Dalam Berdo’a, Mengapa Tidak Meminta Langsung Kepada Allah SWT?

Dalam berdo’a, mengapa kita tidak langsung meminta kepada Allah swt? Mengapa kita memerlukan wasilah (tawassul)? Apakah tawassul boleh?

Jawabannya adalah: tawassul memang adalah merupakan perintah dari Allah SWT, salah satunya termaktub dalam surat al Maidah ayat 35:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya (wasilah) dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kalian mendapat keberuntungan”.

Juga dalam QS.  An-Nisa ayat 64 diterangkan salah satu contoh tawassul melalui Rasulullah saw.

”Dan Kami tidak mengirim seorang rasul kecuali untuk ditaati dengan ijin Allah. Kalaulah mereka -umat- menzhalimi diri mereka sendiri -dengan dosa- lalu datang kepadamu -Muhammad- dan meminta ampun kepada Allah dan RasulNyapun memintakan ampun untuk mereka, maka sudah pasti mereka akan mendapati Allah itu Maha Penerima Taubat dan Maha Kasih.” 

Dalam video diatas diceritakan suatu contoh tawassul :

Dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khathab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muthalib, lalu Umar berkata: “Ya Allah, kami telah bertawasul dengan Nabi kami Saw. dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawasul dengan Paman Nabi kami Saw., maka turunkanlah hujan.” Maka hujan pun turun.”
(HR. Bukhari dalam Shahih al-Bukhari juz 1 halaman 137).

Istilah tawassul dalam Qur an, dipakai dalam dua versi yang berbeda:

I.  Yang menolak tawassul pada obyek tertentu, yaitu di QS. 17: 56-57:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا (56) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Katakanlah (Muhammad): ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selainNya (Allah), maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari padamu dan tidak pula memindahkannya.’
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari wasilah (tawassulan) kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah untuk dijadikan tawassulan) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzabNya, sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.”

Di ayat ini tawassulnya orang-orang kafir ditolak mentah-mentah oleh Allah.

Sebenarnya, yang ditolak bukan tawassulnya, melainkan obyek tawassulnya, yakni orang-orang yang celaka yang dianggap oleh para penawassul kafirin itu sebagai dewa-dewa atau orang hebat dan tinggi.

Sementara Tuhan yang Maha Tahu mengatakan kepada mereka para kafirin bahwa yang dijadikan tawassulan oleh kafirin itu juga mencari tawassulan agar selamat dari siksa.

Dalam larangan tawassul di ayat ini, yakni pada obyek tertentu ini, terdapat pembolehan tawassul juga. Karena Tuhan mengatakan bahwa yang dijadikan tawassulan oleh kafirin itu, juga mencari tawassulan. Ini jelas bahwa tawassul itu boleh, asal benar adanya. Siapa itu? Yaitu orang-orang yang lebih dekat kepada Allah sebagaimana jelas digambarkan di ayat ini.

II.   Yang memerintahkan tawassul, yaitu di QS. 5:35:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan berpegang teguhlah pada wasilah-wasilah menujuNya dan berjuanglah di jalanNya agar kalian menjadi menang/berjaya.”

Dalam ayat ini jelas dengan muhkam/muhkamat, Tuhan memerintahkan kita untuk bertawassul dengan suatu obyek untuk mendekatiNya.

PEMBAHASAN

Kalau kedua ayat di atas digabung, maka dengan mudah menarik kesimpulan akan maksud Tuhan terhadap tawassul atau berperantara ini, yaitu:

1.  Bahwa yang dilarang Tuhan itu bukan tawassulnya, melainkan obyek tertentu dari tawassulnya. Yaitu orang kafir, pendosa dan siapa saja yang jauh dari Allah dan tergolong orang-orang yang celaka.

2.  Tawassul itu mesti dengan orang yang lebih dekat kepada Allah sebagaimana dijelaskanNya pada ayat pertama di atas.

3.  Tuhan tidak jauh dari siapapun, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita atau lebih dekat dari kehidupan kita sendiri kepada kita. Tapi mengapa ada tawassul? Jawabannya adalah karena Tuhan yang dekat kepada manusia itu bisa juga murkaNya.

Apapun itu, Kuasa Tuhan pasti dekat dengan siapa saja. Nah, yang dimaksud jauh dari Allah adalah yang jauh dari rahmat dan ridhaNya serta ada dalam dekapan murkaNya. Sedang yang dimaksud dekat denganNya adalah yang dekat dengan rahmat dan ridhaNya yang disebabkan oleh ketaqwaannya.

Orang-orang Wahabi tidak dapat memahami hal yang teramat mudah ini. Karena itu mereka mensyirikkan tawassul yang jelas-jelas ada di dalam Quran di atas. Salah satu alasannya karena Tuhan dekat pada manusia dan bahkan lebih dekat dari urat nadinya. Mereka tidak tahu bahwa dekatnya Tuhan pada pemaksiat seperti Fir’aun, adalah murkaNya, bukan ridhaNya.

4.  Ketika Tuhan memerintahkan tawassul dengan manusia yang lebih dekat kepadaNya sebagaimana dijelaskanNya di ayat pertama di atas, maka jelas memiliki hikmah di dalamnya, seperti:

–  Sikap mengakui dan tawadhu’ pada yang lebih mulia di sisiNya.

–  Mengenal siapa yang lebih mulia di sisiNya.

– Merangsang untuk meniru yang lebih mulia itu setelah mereka mengenali mereka, mengimani mereka dan tawadhu’ terhadap mereka (yang lebih mulia di sisi Allah).

–  Merangsang untuk mendatangi dan belajar kepada yang lebih mulia itu.

–  Tidak ada kelebihmuliaan di sisiNya yang pasti selain yang sudah dikatakanNya sendiri dalam Qur an, seperti Nabi saww dan para nabi as, Ahlulbait yang makshum as (QS: 33:33). Sedang selain mereka seperti orang shalih, syuhada’ dan semacamnya, walau bisa dijadikan tawassulan secara lahiriah, akan tetapi tidak menjamin seratus persen kebenarannya secara hakiki. Akan tetapi hal itu sudah dimaafkan olehNya karena kita memang tidak tahu batin dan tidak tahu yang hakiki sebagaimana yang diketahui di Lauhu al-Mahfuuzh.

–  Tawassulan yang lebih dijamin kemustabahannya atau keterkabulannya adalah tawassul yang memiliki unsur-unsur di atas, yaitu mengenali, mengakui/mengimani, tawadhu’, menyintai, belajar, mencontoh dan menghormati yang dijadikan obyek tawassulannya itu. Karena itulah Tuhan berfirman seperti di:

 1.  QS: 43:86:

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan tidaklah orang-orang yang meminta kepada selainNya itu memiliki syafaa’at kecuali orang yang menyaksikan (berjalan) dengan haq dan mereka mengetahuinya.”

Di ayat ini syarat mendapatkan syafaa’at adalah mengetahui jalan benar dan menjalaninya.

2.  QS: 4:64:

(وَلَو أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاؤُكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّاباً رَحيِماً)

“Dan kalau mereka berbuat zhalim terhadap diri mereka, datang kepadamu (Muhammad) lalu meminta ampun kepada Allah dan Rasulullah juga memintakan ampunan untuk mereka, maka mereka akan mendapatkan Allah itu Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.”

