Kewajiban Setiap Muslim Untuk Mencintai Keluarga Nabi

Salah satu kewajiban dalam Islam yang banyak terlalaikan atau terlupakan oleh banyak kaum muslimin adalah tentang kewajiban untuk mencintai ahlul bait nabi atau keluarga Nabi yang suci.

Kecintaan pada para ahlul bait Nabi bukan hanya monopoli kaum syiah. Seluruh kaum muslimin diperintahkan untuk itu – apapun mazhabnya.

Kewajiban ini tercantum dalam AlQur’an lewat lisan Rasulullah SAAW:

“Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun (selamanya) atas seruanku, kecuali (aku harap kalian) kasih sayang terhadap keluarga(ku).” (QS. 42 : 23)

Hal itu jugalah yang telah dicontohkan para imam ahlus sunnah dan juga para pemuka ulama sunni lainnya.

Kendati di zaman dulu melakukan kewajiban ini secara terus terang bisa mengakibatkan hukuman yang berat dari para penguasa khilafah Umayyah dan Abbasiyah, seperti yang dialami Imam Ahmad, Imam Syafi’i dan yang lainnya.

Sejarah, mencatat, Imam Ahmad bin Hambal seorang pemuka mazhab Ahlus Sunnah, pernah dituduh sebagai Syiah, mem-bai’at pengikut Ali dan melindungi seorang ‘Alawi di rumahnya. Pada masa itu, tak ada tuduhan yang lebih berat dari itu. Khalifah Al-Mutawakkil mengirim tentara dan rumah Imam Ahmad pun dikepung. Rumahnya digeladah – kamar anak-anak, kamar wanita, bahkan sumur. Tidak ada bukti apapun tentang ke-syiah-an Imam Ahmad. Lalu apa salah beliau? “Salah”-nya sedikit: dalam Musnad-nya, ia banyak meriwayatkan hadis-hadis tentang Ahlul Bait dan keutamaan Imam Ali kw.

Ibnu Hajar dalam Tahdzib Al-Tahdzib bercerita tentang Nashr bin Ali. Suatu hari ia meriwayatkan hadis dari Rasulullah tentang keutamaan Hasan dan Husein: “Siapakah yang mencintai aku, mencintai keduanya, mencintai kedua orang tua mereka, ia bersamaku dalam derajat yang sama di hari kiamat.” Lalu khalifah Al-Mutawakkil mencambuknya seribu kali. Ja’far bin Abdul Wahid berulang kali mengingatkan khalifah, “Hadza min ahlis-sunnah”! Barulah khalifah menghentikan hukuman cambuknya.

Mengapa kita perlu mencintai ahlul bait Nabi saaw?

Ini bukan persoalan hubungan darah, atau KKN nya Nabi saw, melainkan memang perintah Allah SWT.

Para imam ahlul bait nabi adalah manusia-manusia suci, sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an,

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33).

Dalam Sahih Bukhari, diriwayatkan juga dari Abu Bakar Al-Shiddiq ra bahwa Nabi saw bersabda, “Hai manusia, peliharalah hak Muhammad dalam urusan keluarganya.” (HR Bukhari).

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Cintailah Allah karena nikmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada kalian, dan cintailah aku karena kecintaan kepada Allah itu, serta cintailah ahlul baitku karena kecintaan kepadaku.” Hadis ini diriwayatkan oleh Al Turmudzi dan Al Hakim, dan telah disahihkan sesuaikan syarat Bukhari dan Muslim.

Sehingga Imam Syafi’i pun bermadah:

“Seandainya cinta pada keluarga Muhammad itu rafidhah (sebutan bagi syiah pada masa itu) maka hendaklah Jin dan Manusia saksikan bahwa aku ini adalah Rafidhi.”

12 Imam Syiah yang termuat dalam kitab-kitab standar Ahli Sunnah

Rasulullah Muhammad saw sangat perhatian dan sayang pada umatnya serta sangat mengharap umatnya selalu berada dalam kebenaran.

