Mazhab Syiah – Antara Fitnah dan Fakta Yang Sebenarnya

Fitnah terhadap Syiah sudah berlangsung selama berabad-abad sejak wafatnya Rasulullah saww sampai saat ini.

Adalah sebuah fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa pasca wafat Rasulullah saww, umat Islam terpecah dua, yang awalnya bersumber dari perbedaan pendapat terkait siapa sesungguhnya yang lebih layak diikuti sebagai pemimpin umat Islam sepeninggal Rasulullah saww.

Perbedaan pendapat ini kemudian dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk memecah belah umat Rasulullah saww menjadi benar-benar terpecah, minimal dalam 2 golongan yaitu Sunni dan Syiah.

Perpecahan ini kalau dibiarkan berlarut-larut, sebetulnya akan sangat merugikan umat Islam itu sendiri. Padahal seharusnya, umat Islam harus selalu bersatu sebagaimana yang juga sedang diupayakan oleh para ulama-ulama Islam dari berbagai Mazhab.

Salah satu resolusi persatuan yang dihasilkan oleh para ulama seluruh dunia yang sangat terkenal adalah Risalah Amman, yang mana dalam resolusi itu dikatakan bahwa Mazhab Syiah diakui sebagai salah satu dari 8 madzhab dalam Islam, sehingga tidak boleh dikafirkan.

Resolusi ini dikeluarkan di Jordania atas prakarsa Raja Abdullah II, ditandatangani oleh kurang lebih 500 ulama terkemuka dari 50 negara termasuk Indonesia, dan diadopsi oleh 6 dewan ulama islam internasional pada sidang Organisasi Konferensi Islam di Mekah pada bulan Juli 2006.

Adapun ulama Indonesia yang ikut menandatangani risalah amman tsb adalah Maftuh Basyuni (Menag RI pada saat itu), Ketum PB NU Hasyim Muzadi, dan Ketum Muhammadiyyah Din Syamsuddin. Silakan baca tentang risalah amman pada artikel ini.

Tulisan ringkas ini dibuat dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman masyarakat luas tentang Mazhab Syiah yang sering sekali difitnah sebagai agama di luar Islam. Persepsi ini timbul karena ketidaktahuan atas hal-hal yang dianggap kontroversial dan berbeda dengan keyakinan mayoritas umat Islam.

Untuk Syiah sendiri, tudingan apapun yang ditujukan sesungguhnya bukan merupakan masalah, karena apapun yang ditudingkan sesungguhnya berasal dari mereka yang belum memiliki pengetahuan yang sebenarnya tentang Syiah dan atau karena mereka sudah terlanjur meyakini informasi tentang Syiah yang diketahuinya sebagai sebuah kebenaran … sesuai latar belakang dan pengetahuan masing-masing.

Namun demikian, syiah tetap memiliki kewajiban untuk menyampaikan info yang sebenarnya, terlepas dari apakah para pembaca dapat memahami dan atau menerimanya sebagai penjelasan yang sebenarnya mengenai Syiah, sebagaimana Rasulullah saww yang juga melakukan dakwahnya untuk menyampaikan kebenaran.

Tentunya adalah hak setiap orang untuk menerima atau tidak, dengan segala konsekuensinya, yang tentunya akan ia pertanggung jawabkan sendiri dihadapan Allah SWT nantinya.

Tulisan ringkas ini disusun bukan untuk mendakwahkan Syiah, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing, yang secara ontologis akan menentukan bagaimana dirinya  mencapai kesempurnaannya sebagai manusia, dengan menggunakan akal sehatnya, dalam menentukan pilihannya. Sesungguhnya Allah Maha Adil, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ada 14 isu-isu yang sering dipertanyakan tentang Syiah yang akan dijelaskan dalam ringkasan ini, antara lain: tentang Imamah, Ghadir Kum, Abdullah Bin Saba’, Rukun Iman, Rukun Islam, Syahadat, Al Qur’an, Hadits, Sahabat, Taqiyyah, Nikah Mut’ah, Asyura, Melukai diri sendiri dan tentang Syiah dan NKRI.

Ke 14 pertanyaan tersebut akan dijelaskan secara ringkas saja untuk mempermudah pemahaman secara umum. Bagi pembaca yang bermaksud untuk mengetahui lebih detilnya dapat mencari lebih mendalam dari berbagai sumber dalam kitab-kitab Syiah yang sudah banyak beredar, baik dalam bentuk buku maupun video, di toko-toko buku maupun secara on-line.

1. Tentang Syiah Yang Menghina Istri dan Sahabat Nabi

Memang ada segelintir kaum syiah takfiri yang suka menghina sahabat dan istri Nabi. Salah satunya yang sangat terkenal dan tersebar di berbagai video-video adalah dari syiah takfiri london, yang dipimpin oleh Yasir Al Habib, yang memang dipelihara dan dibiayai aktivitasnya oleh musuh-musuh Islam.

Aktivitas syiah takfiri inilah yang suka dimanfaatkan untuk memfitnah syiah, seolah semua kaum syiah seperti itu.

Padahal semua ulama syiah mengharamkan perbuatan menghina seperti itu. Sayyid Ali Khamenei, seorang pemimpin dan marja besar Syiah di Iran dalam fatwa nya menyebutkan, “Diharamkan menghina atau mencerca simbol-simbol (yang diagungkan) saudara-saudara kaum Sunni, termasuk istri Nabi. Pengharaman berlaku untuk seluruh istri para Nabi as, terutama istri Nabi Muhammad saww.”

Lalu juga fatwa dari marja besar Syiah di Irak, Sayyid Ali Sistani: “Perbuatan mencerca sahabat Nabi Muhammad saww bertentangan dengan ajaran ahlul bait”.

Lalu bagaimana sebenarnya pandangan syiah terhadap istri dan sahabat Nabi saww? Memang ada sedikit perbedaan pandangan antara sunni dengan syiah, tentang para sahabat Nabi, yaitu sbb:

Keyakinan sebagian muslim Sunni terkait para sahabat :

  • Seluruh sahabat adalah orang yang baik dan adil. Apapun yang mereka lakukan adalah benar, karena Allah sudah meridhoi mereka atas apa yang telah mereka lakukan untuk menegakkan Islam.
  • Apapun yang pernah terjadi diantara para sahabat (permusuhan, pertengkaran, pembunuhan) mka kita umat generasi setelahnya harus diam, tidak usah mengkritisinya.

Sedangkan Keyakinan Syiah Tentang Sahabat:

  • Menjadi orang baik adalah perjuangan seumur hidup. Bertemu Rasulullah saww, bahkan berjuang bersama beliau bukanlah jaminan bahwa seseorang akan tetap baik hingga akhir hayat.
  • Pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib as, terjadi beberapa peperangan yang mana para sahabat Nabi saling berhadapan. Mereka berperang dan ribuan sahabat Nabi terbunuh dalam peperangan itu.

Lantas berdasarkan fakta itu, apakah bisa dikatakan semua sahabat itu pasti adil dan pasti semua benar? Padahal mereka saling memerangi?

Itulah sebabnya, mengapa muslim syiah bersikap kritis terhadap sahabat. Sebab tidak semua sahabat pasti benar dan pasti adil.

Terkait berbagai pertikaian dan saling bunuh itu, Syiah meyakini bahwa sikap kritis harus dipelihara. Harus ditetapkah dan dijelaskan, siapa yang benar dan siapa yang salah di antara mereka.

lni bukan masalah menyimpan dendam kesumat, melainkan urusan siapa yang boleh dijadikan teladan bagi umat dan verifikasi hadis.

Ketika ada dua hadis saling bertentangan; yang satu diriwayatkan oleh Muawiyah dan yang satunya lagi diriwayatkan oleh Ali, kaum Syiah hanya akan menerima hadis yang diriwayatkan oleh Ali.

Ketika ada dua cara pandang yang kontradiktif terkait satu masalah, yang satu pandangan versi Sahabat X, yang kedua pandangan versi Ali, orang Syiah memilih mengambil pandangan Ali.

Nah, apakah pendirian sikap Syiah yang tetap bersikap kritis atas peristiwa sejarah di masa lalu bisa dijadikan sebagai alasan untuk menyebutnya sebagai kelompok sesat?

Apakah sikap Syiah yang lebih memilih riwayat dari Ali ketimbang Muawiyah disebut sebagai kesesatan? Bukankah dalam doktrin Sunni pun, sikap diam atas apa yang terjadi di antara para sahabat bukan bagian dari akidah?

Jadi inilah yang perlu dipahami oleh masyarakat luas, bahwa bersikap kritis (seperti sikap syiah) berbeda dengan mencerca/menghina.

Kaum muslim syiah bukan mencerca atau menghina sahabat nabi saww. Sebab dalam pandangan syiah juga, menghina manusia biasa saja sudah berdosa, apalagi menghina sahabat-sahabat Rasulullah saww.

2. Tentang Fitnah Bahwa Al-Quran Syiah Berbeda dengan Qur’an Sunni

Syiah juga sering dituding memiliki Al Qur’an yang berbeda. Tuduhan ini sebetulnya berlawanan dengan keyakinan umat Islam bahwa dalam Al Qur’an, Allah swt telah berjanji akan menjaga kemurnian AlQuran.

Dengan demikian, apabila umat lslam memang benar meyakini kebenaran Al Qur’an, maka seharusnya tudingan tersebut tidaklah patut.

Ada beberapa fakta yang perlu dijelaskan terkait tudingan ini sehingga seharusnya menjadi jelas bahwa tudingan tersebut sebenarnya tidak beralasan dan hanya merupakan prasangka buruk saja yang terus dihembus-hembuskan musuh-musuh Islam.

Semua Al Qur’an yang dicetak, beredar dan digunakan di kawasan Syiah manapun, sama persis dengan Al Qur’an yang dicetak dan beredar di Indonesia, Malaysia, Mesir, Arab Saudi dan dimanapun di dunia ini. Tidak ada satupun dan di negara manapun yang dapat menunjukkan dimana ada penerbit dan penjual AlQur’an syiah yang dikatakan berbeda tersebut.

Ada lebih dari 120 ulama Syiah yang menulis tafsir Al-Qur’an. Semua ayat-ayat yang ditafsirkan adalah sama dengan ayat-ayat yang ditafsirkan dalam kitab kitab ulama Sunni.

Juga ada banyak sekali muslim Syiah yang menghapal seluruh 30 Juz dalam Al Qur’an dan ayat-ayat yang dihapal sama persis dengan ayat-ayat Al Qur’an dimanapun.

Para penghapal ini bahkan banyak yang masih berusia sangat muda dan bahkan dinyatakan sebagai pemenang dalam MTQ Internasional. Seperti misalnya Mahmoud Nouruzi dari Iran, adalah juara pertama untuk katagori Hifzhul Quran dalam MTQ Internasional III Indonesia, yang dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus – 3 September 2015.

Atau yang lainnya, Muhammad Husein Tabataba’i (lahir di Qom, Iran), yang pada usia 7 tahun telah mendapatkan gelar Doktor (tahun 1998) dari Hijaz Collage Islamic University, Inggris.

Dia tidak hanya mampu menghafal seluruh isi al-Qur’an saja, tetapi juga mampu menerjemahkan arti dari setiap ayat ke dalam bahasa ibunya yaitu Persia, memahami makna ayat-ayat tersebut, dan bisa menggunakan ayat-ayat itu dalam percakapan sehari-hari, sehingga ia terkenal sebagai bocah ajaib, Doktor cilik hafal dan paham al-Qur’an.

Konferensi Persatuan Umat Islam yang dilangsungkan di Teheran pada tahun 1998 juga menghadirkan seorang anak perempuan yang dengan sangat fasih melantunkan ayat-ayat Al Quran yang sama persis dengan ayat-ayat Al Qur’an yang dihapalkan siapapun di seluruh dunia.

3. Tentang Pandangan Syiah Terhadap Kitab-Kitab Hadits

Tidak ada satupun kitab-kitab hadits atau kitab apapun yang diyakini Syiah sebagai kitab yang pasti benar selain AlQur’an.

Sehingga, syiah tidak memiliki kitab hadits dengan status “shahih” seperti halnya Sunni yang meyakini kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim sebagai 100% shahih.

Dalam pandangan syiah, semua kitab-kitab hadits Syiah hanya diyakini sebagai KUMPULAN HADITS yang semua harus ditelaah keshahihannya dan semua layak dikritisi.

Jadi tidak ada istilah kitab hadits shahih dalam syiah. Semua hadits yang ada dalam kitab-kitab hadits harus selalu terlebih dahulu diuji kesahihannya.

Sebagai contoh, hasil penelitian dari Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa lebih dari setengah hadits pada kitab Al Kulaini adalah hadits yang dho’if (lemah).

Dengan demikian, berbagai fitnah-fitnah keji yang sering dilontarkan kaum anti-syiah sebagai ajaran syiah dengan argumen bahwa itu berasal dari hadits-hadits shahih syiah  … sama sekali tidak dapat diterima akal.

4. Tentang Rukun Iman Syiah

Salah satu tuduhan berat yang dialamatkan kepada kaum Syiah adalah kesesatan akidahnya. Dikatakan bahwa Syiah hanya memiliki lima Rukun Iman, yaitu:
1.  Tauhid,
2.  ‘Adalah (keadilan Allah),
3.  Kenabian,
4.  Imamah,
5.  Ma’ad (hari kiamat).

Sebaliknya, kaum Sunni meyakini rukun iman berjumlah enam: iman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-Nya, kepada nabi-Nya, kepada qadha dan qadar, serta iman kepada hari akhir.

Lalu, dari perbedaan itu, dikatakan bahwa orang-orang Syiah dipandang “bukan Islam”.

Perlu diketahui, bahwa Rukun Iman dan Rukun Islam yang dikenal luas oleh masyarakat di Indonesia saat ini adalah sebuah formula/rumusan yang disusun oleh para ulama teologi Asy’ariyah.

Tetapi tak dapat dipungkiri, bahwa teologi Asy’ariyah hanyalah salah satu aliran dari banyak himpunan aliran lain yang ada dalam mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Misalnya, ada aliran teologi Maturidiyah. Juga ada aliran Mu’tazilah. Masing-masing aliran ini juga memiliki rumusan formula tersendiri tentang Rukun Iman dan Rukun Islam nya, yang juga berbeda dengan rumusan teologi Asya’riyah.

Ahlul Hadis dan teologi Salafi yang menganut teologi Ahmad bin Hanbal juga memberikan rumusan rinci tentang akidah yang juga berbeda dengan Asy’ariyah.

Jadi hal paling penting untuk digarisbawahi adalah: jika ada bagian keimanan yang tidak dimasukkan ke dalam formula atau rumusan sebuah rukun iman, bukan berarti bahwa bagian tersebut tidak diimani oleh para pengikut aliran tsb. Hanya saja, rumusan formulanya memang berbeda.
Contohnya …

Dalam rukun iman Sunni tercantum iman kepada kitab-kitab suci, sedangkan di dalam rukun Syiah tidak tercantum. Apakah Syiah tidak mempercayai kitab suci?

Tentu saja tidak demikian. Orang-orang Syiah jelas meyakini keberadaan kitab-kitab suci dan bahwa kltab-kitab suci tersebut diturunkan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasulnya.

Hanya saja Syiah tidak mencantumkannya secara tersendiri, tapi memasukkannya ke dalam sub-bagian dari nubuwwah (kenabian), yaitu nubuwah para Nabi terdahulu, dan Nabi terakhir  Muhammad SAW.

Hal yang sama juga berlaku pada keimanan pada malaikat dan qadha/qadar. Syiah percaya bahwa malaikat ltu memang ada dan mereka masing-masing punya sejumlah tugas.

Syiah juga percaya bahwa Allah punya ketetapan yang tidak mungkin bisa dilawan oleh siapapun. Hanya saja, Syiah memasukkan bahasan tentang hal ini pada sub-bagian bab pembahasan pilar yang lainnya.

Ibaratnya, ada dua penulis yang sama-sama menulis buku tentang ‘sumber daya alam’. Penulis A sangat mungkin membagi pembahasan dalam 15 bab, sementara penulis lain menulis 10 bab. Oleh penulis A, topik tentang ‘minyak bumi’ dijadikan pembahasan tersendiri di bab ke-5, sementara penulis B hanya memasukkan ‘minyak bumi’dalam salah satu sub-bab di bab 4.

Sunni membatasi rukun iman hanya kepada enam perkara. Tentu saja, ini tidak berarti bahwa Sunni tidak percaya kepada hal-hal yang lain.

Ketika Sunni hanya memasukkan adanya ketetapan Allah sebagai rukun iman, bukan berarti mereka menolak sifat-sifat Allah yang lain seperti Mahatahu, Mahahidup. dan Mahaabadi.

Sunni juga tidak memasukkan kepercayaan terhadap alam kubur dan kefanaan dunia dalam rukun iman mereka, meskipun jelas sekali bahwa mereka meyakininya.

Jadi … sekali lagi …  sekadar tidak memasukkan suatu kepercayaan ke dalam rukun iman, bukan berarti tidak mempercayainya. Itu point utama yang perlu kita sadari.

5. Tentang Rukun Islam Syiah

Kasus yang sama juga berlaku pada rukun lslam-nya orang Syiah. Isu yang dihembus-hembuskan adalah, orang Syiah punya rukun Islam yang berbeda, yaitu:
1.  Shalat,
2.  Puasa,
3.  Zakat.
4.  Haji,
5.  Wilayah.

Pertanyaannya, apakah orang Syiah tidak bersyahadat? Tentu saja mereka bersyahadat.

Silakan telaah buku-buku tuntunan cara beribadah orang-orang Syiah. Pasti akan mendapati bahwa pembacaan Syahadatain (dua kalimat syahadat) merupakan salah satu kewajiban di dalam salat. Syahadatain juga wajib dibaca oleh khatib salat Jumat.