Di sini orang yang mau bertawassul dengan Nabi saww disuruh mendatangi beliau saww. Itu tandanya supaya dapat melihat beliau saww hingga tawadhu’, hormat, belajar dan mencontoh beliau saww.

Di ayat ini juga diterangkan bahwa salah satu dari diterimanya tawassul adalah dengan istighfar, yakni mengakui kesalahan, sedih dan meminta ampunanNya.

3.  QS: 12:97-98:

(قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ، قَالَ: سَوْفَ اسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ)

“Mereka (anak-anak nabi Ya’quub as yang menzhalimi nabi Yusuf as) berkata: ‘Wahai ayah kami, mintakanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami sesungguhnya kami adalah orang-orang yang salah.’ Berkata (Ya’quub as): ‘Aku akan memintakan ampunan untuk kalian dari Tuhanku sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Penyayang.’.”

Mengakui kesalahan dan istighfar di ayat ini jelas sekali dapat dilihat. Yakni sebagai syarat diterimanya tawassul dan syarat kelayakan mendapatkan syafaa’at.

4.  QS: 40:7:

(وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْء رَحْمَةً وَعِلْمَاً فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوُا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ)

“Dan mereka (para malaikat) memintakan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya bermohon): ‘Wahai Tuhan kami, Engkau telah meluaskan atas semuanya sebagai rahmat dan ilmu, maka ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalanMu serta lindungilah mereka dari adzab jahannam.’.”

Di ayat ini dijelaskan bahwa salah satu diterimanya tawassul itu adalah dengan berjalan di jalan Allah. Yakni hidup dengan penuh iman serta mengamalkan fiqihNya dengan baik.

______
sumber: http://catatanustadsinaragama.blogspot.com/2016/10/dalil-dalil-tentang-bolehnya-tawasul.html

Hadis Shohih Tentang Amalan Ibadah pada malam Nisfu Sya’ban

Malam Nisfu Sya’ban atau malam 15 Sya’ban merupakan malam yang diagungkan umat Islam, bahkan dianggap malam spesial setelah Laylatul Qadr di bulan Ramadan.

Pada malam Nisfu Sya’ban kaum muslimin berkumpul di masjid-masjid, surau-surau atau di rumah masing-masing. Aneka ritual dilaksanakan demi memperoleh ampunan Allah SWT yang tujuan akhirnya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an Surat 44 ayat 3-4 tertera:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (QS. Ad-Dukhan [44]: 3-4)

Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim menafsirkan surah ad-Dukhan ayat 3-4 di atas sebagai malam Nisfu Sya’ban ketika ditetapkan segala perkara dalam satu tahun.

Dalam Sahih Ibnu Hibban, hadis 1980, Syu’ab al-Iman al-Baihaqi, j. 2, h. 288, al-Kabir dan al-Awsath at-Tabrani, Musnad Ahmad bin Hanbal, hadis 6642, Ibnu Majah, hadis 1389-90, Silsilah Ahadits as-Shahihah, j. 3, h. 135, hadis 1144 terdapat riwayat yang menyatakan bahwa …

Allah SWT memeriksa makhluk-makhluknya pada malam Nisfu Sya’ban. Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali seorang musyrik dan yang saling bermusuhan.”

Juga dalam Kitab Shohih Al Jami Ash Shogir, yang disusun oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albaani, Jilid Ke 2, halaman 785, hadis No: 4628, cetakan Ke 3 Tahun 1988M/1408H, terbitan Al maktab Al Islami … Al-Albaani menukil satu riwayat/hadits yang berbunyi:

Rasulullah saw bersabda, “Pada malam Nisfu Sya’ban, Allah akan mengampuni dosa-dosa para penghuni bumi, kecuali musyrikin dan orang-orang yang bermusuhan.”

Bahkan Imam Syafi’i  (Muhammad bin Idris as-Syafi’i) salah satu dari imam 4 mazhab Ahlussunnah,  dalam Kitab Mausu’ah Al Umm, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyyah pada jilid pertama, pada halaman 395, menyatakan bahwa doa niscaya dikabulkan pada 5 malam, yaitu malam Jum’at, malam Idul Adha, malam Idul Fitr, malam pertama Rajab, dan malam Nisfu Sya’ban.

Imam Syafi’i berkata, “Dan telah sampai kepada kami bahwa sesungguhnya berdo’a di lima malam akan dikabulkan: yaitu pada malam jum’at, malam Idul Fitr, malam Idul Adha, malam awal bulan Rajab dan malam pertengahan bulan sya’ban (nisfu sya’ban). Dan aku memandang baik apa-apa yang diceritakan tentang malam-malam ini tanpa menjadikannya wajib.”

Pernyataan Imam Syafi’i ini telah dikutip oleh para ulama lintas generasi hingga sekarang ini sebagai salah satu acuan/dalil mendirikan ibadah pada malam Nisfu Sya’ban.

Silakan disimak kutipan kitab-kitab tsb pada video berikut ini:

 
Dengan adanya dorongan hadis di atas, umat Islam berlomba-lomba mencari ampunan Tuhan di malam nisfu syaban ini. Malam itu juga diyakini umat Islam sebagai malam penentuan taqdir baik dan buruknya bagi setiap muslim selama satu tahun ke depan.

Ritual Amalan Malam Nisfu Syaban Menurut Sunnah dan Syiah

Hadis-hadis tersebut diatas semakin menjelaskan kepada kita tentang keutamaan menghidupkan malam nisfu sya’ban. Karena pada malam itu Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa para penghuni bumi yang meminta ampunan-Nya.

Sungguh rugi mereka yang mengatakan bahwa menghidupkan malam nisfu sya’ban adalah bid’ah, padahal pada malam itu dosa-dosa kita akan terampuni jika kita berdo’a dan memohon ampunan Allah swt.

Bukankah Allah swt sendiri telah menegaskan dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 135 yang artinya:

“dan [juga] orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri lalu mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”

Permohonan ampunan Allah swt itu harus dimulai dari permintaan hambanya, kemudian Allah swt akan memberikan ampunan.

Nah, pada malam nisfu sya’ban itu, mari kita gunakan dengan sebaik-baiknya untuk ingat pada Allah (zikir dan ibadah) lalu memohonlah ampunan kepada Allah swt atas semua dosa-dosa kita.

Setidaknya ada 3 amalan yang dilaksanakan oleh kaum Muslimin dalam menghidupkan malam Nisfu Sya’ban ini, yaitu:

Pertama: Membaca Surah Yasin 3 Kali

Telah menjadi makruf di kalangan umat Islam di Indonesia saat malam Nisfu Sya’ban tiba, maka setiap masjid, langgar, atau surau menyelenggarakan pembacaan Yasin sebanyak 3 kali.

Muhammad ar-Radhiy ar-Ridhawi menyampaikan dalam bukunya, at-Tuhfah ar-Ridhawiyyah fi Mujarrabaat al-Imamiyyah, h. 29:

Allamah Sayid Mirza Hasan as-Syirazi berkata, “Bacalah surah Yasin ini tiga kali pada malam Nisfu Sya’ban; bacaan pertama, diniatkan agar panjang usia hingga tahun berikutnya, bacaan kedua, diniatkan agar dianugerahkan kesehatan dan terhindar dari bencana, dan bacaan ketiga, agar diberikan rezeki yang luas.

