[Video] Pembunuh Ali bin Abi Thalib ternyata seorang ahli ibadah

Penjelasan Video Diatas diambil dari 2 kitab, yaitu:

Dalam Kitab Mustadrak A’la Shohihayn karya Al Hakim An Naisaburi, jilid ke 3, halaman 351, cetakan tahun 2002M/1422H, terbitan Daar Al Fikr Beirut libanon, terdapat riwayat tentang dua manusia yang paling celaka, satu diantaranya adalah pembunuh Imam Ali Bin Abi Thalib

Lalu dalam Kitab Mizanul I’tidal karya Imam Adz Dzahabi, jilid 4, halaman 320, cetakan ke 2 tahun 1429H/2008M, terbitan Daarul Kutub Al Ilmiyyah, Beirut, Libanon, juga terdapat biografi pembunuh Imam Ali Bin Abi Thalib yang ternyata pembunuh Ali bin Abi Thalib tsb tersebut adalah seorang ahli Ibadah.

Kisah Tragis Kematian Ali bin Abi Thalib

Hukum itu milik Alloh, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”

Itulah teriakan Abdurrohman bin Muljam Al Murodi (Khowarij) ketika menebas tubuh khalifah Ali bin Abi Tholib pada saat bangkit dari sujud sholat Shubuh pada 19 Ramadhan 40 H.

Abdurrohman bin Muljam menebas tubuh sayyidina ali bin abi thalib dengan pedang yang sudah dilumuri racun yang dahsyat. Racun itu dibelinya seharga 1000 Dinar.

Tubuh imam Ali bin Abi Tholib mengalami luka parah, tapi beliau masih sedikit bisa bertahan. Tiga hari berikutnya (21 Romadlon 40 H) nyawa sahabat yang telah dijamin Rosululloh SAW sebagai penghuni surga itu hilang di tangan seorang muslim yang selalu merasa paling Islam.

Imam Ali  dibunuh setelah dikafirkan.
Imam Ali  dibunuh setelah dituduh tidak menegakkan hukum Alloh.
Imam Ali  dibunuh atas nama hukum Alloh.

Itulah kebodohan dan kesesatan orang Khowarij yang saat ini masih ngetrend ditiru oleh sebagian umat muslim.

Maka sebagai hukuman atas kejahatannya membunuh imam Ali as, Ibnu Muljam kemudian dieksekusi mati dengan cara qishos .

Proses hukuman mati yang dijalankan terhadap Ibnu Muljam juga berlangsung dengan penuh dramatis. Saat tubuhnya diikat untuk dipenggal kepalanya dia masih sempat berpesan kepada algojo:

Wahai Algojo, janganlah engkau penggal kepalaku sekaligus. Tetapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Alloh.”

Ibnu Muljam meyakini dengan sepenuh hati bahwa aksinya membunuh suami Sayyidah Fathimah az zahro sepupu Rosululloh, dan ayah dari imam Al-Hasan  dan imam Husein  itu adalah sebuah aksi jihad fi sabilillah.

Seorang ahli surga meregang nyawa di tangan seorang muslim yang meyakini aksinya itu adalah di jalan kebenaran demi meraih surga Alloh.

Potret Ibnu Muljam adalah realita yang terjadi pada sebagian umat Islam di era modern kini. Generasi pemuda yang mewarisi Ibnu Muljam itu giat memprovokasi untuk berjihad di jalan Alloh dengan cara memerangi, dan bahkan membunuh nyawa sesama kaum muslimin.

Siapa sebenarnya Ibnu Muljam?

Diceritakan oleh Syamsuddin ad-Dzahabi (748 H) dalam kitabnya Tarikhul Islam wa Wafayati Masyahiril A’lam bahwa Ibnu Muljam merupakan sosok ahli al-Quran dan ahli fikih. Selain itu, ia merupakan orang yang gemar beribadah.

Ya, Ibnu Muljam adalah lelaki yang terlihat sholih, zahid dan bertakwa sehingga mendapat julukan Al-Muqri’. Sang pencabut nyawa imam Ali as ini itu juga seorang hafidz (penghafal Alquran) dan sekaligus orang yang mendorong sesama muslim untuk menghafalkan kitab suci tersebut.