Karena itu tidaklah mungkin Rasulullah meninggalkan umat tanpa menjelaskan kepada mereka apa dan siapa yang harus dijadikan rujukan oleh umat berkenaan dengan ajaran yang dibawa oleh beliau.

Jika kita merujuk kepada kitab-kitab hadis, maka kita akan menemukan bahwa Rasulullah saaw telah berwasiat pada segenap umatnya agar kita semua berpegang teguh kepada dua hal: yaitu Alquran dan Ahlul Bait Nabi, yaitu para Imam dari Keluarga Nabi. (Kitab Sahih Muslim, juz 4, halaman 123)

Mengapa?

Karena tentu saja tidak mungkin kita merujuk pada imam yang salah, yang tidak memahami Islam secara sempurna.

Kita juga tentu tak mungkin merujuk pada imam yang kesuciannya diragukan, yang bisa saja berbuat salah.

Itulah sebabnya kita perlu merujuk berbagai persoalan kepada imam yang haq, yang benar, yang terjaga dari perbuatan salah dan dosa. Dan Rasulullah saw telah menyebutkannya bahwa imam yang wajib kita patuhi adalah 12 imam yang telah Beliau saw sebutkan.

Allah SWT sendiri telah menjamin kesucian (kemaksuman) para imam dari keluarga Rasulullah saw tersebut. Ini termaktub dalam Al Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 33: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33).

Karena mereka terjamin kesucian (kemaksuman)nya, maka lewat merekalah ajaran Islam tetap terjaga kemurniannya, dan dengan begitu umat Islam tak ragu dan bimbang lagi dalam mengambil rujukan yang benar dalam berbagai perkara.

Siapa Saja Nama-Nama 12 Imam Tersebut?

Ada banyak sekali hadits Rasulullah saw yang menyatakan keberadaan 12 imam yang wajib ditaati kaum muslimin. Beberapa diantaranya termaktub dalam kitab-kitab hadits sahih rujukan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Riwayat ini bisa ditemukan misalnya dalam Sahih Bukhari melalui 3 jalan. Lalu di dalam Sahih Muslim melalui 9 jalan, di dalam Sunan Abu Dawud melalui 3 jalan. Begitu juga di dalam Sunan Turmudzi melalui satu jalan, dan di dalam al-Hamidi melalui 3 jalan.

Di dalam Sahih Bukhari misalnya, termuat hadits yang berasal dari Jabir yang mengatakan, “Rasulullah saw bersabda, ‘Akan muncul sepeninggalku 12 orang amir/imam‘, kemudian Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang aku tidak mendengarnya. Lalu saya menanyakan kepada ayah saya, ‘Apa yang dikatakannya?’ Ayah saya menjawab, ‘Semuanya dari bangsa Qureisy.’” (Sahih Bukhari, jild 9, bab Istikhlaf, halaman 81)

Adapun dalam Sahih Muslim yang berasal dari ‘Amir bin Sa’ad yang berkata, “Saya menulis surat kepada Ibnu Samurah, ‘Beritahukan kepada saya sesuatu yang Anda dengar dari Rasulullah saw’. Lalu Ibnu Samurah menulis kepada saya, ‘Saya mendengar Rasulullah saw bersabda pada hari Jum’at sore pada saat dirajamnya al-Aslami, ‘Agama ini akan tetap tegak berdiri hingga datangnya hari kiamat dan munculnya 12 orang khalifah yang kesemuanya berasal dari bangsa Qureisy.”

Dalam hadits lain, nama-nama para Imam yang akan menjadi pemimpin umat Islam yang wajib ditaati oleh seluruh kaum muslimin tersebut sudah disebutkan secara jelas oleh Rasulullah saw. Salah satunya:

Jabir bin Abdillah berkata: ”ketika ayat 55 dari surat Nisa turun yang menegaskan ”taatilah Allah, dan taatilah rasul, dan para pemimin dari kalian” aku bertanya pada rasul SAWW:

“kami telah mengetahui Tuhan dan RasulNya, namun Ulil Amr yang wajib kita taati tersebut belum kami ketahui, siapakah gerangan mereka itu?