Penelaahan yang seksama terbadap bab-bab fikih orang Sy‘iah (bukan hanya bersandarkan kepada ‘katanya’) akan menuntun kita pada pemahaman bahwa apa yang dipercayai oleh orang Sunni sebagai pilar keislaman juga dipercayai oleh orang Syiah.

Orang Syiah juga percaya kepada ajaran amar makruf nahi munkar, munakahat (pernikahan), waqaf, jihad, mu’amalah. hukum warisan, thaharah, mengurus jenazah, dan lain sebagainya. Semuanya sama.

Seandainyapun ada perbedaan dalam tata cara, perbedaan tersebut amat sangat sedikit. Tapi, bukankah di antara mazhab fikih Sunni sendiri (Syafi’i, Maliki, Hanbali, dan Hanafi) sendiri ada banyak perbedaan dalam hal tata cara beribadah?

6. Tentang Nikah Mut’ah

Salah satu fitnah paling besar tentang syiah adalah terkait isu nikah mut’ah. Dalam fitnah yang sering disebarluaskan, dikatakan bahwa syiah telah menghalalkan zina, karena dianggap nikah mut’ah sama dengan zina.

Padahal mereka yang memfitnah itu juga mengetahui bahwa dalam keyakinan semua mazhab, DULU Rasulullah saww pernah menghalalkan nikah mut’ah. Nah, logika sederhananya, jika dulu nikah mut’ah pernah dihalalkan apakah mungkin nikah mut’ah itu sama dengan zina, apalagi bahkan zina dengan istri orang lain?

Tanpa disadari, tudingan itu itu sama saja dengan menuduh Rasulullah saww pernah membolehkan zina. Nauzubillah! Itu benar-benar sama saja melakukan fitnah yang sangat besar pada Rasulullah saww.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Hasan bin Muhammad dari Jabir bin Abdillah dan Salamah bin Al-Akwa’ kedua-nya berkata, “Kami bergabung dalam sebuah pasukan, lalu datanglah (utusan) Rasulullah Saw, ia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah Saw telah mengizinkan kalian untuk menikah mut’ah, maka bermut’ahlah kalian.’  (bisa dibaca dalam Imam Al-Bukhari, hadits 5115-7, kitab Al-Nikah, bab Nahy Rasulillah saw ‘an Nikah Al-Mut’ah Akhiran; dan Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, hadits 3302-5, kitab Al-Nikah, bab Nikah Al-Mut’ah)

Itulah fakta sejarah yang diungkapkan dalam kitab-kitab Sunni, bahwa pada masa Nabi saww (hingga masa kekhalifahan Abu bakar), nikah mut’ah dilakukan oleh para sahabat nabi.

Pernikahan mut’ah ini mulai dilarang pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dimana beliau berpidato di hadapan khalayak:

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Rasulullah Saw adalah utusan Allah, dan Alquran adalah Alquran ini. Dan sesungguhnya ada dua jenis mut’ah yang berlaku di masa Rasulullah Saw, tapi aku melarang keduanya dan memberlakukan sanksi atas keduanya. Salah satunya adalah nikah mut’ah, dan saya tidak menemukan seseorang yang menikahi wanita dengan jangka tertentu kecuali saya lenyapkan dengan bebatuan. Dan kedua adalah haji tamattu’, maka pisahkan pelaksanaan haji dari umrah kamu karena sesungguhnya itu lebih sempurna buat haji dan umrah kamu.” (baca dalam Muhammad Fakhr Al-Din Al-Razi, Tafsir Al-Fakhr Al-Razi, juz 10, h. 51, QS. Al-Nisa’ [4]:24, cet. 1, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 1981 M, 1401 H)

Mengapa syiah menghalalkan nikah mut’ah? Alasannya karena syiah berpandangan bahwa apa yang sudah ditetapkan oleh AlQuran maka hukumnya tidak boleh berubah (diubah) oleh siapapun, sampai hari kiamat.

AlQuran menetapkan dalam surat An-Nisa ayat 24:

Dan orang-orang yang mencari kenikmatan (istamta’tum, dari akar kata yang sama sebagai mut’ah) dengan menikahi mereka (perempuan-perempuan), maka berikanlah mahar mereka sebagai suatu kewajiban …. (QS. Al-Nisâ’ [4]: 24)

AlQuran adalah sumber hukum tertinggi dan karenanya tidak dapat dihapuskan dengan hukum yang lebih rendah (misalnya oleh ijtihad sahabat atau fatwa khalifah).

Itulah sikap syiah terhadap nikah mut’ah. Argumennya adalah hukum yang ditetapkan Allah swt dan Rasulullah saww tidak boleh diubah oleh manusia (sekalipun oleh fatwa khalifah).

Lalu, juga perlu disadari, bahwa hukum nikah mut’ah ini hanya “Boleh”. Bukan “mustahab (sunnah)” apalagi “wajib”, seperti yang sering ditudingkan kepada syiah.

Karenanya sekalipun syiah menghalalkan nikah mut’ah, bukan berarti otomatis semua orang syiah mengamalkannya. Ini lebih ke persoalan menegakkan posisi hukum dalam Islam, karena hukum harus mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi manusia.

Dan lagi pula, nikah mut’ah itu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Ada syarat-syarat dan ketentuannya seperti halnya dalam nikah daim (permanen), seperti harus ada izin dari wali (ayah), harus ada akad dan mahar, ketika terjadi perceraian ataupun batasan waktu pernikahan sudah berakhir, masa iddah nya adalah selama 2 kali siklus haid, dsb.

Lebih lengkap penjelasan tentang nikah mut’ah ini bisa baca pada tulisan berikut ini.

7. Tentang Abdullah bin Saba Yang Disebut-Sebut Sebagai Pendiri Syiah

Sosok ini banyak diyakini sebagian umat Islam awam sebagai pendiri Syiah, yaitu seorang Yahudi yang bertujuan memecah belah umat Islam.

Padahal dalam Syiah sendiri, sosok ini tidak pernah disebut-sebut atau dirujuk atau diingat-ingat, baik dalam semua kitab Syiah maupun dalam pembicaraan para ulama Syiah.

Kalau memang orang ini ada dan merupakan pendiri, tentunya perkataannya akan selalu dirujuk dan dijadikan pedoman oleh Syiah. Namanya pun mestilah akan termaktub dalam berbagai riwayat sebagaimana layaknya seorang pendiri dalam berbagai aliran atau madzhab semisal madzhab Hanafiah, atau Maliki atau Syafi’i ataupun Hambali.

Syiah terkenal sangat menghormati para Wali dan Imam nya; dan mewujudkannya dalam bentuk ziarah-ziarah. Tentunya, apabila memang sosok ini ada apalagi sebagai pendiri, harus lah jelas dimana makamnya dan bagaimana riwayatnya sehingga layak untuk diziarahi dan diingat-ingat, baik ketika lahirnya maupun wafatnya. Pada faktanya, sosok ini sangat tidak jelas.

Terlepas dari fakta yang ada, perlu kiranya disampaikan 3 hal utama terkait Abdullah bin Saba sebagai sosok yang patut diragukan keberadaannya:

  • Kesimpangsiuran informasi, sehingga tidak jelas siapakah sebenarnya sosok ini. Menurut Ibn Hazm dan Syahrastani, sosok ini sebenarnya bernama Ibnu Sauda. Tetapi Ibn Thahir Al Bagdadi dalam kitabnya ‘Al-Farqu Bainal Firaq’, dan Al Asfaraini dalam kitabnya ‘At-Tabsyirah fid-Diin’ menyebutkan bahwa Ibnu Sauda bukanlah Abdullah bin Saba.
  • Demikian pula dengan asal muasalnya. Di kitab lain dikatakan berasal dari San’a Yaman, sedangkan di kitab lain, disebut berasal dari Hira. Kemunculannya di satu kitab dikatakan pada zaman Ustman bin Affan, di kitab lain dikatakan pada zaman pemerintahan Ali.
  • Ajaran-ajarannya yang termaktub dalam berbagai kitab juga berbeda-beda. Di satu kitab dikatakan dia mengajarkan bahwa Muhammad akan hidup kembali. Di kitab lain, Ali lah yang akan hidup kembali. Di kitab lain, dia mengajarkan bahwa Ali adalah tuhan seutuhnya tetapi di kitab lain disebutkan bahwa dia mengatakan adanya sebagian sifat Tuhan pada diri Ali.

Dari ajaran yang serba tidak jelas itu, apalagi menyangkut akidah maka jelas menunjukkan bahwa sosok ini, kalaupun benar ada, bukanlah orang yang layak diikuti oleh syiah.

Lalu, dari mana datangnya cerita Abdullah bin Saba ini? Riwayat tentang sosok ini berasal dari kitab Tarikh Thabari melalui 2 orang sebagai narasumbernya yaitu Saif bin Umar Attamimi dan As-Surri bin Yahya.

Tetapi ternyata dari berbagai kitab tentang biografi para perawi telah disebutkan bahwa Saif bin Umar adalah seorang periwayat palsu, tidak bisa dipercaya, zindiq, munkar dan lemah (Ibnu Hayyan, Al-Hakim An-Naisaburi, Ibnu Addiy, Ibnu Mu’in, Abu Dawud, An-Nasa’I dan As-Suyuthi).

Penilaian tsb juga berlaku untuk As-Surri bin Yahya yang bahkan disebut sebagai Al-Kadzdzab (tukang bohong) oleh para ulama hadits terkenal.

Dari berbagai fakta itu, jelaslah bahwa tuduhan/fitnah syiah didirikan oleh Abdullah bin Saba sama sekali tidak masuk akal dan terbantahkan dengan sangat mudah.

8. Tentang Sikap Taqiyyah Yang Dilakukan Syiah

Taqiyyah adalah menyembunyikan keyakinan yang dianutnya dengan menampakkan sikap lahiriah yang berbeda, disebabkan oleh adanya alasan-alasan yang membahayakan jiwa atau hartanya, baik dirinya ataupun orang lain.

Hal ini umumnya terpaksa dilakukan kaum syiah yang berada di wilayah-wilayah yang “tidak aman” untuk memperlihatkan keyakinan syiahnya (terancam dibunuh, terancam harta dan rezkinya, dlsb).

Beberapa dalil  bolehnya bertaqiyyah, tertulis dalam al-quran, misalnya:

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka….” (Qs Ali Imran [3]: 28)

dan ayat

“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman, (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa). Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (Qs Al-Nahl [16]: 106)

Ada beberapa contoh dalam sejarah yang membuktikan bahwa melakukan taqiyyah merupakan bagian dari ajaran Islam. Diantaranya yang terkenal adalah taqiyyah yang dilakukan oleh Asiyah (istri Fir’aun) yang menyembunyikan keyakinannya di hadapan Fir’aun.

Selain itu juga terkenal sekali kisah bagaimana salah satu sahabat Nabi saww bernama Ammar bin Yasir yang terpaksa taqiyyah karena terancam terbunuh padahal hatinya penuh dengan keimanan.

9. Tentang Syahadat Syiah

Syiah meyakini bahwa syahadat merupakan ikrar yang paling penting dalam Islam. Mengucapkan dua kalimat syahadat adalah bukti seseorang telah mengucapkan ikrar yang agung dan pertanda perubahan keimanannya untuk menjadi seorang muslim.

Syiah tidak mengakui adanya tambahan lain atas teks syahadat sebagaimana ijmak kaum muslimin. Tambahan teks “wa ‘Aliyyan waliyyullâh” sama sekali tidak ditemukan dalam buku-buku rujukan Syiah.

Bahkan, penambahan teks tersebut, sebagaimana yang dituduhkan kepada Syiah dalam azan, adalah bid’ah menurut jumhur ulama Syiah.

Sebagian perilaku awam yang menambahkan kalimat sebagaimana yang dituduhkan sebagai syahadat syiah yang beda dengan syahadat sunni … tidaklah dapat dijadikan sebagai dasar, karena perilaku awam bukanlah sumber hukum atau pun otoritas yang dapat dipegang dalam menilai mazhab mana pun.

Bahkan, di dalam Kitab Wasâil Al-Syi’ah bab 19 tentang azan dan ikamah disebutkan larangan untuk menambah teks “wa ‘Aliyyan waliyullâh” dalam azan.

Bahkan, hal ini dianggap sebagai sesuatu yang dimasukkan dengan tidak sahih dalam kitab-kitab Syiah. Hal yang sama disebutkan dalam semua referensi Syiah lain.

Dalam pandangan syiah juga, siapapun kaum muslimin ahlus sunnah wal jamaah (sunni) yang memilih mazhab syiah, maka ia tidak perlu melakukan syahadat lagi. Sebab dalam syiah, semua muslimin sunni adalah sudah beragama Islam. Karena itulah ia tidak perlu ber syahadat lagi.

 10. Tentang Peringatan Asyura 10 Muharram

Asyura bukanlah hari raya, melainkan hari duka cita.

Asyura adalah peristiwa pembantaian keluarga Nabi saww di suatu tempat bernama Karbala, Irak selatan. Peristiwa ini berlangsung pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah, sekitar 50 tahun setelah wafatnya Nabi.

Peristiwa asyura disebut sangat tragis karena beberapa hal berikut ini :

  • Perang terjadi antara kafilah keluarga Nabi Muhammad SAWW melawan 30.000 pasukan yang semuanya adalah orang Islam. Pasukan itu sendiri dipimpin oleh Umar, putera dari Sa’ad bin Abi Waqqash, salah seorang sahabat besar Nabi. Artinya, saat itu orang-orang Islam melakukan pembantaian terhadap anak-keturunan dari nabi mereka sendiri.
  • Rombongan keluarga Nabi sempat disiksa rasa haus selama tiga hari sebelum akhirnya dibunuh. Pasukan Umar memblokade sungai Eufrat sehingga keluarga Nabi tidak bisa mengambil air minum.
  • Jenazah Al Husayn dan rombongannya dimutilasi. Kepala mereka dipenggal dan ditancapkan diatas tombak. Lalu, kepala-kepala itu diarak ke Kufah dan ke Syam (Suriah) untuk dipersembahkan kepada Yazid bin Muawiyah.
  • Sisa rombongan keluarga Nabi yang masih hidup yaitu para wanita dan 2 pria yang tidak berdaya, digiring dan dirantai. Mereka diharuskan mengikuti arak-arakan kepala yang ditancapkan di atas tombak, untuk dipertontonkan kepada umat Islam di kota-kota yang dilewati.

Hal-hal diatas adalah fakta yang disepakati kebenaran peristiwanya baik oleh sejarawan Sunni maupun Syiah.

Nah, para muslim Syiah memperingati peristiwa Asyuro tsb terutama memperingati syahid nya Imam Husain as, sama seperti sebagian umat Islam menyelenggarakan acara HAUL tokoh-tokoh atau ulama-ulama dalam rangka mengenang keteladan dari tokoh yang ia peringati.

Apabila umat Islam sunni sering mengadakan haul setiap tahun untuk berbagai tokoh ulama-ulama, lalu mengapa kaum syiah tidak boleh mengadakan haul untuk memperingati syahid nya penghulu para syuhada, Imam Husain as? Itulah yang dimaksud dengan peringatan Asyura.

11. Tentang Melukai Diri Sendiri Dalam Acara Duka

Melukai diri sendiri? Apakah benar? Bagaimana yang sebenarnya?

Mayoritas ulama Syiah berfatwa bahwa melukai diri (qameh zani) dalam acara-acara asyuro maupun hari-hari duka cita adalah pebuatan haram dan bertentangan dengan agama.

Tak kurang dari Ayatullah Bagir Shadr, Imam Khomaini, Ayatullah Ali Khamenei, Ayatulah Ali Sistani, Ayatullah Jawadi Amuli, Ayatullah Makarim Syirazi, Ayatullah Mazaheri Isfahani, Ayatullah Kazim Haeri dll … semua berfatwa mengenai keharaman melukai diri sendiri.

Mengapa fatwa seperti itu harus dkeluarkan? Karena faktanya memang pernah ada sekelompok kecil kaum syiah yang ekstrem melakukan qameh zani tsb, misalnya di wilayah Pakistan, yang foto mereka itulah yang terus menerus disebarkan hingga sekarang.

Bagi mereka yang pernah bermukim di Iran, Irak dan Lebanon, dengan gambling akan berkata, bahwa mereka tidak menjumpai tindakan qameh zani tersebut.

Juga di banyak Negara termasuk Indonesia. Dalam acara duka cita asyuro, paling banter hanya menepuk-nepuk dada sebagai symbol duka cita.

12. Tentang Imamah (Kepemimpinan Setelah Nabi saww)

Dalam Keyakinan Sunni:

  • Rasulullah saww tidak dengan jelas menunjuk penggantinya.
  • Namun demikian, beberapa peristiwa dimaknai sebagai petunjuk beliau bahwa penggantinya adalah Abu Bakar, yaitu:

– Mengajak Abu Bakar untuk menemaninya hijrah dari Mekah ke Madinah
– Menikahi anaknya
– Memintanya mengimami shalat disaat beliau sedang sakit parah

Sedangkan dalam Keyakinan Syiah:

  • Rasulullah saww telah dengan jelas dan tegas menunjuk penggantinya.
  • Sebagai pemimpin yang baik, terutama demi pentingnya menjaga kemurnian ajaran Islam, maka tidak mungkin beliau meninggalkan umatnya begitu saja.
  • Berbagai riwayat yang juga ada dalam kitab-kitab Sunni telah menunjukkan hal ini dengan jelas, bahwa beliau telah menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya.