Kholifah Umar bin Khottob pernah menugaskan Ibnu Muljam ke Mesir untuk memenuhi permohonan ‘Amr bin ‘Ash untuk mengajarkan hafalan Alquran kepada penduduk negeri piramida itu.

Dalam pernyataannya, Kholifah Umar bin Khottob bahkan menyatakan: “Abdurrohman bin Muljam, salah seorang ahli Alquran yang aku prioritaskan untukmu ketimbang untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Alquran kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia wahai ‘Amr bin ‘Ash” kata Umar. [Nukilan dari Al Ghuluww, Mazhâhiruhu, Asbâbuhu, ‘Ilâjuhu, Muhammad bin Nâshir al ‘Uraini, Pengantar: Syaikh Shâlih al Fauzân, Tanpa Penerbit, Cetakan I, Tahun 1426 H]

Sebelumnya, Ibnu Muljam juga merupakan salah satu pendukung Ali bin Abi Thalib. Bahkan ia juga pernah berperang bersama Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal melawan Aisyah, serta ia juga pergi ke Kufah untuk mengikuti perang Siffin antara kelompok Ali bin Abi Thalib dengan kelompok Muawiyah.

Namun saat perang siffin berakhir, dan disepakati arbitrase antara Ali dan Muawiyah, Ibnu Muljam menyatakan ketidak setujuannya. Ia berpendapat, dengan mengutip al-Quran, bahwa kesepakatan yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah tidak sesuai dengan tuntunan al-Quran dan Rasul Saw.

Ibnu Muljam pun keluar dari barisan pendukung Ali bin Abi Thalib dan memilih untuk menjadi bagian dari kelompok Khawarij. Jargon terkenal khawarij “lā hukma illa Allah” (tidak ada hukum yang harus ditaati kecuali hukum Allah) ia gunakan untuk menolak kebijakan Ali yang tunduk kepada arbiterase.

Afiliasinya kepada sekte Khowarij telah membawanya terjebak dalam pemahaman Islam yang sempit. Ibnu Muljam menetapkan klaim terhadap surga Alloh dengan sangat tergesa-gesa dan dangkal. Sehingga dia dengan sembrono melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam. Alangkah menyedihkan karena aksi itu diklaim dalam rangka membela agama Alloh dan Rosululloh.

Menjelang Kematian Ali bin Abi Thalib ra

Ibnu Muljam tidur di masjid dengan menyembunyikan pedang beracun di dalam bajunya. Ia tahu bahwa Imam Ali tidak pernah ketinggalan shalat subuh.

Begitu waktu subuh tiba, sebagaimana biasa Amirul-Mu`minin Ali bin Thâlib keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat Subuh dan membangunkan manusia. Imam Ali pula yang membangunkannya dari tidur.

Saat Imam Ali sedang sujud dalam shalatnya, saat itulah Ibnu Muljam pun menghunjamkan pedang beracunnya ke batok belakang kepala Imam Ali.

Ketika Ibnu Muljam menyabetkan pedangnya pada Imam Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berseru: “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah, bukan milikmu atau orang-orangmu (wahai ‘Ali),”

lantas ia membaca ayat :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridloan Alloh; dan Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. al Baqarah/2:207)

Meskipun Ibnu Muljam hafal Alquran, “bertaqwa dan rajin beribadah”, tapi semua itu ternyata tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khotimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya.

Generasi Baru Ibnu Muljam

Sadarkah kita bahwa saat ini telah lahir generasi-generasi baru Ibnu Muljam yang bergerak secara massif dan terstruktur. Mereka adalah kalangan sholeh yang menyuarakan syariat dan pembebasan umat Islam dari kesesatan. Mereka menawarkan jalan kebenaran menuju surga Alloh dengan cara mengkafirkan sesama muslim. Ibnu Muljam gaya baru ini lahir dan bergerak secara berkelompok untuk meracuni generasi-generasi muda Indonesia. Sehingga mereka dengan mudah mengkafirkan sesama muslim, mereka dengan enteng menyesatkan kiyai dan ulama.