Beliau bersabda: ”merekalah penggantiku, para Imam dan pemimpin sepeninggalku. Yang pertama Ali, kemudian secara berurutan Hasan putra Ali, Husain putra Ali, Ali putra Al Husain, Muhammad putra Ali yang dalam Taurat dikenal dengan Baqirul Ulum, dan kamu pada suatu saat akan berjumpa dengannya, dan kapanpun kau menjumpainya sampaikanlah salamku padanya.

Kemudian setelahnya secara urut Ja’far putra Muhammad, Musa putra Ja’far, Ali putra Musa, Muhammad putra Ali, Ali putra Muhammad, Hasan putra Ali, dan kemudian putranya yang nama dan kunyahnya (panggilan) sama dengan ku. Tuhan akan menjadikannya pemimin bagi dunia, dan ia akan tersembunyi dari pandangan dan penglihatan, dan ia akan gaib lama sekali. Sampai suatu saat di mana hanya ada orang-orang yang memiliki keiman yang kokoh, yang teruji dan mendalam akan keyakinan terhadap kepemimpinannya.
(Muntakhabul Atsar, halaman 101)

Dari hadits di atas jelaslah bahwa 12 imam yang dimaksud oleh Rasulullah saw tsb adalah:
1. Imam Ali bin Abi Thalib (Amirul Mukminin)
2. Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib (cucu Rasulullah saw)
3. Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib (cucu Rasulullah saw)
4. Imam Ali Zainal Abidin (putra Imam Hussein)
5. Imam Muhammad Al Baqir (putra Imam Ali Zainal Abidin)
6. Imam Ja’far Ash Shadiq (putra Imam Muhammad Al Baqir)
7. Imam Musa Al Kazim (putra Imam Ja’far)
8. Imam Ali Ar Ridha (putra Imam Musa)
9. Imam Muhammad Al Jawad (putra Imam Ar Ridha)
10. Imam Ali Al Hadi (putra Imam Al Jawad)
11. Imam Hasan Al Askari (putra Imam Al Hadi)
12. Imam Muhammad Al-Mahdi (putra Imam Hasan Al-Askari)

Nah, merekalah, para imam yang 12 orang tersebut yang sesungguhnya telah menjadi pemelihara murni dari risalah Islam, ajaran kitab Allah dan sunnah Rasulullah, sebagaimana banyak dituliskan dalam berbagai riwayat dan juga disaksikan oleh sejarah. Oleh sebab itulah kita wajib mencintai 12 imam tersebut dan mengikuti mereka.

Hadits Berpegangteguh Pada Kitabullah & Sunnah Rasul, Ternyata Hadits Dhaif

Hadits dhaif ini populer sekali. Isinya, “Aku tinggalkan dua perkara padamu yang jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.”

Kita tentu sudah sering membaca hadits ini dari berbagai buku Islam dan juga khutbah-khutbah di mesjid-mesjid. Sudah begitu lama hadits ini kita dengar, sehingga memang akhirnya berlaku hukum-repetisi (biasanya dipakai dalam dunia periklanan), bahwa sesuatu yang sering sekali diulang-ulang, akan jadi sebuah kebenaran yang melekat kuat dalam pikiran kita.

Kalau kita perhatikan secara seksama buku bacaan yang mengutip hadits ini, umumnya ternyata dikutip bukan dari sumber pertama munculnya hadits (kitab hadits), melainkan biasanya dikutip dari buku lain, yang ditulis oleh penulis-penulis lain.

Misalnya saat kita membaca buku Ilmu Politik Islam, karangan Abdul Rashid Moten, di hal. 90, ada tertulis kutipan hadits ini dalam khutbah Rasulullah saat Haji Wada’. Buku ini ternyata mengutipnya dari buku The Life of Muhammad, karya Muhammad Husein Haykal, terjemahan Isma’il Raji al-Faruqi (Kuala lumpur, Islamic Book Trust, 1993, hal. 486-7). Begitulah umumnya, jadi bukan langsung dari kitab hadits.