Fakta-fakta seputar kelayakan Ali bin Abi Thalib menjadi pengganti Rasulullah saww:

  • Kerabat terdekat Rasulullah saww, baik sebagai sepupu maupun mantu.
  • Terdahulu masuk Islam (as Saabiquunal Awwalun).
  • Pahlawan perang, sampai ada pepatah Arab “Tidak ada pemuda setangguh Ali, tak ada pedang sesakti Dzulfiqar” (Dzulfiqar adalah pedang Ali dalam setiap peperangan).
  • Paling berilmu, sehingga mendapat julukan Babul ‘ilm atau Pintu Ilmu sesuai hadits beliau SAWW, “Aku adalah Kota Ilmu dan Ali adalah gerbangnya. Siapa yang mau memasuki sebuah kota, hendaknya dia masuk lewat pintunya”.
  • Imam Kaum Sufi, sehingga dikenal sebagai Divine Wisdom (imam dalam Ilmu Hikmah) dan Spiritual Warriorship (Futuwwah). Hampir semua tarekat bermuara kepada ajaran Ali dan para pendirinya adalah keturunannya, antara lain Syekh Abdu Qadir Jaelani, pendiri tarekat Qadiriah. Penghormatan kaum sufi kepada Ali sangat tinggi sehingga beliau mendapat julukan Karamallahu Wajhahu (Semoga Allah memuliakan wajahnya).
  • Orang Arab terfasih setelah Rasulullah SAWW, sehingga Ibn Abil Hadid (ulama dan sastrawan terkenal Mu’tazilah di abad ke-7 menyusun buku berjudul “Syarah Nahjul Balaghah” dengan kata pengantar: ”Demi Yang Maha Benar, perkataan Ali di bawah firman Khaliq dan diatas perkataan makhluk. Masyarakat bisa belajar disiplin ilmu retorika dan penulisan dari Ali.”
  • Keterpesonaan atas kefasihan Ali ini juga diutarakan oleh Syaikh Muhammad Abduh dalam buku Syarahnya atas Nahjul Balaghah: “Tak seorangpun dari suku Arab yang tidak meyakini bahwa setelah Al Qur’an dan sabda Nabi SAW, ucapan Ali adalah yang termulia, terfasih, paling berbobot, dan juga paling komprehensif”.
  • Khalifah ke-4 yang diangkat umat secara ber ramai-ramai menjadi Khalifah setelah Utsman bin Affan. Ketegasan Ali dalam memimpin umat menimbulkan perlawanan yang mendorong terjadinya 3 peperangan, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawan.

Makna kata syiah sebenarnya dalam bahasa Arab berarti ‘pengikut’. Namun dalam perjalanan waktu, kata ini kemudian dijadikan label bagi umat Islam yang meyakini bahwa pengganti Rasulullah SAWW adalah Ali dan memutuskan untuk memilih Ali sebagai pemimpinnya.

Konsekuensi dari pilihan ini adalah lebih mengutamakan pendapat dan ajaran Rasulullah saww yang disampaikan oleh Imam Ali as untuk diikuti dalam menjalankan ajaran Islam.

13. Tentang Peristiwa Ghadir Kum

Peristiwa ini terjadi pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10H yang diriwayatkan juga di berbagai kitab Sunni sebagai peristiwa yang benar terjadi dalam sejarah Islam (Ath Thabari, Al Hamedani dan Al Bahgdadi) dan atas dasar hadits mutawattir (Ahmad bin Hanbal, Ibnu Hajar, Jazari Asy Syafi’i, As Sajestani dan An Nasa’i), dengan perawi dari kalangan para sahabat yang jumlahnya beragam sampai 110 orang (catatan Allamah Amini dari berbagai kitab hadits Sunni).

Perbedaan yang diyakini atas peristiwa itu terletak pada kata “Maula” yang diucapkan Rasulullah SAWW ketika mengangkat tangan Ali dihadapan umatnya di lembah (Ghadir) bernama Rabigh atau Khum, sejauh 3 mil dari Juhfah, setelah terlebih dulu mengumpulkan umatnya sepulang dari berhaji di Mekah menuju Madinah.

Sebelumnya, Allah SWT terlebih dulu menurunkan ayat 67 Surah Al Maidah: “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) engkau tidak menyampaikan Risalah-Nya. Allah memeliharamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.

Maka saat itu di siang hari terik memanggang padang sahara, beliau SAWW memanggil jamaah haji yang sudah terlanjur berada di depan dan yang di belakang ditunggu sampai semua berkumpul.

Kemudian setelah shalat berjama’ah, beliau SAWW berpidato tentang akidah, diatas mimbar yang terdiri dari tumpukan pelana unta. Usai berpidato, beliau SAWW menyampaikan: “Aku tinggalkan dua pusaka yang berharga, yaitu Al Qur’an dan Ahlul Bait”.

Kemudian memanggil Ali dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi hingga terlihat bagian putih dari lengan bawah kedua nya, serta melanjutkan: “Allah adalah Pemimpin (Maula) ku dan aku adalah pemimpin (maula) bagi orang-orang yang beriman. Aku lebih utama bagi kaum mukminin dibandingkan diri mereka sendiri. Maka, siapa saja yang menjadikan aku sebagai pemimpin (maula) nya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya juga”.

Usai beliau membubarkan jemaahnya, turunlah ayat 3 surah Al-Maidah: “Hari ini, Aku sempurnakan agama kalian, Kucukupkan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku rela Islam menjadi agama kalian”.

Hanya sedikit ulama Sunni yang menyangkal terjadinya peristiwa tersebut. Hanya saja, kata Maula yang diucapkan beliau SAWW dimaknai bukan sebagai pemimpin, tetapi hanya sebagai “orang yang dicintai”.

Adapun Syiah meyakini kata Maula tersebut adalah bermakna pemimpin. Karena itu peristiwa Ghadir Kum ini juga dirayakan setiap tahun oleh masyarakat Syiah sebagai salah satu hari raya, selain hari raya Ied Fitri dan Ied Adha.

14. Tentang Syiah dan NKRI

Kaum Muslim Syiah bukanlah orang asing atau “pendatang baru” di bumi Indonesia. Sejak tahun 800an masehi, mazhab Syiah sudah masuk ke Nusantara.

Jejak-jejak peninggalannya sangat banyak dan kuat, antara lain :

  • Tarian Ma’atenu di Maluku tengah yang gerakannya persis sama dengan tarian dalam tradisi Syiah untuk memperingati tragedi Karbala.
  • Upacara Mahoyak Tabuik (mengiringi keranda) yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Bengkulu dan Padang Pariaman. Upacara terebut digelar setiap tgl 10 Muharram untuk memperingati hari duka di Karbala.
  • Upacara tradisional “Satu Suro” di jawa tengah. Suro berasal dari kata Asyuro, artinya 10 Muharram. Adanya semacam larangan tak tertulis dan kebiasaaan masyarakat untuk tidak membuat acara-acara gembira pada bulan suro adalah simbol keikutsertaan masyarakat atas duka cita pembantaian keluarga Nabi di Karbala.

Syiah tidak pernah menjadi musuh NKRI. Alih-alih menjadi musuh, justru jadi pendukung NKRI yang sangat kuat.

Syiah tidak mempunyai ideologi mengganti dasar Negara Pancasila, tidak pernah menjadi teroris ataupun pengebom bunuh diri.
Syiah meyakini bahwa Pancasila adalah akad kebangsaan yang harus ditaati sebagai komitmen berbangsa dan bernegara.

Faktanya, justru kelompok-kelompok yang secara terbuka memperlihatkan kebencian kepada Syiah adalah kelompok yang menginginkan penggantian ideologi Pancasila, melakukan terorisme baik di dalam maupun di luar negeri yang tentunya semua itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam dan komitmen kebangsaan.

PENDAPAT ULAMA AHLUSSUNAH TENTANG SYIAH

_________
(Diringkas dari buku Syiah antara Fitnah dan Fakta, Tim Kajian IKMAL, cetakan I, Nov 2015 dengan beberapa tambahan dari berbagai sumber)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Siapakah Imam Mahdi Menurut AlQuran dan Hadits Nabi SAW?

Menurut Anda, Siapa Imam Mahdi itu sebenarnya? Apakah saat ini sudah ada? Apakah memang kita perlu mengenalnya sejak sekarang?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tsb, ada baiknya kita renungkan beberapa point pendahuluan berikut ini:

1.  Al-Quran telah Mengabarkan, Nanti di Akhirat, Manusia Akan Dipanggil Bersama Imam-nya

Allah Swt berfirman dalam surat Al-Isra ayat 71, “Yauma nad’u kullu unasin bi imâmihim.” yang artinya, “Pada hari tatkala Kami menyeru seluruh manusia dengan para imam mereka,” (Qs. Al-Isra:71)

Yang bisa kita tanyakan pada diri kita masing-masing adalah: Siapa Imam ku saat ini?

2.  Di Alam Kubur, Manusia Akan Ditanya oleh Malaikat, “Siapa Imam mu?”

Setelah mayit dikebumikan, ada dua malaikat yang bernama Mungkar dan Nakir yang ditugaskan menanyakan keyakinan-keyakinan orang yang baru meninggal tsb.

Riwayat-riwayat yang ada  menyebutkan pertanyaan tersebut terkait dengan keimanan kepada Allah Swt dan Rasul-Nya dan siapakah yang menjadi imam atau pemimpinnya. [1]

Yang jadi pertanyaan untuk diri kita saat ini, sudahkah kita memiliki jawaban untuk pertanyaan malaikat tsb: Siapa Imam-mu?

3.  Hadits Nabi saww: “Barangsiapa Mati dan ia Tidak Mengenal Imam Zamannya, Maka Ia Mati Dalam Keadaan Jahiliyah”

Hal ini patut jadi renungan masing-masing, apakah kita sudah mengenal imam zaman yang ada saat ini? Kalau belum, mengapa tidak segera mencari tahu secara lebih serius?

Perlu diketahui, hadits-hadits “man mata” ini terdapat dalam banyak literatur kitab referensi utama ahlussunnah (sunni) dengan berbagai redaksi.

Misalnya Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, 1421 H, jld. 28, hlm. 88; lalu Abu Daud, Musnad, 1415 H, jld.3, hlm. 425; dan Thabrani, Musnad al-Syamiyin, 1405 H, jld.2, hlm. 437, redaksinya:

مَنْ ماتَ وَ لَمْ يَعْرِفْ إمامَ زَمانِهِ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّة

Barangsiapa yang mati dan ia tidak mengenal imam zamannya maka ia mati dalam keadaan jahiliyah“.

Kitab-kitab lainnya dari kitab-kitab Ahlusunnah yang menukil hadis tsb diantaranya Shahih Muslim jilid ke-8, Mu’jam al-Kabir – Hafiz Abu Qasim Thabrani, Sunan Baihaki jilid ke-8, Musnad Daud Sulaiman bin Daud Thayalisi dan Shahih Muhammad bin Hibban Tamimi. [2]

Ulama Ahlusunnah memandang status hadis tersebut di atas Sahih dan Hasan.

Orang-orang Syi’ah ada juga yang menggunakan hadits ini dalam bahasan atas kewajiban ber-imamah dan menjadikan hadis ini sebagai salah satu dalil atas keharusan adanya seorang imam pada semua masa dan wajibnya mengenal imam pada masa ia hidup serta menaatinya.

Dalam akidah Syi’ah, maksud dari imam dalam riwayat di atas adalah AhlulBait as atau imam-imam maksum as yang berjumlah 12 imam.

Sedangkan yang dimaksud “imam zaman” untuk umat manusia sekarang ini adalah imam terakhir (ke-12) yaitu Imam Mahdi afs; yang kini masih berada dalam “kegaiban” dan sedang ditunggu kemunculannya pada waktu yang diizinkan Allah swt.

PEMBAHASAN RINGKAS TENTANG PENTINGNYA KEBERADAAN IMAM

1.  Menurut Al-Qur’an: Dunia Tidak Akan Pernah Kosong Dari Keberadaan Hujjah Allah

Dalam pandangan al-Quran, di sepanjang sejarah kehidupan manusia, bumi tidak akan pernah kosong dari keberadaan Hujjah Ilahi.

Syihabuddin Sahruwardi, filosof mazhab Iluminasi (Syaikh Isyraq), dalam bukunya “Hikmatul Isyrâq” mengutarakan,  “Dunia tidak akan pernah kosong dari hikmah (ilmu yang sempurna) dan dari keberadaan seseorang yang memiliki hikmah, hujjah-hujjah dan penjelasan-penjelasan.

Pada setiap zaman terdapat seseorang yang telah sampai kepada tingkat manusia-sempurna dimana Tuhan menjadikannya sebagai contoh sempurna dalam ilmu dan amal.

Orang semacam ini adalah khalifah Allah di muka bumi. Kepemimpinan manusia berada di tangannya. Dan akan tetap seperti itu selama langit masih tetap kokoh. [3]

Isyarat ini juga telah diberitakan dalam Al-Qur’an, “… bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.”(Qs. Al-Raad: 7)

Maknanya, akan selalu ada dan hadir seorang pemberi peringatan dan pemberi petunjuk (nabi, rasul dan para imam/washi) dalam kehidupan masyarakat manusia, yang mana ia dipilih dan ditentukan oleh Allah swt (agar petunjuk yang diberikan 100% benar).

Setelah Rasulullah saww wafat, maka tugas tersebut diemban oleh para imam maksum ahlulbait nabi as, yang menjadi “pasangan alQuran”, yang bertugas menjelaskan dan menerangkan AlQuran kepada manusia sehingga umat tidak tersesat selama-lamanya.

Ini juga merupakan perintah Rasulullah saww sendiri yang telah berwasiat pada segenap umatnya, untuk selalu berpegang teguh kepada dua pokok: yaitu (1) Alquran dan (2) Imam Ahlul Bait Nabi as.

Rasul saww bersabda, “Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku”.

Selengkapnya hadits ini bisa dilihat pada Kitab Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

Dalam madrasah Ahlulbait, imam yang ma’shum tsb tidak harus memerintah secara lahir, namun kepemimpinan umat secara maknawi tetap berada di tangannya. Karena itu mentaatinya adalah wajib, agar manusia selamat menjalani hidupnya, sebagaimana yang diperintah Rasul saww diatas.

Pada zaman sekarang ini, hujjah Allah atau imam ma’shum tsb adalah imam mahdi afs. Ia hidup secara rahasia dan tidak nampak dalam pandangan manusia (gaib). Masyarakat menyebut imam tersebut dengan panggilan “Qutbu Zamân” (poros zaman) atau “Wali Asr” (pemimpin masa), atau Imam Zaman.

Pada suatu masa yang ditentukan Allah swt nanti, imam yang menyandang sifat-sifat Ilahi itu (yaitu Imam Mahdi afs) akan berhasil membentuk sebuah pemerintahan ilahi. Ketika imam as muncul dan dunia berada pada puncak kepemimpinannya, maka seluruh penjuru dunia akan menjadi terang bercahaya.

2. Apa Sebenarnya Pengertian Imam Yang Dimaksud oleh Islam/AlQuran?

Syari’at Islam yang suci memandang kehidupan manusia dari semua sisi. Syari’at memberikan ajaran-ajarannya secara lengkap untuk membimbing manusia di semua sisi kehidupannya, baik dalam ibadah-ibadah vertikal ataupun dalam kehidupan sosial-budaya setiap individu, serta juga mengatur tata politik-pemerintahannya.

Ini berarti seorang Imam adalah pemimpin umat dalam semua segi, baik secara batin (vertikal) atau secara lahir (horizontal), baik sisi pribadi dan juga sosial, serta dari sisi ibadah dan juga pemerintahan.

Dalam Fii al-Islaam, karya ‘Allaamah Thaba Thabai ra: Imam dikatakan untuk orang yang memimpin umat atau kelompok dan memikul beban tanggung jawab tersebut, baik dalam urusan-urusan sosial dan politik (horisontal) atau keagamaan (vertikal) dan perbuatannya berhubungan erat dengan kehidupan sosialnya dimana ia (imam) hidup, baik dapat leluasa dalam menerapkan keimamahannya atau tidak (karena terhalang atau tidak diterima umat).

Dalam fakta sejarah yang terjadi, memang fungsi imam seperti itu belum dapat sepenuhnya dapat diterapkan, karena terhalangi oleh realitas ummat yang belum menerimanya. Bahkan para imam as itu semua syahid terbunuh, oleh umatnya.

Nah, fungsi imamah inilah nantinya yang akan diemban oleh Imam Mahdi afs, yaitu mencakup setiap aspek kehidupan manusia dan masyarakat, baik dalam aspek ibadah vertikal ataupun aspek horizontal.

Jadi imam mahdi yang ditunggu kehadirannya itu bukan seperti pemimpin yang diperkirakan kebanyakan masyarakat awam, yang tampak seakan pahlawan yang “ujug-ujug” (tiba-tiba) muncul dikirim Tuhan dengan segala kehebatannya lalu berhasil menaklukkan seluruh dunia di bawah pemerintahannya.

Imam mahdi afs tersebut adalah IMAM dalam arti yang sebenarnya: membimbing manusia menuju Allah swt, mengajarkan berbagai ilmu Allah swt, dan mewujudkan pemerintahan ilahiah yang sempurna. Dan tugas seperti ini, mustahil diemban oleh manusia biasa.

3.  Syarat dan Kriteria Seorang Imam, Menurut Al-Quran

Oleh beberapa gerakan Islam radikal, hadits-hadits tentang kewajiban mengenal dan taat pada imam yang disampaikan diatas juga banyak digunakan sebagai dalil ketika mereka merekrut anggota baru.

Mereka mengajak calon anggota baru itu untuk melakukan bai’at (janji setia) kepada “imam” versi mereka. Tak sedikit orang-orang awam terpengaruh oleh dalil tsb, sehingga akhirnya mereka bergabung pada kelompok-kelompok gerakan Islam radikal.