Tiap usai membaca surah Yasin, membaca doa:


Bismillahirrahmanirrahim.  Allahumma yaa Dzal-Manni laa yumannu ‘alayk, yaa Dzat-thawl, laa ilaaha illa Anta zhahrul-laajiin, wa jaar-ul-mustajiiriin, wa amaan-ul-khaaifiin. In kuntu syaqiyyan mahruuman muqattaran fir rizq, famhu fii ummil kitaabi syaqaawatii, wa hirmaanii, wa iqtaara rizqii, wa atsbitnii ‘indaka marzuuqan ‘indaka muwaffaqan lil khairaat, fa-innaka qulta fii kitaabika-l-munzal (yamhu-llaahu maa yasyaa-u wa yutsbit, wa ‘indahuu ummul kitaab.

Dengan Nama Allah Yang Mahakasih Mahasayang. Ya Allah, wahai Pemberi karunia tanpa diberi, wahai Pemilik kuasa. Tiada tuhan selain Engkau, Tumpuan para pengungsi, Suaka para pencarinya, Pengaman para penakut. Jika aku tergolong seorang yang sial, sangat fakir dan sempit rezeki, hapuslah kesialanku, kefakiranku dan kesempitan rezekiku yang ada di dalam catatan itu. Dan tetapkanlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang dipenuhi rezeki dan memperoleh taufik untuk melakukan berbagai kebajikan di sisi-Mu. Karena itu Engkau berfirman dalam kitab-Mu, “Allah menghapus dan menetapkan apa yang dikehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat ummul kitab.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 39)

Kedua: Salat 100 Rakaat

Abu Thalib al-Makki (w. 386) menyampaikan dalam kitabnya yang terkenal, Qut al-Qulub, amalan pada malam Nisfu Sya’ban berupa salat sunah 100 rakaat, setiap rakaat membaca 10 kali al-Ikhlas setelah al-Fatihah. Sehingga keseluruhannya berjumlah 1000 bacaan al-Ikhlas. Mereka menyebutnya sebagai salat kebaikan, dan boleh dilakukan berjamaah.

Al-Hasan meriwayatkan kepada kami, “Tiga puluh orang sahabat Nabi SAW berkata kepadaku, bahwa sesiapa yang melaksanakan salat ini pada malam ini, niscaya Allah memandangnya 70 kali, lalu menetapkan setiap pandangan 70 keinginan, yang terendahnya adalah ampunan.”

Bandingkan dengan salat 100 rakaat yang juga dianjurkan oleh Syekh Abbas al-Qomi dalam Mafatih al-Jinan.

Ketiga: Salat Ja’far at-Tayyar atau Salat Tasbih

Bagi yang tidak sanggup untuk melaksanakan salat 100 rakaat ada pilihan lain dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah di malam Nisfu Sya’ban, yaitu salat Tasbih atau salat Ja’far at-Tayyar.

Salat ini berjumlah 4 rakaat, dipisah dengan salam setiap dua rakaat. Rakaat pertama membaca al-Fatihah dan al-Zalzalah. Rakaat kedua membaca al-Fatihah dan al-‘Adiyat. Rakaat ketiga membaca al-Fatihah dan an-Nasr. Rakaat keempat membaca surah al-Fatihah dan al-Ikhlas.

Disebut sebagai salat Ja’far at-Tayyar adalah karena salat ini diajarkan Rasulullah SAW kepada Ja’far bin Abi Thalib a.s. Sementara disebut sebagai salat Tasbih karena di dalam salat ini membaca tasbih sebanyak 300 kali dalam 4 rakaat tersebut atau 75 kali setiap rakaatnya. Yaitu, 15 kali setelah membaca surah atau sebelum rukuk, 10 kali masing-masing saat rukuk, bangun dari rukuk, saat sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kedua, dan duduk istirahat sebelum bangkit.

Bacaan Tasbih yang dimaksud adalah:

سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ

Subhaanallah wal hamdulillah wala ilaaha illa-Allahu wallahu Akbar

Kiranya demikian yang dapat kami kumpulkan sebagai bekal untuk malam Nisfu Sya’ban. Selamat meraih usia panjang, kesehatan dan rezeki yang luas serta catatan amal baru di tahun berikutnya dengan penuh kebaikan. Insya Allah.

 

Sumber:
- https://safinah-online.com/amalan-malam-nisfu-syaban-menurut-sunnah-dan-syiah/

- https://www.youtube.com/watch?v=QtDUwwyCwpY

Hadits – Hadits Tentang Ahlul Bait Nabi SAW

Mengapa Al-Quran hanya bisa dipahami dan ditafsirkan oleh Rasulullah saww dan Ahlulbait as saja?

Karena hanya manusia-manusia suci dan disucikan oleh Allah yg mampu memahami dan menafsirkan Al-Quran. Hal ini sesuai dengan nash al-Quran, yaitu dalam surat Al-Waqi’ah ayat 79:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya (al-Quran) kecuali orang-orang yang disucikan.”

Menyentuhnya disini bukan dimaknai secara tekstual sebagai menyentuh/memegang kitab suci Al-Quran, namun harus dimaknai secara kontekstual yaitu yg mampu memahami dan menafsirkan Al-Quran.

Lalu siapa yg dimaksudkan oleh Allah orang-orang yang disucikan tersebut?

Orang-orang yang disucikan itu terdapat dalam Surat Al-Ahzab 33:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“…Sesungguhnya Allah hanya ingin menghilangkan noda dari kamu, wahai Ahlulbait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.”

Ayat Thathir (Penyucian) diatas adalah diwahyukan ketika Nabi saww berada di rumah Ummu Salamah, salah satu istri Nabi.

Asbabun Nuzul ayat ini dijelaskan dalam hadis yg sangat masyhur, shahih dan mutawatir yaitu Hadis Al-Kisa’.

Tidak main-main, hadis Al-Kisa’ ini diriwayatkan oleh 2 istri Nabi saww dan sedikitnya 17 sahabat Nabi saww dalam kitab-kitab Shahih Sunni maupun Syiah, dan hanya yg bersikap jahil dan keras kepala saja yang meragukan atau menolak hadis ini.