Dari hasil pencarian dan penelitian yang sangat melelahkan dengan memakan waktu yang sangat lama, akhirnya Syeikh Mu’tashim Sayyid Ahmad, dalam bukunya “Kebenaran Yang Hilang”, menemukan bahwa ternyata hadits ini sama sekali tidak diriwayatkan bahkan oleh para penulis kitab hadits shahih yang enam di kalangan ahlus Sunnah (Bukhari, Muslim, dll).

Kenyataan ini saja sebenarnya sudah cukup untuk menyatakan betapa hadits ini dhaif.

Umumnya kita memang tidak ahli dengan ilmu Hadits atau mengkaji kitab-kitab Hadits, sehingga hanya karena saking populernya hadits dhaif ini, lalu kita pun betul-betul telah begitu yakin seolah-olah hadits dhaif ini memang diriwayatkan oleh kitab-kitab shahih, terutama sahih Bukhari dan sahih Muslim, padahal kenyataannya tidak.

Bahkan beberapa penulis dan khatib banyak yang lalu secara latah menyebutkan hadits dhaif ini sebagai riwayat dari Bukhari-Muslim (tanpa pernah mengeceknya sama sekali).

Lalu dimana sebenarnya hadits dhaif ini muncul pertama sekali?

Dari hasil penelusurannya secara lebih mendalam, maka ditemukanlah ternyata sumber hadits dhaif ini ada di dalam kitab al-Muwaththa Imam Malik, Sirah Ibnu Hisyam dan kitab ash-Shawa’iq Ibnu Hajar.

Namun riwayat hadits ini ternyata mursal di dalam kitab ash-Shawa’iq, dan terpotong sanadnya di dalam Sirah Ibu Hisyam. (lihat Sirah Ibnu Hisyam, cetakan lama jilid 2, hal 603; cetakan ketiga, jilid 4, hal 185; cetakan terakhir, jilid 2, hal 221)

Adapun dalam riwayat Imam Malik, terhadap hadits ini adalah khabar marfu’ saja, yang tidak ada sanadnya sama sekali (silakan lihat kitab Al-Muwaththa, Imam Malik, jilid 2 hal 46).

Pertanyaannya juga adalah, mengapa hanya Imam Malik yang meriwayatkan hadits ini sementara gurunya Abu Hanifah atau muridnya Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal tidak meriwayatkannya. Jika hadits ini shahih maka kenapa para Imam mazhab lain dan para Imam hadits berpaling darinya?

Lalu hadits yang sebenarnya seperti apa?

Hadits yang sebenarnya termaktub dalam banyak kitab hadits shahih lainnya adalah:

“Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku“.

Hadits tersebut bisa dilihat pada Kitab Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

Jika ingin langsung buka sekarang, bisa diklik Hadits Online ini, lalu carilah shahih muslim no. 4425

Dalam kitab itu, Muslim meriwayatkan:

“… wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.

Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.’

Jadi Apakah Berpegangteguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasul Itu Tidak Benar?

Justru pada dasarnya perintah Rasulullah saaw untuk berpegangteguh pada Kitabullah (Al-Qur’an) dan Ahlul Bait atau Keluarga-Nabi inilah yang akan menyelamatkan umat Islam dari berbagai penyimpangan, dan yang akan membuat kita berada pada Sunnah Rasul.

Sebab Keluarga Nabi saaw inilah yang akan MENJAGA keaslian dan kemurnian ajaran Islam, memelihara Sunnah Rasulullah saaw.

Pada hakikatnya, jika kita berpegangteguh pada Ahlul Bait atau keluarga Rasulullah saaw, maka sesungguhnya kita telah berpegangteguh pada Sunnah Rasul. Sebab Allah swt sendiri telah menjamin bahwa para Imam as dari keluarga nabi saaw ini adalah manusia SUCI, sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33).

Sumber Ajaran Islam Menurut Wasiat Rasulullah

Rasulullah saaw telah berwasiat pada segenap umatnya untuk berpegang kepada dua hal yaitu Alquran dan Keluarga Suci Beliau:

“Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku”.

Selengkapnya hadits ini bisa dilihat pada Kitab Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

Jika ingin langsung buka sekarang, bisa diklik Hadits Online ini, lalu carilah shahih muslim no. 4425

Dalam kitab itu, Muslim meriwayatkan:

“… wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan. Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.’