Padahal, ada ayat al-Quran dan hadits nabi saww yang dengan sangat terang benderang sekali menjelaskan syarat-syarat seorang imam, dan juga ada larangan untuk taat pada pemimpin yang zalim.

Salah satunya, Allah swt berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 124:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu ia menunaikannya (dengan baik). Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata, “Dan dari keturunanku (juga)?” Allah berfirman, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah:124)

Melalui ayat ini diberitakan bahwa, Allah swt mengangkat Nabi Ibrahim as dengan kedudukan sebagai imam. Arti konkritnya, kedudukan imamah harus diangkat oleh Allah swt dan imam tsb juga harus memiliki makam maksum (suci dari dosa).

Kalimat dalam ayat “Dan dari keturunanku (juga)? dan ayat “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim” menjelaskan bahwa yang akan menerima jabatan imamah (imam) itu hanyalah:

    • keturunan nabi Ibrahim as (termasuk tentunya disini keturunan Rasulullah saww yang memang juga ada keturunan Ibrahim as).
    • orang-orang yang tidak berbuat dosa sedikitpun (manusia ma’shum) dan bukan merupakan personifikasi dari orang yang berbuat zalim.

4. Mengapa Imam Harus Manusia Yang Mencapai Derajat Makshum?

Secara akal, imam sang pemberi petunjuk itu haruslah manusia suci (makshum). Sebab jika imam itu hanya manusia biasa, orang-orang berakal akan menolak keberadaannya. Sebab bisa saja apa yang diajarkannya itu salah/keliru, ada yang terlupa, atau memiliki motif-motif duniawi.

Agar ajaran agama itu benar 100% (shiraathal mustaqiim) maka harus dijaga oleh manusia ma’shum yang juga benar 100%.

Apakah benar para imam ahlulbait as tersebut makshum? Ya, benar. Yang menyatakannya  adalah Allah swt, dalam Quran Surat Al-Ahzab ayat 33: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33).

Karena mereka (para imam as) terjamin kesucian (kemaksuman)nya, maka lewat merekalah ajaran Islam tetap terjaga kemurniannya, dan dengan begitu umat Islam tidak akan ragu atau bimbang dalam mengambil rujukan yang benar dalam berbagai perkara.

Imam Shadiq dalam tafsir ayat di atas bersabda, “Pada setiap masa terdapat seorang imam dari keluarga kami untuk memberikan petunjuk terhadap apa yang telah dibawa oleh Rasulullah Saw (agama Islam).[4]

Hal ini kemudian diperkuat oleh pernyataan Rasulullah saww sendiri yang hadits nya sangat terkenal dan mutawatir (lihat daftar rujukan hadits pada artikel ini), diantaranya terdapat dalam Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon:

Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku”.

Alasan lain atas urgensitas keberadaan Imam Maksum as dalam masyarakat manusia adalah bahwa Al-Quran itu tetap membutuhkan penjelas dan penafsir yang mengetahui seluruh makna dan karakteristik-karakteristik ayat-ayat al-Quran yang muhkamah dan mutasyabih.

Dan tak ada yang mengetahui ilmu-ilmu tsb kecuali para Imam Maksum as, sebagaimana diisyaratkan dalam salah satu hadits Rasulullah saww yang juga sangat terkenal di kalangan ulama ahlussunah (sunni), bernama hadits madinatul ilmi, yaitu:

Rasulullah SAW bersabda “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya dan siapa yang hendak memasuki kota itu hendaklah melalui pintunya” [Mustadrak As Shahihain Al Hakim no 4638 dishahihkan oleh Al Hakim dan Ibnu Ma’in]

Hadis ini juga sekaligus menunjukkan posisi Imam Ali as sebagai sumber rujukan dalam agama setelah Nabi Muhammad saww.

Para imam maksum as itulah tali penghubung yang tidak pernah terputus antara makhluk dan Khalik. Mereka laksana paku-paku bumi dan para khalifatullah yang sejati baik pada masa kasyf  maupun pada masa satr, baik mereka hadir di hadapan ummat ataupun dalam masa tidak hadir (ghaib).

Dengan demikian, berdasarkan hukum aksiomatis akal, setelah Rasulullah harus ada Imam Maksum As. [5]

Ya .. Allah Swt tidak akan pernah membiarkan umat manusia hidup tanpa seorang hujjah (khalifah Allah) dan imam pilihan-Nya.

5.  Siapa Nama Imam-Imam Yang Ditetapkan Allah SWT? Apakah Ada Rasulullah saww Menyampaikannya?

Ada satu hadits yang sangat terkenal sekali di kalangan masyarakat, yaitu hadits 12 khalifah. Salah satu haditsnya sbb: [6]

“Agama ini akan selalu tegak sampai ada bagi kalian 12 khalifah. Mereka semua disepakati oleh umat” (HR. Abu Dawud: 4279).

Dalam Shahih Muslim, hadits nomor 3393, dan Sunan Abi Daud, hadits nomor 4279, dan 4280, digunakan istilah khalifah untuk dua belas pemimpin ini. Sementara dalam Shahih al-Bukhari, nomor hadits 7222 memakai istilah Amir.

Di dalam Sahih Bukhari, hadits berasal dari Jabir: “Rasulullah saw bersabda, ‘Akan muncul sepeninggalku 12 orang amir/imam‘, kemudian Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang aku tidak mendengarnya. Lalu saya menanyakan kepada ayah saya, ‘Apa yang dikatakannya?’ Ayah saya menjawab, ‘Semuanya dari bangsa Qureisy.’” (Sahih Bukhari, jilid 9, bab Istikhlaf, halaman 81)

Juga dalam Sahih Muslim berasal dari ‘Amir bin Sa’ad yang berkata, “Saya menulis surat kepada Ibnu Samurah, ‘Beritahukan kepada saya sesuatu yang Anda dengar dari Rasulullah saw’. Lalu Ibnu Samurah menulis kepada saya, ‘Saya mendengar Rasulullah saw bersabda pada hari Jum’at sore pada saat dirajamnya al-Aslami, ‘Agama ini akan tetap tegak berdiri hingga datangnya hari kiamat dan munculnya 12 orang khalifah yang kesemuanya berasal dari bangsa Qureisy.”

Berita bahwa ada 12 khalifah/imam/amir sepeninggal nabi ini sangat banyak tertera dalam kitab-kitab hadits ahlussunah wal jamaah (sunni). Hanya saja para ulama berbeda pendapat tentang rincian siapa-siapa saja nama-nama khalifah yang tergolong ke dalam 12 khalifah tsb.

Misalnya, ada hadits dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Sesungguhnya Nabi bersabda: ‘Kenabian akan menyertai kalian selama Allah menghendakinya, kemudian Allah mengangkat kenabian itu bila menghendakinya.

Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian (khilafah ‘ala minhajin nubuwwah) pada waktu Allah menghendakinya. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya.

Kemudian akan datang kerajaan yang menggigit dalam waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya dan diganti dengan kerajaan yang memaksakan kehendak.

Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian.’ Lalu Nabi diam.”

Habib bin Salim berkata: ‘Setelah Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, sedangkan Yazid bin al-Nu’man bin Basyir menjadi sahabatnya, maka aku menulis hadits ini kepada Yazid. Aku ingin mengingatkannya tentang hadits ini [yang aku riwayatkan dari ayahnya].

Lalu aku berkata kepada Yazid dalam surat itu: ‘Sesungguhnya aku berharap bahwa Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah yang mengikuti minhaj al-nubuwwah sesudah kerajaan yang menggigit dan memaksakan kehendak. Kemudian suratku mengenai hadits ini disampaikan kepada Umar bin Abdul Aziz, dan ternyata beliau merasa senang dan kagum dengan hadits ini’.” (HR. Ahmad, al-Bazzar, Abu Dawud, al-Baihaqi, dan lain-lain).

Pendapat Ulama AhlusSunnah lainnya, misal Al-Hafidz Jalaluddin as Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa’ menyatakan:

“Dengan demikian, berarti dua belas khalifah telah ada delapan orang, yaitu Khulafaur Rasyidin yang empat (Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali), Hasan, Muawiyah, Abdullah bin Zubair, dan Umar bin Abdul Aziz. Jumlah ini mungkin dapat ditambah dengan al-Muhtadi dari Bani Abbasiyah yang kedudukannya seperti Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah, dan dengan az-Zahir karena dengan keadilannya. Tinggal dua khalifah lagi yang kita tunggu, yang salah satunya adalah al-Mahdi dari ahli bait Rasulullah.”

Makanya tetap muncul pertanyaan di kalangan masyarakat, sebetulnya ada nggak sih hadits-hadits dari Rasulullah saww yang memberitakan siapa-siapa saja nama-nama 12 imam/amir/khalifah tsb?

Ya, ternyata ada banyak sekali riwayat yang menjelaskan nama-nama para Imam/Khalifah yang akan menjadi pemimpin umat Islam yang wajib ditaati oleh seluruh kaum muslimin itu. Jadi siapa-siapa saja nama-nama 12 imam/khalifah nabi tsb memang sudah disebutkan secara jelas oleh Rasulullah saw.

Salah satunya, hadits dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: ”ketika ayat 59 dari surat Nisa turun yang menegaskan ”taatilah Allah, dan taatilah rasul, dan para pemimpin dari kalian” aku bertanya pada rasul saww:

‘kami telah mengetahui Tuhan dan RasulNya, namun Ulil Amr yang wajib kita taati tersebut belum kami ketahui, siapakah gerangan mereka itu?

Beliau (rasulullah saww) bersabda: ”merekalah penggantiku, para Imam dan pemimpin sepeninggalku. Yang pertama Ali, kemudian secara berurutan Hasan putra Ali, Husain putra Ali, Ali putra Al Husain, Muhammad putra Ali yang dalam Taurat dikenal dengan Baqirul Ulum, dan kamu pada suatu saat akan berjumpa dengannya. Dan kapanpun kau menjumpainya sampaikanlah salamku padanya.

Kemudian setelahnya, secara urut Ja’far putra Muhammad, Musa putra Ja’far, Ali putra Musa, Muhammad putra Ali, Ali putra Muhammad, Hasan putra Ali, dan kemudian putranya yang nama dan kunyahnya (panggilan) sama dengan ku. Tuhan akan menjadikannya pemimpin bagi dunia, dan ia akan tersembunyi dari pandangan dan penglihatan, dan ia akan gaib lama sekali. Sampai suatu saat di mana hanya orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh, yang teruji dan mendalam akan keyakinan terhadap kepemimpinannya. (Muntakhabul Atsar, halaman 101)

Dari hadits di atas tahulah kita bahwa nama-nama dari 12 imam yang dimaksud oleh Rasulullah saw tsb adalah:

1. Imam Ali bin Abi Thalib as (Amirul Mukminin)
2. Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib as (cucu Rasulullah saw)
3. Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib as (cucu Rasulullah saw)
4. Imam Ali Zainal Abidin as (putra Imam Hussein)
5. Imam Muhammad Al Baqir as (putra Imam Ali Zainal Abidin)
6. Imam Ja’far Ash Shadiq as (putra Imam Muhammad Al Baqir)
7. Imam Musa Al Kazim as (putra Imam Ja’far)
8. Imam Ali Ar Ridha as (putra Imam Musa)
9. Imam Muhammad Al Jawad as (putra Imam Ar Ridha)
10. Imam Ali Al Hadi as (putra Imam Al Jawad)
11. Imam Hasan Al Askari as (putra Imam Al Hadi)
12. Imam Muhammad Al-Mahdi as (putra Imam Hasan Al-Askari)

Imam yang terakhir inilah yang dikenal sebagai Imam Mahdi afs. Namanya Muhammad bin Hasan Al Askari.

SIAPAKAH SOSOK IMAM MAHDI ITU?

1.  Ayat-Ayat Yang Memberitakan Adanya Pemerintahan Imam Mahdi afs

Masalah kemunculan pemerintahan Imam Mahdi afs bisa dibuktikan berdasarkan puluhan ayat al-Quran. Fokus umum dari ayat-ayat ini berupa berita kepada orang-orang saleh dan mustadh’afin bahwa mereka akan mendapatkan kembali haknya dan sampai pada puncak kekuasaan, menciptakan sebuah pemerintahan dunia yang tunggal bersandar pada kebenaran, hak & keadilan, dan kemenangan Islam atas seluruh maktab dan agama.

Berita dari Al-Quran tsb, pada satu sisi menjelaskan berita ini sebagai bagian dari yang disampaikan kitab-kitab langit yang lain:

Dan sungguh Kami telah tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) azd-Dzikr (Taurat) bahwasanya hamba-hamba-Ku yang saleh mewarisi bumi ini.”[Qs. Al-Anbiya: 105.]

Dari sisi lainnya lagi, berita ini bersandarkan pada kehendak Allah swt sendiri:

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi itu, hendak menjadikan mereka pemimpin, dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”. [Qs. Al-Qashash: 5.]

Pada ayat lainnya lagi, Allah Swt menyatakan bahwa pemerintahan ini sebagai janji Ilahi kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, dan menghadiahkan keamanan dan ketenangan:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”[Qs. An-Nur: 55.]

Inilah corak pemerintahan ilahi yang akan diwujudkan oleh Imam Mahdi afs dengan ijin Allah yang akan merealisasikan pemerintahan dan dunia penuh keadilan yang merupakan cita-cita terbesar kemanusiaan.

Kemunculan Imam Mahdi afs ini akan diperkenalkan kepada seluruh masyarakat dunia melalui pertolongan suara dari langit, dimana para pecinta keadilan dan kebenaran akan mengikutinya di bawah keindahan panji pemerintahan Imam Mahdi afs. (Kitab al Ghaibah, an Nu`mani, halaman 329-331.)

2.  Ilmu Imam Mahdi afs

Penguasaan Imam Mahdi afs terhadap ilmu yang ada dalam Alquran itu totalitas. Semua rahasia yang tersimpan dalam Quran dan belum pernah dibuka sebelumnya, padahal manusia secara umum sudah diberi kesempatan untuk mempelajarinya tapi tetap tidak mampu menemukan semua ilmu itu secara detail kelak akan dijelaskan oleh Imam Mahdi afs jika diperlukan.

Adanya mukhatab yang beragam dan memiliki latar keilmuan yang tinggi menuntut secara logis bahwa Imam Mahdi afs harus memiliki ilmu yang sangat mumpuni, bisa menyaingi semua ilmu manusia, menjadi mukjizat dihadapan orang-orang yang ahli ilmu dijamannya.

Terkait ilmu Imam Mahdi afs, Rasulullah Saww sendiri pernah menyifati beliau afs dengan:

…ألا إنّه الغرّاف فی بحر عمیق

“Dia adalah orang yang berenang di laut ilmu yang dalam…”

Dalam aqidah ahlul bait, ilmu merupakan syarat paling penting dalam imamah. Seorang imam ma’shum memiliki objek seluruh manusia, dengan beragam bahasa yang mereka miliki. Karenanya, seorang imam maksum juga menguasai seluruh bahasa yang dikuasai manusia.

3.  Imam Mahdi afs Telah Lahir Sejak Tahun 255 H dan Pengakuan Ulama Ahlusunnah ihwal Kelahiran Imam Mahdi afs

Para sejarawan dan ahli hadis meyakini bahwa kelahiran Imam Mahdi as terjadi pada tahun 255 H (pendapat masyhur) atau 256 H. Ahli sejarah menulis bahwa beliau lahir pada malam Jum’at pertengahan bulan Sya’ban.

Siapa Imam MahdiSayyid Tsamir ‘Amidi berkata, ”Para tokoh fikih, tafsir, hadis, sejarah, sastra, dan bahasa dari ulama Ahlussunnah telah menyatakan seratus lebih pengakuan yang begitu tegas mengenai lahirnya Imam Mahdi as.

Sebagian mereka menandaskan bahwa Muhammad ibn Hasan Al-Mahdi adalah imam yang dijanjikan kemunculannya di akhir zaman … [7]

Pembahasan paling luas dalam topik ini adalah kitab Al-Mahdi al-Muntazhar fi Nahjil Balaghah karya Syeikh Mahdi Faqih Imani. Ia menyebutkan sekitar 102 orang dari perawi Ahlussunnah yang menyatakan pengakuan dan kesaksian mereka. [8]

Masih dari Syeikh Mahdi, bahwa terdapat 128 penulis dari kalangan ulama Ahlussunnah yang mengulas Imam Mahdi as dalam salah satu kitabnya; al-Imam ats-Tsani ‘Asyar min Aimmati Ahlil Bait. Jelas, kesaksian mereka memiliki nilai sejarah yang khas dan termasyhur. Di antara nama-nama itu, ada yang hidup semasa dengan masa kelahiran Imam Mahdi as dan kegaiban singkat beliau as (Mafatihul Ulum, hal. 32-33, cet. Leiden, 1895).

Mengapa Dinasti Abbasiyah Berusaha Membunuh Imam Mahdi as?

Penguasa dinasti Abbasiyah juga sangat mengetahui dan meyakini hadits-hadits nabi tentang akan munculnya imam mahdi yang akan menumbangkan pemerintahan zalim. Oleh karena itu, tidak heran penguasa saat itu memperlakukan keluarga Imam Hasan Askari as (ayah imam mahdi) dengan penuh kewaspadaan.

Dalam upaya itu, Khalifah Mu’tamid (meninggal dunia 279 H) memerintahkan pasukannya untuk menginterogasi Imam Askari as dan menggeledah secara teliti untuk melacak ihwal Imam Mahdi as. Ia juga memerintahkan untuk menangkap orang-orang yang diberi wasiat oleh Imam Askari as. Dalam misi ini, Mu’tamid dibantu Ja’far Kadzab (pendusta) melakukan penangkapan, intimidasi, diskriminasi, penghinaan, dan pelecehan. [Syeikh Mufid, al-Irsyad, 2/336]

Semua itu terjadi tatkala Imam Mahdi as masih berusia lima tahun. Mu’tamid tak pandang umur dan tak perduli usia beliau karena ia percaya bahwa anak kecil itu akan menghancurkan kekuasaan dinastinya.