Raut wajah mereka memancarkan kesalehan yang bahkan tampak pada bekas sujud di dahi. Mereka senantiasa membaca Alquran di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi.

Rasulullah dalam sebuah hadits telah meramalkan kelahiran generasi Ibnu Muljam ini:

Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Alquran dengan lisan mereka tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya.” (Shohih Muslim, hadits No.1068)

Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin.

Apa pesan moral yang kita dapat dari sejarah berdarah ini?

Bahwa pakaian agama tidaklah menjamin akhlak seseorang. Seperti iblis, ia beribadah dengan kesombongan. Hebatnya ritualnya bukannya menjadikannya sebagai manusia yang lembut dan pengasih, tetapi menjadikannya orang yang keras hati.

Apa yang menjadikan seseorang itu beragama tapi tidak menjadikannya benar?

Jawabannya mudah. Sombong. Inilah sifat yang membuat iblis di kutuk meski ia dikabarkan mahluk yang paling taat beribadah pada masanya.

Wahai kaum muslimin, waspadalah pada gerakan generasi Ibnu Muljam. Mari kita siapkan generasi muda kita agar tidak diracuni oleh golongan Ibnu Muljam gaya baru. Islam itu agama Rohmatan Lil Alamin . Islam itu agama keselamatan. Islam itu merangkul, dan bukan memukul.

Film Kisah Khalifah Ali bin Abi Thalib 

 

_____________________
Referensi & Bacaan Tambahan:
– satumedia.net/waspadai-generasi-ibnu-muljam-pembunuh-ali-bin-abi-thalib
– dennysiregar.com/2017/04/islamnya-ibnu-muljam.html
– nukita.id/read/386/20170501/001344/surga-ibnu-muljam
– almanhaj.or.id/2680-abdur-rahman-bin-muljam-potret-buram-seorang-korban-pemikiran-khawarij.html
– islami.co/ibnu-muljam-pembunuh-ali-bin-abi-thalib/

Bukti Gamblang Bahwa Ruh Manusia Itu Adalah Non Materi – Strukturalisasi Akhlak 06

Pada diri manusia ada ruh dan ruh ini bersifat non-materi. Ilmu dan pengetahuan yang kita peroleh atau amal-amal perbuatan yang kita lakukan misalnya, bukanlah tersimpan di otak (jasmani) tapi pada hakikatnya tersimpan di dalam ruh / jiwa manusia.

Kalau begitu, apa buktinya bahwa ruh manusia itu non-materi? Berikut ini beberapa bukti gamblang yang cukup mudah dipahami akal tentang adanya ruh ini pada manusia dan ruh tersebut hakikat keberadaannya adalah non-materi.

Silakan simak uraian kajian dari Hujjatul Islam wal Muslimin, Al Ustadz Hasan Abu Ammar.

Pengertian Ruh > Dalil-Dalil Filosofis Tentang Keberadaan Ruh dan Hakikat Non Materi – Strukturalisasi Akhlak 05

Ruh manusia pada hakikatnya adalah non-materi dan ia akan kekal atau abadi. Apa dalil atau argumentasinya?

Berikut ini silakan simak argumentasi global atau dalil-dalil filosofis terhadap ke-non-materian ruh atau jiwa manusia, untuk lebih memahami apa sebenarnya pengertian ruh tersebut bersama Hujjatul Islam wal Muslimin, Ustadz Hasan Abu Ammar.

 

Ruh Manusia Itu Abadi > Apa Bukti Bahwa Ruh Manusia Itu Kekal? – Strukturalisasi Akhlak 04

Manusia terdiri dari jasmani dan ruhani. Saat manusia meninggal, pada dasarnya ruh manusia meninggalkan tubuh jasmaninya menuju ke alam berikutnya melanjutkan perjalanannya menuju alam barzah, alam akhirat, syurga atau neraka.

Jasad manusia karena terikat dengan ruang dan waktu, ia akan hancur. Namun tidak demikian halnya dengan ruh. Ruh manusia, karena tidak terikat dengan ruang dan waktu, ia tidak akan sirna, tidak akan hancur, dan ia abadi atau kekal selamanya. Begitulah hakikat manusia.

Jadi, apa itu ruh? Apa yang dimaksud dengan non-materi? Apa bedanya materi dengan non-materi?