Siapa Yang Dimaksud Oleh Rasulullah SAAW?

Yang dimaksud dengan “Ahlul Baitku” dalam hadits di atas adalah keluarga Rasulullah saaw yang telah dijamin oleh Allah SWT tentang kesucian (kemaksumannya).

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33).

Siapa saja diantaranya?

Dalam kitab Sahih Muslim, bab Keutamaan-Keutamaan Ahlul Bait, diriwayatkan hadits berasal dari Aisyah yang berkata,

“Rasulullah saw pergi ke luar rumah pagi-pagi sekali dengan mengenakan pakaian (yang tidak dijahit) yang bergambar. Lalu Hasan bin Ali datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu Husein datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu datang Fatimah, dan Rasulullah saw pun memasukkannya dalam pakaiannya; berikutnya Ali juga datang, dan Rasulullah saw pun memasukkannya dalam pakaiannya; kemudian Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab : 33)

APAKAH HADITS INI SHAHIH?

Dalam menelaah satu hadis atau riwayat terlebih dahulu harus kita selidiki apakah hadis ini benar-benar bersumber dari Rasulullah saaw atau tidak? Untuk mengetahui hal ini, kita bisa merujuk kepada pakar-pakar hadis yang mengerti jalan dan sanad hadis.

Sebagaimana diketahui dengan jelas bahwa hadis ini diriwayatkan di dalam Sahih Muslim, dan ini menunjukkan akan kesahihannya, dikarenakan kaum Muslimin sepakat untuk mensahihkan seluruh hadis yang diriwayatkan Shahih Muslim.

Imam Suyuthi menyatakan bahwa hadis ini adalah shahih dan benar sanadnya. Juga Imam at-Thabari menjelaskan bahwa hadis ini adalah hadis shahih. At-Thabari menyatakan bahwa perawi-perawi hadis ini adalah orang-orang yang bisa di percaya. Selain itu, bahwa yang meriwayatkan hadis ini sangatlah banyak, diantaranya Muslim, at-Thurmudzi, Ahmad bin Hambal, dan Hakim Annaisaburi.

Dengan demikian sanad hadis ini menurut kesaksian para ahli hadis adalah shahih dan benar. Sehingga, sedemikian banyaknya yang meriwayatkan hadis ini tidak diragukan lagi bahwa hadis ini benar-benar bersumber dari Rasulullah saaw yang disaksikan oleh Allah bahwa beliau tidak pernah menyatakan sesuatu kecuali berdasarkan wahyu dari pada Allah.

Kemudian setelah mengetahui bahwa hadis ini sanadnya shahih maka kita harus menelaah isi dan kandungan hadis ini dan pesan apakah yang di sampaikan oleh Rasulullah dalam sabdanya ini?

Dalam hadis ini Rasulullah mengisyaratkan bahwa Nabi akan segera memenuhi panggilan Allah swt dan akan segera meninggalkan umat. Oleh karena itu Rasulullah menyampaikan wasiatnya agar umat sepeninggal beliau tidak tersesat dan jauh dari ajaran yang dibawa oleh Rasul.

Rasul dengan pasti mengetahui bahwa umat sepeninggal beliau akan kebingungan berkenaan dengan siapa yang bisa dijadikan rujukan setelah Rasul saaw? Siapakah yang akan menggantikan posisi Rasul setelah beliau, dimana semua urusan yang berhubungan dengan ajaran ilahi harus merujuk kepadanya. Baik yang berhubungan dengan aqidah, hukum, akhlaq, problem social dan lainnya. Agar tidak kebingungan, Rasulullah saaw menjelaskan rujukan yang harus di pegang oleh umat sepeniggal beliau saaw yaitu kitab Allah dan keluarga suci Rasul.