Hadis Al-Kisa’ yg diriwayatkan oleh Ummu Salamah:

شهر بن حوشب، عن أم سلمة : إن النبي صلى الله عليه و آله جلل على علي و حسن و حسين و فاطمة كساء، ثم قال : اللهم هؤلاء أهل بيتي و خاصتي، اللهم أذهب عنهم الرجس و طهرهم تطهيرا. فقالت أم سلمة : و أنا منهم؟ قال : انك الى خير

Syahr bin Hausyab mengutip dari Ummu Salamah yang berkata, “Sesungguhnya Nabi saww meletakkan kain Kisa’ di atas kepala Ali, Hasan, Husain dan Fathimah sambil berkata, ‘Ya Allah! Mereka inilah Ahlulbaitku. Ya Allah! Hilangkanlah dari mereka segala kenajisan dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya’. Maka Ummu Salamah bertanya, ‘Bukankah aku termasuk diantara mereka juga?’ Nabi saww menjawab, ‘Engkau berada di atas jalan kebenaran.”‘

Sumber : Musnad Ahmad bin Hambal jilid 10 halaman 197 hadis ke 26659, Sunan Tirmidzi jilid 5 halaman 699 hadis ke 3871)

Sedangkan berikut ini, Hadis Al-Kisa’ yg diriwayatkan oleh Aisyah:

صفية بنت شيبة : قالت عائشة : خرج النبي صلى الله عليه و آله غداة و عليه مرط مرحل من شعر أسود، فجاء الحسن بن علي فأدخله، ثم جاء الحسين فدخل معه، ثم جاءت فاطمة فأدخلها، ثم جاء علي فأدخله، ثم قال : إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت و يطهركم تطهيرا.

Shafiyah binti Syaibah mengutip Aisyah yg berkata, “Nabi saww keluar rumah di suatu pagi dengan mengenakan pakaian wol hitam. Kemudian Hasan bin Ali masuk dan Nabi saww menempatkannya di bawah selendang (Kisa’). Setelah itu, Husain bin Ali pun datang dan Nabi saww menyelimutinya dengan selendang beliau itu juga. Kemudian Fathimah datang dan Nabi saww menempatkannya juga di bawah selendang itu, dan akhirnya Ali tiba dan bergabung dengan keluarganya di bawah kain Kisa’ itu. Lalu Nabi saww membacakan ayat, ‘Sesungguhnya Allah hanya berkehendak untuk menghilangkan kenajisan dr kalian, wahai Ahlulbait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.”‘

Sumber : Shahih Muslim jilid 4 halaman 1883 hadis ke 2424, al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain jilid 3 halaman 159 hadis ke 4707

Riwayat ini juga terdapat dalam kitab :

1. Kitab Shahîh Sunan At-Tirmizi, karya Tirmidzi, {lahir tahun 824-892 M} halaman 870, hadis nomer 3871, terbitan Maktabah Ma’arif, Riyadh cetakan ke-dua tahun 2007 M, yang disahihkan oleh Al- Albâni:
“… dari Syahr bin Hausyab dariUmmu Salamah: …….”

2. Kitab Sunan Tirmizi, {lahir tahun 824-892 M} jilid 6, hal 387-388, hadis nomer 4121, Terbitan Risalah A’lâmiyah, Cetakan pertama tahun 2009 M* yang di tahqiq oleh Syuaib Arnaut.
“… dari Syahr bin Hausyab dariUmmu Salamah: …….”

3.  Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal {lahir tahun 780-855 M} jilid 28, halaman 195-196, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakanaan ke-dua tahun 2008 M* yang disahihkan oleh Syuaib Arnaut, hadis riwayat Watsilah bin Al-Asqâ’.

4.  Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, {lahir tahun 780-855 M} Jilid 44, halaman 118-119, terbitan Muassasah Ar-Risalah, cetakan ke-dua tahun 2008 M, yang disahihkan oleh Syuaib Arnaut: diriwayatkan oleh Ummu Salamah.

5.  Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, Jilid 11, Halaman 258, hadis nomer 13663, terbitan Dâr Al  Hadis Al-Qahirah, cetakan pertama tahun 1995 M, yang dihasankan oleh Hamzah Ahmad Zain [DL)* diriwayatkan dari anas bin malik

6.  Kitab Syarah Musykil Al Atsar, karya Abu Ja’far Ath Thahhâwi {lahir tahun 852-933 M} Jilid 8, halaman 479, terbitan Dâr Al Balansiyah cetakan pertama tahun 1999 M*
Ath Thahhâwi berkata: “Dari Anas, “Sesungguhnya Rasulullah saw  “

7.   Kitab Asy-Syari’ah, karya Âjuri  {wafat tahun 970 M} , jilid 5, hal 2208, hadis nomer 1696, terbitan Dâr Al  Al Wathan, Riyadh, cetakan. pertama tahun 1997 M, yang dihasankan oleh Muhaqiq  kitab; Abdullah bin Umar bin Sulaiman Ad-Dumaiji [DL], dari riwayat Ummu Salamah.

Siapa Itu Ahlu Dzikr Yang Dimaksud Al-Qur’an?

Hal ini diperjelas lagi dengan ayat Al-Quran yang lain tentang siapa yang dapat memahami dan menafsirkan Al-Quran dengan benar.

Terdapat dalam surat An-Nahl ayat 43…

…فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“…Bertanyalah kepada orang-orang yang memiliki risalah (Ahlu Dzikr) jika kalian tidak mengetahui.”

Risalah/al-Dzikr (Pemberi Peringatan) yang dimaksud dalam ayat diatas adalah Rasulullah saww, dan orang2 yg memiliki (Ahlu Dzikr) itu adalah keluarga/Ahlulbait Rasulullah as.

Rasulullah saww ketika ditanya tentang ayat ini siapa yg dimaksud dengan Ahlu Dzikr? Beliau saww menjelaskan…

قال رسول الله صلى الله عليه و آله : الذكر أنا و الأئمة أهل الذكر

Rasulullah saww bersabda, “Yg dimaksud dengan al-Dzikr (pemberi peringatan) itu adalah aku, sedangkan para Imam adalah Ahlu Dzikr.”

Sumber : Al-Kafi jilid 1 halaman 210 hadis ke 1

Begitu juga ketika Imam Muhammad Al-Baqir as ditanya mengenai ayat tersebut, beliau as menjelaskan…

قال امام الباقر عليه السلام : نحن أهل الذكر

Imam Muhammad Al-Baqir as berkata, “Kami adalah Ahli Dzikr yg dimaksud”.

Sumber : Tafsir Thabari jilid 10 halaman 17 hadis ke 5 dan Ibnu Syahr Asyub dalam Manaqibnya jilid 4 halaman 178

Dan masalah ini dipertegas lagi dalam surat At-Thalaq ayat 10-11…

فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ آمَنُوا قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا
رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ…

“Maka takutlah kalian kepada Allah wahai orang-orang yang memiliki pemahaman, yang telah beriman, karena Allah sesungguhnya telah menurunkan kepada kalian Dzikr (pemberi peringatan) seorang Rasul yang membacakan atas kalian ayat-ayat Allah yg mengandung keterangan-keterangan yang jelas…”

Jadi jelas dalam firman Allah diatas bahwa Dzikr (pemberi peringatan) adalah Rasulullah saww, sedangkan Ahlu Dzikr adalah ‘Itrah Ahlulbait (para Imam Ahlulbait as) dimana Allah perintahkan bagi umat manusia untuk tempat bertanya.

Disamping penjelasan ayat-ayat dan hadis-hadis diatas, maka penjelasan hadis Shahih Ats-Tsaqolain dibawah ini semakin menegaskan bahwa Ahlulbait as itu adalah padanan Al-Qur’an, dimana keduanya adalah Tali Allah yg membentang dari langit ke bumi, dan berpegang teguh kepada Tali Allah tersebut adalah suatu kewajiban agar manusia tidak tersesat setelah wafatnya Rasulullah saww.