Ikuti ceramah kajian akhlak dan irfan berikut ini yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin, Ustadz Hasan Abu Ammar.

 

Hakikat Manusia Menurut Islam – Strukturalisasi Akhlak 03

Akhlak manusia, yang baik ataupun yang buruk, adalah suatu sifat yang telah mensubstansi ke dalam diri manusia. Atau dalam istilah filsafatnya adalah proses aksidental menjadi substansial bagi ruh manusia, bagi jiwa manusia …

Untuk memahaminya, tentu perlu kita mempelajari pengertian tentang ruh, tentang hakikat ruh manusia atau hakikat jiwa manusia dan bagaimana pengaruh akhlak padanya.

Simak ceramah kajian akhlak dan irfan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin, Ustadz Hasan Abu Ammar berikut ini.

Pengertian Ilmu Akhlak > Perbedaan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Kalam dan Ilmu Fiqih – Strukturalisasi Akhlak 02

Apa perbedaan antara ilmu akhlak dengan ilmu-ilmu islam lainnya, seperti ilmu tauhid, ilmu aqidah atau ilmu kalam atau ilmu teologi, dan apa pula bedanya dengan ilmu fikih?

Apa pengertian ilmu akhlak yang sebenarnya? Dan bagaimana hubungan antara ilmu akhlak ini dengan ilmu-ilmu lain tersebut? Bagaimana penerapan praktis diantara ilmu-ilmu tersebut?

Ikuti ceramah kajian akhlak dan irfan ini yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin, Ustadz Hasan Abu Ammar. Semoga bermanfaat.

Pengertian Akhlak Dalam Ajaran Islam – Strukturalisasi Akhlak 01

Banyak yang salah kaprah dalam memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan akhlak. Apa pengertian akhlak yang sesungguhnya dalam Islam. Apa bedanya pengertian akhlak secara ilmiah dengan pengertian akhlaq menurut pandangan umum.

Untuk memahami apa pengertian akhlak dan urgensinya dalam mengubah kehidupan kita, marilah simak video ceramah berikut ini, yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Ustadz Hasan Abu Ammar.

Dalam Kondisi Bagaimana Doa Kita Pasti Dikabulkan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kami akan jelaskan secara sederhana tentang makna dan pentingnya doa menurut Al-Qur’an.

Masalah perlunya doa tidak hanya agama Islam yang menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat serius. Tetapi juga pada agama nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumnya.

Berdoa merupakan sebuah perkara yang pasti dan para pemimpin Ilahi telah menyampaikan dan mengajarkan hal ini kepada umatnya. Selain itu mereka sendiri telah berdoa dalam banyak hal, di antaranya adalah doa Nabi Ibrahim As serta proses terijabahnya. Hal ini disebutkan dalam surat Ibrahim ayat 37,[1] dan juga doa Nabi Musa As[2] dan nabi-nabi lainnya.

Di dalam beberapa ayat, Allah Swt menyeru hamba-hamba-Nya untuk berdoa, di antaranya adalah surat al- Baqarah ayat 186 dan surat al Ghafir ayat 60.

Makna leksikal dan teknikal doa

Doa (dalam bahasa Arab) berarti membaca, meminta hajat dan memohon pertolongan. Terkadang juga diartikan secara mutlak; yakni membaca.[3]

Doa menurut istilah adalah memohon hajat kepada Allah Swt. Dalam Al-Qur’an, kata doa dan kata-kata jadiannya (musytaq) itu digunakan sebanyak 13 makna yang berbeda-beda, di antaranya adalah membaca, berdoa, meminta kepada Allah Swt, menyeru, memanggil, mengajak kepada sesuatu atau kepada seseorang, memohon pertolongan dan bantuan; beribadah dan lain sebagainya.[4]

Dari sebagian ayat dan riwayat Islam dapat disinyalir bahwa doa merupakan ibadah dan penyembahan atas Allah Swt.

Selain itu, pada sebagian redaksi riwayat dikatakan bahwa “ad du’aa mukhkhul ‘ibadah” (doa itu adalah otaknya ibadah), Dari sini doa juga sama seperti ibadah-ibadah lain yang memiliki syarat-syarat positif dan negatif.