Setelah meriwayatkan hadis tsaqalain ini Ibnu Hajar sendiri pernah berkata, “Ketahuilah bahwa hadis tentang kewajiban berpegang teguh pada keduanya (Kitab Allah dan Ahlul Bait) diriwayatkan melalui berbagai jalan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat”

Di antaranya disebutkan bahwa hadis itu diucapkan Rasulullah saaw di Arafah pada waktu haji wada. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau mengucapkannya ketika sakit menjelang wafat, di hadapan para sahabat yang memenuhi kamar beliau. Riwayat lain lagi menyebutkan bahwa beliau mengucapkannya di Ghadir Khum. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengucapkan ucapannya itu pada saat beliau pulang dari Thaif, ketika beliau berpidato di hadapan para sahabat.

Rasulullah saaw sengaja mengulang-ulang pesannya itu di berbagai tempat dan situasi untuk menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap Al-Qur’an dan Ahlul Bait yang suci.

BAGI YANG INGIN LEBIH MENGKAJI

Hadis perintah untuk berpegang teguh pada Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Bait Nabi saaw ini atau yang senada dengan ini jumlahnya sangat-sangat banyak tercantum dalam kitab-kitab rujukan ahlussunnah/sunni. Bagi yang ingin mendalami lebih lanjut, silakan dibuka kitab-kitab berikut ini:

1. Riwayat hadis pada Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, jilid 3, halaman 14, 17, 26 dan 59, terbitan Dar Shadir Beirut – Lebanon.

2. Riwayat hadis dari Turmudzi, jilid 5, halaman 662 – 663, terbitan Dar Ihya at-Turats al-’Arabi.

3. Riwayat hadis pada al-Imam al-Hafidz Abi ‘Abdillah al-Hakim an-Naisaburi, di dalam kitab mustadraknya atas Bukhari dan Muslim, jilid 3, halaman 22, kitab Ma’rifah as-Shahabah, terbitan Dar al-Ma’rifah Beirut – Lebanon.

4. Kitab Kanz al-’Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al- Af’al, juz pertama, bab kedua (bab berpegang teguh kepada Al- Qur’an dan sunah), halaman 172, terbitan Muassasah ar-Risalah Beirut, cetakan kelima, tahun 1985, yaitu hadis nomer 810, 871, 872 dan 873.

Di sini akan disebutkan sekumpulan para hafidz dan ulama yang meriwayatkan hadis ini. Adapun untuk lebih rincinya lagi silahkan Anda merujuk ke dalam kitab Ihqaq al-Haq, karya Asadullah al-Tusturi, jilid 9, halaman 311.

Sebagian dari mereka itu ialah:
1. Al-Hafidz ath-Thabrani, yang wafat tahun 340 H, di dalam kitabnya al-Mu ‘jam ash-Shaghir.
2. Allamah Muhibbuddin ath-Thabari, di dalam kitabnya Dzakha’ir al-’Uqba.
3. Allamah asy-Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakar al-Himwani, di dalam kitabnya Fara’id as-Sirnthain.
4. Ibnu Sa’ad, di dalam kitabnya ath-Thabaqat al-Kubra.
5. Al-Hafidz as-Suyuthi, di dalam kitabnya Ihya al-Mayyit.
6. Al-Hafidz al-’Asqalani, di dalam kitabnya al-Mawahib al- Ladunniyyah.
7. Al-Hafidz Nuruddin al-Haitsami, di dalam kitabnya Majma’ az-zawa’id.
8. Allamah an-Nabhani, di dalam kitabnya al-Anwar al- Muhammadiyyah.
9. Allamah ad-Darimi, di dalam sunannya.
10. Al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Husain bin Ali al-Baihaqi, di dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra.
11. Allamah al-Baghawi, di dalam kitabnya Mashabih as-Sunnah.
12. Al-Hafidz Abu al-Fida bin Katsir ad-Dimasyqi, di dalam kitabnya Tafsir al-Qur’an.
13. Kitab Jami’ al-Atsir, karya Ibnu Atsir.
14. Muhaddis terkenal, Ahmad bin Hajar al-Haitsami al-Maliki, yang wafat pada tahun 914 Hijrah, di dalam
kitabnya ash- Shawa’ig al-Muhriqah fi ar-Radd ‘ala Ahlil Bida’ wa az- Zanadiqah, cetakan kedua, tahun 1965, Perpustakaan Kairo.