Sebagaimana telah tersebar dalam hadis nabi saww secara mutawatir, imam kedua belas dari Ahlul Bait as itu akan memenuhi dunia dengan keadilan setelah dipenuhi kezaliman. Ihwal Mu’tamid ini bagi Imam Mahdi as adalah laksana Fir’aun bagi Musa, yang dilepaskan ibunya di laut (sungai Nil) saat masih bayi lantaran kuatir kepadanya.

Tidak hanya Mu’tamid, kabar ini juga diketahui oleh penguasa sebelumnya, seperti Mu’taz dan Muhtadi. Karena itu, Imam Hasan Askari as bersikeras dan berusaha agar kabar kelahiran putranya (Imam Mahdi as) tidak tersebar kecuali hanya di antara para sahabat pilihan dan pembantu beliau.

Sikap dan perlakuan penguasa seperti itu menyingkapkan fakta bahwa mereka memahami secara benar, bahwa anak itu adalah Al Mahdi as yang dinantikan, yang telah disinggung hadis-hadis mutawatir. Kalau bukan dikarenakan keyakinan ini, lantas bahaya apa yang dapat mengancam eksistensi mereka dari wujud seorang anak kecil yang umurnya tak lebih dari lima tahun.

Seorang ulama mengatakan, jika kelahiran itu memang betul tidak terjadi, lantas, apa arti dari penangkapan para pembantu dan pengerahan para serdadu untuk mengawasi mereka dan menggeledah wanitanya yang mengandung dalam tempo yang tidak dapat dibenarkan, di mana salah satu pembantu wanita Imam Askari as diawasi selama hampir dua tahun. Belum lagi pengusiran dan teror terhadap para sahabat Imam as, lalu penyebaran mata-mata untuk mencari kabar tentang Imam Mahdi as serta pengawasan rumah beliau yang sedemikian ketat dan keras. [9]

4. Dalil Umur Panjang Imam Mahdi afs

Salah satu persoalan penting yang berkaitan dengan Imam Mahdi adalah masalah usianya yang begitu panjang.

Usia Imam dimulai dari tahun kelahirannya (255 H) dan berlanjut hingga masa sekarang ini dan akan terus hidup hingga muncul pada waktu yang Allah swt tentukan. Hasilnya, usia Imam amatlah panjang dan tidak biasa. Hal ini tiada bandingannya di zaman sekarang.

Mungkin meyakini adanya usia sepanjang ini bukanlah suatu perkara yang mudah bagi sejumlah orang. Namun, dalam fakta sejarah manusia, ada beberapa manusia yang tercatat dan dikenal memiliki usia ratusan tahun dan bahkan seribu tahun atau lebih. Salah satu yang usianya panjang dalam sejarah adalah Nabi Nuh as, Nabi Isa as dan Nabi Khaidir as.

Di dalam al-Quran, disebutkan bahwa Nabi Nuh as berdakwah kepada umatnya untuk bertauhid dan menyembah Tuhan yang Esa selama 950 tahun. Sekalipun tidak diberitakan pada usia berapa Nabi Nuh ditunjuk sebaga rasul dan pada usia berapa beliau as wafat, namun secara ringkas, dapat simpulkan bahwa usia Nuh as melebihi seribu tahun.

– QS: 29: 14: “Kami telah mengutus Nuh pada umatnya, kemudian ia bersama mereka seribu tahun kecuali lima puluh tahun…”

Karena itu tidak ada hal yang luar biasa bagi Allah swt untuk memanjangkan umur seseorang, seperti juga dalam banyak fakta sejarah lainnya, misal tidur panjangnya ashabul kahfi yang mereka adalah manusia biasa :

– QS: 18: 25: “Dan mereka berada di gua mereka itu selama tiga ratus tahun dan diperbanyak sembilan tahun.”

Ada lagi statement Al-Quran tentang Nabi Yunus as dalam QS: As-Saffat ayat 143-144:

Kalau sekiranya dia (Yunus as) bukan dari golongan orang-orang yang suka bertasbih, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari kiamat.”

Bayangkan saja, kalau Tuhan mau, bisa saja meletakkan seseorang dalam perut ikan dari sejak ratusan tahun sebelum Nabi Muhammad saww sampai hari kiamat yang entah kapan datangnya, dan dalam keadaan hidup.

Kalau ayat-ayat itu ditambah dengan hadits-hadits yang banyak dari Nabi saww tentang akan ghaibnya imam Mahdi as ini, maka sudah tidak akan ada lagi masalah bagi seorang mukmin sejati yang hatinya telah teruji dengan dalil, dan tidak mengikuti khayalan (yang tidak ada hadits hujjahnya sama sekali).

5.   Nabi Isa as pun Shalat di belakang Imam Mahdi afs: Bukti Lain Tentang Kemakshuman Imam Mahdi afs

Nabi saww bersabda:

“Dajjal keluar dalam situasi dimana agama jadi tertekan dan ilmu dijauhi … lalu datanglah Isa bin Maryam as, lalu shalat telah diiqomati dan dikatakan kepadanya: ‘Majulah (menjadi imam shalat) wahai Ruhullah!’ Isa as menjawab: ‘Sudah semestinya imam kalian yang mengimami shalat.’ ” (Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 3, hal. 367; dll.)

‎Nabi saww juga bersabda tentang Imam Mahdi afs sebagai imam yang dibanggakan karena walaupun nabi Isa as turun, akan tetapi ia as berimamah kepada Imam Mahdi afs.

“Bagaimana kalian -tidak bangga- ketika turun nabi Isa bin Maryam as diantara kalian, akan tetapi imam -yang wajib ditaati- adalah dari kalian.”

Periwayatan seperti ini dapat dilihat juga di Shahih Bukhari, bab Kitaab Bid-i al-Khalq; Shahih Muslim, bab Kitaab al-Iimaan, bab Bayaan Nuzuuli ‘Iisaa as; Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 2, hal. 336.

Apa artinya? Jika imam mahdi itu hanya manusia biasa, tidaklah mungkin seorang Nabi as bermakmum kepadanya.

Hadits ini juga makin menjelaskan kepada kita, sebuah isyarat bahwa Imam Mahdi afs tsb adalah seorang manusia Ma’shum (suci dari dosa).

Jika beliau (imam mahdi afs) seorang yang ma’shum, maka tentulah tidak mungkin beliau lahir dan diajar oleh ayah yang manusia biasa. Pastilah ayah dan kakeknya juga seorang imam ma’shum, sehingga mampu mengajarkan ilmu-ilmu Allah swt secara lengkap dan sempurna.

6.  Filsafat Kegaiban Imam Mahdi as

Mungkin diantara kita ada yang berpendapat, “Mengapa Imam Mahdi tidak tampak oleh pandangan manusia?  Mengapa Imam tidak dapat hidup di salah satu bagian dunia ini, sebagaimana manusia pada umumnya dan berupaya untuk menyebarluaskan hukum dan ketetapan agama serta memimpin umat?

Apakah tidak memungkinkan bila Imam hidup seperti itu hingga kondisi bagi kebangkitan dunia telah tersedia dan mengijinkannya untuk bangkit dan menggulingkan pemerintahan-pemerintahan yang zalim serta mendirikan pemerintahan Islam yang adil dan sejahtera.

Sebetulnya anggapan atau asumsi itu memang bagus, namun sayangnya hal demikian itu tidak dapat dilaksanakan.

Untuk lebih jelasnya mengenai persoalan ini dan mengapa tidak memungkinkan untuk dijalankan, mari kita perhatikan beberapa point penting di bawah ini:

1.  Program Imam Mahdi as tidak sama dengan program para imam lainnya. Para imam lainnya tidak memiliki kewajiban untuk melakukan perang bersenjata  untuk mendirikan pemerintahan Islam, melaksanakan hukum serta undang-undang agama, memerangi  kezaliman, dan membela orang-orang tertindas serta kaum lemah. Akan tetapi, Imam Mahdi as akan mengemban tugas yang berat ini dan hal ini terhitung sebagai kekhususannya. Rasulullah saw dan para imam suci as mengenalkan Imam Mahdi afs seperti tersebut.

2.   Pemerintahan Imam Mahdi as bersifat internasional, maktabi, serta Islami. Pemerintahan itu tidak terbatas pada sebuah negara atau teritorial tertentu, kaum atau bahasa tertentu. Sudah barang tentu untuk mendirikan pemerintahan global seperti itu bukanlah perkara yang mudah sehingga memerlukan kesiapan internasional dari dua sisi.

    • Pertama, kesiapan militer, yakni pasukan Imam Mahdi harus lebih unggul daripada pasukan militer lainnya.
    • Kedua, kesiapan opini umum sehingga sebagian besar masyarakat dunia akan menerima pemerintahan seperti itu dan berjihad serta berkorban di jalan kebenaran.

3.  Dari segi akal dan naqli (al-Quran dan hadis) telah terbuktikan bahwa wujud imam dan hujjah adalah suatu keharusan bagi kelanjutan generasi manusia dan bumi tidak akan pernah kosong dari  wujud seorang hujjah.

4.  Menurut hadis-hadis yang banyak jumlahnya dan bersifat mutawatir, jumlah para imam setelah Rasulullah saw adalah dua belas. Sebelas dari mereka telah datang dan telah meninggal dunia. Imam yang kedua belas, yakni al-Mahdi yang dijanjikan, harus hidup dan bertahan hingga hari kiamat.

5.  Rasulullah saw dan para imam suci di masa kehidupannya berkali kali telah memberitahu persoalan Mahdi as dan kebangkitannya. Mereka, antara lain, berkata, “Saat kezaliman sudah merajalela dan menguasai dunia, Mahdi akan bangkit dan melalui jihad serta pengorbanan para sahabat dan mereka yang sepemikiran dengannya, Imam Mahdi as akan memerangi kezaliman dan mencabutnya hingga ke akar-akarnya lalu mendirikan sebuah pemerintahan yang adil dan Islami.

Nah … dengan mempertimbangkan hal-hal yang disebutkan tadi, mari kita lihat apakah Imam Mahdi dapat hidup sebagaimana manusia pada umumnya di salah satu sudut dunia ini seraya menunaikan kewajiban dan tugas pada batasan yang memungkinkan untuknya?

Anggaplah kita terima premis atau anggapan ini, lalu apa yang akan terjadi? Padahal Imam Mahdi pasti akan senantiasa berhadapan dengan dua kelompok ini:

    • Golongan yang pertama adalah orang-orang yang tertindas dan yang terzalimi. Golongan ini senantiasa ada di sepanjang sejarah. Kelompok ini merupakan kelompok yang paling banyak di tengah masyarakat dan menantikan pertolongan.Ketika kelompok ini mengetahui bahwa Imam Mahdi berada di tengah-tengah mereka (yang mana mereka memang telah menunggu sang juru penyelamat yang akan memperbaiki keadaan dunia yang gelap oleh kezaliman) pastilah akan menghendaki kebangkitan internasional.

      Dengan asumsi seperti ini, apabila imam memberikan jawaban positif terhadap keinginan mereka lalu memasuki kancah perang, kebangkitan Imam Mahdi as tidak akan mendatangkan kesuksesan; sebab belum tercipta landasan bagi kebangkitan internasional. Mau tidak mau, Imam akan terbunuh dan akhirnya bumi kosong dari hujjah dan imam.

      Sebaliknya, jika imam tidak mengabulkan keinginan orang-orang yang tertindas ini dan tidak bangkit, orang-orang tertindas akan berputus asa dan bercerai berai.

      Oleh karenanya, tidak ada jalan lain, kecuali imam harus gaib dulu sekian lama sampai keadaan untuk kebangkitan dan perjuangan internasional memungkinkan.

    • Golongan kedua adalah pemerintahan-pemerintahan tiran dan arogan di dunia yang sepanjang sejarah dan di berbagai belahan dunia tidak segan melakukan berbagai macam kejahatan untuk melanggengkan dominasi dan kekuasaan mereka. Mereka pasti akan menghilangkan setiap potensi sekecil apapun yang dapat mengancam kekuasaan mereka.Kelompok ini, jika mengetahui bahwa Al Mahdi yang dijanjikan tsb telah muncul, maka mereka akan  merasakan bahaya yang sangat besar dan pasti berupaya untuk meneror dan membunuh Imam Mahdi as. Akhirnya, dunia pun akan kosong dari hujjah.

      Karena itulah, kegaiban Imam Mahdi as merupakan suatu keharusan untuk mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang semacam itu. Itulah filosofi mengapa imam mahdi masih berada dalam keghaiban dalam masa yang sangat panjang.

VIDEO – VIDEO TENTANG IMAM MAHDI

1.   Karunia Besar Penantian Kepemimpinan Sempurna Imam Mahdi afs

 

 

2.   Dari Sulbi Siapakah Imam Mahdi afs

3.  Keberadaan Imam Mahdi bin Hasan Askari as Tersebar Luas Sebagai Fakta Sejarah

4.  Bukti – Bukti Keberadaan Imam Mahdi afs

 

SUMBER REFERENSI & DAFTAR BACAAN

  • https://icc-jakarta.com/2020/03/17/wujud-imam-mahdi/
  • https://www.islamquest.net/id/archive/fa1353
  • https://www.islamquest.net/id/archive/fa1362
  • https://www.islamquest.net/id/archive/question/fa2668
  • https://id.wikishia.net/view/Hadis_Man_Mata
  • http://www.ibrahimamini.com/id/node/2072
  • http://www.dalil-dalil.com/index.php/category/imam-mahdi/
  • https://icc-jakarta.com/2018/01/19/pembuktian-kemunculan-imam-mahdi-afs-melalui-ayat-ayat-al-quran/
  • http://catatanustadsinaragama.blogspot.com/2018/02/catatan-kecil-tentang-imam-mahdi-as.html
  • https://islam.nu.or.id/post/read/119209/imam-mahdi-sang-khalifah-akhir-zaman–siapakah-ia-
  • http://sadra.ac.id/diskusi-forum-antar-pakar-al-mahdi-dan-kegaiban-di-stfi-sadra.html/
  • http://ikmalonline.com/menakar-ilmu-imam-mahdi-afs-1/
  • http://alhassanain.org/indonesian/?com=content&id=2137
  • https://secondprince.wordpress.com/2010/02/15/shahih-hadis-imam-ali-pintu-kota-ilmu/
  • https://id.wikishia.net/view/Hadis_Tsaqalain
  • https://id.wikishia.net/view/Hadis_Madinatul_%27Ilmi
  • https://sinaragama12.blogspot.com/2019/11/imamah-dan-khilafah.html
  • https://id.wikishia.net/view/Mungkar_dan_Nakir
  • https://id.wikishia.net/view/Ayat_Ujian_Nabi_Ibrahim_as

 

Catatan Kaki:

[1].  Kasyf al-Mahjah li Tsumarah al-Mahjah, hlm. 273

[2].  Mahdi Faqih Imani, Ishalate Mahdawiyat dar Islam az Didgahe Ahlu Tasannun, Qom 1376 S

[3].  Hikmah Isyrâq, dari tulisan dan karangan Syeikh Isyraq, jil. 2, hal. 11-12; Syarah Hikmah Isyraq, hal. 23-24

[4].  Bihâr al-Anwâr, jil. 23, hal. 5.

[5].  Banu Isfahani, Sayyidah Nushrat Amin, Makhzan al-Irfân dar Tafsîre Qurân, jil. 3, hal. 39, penjelasan ayat 44 surah An-Nahl

[6].  Situs https://islam.nu.or.id/post/read/119209/imam-mahdi-sang-khalifah-akhir-zaman–siapakah-ia- (diakses tgl 12 Maret 2021)

[7].  Ilzamun Nashib fi Itsbatil Hujjah al-Gaib, Syeikh Ali Yazdi Hairi, 1/321-440

[8].  Syeikh Mahdi Faqih Imani, Mahdi al-Muntazhar fi Nahjil Balaghah, 16-30

[9].  Difa’ ‘anil Kulaini, Hasan Hasyim Tsamir ‘Amidi, 1/567-568

Makna Kematian Dalam Islam

Makna kematian dari sudut pandang Islam bukanlah ketiadaan melainkan bermakna jiwa manusia yang abadi ini, terputus hubungannya dengan badan dan sebagai hasilnya akan keluar dari badan. Dan jiwa tanpa badan ini akan melanjutkan kehidupannya hingga masa tertentu dan akan kembali ke badan.[1]

Allah Swt berfirman, “Dan mereka berkata: ‘Apakah bila kami telah lenyap (hancur) dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?’ Bahkan mereka ingkar akan menemui Tuhannya. Katakanlah: ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan’.” (Qs. Al-Sajdah [32]:10-11)

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Keluarnya orang-orang beriman dari dunia laksana keluarnya bayi dari rahim ibu yaitu dari kegelapan dan kesempitan, tekanan menuju tempat yang benderang dan luas.”[2]

Imam Ali as bersabda, “Wahai manusia! Kami dan kalian diciptakan untuk tinggal bukan untuk tiada. Kalian tidak akan mati dengan meninggal melainkan berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain; karena itu, siapkanlah bekal dan sangu untuk tempat yang abadi yang nantinya akan kalian datangi.”[3]

Imam Husain As ditanya tentang apakah kematian itu? Kematian adalah sebaik-baik kegembiraan yang mendatangi seorang beriman.” Jawab Imam Husain As.[4]

Imam Husain bersabda, “Kematian adalah jembatan yang akan menyampaikan kalian dari kesulitan dunia menuju pada kebahagiaan dan kemurahan Tuhan, sementara bagi musuh-musuh Tuhan perpindahan dari istana ke penjara.”[5]

Karena itu, ayat-ayat dan riwayat-riwayat memberikan kesaksian bahwa dengan kematian atau binasanya jasad tidak akan memberikan pengaruh pada ruh.