Dengan kata lain, supaya doa dapat dilakukan dengan benar dan sempurna serta bisa dikabulkan dan bisa mendekatkan diri (kepada Allah Swt), maka orang yang berdoa harus memenuhi beberapa syarat dan adab. Dan juga harus meninggalkan hal-hal yang dapat menghalangi terijabahnya doa.

Dengan ini jelas bahwa sebab tidak diijabahnya sebagian doa karena Allah Swt adalah Maha Bijak lagi Maha Tahu dan seluruh perbuatan-perbuatan-Nya itu berdasar pada hikmah dan maslahat, dan terkabulnya doa itu tergantung pada kemaslahatan.

Demikian pula janji dikabulkannya doa itu bergantung kepada maslahat. Apabila ada seseorang yang terhormat lagi mulia mengumumkan; barangsiapa yang menginginkan sesuatu dariku maka aku akan memenuhi permintaannya. Lalu seseorang datang dan meminta sesuatu –dengan berkhayal bisa bermanfaat untuknya– yang pada hakikatnya berbahaya dan bahkan bisa merusak dirinya. Pada kondisi seperti ini, hal yang patut dilakukan oleh orang terpandang lagi mulia tersebut adalah ‘tidak memberi’ dan ‘tidak memenuhi’ permintaan orang tersebut. Jika ia tetap memberi dan memenuhi permintaannya, maka sikap ini bisa digolongkan sebagai perbuatan aniaya dan zalim. Mayoritas permintaan serta permohonan hamba-hamba-Nya itu mengandung hal-hal yang membahayakan diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadari hal ini.[5]

Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan: Sebagian hamba-hamba-Ku tidak bisa berubah menjadi baik dan tidak bisa menjaga imannya kecuali jika mereka itu kaya dan memiliki harta benda. Dan jika terjadi sebaliknya maka (iman) mereka akan hancur lebur; dan sebagian hamba lainnya, kefakiran dan kemiskinan itu lebih baik bagi mereka. Jika ditakdirkan kondisi lain kepada mereka, maka mereka akan menjadi binasa dan hancur.[6]

Mungkin saja terlintas sebuah syubhat dalam benak kita bahwa: Allah Swt lebih tahu hal yang maslahat bagi diri kita dan apa yang Ia kehendaki, itulah yang ditakdirkan untuk kita dan pasti akan terjadi dan tidak perlu lagi kita berdoa dan memohon kepada Allah Swt?

Untuk menjawab pertanyaan ini cukup dikatakan bahwa: Terealisasinya sebagian takdir Ilahi itu dengan doa hamba bergantung pada doanya; artinya bahwa apabila seorang hamba berdoa dan meminta, maslahat Ilahi itu punya hubungan erat dengan pemberian atau pemenuhan tersebut dan kalau ia tidak berdoa maka tak akan ditemukan satu pun maslahat dan tidak akan ditakdirkan baginya.[7]

Berasaskan hal ini, Allah Swt akan menolak doa-doanya yang bertentangan serta bertolak belakang dengan sistem terbaik alam semesta dan qadha (ketentuan) pasti Ilahi.

Misalnya seseorang memohon kepada Allah Swt supaya ia bisa hidup selamanya dan tidak pernah mati, karena doa seperti ini bertentangan dengan ketetapan Ilahi yang telah dijelaskan dalam surat Ali ‘Imran ayat 185 (kullu nafsin dzaiqatul maut; setiap yang hidup pasti akan merasakan kematian) atau ia meminta kepada Allah Swt supaya ia tidak lagi membutuhkan orang lain, maka doa seperti ini tidak akan pernah diijabah.

Dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa Imam Ali As mendengar seseorang mendoakan temannya dengan mengatakan: “Semoga Allah Swt tidak menimpakan kepadamu hal-hal yang tidak disukai dan tidak disenangi”, Imam Ali As bersabda: Anda ini telah memohon kepada Allah Swt akan kematian dan kebinasaan sahabat sendiri.[8] Yakni pada hakikatnya selama manusia itu hidup maka ia, sesuai dengan sistem tabiat dan alam cipta, akan selalu berhadapan dengan hal-hal yang tidak disukai dan bala serta malapetaka, kecuali ia tidak berada di dunia ini.