Jumlah Perawi Dari Kalangan Sahabat
Hadis ini telah mencapai derajat mutawatir dari sekumpulan sahabat, dan inilah sebagian nama-nama mereka:
1. Zaid bin Arqam.
2. Abu sa’id al-Khudri.
3. Jabir bin Abdullah.
4. Hudzaifah bin Usaid.
5. Khuzaimah bin Tsabit.
6. Zaid bin Tsabit.
7. Suhail bin Sa’ad.
8. Dhumair bin al-Asadi,
9. ‘Amir bin Abi Laila (al-Ghifari).
10. Abdurrahman bin ‘Auf.
11. Abdullah bin Abbas.
12. Abdullah bin Umar.
13. ‘Uday bin Hatim.
14. ‘Uqbah bin ‘Amir.
15. Ali bin Abi Thalib.
16. Abu Dzar al-Ghifari.
17. Abu Rafi’.
18. Abu Syarih al-Khaza’i.
19. Abu Qamah al-Anshari.
20. Abu Hurairah.
21. Abu Hatsim bin Taihan.
22. Ummu Salamah.
23. Ummu Hani binti Abi Thalib.
24. Dan banyak lagi laki-laki dari kalangan Quraisy.

Jumlah Perawi Dari Kalangan Thabi’in
Penukilan hadis ini juga telah mencapai tingkatan mutawatir pada jaman tabi’in, dan inilah sebagian dari para tabi’in
yang menukil hadis “Kitab Allah dan ‘itrahku”:
1. Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah.
2. ‘Athiyyah bin Sa’id al-’Ufi.
3. Huns bin Mu’tamar.
4. Harits al-Hamadani
5. Hubaib bin Abi Tsabit.
6. Ali bin Rabi’ah.
7. Qashim bin Hisan.
8. Hushain bin Sabrah.
9. ‘Amr bin Muslim.
10. Abu Dhuha Muslim bin Shubaih.
11. YahyabinJu’dah.
12. Ashbagh bin Nabatah.
13. Abdullahbin Abirafi’.
14. Muthalib bin Abdullah bin Hanthab.
15. Abdurrahman bin Abi sa’id.
16. Umar bin Ali bin Abi Thalib.
17. Fathimah binti Ali bin Abi Thalib.
18. Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
19. Ali Zainal Abidin bin Husain, dan yang lainnya.

Jumlah Para Perawi Hadis Ini Pada Tiap-Tiap Abad
Adapun orang yang meriwayatkan hadis ini sesudah jaman sahabat dan tabi’in, dari kalangan ulama umat, para penghafal hadis dan para imam terkenal selama berabad-abad, bukanlah suatu jumlah yang dapat kami sebutkan nama dan riwayat mereka satu persatu.

Sekelompok para ulama dan peneliti telah menghitung jumlah mereka, dan untuk lebih rincinya silahkan Anda merujuk kepada kitab ‘Abagat al-Anwar, juz pertama dan kedua, antara lain:

• Abad kedua: Jumlah perawi sebanyak 36 orang.
• Abad ketiga: Jumlah perawi sebanyak 69 orang.
• Abad keempat: Jumlah perawi sebanyak 38 orang.
• Abad kelima: Jumlah perawi sebanyak 21 orang.
• Abad keenam: Jumlah perawi sebanyak 27 orang.
• Abad ketujuh: Jumlah perawi sebanyak 21 orang.
• Abad kedelapan: Jumlah perawi sebanyak 24 orang.
• Abad kesembilan: Jumlah perawi seabanyak 13 orang.
• Abad kesepuluh: Jumlah perawi sebanyak 20 orang.
• Abad kesebelas: Jumlah perawi sebanyak 11 orang.
• Abad kedua belas: Jumlah perawi sebanyak 18 orang.
• Abad ketiga belas: Jumlah perawi sebanyak 12 orang.
• Abad keempat belas: Jumlah perawi sebanyak 13 orang.

Referensi:
- http://www.al-shia.org/html/id/books/Kebenaran-Hilang/index.htm
- http://www.al-shia.org/html/id/page.php?id=1033