Ruh akan lestari dan tetap ada serta ia memiliki kemandirian dan kehakikian. Karena keperibadian kita adalah pada ruh dan jiwa, bukan pada badan dan jasad kita.

Kematian tidak bermakna ketiadaan dan kehancuran, melainkan perpindahan dari satu alam ke alam yang lain dan kehidupan manusia tetap berlanjut.

Membaca al-Quran untuk Orang Mati

Setelah kematian manusia, bagi kerabat dan orang beriman lainnya harus melaksanakan amalan-amalan seperti memandikan, mengkafankan, menyalatkan dan menguburkan serta kewajiban-kewajiban yang telah berlalu dari seorang mukmin harus segera dilaksanakan.

Namun pelaksanaan sebagian amalan bagi orang yang telah meninggal mustahab (sunnah) di antaranya adalah bersedekah, berdoa dan membaca al-Quran.

Dalam kaitannya dengan penetapan terkabulkannya bacaan al-Quran bagi orang-orang yang telah meninggal terdapat dua jenis dalil yang dapat dijelaskan.

Jenis pertama adalah riwayat-riwayat yang menjelaskan secara umum supaya tetap mengingat orang-orang yang telah meninggal. Mereka mendapatkan keberkahan dari kebaikan-kebaikan yang kita lakukan; dan jelas bahwa bacaan al-Quran merupakan salah satu perbuatan baik dan terpuji.

Dalam hal ini, terdapat beberapa riwayat yang disinggung sebagian di antaranya sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, “Jangan lupakan orang-orang yang telah istirahat tenang di alam kubur di antara kalian. Orang-orang yang telah meninggal dari kalian menantikan kebaikan dari kalian. Mereka terpenjara dan berharap pada perbuatan-perbuatan baik kalian. Mereka sendiri tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya sendiri. Hadiahkan mereka dengan sedekah dan doa.”[6]

Imam Shadiq as bersabda, “Orang mati akan merasa gembira karena mengharapkan rahmat dan ampunan yang dilimpahkan kepadanya sebagaimana orang hidup akan bergembira ketika memperoleh hadiah.”[7]

Jenis kedua adalah riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang pengaruh bacaan al-Quran bagi orang yang telah meninggal; seperti riwayat ini dimana Imam Ridha as bersabda, “Barangsiapa yang berziarah ke kuburan seorang beriman dan membacakan tujuh kali surah al-Qadr maka Allah Swt akan mengampuni pemilik kubur itu.”[8]

__________
sumber: [iQuest] http://www.islamquest.net/id/archive/question/fa4017

[1] Thathabai, Sayid Muhammad Husain, Āmuzesy Din, Sayid Mahdi Ayatullah, hlm. 133, Daftar Intisyarat Islami, Jamiah Mudarrisin Hausah Ilmiah Qum, Cetakan Keempat, 1385 S.
[2] Nahj al-Fashāhah, hadis 2645, Sazeman Cap wa Intisyarat Jawidan.
[3] Syaikh Mufid, Irsyād, hlm. 229, Intisyarat Islami.
[4] Faidh Kasyani, Mulla Muhammad Muhsin, Mahajjat al-Baidhā, jld. 8, hlm. 255, Capkhaneh Shaduq, Tehran.
[5] Mahajjat al-Baidhā, jld. 8, hlm. 255.
[6] Yazdi, Syaikh Hasan bin Ali, Anwār al-Hidāyah, hlm. 115, Capkhaneh Nu’man, Najaf.
[7] Mahajjat al-Baidha, jld. 8, hlm. 292.
[8] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihār al-Anwār, jld. 79, hlm. 169, Mansyurat Capkhaneh Islamiyah, Tehran.

Siapa Qassem Soleimani, Jenderal Iran Yang Ditakuti AS & Israel

Sosok pendiam, santun dan pemalu. Dan dia bukan tipe orang yang “sulit ditebak” seperti yang dikatakan oleh jenderal-jenderal di Amerika.

Di dalam negerinya, tidak banyak cerita mengenainya. Namun di luar negaranya, sepak terjangnya diibaratkan oleh militer Amerika sebagai sosok monster yang mengancam seluruh kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Di Kota Teheran tempat tinggalnya, para tetangga dan sanak kerabat mengenal lelaki ini sebagai pribadi yang menarik dan seorang kepala keluarga yang menyayangi istri dan anak-anaknya. Saat di rumah, ia beraktivitas dengan teratur dan tenang.

Dialah Mayor Jenderal Qassem Suleimani, Panglima Brigade Quds Iran, sebuah satuan super elite di Garda Revolusi yang memiliki tugas-tugas khusus, seperti penculikan, spionase, kontra intelijen, hingga operasi sabotase.

Brigade Quds konon lebih misterius dari pasukan Garda Revolusi (Pasdaran), yang dikenal menguasai seluruh aset dan infrastruktur penting militer Iran. Pasukan ini dikenal karena operasi-operasi militer dan doktrin yang sangat rapi dan terorganisir.

Di Timur Tengah, ia dikenal sosok yang sangat berpengaruh. Militer Amerika menyebut Suleimani sebagai orang yang sangat berpengaruh dalam politik luar negeri Republik Islam Iran, karena ia memegang sejumlah operasi-operasi penting, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Begitu penting dan strategisnya sosok Suleimani, sampai-sampai Kongres Amerika Serikat pernah mengusulkan secara terbuka untuk meneror Suleimani, jika mungkin dibunuh. Usulan teror dari lembaga kongres Amerika mengejutkan, sekaligus menunjukkan kapasitas Suleimani dan Pasukan Quds yang dipimpinnya.

The Guardian terbitan Inggris dalam sebuah tulisannya menyebut banyak para pejabat Amerika Serikat menyatakan sangat ingin bertemu dengannya. Sejumlah jenderal di Pentagon dibuat terkesima atas aksi-aksinya di sejumlah operasi rahasia.

Seorang pejabat militer Amerika bahkan berkata, “Jika saya bertemu dengannya, sangat sederhana sekali, saya akan bertanya apa yang diinginkannya dari kami [Amerika].”

Meski Suleimani adalah seorang jenderal dan panglima sebuah pasukan militer, Amerika Serikat lebih suka menudingnya sebagai teroris yang mengutamakan operasi militer dalam mencapai target.

Amerika tidak dapat memungkiri bahwa Suleimani juga menang di medan politik. Koran McClatchy terbitan Amerika Serikat edisi 30 Maret 2008 menyebutkan, “Suleimani menjadi mediator dalam menghentikan bentrokan antara pasukan keamanan Irak yang mayoritas Syiah dan pasukan radikal Moqtada Sadr di kota Basrah.

Langkah ini jelas tamparan bagi militer Amerika. Dan Suleimani menunjukkan kemampuannya untuk unggul di kancah politik, bukan saja di bidang militer. Pada Januari 2005, ketika berkunjung ke Irak untuk pertama kalinya pasca tumbangnya rezim Saddam Hussein, Suleimani dengan santai meninjau lokasi pemungutan suara.

Saat Amerika Serikat mendukung Iyad Alawi sebagai calon perdana menteri, Suleimani memulai aktivitasnya mengumpulkan dukungan terhadap kelompok Syiah pro-Iran. Ia membimbing kelompok Syiah mencapai kemenangan dalam pemilu.

Pasca pemilu, Presiden Amerika Serikat kala itu, George W. Bush, menyebut Irak akan segera memiliki pemimpin yang luar biasa. Nyatanya, hasil pemilu Iyad Alawi kalah.

Zalmay Khalilzad, Duta Besar Amerika Serikat untuk Afghanistan pernah mengatakan, “Sedemikian luas Amerika Serikat menuding Suleimani sebagai pengobar perang, sebesar itu pula Suleimani aktif dalam mewujudkan perdamaian. Ia berperan besar dalam mengakhiri bentrokan antara pasukan keamanan Irak dan pasukan Muqtada Sadr.”

Seorang anggota parlemen Irak yang juga merupakan asisten PM Irak Nouri al-Maliki, berkomentar tentang sosok Suleimani.

“Hanya sekali dia datang ke Irak dalam delapan tahun terakhir. Ia adalah sosok yang tenang ketika berbicara dan rasional serta sangat sopan. Ketika Anda berbicara dengannya, ia berperilaku sangat sederhana. Selama Anda tak tahu dukungan [pasukan] yang dimilikinya, Anda tak akan pernah tahu berapa besar kekuatannya, tidak ada orang yang mampu berperang melawannya.”

Tidak seperti para jenderal Amerika yang doyan main petak umpet saat berkunjung ke Irak, Suleimani datang tanpa pengawal dan hanya ditemani dua orang.

Dengan santai dan tenang ia masuk ke kawasan zona hijau yang diawasi ketat oleh militer Amerika Serikat di Baghdad. Selama di zona hijau itu, ia melakukan perundingan dan setelah itu kembali ke Iran tanpa ada keributan.

Suleimani, bukan sosok yang susah ditebak. Dia adalah Panglima Brigade Quds, dan statusnya cukup membuat gentar orang-orang Amerika Serikat. Untuk menutupi ketakutan mereka, disebar cerita-cerita fiktif menakutkan tentang Suleimani.

Saat perang Iran-Irak meletus, Suleimani, kelahiran 11 Maret 1958 di Kerman, juga terjun ke medan perang. Tidak lama, Suleimani menjadi panglima pasukan dari wilayahnya dan setelah itu, ia memimpin Lashkar-e41 Sarallah. Usai perang Panglima Besar Angkatan Bersenjata memanggil Suleimani ke Tehran dan melantiknya sebagai Panglima Brigade Quds dan jabatan itu diembannya hingga kini.

Ia adalah momok bagi Amerika Serikat, tapi kebanggaan bagi Republik Islam Iran. Dengan penampilan sedemikian sederhana, tidak akan ada orang yang menyangka Suleimani adalah Panglima Brigade Quds.[jurnal3]

THE SHADOW COMMANDER

Ketika pecah perang ISIS di suriah, tidak mudah bagi Iran untuk terjun langsung ke kancah perang Suriah.

Permasalahan utamanya ada di propaganda pihak lawan yang memiliki jaringan media internasional, yang selalu mengaitkan keterlibatan Iran dalam konteks sektarian, Sunni vs Syiah. Bashar Assad Presiden Suriah sudah di propagandakan sbg syiah.

Meski Iran sudah mengirimkan Hezbollah untuk membantu Suriah, tapi belum cukup karena pihak yg dilawan bukan hanya ISIS dan kelompok militan lainnya, tetapi juga NATO. Karena itulah Iran mencari jalan memutar untuk membantu Suriah. Jalan memutar itu adalah dengan melibatkan Rusia sebagai penyapu jalan.

Menggandeng Rusia dan China bukan hal mudah. Tetapi dengan masuknya Rusia yang notabene non muslim, maka isu sektarian berhasil di-minimalisir, sehingga Iran bebas utk masuk medan. Cerdik, kan ?

Inisiator dari semua ini adalah Jenderal Qasem Sulaeimani. Kalau anda penggemar novel Tom Clancy dan Frederick Forsyth, pasti akan selalu penasaran kisah tokoh2 yang bergerak aktif di belakang layar.

Iran sebagai negara yang mempunyai musuh yang kuat, mempunyai satu pasukan khusus. Pasukan khusus ini dibentuk untuk menjaga Iran dari serangan langsung. Dibawah pimpinan langsung Pemimpin Besar Iran atau Rahbar, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, dibentuklah Divisi Al Quds, di pimpin Jenderal Qasem Sulaemani.

Tugas divisi ini sangat unik. Ia adalah “tangan rahasia” Iran untuk mengembangkan kekuatan mereka di luar negeri. Menurut sumber, divisi ini mendapat dana sekitar 20 triliun rupiah setiap tahun.

Salah satu jaringan luar negeri yang istimewa bagi divisi Al Quds adalah Hezbollah Lebanon. Hezbollah adalah gerakan perlawanan terhadap Israel dibawah pimpinan Sayyid Hassan Nasrallah.

Dengan Hezbollah, Qasem Sulaemani mematahkan serangan langsung Israel maupun melalui ISIS di Lebanon. Jenderal Qasem memasok persenjataan mutakhir buatan Iran dan Rusia kepada Hezbollah sehingga mereka menjadi organisasi kuat yang ditakuti oleh negara musuhnya. Qasem juga melatih langsung tentara Suriah dalam rangka membela negaranya dari gempuran pemberontak yg dipasok barat.

Bukan itu yang ditakuti oleh AS, tetapi kemampuan pasukan Qasem untuk menyamar dan memecah belah musuh dari dalam-lah yang ditakutkan AS. Kekalahan ISIS di Mossul diakui Al Baghdadi Komandan ISIS adalah berkat kemampuan memecah belah pasukannya dari dalam. Mereka saling memenggal anggota pasukannya sendiri karena menjadi saling curiga satu sama lainnya.

Julukannya banyak. Rahbar sendiri menjulukinya sebagai the living martyr atau syahid yang hidup. Para Jenderal AS memberi julukan The Shadow Commander. Media AS seperti Newsweek memberinya gelar The Nemesis. Bahkan, seperti di kutip dari koran terbitan Inggris The Guardian, seorang pejabat militer AS berkata, “Jika saya bertemu dengannya, ingin saya menjabat tangannya dan bertanya apa yg diinginkannya dari kami ?”

Inilah bentuk penghargaan dari musuh2nya yang terkesima dengan hasil kerjanya, meskipun di depan publik mereka menyebutnya teroris.

Jenderal Qasem Sulaemani bukan saja ahli strategi perang. Ia juga ahli politik. Saat tahun 2005 di Irak, pasca tumbangnya Saddam Hussain oleh AS, sang Jenderal datang ke Irak. AS yang senang dengan kemenangannya berharap untuk menjadikan Irak sebagai The New Saudi Arabia. Tetapi strategi Qasem Sulaemani menghancurkan mimpi mereka. Dia mengalahkan calon kuat AS sebagai Perdana Menteri Irak. Bukan itu saja, AS ternganga ketika melihat Jenderal Qassem dengan santainya tanpa pengawalan ketat mengunjungi TPS-TPS. Beda dengan Jenderal AS yang selalu berjalan di Irak dengan banyak pengawal.

Seorang anggota parlemen Irak yang juga merupakan asisten PM Irak Nouri al-Maliki, berkomentar tentang sosok Suleimani. “Hanya sekali dia datang ke Irak dalam delapan tahun terakhir. Ia adalah sosok yang tenang ketika berbicara dan rasional serta sangat sopan. Ketika Anda berbicara dengannya, ia berperilaku sangat sederhana. Selama Anda tak tahu dukungan [pasukan] yang dimilikinya, Anda tak akan pernah tahu berapa besar kekuatannya, tidak ada orang yang mampu berperang melawannya.”

Dibalik namanya yang menjadi momok bagi AS, sang Jenderal adalah sosok yang sederhana. Baju perangnya adalah bergabung dengan rakyat. Ia mampu berada dalam waktu singkat di sebuah negara dan tiba2 ada di negara lain.

Jenderal Qaseem Sulaemani adalah sosok yang dihormati oleh pihak lawan. Seandainya mereka tidak berseteru, tentu Jenderal2 AS akan sangat senang sekedar minum kopi bersamanya.

Qasem Sulaemani adalah pahlawan bagi rakyat Iran. Ketika anak2 di seluruh dunia ingin menjadi sosok pahlawan di komik Marvel dengan jubah dan celana dalam di luar, anak2 Iran bercita2 ingin menjadi seperti Qasem Sulaeimani, pahlawan mereka.

Surat Syahid Qasim Sulaimani kepada anaknya

بسم الله الرحمن الرحيم

Apakah ini perjalanan terakhirku atau hal lain ialah takdirku, apapun itu aku ridha atas ridha Nya.

Kutulis di perjalanan ini untukmu, agar saat kerinduan tanpa hadirku, ada kenangan yg tersisa. Barangkali kautemukan sepatah kata bermanfaat dalamnya.

Di awal setiap perjalanan saya merasa tak akan melihat kalian lagi; berkali kali kubayangkan wajah wajah penuh kasih dihadapanku, berkali kali pula kuteteskan airmata mengenang semua itu.
rindu padamu, kutitipkan kalian pada tuhan.

Walaupun jarang kesempatan untuk menujukkan kasih, tak mampu menyampaikan cinta yang dalam pada kalian.

Tetapi wahai sayang sayangku, pernahkah terlihat orang yang bercermin lalu berkata pada matanya bahwa ia mencintainya,
Jarang terjadi memang, tapi matanya sudah pasti sangat berharga baginya.
Kalianlah mataku.
Mau kusebutkan atau tidak, tetap sangat berarti bagiku.

Sudah 20 tahun lebih cemas khawatir kalian, dan tuhan menakdirkan hal itu tak selesai disini, dan mimpi ketakutan ini berlanjut bagi kalian.

Putriku, sekuat apapun kuberpikir dan lakukan agar menginginkan pekerjaan lain yang tak membuat sekhawatir ini, sungguh tak kutemukan;
semua ini bukan karena ketertarikanku pada sistem atau kekuatan yang ada, bukan pula karena pekerjaanku, juga bukan dan tidak pernah karena paksaan atau tuntutan siapapun.

Tidak putriku, saya tidak akan sedetik pun membuatmu khawatir karena pekerjaan, tuntutan atau paksaan, apalagi sampai membuatmu menangis.