قال رسول الله صلى الله عليه و آله و سلم : إني تارك فيكم ما أن تمسكتم به لن تضلوا بعدي، أحدهما أعظم من آخر كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض و عترتي أهل بيتي و لن يتفرقوا حتى يردا علي الوضع فانظروا كيف تخلفوني فيهما

Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya aku tinggalkan bagi kalian yg jika berpegang teguh padanya niscaya kalian tidak akan tersesat setelah aku tiada. Yang satunya lebih besar dari yang satunya lagi, yaitu Kitabullah yang merupakan Tali yang membentang dari langit ke bumi, dan ‘Itrahku, Ahlulbaitku. Keduanya tidak akan berpisah hingga bergabung denganku di Telaga Haudh. Maka perhatikanlah bagaimana kalian bersikap terhadap keduanya sepeninggalku.”

Sumber : Sunan Turmudzi jilid 5 halaman 663 hadis ke 3788 dan Al-Kafi jilid 1 halaman 294 hadis ke 3.


 

Perbedaan Antara Bid’ah Sesat dengan Bid’ah Hasanah Menurut Imam Syafi’i dan Ibn Taimiyyah

Apa sebetulnya perbedaan antara bid’ah yang sesat dengan bid’ah hasanah (yang baik)? Mari kita simak penjelasan Imam Halabi yang dikutip dari Kitab Sirah Al Halabiyyah Karya Imam Al Halabi yang bermadzhab Asy Syafi’i, Jilid pertama halaman 123, Cetakan Ke 3 Tahun 2008M Terbitan Daarul Kutub Al I’lmiyyah dan juga pandangan Ibn Taimiyyah dalam Kitab Dar’u Ta’arud karya Ibn Taimiyyah Jilid pertama, Halaman 249, Cetakan pertama tahun 2008M/1429H, Terbitan Daarul Fadhilahdalam dalam video berikut ini:

___________
Artikel lainnya:
Dalil Hukum Memperingati Maulid Nabi SAW Menurut Madzhab Syafi’i
Perayaan maulid nabi bukan bid’ah
Apakah Merayakan Maulid Nabi saw Merupakan Bid’ah?

Apakah Merayakan Maulid Nabi saw Merupakan Bid’ah?

Mari kita simak penjelasan adanya perintah (Ashli) dalam Al-Qur’an untuk memuliakan Nabi saw dalam video berikut ini:

___________
Artikel lainnya:
Dalil Hukum Memperingati Maulid Nabi SAW Menurut Madzhab Syafi’i
Perayaan maulid nabi bukan bid’ah
Perbedaan Antara Bid’ah Sesat dengan Bid’ah Hasanah Menurut Imam Syafi’i dan Ibn Taimiyyah

Saksikan! Perayaan Maulid Nabi saw Bukanlah Bid’ah

Yuk disimak pembahasan dari Kitab Tafsir Ath Thobari, Jilid 11, Halaman 130, Cetakan Tahun 2005M/1425-1426H,Terbitan Daarul Fikr dalam video berikut ini:

 

___________
Artikel lainnya:
Dalil Hukum Memperingati Maulid Nabi SAW Menurut Madzhab Syafi’i
Apakah Merayakan Maulid Nabi saw Merupakan Bid’ah?
Perbedaan Antara Bid’ah Sesat dengan Bid’ah Hasanah Menurut Imam Syafi’i dan Ibn Taimiyyah

Bangsa Yang Dijanjikan Allah Dalam Al Qur’an

Apakah betul Iran adalah bangsa yang dijanjikan Allah dalam al Quran surat Muhammad 38?

Membicarakan Iran memang selalu menarik….

Apakah itu menyangkut perseteruannya dengan Amerika dan Israel (yang oleh sebagian kalangan disebut “omdo”). Atau karena perkembangan IPTEK-nya yang hampir menyamai negara-negara maju seperti Amerika, Jepang dan Eropa. Ataupun menyangkut Syiah-nya yang selalu dituding sebagai agama sesat dan bukan bagian dari Islam.
.
Membicarakan Iran seperti membicarakan wanita seksi di hadapan seorang alim (jaim?), yang pura-pura tidak mendengar padahal sebenarnya menyimak, yang pura-pura benci padahal sebenarnya menikmati. Iran memang menarik dan “seksi”.

Tapi yang menarik perhatian kali ini bukanlah masalah Syiah-nya, atau masalah lain seputar Iran.

Yang menarik perhatian kali ini adalah berkaitan dengan surat Muhammad ayat 38:

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

“Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan(Nya);dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.” (QS, 47:38).

Dalam ayat tersebut Allah mengancam bangsa Arab, jika mereka berpaling dari kebenaran (ajaran Allah) maka Allah akan menghancurkan mereka dan kemudian menggantikannya dengan bangsa lain yang lebih baik, yang tidak memiliki sikap dan perilaku seperti bangsa Arab.

Bangsa apakah mereka?

Dalam sebuah hadits dari Imam Baihaqi, yang dinukil Tafsir Al Maraghi, menyebutkan bahwa bangsa Persia (Iran) lah yang nanti akan menggantikan bangsa Arab:

تلا رسول الله صلى الله عليه وسلم هذه الآية إلى أخرها، فقالوا : يا رسول الله من هؤلاء الذين إن تولينا استبدلوا بنا ثم لا يكونون أمثالنا فضرب رسول الله علة منكب سلمان ثم قال : هذا قومه والذي نفسي بيده لو أن هذا الدين تعلق بالثريا لتناوله رجال من فارس

“Rasulullah (saww) membaca ayat ini sampai akhir, maka para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang itu yang jika kami berpaling, mereka akan menggantikan kami dan mereka tidak seperti kami?”. Maka Rasulullah menepuk bahu Salman, kemudian berkata, “Inilah orangnya berserta kaumnya. Demi Allah, yang diriku berada dalam kekuasan-Nya, seandainya agama itu tergantung di bintang Surayya, dia akan dicapai oleh arang-orang dari Persia.” (lihat Tafsir Al Maragi hal. 79 juz 26, jilid IX).

Percayakah dengan hadits tersebut karena sumbernya berasal dari Abu Huraerah?
Dan kenapa bangsa Persia, bangsanya Salman Al-Farisi, yang dipilih bukannya bangsa Yahudi atau bangsa Armenia, misalnya?

Baiklah, anggap saja hadits itu tidak ada dan kita lebih melihatnya pada isi surat Muhammad ayat 38 di atas, dimana dinyatakan bahwa jika bangsa Arab berpaling niscaya Allah akan menggantikannya dengan bangsa lain yang tidak seperti bangsa Arab.

Pertanyaannya, bangsa apakah yang akan menggantikan bangsa Arab itu?

Di kawasan Timur Tengah, yang memungkinkan bisa menggatikan bangsa Arab hanya dua, yaitu: bangsa Kurdi dan bangsa Persia, karena tidak mungkin digantikan oleh bangsa Yahudi atau oleh bangsa Armenia yang Kristen. Tapi mengenai bangsa Kurdi, rasanya sulit untuk bisa menggantikan bangsa Arab, karena sifat masyarakatnya yang cenderung tradisional dan nomaden. Satu-satunya yang paling mungkin adalah bangsa Persia.