Terkait dengan masalah “tidak diijabahnya doa” , Allamah Majlisi –dalam menafsirkan sebuah riwayat– menyebutkan beberapa poin sebagai sebuah jawaban, yaitu:

Pertama: Janji Ilahi untuk mengabulkan doa itu tergantung pada kehendak Allah Swt, apabila Dia menghendaki, maka pasti akan diijabah sebagaimana firman-Nya dalam surat al An’am ayat 41 yang artinya adalah: ”maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya jika Dia menghendaki…”

Kedua: Maksud “ijabah” dalam riwayat itu adalah didengarkan dan diperhatikannya doa tersebut, karena Allah Swt mengabulkan doa orang mukmin itu sekarang juga. Akan tetapi Dia menunda untuk memberikan apa yang diinginkannya itu sehingga ia terus menerus melantunkan doa dan Allah Swt senantiasa mendengarkan bisikan suara kekasih-Nya tersebut.

Ketiga: Dalam mengabulkan doa, Allah Swt telah menyaratkan adanya maslahat dan kebaikan untuk hamba yang berdoa tersebut, karena Allah Swt adalah Maha Bijak dan Ia tidak akan pernah meninggalkan sesuatu hal yang maslahat dan membahagiakan hamba-hamba-Nya hanya karena sesuatu yang tidak bermanfaat. Jadi jelas bahwa seyogyanyalah kita mengakui bahwa janji-janji seperti ini yang datang dari Yang Maha Bijak memiliki persyaratan berupa unsur “maslahat”.[9]

Dalam kitab Ushul al-Kâfi disebutkan empat makna “ijâbah”, yaitu:

  1. Allah Swt segera memberikan apa yang diinginkan orang yang berdoa.
  2. Allah Swt mengijabah dan mengabulkan keinginannya, namun karena Allah Swt suka mendengar suara orang yang berdoa itu maka Dia menundanya dulu.
  3. Allah Swt mengabulkan dan mengijabah doanya, namun hasilnya itu berupa pembersihan dan penebusan atas dosa-dosa yang dilakukannya.
  4. Allah Swt mengabulkan doanya dan menyimpannya untuk di akhirat kelak.[10]          

Dari objek kajian diatas dapat dipahami bahwa makna “diijabahnya doa” itu bukan berarti bahwa ia dikabulkan secepat mungkin dan hasilnya nampak secara spontanitas dan yang berdoa pun mendapatkan apa yang dikehendakinya. karena sebagaimana diisyarahkan dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 89 Allah Swt mengijabah doa Nabi Musa As, dan karena demi beberapa kemaslahatan maka hasilnya itu berupa kehancuran dan kebinasaan Fir’aun, baru nampak 40 tahun kemudian.

Dan terkadang bukti diijabahnya doa itu berbentuk seperti ini dimana Allah Swt melipat-gandakan imbalan apa yang diinginkan orang yang berdoa itu pada hari kiamat –kepada orang yang ia sendiri tidak tahu bagaimana baik dan maslahatnya– sebegitu rupa dimana ketika ia menyaksikan imbalan dari keinginannya itu (yang demikian banyak) hingga berbisik sambil berharap bahwa seandainya tak ada satu pun hajat saya yang diijabah di dunia. (ia membenarkan bahwa doanya terkabul dengan sempurna).[11]

Sampai saat ini kita telah menjelaskan tentang makna doa, pentingnya doa dan syarat-syaratnya. Juga kita telah menjelaskan kenapa sebagian doa itu tidak dikabulkan serta apa maksud dari “diijabahnya doa”.

Nah, sekarang gilirannya kita menjawab pertanyaan tentang kondisi yang bagaimana doa itu diijabah dan dikabulkan? Para ulama dan mufassir Islam –berdasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat para Imam Ma’shum As– telah menyusun dan menyebutkan syarat-syarat dan adab-adab doa dan orang yang berdoa dimana dengan memenuhinya maka doa tersebut pasti akan dikabulkan.