Saya melihat bahwa tiap orang memilih jalannya dalam semesta ini, yang satu mempelajari dan lainnya mengajar. Yang satu berdagang, ada yang bertani, dan berjuta jalan lainnua, atau lebih tepatnya, pekerjaan dan jalan itu ada sebanyak jumlah manusia , lalu setiap dari mereka memilih jalan miliknya.

Kurenungkan jalan mana yang akan kupilih, lalu kutimbang beberapa hal.
Pertama, sepanjang apakah jalan ini?
Dimana ia berujung?
Berapa lama kesempatanku?
Dan yang utama, apa tujuanku?

Kudapatkan bahwa waktuku terbatas, waktu semua orang terbatas. Singgah beberapa hari lalu pergi lagi.
Sebagian bertahun tahun, ada yang puluhan tahun, jarangpula yang sampai seratus tahun. Namun semua mereka akan pergi. Waktu semua orang terbatas.

Kulihat jika berdagang, ujungnya akan terkumpul setumpuk uang berkilau, beberapa rumah dan mobil. Namun semua itu takkan berdampak pada nasibku di perjalanan ini.
Lalu kupikir untuk hidup demi kalian, tapi kusadari begitu berharga nya kalian bagiku, sampai sampai jika kalian tersakiti seluruh jiwaku ikut merasakannya. Jika permasalahan menimpa kalian, aku merasa diriku di tengah api menyala, jikalau suatu hari kalian meninggalkanku, runtuh lah bagian2 jiwaku.
Lalu kucari cara menangani kekhawatiranku ini, kautemukan bahwa diriku harus tersambung pada yang dapat mengobati semua itu, dan ia tak lain adalah tuhan.

Kalian, bunga bunga hatiku, sebagai harta yang begitu berharga, bukan untuk dilindungi dengan uang dan tahta. Seandainya begitu, harusnya orang orang kaya dan para petinggi jabatan bisa menggunakan kekuatan itu untuk mengindari mati, atau melindungi diri dari penyakit2 mereka. nyatanya tidak.
maka aku memilih tuhan, ia dan jalannya.

Untuk pertama kali aku akan mengakui ini, sebenarnya aku tak pernah ingin menjadi seorang militer, tak pernah menyukai gelar gelar. bagiku kata kata indah “qasim” yang dilontarkan mulut pahlawan itu, tak tergantikan dengan jabatan apapun.
aku menyukai menjadi qasim tanpa awalan dan akhiran, tanpa julukan. maka dari itu aku wasiatkan agar tertulis di atas kuburanku, Tentara Qasim, dan bukan qasim sulaimani, karna sesungguhnya akan menambah atas beban tanggunganku.

Putri terkasihku, kupinta pada tuhan agar semua bagian diriku, setiap nadiku, dipenuhi cinta Nya. aku tak memilih jalan ini untuk membunuh orang, kau tau betul aku bahkan tak kuasa melihat ayam yang dipotong kepalanya.

Jika aku membawa senjata, itu niscaya untuk menghadap orang2 pembunuh, bukan membunuh orang. ku melihat diriku sebagai penjaga untuk setiap rumah muslim yang ada dalam bahaya, dan betapa inginnya diriku agar tuhan memberikan kekuatan untuk bisa membela semua orang terzolimi di dunia ini.

Semua ini bukan demi memberikan jiwa untuk agamaku tercinta, karna sesungguhnya tak berharga nyawaku untuk kebesarannya,
bukan, bukan itu, tetapi untuk anak anak ketakutan tanpa pelindung yang tak tau harus lari kemana, untuk wanita2 yang memeluk balitanya erat penuh kecemasan, untuk ia yang terlantar, terpaksa kabur dan dikejar karena sebercak darah yang ia tumpahkan untuk melindungi sekitarnya. untuk mereka aku berperang.

Sayangku, akulah bagian dari para tentara yang tidak tidur dan tidak boleh tertidur, agar oranglain tidur dalam ketenangan. biarlah ketenanganku kukorbankan demi tenangnya mereka agar pulas tertidur.

Putriku tersayang, dirimu hidup di rumah yang aman dan tentram dengan harga diri dan martabat. tapi bagaimana untuk perempuan kecil tak berdaya yang tak ada pelindung, dan balita yang kejar menangis usai kehilangan segala.. semuaa yang dia miliki. Maka nazarkanlah diriku untuk mereka. Maka biarlah ayah pergi, bagaimana tetap disini padahal kafilah ku berangkat dan aku tertinggal

Putriku, ayah begitu lelah, 30 tahun belum terlelap, namun kini tak lagi ingin tertidur. kutaburkan garam di kelopak mataku agar jangan sampai dalam kelalaianku, mereka potong kepala balita tak berdaya itu..

Jika kupikir kembali, mungkin dirimu si perempuan penuh cemas, sperti narjis, dan zainab, dan mereka yang terjagal di medan perang ialah husainku rezaku, maka apa yang kau harapkan dariku? menjadi penonton? bersikap tak acuh? berdagang?? tidak. aku tak bisa hidup seperti itu putriku.

والسلام عليكم و رحمت الله

Tag: #Jendral Qasim Sulaimani, #Brigade Quds, #Jendral Iran

sumber:
– http://pkspuyenganonline.blogspot.com/2016/02/inilah-qassem-suleimani-jenderal-iran.html
– https://www.facebook.com/dennyzsiregar/posts/the-shadow-commandertidak-mudah-bagi-iran-untuk-terjun-langsung-ke-kancah-perang/975329175863284/

Menjawab Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur Itu Dengan Ilmu Hakikat – Apa Maksudnya?

Semua kita sudah tahu, bahwa nanti di alam kubur, Malaikat Munkar dan Nakir akan bertanya kepada kita: Siapa Tuhanmu, Siapa Nabimu, Apa Kitabmu, dst …

Dalam menjawab pertanyaan itu, sebagian besar kita menganggap bahwa “kita sudah aman” karena sudah tahu jawabannya. Apakah benar demikian?

Berikut ini adalah ulasan dan penjelasan Hujjatul Islam wal Muslimin Ustadz Hasan Abu Ammar, seorang pelajar agama yang menempuh study selama lebih dari 35 tahun dalam bidang-bidang Ilmu Logika (Mantik), Filsafat, Fiqih, Ushulfiqih, dan Irfan (Gnosis), dan telah mencapai derajat Mujtahid.

Silakan simak penjelasannya pada video di bawah ini:

PEMBAGIAN ILMU

Ilmu terbagi dua yaitu ilmu hushuli dan ilmu hudhuri.

Ilmu hushuli adalah ilmu yang didapatkan melalui panca indra, definisi, dan argumentasi. Ilmu ini tidak akan dibawa mati. Ketahuilah bahwa ilmu itu akan hangus ketika kita meninggal dunia.

Tetapi kalau semua ilmu hushuli itu di-hudhuri-kan (di amalkan) maka ilmu inilah yang akan dibawa mati … sehingga nanti ilmu inilah yang bisa menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan malaikat.

Di akhirat itu pertanyaan para malaikat tidaklah menggunakan bahasa, karena malaikat tidak perlu kepada bahasa … tetapi pertanyaan itu melalui hakikatnya.

Pertanyaan malaikat “Siapa Nabimu” jika mau dibahasakan (hakikatnya) adalah kurang lebih: “apakah kamu mengikuti Muhammad saw, dan seberapa yang kamu kerjakan yang sampai pada tingkat ikhlas dan istiqomah dan sampai pada tingkat huduri yang ada pada jiwamu, ruh mu sekarang ini?

WUJUD RUH MANUSIA

Hakikatnya, ruh ini beraneka ragam. Ruh manusia akan terbentuk sesuai dengan amalan / perbuatan nya.

Perbuatan apapun, baik perbuatan baik ataupun perbuatan yang tidak baik semua akan menjelma pada ruh manusia. Misalnya kalau seseorang yang berhakikat penipu, maka jiwanya/ruhnya berhakikat ular. Maka ketika di akhirat ia akan berwujud ular. Sehingga ketika ia ditanya siapa Nabimu maka jiwa sebagai ular itu tidak akan dapat menjawab pertanyaan itu.

Di dunia ini semua dapat kita bahas … karena pembahasan semua itu adalah ilmu-ilmu husuli. Tetapi di akhirat nanti, ilmu hudhuri lah yang dilihat atau dibangkitkan. Artinya yang tidak ada pada dirinya (hudhuri) dia tidak akan mengetahuinya.

Maka jika seseorang yang ketika dibangkitkan jati dirinya berhakikat ular maka ia tidak akan mengenal Qur’an, Nabi, Imam … bahkan ia benci/anti pada semua itu. Nauzubillahi min zaalik.

JADI … ilmu yang akan dibangkitkan itu adalah ilmu yang benar, yang dimengerti dan diamalkan, lengkap dengan syarat-syaratnya, lalu benar sampai mati.

Sedangkan ilmu hushuli … ia bahkan bisa hilang ketika sudah pikun, ketika lupa, ketika ia mati, atau kalau ia sudah dibangkitkan di akhirat.

Ilmu yang akan abadi bersama kita (di akhirat) adalah ilmu hudhuri … yang ia sudah MENSUBSTANSI menjadi diri kita (karena istiqomah).

Cara menghudhurikan semua ilmu hushuli adalah ILMU ITU DIAMALKAN, seperti misalnya ilmu fiqih yang diamalkan dengan benar sesuai fiqih sampai ilmu itu menjadi hudhuri (mensubstansi) pada diri kita.

Ilmu hudhuri jika dilakukan terus-menerus ia akan menjadi ZAT DIRI KITA … sehingga kita akan bercahaya sebagaimana cahaya sholat, sehingga jika kita ditanya ‘siapa Tuhanmu’, maka cahaya itu (jiwa yang bercahaya) itulah yang akan menjawabnya dengan sangat mudah.

Wujud Diri Kita Ditentukan Oleh Amal-Amal Kita

 

 

 

Dalam Berdo’a, Mengapa Tidak Meminta Langsung Kepada Allah SWT?

Dalam berdo’a, mengapa kita tidak langsung meminta kepada Allah swt? Mengapa kita memerlukan wasilah (tawassul)? Apakah tawassul boleh?

Jawabannya adalah: tawassul memang adalah merupakan perintah dari Allah SWT, salah satunya termaktub dalam surat al Maidah ayat 35:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya (wasilah) dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kalian mendapat keberuntungan”.

Juga dalam QS.  An-Nisa ayat 64 diterangkan salah satu contoh tawassul melalui Rasulullah saw.

”Dan Kami tidak mengirim seorang rasul kecuali untuk ditaati dengan ijin Allah. Kalaulah mereka -umat- menzhalimi diri mereka sendiri -dengan dosa- lalu datang kepadamu -Muhammad- dan meminta ampun kepada Allah dan RasulNyapun memintakan ampun untuk mereka, maka sudah pasti mereka akan mendapati Allah itu Maha Penerima Taubat dan Maha Kasih.” 

Dalam video diatas diceritakan suatu contoh tawassul :

Dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khathab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muthalib, lalu Umar berkata: “Ya Allah, kami telah bertawasul dengan Nabi kami Saw. dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawasul dengan Paman Nabi kami Saw., maka turunkanlah hujan.” Maka hujan pun turun.”
(HR. Bukhari dalam Shahih al-Bukhari juz 1 halaman 137).

Istilah tawassul dalam Qur an, dipakai dalam dua versi yang berbeda:

I.  Yang menolak tawassul pada obyek tertentu, yaitu di QS. 17: 56-57:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا (56) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Katakanlah (Muhammad): ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selainNya (Allah), maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari padamu dan tidak pula memindahkannya.’
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari wasilah (tawassulan) kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah untuk dijadikan tawassulan) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzabNya, sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.”

Di ayat ini tawassulnya orang-orang kafir ditolak mentah-mentah oleh Allah.

Sebenarnya, yang ditolak bukan tawassulnya, melainkan obyek tawassulnya, yakni orang-orang yang celaka yang dianggap oleh para penawassul kafirin itu sebagai dewa-dewa atau orang hebat dan tinggi.

Sementara Tuhan yang Maha Tahu mengatakan kepada mereka para kafirin bahwa yang dijadikan tawassulan oleh kafirin itu juga mencari tawassulan agar selamat dari siksa.

Dalam larangan tawassul di ayat ini, yakni pada obyek tertentu ini, terdapat pembolehan tawassul juga. Karena Tuhan mengatakan bahwa yang dijadikan tawassulan oleh kafirin itu, juga mencari tawassulan. Ini jelas bahwa tawassul itu boleh, asal benar adanya. Siapa itu? Yaitu orang-orang yang lebih dekat kepada Allah sebagaimana jelas digambarkan di ayat ini.

II.   Yang memerintahkan tawassul, yaitu di QS. 5:35:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan berpegang teguhlah pada wasilah-wasilah menujuNya dan berjuanglah di jalanNya agar kalian menjadi menang/berjaya.”

Dalam ayat ini jelas dengan muhkam/muhkamat, Tuhan memerintahkan kita untuk bertawassul dengan suatu obyek untuk mendekatiNya.

PEMBAHASAN

Kalau kedua ayat di atas digabung, maka dengan mudah menarik kesimpulan akan maksud Tuhan terhadap tawassul atau berperantara ini, yaitu:

1.  Bahwa yang dilarang Tuhan itu bukan tawassulnya, melainkan obyek tertentu dari tawassulnya. Yaitu orang kafir, pendosa dan siapa saja yang jauh dari Allah dan tergolong orang-orang yang celaka.

2.  Tawassul itu mesti dengan orang yang lebih dekat kepada Allah sebagaimana dijelaskanNya pada ayat pertama di atas.

3.  Tuhan tidak jauh dari siapapun, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita atau lebih dekat dari kehidupan kita sendiri kepada kita. Tapi mengapa ada tawassul? Jawabannya adalah karena Tuhan yang dekat kepada manusia itu bisa juga murkaNya.

Apapun itu, Kuasa Tuhan pasti dekat dengan siapa saja. Nah, yang dimaksud jauh dari Allah adalah yang jauh dari rahmat dan ridhaNya serta ada dalam dekapan murkaNya. Sedang yang dimaksud dekat denganNya adalah yang dekat dengan rahmat dan ridhaNya yang disebabkan oleh ketaqwaannya.

Orang-orang Wahabi tidak dapat memahami hal yang teramat mudah ini. Karena itu mereka mensyirikkan tawassul yang jelas-jelas ada di dalam Quran di atas. Salah satu alasannya karena Tuhan dekat pada manusia dan bahkan lebih dekat dari urat nadinya. Mereka tidak tahu bahwa dekatnya Tuhan pada pemaksiat seperti Fir’aun, adalah murkaNya, bukan ridhaNya.

4.  Ketika Tuhan memerintahkan tawassul dengan manusia yang lebih dekat kepadaNya sebagaimana dijelaskanNya di ayat pertama di atas, maka jelas memiliki hikmah di dalamnya, seperti:

–  Sikap mengakui dan tawadhu’ pada yang lebih mulia di sisiNya.

–  Mengenal siapa yang lebih mulia di sisiNya.

– Merangsang untuk meniru yang lebih mulia itu setelah mereka mengenali mereka, mengimani mereka dan tawadhu’ terhadap mereka (yang lebih mulia di sisi Allah).

–  Merangsang untuk mendatangi dan belajar kepada yang lebih mulia itu.

–  Tidak ada kelebihmuliaan di sisiNya yang pasti selain yang sudah dikatakanNya sendiri dalam Qur an, seperti Nabi saww dan para nabi as, Ahlulbait yang makshum as (QS: 33:33). Sedang selain mereka seperti orang shalih, syuhada’ dan semacamnya, walau bisa dijadikan tawassulan secara lahiriah, akan tetapi tidak menjamin seratus persen kebenarannya secara hakiki. Akan tetapi hal itu sudah dimaafkan olehNya karena kita memang tidak tahu batin dan tidak tahu yang hakiki sebagaimana yang diketahui di Lauhu al-Mahfuuzh.

–  Tawassulan yang lebih dijamin kemustabahannya atau keterkabulannya adalah tawassul yang memiliki unsur-unsur di atas, yaitu mengenali, mengakui/mengimani, tawadhu’, menyintai, belajar, mencontoh dan menghormati yang dijadikan obyek tawassulannya itu. Karena itulah Tuhan berfirman seperti di:

 1.  QS: 43:86:

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan tidaklah orang-orang yang meminta kepada selainNya itu memiliki syafaa’at kecuali orang yang menyaksikan (berjalan) dengan haq dan mereka mengetahuinya.”

Di ayat ini syarat mendapatkan syafaa’at adalah mengetahui jalan benar dan menjalaninya.

2.  QS: 4:64:

(وَلَو أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاؤُكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّاباً رَحيِماً)

“Dan kalau mereka berbuat zhalim terhadap diri mereka, datang kepadamu (Muhammad) lalu meminta ampun kepada Allah dan Rasulullah juga memintakan ampunan untuk mereka, maka mereka akan mendapatkan Allah itu Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.”

Di sini orang yang mau bertawassul dengan Nabi saww disuruh mendatangi beliau saww. Itu tandanya supaya dapat melihat beliau saww hingga tawadhu’, hormat, belajar dan mencontoh beliau saww.

Di ayat ini juga diterangkan bahwa salah satu dari diterimanya tawassul adalah dengan istighfar, yakni mengakui kesalahan, sedih dan meminta ampunanNya.

3.  QS: 12:97-98:

(قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ، قَالَ: سَوْفَ اسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ)

“Mereka (anak-anak nabi Ya’quub as yang menzhalimi nabi Yusuf as) berkata: ‘Wahai ayah kami, mintakanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami sesungguhnya kami adalah orang-orang yang salah.’ Berkata (Ya’quub as): ‘Aku akan memintakan ampunan untuk kalian dari Tuhanku sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Penyayang.’.”