Pertanyaannya sekarang adalah bangsa Persia yang mana karena bangsa Persia tersebar di antara negara Iran, Irak, Suriah, Afganistan, dan Pakistan?

Untuk menjawabnya, perhatikan kriteria bangsa yang dijanjikan Allah dalam surat Al-Mâ´idah ayat 54 berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas, lagi Maha Mengetahui.” (QS, 5:54).

Dari ayat tersebut, ada lima kriteria bangsa yang dijanjikan Allah, yang akan menggantikan bangsa Arab:

1. Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya,
2. Bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin,
3. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir,
4. Berjihad di jalan Allah,
5. Tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

Dari lima kriteria di atas, mungkin terasa berlebihan jika menyebutkan bahwa bangsa (negara) Iran merupakan bangsa (negara muslim) terbaik yang ada saat ini dan sangat layak dipilih Allah untuk menggantikan bangsa Arab.
Terlepas dari setuju atau tidak dengan keyakinan mayoritas bangsa Iran sebagai penganut Syiah, namun harus diakui bahwa bangsa/negara Iran memiliki (memenuhi) kriteria-kriteria yang disebutkan dalam surat Al-Mâ´idah ayat 54 di atas, jika dibandingkan dengan bangsa/negara Irak, Suriah, Afganistan, dan Pakistan.

[1] ALLOH MENCINTAI MEREKA DAN MEREKA MENCINTAI-NYA

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

Agak susah untuk mengukur apakah Allah mencintai bangsa Iran atau tidak karena hal ini merupakan masalah ghaib. Tapi indikasinya bisa dilihat dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di Iran.

Misalnya:

  1. Ketika terjadi Perang Iran-Irak (1980-1988), Iran mampu meraih kemenangan dari serangan Irak yang didukung penuh oleh Amerika, Eropa, Arab, dan Rusia.
  2. Ketika Amerika mengirimkan enam pesawat Hercules C130 dalam Operasi Eagle Claw, operasi itu gagal hanya karena badai pasir yang melanda kawasan gurun Tabas.
  3. Ketika Iran di embargo, Iran mampu bertahan selama lebih dari 30 tahun, dan malah bisa bangkit dari keterpurukan. Ketiga peristiwa tersebut menunjukkan seolah-olah adanya “pertolongan Allah” kepada bangsa Iran.

Sementara menyangkut kecintaan bangsa Iran kepada Allah bisa dilihat dari beberapa contoh berikut:
– Sistem Pemerintahan-nya yang berdasarkan pada kaidah Al-Qur’an dan keadilan Allah.
– Hak-hak perempuan dalam konstitusi disesuaikan dengan kaidah Al-Qur’an dan keadilan Allah.
– Tradisi keagamaan dan keilmuan berkembang pesat di masyarakat, dimulai dari anak-anak hingga orangtua.
– Selalu membela Islam ketika kesucian Islam dilecehkan. Salah satu contoh yang paling nyata adalah pembelaan mereka terhadap bangsa Palestina dan Fatwa Mati Salman Rushdie yang dikeluarkan Ayatollah Khomeini.

Untuk memperoleh gambaran mengenai bangsa Iran berkaitan dengan kriteria pertama ini, mungkin sabda Nabi (saww) kepada Ali (kw) berikut bisa lebih mewakili:

مَنْ أحَبَّكَ فقَدْأحَبَّنِي وحبِيْبُك حبِيْبُ اللهِ وعدوُّك عَدُوِّيّْ وعَدُوِّيْ عدوُّ اللهِ. الويلُ لِمَنْ أبغضَكَ مِن بعدي

“Barangsiapa mencintaimu berarti ia mencintaiku dan barangsiapa membencimu berarti ia membenciku. Kekasihmu adalah kekasih Allah, musuhmu adalah musuhku dan musuhku adalah musuh Allah. Celakalah orang-orang yang memusuhimu sepeninggalku”. (HR. Ahmad bin Hanbal dari Ibnu Abbas ra).

Atau hadits berikut:

حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا حُسَيْنٌ سِبْطٌ مِنْ الْأَسْبَاطِ

“Husain bagian dariku, dan aku bagian dari Husain, Allah akan mencintai orang yang mencintai Husain, Husain termasuk dari sibt(keturunan yang akan menurunkan banyak ummat) dari beberapa ummat.”
(HR. Tirmidzi No. 3708).

Dan kita tahu bahwa mayoritas penduduk Iran penganut mazhab Ja’fari (Syiah Itsna Asyariyyah) yang notabene merupakan pecinta Ahlul Bait.

[2]. BERSIKAP LEMAH LEMBUT TERHADAP ORANG-ORANG MUKMIN.

أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Tidak aneh, jika muslim Sunni membantu muslim Sunni yang lain. Tapi, jika Iran yang melakukannya jadi lebih memiliki nilai tersendiri karena mayoritas penduduk Iran penganut Syiah.

Contohnya seperti ketika Iran menjadi negara yang paling getol membela dan memberikan dukungan moril maupun materil kepada penduduk Palestina, padahal mayoritas penduduk Palestina penganut Sunni.

Kelemah-lembutan bangsa Iran terhadap orang-orang mukmin ini pun mereka tunjukkan ketika membantu penduduk Irak yang diinvasi Amerika, padahal bangsa Irak pernah menyerang mereka selama 8 tahun (1980-1988) dengan dukungan Amerika, Eropa, Arab, dan Rusia.

Atau ketika Iran, dengan Syiah-nya, tidak berusaha membalas perlakuan sekelompok muslim Sunni yang sering menghujat, memfitnah, mengkafirkan, bahkan berusaha untuk menghancurkan Iran.

Begitupun ketika menjamurnya situs-situs celaan dan fitnahan terhadap Iran (Syiah), mereka tidak berusaha membalasnya dengan membuat situs-situs serupa.

Berbanding terbalik dengan negara-negara Arab, yang malah menjadi pendukung aksi-aksi kekerasan yang dilakukan terhadap sesama muslim sendiri, seperti: memberi dukungan terhadap aksi militer Mesir, dukungan terhadap kelompok oposisi (para pemberontak) Syuriah, dan dukungan terhadap teroris di berbagai belahan dunia.

[3]. BERSIKAP KERAS TERHADAP ORANG-ORANG KAFIR.

أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

Sudah menjadi rahasia umum jika Iran merupakan musuh utama dari musuh-musuh Islam, seperti Amerika dan Zionis Israel, sejak revolusinya pada pertengahan tahun 1977. Karena permusuhannya itulah, kemudian Iran harus rela diembargo selama puluhan tahun, mendapat tekanan dari dunia internasional (khususnya Barat, Amerika, dan Israel), dan bahkan mendapat serangan dunia maya maupun serangan dunia nyata.

Sementara negara-negara Arab malah menjalin hubungan mesra dengan Amerika dan Zionis Israel.

Benar, bahwa Iran menjalin hubungan dengan Rusia dan China. Tapi kedua negara tersebut bukan musuh Islam, karena tidak pernah menyerang negara-negara Islam, baik secara fisik (invasi militer) maupun secara mental (propaganda negatif).

[4]. BERJIHAD DI JALAN ALLOH.

يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Dalam masalah jihad, bangsa Iran bisa dikatakan paling depan. Jihad disini dalam pengertian bersungguh-sungguh didalam memperjuangkan nilai-nilai Islam agar memiliki manfaat bagi kemanusiaan.

Berikut adalah beberapa contoh jihad yang dilakukan bangsa Iran:
– Memasukkan kaidah Al-Qur’an kedalam Konstitusi Iran.
– Melakukan kajian-kajian ilmiah demi kemajuan Ilmu Pengetahuan.
– Menguasai teknologi pembangkit listrik canggih.
– Membuat alat transportasi darat (mobil) dan udara (pesawat terbang).
– Membuat robot modern dan pesawat luar angkasa.
– Memproduksi sendiri alutsista (Alat Utama Sistem Senjata).

Berbeda dengan negara-negara Arab yang selalu mengandalkan pasokan dari Amerika, Eropa, dan Israel, baik dalam persenjataan militer maupun produk-produk teknologi lainnya.

[5]. TIDAK TAKUT KEPADA CELAAN ORANG YANG SUKA MENCELA.

وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

Siapa takut? Barangkali kalimat itulah yang dilontarkan bangsa Iran ketika menghadapi serangan mental maupun fisik yang dilancarkan Amerika dan Zionis Israel.

Mungkin kalimat itu pula yang dilontarkan bangsa Iran ketika menghadapi berbagai hinaan dan fitnah yang terus disebarkan oleh kelompok takfiri.

Siapa takut? Karena bangsa Iran sudah membuktikan diri selama puluhan tahun, pasca revolusinya tahun 1979, sebagai bangsa yang tidak pernah takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela, memfitnah, bahkan merongrong kedaulatannya sebagai sebuah bangsa yang merdeka.

Barangkali karena alasan inilah (adanya hadits-hadits yang mengatakan bahwa Bangsa Persia akan menggantikan Bangsa Arab) kenapa Arab Saudi rela bersekutu dengan musuh-musuh Islam untuk menyerang Iran.
Selain itu, ternyata Arab Saudi dan Israel Memang Saudara Kandung dari Orang Tua Yang Sama, maka sudah sepantasnya Bangsa Arab ini digantikan oleh bangsa yang lebih baik.

PERCAYAKAH ANDA?

Memang sulit untuk mempercayainya, terlebih jika kita masih memandang Iran sebagai bangsa yang “sesat” karena Syiah-nya.

Tapi adakah negara dengan mayoritas penduduk muslim yang lebih baik dari Iran?

Semoga saja Indonesia bisa menjadi kandidat kuat untuk menggantikan bangsa Arab, sesuai surat Muhammad ayat 38 di atas, dan mampu memenuhi kriteria yang disebutkan dalam surat Al-Mâ´idah ayat 54 tadi.
Mungkinkah?

Hanya bangsa ini yang dapat menjawabnya. Semoga saja.

[Video] Pembunuh Ali bin Abi Thalib ternyata seorang ahli ibadah

Penjelasan Video Diatas diambil dari 2 kitab, yaitu:

Dalam Kitab Mustadrak A’la Shohihayn karya Al Hakim An Naisaburi, jilid ke 3, halaman 351, cetakan tahun 2002M/1422H, terbitan Daar Al Fikr Beirut libanon, terdapat riwayat tentang dua manusia yang paling celaka, satu diantaranya adalah pembunuh Imam Ali Bin Abi Thalib

Lalu dalam Kitab Mizanul I’tidal karya Imam Adz Dzahabi, jilid 4, halaman 320, cetakan ke 2 tahun 1429H/2008M, terbitan Daarul Kutub Al Ilmiyyah, Beirut, Libanon, juga terdapat biografi pembunuh Imam Ali Bin Abi Thalib yang ternyata pembunuh Ali bin Abi Thalib tsb tersebut adalah seorang ahli Ibadah.

Kisah Tragis Kematian Ali bin Abi Thalib

Hukum itu milik Alloh, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”

Itulah teriakan Abdurrohman bin Muljam Al Murodi (Khowarij) ketika menebas tubuh khalifah Ali bin Abi Tholib pada saat bangkit dari sujud sholat Shubuh pada 19 Ramadhan 40 H.

Abdurrohman bin Muljam menebas tubuh sayyidina ali bin abi thalib dengan pedang yang sudah dilumuri racun yang dahsyat. Racun itu dibelinya seharga 1000 Dinar.

Tubuh imam Ali bin Abi Tholib mengalami luka parah, tapi beliau masih sedikit bisa bertahan. Tiga hari berikutnya (21 Romadlon 40 H) nyawa sahabat yang telah dijamin Rosululloh SAW sebagai penghuni surga itu hilang di tangan seorang muslim yang selalu merasa paling Islam.

Imam Ali  dibunuh setelah dikafirkan.
Imam Ali  dibunuh setelah dituduh tidak menegakkan hukum Alloh.
Imam Ali  dibunuh atas nama hukum Alloh.

Itulah kebodohan dan kesesatan orang Khowarij yang saat ini masih ngetrend ditiru oleh sebagian umat muslim.

Maka sebagai hukuman atas kejahatannya membunuh imam Ali as, Ibnu Muljam kemudian dieksekusi mati dengan cara qishos .

Proses hukuman mati yang dijalankan terhadap Ibnu Muljam juga berlangsung dengan penuh dramatis. Saat tubuhnya diikat untuk dipenggal kepalanya dia masih sempat berpesan kepada algojo:

Wahai Algojo, janganlah engkau penggal kepalaku sekaligus. Tetapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Alloh.”

Ibnu Muljam meyakini dengan sepenuh hati bahwa aksinya membunuh suami Sayyidah Fathimah az zahro sepupu Rosululloh, dan ayah dari imam Al-Hasan  dan imam Husein  itu adalah sebuah aksi jihad fi sabilillah.

Seorang ahli surga meregang nyawa di tangan seorang muslim yang meyakini aksinya itu adalah di jalan kebenaran demi meraih surga Alloh.

Potret Ibnu Muljam adalah realita yang terjadi pada sebagian umat Islam di era modern kini. Generasi pemuda yang mewarisi Ibnu Muljam itu giat memprovokasi untuk berjihad di jalan Alloh dengan cara memerangi, dan bahkan membunuh nyawa sesama kaum muslimin.

Siapa sebenarnya Ibnu Muljam?

Diceritakan oleh Syamsuddin ad-Dzahabi (748 H) dalam kitabnya Tarikhul Islam wa Wafayati Masyahiril A’lam bahwa Ibnu Muljam merupakan sosok ahli al-Quran dan ahli fikih. Selain itu, ia merupakan orang yang gemar beribadah.

Ya, Ibnu Muljam adalah lelaki yang terlihat sholih, zahid dan bertakwa sehingga mendapat julukan Al-Muqri’. Sang pencabut nyawa imam Ali as ini itu juga seorang hafidz (penghafal Alquran) dan sekaligus orang yang mendorong sesama muslim untuk menghafalkan kitab suci tersebut.

Kholifah Umar bin Khottob pernah menugaskan Ibnu Muljam ke Mesir untuk memenuhi permohonan ‘Amr bin ‘Ash untuk mengajarkan hafalan Alquran kepada penduduk negeri piramida itu.