Dalam buku “Du’ahâ wa Tahlilât Qur’ân” disebutkan sebanyak 17 syarat dan adab doa, seperti:

  • Makrifatullah,
  • kesesuaian antara lisan dan hati orang yang berdoa,
  • melaksanakan hal yang diwajibkan dan meninggalkan hal yang diharamkan,
  • beristigfar dan membaca shalawat atas Nabi Saw dan Ahlulbait As, dan lain-lain.[12]

Dan juga almarhum Faidh Kasyani dalam kitab “Mahajjatul Baidhâ”menyebutkan 10 syarat dan ia juga menyebutkan 10 syarat lain yang dinukil dari kitab “Iddatuddaa’ii”(Allamah Hillii Ra), dimana sebagian di antara syarat-syarat tersebut adalah: niat dalam berdoa, berkumpul dalam berdoa, menghadap dengan hati kepada Allah Swt, tidak menyandarkan segala hajat dan keinginan kepada selain Allah Swt, dan lain sebagainya.[13]

Terkait dengan riwayat-riwayat tentang masalah terkabulnya doa secara pasti terdapat ungkapan yang tidak ada salahnya kita sebutkan di sini.

Imam Shadiq As bersabda:”Doa-doa tersebut selalu berada di balik tirai; yakni ia tidak akan bisa bebas menembus jalan menuju keharibaan Ilahi selama doa tersebut tidak diiringi dengan bacaan shalawat atas Nabi Saw”.[14]

Ada riwayat lain yang dinukil dari Imam Shadiq As yang artinya adalah: “Ketika seseorang meminta Anda untuk berdoa, maka pertama anda membaca shalawat untuk Nabi Saw karena shalawat atas Nabi Saw itu pasti dikabulkan Allah Swt dan Allah Swt tidak akan melakukan hal dimana sebagian doa itu diijabah dan sebagiannya lagi tidak diijabah.[15]

Dan dalam riwayat lain, beliau bersabda:”Selain membaca shalawat pada permulaan doa, maka hendaknya pula membaca shalawat ketika selesai berdoa”.[16]

Imam Hasan As bersabda:”Jika ada seseorang yang senantiasa menjaga hatinya sehingga tak ada satupun bisikan berupa hal-hal yang tidak diridhai Allah Swt terlintas di dalamnya, maka saya menjadi jaminan bahwa doanya pasti diijabah”.[17]

Imam Shadiq As bersabda:”Janganlah tumpukan harapan kalian kepada selain Allah Swt sehingga hati kalian pun tidak bersandar kepada suatu kekuatan selain kepada kekuatan Allah Swt, dan pada saat itu kalian berdoa, maka pasti doanya dikabulkan”.[18]

Juga diriwayatkan bahwa: “Seorang yang teraniaya yang tidak punya tempat berlindung selain Allah Swt, doanya pasti diijabah dan dikabulkan”.[19]

Oleh karena itu, apabila doa telah dilantunkan maka tidak ada lagi kata ditolak dan doanya akan dikabulkan. Karena sang pelaku dan orang yang memenuhi keinginan tersebut, Sempurna dan Maha Sempurna dan rahmat-Nya sempurna lagi Maha sempurna dan jika limpahan rahmat itu tidak punya penampakan dan tidak dilimpahkan, maka dianggap sebagai sebuah kecacadan potensi.

Jadi apabila orang yang menerima itu punya potensi untuk menerima limpahan rahmat tersebut, maka akan dilimpahkan kepadanya rahmat Ilahi yang merupakan khazanah yang tidak akan habis, tidak punya kekurangan dan tidak terbatas serta tidak akan pernah berkurang.[20]

Dari sini dapat dikatakan bahwa perkara itu dibagi tiga:

  1. pertama: adalah tanpa doa, maslahat dalam pemberian atau pengabulan itu tetap akan ada. Dalam kondisi seperti ini, baik mereka berdoa atau pun tidak berdoa, Allah Swt tetap akan bersikap dermawan.
  2. kedua: adalah bahwa doa juga tidak maslahat. Dalam kondisi ini, mereka berdoa pun tetap tidak dikabulkan.
  3. ketiga: dengan berdoa ada maslahat dalam mengabulkannya dan tidak berdoa, tidaklah maslahat.

