwa doa-doa kita pasti di ijabah oleh Allah SWT.

Namun Allah SWT memiliki cara tersendiri dalam.menjawab doa hamba-Nya. Berikut adalah 6 cara Allah mengabulkan doa-doa hambanya:

1. Memberi apa yang diminta

Rasulullah Saw bersabda; “Maka aku beritakan berita gembira tiga hal yg terjadi pada orang yg berdoa ‘segera Allah memberikan apa yg dia minta, Allah menggantikan dg yg lebih mulia atau Allah memalingkan darinya bencana yg sekiranya bencana itu menimpanya maka dia akan celaka.

Apa yg kita inginkan segera diwujudkan Allah SWT. Sehingga kita merasa bahagia doa kita diperkenan Allah SWT.

2. Digantikan dengan yg lebih baik

Adakalanya Allah SWT karena rasa sayang-Nya tidak memberikan apa yg kita minta, akan tetapi Allah SWT berikan apa yg lebih baik dari yg kita minta. Sesuatu yg lebih utama dan lebih sesuai utk keadaan kita. Kadang jawaban Allah dlm cara yg seperti ini tdk kita sadari.

3. Allah SWT tolakan bencana

Allah tdk berikan apa yg kita minta, Allah juga tdk jg menggantikan yg lebih baik akan tetapi Allah SWT menolak kan bencana dari diri kita dan sayangnya kita tdk menyadari cara Allah yg ketiga ini dlm menjawab doa kita.

Alkisah ada seorang musafir melewati satu lembah, ia lelah dan berisitirahat sejenak ia saksikan ada tetes-tetes air mengalir di sela bebatuan, ia ambil tetes air itu dan hendak meneguknya, akan tetapi seekor burung elang menyambar tangannya shgga air itu lepas. Kali kedua peristiwa yg sama terjadi.

Kali ketiga ia siapkan batu dan tepat ketika burung tsb menyambar tangannya ia pukul dg keras hingga burung itu menggelepar dan mati.

Tetapi sejenak ia berfikir bahwa peristiwa ini adl peristiwa aneh, ia coba naik mencari sumber air, apa yg ia saksikan di antara bebatuan di atas? Seekor ular yg begitu besar melingkar dan air td adalah bisa ular yg menetes tsb.

Betapa seringnya dlm hidup kita tangan Allah bekerja menolakkan bencana dari kita dan itu terjadi karena doa kita.

Jangan pernah terfikir Allah SWT tdk mengabulkan doa kita.

4. Memberikan ketentraman hati

Ketika seorang hamba berdoa dia tengah menghubungkan dirinya dg Allah SWT. Sebagai bentuk isyarat Allah SWT bahwa doa diterima Allah SWT adl ketentraman hati pd diri hamba yg berdoa tsb.

Ada yg datang kpd Ja’far al-Shadiq dan bertanya “Apa tanda diterimanya doa ?” Ja’far al-Shadiq menjawab “Ketentraman hati”.

Bukankah itu juga Janji Allah “Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS 13:28)

5. Allah bersihkan keburukan hamba dan gantikan dengan kebaikan

Dalam hadist qudsi Allah berfirman “Ketika hamba-Ku mengangkat tangannya Aku berkata ‘Akulah yg Maha Dermawan’, ketika hamba-Ku memohon kepada-Ku, Aku berkata ‘Hamba-Ku telah Kukabulkan doamu sblm engkau meminta’, ketika hamba-Ku mengusapkan tangannya ke wajah Aku berkata ‘Hamba-Ku sungguh engkau telah menang, telah kuhapuskan keburukanmu dan kultaruh namamu di antara hamba yg mendapat rahmat-Ku”.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman “Allah menggantikan keburukan dgn kebaikan yg banyak” (QS 25:70.)

Semakin banyak kita berdoa semakin banyak dosa yg diampuni dan semakin banyak kebaikan yg kita dapatkan.

6. Allah tunda hingga hari perjumpaan dengan Allah SWT

Dalam kitab Kalimatullah Hiya Ulya disebutkan bahwa “Seorang hamba datang kepada Allah pada hari perhitungan dan Allah berfirman kepada hamba tsb. Sungguh Aku memiliki hutang kpdmu. Hamba tsb menjawab Ya Allah, Engkaulah Tuhan alam semesta bagaimana mungkin Engkau memiliki hutang? Allah berkata “Dahulu engkau berdoa kepada-Ku dan belum Aku ijabah dan sekarang Aku bayar hutang-Ku kepadamu dan masuklah kedalam surga-Ku”

Raihlah sebanyak mungkin jawaban Allah dg memperbanyak doa-doa kita di setiap nafas kehidupan kita. Awalillah setiap aktivitas kita dg doa dan akhirilah juga dg doa.

________________
sumber: * dikutip dari: Kuliah Ramadhan “Ma’rifat Doa” – Kholid Al Walid