Dalam pernyataannya, Kholifah Umar bin Khottob bahkan menyatakan: “Abdurrohman bin Muljam, salah seorang ahli Alquran yang aku prioritaskan untukmu ketimbang untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Alquran kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia wahai ‘Amr bin ‘Ash” kata Umar. [Nukilan dari Al Ghuluww, Mazhâhiruhu, Asbâbuhu, ‘Ilâjuhu, Muhammad bin Nâshir al ‘Uraini, Pengantar: Syaikh Shâlih al Fauzân, Tanpa Penerbit, Cetakan I, Tahun 1426 H]

Sebelumnya, Ibnu Muljam juga merupakan salah satu pendukung Ali bin Abi Thalib. Bahkan ia juga pernah berperang bersama Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal melawan Aisyah, serta ia juga pergi ke Kufah untuk mengikuti perang Siffin antara kelompok Ali bin Abi Thalib dengan kelompok Muawiyah.

Namun saat perang siffin berakhir, dan disepakati arbitrase antara Ali dan Muawiyah, Ibnu Muljam menyatakan ketidak setujuannya. Ia berpendapat, dengan mengutip al-Quran, bahwa kesepakatan yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah tidak sesuai dengan tuntunan al-Quran dan Rasul Saw.

Ibnu Muljam pun keluar dari barisan pendukung Ali bin Abi Thalib dan memilih untuk menjadi bagian dari kelompok Khawarij. Jargon terkenal khawarij “lā hukma illa Allah” (tidak ada hukum yang harus ditaati kecuali hukum Allah) ia gunakan untuk menolak kebijakan Ali yang tunduk kepada arbiterase.

Afiliasinya kepada sekte Khowarij telah membawanya terjebak dalam pemahaman Islam yang sempit. Ibnu Muljam menetapkan klaim terhadap surga Alloh dengan sangat tergesa-gesa dan dangkal. Sehingga dia dengan sembrono melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam. Alangkah menyedihkan karena aksi itu diklaim dalam rangka membela agama Alloh dan Rosululloh.

Menjelang Kematian Ali bin Abi Thalib ra

Ibnu Muljam tidur di masjid dengan menyembunyikan pedang beracun di dalam bajunya. Ia tahu bahwa Imam Ali tidak pernah ketinggalan shalat subuh.

Begitu waktu subuh tiba, sebagaimana biasa Amirul-Mu`minin Ali bin Thâlib keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat Subuh dan membangunkan manusia. Imam Ali pula yang membangunkannya dari tidur.

Saat Imam Ali sedang sujud dalam shalatnya, saat itulah Ibnu Muljam pun menghunjamkan pedang beracunnya ke batok belakang kepala Imam Ali.

Ketika Ibnu Muljam menyabetkan pedangnya pada Imam Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berseru: “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah, bukan milikmu atau orang-orangmu (wahai ‘Ali),”

lantas ia membaca ayat :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridloan Alloh; dan Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. al Baqarah/2:207)

Meskipun Ibnu Muljam hafal Alquran, “bertaqwa dan rajin beribadah”, tapi semua itu ternyata tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khotimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya.

Generasi Baru Ibnu Muljam

Sadarkah kita bahwa saat ini telah lahir generasi-generasi baru Ibnu Muljam yang bergerak secara massif dan terstruktur. Mereka adalah kalangan sholeh yang menyuarakan syariat dan pembebasan umat Islam dari kesesatan. Mereka menawarkan jalan kebenaran menuju surga Alloh dengan cara mengkafirkan sesama muslim. Ibnu Muljam gaya baru ini lahir dan bergerak secara berkelompok untuk meracuni generasi-generasi muda Indonesia. Sehingga mereka dengan mudah mengkafirkan sesama muslim, mereka dengan enteng menyesatkan kiyai dan ulama.

Raut wajah mereka memancarkan kesalehan yang bahkan tampak pada bekas sujud di dahi. Mereka senantiasa membaca Alquran di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi.

Rasulullah dalam sebuah hadits telah meramalkan kelahiran generasi Ibnu Muljam ini:

Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Alquran dengan lisan mereka tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya.” (Shohih Muslim, hadits No.1068)

Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin.

Apa pesan moral yang kita dapat dari sejarah berdarah ini?

Bahwa pakaian agama tidaklah menjamin akhlak seseorang. Seperti iblis, ia beribadah dengan kesombongan. Hebatnya ritualnya bukannya menjadikannya sebagai manusia yang lembut dan pengasih, tetapi menjadikannya orang yang keras hati.

Apa yang menjadikan seseorang itu beragama tapi tidak menjadikannya benar?

Jawabannya mudah. Sombong. Inilah sifat yang membuat iblis di kutuk meski ia dikabarkan mahluk yang paling taat beribadah pada masanya.

Wahai kaum muslimin, waspadalah pada gerakan generasi Ibnu Muljam. Mari kita siapkan generasi muda kita agar tidak diracuni oleh golongan Ibnu Muljam gaya baru. Islam itu agama Rohmatan Lil Alamin . Islam itu agama keselamatan. Islam itu merangkul, dan bukan memukul.

Film Kisah Khalifah Ali bin Abi Thalib 

 

_____________________
Referensi & Bacaan Tambahan:
– satumedia.net/waspadai-generasi-ibnu-muljam-pembunuh-ali-bin-abi-thalib
– dennysiregar.com/2017/04/islamnya-ibnu-muljam.html
– nukita.id/read/386/20170501/001344/surga-ibnu-muljam
– almanhaj.or.id/2680-abdur-rahman-bin-muljam-potret-buram-seorang-korban-pemikiran-khawarij.html
– islami.co/ibnu-muljam-pembunuh-ali-bin-abi-thalib/

Bukti Gamblang Bahwa Ruh Manusia Itu Adalah Non Materi – Strukturalisasi Akhlak 06

Pada diri manusia ada ruh dan ruh ini bersifat non-materi. Ilmu dan pengetahuan yang kita peroleh atau amal-amal perbuatan yang kita lakukan misalnya, bukanlah tersimpan di otak (jasmani) tapi pada hakikatnya tersimpan di dalam ruh / jiwa manusia.

Kalau begitu, apa buktinya bahwa ruh manusia itu non-materi? Berikut ini beberapa bukti gamblang yang cukup mudah dipahami akal tentang adanya ruh ini pada manusia dan ruh tersebut hakikat keberadaannya adalah non-materi.

Silakan simak uraian kajian dari Hujjatul Islam wal Muslimin, Al Ustadz Hasan Abu Ammar.

Pengertian Ruh > Dalil-Dalil Filosofis Tentang Keberadaan Ruh dan Hakikat Non Materi – Strukturalisasi Akhlak 05

Ruh manusia pada hakikatnya adalah non-materi dan ia akan kekal atau abadi. Apa dalil atau argumentasinya?

Berikut ini silakan simak argumentasi global atau dalil-dalil filosofis terhadap ke-non-materian ruh atau jiwa manusia, untuk lebih memahami apa sebenarnya pengertian ruh tersebut bersama Hujjatul Islam wal Muslimin, Ustadz Hasan Abu Ammar.