Dalam kondisi ini, pengabulan itu bergantung pada berdoa. Mengingat bahwa manusia tidak punya kemampuan untuk memilih dan memilah mana yang baik dan yang tidak baik dalam seluruh perkara, maka ia jangan sampai menyepelekan doa dan kalaupun tidak diijabah janganlah merasa putus asa dan anggaplah bahwa hal itu tidak ada maslahatnya.

Terlepas dari hal ini, seperti yang telah diisyarahkan sebelumnya, doa itu merupakan sebuah ibadah dan bahkan dianggap sebagai ibadah terbaik dimana ia dapat “mendekatkan diri” kepada Yang Maha Hak (Allah Swt) dan “mendekatkan diri” (taqarrub) itu sendiri merupakan manfaat terbaik untuk setiap ibadah.[21]

Ketika seseorang selesai berdoa maka –sesuai riwayat-riwayat serta sunnah para maksum As–dianjurkan mengusapkan kedua tangannya itu ke kepala dan wajah; karena taufik Allah Swt telah memberikan jawaban kepada tangan ini, sebuah tangan yang dijulurkan keharibaan Allah Swt pasti tidak akan kembali dengan tangan kosong dan tangan yang menerima pemberian Allah Swt itu dianggap mulia. Oleh itu alangkah baiknya jika diusapkan ke wajah atau ke kepala.[22] []

[1] . Muhammad Taqi Falsafi, Syarh-e Du’â-e Makarim Akhlâq, jilid 1, halaman 2.

[2] . Qs. Thaaha ayat 25 – 28.

[3] . Sayid Ali Akbar Qursyi, Qâmuus Qur’ân, kata do’a.

[4] . Bahauddini Khurramshahi, Dânesh Nâme-e Qur’ân wa Qur’an Pazhuhi, jilid 1, halaman 1054.

[5] . Sayid Muhammad Baqir Syahidi dan Rahbatuddin Syahrastani, Du’âhâ wa Tahlilât Qur’ân, halaman 43.

[6] . Mulla Hadi Sabzawari, Syarh Asmâ al-Husnâ (cetakan Maktabah Bashiirati – Qom), halaman 32.

[7] . dinukil dari Muhammad Baqir Syahidi, Du’âhâ wa Tahlilât qur’an, halaman 43.

[8] . Muhammad Taqi Falsafi, Syarh-e Du’â-e Makârim Akhlâq, jilid 1, halaman 7.

[9] . Muhammad Baqir Majlisi, Mir’âtul ‘Uqûl, jilid 12, halaman 19 – 20.

[10] . Kulaini, al-Kâfi, dan al-Raudhâh, halaman 330.

[11] . Muhammad Baqir Majlisi, Mir’âtul ‘Uqûl, jilid 12, halaman 1 – 5.

[12] . Sayid Muhammad Baqir Syahidi dan Rahbatuddin Syahrastani, Du’ahâa wa Tahlilât Qur’ân, halaman 15.

[13]. Faidh Kasyani, Mahajjatul Baidhâ, jilid 1, halaman 301 – 380.

[14] . Kulaini, al-Kâfi, jilid 2, halaman 491.

[15] . Syaikh Thusii, Âmâli, jilid 1, halaman 157.

[16] . Muhammad Taqi Falsafi, Syarh-e Du’â-e Makârim Akhlâq, jilid 1, halaman 9.

[17] . Kulaini, al-Kâfi, jilid 2, halaman 67, hadits 11.

[18] . Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jilid 72, halaman 107, hadits 7.

[19] . Abdullah Jawadi Amuli, Hikmat-e Ibâdat, halaman 220 – 234.

[20] . Imam Khomeini Ra, Syarh-e Du’â-e Sahar, terjemahan Sayid Ahmad Fahri, halaman 38.

[21] . Sayid Muhammad Baqir Syahidi dan Rahbatuddin Syahrastani, Du’ahâ wa Tahliilâat Qur’ân, halaman 45.

[22] . Abdullah Jawadi Amuli, Hikmat-e Ibâdat, halaman 215.

_________________
sumber: http://www.islamquest.net/id/archive/question/fa983