Mengakui kesalahan dan istighfar di ayat ini jelas sekali dapat dilihat. Yakni sebagai syarat diterimanya tawassul dan syarat kelayakan mendapatkan syafaa’at.

4.  QS: 40:7:

(وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْء رَحْمَةً وَعِلْمَاً فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوُا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ)

“Dan mereka (para malaikat) memintakan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya bermohon): ‘Wahai Tuhan kami, Engkau telah meluaskan atas semuanya sebagai rahmat dan ilmu, maka ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalanMu serta lindungilah mereka dari adzab jahannam.’.”

Di ayat ini dijelaskan bahwa salah satu diterimanya tawassul itu adalah dengan berjalan di jalan Allah. Yakni hidup dengan penuh iman serta mengamalkan fiqihNya dengan baik.

______
sumber: http://catatanustadsinaragama.blogspot.com/2016/10/dalil-dalil-tentang-bolehnya-tawasul.html

Hadis Shohih Tentang Amalan Ibadah pada malam Nisfu Sya’ban

Malam Nisfu Sya’ban atau malam 15 Sya’ban merupakan malam yang diagungkan umat Islam, bahkan dianggap malam spesial setelah Laylatul Qadr di bulan Ramadan.

Pada malam Nisfu Sya’ban kaum muslimin berkumpul di masjid-masjid, surau-surau atau di rumah masing-masing. Aneka ritual dilaksanakan demi memperoleh ampunan Allah SWT yang tujuan akhirnya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an Surat 44 ayat 3-4 tertera:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (QS. Ad-Dukhan [44]: 3-4)

Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim menafsirkan surah ad-Dukhan ayat 3-4 di atas sebagai malam Nisfu Sya’ban ketika ditetapkan segala perkara dalam satu tahun.

Dalam Sahih Ibnu Hibban, hadis 1980, Syu’ab al-Iman al-Baihaqi, j. 2, h. 288, al-Kabir dan al-Awsath at-Tabrani, Musnad Ahmad bin Hanbal, hadis 6642, Ibnu Majah, hadis 1389-90, Silsilah Ahadits as-Shahihah, j. 3, h. 135, hadis 1144 terdapat riwayat yang menyatakan bahwa …

Allah SWT memeriksa makhluk-makhluknya pada malam Nisfu Sya’ban. Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali seorang musyrik dan yang saling bermusuhan.”

Juga dalam Kitab Shohih Al Jami Ash Shogir, yang disusun oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albaani, Jilid Ke 2, halaman 785, hadis No: 4628, cetakan Ke 3 Tahun 1988M/1408H, terbitan Al maktab Al Islami … Al-Albaani menukil satu riwayat/hadits yang berbunyi:

Rasulullah saw bersabda, “Pada malam Nisfu Sya’ban, Allah akan mengampuni dosa-dosa para penghuni bumi, kecuali musyrikin dan orang-orang yang bermusuhan.”

Bahkan Imam Syafi’i  (Muhammad bin Idris as-Syafi’i) salah satu dari imam 4 mazhab Ahlussunnah,  dalam Kitab Mausu’ah Al Umm, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyyah pada jilid pertama, pada halaman 395, menyatakan bahwa doa niscaya dikabulkan pada 5 malam, yaitu malam Jum’at, malam Idul Adha, malam Idul Fitr, malam pertama Rajab, dan malam Nisfu Sya’ban.

Imam Syafi’i berkata, “Dan telah sampai kepada kami bahwa sesungguhnya berdo’a di lima malam akan dikabulkan: yaitu pada malam jum’at, malam Idul Fitr, malam Idul Adha, malam awal bulan Rajab dan malam pertengahan bulan sya’ban (nisfu sya’ban). Dan aku memandang baik apa-apa yang diceritakan tentang malam-malam ini tanpa menjadikannya wajib.”

Pernyataan Imam Syafi’i ini telah dikutip oleh para ulama lintas generasi hingga sekarang ini sebagai salah satu acuan/dalil mendirikan ibadah pada malam Nisfu Sya’ban.

Silakan disimak kutipan kitab-kitab tsb pada video berikut ini:

Dengan adanya dorongan hadis di atas, umat Islam berlomba-lomba mencari ampunan Tuhan di malam nisfu syaban ini. Malam itu juga diyakini umat Islam sebagai malam penentuan taqdir baik dan buruknya bagi setiap muslim selama satu tahun ke depan.

***

Hadis-hadis tersebut diatas semakin menjelaskan kepada kita tentang keutamaan menghidupkan malam nisfu sya’ban. Karena pada malam itu Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa para penghuni bumi yang meminta ampunan-Nya.

Sungguh rugi mereka yang mengatakan bahwa menghidupkan malam nisfu sya’ban adalah bid’ah, padahal pada malam itu dosa-dosa kita akan terampuni jika kita berdo’a dan memohon ampunan Allah swt.

Bukankah Allah swt sendiri telah menegaskan dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 135 yang artinya:

“dan [juga] orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri lalu mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”

Permohonan ampunan Allah swt itu harus dimulai dari permintaan hambanya, kemudian Allah swt akan memberikan ampunan.

Nah, pada malam nisfu sya’ban itu, mari kita gunakan dengan sebaik-baiknya untuk ingat pada Allah (zikir dan ibadah) lalu memohonlah ampunan kepada Allah swt atas semua dosa-dosa kita.

 

Sumber:
- https://safinah-online.com/amalan-malam-nisfu-syaban-menurut-sunnah-dan-syiah/

- https://www.youtube.com/watch?v=QtDUwwyCwpY

Hadits – Hadits Tentang Ahlul Bait Nabi SAW

Mengapa Al-Quran hanya bisa dipahami dan ditafsirkan oleh Rasulullah saww dan Ahlulbait as saja?

Karena hanya manusia-manusia suci dan disucikan oleh Allah yg mampu memahami dan menafsirkan Al-Quran. Hal ini sesuai dengan nash al-Quran, yaitu dalam surat Al-Waqi’ah ayat 79:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya (al-Quran) kecuali orang-orang yang disucikan.”

Menyentuhnya disini bukan dimaknai secara tekstual sebagai menyentuh/memegang kitab suci Al-Quran, namun harus dimaknai secara kontekstual yaitu yg mampu memahami dan menafsirkan Al-Quran.

Lalu siapa yg dimaksudkan oleh Allah orang-orang yang disucikan tersebut?

Orang-orang yang disucikan itu terdapat dalam Surat Al-Ahzab 33:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“…Sesungguhnya Allah hanya ingin menghilangkan noda dari kamu, wahai Ahlulbait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.”

Ayat Thathir (Penyucian) diatas adalah diwahyukan ketika Nabi saww berada di rumah Ummu Salamah, salah satu istri Nabi.

Asbabun Nuzul ayat ini dijelaskan dalam hadis yg sangat masyhur, shahih dan mutawatir yaitu Hadis Al-Kisa’.

Tidak main-main, hadis Al-Kisa’ ini diriwayatkan oleh 2 istri Nabi saww dan sedikitnya 17 sahabat Nabi saww dalam kitab-kitab Shahih Sunni maupun Syiah, dan hanya yg bersikap jahil dan keras kepala saja yang meragukan atau menolak hadis ini.

Hadis Al-Kisa’ yg diriwayatkan oleh Ummu Salamah:

شهر بن حوشب، عن أم سلمة : إن النبي صلى الله عليه و آله جلل على علي و حسن و حسين و فاطمة كساء، ثم قال : اللهم هؤلاء أهل بيتي و خاصتي، اللهم أذهب عنهم الرجس و طهرهم تطهيرا. فقالت أم سلمة : و أنا منهم؟ قال : انك الى خير

Syahr bin Hausyab mengutip dari Ummu Salamah yang berkata, “Sesungguhnya Nabi saww meletakkan kain Kisa’ di atas kepala Ali, Hasan, Husain dan Fathimah sambil berkata, ‘Ya Allah! Mereka inilah Ahlulbaitku. Ya Allah! Hilangkanlah dari mereka segala kenajisan dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya’. Maka Ummu Salamah bertanya, ‘Bukankah aku termasuk diantara mereka juga?’ Nabi saww menjawab, ‘Engkau berada di atas jalan kebenaran.”‘

Sumber : Musnad Ahmad bin Hambal jilid 10 halaman 197 hadis ke 26659, Sunan Tirmidzi jilid 5 halaman 699 hadis ke 3871)

Sedangkan berikut ini, Hadis Al-Kisa’ yg diriwayatkan oleh Aisyah:

صفية بنت شيبة : قالت عائشة : خرج النبي صلى الله عليه و آله غداة و عليه مرط مرحل من شعر أسود، فجاء الحسن بن علي فأدخله، ثم جاء الحسين فدخل معه، ثم جاءت فاطمة فأدخلها، ثم جاء علي فأدخله، ثم قال : إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت و يطهركم تطهيرا.

Shafiyah binti Syaibah mengutip Aisyah yg berkata, “Nabi saww keluar rumah di suatu pagi dengan mengenakan pakaian wol hitam. Kemudian Hasan bin Ali masuk dan Nabi saww menempatkannya di bawah selendang (Kisa’). Setelah itu, Husain bin Ali pun datang dan Nabi saww menyelimutinya dengan selendang beliau itu juga. Kemudian Fathimah datang dan Nabi saww menempatkannya juga di bawah selendang itu, dan akhirnya Ali tiba dan bergabung dengan keluarganya di bawah kain Kisa’ itu. Lalu Nabi saww membacakan ayat, ‘Sesungguhnya Allah hanya berkehendak untuk menghilangkan kenajisan dr kalian, wahai Ahlulbait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.”‘

Sumber : Shahih Muslim jilid 4 halaman 1883 hadis ke 2424, al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain jilid 3 halaman 159 hadis ke 4707

Riwayat ini juga terdapat dalam kitab :

1. Kitab Shahîh Sunan At-Tirmizi, karya Tirmidzi, {lahir tahun 824-892 M} halaman 870, hadis nomer 3871, terbitan Maktabah Ma’arif, Riyadh cetakan ke-dua tahun 2007 M, yang disahihkan oleh Al- Albâni:
“… dari Syahr bin Hausyab dariUmmu Salamah: …….”

2. Kitab Sunan Tirmizi, {lahir tahun 824-892 M} jilid 6, hal 387-388, hadis nomer 4121, Terbitan Risalah A’lâmiyah, Cetakan pertama tahun 2009 M* yang di tahqiq oleh Syuaib Arnaut.
“… dari Syahr bin Hausyab dariUmmu Salamah: …….”

3.  Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal {lahir tahun 780-855 M} jilid 28, halaman 195-196, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakanaan ke-dua tahun 2008 M* yang disahihkan oleh Syuaib Arnaut, hadis riwayat Watsilah bin Al-Asqâ’.

4.  Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, {lahir tahun 780-855 M} Jilid 44, halaman 118-119, terbitan Muassasah Ar-Risalah, cetakan ke-dua tahun 2008 M, yang disahihkan oleh Syuaib Arnaut: diriwayatkan oleh Ummu Salamah.

5.  Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, Jilid 11, Halaman 258, hadis nomer 13663, terbitan Dâr Al  Hadis Al-Qahirah, cetakan pertama tahun 1995 M, yang dihasankan oleh Hamzah Ahmad Zain [DL)* diriwayatkan dari anas bin malik

6.  Kitab Syarah Musykil Al Atsar, karya Abu Ja’far Ath Thahhâwi {lahir tahun 852-933 M} Jilid 8, halaman 479, terbitan Dâr Al Balansiyah cetakan pertama tahun 1999 M*
Ath Thahhâwi berkata: “Dari Anas, “Sesungguhnya Rasulullah saw  “

7.   Kitab Asy-Syari’ah, karya Âjuri  {wafat tahun 970 M} , jilid 5, hal 2208, hadis nomer 1696, terbitan Dâr Al  Al Wathan, Riyadh, cetakan. pertama tahun 1997 M, yang dihasankan oleh Muhaqiq  kitab; Abdullah bin Umar bin Sulaiman Ad-Dumaiji [DL], dari riwayat Ummu Salamah.

Siapa Itu Ahlu Dzikr Yang Dimaksud Al-Qur’an?

Hal ini diperjelas lagi dengan ayat Al-Quran yang lain tentang siapa yang dapat memahami dan menafsirkan Al-Quran dengan benar.

Terdapat dalam surat An-Nahl ayat 43…

…فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“…Bertanyalah kepada orang-orang yang memiliki risalah (Ahlu Dzikr) jika kalian tidak mengetahui.”

Risalah/al-Dzikr (Pemberi Peringatan) yang dimaksud dalam ayat diatas adalah Rasulullah saww, dan orang2 yg memiliki (Ahlu Dzikr) itu adalah keluarga/Ahlulbait Rasulullah as.

Rasulullah saww ketika ditanya tentang ayat ini siapa yg dimaksud dengan Ahlu Dzikr? Beliau saww menjelaskan…

قال رسول الله صلى الله عليه و آله : الذكر أنا و الأئمة أهل الذكر

Rasulullah saww bersabda, “Yg dimaksud dengan al-Dzikr (pemberi peringatan) itu adalah aku, sedangkan para Imam adalah Ahlu Dzikr.”

Sumber : Al-Kafi jilid 1 halaman 210 hadis ke 1

Begitu juga ketika Imam Muhammad Al-Baqir as ditanya mengenai ayat tersebut, beliau as menjelaskan…

قال امام الباقر عليه السلام : نحن أهل الذكر

Imam Muhammad Al-Baqir as berkata, “Kami adalah Ahli Dzikr yg dimaksud”.

Sumber : Tafsir Thabari jilid 10 halaman 17 hadis ke 5 dan Ibnu Syahr Asyub dalam Manaqibnya jilid 4 halaman 178

Dan masalah ini dipertegas lagi dalam surat At-Thalaq ayat 10-11…

فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ آمَنُوا قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا
رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ…

“Maka takutlah kalian kepada Allah wahai orang-orang yang memiliki pemahaman, yang telah beriman, karena Allah sesungguhnya telah menurunkan kepada kalian Dzikr (pemberi peringatan) seorang Rasul yang membacakan atas kalian ayat-ayat Allah yg mengandung keterangan-keterangan yang jelas…”

Jadi jelas dalam firman Allah diatas bahwa Dzikr (pemberi peringatan) adalah Rasulullah saww, sedangkan Ahlu Dzikr adalah ‘Itrah Ahlulbait (para Imam Ahlulbait as) dimana Allah perintahkan bagi umat manusia untuk tempat bertanya.

Disamping penjelasan ayat-ayat dan hadis-hadis diatas, maka penjelasan hadis Shahih Ats-Tsaqolain dibawah ini semakin menegaskan bahwa Ahlulbait as itu adalah padanan Al-Qur’an, dimana keduanya adalah Tali Allah yg membentang dari langit ke bumi, dan berpegang teguh kepada Tali Allah tersebut adalah suatu kewajiban agar manusia tidak tersesat setelah wafatnya Rasulullah saww.

قال رسول الله صلى الله عليه و آله و سلم : إني تارك فيكم ما أن تمسكتم به لن تضلوا بعدي، أحدهما أعظم من آخر كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض و عترتي أهل بيتي و لن يتفرقوا حتى يردا علي الوضع فانظروا كيف تخلفوني فيهما

Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya aku tinggalkan bagi kalian yg jika berpegang teguh padanya niscaya kalian tidak akan tersesat setelah aku tiada. Yang satunya lebih besar dari yang satunya lagi, yaitu Kitabullah yang merupakan Tali yang membentang dari langit ke bumi, dan ‘Itrahku, Ahlulbaitku. Keduanya tidak akan berpisah hingga bergabung denganku di Telaga Haudh. Maka perhatikanlah bagaimana kalian bersikap terhadap keduanya sepeninggalku.”

Sumber : Sunan Turmudzi jilid 5 halaman 663 hadis ke 3788 dan Al-Kafi jilid 1 halaman 294 hadis ke 3.


 

Perbedaan Antara Bid’ah Sesat dengan Bid’ah Hasanah Menurut Imam Syafi’i dan Ibn Taimiyyah

Apa sebetulnya perbedaan antara bid’ah yang sesat dengan bid’ah hasanah (yang baik)? Mari kita simak penjelasan Imam Halabi yang dikutip dari Kitab Sirah Al Halabiyyah Karya Imam Al Halabi yang bermadzhab Asy Syafi’i, Jilid pertama halaman 123, Cetakan Ke 3 Tahun 2008M Terbitan Daarul Kutub Al I’lmiyyah dan juga pandangan Ibn Taimiyyah dalam Kitab Dar’u Ta’arud karya Ibn Taimiyyah Jilid pertama, Halaman 249, Cetakan pertama tahun 2008M/1429H, Terbitan Daarul Fadhilahdalam dalam video berikut ini:

___________
Artikel lainnya:
Dalil Hukum Memperingati Maulid Nabi SAW Menurut Madzhab Syafi’i
Perayaan maulid nabi bukan bid’ah
Apakah Merayakan Maulid Nabi saw Merupakan Bid’ah?

Apakah Merayakan Maulid Nabi saw Merupakan Bid’ah?

Mari kita simak penjelasan adanya perintah (Ashli) dalam Al-Qur’an untuk memuliakan Nabi saw dalam video berikut ini:

___________
Artikel lainnya:
Dalil Hukum Memperingati Maulid Nabi SAW Menurut Madzhab Syafi’i
Perayaan maulid nabi bukan bid’ah
Perbedaan Antara Bid’ah Sesat dengan Bid’ah Hasanah Menurut Imam Syafi’i dan Ibn Taimiyyah